Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Putri Kerajaan Es
Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan air yang mengelilingi benteng megah Kerajaan Air. Sebuah rombongan kecil—terdiri dari satu kereta kuda tertutup yang diukir dengan lambang kristal es dan dikawal oleh lima ksatria berkuda—perlahan melintasi jembatan utama, mendekati gerbang raksasa Kerajaan Air.
”Hentikan laju kalian! Sebutkan identitas dan tujuan kalian!” cegat prajurit penjaga gerbang dengan tombak menyilang.
Pemimpin ksatria berkuda itu maju selangkah, menunjukkan sebuah plakat perak. “Kami adalah utusan resmi dari Kerajaan Es. Kami membawa sebuah surat bersegel kerajaan yang harus disampaikan langsung kepada Yang Mulia Raja.”
Melihat plakat tersebut, prajurit penjaga segera menurunkan senjatanya dan mengangguk hormat. “Baiklah, turunkan senjata. Aku sendiri yang akan mengawal rombongan kalian untuk menghadap Paduka Raja.”
Di bawah pengawalan ketat, rombongan itu digiring melintasi jalanan ibu kota yang dialiri kanal-kanal jernih, menuju Istana Kerajaan Air yang menjulang tinggi bagai istana kaca.
Setibanya di pelataran istana, pintu kereta terbuka. Seorang gadis muda melangkah turun dengan anggun. Ia mengenakan jubah sutra perpaduan warna putih salju dan biru terang yang berkibar tertiup angin sore. Selembar cadar tipis menutupi wajahnya dari bawah mata, menyisakan sepasang mata jernih yang memancarkan aura kebangsawanan tingkat tinggi. Diiringi kelima ksatria pelindungnya, ia berjalan tenang melintasi aula utama istana.
”Lapor, Yang Mulia Raja! Utusan dari Kerajaan Es telah tiba untuk menyampaikan surat resmi,” lapor prajurit penjaga seraya berlutut di hadapan takhta.
Gadis bercadar itu melangkah maju, lalu memberikan salam penghormatan dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada. “Salam hormat, Paduka Raja. Aku adalah Diyah dari Kerajaan Es. Aku datang untuk menyampaikan gulungan surat ini, terkait dengan penyelenggaraan Ujian Pandhega yang akan dilaksanakan di wilayah Kerajaan Es sepuluh hari dari sekarang,” terangnya dengan suara yang merdu namun tegas, seraya menyerahkan gulungan bersampul sutra kepada kasim istana.
Raja Hang, sang penguasa Kerajaan Air yang duduk di atas takhta, menerima surat itu. Namun matanya justru berbinar mengenali sosok sang pembawa pesan. “Ohh! Ternyata Saudaraku Bawigan mengutus Putri Diyah secara langsung hanya untuk mengantarkan sepucuk surat? Hahaha!” tawa Raja Hang menggema hangat, memecah kekakuan diplomatik. “Ini sungguh suatu kehormatan besar bagi Kerajaan Air kami menerima kunjungan putri mahkota sehebat dirimu.”
”Anda terlalu memuji, Paduka Raja. Terima kasih,” ucap Putri Diyah menunduk sopan.
”Hahaha, tidak perlu sungkan begitu, Tuan Putri. Saat tidak ada pertemuan formal seperti ini, panggil saja aku Paman Hang,” kata Raja Hang, mencoba mencairkan suasana dengan keramahannya.
”Terima kasih atas kebaikan Anda, Paman. Namun, jika urusan kami telah selesai, kami memohon undur diri sekarang juga,” terang Putri Diyah.
Raja Hang mengerutkan dahi, sedikit terkejut. “Apa terburu-buru sekali, Tuan Putri? Tidakkah kalian ingin beristirahat sejenak di istana ini dan menikmati jamuan makan malam?” tawarnya dengan tulus.
”Maafkan penolakanku, Paman. Kami mengemban tugas yang mendesak. Masih ada beberapa surat undangan yang harus kami antarkan ke wilayah kerajaan yang lain,” tolak Putri Diyah dengan nada penuh penyesalan.
”Hah, sayang sekali. Baiklah, jika itu memang tugas kerajaan. Berhati-hatilah di perjalananmu, Tuan Putri. Terutama saat rombongan kalian melintasi perbatasan wilayah Kerajaan Api. Keadaan di sana akhir-akhir ini sangat tidak tertebak,” pesan Raja Hang dengan raut wajah yang berubah serius.
”Aku akan mengingat peringatan Paman. Terima kasih atas perhatiannya. Kami mohon pamit,” ucap Putri Diyah. Ia perlahan melangkah mundur dengan elegan, berbalik, dan memimpin rombongannya keluar dari istana.
Rombongan kecil dari Kerajaan Es itu kembali memacu kuda mereka, melanjutkan perjalanan menembus angin malam sesuai dengan rute diplomasi yang telah ditetapkan.
Sementara itu, ratusan li dari sana, badai salju menyelimuti menara-menara ibu kota Kerajaan Es. Suasana di dalam ruang singgasana terasa sama bekunya dengan cuaca di luar.
”Lapor, Yang Mulia Raja! Kami telah menyebarkan ratusan prajurit untuk menyisir setiap sudut kota, namun kami belum menemukan jejak Tuan Putri Elisha di mana pun,” lapor seorang komandan prajurit dengan tubuh gemetar, berlutut di hadapan takhta.
”Apa katamu…? Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Raja Bawigan terbatuk keras hingga bahunya terguncang. Wajahnya yang pucat menyiratkan penyakit kronis yang menggerogoti tubuhnya. “Perluas lagi radius pencarian kalian ke luar gerbang! Temukan dia sebelum malam menjadi semakin larut!” perintah Sang Raja dengan suara serak namun penuh ketegasan absolut.
”Sesuai perintah, Yang Mulia!” Para prajurit segera bubar, kembali menembus badai salju untuk mencari sang putri.
Kepanikan melanda istana. Putri bungsu kesayangan Raja Bawigan, Elisha, menghilang tanpa jejak. Para pelayan yang bertugas menjaganya baru menyadari hilangnya sang putri saat jam makan siang tiba, dan langsung melaporkannya pada raja dengan histeris. Meskipun prajurit telah dikerahkan hingga sore hari, tak ada secuil pun petunjuk yang ditemukan.
Mendengar laporan kegagalan dari para prajuritnya, hati Raja Bawigan mencelos. Rasa khawatir dan cemas mencekik lehernya. Di mana kamu berada di tengah cuaca sebeku ini, Anakku…? batin Sang Raja pilu, mencengkeram erat sandaran takhtanya.
Malam harinya, di tengah hutan belantara yang jauh dari pemukiman, rombongan Putri Diyah memutuskan untuk mendirikan bivak dan beristirahat. Angin malam berhembus dingin menembus pepohonan.
Saat para ksatria sedang menghangatkan diri di dekat api unggun, telinga tajam mereka menangkap sebuah suara aneh. Suara itu berasal dari dalam kotak persediaan logistik besar yang berada di kereta kuda kedua. Suaranya berirama, pelan, dan terdengar persis seperti dengkuran halus seseorang yang sedang tertidur lelap.
Saling melempar pandangan waspada, dua orang pengawal perlahan menghunus pedang mereka. Dengan langkah sangat berhati-hati, mereka mendekati kereta tersebut untuk memastikan ancaman penyusup.
Kriet… Begitu penutup kotak kayu itu dibuka, bukannya mendapati musuh atau pencuri, para pengawal itu justru mematung dengan mulut setengah terbuka. Di antara tumpukan kain hangat dan perbekalan, terbaring sesosok tubuh kecil mungil. Itu adalah seorang gadis kecil yang tengah tertidur sangat pulas, napasnya teratur dengan sesekali mengeluarkan dengkuran lucu.
Kejadian tak terduga itu sontak membuat seluruh rombongan kaget bukan main. Keterkejutan mereka bertambah berkali-kali lipat saat mengenali wajah gadis kecil tersebut. Ia bukanlah rakyat jelata, melainkan Putri Elisha, putri bungsu kesayangan Raja Bawigan dari Kerajaan Es!
Mendengar keributan, Putri Diyah segera turun dari keretanya dan menghampiri kotak persediaan. Matanya membulat tak percaya melihat adiknya di sana.
”Ya ampun! Elisha?! Apa yang kau lakukan di sini?!” seru Diyah terkejut.
Mendengar suara kakaknya, gadis kecil itu mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih mengantuk. “Ngh… Kakak? Ah, rupanya kalian sudah menemukanku,” jawabnya setengah sadar sambil menguap lebar. Ia lalu mengucek matanya dan duduk di tumpukan kain. “Kak Diyah, maafkan aku, ya. Aku sangat bosan di istana dan hanya ingin menyusup untuk ikut denganmu melihat dunia luar. Tolong jangan marahi aku…” bujuknya memasang wajah memelas paling tak berdosa.
Melihat wajah menggemaskan adiknya, amarah Diyah seketika menguap. Ia menghela napas panjang. “Kakak tidak akan memarahimu. Tapi apakah kau sadar betapa kacaunya istana sekarang? Ayah dan semua orang pasti sedang kelimpungan setengah mati mencarimu ke segala penjuru kota.”
”Emmm… maafkan aku, Kakak. Aku tidak bermaksud membuat Ayah khawatir,” ucap Elisha, menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyadari kesalahan besarnya.
Diyah tak tega. Ia mengangkat adiknya dari dalam kotak dan memeluknya erat untuk menghangatkan tubuh mungil itu. “Sekarang katakan padaku, apakah kau tidak terluka? Berapa lama sebenarnya kau bersembunyi di dalam sana?” tanyanya cemas, memeriksa tubuh Elisha.
”Emmm… Aku sudah masuk ke kotak ini sejak awal Kakak bersiap-siap meninggalkan istana! Dan aku baik-baik saja kok,” terang Elisha dengan senyum polos. “Ehh… tapi, sejujurnya waktu kalian berhenti sebentar sore tadi, aku sempat mengendap-endap keluar untuk mengambil beberapa potong roti karena perutku sangat lapar,” lanjutnya sambil tertawa kecil memegangi perutnya.
Diyah menggeleng-gelengkan kepalanya, memaklumi kelakuan ajaib adiknya itu. “Ya sudahlah, untung saja kau selamat. Sekarang keluarlah dari sana dan bergabunglah di dekat api unggun, kita makan malam bersama,” ajak Diyah.
Ia menoleh pada salah seorang ksatria penjaga. “Paman, tolong siapkan pena bulu, tinta, dan kertas perkamen. Aku harus segera menuliskan pesan untuk Ayahanda Raja agar penyakitnya tidak bertambah parah karena memikirkan Elisha,” perintahnya tegas.
”Segera dilaksanakan, Tuan Putri,” jawab ksatria itu sambil bergegas mengambil perlengkapan menulis.
Putri Diyah pun menuliskan sepucuk surat bersegel untuk Raja Bawigan, mengabarkan bahwa Elisha aman bersamanya. Usai makan malam, mereka berencana untuk beristirahat sejenak sebelum memaksa kuda mereka menempuh perjalanan malam. Dengan adanya Elisha, Diyah ingin mempercepat rute diplomasi agar bisa segera kembali membawa adiknya ke pelukan istana Kerajaan Es yang aman.
”Paman Pengawal, tolong segera lepaskan burung pengirim pesan dan kirimkan surat ini langsung ke istana pusat,” pinta Putri Diyah seraya menggulung perkamen kecil itu.
”Siap, Tuan Putri. Pesan ini akan tiba sebelum fajar menyingsing,” jelas pengawal itu. Ia bergegas menuju sangkar di belakang kereta, mengeluarkan seekor merpati roh pengirim surat berbulu putih, mengikatkan tabung kecil ke kakinya, dan melepaskan burung itu membelah langit malam.
Tengah malam, di tengah badai salju Kerajaan Es.
Merpati roh tersebut menukik turun menembus badai dan hinggap di menara komunikasi istana. Seorang prajurit malam yang bertugas dengan sigap menangkapnya, melepaskan ikatan tabung surat tersebut. Menyadari segel lilin milik Putri Diyah, prajurit itu segera bergegas menyusuri lorong menuju kamar peraduan Raja Bawigan.
Namun, di tengah lorong remang-remang yang diterangi obor, langkahnya diadang oleh sesosok pria berzirah perak yang memancarkan aura intimidasi tinggi beserta dua orang pengawal pribadinya.
”Berhenti. Tabung pesan apa yang kau bawa di tengah malam begini, Prajurit?” tanya pria itu dengan suara berat dan dingin.
Prajurit itu tersentak. Begitu mendongak dan mengenali pria di hadapannya, ia segera menjatuhkan lututnya untuk memberi salam hormat. “Lapor, Jenderal! Hamba membawa surat mendesak dari rombongan Tuan Putri Diyah yang harus segera diserahkan langsung kepada Yang Mulia Raja.”
Mata sang jenderal menyipit licik. “Saat ini Yang Mulia Raja sedang beristirahat karena penyakitnya kambuh. Jangan ganggu waktu pemulihannya. Serahkan surat itu padaku. Aku yang akan membacakannya besok pagi.” perintah sang jenderal, menjulurkan tangannya dengan aura yang tak terbantahkan.
”Ba-baiklah, Jenderal,” jawab prajurit itu. Meski sedikit ragu karena melanggar protokol, ia tak berani menentang komandan tertingginya dan menyerahkan tabung surat tersebut.
Setelah prajurit itu pergi, sang Jenderal Kerajaan Es membuka gulungan surat dan membaca isinya. Detik demi detik, senyum sinis yang mengerikan merekah di wajah kerasnya. Tangannya meremas surat dari Diyah itu hingga hancur menjadi serpihan debu karena aliran energi spiritualnya.
Sang Jenderal menoleh pada kedua orang kepercayaannya. “…Ini adalah kesempatan emas yang dikirimkan surga. Segera kumpulkan pasukan bayangan kita dan selesaikan eksekusi ini. Kita harus menyusun rencana penyergapan serapi mungkin. Pastikan Sang Raja yang penyakitan itu dan sekutu-sekutunya tidak mengetahui pergerakan kita,” bisiknya dengan nada sedingin badai es di luar jendela.
”Sesuai perintah, Jenderal!” jawab kedua bayangan pembunuh itu secara serempak, lalu segera melesat menghilang di balik kegelapan lorong istana.
Sementara itu, jauh di dimensi perlindungan Desa Siama.
Setelah terlelap dalam pingsan panjang selama dua belas jam penuh, kesadaran Fubao akhirnya perlahan kembali merayap.
Hmmm… apa yang terjadi padaku? Kenapa seluruh tubuhku terasa sakit tapi sekaligus dipenuhi energi yang meluap-luap? batin Fubao mengerang pelan saat tersadar. Ia membuka matanya. Aku… Bukankah ini langit-langit kamarku di desa baru ini? Fubao perlahan bangkit. Ia memperhatikan sekeliling kamarnya, lalu pandangannya turun ke arah tubuhnya sendiri.
Hah! Apa-apaan ini?! Fubao tersentak kaget bukan kepalang melihat lengan kanannya. Di sana, melingkar sebuah ukiran naga purba yang memancarkan pendaran cahaya merah darah yang intens—bukti mutlak bahwa Segel Bintang Tingkat Dewa pertamanya telah sukses tertanam dan menyatu dengan inti kehidupannya.
Eforia dan kekuatan baru memompa jantungnya. Ia segera melompat dari ranjang dan berlari keluar kamar. “Ibu! Ibu!…” panggilnya, mengedarkan pandangan mencari sosok sang ibu di sekeliling rumah.
”Iya, Nak! Ya Ampun, syukurlah kau akhirnya bangun juga,” jawab ibunya yang bergegas keluar dari dapur dengan senyum penuh kelegaan.
”Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Bu? Aku tidak ingat cara pulang,” tanya Fubao, memegang pelipisnya.
”Malam itu kau kehilangan kesadaran secara total. Tuan Ken sendiri yang turun tangan membawamu pulang dan merebahkanmu di kamar,” jelas ibunya lembut.
”Benarkah Guru yang membawaku?! Selain itu, apa ada pesan yang dikatakan Guru, Bu?” tanyanya penasaran.
”Tuan Ken hanya berpesan agar Ibu tidak panik, karena kau tidak akan sadarkan diri untuk satu hari penuh. Beliau memastikan bahwa proses itu adalah bentuk adaptasi dan sama sekali tidak akan membahayakan nyawamu,” lanjut sang ibu menjelaskan.
”Oh, begitu rupanya. Baiklah, Bu. Kalau begitu aku akan mandi dan bersiap-siap. Aku harus segera pergi menemui Guru ke gua,” terang Fubao penuh semangat.
”Ya, tentu. Tapi sebelum itu, duduklah dan makan makanan hangat ini dulu. Kau butuh memulihkan tenagamu,” ucap ibunya yang telah menata hidangan sederhana namun lezat di atas meja.
”Siap, Bu!” jawabnya ceria.
Selesai mengisi perut, Fubao melangkah ke luar rumah, berlari membelah desa menuju gua air terjun. Sepanjang perjalanan, ia menyadari sesuatu yang berbeda. Penduduk desa yang berpapasan dengannya kini tidak hanya menegurnya dengan ramah, tetapi beberapa dari mereka menatap lengan kanannya dengan pandangan segan dan kagum. Ia tak lagi terlihat seperti anak pengungsi kumuh; ia kini adalah seorang pendekar.
Setibanya di balik tabir air terjun gua, Fubao tidak menemukan sosok gurunya. Ia hanya mendapati Asikin yang tengah duduk bersila, sibuk menumbuk dan mengamati sampel berbagai tumbuhan obat spiritual di ruang utama.
”Ah, hei! Kau sudah bangun!” tegur Asikin, langsung meletakkan alat tumbuknya saat menyadari kehadiran langkah kaki. “Wah! Luar biasa! Selamat, Kawan, kau telah resmi menyeberang dan menjadi seorang Pendekar Segel Bintang utuh!” sapa Asikin hangat seraya menghampiri dan memberikan ucapan selamat.
”A-aa iya… Terima kasih banyak,” jawab Fubao canggung, menggaruk belakang lehernya.
Asikin menatap lengan kanan Fubao dengan mata berbinar. “Bahkan fondasi Segel Bintang pertamamu memancarkan aura warna merah darah… Sungguh gila, potensi tubuhmu hebat sekali.”
”A-ah, ini bukan karena kehebatanku. Semua pencapaian ini murni berkat bantuan mutlak dari Guru yang rela turun tangan. Jika tidak, aku pasti sudah mati,” sahut Fubao dengan nada rendah yang dipenuhi rasa syukur.
”Ohh iya, kau datang kemari pasti mencari Guru, kan?” tanya Asikin.
”Iya, benar. Apakah Guru sedang bermeditasi di ruang lain?” ucap Fubao menanyakan keberadaan Ken.
”Guru sedang tidak ada di gua ini. Namun, sebelum pergi, Guru meninggalkan pesan khusus untukku jika kau sadar dan datang kemari. Aku ditugaskan untuk menjadi lawan tandingmu dan mengajarimu berlatih mengendalikan aura di ruangan khusus itu…” ucap Asikin, tersenyum lebar sembari menunjuk sebuah pintu batu tebal berlambang pedang silang.
”Emmm… Baiklah kalau begitu. Mohon bimbingannya, Kakak Seperguruan,” jawab Fubao, menganggukkan kepalanya pelan dengan tekad bulat.
Sesuai dengan instruksi yang ditinggalkan Ken, Asikin membawa Fubao memasuki ruang pelatihan khusus yang memiliki distorsi medan gaya tersendiri. Di bawah bimbingan Asikin, dua murid pertama Ken itu menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling melatih dan membenturkan kemampuan baru mereka.
Keesokan harinya, tepat ketika matahari berada di puncak kepala, Ken memancarkan sinyal spiritual yang memanggil seluruh ketua pilar desa untuk berkumpul di aula utama. Ia berniat menyampaikan rencana kepergiannya untuk sementara waktu demi mengeksekusi misi dan tujuan awalnya yang sempat tertunda.
Namun, ada satu rahasia krusial yang harus ia ungkapkan kepada jajaran kepercayaannya sebelum ia angkat kaki.
”Salam hormat, Tuan Pemimpin!” sapa Ketua Darma, melangkah masuk ke aula.
“Salam, Tuan!” sapa Ketua Batara menyusul di belakangnya.
“Salam, Tuan!” sapa Ketua Tu menutup formasi para tetua desa.
Tak lama berselang, Asikin dan Fubao ikut memasuki aula. “Salam, Guru!” seru Asikin dan Fubao serempak sambil membungkukkan badan.
Hah! Mustahil… Baru beberapa hari secara resmi diangkat menjadi murid Tuan Ken, anak pengungsi itu sudah berhasil memadatkan Segel Bintang Merah sebagai fondasi pertamanya?! Monster macam apa Tuan Ken itu dalam melatih muridnya… batin Ketua Darma terguncang hebat melihat pendaran aura di lengan kanan Fubao.
Setelah memastikan seluruh pilar utama Aliansi Siama hadir, Ken perlahan bangkit dari singgasananya. Wajahnya serius. “Paman-paman sekalian… Ada beberapa hal penting yang harus kusampaikan pada kalian hari ini,” ucap Ken memecah keheningan.
”Baik, Tuan. Kami siap mendengarkan seluruh arahan Anda,” jawab Ketua Darma menangkupkan tangan, mewakili yang lain.
”Aku akan meninggalkan desa ini untuk beberapa waktu,” terang Ken lugas. “Masih ada urusan dan benang merah di luar sana yang perlu aku putus, Paman. Namun, sebagai tujuan pertamaku, aku harus pergi ke wilayah Kerajaan Es untuk mencari seseorang.”
”Kami mengerti, Tuan. Keamanan dimensi ini sudah sangat mandiri,” sahut Ketua Darma.
”Namun, sebelum aku pergi melangkah… ada rahasia besar mengenai asal-usulku dan status kerajaanku yang tak bisa lagi kusembunyikan dari kalian…” Ken menurunkan nada suaranya, memancarkan aura absolut di sekelilingnya sebelum mulai membeberkan realitas sesungguhnya di hadapan para pengikut kepercayaannya.
Detik demi detik berlalu saat Ken menyampaikan penjelasannya. Mata para ketua desa melebar sempurna. Jantung mereka berdegup kencang seiring rahasia yang mengalir dari bibir Sang Pemimpin.
”Hah! B-benarkah yang Anda katakan itu, Tuan?!” seru Ketua Darma, seluruh badannya gemetar tak percaya menyadari identitas agung pemuda di hadapan mereka.
Ketiga tetua itu secara naluriah menjatuhkan salah satu lutut mereka ke lantai, diliputi kombinasi rasa tegang, takjub, dan loyalitas yang meluap-luap. “Baik, Tuan… Kami sangat memahami rahasia ini dan akan menjaganya dengan nyawa kami!” seru mereka serempak dengan nada yang jauh lebih hormat dari sebelumnya.
Ken mengangguk puas melihat kesetiaan mereka yang tak tergoyahkan. Ia kemudian beralih menatap dua remaja di sudut ruangan. “Selama aku tidak ada di sini, Asikin dan Fubao akan bertindak sebagai tangan kananku. Mereka akan membantu kalian memantau keamanan dari dalam desa.”
”Tentu saja, Guru! Dimensi desa ini adalah rumah kami satu-satunya. Kami bersumpah akan menjaganya dengan darah kami,” jawab Asikin tegas, didukung oleh anggukan mantap Fubao di sebelahnya.
”Baiklah. Jika tidak ada lagi keraguan dan semuanya sudah jelas, kalian semua boleh kembali melanjutkan tugas masing-masing,” tutup Ken, merapikan jubahnya.
Semuanya telah paham akan tugas dan takdir baru yang membebani pundak mereka.
”Sesuai perintah, Tuan! Kami menjamin akan mempertahankan kedamaian desa ini hingga Anda kembali,” ucap Ketua Darma dengan penuh dedikasi.
”Hati-hati di perjalanan, Guru!” tutup Asikin dan Fubao serempak, mengantar kepergian Sang Guru yang melangkah keluar dari aula, bersiap menyongsong badai besar yang menanti di ujung daratan bersalju.



