Bab 19

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

Pohon Bintang

​Hening perlahan menyelimuti hutan setelah pertarungan sengit itu usai. Napas mereka mulai teratur seiring dengan pulihnya energi spiritual di meridian masing-masing. Tanpa membuang waktu, Suta dan Andin segera duduk bersila, bersiap menyerap Mustika Monster Bintang Harimau Iblis Tingkat 3 untuk memadatkan Segel Bintang keenam mereka.

​”Baiklah, segeralah mulai proses penyerapan mustika itu. Begitu kalian selesai, kita akan langsung bergerak menembus batas inti hutan,” arah Ken, mengawasi murid-murid akademinya itu.

​”Tapi… karena monster-monster ini berada di Tingkat 3, kepadatan energinya sangat tinggi. Mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama bagi kami untuk menyerapnya dengan aman. Apakah kita memiliki waktu selama itu, Tuan?” tanya Suta dengan raut cemas.

​”Ya, benar, Tuan! Proses ini tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa,” sambung Andin menyetujui.

​”Tidak apa-apa, seraplah dengan tenang,” jawab Ken datar. “Lagipula, begitu kita melangkah lebih dalam ke inti hutan, kalian mungkin hanya akan menjumpai Monster Bintang di Tingkat Langit atau bahkan Tingkat Raja. Ini adalah satu-satunya kesempatan aman bagi kalian untuk menyerap fondasi yang sepadan.”

​”Baiklah, kami mengerti. Kami akan segera memulai penyerapannya,” ucap Andin paham, lalu mulai memejamkan mata dan memusatkan Qi-nya.

​Ken kemudian beralih menatap Diyah. “Tuan Putri, bersiaplah. Isilah slot Segel Bintang kelimamu menggunakan Mustika Monster Bintang Tingkat 5 itu.” Ia menunjuk bangkai harimau raksasa yang dibunuhnya tadi.

​”Hah! I-itu…” Diyah tersentak ragu. “Tapi monster itu berada di Tingkat 5, Kak Ken! Sementara fondasi Segel Bintangku yang sebelumnya hanyalah berasal dari Mustika Tingkat 1 yang menghasilkan segel berwarna silver ini. Bukankah melompat langsung untuk menyerap mustika Tingkat 5 sama saja dengan bunuh diri, Kak Ken?!” terang Diyah, menjabarkan teori kultivasi yang ia ketahui.

​”Ya, berdasarkan teori umum, kau benar. Namun, kau tetap bisa menyerapnya dengan aman. Aku akan turun tangan menstabilkan alirannya untukmu. Percayalah padaku,” bujuk Ken, tatapannya memancarkan keyakinan mutlak yang tak terbantahkan.

​Melihat sorot mata Ken, keraguan di hati Diyah perlahan menguap. “Benarkah…? Baiklah, Kak Ken. Aku akan menyerahkan keselamatanku pada arahanmu,” angguk Diyah patuh.

​Mendengar instruksi nekat itu, Julia dan yang lainnya saling pandang dengan ngeri. “Apakah benar-benar tidak apa-apa membiarkannya menyerap itu, Tuan Ken?” tanya Julia khawatir.

​”Kalian mungkin baru pertama kali melihat teknik ini. Duduk dan saksikan saja nanti,” jawab Ken tenang.

​Mereka pun mulai memisahkan diri untuk menyerap mustika masing-masing. Diyah melangkah perlahan mendekati bangkai Monster Bintang Tingkat 5 tersebut. Ia mengaktifkan resonansi Segel Bintang di lengannya, lalu menancapkan ujung tombak peraknya ke dada monster itu. Cahaya terang berpendar saat Mustika Bintang seukuran kepalan tangan melayang keluar dari jasadnya. Diyah duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai menarik untaian energi dari mustika raksasa tersebut.

​Ken berdiri tak jauh darinya, mengawasi setiap perubahan suhu tubuh Diyah dengan ketat. Benar saja, baru beberapa menit berselang, raut wajah Diyah memucat; keringat dingin mengucur deras. Energi buas dari mustika itu mulai memberontak dan mencoba memberikan serangan balik ke dalam meridiannya.

​Menyadari batas krisis telah tiba, Ken bergerak secepat kilat. Ia mencabut pedangnya dan menancapkannya ke tanah, tepat di antara mustika yang melayang dan tubuh Diyah.

ZWUSH! Ken mengalirkan auranya ke bilah pedang tersebut, menciptakan sebuah segel penyaring tak kasat mata. Pendaran energi dari mustika itu kini dipaksa melewati bilah pedang Ken sebelum masuk ke tubuh Diyah.

Dengan metode filter ini, seluruh niat membunuh dan energi liar dari jiwa monster itu akan tertahan. Kau hanya akan menyerap esensi spiritualnya yang paling murni, batin Ken, menatap Diyah yang raut wajahnya kembali tenang dan rileks saat melanjutkan penyerapannya.

Sihir macam apa yang sedang dilakukannya? batin Julia yang sedari tadi mengawasi dari kejauhan. Digerakkan oleh rasa penasaran, ia memberanikan diri mendekati Ken yang kini telah kembali duduk bersandar santai di bawah pohon besar.

​”Tuan Ken, apakah Diyah akan baik-baik saja?” tanya Julia seraya duduk tak jauh dari pemuda itu.

​”Ya, dia sudah melewati masa kritis. Aku membantu proses penyerapannya dengan menetralisir energi jahat dari mustika tersebut. Pedangku berfungsi sebagai katup yang mengatur agar energi yang masuk ke tubuhnya mengalir perlahan, sesuai dengan kapasitas meridiannya,” terang Ken tanpa mengalihkan pandangan dari Diyah.

​”Baguslah kalau begitu! Seumur hidupku, aku belum pernah mendengar ada teknik manipulasi filter untuk menyerap Mustika Monster Bintang. Tuan Ken memang luar biasa,” puji Julia, kekagumannya semakin bertambah. Ia terdiam sejenak, meremas ujung gaunnya sebelum melanjutkan. “Tuan Ken… sebelumnya, aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kelancanganku di ruang takhta waktu itu. Saat aku kehilangan akal dan mengarahkan pedangku ke lehermu…” ucap Julia, menundukkan kepalanya dalam-dalam menyadari kebodohannya.

​”Oh, insiden itu,” Ken terkekeh pelan. “Tenang saja, aku sudah melupakannya. Lagipula, Diyah sudah memberitahuku bahwa tindakan nekatmu itu murni karena kepanikan ingin melerai dan mencegah situasi menjadi ajang pertumpahan darah di depan ayahmu.”

​”Terima kasih atas kebesaran hatimu untuk memahamiku, Tuan,” ucap Julia, merasa lega beban di dadanya terangkat.

​”Tidak perlu dipikirkan terlalu berat. Dan kau juga tidak perlu kaku memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’. Bukankah dari segi usia, kita terlihat seumuran?” jelas Ken dengan nada santai.

​”Ya… kau benar. Baiklah, Ken,” jawab Julia, senyum simpul terukir di wajah cantiknya. “Menurut perkiraanmu, berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk selesai menyerap mustika itu?” tanyanya kemudian.

​”Kemungkinan besar Suta dan Andin akan selesai menjelang sore. Namun untuk Diyah, prosesnya akan memakan waktu sedikit lebih lama karena perbedaan tingkat mustika. Jadi, kau bisa memanfaatkan waktu ini untuk tidur beristirahat,” Ken mematahkan sebatang ranting kecil dan menyelipkannya di sela bibirnya. “Biar aku yang bertugas menjaga kalian.”

​”Ummm… entahlah. Hutan Monster Bintang ini sekarang terasa seratus kali lebih mengerikan dari apa yang kubayangkan. Kau tahu, Ken… sejujurnya aku memiliki trauma yang sangat kelam terhadap Monster Bintang,” terang Julia, pandangannya mendadak kosong.

​Mendengar itu, alis Ken bertaut. Trauma? “Kenapa bisa begitu? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalumu?” pancing Ken, menekan gejolak di hatinya.

​”Ya… karena di masa lalu, Monster Bintang telah melahap habis nyawa sahabat berhargaku dan membantai hampir seluruh penduduk desanya,” kisah Julia, menengadah menatap kanopi pepohonan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

​Jantung Ken berdegup lebih kencang. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini bermuara.

​”Namanya adalah Aruk,” lanjut Julia, menyebutkan nama asli Ken tanpa menyadari bahwa pemilik nama itu sedang duduk di sebelahnya. “Dia adalah anak laki-laki yang sangat baik dan dipenuhi bakat luar biasa. Walaupun dia terlahir tanpa anugerah Segel Bintang, dia memiliki nyali baja untuk keluar-masuk Hutan Monster ini sendirian.”

​Julia menarik napas bergetar. “Awalnya, desa tempat ia tinggal diserang oleh pasukan militer dari Kerajaan Api. Tapi… laporan resmi kerajaan menyatakan bahwa kehancuran total dan lenyapnya nyawa penduduk desa malam itu disebabkan karena mereka dimangsa oleh kawanan Monster Bintang yang mengamuk.”

​Mendengar pengakuan itu, rahang Ken mengeras. Emosi mematikan meledak di dalam batinnya. Kurang ajar… Ternyata narasi kebohongan itu yang disebarkan oleh Kerajaan Api dan dikonfirmasi oleh kakekku?! Dasar iblis-iblis politik! Aku bersumpah tidak akan melepaskan nyawa kalian satu pun! batin Ken mengutuk dalam kemarahan yang dipendam rapat.

​Ken menatap Julia dengan saksama. “Bagaimana kalian bisa begitu yakin bahwa Monster Bintang-lah yang memangsa mereka?” tanyanya, mencoba mencari tahu sejauh mana kebohongan itu tertanam.

​”Aku mendesak Ayahanda Raja agar mengirimkan pasukan pencari khusus untuk melacak jejaknya. Ayah sudah berusaha keras… namun intelijen membawa pulang bukti-bukti bahwa memang begitulah kenyataannya. Jadi, pada akhirnya, aku hanya bisa menangis dan mencoba mengikhlaskannya,” terang Julia, setetes air mata lolos dari pertahanannya. “Padahal… waktu itu kami telah mengikat janji suci untuk bertemu kembali setiap tahunnya. Dan dia berjanji akan tumbuh kuat untuk menyusulku ke Kerajaan Es.”

​”Berdasarkan instingku, mustahil Monster Bintang bisa melakukan genosida sebersih itu di pemukiman,” sanggah Ken perlahan, menanamkan keraguan logis. “Monster Bintang murni tidak akan bisa melewati Pembatas Langit jika tidak ada eksistensi kuat yang sengaja menjinakkan dan membawa mereka keluar.”

​”Oh, iya… tebakanmu itu sangat logis,” gumam Julia, seolah baru menyadari lubang dalam narasi tersebut. “Namun, saat aku masih sekecil itu, aku belum memahami hukum sihir benua ini. Tapi biarlah… bagaimanapun cara dia pergi, aku hanya bisa berdoa semoga dia sudah bahagia di alam baka sana,” ikhlas Julia dengan senyum getir.

​Ken menelan ludah yang terasa perih. “Lalu… bagaimana dengan status pertunanganmu dengan Pangeran dari Kerajaan Air itu? Apakah dia mengetahui kisahmu tentang Aruk?” tanya Ken mengalihkan topik.

​”Ya, dia tahu semuanya,” angguk Julia. “Awalnya, aku menutup pintu hatiku rapat-rapat dan menolak menjalin hubungan apa pun. Namun, dia adalah pria yang sangat sabar. Ia berusaha keras meyakinkan dan mendampingiku melewati masa duka selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya, sejak dua tahun lalu, kami berdua memutuskan untuk resmi bertunangan. Rencananya, pesta pernikahan kami akan digelar tepat setelah Turnamen Pendekar usai,” terangnya, semburat kelegaan dan harapan masa depan tersirat di wajahnya.

​”Kau membuat keputusan yang sangat tepat. Dan dari ceritamu, Pangeran Air itu terdengar seperti pria yang pantas untuk menjagamu,” ucap Ken, memberikan restu yang tulus dari lubuk hatinya.

​”Ya… dia memang pria yang sangat baik. Kadang aku merasa sedikit menyesal dan bersalah karena telah mengabaikan ketulusannya untuk waktu yang cukup lama. Alasannya tak lain karena di sudut hatiku, aku masih terus berharap keajaiban akan membawa Aruk kembali padaku. Aku sangat takut jika suatu hari nanti Aruk kembali, ia akan menyalahkan dan membenciku karena aku mengingkari janji kami untuk hidup bersama,” Julia tertunduk sedih, jemarinya meremas rerumputan mengenang kemurnian masa lalunya.

​Hati Ken bergetar hebat. Ternyata… kau masih terus mengingatku dan mengunci janjiku di hatimu selama itu, batin Ken dipenuhi rasa haru.

‘Aku berjanji akan terus menunggumu di istana sampai kau datang menemuiku dan membawaku pergi untuk hidup bersama!’ ‘Benarkah? Apa kau yakin bisa menjaga janjimu itu, Putri Es?’ ‘Ya, tentu saja! Aku bahkan telah mengalungkan permata hatiku padamu. Jadi aku pasti akan menjaga janjiku!’ Pecahan kenangan masa kecil bersama “Putri Es” itu berputar kembali layaknya piringan waktu di kepala Ken.

​Ken menarik napas panjang, lalu tersenyum lembut menatap Julia. “Aku tidak tahu pasti sedalam apa janji yang kau ikat dengan teman masa kecilmu itu. Dan ya, mungkin saja jika dia kembali, akan ada rasa kecewa karena kau tidak bisa terus menunggunya. Namun… jika dia adalah pria yang benar-benar menyayangimu, aku yakin seratus persen dia akan memaafkan dan memahami pilihan bahagiamu jika kau menjelaskannya. Percayalah padaku,” terang Ken, memberikan pengampunan dan penutup absolut dari “Aruk” kepada cinta pertamanya.

​Mendengar afirmasi itu dari sudut pandang seorang pria sekuat Ken, beban di hati Julia seakan terangkat sepenuhnya. “Benarkah…? Kuharap memang begitu,” Julia menatap Ken, matanya yang basah kini membiaskan senyuman lega. “Terima kasih, Ken. Terima kasih karena sudah bersedia mendengarkan celotehan kelamku.”

​”Sama-sama. Beristirahatlah,” balas Ken.

​Julia pun berbaring berbantalkan akar pohon yang ditutupi jubahnya, memejamkan mata untuk beristirahat. Ken tetap duduk bersandar pada batang pohon, menjaga api kewaspadaannya sambil terus memantau proses kultivasi Diyah, Andin, dan Suta.

Hmmm… Aneh sekali. Entah mengapa, bercerita padanya membuat seluruh bebanku selama belasan tahun ini menguap begitu saja. Terima kasih, Tuan Ken, batin Julia, menyunggingkan senyum damai dalam tidurnya.

​Empat jam berlalu. Suta dan Andin akhirnya membuka mata bersamaan setelah berhasil menyatukan Mustika Monster Bintang Harimau Iblis Tingkat 3 ke dalam fondasi kultivasi mereka.

​”Akhirnya, proses neraka ini selesai juga! Aku bisa merasakan lautan energi di nadiku melonjak drastis!” seru Andin penuh kepuasan. Ia menatap punggung tangan kanannya. Di sana, baris ketiga dari susunan Segel Bintangnya telah genap terisi oleh dua bintang yang memancarkan pendaran biru laut.

​”Hahhh… ya, akhirnya kita naik tingkat!” tambah Suta, berdiri dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku dengan bunyi gemeretak.

​”Wah, lihatlah Diyah! Ternyata dia benar-benar nekat menyerap mustika monster Tingkat 5 itu! Luar biasa, dia masih bertahan tanpa meledak!” seru Andin takjub menyadari sahabatnya masih diliputi pusaran energi yang pekat.

​”Baguslah kalian berdua sudah sadar. Pulihkan stamina kalian sambil beristirahat,” ucap Julia yang sudah terbangun, berjalan mendekati Andin dan Suta.

​Mereka bertiga duduk melingkar dalam keheningan, menunggu dengan cemas hingga proses penyatuan tingkat dewa yang dilakukan Diyah rampung.

​Setelah satu jam berlalu, pusaran angin spiritual di sekitar Diyah perlahan mereda. Cahaya menyilaukan meledak sesaat sebelum kembali masuk ke dalam pori-porinya. Diyah akhirnya membuka kelopak matanya, memancarkan tatapan yang jauh lebih jernih dan tajam dari sebelumnya.

Ya Dewa… Ternyata aku benar-benar berhasil menyerap energi seganas ini! Dan… pedang ini! Ini adalah pedang pusaka Kak Ken yang menghalangi arus energinya. Jadi, pantas saja aku tidak merasakan rasa sakit yang merobek meridianku. Kak Ken diam-diam telah membantuku menyaring kekuatannya! batin Diyah bergetar haru. Ia menatap punggung tangan kanannya. Segel Bintang kelimanya kini terukir jelas memancarkan pendaran cahaya Emas yang sangat murni.

​”Bagaimana perasaanmu sekarang, Tuan Putri?” Suara Ken menyadarkan Diyah dari lamunannya. Pemuda itu berjalan mendekat, mencabut pedangnya dari tanah dengan satu tarikan ringan, lalu memungut tombak perak milik Diyah.

​”Kak Ken! Terima kasih atas campur tanganmu,” ucap Diyah, bergegas berdiri dan menghampiri Ken dengan senyum termanisnya.

​”Ini senjatamu, simpanlah,” Ken menyodorkan tombaknya. “Sirkulasi energimu sudah stabil. Kita harus segera melanjutkan perjalanan.”

​”Mm-hmm, ayo,” jawab Diyah dengan mata berbinar menatap wajah dingin Ken.

​”Wahh! Diyah! Jangan bilang kalau kau baru saja memadatkan Segel Bintang Emas?!” pekik Julia yang baru menyadari perubahan warna pada aura Diyah. Suta dan Andin pun ikut menahan napas kagum melihat pencapaian mustahil tersebut.

​”Semuanya, simpan kekaguman kalian. Kita harus bergerak secepat angin agar bisa menembus batas inti hutan sebelum langit sepenuhnya gelap,” titah Ken memutus perayaan kecil mereka.

​Rombongan pun kembali melesat membelah hutan pepohonan raksasa.

​”Diyah, dengan kekuatan emas yang baru saja kau dapatkan ini, aku jamin tidak akan ada lagi petinggi tua atau jenderal busuk yang berani meremehkan statusmu di istana nanti,” bisik Andin, menyejajarkan langkahnya dengan Diyah di udara.

​”Hahaha! Andin, kau ini berlebihan sekali!” jawab Diyah tertawa lepas, beban di pundaknya terasa jauh lebih ringan.

​”Ya! Terutama sekawanan pangeran arogan dari Kerajaan Tanah, Angin, dan Api itu! Sikap merendahkan mereka sangat menjengkelkan,” tambah Andin dengan raut wajah sebal mengingat intrik akademi.

​”Tentu saja!… Jika mereka berani mencari masalah, aku sendiri yang akan meremukkan mereka, Hahaha,” pungkas Diyah penuh percaya diri.

​Namun, di tengah perjalanan riang tersebut, langkah Ken di barisan terdepan mendadak terhenti. Matanya memicing tajam menembus kegelapan kanopi hutan. Insting Mata Dewa-nya menangkap anomali gravitasi yang mengerikan dari kejauhan.

Hah! Aura membunuh apa ini?! Apa sebenarnya yang sedang terjadi di kedalaman hutan ini?… Ini bukan sekadar monster biasa, batin Ken menegang menyadari bahaya level bencana mendekat.

​”Semuanya, hentikan obrolan! Ikuti langkahku, sekarang!” perintah Ken dengan nada darurat, seketika mengubah arah lajunya ke sisi tebing.

​”Ada apa, Kak Ken?!” tanya Diyah heran, nadanya panik namun kakinya tetap patuh mengikuti setiap arahan Ken bersama yang lainnya.

​”Jangan banyak tanya, bergeraklah lebih cepat! Aku akan menjelaskannya nanti jika kita selamat!” Ken memompa kecepatan maksimalnya.

​Pertanyaan demi pertanyaan bergemuruh di batin mereka. Kenapa dewa perang sekuat Ken mendadak pucat dan memilih menghindar?

Kurang ajar, pergerakan mereka cepat sekali! Entitas apa yang sedang mengejar mereka?! Jika aku nekat melepaskan radius Mata Dewa untuk memindai, gelombang auraku pasti akan memancing perhatian monster level atas itu. Tidak ada waktu lagi untuk berlari! Aku harus membawa mereka bersembunyi, batin Ken mengkalkulasi probabilitas bertahan hidup.

​”Cepat! Sembunyi di celah ini!” ajak Ken, menunjuk sebuah cekungan besar di balik akar raksasa dari tumpukan pohon purba yang telah tumbang bersilang.

​”Sebenarnya apa yang sedang mengejar kita?” bisik Julia ketakutan, napasnya memburu saat mereka merayap masuk ke dalam lubang akar.

​”Tutup mulut kalian. Tekan dan matikan seluruh pendaran Segel Bintang kalian sekarang juga,” bisik Ken penuh penekanan. “Apa pun kiamat yang terjadi di luar sana nanti, jangan ada yang panik. Tetap diam dan jangan bernapas terlalu keras.”

​Tak lama setelah mereka menekan hawa keberadaan, tanah tempat mereka bersembunyi mulai bergetar. Gemuruh pijakan kaki yang masif memekakkan telinga. Dari celah sempit pepohonan, mereka menyaksikan pemandangan yang menggetarkan kewarasan.

​Ratusan Monster Bintang dari berbagai spesies—babi hutan berlapis baja, serigala bersayap, hingga gajah bercula petir—berlari kalang kabut tanpa arah. Monster-monster yang biasanya saling memangsa itu kini berlari searah dalam satu gelombang kepanikan massal yang brutal.

​”M-monster-monster yang berlarian itu… mereka semua adalah penguasa Tingkat 4 dan 5! Bahkan aku melihat ada raja kawanan Tingkat 6 di sana! Entitas maut macam apa yang sanggup membuat monster level raja lari ketakutan seperti itu?!” bisik Andin dengan bibir bergetar hebat. Keputusasaan mulai merayapi mental keempat bangsawan muda itu.

​”Ingat perintahku. Apa pun yang terjadi, jangan panik,” desis Ken sekali lagi, matanya tak berkedip menatap asal muasal gempa.

BUM! BUM! BUM!

​Pohon-pohon purba yang berdiameter belasan meter di depan mereka hancur dilibas bagai ilalang. Dari balik kabut debu, muncullah penyebab mimpi buruk tersebut. Seekor Monster Bintang Raksasa berbentuk humanoid. Tubuhnya berwarna hijau lumut yang menjijikkan, dengan struktur wajah menyerupai harimau iblis yang memiliki empat taring panjang mencuat hingga ke dada. Ia mengayunkan gada batunya, mengejar dan mengunyah hidup-hidup Monster Bintang Tingkat 6 yang gagal melarikan diri.

​Tepat saat monster raksasa itu asyik mengunyah mangsanya, langkahnya terhenti. Kepala raksasanya perlahan menoleh, mengendus udara, seolah insting iblisnya menyadari anomali hawa kehidupan di balik tumpukan pohon tumbang tempat Ken dan kawan-kawannya bersembunyi.

​”Dewa Agung… Monster hijau apa itu?! Dilihat dari ketebalan lingkaran auranya… i-itu adalah Monster Bintang Tingkat 10!” bisik Julia putus asa, air matanya mulai menggenang saking takutnya. Jantung mereka semua serasa berhenti berdetak. Monster itu membuang bangkai di mulutnya dan mulai melangkah perlahan ke arah persembunyian mereka.

Sialan! Bagaimana bisa insting binatang ini menyadari segel penyembunyianku?! batin Ken mengutuk keras. Mata Ken melirik sekilas ke arah Diyah, dan seketika ia menyadari titik kebocorannya. Ah, pantas saja! Tuan Putri baru saja mendapatkan Segel Bintang Emasnya. Ia belum terbiasa dan gagal menekan pendaran energi murninya hingga bocor sedikit ke udara. Monster hijau raksasa itu berhenti tepat di atas mereka. Dengan satu ayunan tangannya yang berotot, ia mengangkat bongkahan batang pohon purba yang melindungi mereka dan membuangnya sejauh ratusan meter layaknya melempar ranting kecil.

​Atap persembunyian mereka lenyap. Kelima manusia itu kini berhadapan langsung tatap muka dengan iblis setinggi gedung tiga lantai, tanpa ada penghalang apa pun di antara mereka. Bau napas kematian menguar dari mulut monster itu.

​Namun, sebelum monster hijau itu sempat mengangkat gada batunya untuk menghancurkan mereka, sebuah raungan yang seratus kali lipat lebih dahsyat meledak dari belakang sang monster. Gelombang suaranya begitu brutal hingga menumbangkan pepohonan di sekitarnya.

​Hadir lagi sesosok mimpi buruk. Seekor Monster Bintang berbentuk Gorilla Raksasa yang dipenuhi otot kawat. Tak seperti gorilla biasa, monster ini memiliki empat lengan yang berotot mematikan, serta sepasang sayap tulang bersusun di punggungnya yang memancarkan energi kehancuran.

​Gorilla raksasa itu melangkah maju, dadanya membusung menantang, dan terus meraung memperingatkan monster hijau tersebut untuk menyingkir dari wilayah kekuasaannya.

​”Habislah riwayat kita… Tuhan, kita benar-benar akan dikoyak menjadi daging cincang oleh dua Monster Bintang Tingkat 11 ini,” celetuk Suta merintih pasrah di tengah ketegangan yang membekukan darah itu. Semuanya terisak tanpa suara, menggigil menanti ajal.

​Ajaibnya, di bawah tekanan aura sang Gorilla Ashura, Monster Hijau Tingkat 10 itu menundukkan kepalanya, mendengus kesal, lalu perlahan melangkah mundur menyerah dan pergi menjauh dari area tersebut.

​Setelah musuh teritorialnya pergi, Gorilla Raksasa itu hendak berbalik kembali ke pusat hutan. Namun sebelum mengepakkan sayapnya, monster purba itu menundukkan pandangannya dan menatap lekat-lekat ke arah gerombolan manusia kecil di bawah kakinya, tepatnya ke arah sepasang mata Ken.

​Menyadari tatapan penuh intelijensia dari monster itu, Ken segera meletakkan telapak tangan kanannya di dada kiri, lalu menundukkan kepalanya perlahan, memberikan sebuah gestur penghormatan mutlak antar dua eksistensi level dewa. Melihat gestur Ken, Diyah dan yang lainnya pun dengan gemetar ikut membungkukkan badan.

​Seakan menerima penghormatan itu, Gorilla Bintang tersebut mendengus pelan, mengepakkan sayap tulangnya, dan melesat terbang menjauh tanpa menunjukkan sedikit pun niat membunuh pada mereka. Nyawa mereka secara ajaib telah terselamatkan oleh sang penguasa hutan.

​”Hah! A-apa yang baru saja terjadi? Kiamat itu… mereka benar-benar pergi meninggalkan kita hidup-hidup?!” tanya Suta, terduduk lemas di tanah dengan sisa tenaga yang menguap.

​”Apa yang barusan terjadi, Kak Ken? Apakah kau kebetulan mengenali spesies Monster Gorilla tadi?! Dia… dia sepertinya sangat memahami gestur penghormatanmu!” tanya Diyah yang masih memegangi dadanya yang bergemuruh kencang.

​”Ya, makhluk agung itu adalah Monster Bintang Gorilla Ashura Bertangan Empat dengan sayap bersusun. Dia merupakan salah satu entitas sakral Penjaga Hutan Bintang ini. Di masa lalu, aku sempat beberapa kali bersinggungan di batas wilayahnya tanpa pertumpahan darah, jadi kurasa instingnya masih mengingat aura keberadaanku,” terang Ken dengan tenang. “Dan monster raksasa yang satu lagi… itu adalah Monster Bintang Buto Ijo. Ia adalah entitas dari golongan iblis murni yang sangat serakah, tidak akan segan-segan mengunyah sesama Monster Bintang yang lebih lemah, apalagi daging manusia,” lanjut Ken, mematahkan kebingungan rekan-rekannya akan hierarki monster.

​”Ugh, syukurlah keajaiban berpihak pada kita hari ini! Apakah kita masih akan nekat melanjutkan perjalanan gila ini?” Andin menghela napas panjang dan bertanya dengan nada ragu.

​”Tentu saja kita lanjut! Ayo bangkit. Kita harus tiba di batas ekosistem inti hutan sebelum matahari benar-benar lenyap tertelan bumi,” titah Ken, memimpin barisan untuk kembali menembus lebatnya hutan.

​”Monster-monster tadi… bukankah tingkat kultivasi mereka sudah menembus Tingkat 11? Itu berarti umur kehidupan mereka telah mencapai angka legendaris… Satu Juta Tahun?!” Suta bergumam kosong, otaknya masih menolak percaya pada tontonan fana tadi. “Sebenarnya ada berapa banyak lagi dewa-dewa monster seperti itu yang tertidur di dasar hutan ini?” Ia menatap langit dengan tatapan ngeri mengkhawatirkan sisa umurnya.

​”Sudah pasti masih banyak monster prasejarah yang tertidur! Cepat seret kakimu, Suta! Kalau kau terus mengeluh, kami benar-benar akan meninggalkanmu sebagai umpan!” desak Andin sambil menarik kerah baju Suta agar pemuda itu segera menyusul mereka.

​Mereka pun bergegas meningkatkan ritme perjalanan menuju inti hutan sebelum kegelapan malam mengundang keluarnya monster-monster dari golongan iblis yang jauh lebih mematikan.

Buto Ijo itu adalah ras Monster Bintang yang telah punah sejak zaman purba. Seumur hidupku, aku belum pernah melihat spesies iblis itu berkeliaran. Dari retakan dimensi mana dia merangkak keluar? Hutan Bintang ini jelas masih mengunci rapat banyak misteri… Tapi instingku mengatakan, semua anomali ini pasti memiliki benang merah dengan sang pencipta batas ini di masa lalu—Sang Dewa Alam, Sailendra! batin Ken merajut konspirasi kosmik yang tersembunyi di balik sejarah dunia kultivasi.

​Menjelang petang, batas pepohonan gelap akhirnya tersibak. Mereka telah tiba di Inti Hutan Bintang—taman eden tersembunyi di mana Rumput Colo sudi tumbuh.

​Begitu melangkah keluar dari bayang-bayang hutan, napas mereka serempak tertahan. Mereka terpukau secara absolut oleh keindahan surga di hadapan mereka. Sungai-sungai beraliran energi spiritual mengalir jernih membelah padang rumput, air terjun bercahaya memantulkan pelangi abadi, dan flora purba memancarkan pendaran keajaiban.

​Setelah mendaki sebuah bukit zamrud, pemandangan utamanya terhampar luas. Di balik lembah raksasa itu, puluhan ribu Monster Bintang dari berbagai ras berkumpul dengan damai tanpa ada setitik pun niat membunuh. Dan di pusat lanskap tersebut, berdiri tegak tiga buah Pohon Raksasa yang membelah cakrawala.

​Batang pohon-pohon itu menjulang menembus batas atmosfer langit, memancarkan aura kehidupan yang sangat pekat. Jarak antar ketiganya terpisah ribuan meter, namun kebesaran mereka yang seratus kali lipat lebih masif dari gunung mana pun membuat ketiganya terlihat sangat menonjol dan mendominasi seluruh Inti Hutan.

​”Wahh… ini adalah tempat yang tidak masuk akal indahnya, Kak Ken!” ucap Diyah dengan suara lirih. Matanya berbinar terpukau menyaksikan pantulan cahaya keemasan dari matahari yang mulai tenggelam, menyorot mahkota raksasa pohon-pohon tersebut.

​”Kau benar, Diyah. Pemandangan ini seakan menarik ruhku masuk ke dalam demensi surgawi… dunia yang murni dari pertumpahan darah dan dipenuhi keajaiban mistis,” tambah Julia. Ia menarik napas dalam-dalam, melebarkan kedua lengannya seakan ingin memeluk hembusan angin spiritual tersebut.

​”Aku sama sekali tidak pernah menyangka di balik kengerian hutan ini, tersimpan surga sedamai ini,” sambung Andin, tak mampu menyembunyikan kekagumannya.

​”Ya, selamat datang di Inti Hutan Bintang. Jantung kehidupan dari ekosistem ini, tempat di mana puluhan ribu Monster Bintang berevolusi. Dan ketiga pilar raksasa purba penyangga langit di tengah sana… itulah yang disebut sebagai Pohon Bintang,” terang Ken pada rombongannya.

​”Hah! J-jadi… pilar raksasa penyangga awan itu adalah sebatang Pohon Bintang?!” Suta tersentak kaget. Matanya terbuka lebar seakan otot matanya nyaris robek, menolak mempercayai ukuran flora gila tersebut.

​”Ya, tebakanmu tepat!” jawab Ken. “Energi dari Jantung akar, keajaiban daun, hingga buahnya adalah material alkemi level abadi yang dapat menyembuhkan penyakit dewa manapun. Dan buah bercahaya dari dahan pohon itulah yang menjadi sumber makanan utama bagi evolusi para Monster Bintang tingkat tinggi di sini,” terang Ken membedah ensiklopedia alam.

​Suta menelan ludah. “Luar biasa. Sesuai dengan catatan legenda sejarah masa lalu… Akhirnya, setelah mempertaruhkan nyawa dan melewati teror yang menakutkan, aku bisa mendapatkan pencapaian tak ternilai ini dan melihat wujud Pohon Bintang secara langsung! Terima kasih banyak, Tuan Ken.” Suta dengan tulus menundukkan badannya dalam-dalam ke arah Ken.

​Melihat gestur itu, Diyah dan yang lainnya pun ikut tersenyum dan membungkuk hormat sebagai tanda terima kasih kepada pemandu dewa mereka.

​”A-aa, kalian ini berlebihan sekali! Kusarankan kalian simpan dulu penghormatan itu. Bukankah tujuan utama kita berdarah-darah kemari memang untuk memanen di sini? Dan lagipula, kita masih harus turun berjalan mendekati akar Pohon Bintang yang berada tepat di tengah sana,” ucap Ken seraya menunjuk ke arah pohon terbesar di pusat lembah. “Karena hamparan Rumput Colo dengan kemurnian tertinggi hanya mekar di sekitar akar utama pohon itu. Ayo, jangan buang waktu, kita segera turun.”

​Ken mulai melangkah santai menuruni punggung bukit zamrud itu. Para gadis segera mengekor di belakangnya. Sementara Suta yang hendak melangkah, tiba-tiba mematung dan otaknya kembali mencerna kalimat Ken.

Tunggu dulu… Bukankah di bawah sana adalah tempat beristirahatnya PULUHAN RIBU Monster Bintang?! batin Suta berkeringat dingin mengingat radius maut tersebut.

​”Hah! T-tunggu dulu, Tuan Ken! Bukankah melintasi lembah itu sama saja dengan berjalan sukarela ke dalam mulut ribuan Monster Bintang buas?! A-apa kau sudah gila dan serius dengan rencana ini?!” Suta berlari kecil menyusul barisan dengan lutut yang kembali bergetar hebat.

​”Hahaha, ya, aku sangat serius! Tenang saja, bung,” Ken melirik ke belakang dan memberikan candaan sadis. “Bagi selera tinggi para monster di sini, buah manis dari dahan Pohon Bintang itu jauh lebih lezat dan juicy daripada daging kurusmu. Namun… jika kau ceroboh, tersandung, dan mengganggu tidur siang mereka, yah… paling-paling kau hanya akan dijadikan mainan bola lempar secara bergantian oleh para raksasa itu.” Ken menakut-nakuti Suta dengan senyum menyebalkan.

​”Hah! Ya Dewa… Tuan Ken, kumohon jangan memelintir mentalku seperti itu,” rintih Suta, kembali memeluk dirinya sendiri karena ketakutan yang merayap.

​Namun, ketakutan Suta tidak terbukti. Di sepanjang sisa perjalanan menuruni lembah, jalur yang mereka lalui membelah kelompok-kelompok besar Monster Bintang berbagai ras yang sedang tertidur lelap atau bersantai. Ajaibnya, walaupun para monster purba itu menyadari kehadiran rombongan manusia, mereka hanya melirik sekilas dengan mata malas, seolah rombongan Ken tak lebih dari semut lewat yang tak menarik minat predatorial mereka. Ken memimpin barisan dengan sangat percaya diri, menuntun mereka berjalan tenang melewati monster-monster raksasa tersebut tanpa insiden berdarah.

Monster Bintang ini… Mereka sama sekali tidak merasa terganggu dengan bau darah manusia, dan tidak menunjukkan postur terancam dengan kehadiran senjata kita, batin Julia keheranan, menyimpan pedangnya kembali ke sarung.

​”Kak Ken, ternyata mitos itu salah. Monster Bintang di area ini tidak terlalu berbahaya dan buas, ya,” ucap Diyah, mulai bisa mengatur napasnya lega menyadari kedamaian itu.

​”Ini bukan soal mitos yang salah, Diyah,” koreksi Ken. “Monster-Monster Bintang yang berhasil masuk ke zona suci ini jiwanya telah terjaga dan disucikan oleh pusaran energi murni Pohon Bintang. Karena terbebas dari paparan energi iblis, mereka memiliki kecerdasan untuk mengendalikan insting buas purba mereka. Berbeda jauh dengan kawanan rendahan yang kalian hadapi di perimeter luar tadi. Monster luar itu pikirannya telah diracuni oleh energi iblis dan polusi darah, sehingga bagi mereka, eksistensi kultivator yang lebih lemah adalah sumber makanan untuk meningkatkan evolusi.”

​Penjelasan logis itu membuat Diyah dan yang lain mengangguk paham, menyadari jurang perbedaan klasifikasi Monster Bintang.

​Setelah menembus lautan monster yang damai, mereka akhirnya menapakkan kaki di pelataran akar raksasa Pohon Bintang tengah.

​”Baiklah, kita sudah sampai. Di sela-sela hamparan akar raksasa di balik pohon ini, kalian akan menemukan ladang Rumput Colo yang bermekaran subur. Dirikanlah bivak untuk beristirahat sebentar, lalu kalian bisa memanen bunganya semampu kapasitas cincin ruang kalian. Sementara kalian memanen, aku akan masuk ke pinggiran hutan sebentar untuk berburu beberapa kelinci gemuk untuk menu makan malam kita,” ucap Ken, membagi tugas dan bersiap meninggalkan mereka sejenak.

​”A-apakah aku perlu ikut menemanimu berburu, Tuan?” tanya Suta gugup, menawarkan bantuan demi basa-basi seorang pria.

​”Tidak usah sok berani. Kau tetaplah meringkuk di sini dan gunakan logikamu untuk menjaga para gadis,” tolak Ken telak tanpa menjaga perasaan Suta.

Huft… Syukurlah Dewa mengabulkan doaku. Aku sama sekali tidak perlu menemaninya menyelinap ke tempat gelap itu. Hutan ini terlalu mendebarkan jantungku. Maafkan kepengecutanku, Tuan Ken. Semoga kau kembali dengan selamat membawa daging, batin Suta menghela napas kelegaan yang amat sangat.

​”Kak Ken! Apakah di sekitar akar ini benar-benar aman jika kau tinggal?” tanya Diyah, menatap sekeliling dengan cemas.

​”Sangat aman, tak ada monster buas yang berani membuat onar di radius suci ini. Tenanglah, Garu akan tetap siaga mengawasi perimeter kalian dari atas dahan,” ucap Ken, menunjuk siluet elang raksasanya di atas kanopi untuk menenangkan Diyah. “Nah, aku rasa itu sudah cukup. Aku harus segera pergi mencari makan malam.” Ken berdiri tegap setelah memantik pusaran api unggun kecil dengan sentilan jarinya.

​”Kak Ken! Berhati-hatilah di luar sana,” Diyah menatap punggung Ken, kilatan matanya memancarkan rasa khawatir yang tulus tak terbantahkan.

​”Iya, jangan khawatir. Aku ahli dalam bersembunyi. Tunggulah di perapian ini,” Ken menoleh dan memberikan senyum tipis. Ia melambaikan tangannya memberi isyarat. “Garu, turun dan jaga keselamatan nyawa mereka selama aku pergi,” perintah Ken menggunakan telepati pada monster tunggangannya.

​”Ingatlah pesanku, kalian hanya perlu memetik kelopak bunganya saja, biarkan akarnya tetap hidup untuk beregenerasi!” pesan Ken terakhir kali sebelum sosoknya berkelebat cepat dan perlahan melebur menjadi bayangan yang menjauh dari batas cahaya api unggun.

Berhati-hatilah, Pahlawanku… batin Diyah, tatapannya terus mengunci punggung Ken hingga pria itu benar-benar lenyap tertelan kegelapan hutan yang mulai turun.

​Diyah dan ketiga temannya pun duduk mengelilingi perapian untuk memulihkan stamina mereka, bersiap untuk terjun mengumpulkan panen langka Bunga Rumput Colo begitu tenaga mereka terisi penuh.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!