Bab 12

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Perjalanan ke Kerajaan Es

​Sebelum benar-benar meninggalkan wilayah desa, Ken melesat naik dan berdiri tegak di dahan tertinggi sebuah pohon purba yang menjulang tak jauh dari gerbang utama. Angin mempermainkan ujung jubahnya saat tangannya bergerak lincah menenun energi. Ia menanamkan beberapa lapis formasi pembatas tambahan yang meresap ke dalam kubah pertahanan tak kasat mata di sekeliling Desa Siama.

Dengan modifikasi ini, benteng desa akan berdiri mutlak. Jangankan prajurit biasa, serangan serentak dari kultivator level Jenderal sekalipun tidak akan mampu menggoresnya, batin Ken puas setelah memoles pelindung terluar desa. Lagipula, dengan adanya Asikin di dalam, itu sudah lebih dari cukup untuk menangani masalah medis jika ada warga yang terluka.

​Sejak proses evakuasi besar-besaran beberapa hari lalu, desa lama itu kini dialihfungsikan menjadi markas pertahanan ilusi. Di mata para pengintai dari Kerajaan Langit maupun Kerajaan Api, tempat itu terlihat bagai desa mati yang sepi dan sunyi, menyembunyikan fakta bahwa ribuan pengungsi sebenarnya terus berdatangan dan hidup damai di dimensi yang berbeda setiap harinya.

​Setelah memastikan semuanya aman, Ken menolak udara dan melesat pergi, memulai perjalanan panjang perdananya menuju wilayah beku Kerajaan Es.

​Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, membiaskan cahaya jingga kemerahan yang menyapu jalanan tanah. Di tengah perjalanan menembus jalur hutan yang sepi, langkah Ken terhenti. Instingnya menangkap aroma anyir darah.

​Di depan sana, ia menemukan puing-puing dua buah kereta kuda yang hancur berkeping-keping akibat serangan brutal, beserta dua tubuh pengawal yang terkapar bersimbah darah di atas tanah.

​”Hei! Bangunlah,” ucap Ken seraya berjongkok, menepuk pelan pipi salah satu pengawal yang tengkurap. Hawa dingin kematian menyentuh jemarinya.

Dia sudah tak bernyawa, batinnya setelah memeriksa sisa denyut nadi sang pengawal. Matanya kemudian tertuju pada ukiran di zirah pelindung dada korban. Simbol kristal salju ini… Ini adalah lambang kebesaran Prajurit Kerajaan Es. Ken menyapu pandangannya mengamati pola tebasan pada pepohonan di sekelilingnya. Melihat kondisi darah yang mulai mengering, sepertinya pertempuran di sini terjadi sekitar satu jam yang lalu. Langkahnya terhenti saat ia menemukan selembar kain sutra tipis bercorak kebiruan yang tersangkut di semak berduri. Ia memungutnya perlahan.

​”Mata Dewa!”

​Dalam keheningan, Ken merapal teknik observasi tingkat tingginya. Sepasang bola matanya seketika memancarkan pendaran cahaya keemasan bercampur perak. Penglihatannya menembus batas fisik ruang dan waktu, melacak jejak sisa-sisa energi spiritual dan ke mana arah rombongan yang selamat melarikan diri.

​Setelah mendapatkan koordinat yang ia butuhkan, Ken mengibaskan tangannya. Cahaya dari Cincin Bintang di jarinya berkedip, menyerap masuk kedua jasad pengawal Kerajaan Es tersebut ke dalam dimensi penyimpanannya agar tidak dihinakan oleh binatang buas. Setelah itu, tubuh Ken berubah menjadi bayangan buram yang melesat membelah hutan.

​Di sisi lain hutan yang lebih dalam, ketegangan memuncak. Putri Diyah dan sisa rombongan kecilnya tengah berlari mati-matian, dikejar oleh sekelompok bandit haus darah.

​”Paman, bagaimana ini?! Mereka terus memotong jalur kita!” desak Diyah yang berlari terengah-engah dengan gaun sutranya yang mulai koyak, sementara kedua lengannya mendekap erat tubuh kecil Elisha.

​”Maafkan hamba, Tuan Putri! Jika saja hamba tahu jalur tersembunyi menuju batas Aliansi Siama, mungkin kita bisa memutar arah dan meminta suaka pada mereka,” ucap Paman Tom, sang kepala pengawal, seraya menangkis anak panah yang melesat dari belakang.

​”Aliansi Siama? Tidak ada waktu untuk mencari jalan—” Ucapan Diyah terpotong.

BUM! BUM!

​Tanah di depan mereka bergetar hebat. Dua sosok pria bertubuh kekar bagai beruang gunung melompat dari atas dahan pohon dan mendarat keras, memblokir total jalur pelarian mereka.

​”Hahaha! Untuk apa membuang tenaga terus berlari, Tuan Putri? Bagaimana kalau kalian berhenti dan bersenang-senang menemani kami saja?!” ejek salah satu pria bertubuh raksasa itu, menjilati bibirnya dengan menjijikkan.

Sialan! Mereka memanggil bala bantuan… Muncul lagi dua orang bajingan dengan aura Pendekar Segel Bintang 6! batin Paman Tom, keringat dingin membasahi pelipisnya menyadari situasi yang semakin tanpa harapan.

​Kepanikan memuncak ketika enam bandit yang sejak tadi mengejar mereka dari belakang akhirnya tiba, membentuk formasi melingkar. Rombongan Kerajaan Es kini benar-benar terkurung rapat dari segala penjuru.

​”Ka-Kakak… Siapa pria-pria jahat ini? Kenapa orang-orang yang mengejar kita semakin banyak?” cicit Elisha dengan tubuh gemetar hebat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Diyah.

​”Tenanglah, Elisha. Kakak bersumpah akan melindungimu,” jawab Diyah dengan suara bergetar. Ia perlahan menurunkan adiknya dari punggung, lalu menghunus pedang tipisnya.

​”Buat barikade! Lindungi Putri Elisha dengan nyawa kalian!” perintah Diyah pada kelima pengawalnya yang tersisa.

​”Sesuai perintah, Tuan Putri!” seru para pengawal serempak, mengelilingi Diyah dan Elisha dengan perisai dan pedang terhunus, membentuk tameng hidup.

​Tiba-tiba, wajah Diyah memucat pasi. “Ahhh…!” Ia merintih tertahan, pedangnya nyaris terjatuh dari genggamannya. Tangan kirinya mencengkeram erat lengan kanannya yang sebelumnya terkena goresan senjata musuh.

​”Ada apa, Tuan Putri?!” seru Paman Tom panik, melihat urat-urat kehitaman mulai menjalar di balik kulit putih sang putri.

​”Sepertinya… senjata yang menggoresku tadi dilapisi racun mematikan, Paman! Racunnya mulai bereaksi dan melumpuhkan nadiku,” jelas Diyah menahan siksaan rasa sakit yang membakar pembuluh darahnya.

​”Hahaha! Bagaimana rasanya bisa mencicipi racun kebanggaan kami, Tuan Putri yang terhormat? Bukankah rasanya sangat nikmat?!” celetuk bandit bertubuh kurus yang menggoresnya tadi, tertawa puas.

Walaupun kelima pengawalku memiliki kekuatan setara Pendekar Segel Bintang 4 sama seperti enam cecunguk itu, tapi dari segi jumlah kami sudah kalah telak. Ditambah lagi keberadaan dua komandan Segel Bintang 6 ini… batin Diyah, otaknya berputar mencari jalan keluar, namun realitas terasa begitu gelap. Maafkan aku, Ayahanda Raja… Aku telah gagal menjaga Elisha. Keputusasaan mulai merayapi hati Diyah.

​”Kalian boleh menangkap kami semua! Namun kami memohon, lepaskan Tuan Putri Elisha!” tawar salah seorang pengawal Kerajaan Es, mencoba bernegosiasi demi menukar nyawanya.

​”Hahaha! Memang seperti itulah perintah yang kami terima dari majikan kami. Namun, tebakanmu sedikit keliru! Yang benar adalah… kami harus memenggal dan membunuh kalian semua di tempat, kecuali Putri Kecil Kerajaan Es itu! Hahaha!” ujar komandan bandit yang memiliki Segel Bintang 6 dengan tawa menggelegar.

​”Hah?! Siapa majikan pengecut yang memerintahkan kalian?!” bentak Diyah, memaksakan diri berdiri tegak meski racun terus menggerogoti.

​”Apa kau benar-benar penasaran ingin mengetahuinya, Tuan Putri? Kemarilah! Mendekatlah ke pelukanku, dan aku akan membisikkannya ke telingamu sambil menikmati tubuh indahmu! Nyammm!” goda komandan bandit itu dengan tatapan mesum yang menguliti Diyah.

​”Kurang ajar! Mulutmu menjijikkan!” cibir Diyah, merasa mual hingga ke perut dengan kelakuan bandit tersebut.

​”Hahaha, menjijikkan? Tenang saja, Tuan Putri. Setelah aku bersenang-senang, aku berjanji akan menyuapkan penawar racunnya langsung ke mulutmu,” terangnya seraya melangkah lambat mendekati Diyah. Mata bandit itu berkilat penuh nafsu. “Harus kuakui, melihatmu menahan sakit efek racun itu justru membuat lekuk tubuhmu terlihat semakin menggoda. Sungguh rezeki nomplok! Aku tidak menyangka malam ini bisa mencicipi darah biru yang secantik dan seanggun dirimu.”

​”Mundur! Jangan berani-berani kau menyentuhku!” teriak Diyah, melangkah mundur menghindari tangan raksasa kotor yang hendak meraih bahunya.

​Tepat saat jari-jari kotor itu hampir menyentuh kain sutra Diyah, sebuah desingan angin yang teramat tajam membelah keheningan malam.

SRING! CROT!

​Sebuah kilatan senjata tak kasat mata melesat dengan kecepatan gila. Meski komandan bandit itu memiliki insting Bintang 6 dan mencoba menghindar, senjata itu masih berhasil menebas dan memutus lengan kirinya dengan rapi. Darah segar menyembur ke udara.

​”Aaaaaargghh! Tanganku! Kurang ajar! Siapa pengecut yang bersembunyi itu?!” jerit sang bandit histeris, terhuyung mundur sembari mendekap puntung lengannya yang memancarkan darah.

​”Dasar mesum tuli. Apa telingamu sudah rusak hingga tak mendengar bahwa dia tidak sudi kau sentuh?”

​Sebuah suara dingin dan berat mengalir dari atas. Semua pasang mata sontak mendongak. Di sana, duduk bersantai menyilangkan kaki di atas dahan pohon ek yang besar, tampak seorang pemuda menatap mereka dengan sorot mata sedatar kematian.

Siapa pemuda ini?! Aura keberadaannya benar-benar menyatu dengan malam… batin Diyah, terkejut menyadari ada sosok yang menolongnya dari ambang keputusasaan.

​Mata Paman Tom menyipit menembus kegelapan, lalu pupilnya melebar saat melihat bilah besar nan aneh yang menancap di tanah setelah memotong lengan sang bandit. Pedang Rantai besar itu! Jangan-jangan dia…! batin sang kepala pengawal terguncang.

​”Bocah keparat! Apa kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?!” ancam bandit yang kehilangan lengannya itu, menahan rasa sakit yang luar biasa.

​”Hal itu sama sekali tak penting bagiku,” potong Ken sedingin gletser. “Yang perlu kalian tahu hanyalah… kalian punya waktu tepat lima detik untuk berlari meninggalkan tempat ini.”

​”Beraninya kau mencampuri urusan kami! Kami adalah Bandit Gajah Api! Kau akan menanggung akibat mematikan atas kelancanganmu ini!” komandan bandit itu balik memuntahkan ancaman.

​”Empat,” ucap Ken datar, mulai menghitung mundur tanpa mengubah posisinya sedikit pun.

​”Aku sudah memperingatkanmu, Bocah Tengik! Jangan salahkan kami jika tubuhmu dipotong menjadi—”

​”Tiga,” lanjut Ken, menghitung mundur seolah nyawa mereka hanyalah debu yang mengganggu pandangannya.

​Melihat ketenangan absolut yang mematikan itu, salah seorang bandit bawahan gemetar hebat. Pedang Rantai raksasa ini… Ini sama persis dengan ciri-ciri senjata Pemimpin Tertinggi Aliansi Siama! Mungkinkah…! batinnya menjerit horor.

​”Tu-Tuan Komandan! Gawat! Dia adalah dewa kematian dari Aliansi Siama! Dia menggunakan Pedang Rantai raksasa itu!” teriak bandit itu dengan suara pecah, menunjuk pedang yang berlumur darah dengan jari gemetar.

​”Dua,” gema suara Ken kembali memotong kepanikan mereka.

​”A-apa?! B-benarkah?!” Mata komandan bandit yang lengannya terputus itu terbelalak horor. Nyalinya menguap tanpa sisa. Ia tanpa sadar mundur satu langkah ke belakang.

​”Satu,” titah Ken memvonis takdir.

​”Tu-Tuan! Tolong ampuni nyawa kami! Kami benar-benar buta tak menyadari bahwa Anda—”

​Ucapan permohonan ampun itu terputus selamanya. Ujung rantai berbilah tajam milik Ken melesat menembus udara, meliuk bagai ular naga yang marah, dan menancap tepat menembus jantung komandan bandit itu.

​Tak berhenti sampai di situ, dalam kurun waktu kurang dari satu tarikan napas, Rantai Bintang itu melesat membentuk jaring maut. Ketujuh bandit lainnya mengalami nasib yang sama. Dada mereka tertembus bilah mematikan. Mereka semua dilumpuhkan oleh Ken hanya dengan satu eksekusi beruntun, dan sebelum mereka sempat menyadari kematian mereka, energi pedang itu menyerap dan melenyapkan tubuh mereka menjadi kristal debu di tempat kejadian.

​”Aku telah memberi kalian kemurahan hati dan waktu lima detik penuh untuk pergi melarikan diri. Namun sayang… kalian terlalu bodoh untuk memanfaatkannya,” desis Ken, menatap tajam pada butiran debu sisa para bandit tersebut.

​Para pengawal Kerajaan Es menelan ludah yang terasa sekasar pasir. Mampu mengeksekusi enam Pendekar Segel Bintang 4 dan dua komandan Segel Bintang 6 sekaligus dalam hitungan detik tanpa berkeringat?! Sungguh kekuatan pembantai yang tak masuk akal… Persis seperti rumor kengerian yang beredar di luaran sana, batin Paman Tom, seluruh tubuhnya merinding dipenuhi rasa kagum sekaligus ngeri.

Pemuda ini… kekuatannya berada di dimensi yang sama sekali berbeda, batin Putri Diyah, tak sanggup menyembunyikan keterkejutannya meski harus menahan nyeri gigitan racun di lengannya.

​Ken perlahan melompat turun dari dahan pohon, mendarat tanpa suara di atas rerumputan. Ia melangkah tenang mendekati barisan pengawal yang masih membeku.

​”Minumlah ini, Paman. Bagikan pada yang terluka,” ucap Ken seraya menjentikkan sebuah botol kecil berisi Pil Pancasona Tingkat 2 kepada Paman Tom.

​Paman Tom menangkapnya dengan sigap. Begitu mencium aromanya, matanya membelalak. “I-ini… Ya Tuhan! Terima kasih banyak, Tuan! Ini adalah obat mujarab yang sangat tak ternilai harganya,” kata Paman Tom, sangat terkejut atas kemurahan hati yang diberikan tanpa basa-basi oleh dewa perang di depannya.

​Ken melanjutkan langkahnya mendekati Putri Diyah dan Elisha. “Bolehkah aku mendekatimu? Ambillah ini,” tawar Ken, menyodorkan sebutir pil yang sama pada Diyah.

​”A-aa…” Diyah tiba-tiba terdiam, ragu-ragu. Alih-alih menerima, insting waspadanya membuat ia mundur selangkah, mempertahankan jarak dari orang asing yang terlalu berbahaya.

​Melihat kecanggungan itu, si kecil Elisha memberanikan diri. “A-a-apa… apa Kakak orang yang ba-baik?” celetuk Elisha gugup, setengah tubuhnya masih bersembunyi di balik rok gaun Diyah.

​Mendengar kepolosan itu, tatapan dingin Ken seketika mencair. “Emmm, bagaimana menurut penilaianmu, Adik Kecil? Apakah wajahku terlihat seperti orang baik?” ucap Ken dengan senyum simpul yang ramah. Ia perlahan merendahkan posturnya, berjongkok agar sejajar dengan tinggi gadis kecil itu. “Sini, kemarilah. Apakah kau terluka selama pelarian tadi?” panggil Ken lembut.

​”Hm-hmm… Kakak tadi menghajar orang-orang jahat dan menolong kami. Menurutku… Kakak adalah orang yang sangat baik,” ucap Elisha, keberaniannya mulai muncul. Ia perlahan melangkah keluar dari balik punggung kakaknya dan berjalan mendekati Ken. “Aku sama sekali tidak terluka. Tapi… Kak Diyah terluka parah karena terus melindungiku.”

​Mata Ken menatap Elisha, namun atensinya seketika tersedot pada sebuah benda yang menggantung di leher gadis kecil itu. Kalung kristal biru itu…! Kenapa anak ini memiliki kalung itu? batin Ken terhenyak, ingatan masa lalu berkelebat dalam benaknya. “Ya, mataku juga bisa melihat luka kakakmu. Sayangnya… sepertinya kakakmu yang cantik ini tidak sudi menerima obat dariku,” ucap Ken dengan nada sedikit menggoda Diyah.

​Menyadari situasi yang canggung, Paman Tom buru-buru melangkah maju untuk meluruskan. “Tuan Putri, tidak apa-apa! Tolong percayalah. Pil yang diberikan Tuan Pemimpin ini adalah Pil Pancasona Tingkat 2 yang sangat langka. Dengan meminum sebutir saja, setengah dari energi dan vitalitas Tuan Putri akan pulih seketika,” terang Paman Tom, berusaha keras membujuk Diyah.

​Ia kemudian menoleh ke arah Ken, membungkuk memohon maaf. “Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Ken. Tuan Putri Diyah memiliki sifat yang teramat berhati-hati terhadap orang asing. Beliau tidak akan sembarangan menerima atau mengonsumsi pemberian orang yang belum dikenalnya,” lanjutnya menjelaskan alasan di balik sikap waspada Diyah.

​”Tidak apa-apa, Paman. Aku sangat bisa memahami kehati-hatiannya di dunia yang kejam ini,” jawab Ken, memakluminya dengan senyum tipis.

​”Tuan Putri, hamba memohon. Jika luka itu tidak segera diobati, racun korosifnya akan merusak meridian dan terus menyebar ke jantung Anda!” desak Paman Tom mengingatkan Diyah akan bahaya yang mengintai nyawanya.

​Melihat Diyah yang semakin pucat menahan sakit, Ken tak tega membiarkan wanita itu menderita lebih lama. “Jika kau sebegitu takutnya memakan pil dari tanganku, aku punya alternatif lain. Aku bisa menarik racun dan menyembuhkan lukamu tanpa menyentuh sehelai pun kainmu! Bagaimana? Setuju?” tawar Ken memberikan solusi yang tak terbantahkan.

​Diyah menatap mata Ken, mencari kebohongan di sana. Namun ia hanya menemukan ketenangan absolut. “Hmmm… baiklah,” jawab Diyah ragu, akhirnya menyerah pada rasa sakitnya.

​”Namun, aku tetap harus berdiri dalam jarak yang sangat dekat denganmu,” lanjut Ken memastikan agar tidak ada kesalahpahaman.

​”A-aa… silakan,” Putri Diyah hanya menganggukkan kepalanya pelan.

​Ken melangkah mendekat. Ia mengulurkan tangannya beberapa inci dari lengan Diyah yang terluka. Cahaya keemasan yang murni memancar dari telapak tangan Ken. Energi penyembuh itu menembus udara, secara gaib menarik keluar untaian kabut hitam pekat—racun bandit—dari dalam aliran darah Diyah. Dalam hitungan detik, luka robek yang menganga itu merapat, sel-sel kulitnya beregenerasi, hingga kembali mulus sempurna tanpa menyisakan secuil pun bekas luka.

​”Hah! Ba-bagaimana kau—” Diyah terperangah takjub.

​Namun sebelum ucapannya selesai, jari Ken bergerak secepat kilat, menyentilkan Pil Pancasona yang sejak tadi ia pegang melesat masuk tepat ke dalam mulut Diyah yang setengah terbuka.

​”Apa yang baru saja kau lakukan?!” protes Diyah, tubuhnya seketika membeku kaget karena menelan pil tersebut.

​”Maafkan ketidaksopananku, tapi aku terpaksa menempuh jalan paksa. Kau memiliki terlalu banyak pertimbangan yang membahayakan nyawamu sendiri,” jelas Ken seraya mundur perlahan, menjaga batas kesopanan. “Sekarang, kondisi meridianmu sudah dibersihkan, dan perlahan seluruh tenaga dalammu akan kembali pulih seratus persen.”

​”Wah! Ajaib! Luka Kakak langsung menghilang tanpa bekas!” celetuk Elisha, melompat-lompat kecil takjub melihat sihir penyembuhan itu. “Kakak, bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah tidak sakit lagi, kan?” ucap Elisha, berlari memeluk pinggang Diyah dengan sayang.

Benar saja… Bukan hanya lukanya yang menutup, aliran energiku yang tadi kacau kini perlahan terasa penuh dan murni kembali! Bagaimana pemuda ini bisa melakukan keajaiban seperti ini dengan begitu mudah? batin Diyah tak henti-hentinya keheranan. “Kakak sudah merasa jauh lebih baik sekarang, Sayang,” jawab Diyah, mengusap puncak kepala Elisha dengan senyum lega.

​Melihat senyum tulus nan anggun yang menghiasi wajah Diyah, jantung Ken berdesir ganjil. Ia menatap wajah wanita itu lekat-lekat. Sorot mata dan senyum itu… Apakah… apakah benar kau adalah gadis yang kupanggil Putri Es di masa lalu itu? batin Ken bertanya-tanya, memendam rahasianya rapat-rapat.

​”Kakak Diyah, ayo cepat berterima kasih pada Kakak Hebat ini,” desak Elisha polos, jari telunjuk mungilnya mengarah pada Ken.

​”Ya, tentu saja harus,” jawab Diyah, wajahnya merona tipis menyadari hutang budinya. “Tuan Pendekar, terima kasih yang tak terhingga atas pertolongan keselamatan yang Anda berikan malam ini,” ucap Diyah dengan tulus, sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat dari seorang bangsawan.

​”Benar sekali, Tuan! Mewakili rombongan ini, sekali lagi terima kasih sedalam-dalamnya atas bantuan dan kemurahan hati Anda,” sambung Paman Tom seraya menangkupkan kepalan tangannya di depan dada.

​”Tidak perlu sungkan berlebihan, Paman, Tuan Putri. Kebetulan sekali rute perjalananku juga melewati hutan gelap ini,” terang Ken dengan nada merendah.

​”Kakak Pendekar! Apa Kakak mau berbaik hati mengantarkan kami sampai ke rumah istana? Aku sangat takut orang-orang jahat itu tiba-tiba datang lagi menyerang kami di jalan,” pinta Elisha dengan mata bulat memelas, tiba-tiba menarik ujung jubah Ken.

​Menyadari kelancangan permintaan sang putri kecil, Paman Tom buru-buru maju meluruskan. “Ma-maaf beribu maaf, Tuan! Putri Kecil Elisha hanya sedang trauma dan ketakutan, beliau sama sekali tidak bermaksud untuk merepotkan perjalanan Anda, Tuan,” sahut Paman Tom merasa tak enak hati atas sikap lugu Elisha.

​Ia kemudian berlutut di depan Elisha. “Tuan Putri Kecil, dengarkan Paman. Tuan Ken ini adalah sosok penguasa hebat yang pasti memiliki urusan sangat penting. Kita tidak boleh menjadi beban yang merepotkannya. Paman berjanji akan segera mengirimkan merpati surat ke Ayahanda Raja agar beliau mengirimkan armada bantuan menjemput kita di sini, ya?” bujuk Paman Tom lembut.

​”B-benarkah begitu, Paman?” jawab Elisha, raut wajahnya kembali murung dan menyimpan ketakutan.

​Melihat raut sedih di wajah Elisha dan memahami bahaya laten yang mengintai rombongan tanpa pengawalan memadai ini, Ken tersenyum. Ia menatap gadis kecil itu dan berkata, “Hei, bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Aku akan mengawal dan mengantarkan kalian pulang sampai ke depan gerbang rumah dengan selamat. Tapi dengan satu syarat mutlak: kau harus berjanji untuk tidak merasa takut lagi mulai dari detik ini. Bagaimana? Sepakat?” tawar Ken seraya mengulurkan kelingkingnya, mencoba menghibur Elisha.

​”Benarkah?! Wah! Baiklah, aku berjanji tidak akan pernah merasa takut lagi asalkan Kakak Hebat ini ikut mengantarkanku pulang!” sorak Elisha dengan tawa renyah, senyum cerah kembali merekah di wajah mungilnya seraya menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Ken.

​”Tuan… apakah keputusan ini benar-benar tidak akan mengganggu urusan Anda?” sela Paman Tom, masih merasa sungkan memonopoli waktu seorang tokoh sebesar Pemimpin Siama.

​”Tentu saja tidak masalah sama sekali, Paman. Lagipula, bukankah lambang di zirah kalian menunjukkan bahwa kalian berasal dari Kerajaan Es? Kebetulan tujuan akhir perjalananku juga mengarah ke sana,” terang Ken, memberikan alasan logis yang membuat semua pihak lega.

​”Benarkah?! Kalau begitu, malam ini benar-benar menjadi malam paling beruntung bagi kami karena semesta mempertemukan kami dengan Anda, Tuan,” seru Paman Tom dengan mata berbinar-binar.

​”Ya, Paman. Tidak perlu dipikirkan terlalu berat. Sudah menjadi kewajiban antar sesama manusia untuk saling mengulurkan tangan di saat krisis,” jawab Ken ramah, menepis segala protokoler kaku.

​”Oh, mohon ampun karena hamba hampir melupakan sopan santun! Sebelumnya, izinkan hamba memperkenalkan diri. Nama hamba adalah Toma, orang-orang biasa memanggil hamba Tom. Hamba adalah kepala pelayan dan kesatria yang ditugaskan khusus untuk mendampingi perjalanan diplomatik Tuan Putri Diyah. Dan gadis kecil pemberani ini adalah Tuan Putri Elisha, adik bungsu beliau,” ucap Paman Tom, menjelaskan dan memperkenalkan status bangsawan mereka secara resmi pada Ken.

​”Salam kenal, Paman Tom. Paman dan yang lainnya bisa memanggilku Ken saja,” jawab Ken, memperkenalkan namanya dengan senyum hangat tanpa menyebut gelar kebesarannya. “Jadi bagaimana keputusanmu, Paman? Apakah kita akan langsung melanjutkan sisa perjalanan malam ini juga?” tambahnya.

​”Mohon maaf, Tuan Ken. Jika kereta kuda kami tidak dihancurkan oleh para bandit itu, kami bisa saja memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan demi menghemat waktu. Namun dengan kondisi kelelahan dan kurangnya tunggangan saat ini, hamba menyarankan agar kita beristirahat membangun bivak di sini untuk melewati malam,” jelas Paman Tom, menimbang fisik rombongan.

​”Ohh, perhitungan yang sangat masuk akal. Baiklah, Paman, aku setuju,” ucap Ken menyetujui rencana tersebut. “Kalau begitu, siapkan perapiannya. Aku akan masuk ke dalam hutan sebentar untuk memburu beberapa kelinci liar sebagai makan malam kita,” sambung Ken seraya berbalik.

​Namun sebelum ia melesat ke dalam kegelapan pepohonan, Ken menoleh dan meninggalkan satu titah khusus. “Oh ya, Paman Tom. Kau tetap harus mengirimkan merpati permohonan bantuan ke Kerajaan Es. Namun ingat… jangan pernah menuliskan sepatah kata pun tentang identitas atau keterlibatanku dalam surat tersebut.”

​”Sesuai perintah Anda, Tuan Ken. Hamba akan merahasiakannya,” jawab Paman Tom dengan tundukan hormat.

Syukurlah dewa mengirimkan Tuan Ken malam ini. Kami akhirnya terselamatkan dari jurang maut, batin Paman Tom, mengembuskan napas kelegaan yang luar biasa seraya menatap punggung Ken yang melebur bersama bayangan malam.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!