Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Hutan Monster Bintang
Pukul enam pagi.
Langit masih diselimuti rona kelabu kelam. Kabut tebal mengapung merangkul ibu kota Kerajaan Es, membatasi jarak pandang hingga menyisakan bayangan-bayangan buram. Di samping gerbang utama istana yang dingin, Andin berdiri merapatkan mantelnya, menanti kedatangan rekan-rekannya. Tak lama, derap langkah kuda memecah kesunyian. Sebuah kereta kerajaan yang dikawal ketat oleh tiga prajurit berkuda merapat ke arah gerbang. Pintu kereta terbuka, menampakkan Diyah dan Julia yang melangkah turun dan segera menghampiri Andin.
”Andin! Apakah kau sudah lama menunggu di sini?” sapa Julia dengan senyum hangat menembus kabut.
”Aku juga baru saja tiba, Julia,” jawab Andin, membalas senyuman Julia dan Diyah.
Mata Diyah menyapu sekeliling, mencari sosok yang paling ia tunggu. “Andin, apa kau melihat Kak Ken?” tanyanya dengan nada sedikit cemas.
”Sejak aku datang, selain prajurit penjaga yang duduk berselimut di sana itu, aku tidak melihat satu pun orang berlalu-lalang,” jawab Andin yakin seraya menunjuk ke arah sesosok prajurit penjaga yang tertunduk di kursi posnya.
”Hei! Hah… hah… Kukira kalian sudah meninggalkanku!”
Sebuah seruan panik memecah obrolan mereka. Suta datang berlari tergesa-gesa, napasnya tersengal-sengal membelah udara pagi yang membekukan.
Andin menoleh dan menatap Diyah dengan saksama. Ia menyadari ada rona yang berbeda di wajah sang putri hari ini. “Diyah, kau terlihat cerah dan berseri sekali pagi ini! Hayo, ada apa?” goda Andin seraya merangkul bahu Diyah dan berbisik pelan di telinganya.
Mendengar godaan itu, Diyah terdiam sejenak. “A-ahh! Benarkah terlihat begitu?” jawabnya salah tingkah. Rona merah muda tipis menjalar di pipinya, membuat Julia dan Andin saling melempar pandangan penuh selidik.
Tiba-tiba, prajurit penjaga yang tadi tertidur di posnya bangkit dan berjalan perlahan mendekati mereka.
”Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul lengkap. Sebaiknya kita segera berangkat,” ucap prajurit itu dengan suara berat yang sangat familier. Pria itu menyibakkan penutup kepalanya. Ternyata penjaga itu adalah Ken!
Ketiga gadis dan Suta tersentak kaget, sama sekali tak menyangka bahwa dewa perang itu sedang menyamar.
”Hah! Ternyata itu kau, Kak Ken!” seru Diyah yang pertama kali menguasai keterkejutannya. “Hahaha! Kak Ken, apa yang kau lakukan duduk menyamar di situ?” tanyanya geli.
”Yah, prajurit penjaga aslinya ketiduran, jadi aku berbaik hati meminjam kursinya sebentar,” jawab Ken santai. Wajahnya kemudian kembali serius. “Bersiaplah, kita harus menempuh perjalanan jauh.”
Tepat saat Ken menyelesaikan kalimatnya, hembusan angin badai tiba-tiba menyapu kabut di atas mereka. Seekor Monster Bintang raksasa menukik turun dari langit dan mendarat dengan dentuman keras tepat di luar gerbang. Rentangan sayapnya begitu lebar hingga nyaris menutupi seluruh celah cahaya di gerbang raksasa tersebut.
Menyadari aura predator buas yang memancar dari makhluk itu, Suta dan para gadis menjerit ketakutan. Suta langsung berlari terbirit-birit dan berlindung di balik roda kereta.
”Semuanya, berlindunglah!” teriak Suta panik.
Diyah, meski gemetar, memilih melangkah maju dan berlindung tepat di balik punggung lebar Ken.
”Tenanglah. Untuk menghemat waktu perjalanan, kita akan terbang menggunakan monster ini,” ucap Ken dengan tenang, melangkah tanpa gentar mendekati makhluk raksasa berwujud burung garuda tersebut.
Mendengar ucapan Ken yang penuh percaya diri, mereka semua perlahan keluar dari persembunyian dan mengekor di belakangnya dengan langkah ragu.
”Tuan Ken, bagaimana dengan para prajurit pengawal ini? Ayahanda Raja telah menitahkan mereka untuk mengawal kepergian kami,” ucap Julia, menunjuk tiga prajurit berkuda yang masih gemetar melihat monster itu.
”Membawa terlalu banyak orang rendahan ke dalam hutan hanya akan menambah beban dan risiko. Biarkan mereka kembali ke barak,” jawab Ken tegas tanpa kompromi.
”Kalian dengar itu? Kembalilah ke istana. Sampaikan pada Ayahanda Raja untuk tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan kami,” perintah Julia pada para pengawal.
”Sesuai perintah, Tuan Putri!” sahut salah seorang prajurit dengan nada kelegaan yang luar biasa. Syukurlah aku tak jadi ikut. Memasuki Hutan Monster Bintang sama saja dengan mengantar nyawa! batin prajurit itu, buru-buru memutar kudanya.
Monster burung raksasa itu ternyata telah dilengkapi pelana khusus yang dirancang menyerupai pelana kuda berkapasitas empat orang.
”Semuanya, naiklah ke punggungnya. Rileks saja, anggap ini sama seperti sedang menunggang kuda,” terang Ken mengarahkan.
Mereka pun memanjat naik dan duduk berurutan dari depan ke belakang: Diyah, Julia, Andin, dan Suta. Ken melompat ringan dan mendarat di posisi terdepan, duduk tepat di depan Diyah tanpa menggunakan pelana.
Menyadari sabuk pelana itu hanya muat untuk empat orang, Diyah bertanya dengan nada cemas. “Kak Ken, pelananya hanya tersedia untuk empat orang! Bagaimana dengan posisimu?” tanyanya lembut.
”Tenang saja, aku sudah terbiasa berselancar di udara. Tanpa sabuk pengaman pun aku tidak akan jatuh,” jawab Ken meyakinkan, duduk bersila dengan keseimbangan absolut.
”Hmmm, baiklah! Sejujurnya aku sangat takut, ini adalah pengalaman pertamaku terbang menembus awan,” terang Diyah, mencengkeram erat sisi pelananya.
Mendengar pengakuan itu, Andin ikut menyahut dengan suara bergetar. “Diyah, asal kau tahu, bukan hanya dirimu. Kami semua juga baru pertama kali terbang setinggi ini,” timpal Andin dengan wajah tegang.
”Pegang erat-erat, kita akan berangkat!” tegas Ken. Ia menepuk pelan leher monster itu. “Ayo kita belah langit, Garu!”
Merespons perintah tuannya, Garu mengepakkan sayap raksasanya. Hembusan badai tercipta di bawah mereka. Dalam hitungan detik, monster itu melesat vertikal, menembus lapisan kabut dan awan pagi dengan kecepatan luar biasa.
”Aaaaaaa!… Aaaaa!…”
Tepat di saat ketegangan memuncak, jeritan melengking yang sangat panjang dan memekakkan telinga meledak dari barisan paling belakang. Suta berteriak sejadi-jadinya, matanya terpejam erat.
Seluruh kepala menoleh ke belakang. Suta masih terus menjerit histeris.
Andin yang duduk tepat di depannya merasa telinganya mau pecah. “Dasar bodoh! Jika kau terus berteriak cengeng seperti itu, aku sendiri yang akan menendangmu jatuh ke bawah sana!” ancam Andin dengan urat leher menonjol.
”Ma-maafkan aku! Aku benar-benar fobia ketinggian! Ini pertama kalinya aku tidak berpijak pada tanah!” ucap Suta mengakui kelemahannya dengan wajah sepucat mayat.
Andin mendengus kesal. “Kami semua juga ketakutan, dasar bodoh! Tahan sedikit nyalimu!” omel Andin, memarahi pemuda itu.
Ken menoleh ke belakang, menatap keributan itu dengan sebelah alis terangkat heran. Menyadari tatapan Ken, Diyah merasa tak enak hati. “Hehehe… Kak Ken, tolong maklumi dan maafkan tingkah teman-temanku, ya,” ucap Diyah, merasa sedikit malu dengan kekacauan kecil timnya.
”Ya, tentu saja, Tuan Putri,” jawab Ken memaklumi. Suaranya kemudian meninggi, ditujukan pada Suta. “Teriakan adalah bentuk pelampiasan dari ketakutan. Namun ingatlah… seorang pendekar sejati harus mampu menelan dan mengendalikan rasa takutnya sendiri!”
Mendengar teguran berwibawa dari Sang Dewa Perang, mereka semua sontak terdiam, berusaha keras mengatur napas dan menenangkan diri, termasuk Suta yang kini hanya berani merintih dalam hati.
Perlahan, ketakutan mereka memudar, digantikan oleh decak kagum. Di atas awan, matahari pagi bersinar cerah tanpa terhalang kabut.
”Wah! Pemandangan dunia dari atas sini benar-benar menakjubkan,” ucap Diyah terpesona, melebarkan kedua tangannya merasakan hembusan angin kebebasan. “Apakah Kak Ken sering terbang menikmati awan seperti ini?”
”Sangat sering, Tuan Putri. Namun, sangat jarang aku bisa terbang dengan ritme santai untuk menikmati pemandangan seperti ini,” jawab Ken dengan nada datar.
”Benarkah? Mengapa begitu?” tanya Diyah penasaran.
”Karena biasanya, opsi terbang hanya kugunakan untuk berpindah secara kilat dari medan tempur satu ke medan tempur yang lain,” jelas Ken, menyimpan kisah perangnya.
”Wah! Jadi, Kak Ken juga bisa terbang sendiri tanpa bantuan monster?!” Diyah membelalakkan matanya. Mendengar hal itu, Julia, Andin, dan Suta pun ikut mencondongkan tubuh mereka ke depan, sangat penasaran dengan batas kekuatan Ken.
Menyadari ia terlalu banyak bicara, Ken segera mengelak halus. “A-aa, bukan begitu. Maksudku, ritme terbangku menggunakan Garu biasanya jauh lebih brutal dan mematikan daripada kecepatan jelajah yang sekarang,” kilahnya beralasan.
”Hmmm, begitukah…” jawab Diyah tak sepenuhnya percaya, tapi memilih tak mendesak. “Oh, iya! Apakah nama burung perkasa ini Garu?” Diyah mencondongkan tubuhnya ke depan menatap Ken.
”Benar, namanya Garu. Dia adalah Monster Bintang Langit jenis Garuda Tingkat 6,” terang Ken memperkenalkan tunggangannya.
”Wah, seekor Monster Bintang! Berarti dia ini sama istimewanya seperti Kirin milik Elisha, ya,” ucap Diyah mengangguk paham. Ia lalu menepuk pelan bulu leher monster itu. “Hai, Garu! Namaku Diyah, salam kenal ya!” serunya ramah.
Garu membalas dengan pekikan nyaring yang membelah awan, “KREEEET!”, seolah mengerti sapaan hangat dari gadis itu sembari terus mengepakkan sayapnya melayang di udara.
Setelah terbang melintasi daratan selama berjam-jam, mereka akhirnya mendekati perbatasan Hutan Monster Bintang. Dari atas awan, pemandangan luar biasa mulai terlihat. Tembok-tembok bebatuan purba yang tebal dan kokoh menjulang tinggi hingga puluhan meter, membentuk benteng barikade raksasa yang membentang tanpa ujung, memisahkan wilayah mematikan Hutan Monster dari peradaban manusia.
Melihat skala bangunan tersebut, semuanya terperangah. Itu adalah mahakarya yang menakjubkan sekaligus menakutkan.
”Kak Ken! Apakah benteng raksasa itu yang disebut sebagai pembatas Hutan Monster?” tanya Diyah penasaran, matanya tak berkedip menatap barikade tersebut.
”Ya, tepat sekali! Ketinggian tembok batu itu mencapai lima puluh meter. Di atasnya, masih dilapisi lagi oleh Pembatas Langit tak kasat mata yang menjulang menembus awan dan membelah lautan. Fungsinya mutlak: menghalangi Monster Bintang darat, terbang, maupun laut agar tidak bisa menyeberang dan memangsa manusia di peradaban,” jelas Ken mendeskripsikan sistem pertahanan kuno itu.
”Wah, luar biasa sekali! Ternyata sistem kerjanya semegah ini,” Diyah mengangguk-angguk takjub.
”Fenomena ini sama persis seperti teori yang diterangkan guru saat di Akademi dulu,” sahut Andin dengan bangga. “Aliran Energi Alam di dunia ini yang menciptakan pembatas mistis tersebut untuk menyeimbangkan ekosistem dan melindungi umat manusia dari agresi monster.”
”Ya, benar! Karena mitos itulah tidak sembarang orang berani melintasi pembatas ini dan masuk ke Hutan Monster. Bagi makhluk di dalam sana, kitalah mangsanya. Jadi, kita harus membuka semua panca indera kita setelah melewati garis ini,” tambah Julia mengingatkan rekan-rekannya dengan nada serius.
”Ya, kami mengerti!” ucap Andin dan Suta kompak.
Mendengar diskusi akademis itu, Ken hanya bisa tersenyum simpul dalam hati. Energi Alam? Apakah dongeng konyol seperti itu yang diajarkan oleh para tetua akademi saat ini? Atau memang sejarah benua ini sengaja dibelokkan sedemikian rupa? Apa orang-orang di zaman ini benar-benar kehilangan jejak sejarah bahwa Pembatas Langit itu dibangun secara manual oleh sekelompok eksistensi setingkat Dewa ratusan tahun yang lalu? Mereka menanamkan ‘Menara Bintang’ di titik-titik krusial benua hingga dasar laut laut demi merangkai formasi segel pelindung abadi yang menyedot pasokan mana dari Inti Bumi. Batin Ken mencibir hilangnya sejarah asli dunia kultivasi di mata generasi muda.
Saat mereka melesat semakin dekat ke arah kubah tak kasat mata, Andin mendadak panik. “Tuan Ken, bagaimana ini?! Kita melesat lurus! Apakah kita tidak akan menabrak hancur pembatas itu?!” teriaknya memperingatkan Ken.
”Haaa!… Kak Ken, bagaimana ini?! Awas di depan!” rengek Diyah ikut panik, memejamkan matanya.
Namun Ken tetap duduk santai dengan postur tegap, sama sekali tak menarik kendali Garu. “Tenangkan dirimu, Tuan Putri. Pembatas itu tidak akan menghancurkan kita,” jawab Ken sedatar air.
WUSH!
Tubuh Garu beserta seluruh penumpangnya menembus riak energi pembatas itu layaknya menembus tirai air yang sejuk. Mereka melewatinya tanpa lecet sedikit pun. Semua orang serempak mengembuskan napas lega yang tertahan.
Diyah membuka matanya, bingung dengan apa yang baru saja terjadi. “Kenapa bisa begitu lancar, Kak Ken? Apakah sihir pembatasnya sedang rusak atau tidak berfungsi?” tanya Diyah keheranan.
Ken melirik ke belakang dan kembali memberikan pencerahan atas kepolosan mereka. “Tentu saja pembatas itu berfungsi sempurna. Hanya saja, ukiran formasinya memang diciptakan sebagai hukum jalan satu arah. Ia hanya memblokir entitas Monster Bintang yang berusaha keluar menuju pemukiman manusia. Namun, ia sama sekali tidak akan menghalangi makhluk hidup manapun yang berniat masuk mengantar nyawa ke dalam,” jelas Ken lugas. “Hahaha, apakah detail krusial semacam ini tidak diajarkan di Akademi bergengsi kalian?” tambahnya dengan nada mengejek.
”Oh… sistem kerjanya seperti itu rupanya. Kami benar-benar baru tahu soal ini, Kak Ken,” jawab Diyah dengan senyum canggung, merasa tertampar oleh fakta tersebut.
Melihat interaksi tersebut, mata Andin memicing. Hah! Apa-apaan interaksi manis mereka ini?! ‘Kak Ken!’, ‘Tuan Putri!’, ‘Kak Ken!’, ‘Tuan Putri!’… Gelagat mereka berdua saling melempar senyum sudah persis seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Atau jangan-jangan… mereka diam-diam memang sudah meresmikan hubungan?! batin Andin, gemas sekaligus kesal menilai interaksi intim Ken dan Diyah.
Andin memajukan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Diyah. “Diyah… jujur padaku. Apakah kau sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar dariku? Hubunganmu dengan Tuan Ken itu… hmmm, ada sesuatu di antara kalian, kan?” bisik Andin dengan nada menggoda yang mematikan.
Menyadari ke mana arah pembicaraan Andin, wajah Diyah sontak memerah padam bagai kepiting rebus. “A-ahh! Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan, Andin? Diamlah, jangan bicara sembarangan!” kilah Diyah, matanya melotot memperingatkan sahabatnya.
”Hmmm!…” Andin menyeringai jahil, mengedipkan sebelah matanya. “Baiklah, baiklah! Tapi aku menuntutmu untuk menceritakan detail lengkapnya padaku malam ini,” bisik Andin seraya kembali bersandar di pelananya dengan senyum kemenangan.
Diyah hanya bisa menggigit bibir, menahan senyum malunya seraya mencuri pandang ke arah punggung tegap Ken di depannya.
Tiba-tiba, suara Ken memecah suasana romantis itu. “Berpeganganlah yang erat! Aku akan meledakkan kecepatan terbang Garu agar kita bisa segera menembus batas Inti Hutan Monster!”
Dalam sekejap, kecepatan jelajah Garu melonjak tiga kali lipat. Suara angin menderu kencang di telinga mereka. Di bawah sana, daratan hutan lebat menyembunyikan teror yang tak terbayangkan. Raungan buas dan pekikan aura membunuh dari berbagai Monster Bintang menggema bersahutan, menciptakan simfoni kematian yang membuat bulu kuduk mereka meremang.
”Tuan Ken… Apakah kita akan benar-benar masuk menembus pusat terdalam Hutan Monster ini?” tanya Andin dengan suara bergetar, memecah keheningan di atas awan.
”Ya, tepat sekali. Rumput Colo adalah pusaka botani yang hanya sudi tumbuh di area Inti Hutan Monster yang memiliki paparan mana paling murni. Jadi, di sanalah tujuan akhir perjalanan ini,” terang Ken fokus mengarahkan jalur terbang.
Mendengar nama bahan obat itu, Julia mengernyitkan dahi. “Rumput Colo?! Apakah itu salah satu komponen krusial pembuat obat untuk adikku?” tanya Julia dengan raut wajah serius.
”Benar. Formula absolut dari ‘Cairan Energi Surgawi’ membutuhkan lima puluh helai mahkota bunga dari tiap-tiap spektrum warna Rumput Colo. Ratusan bunga itu kemudian harus dilebur perlahan di dalam kuali bersama setetes ‘Air Mata Api’. Untuk menyeimbangkan efek korosifnya dan menyempurnakannya menjadi intisari kehidupan murni, proses alkemi itu akan membakar waktu satu hari satu malam tanpa henti,” papar Ken. Tiba-tiba ia berdiri di atas punggung Garu, matanya menajam memindai awan gelap di depan mereka.
Hah! Persyaratannya begitu rumit dan bahannya berada di sarang kematian. Wajar saja jika Cairan Energi itu menjadi harta karun langka yang nilainya tak bisa ditukar dengan nyawa. Mendapatkan bahannya tidak semudah memetik apel di halaman… Dan pria ini, dengan entengnya, telah menyedekahkan delapan botol cairan mustika itu untuk adikku tempo hari… batin Julia, hatinya bergetar menyadari betapa tak terhingganya utang budi Kerajaan Es pada Ken.
Tiba-tiba, awan kelabu di depan mereka tersibak. Pekikan melengking memecah gendang telinga. Beberapa ekor Monster Bintang bersayap bergerombol dan melesat buas menyongsong jalur terbang mereka. Kehadiran predator udara itu seketika membuat empat anak muda di pelana memucat pasi.
Sial, kawanan predator udara. Mulai dari titik ini, penjelajahan akan jauh lebih efisien jika dilakukan melalui jalur darat. Jika aku memaksa bertarung di udara dengan menyeret keempat beban ini di pelana, pergerakanku akan sangat dibatasi, batin Ken, otaknya dengan cepat menyusun kalkulasi tempur.
Ken menoleh ke arah rombongannya. “Kalian siap bertarung melawan Monster Bintang?” tanyanya memastikan mental mereka. “Segera keluarkan senjata kalian. Bersiaplah untuk benturan!” lanjutnya memerintah.
Mendengar instruksi itu, mereka berempat saling melempar pandang dalam kepanikan. “Apa yang harus kita lakukan, Diyah?! Julia?!” teriak Andin di tengah deru angin.
Kawanan monster elang iblis itu mengitari mereka, mata merahnya mengunci mangsa segar yang siap disantap.
”Kami tidak pernah melakukan pertarungan manuver di udara sebelumnya, Kak Ken!” teriak Diyah, tangannya gemetar meraih senjatanya.
”Garu akan menurunkan kalian dengan manuver darurat! Kawanan ini adalah Monster Bintang ras Iblis Angkasa. Mereka tidak akan pernah berhenti mengejar sampai berhasil merobek daging kita,” jelas Ken dengan kilatan aura membunuh.
Salah satu monster elang raksasa menukik tajam ke arah mereka. Ken tak tinggal diam. Dengan hentakan kaki yang memecah udara, ia melesat naik, menahan cakar baja monster itu dengan tangan kosong, lalu melompat memanjat punggung sang monster untuk bertarung jarak dekat.
”Garu! Bawa mereka menukik turun sekarang juga!” perintah Ken di sela pertarungannya merobek sayap monster tersebut.
”Kak Ken!… Awas!” teriak Diyah histeris, jantungnya serasa copot melihat Ken bertarung di udara terbuka.
Mematuhi titah tuannya, Garu melipat sayapnya dan menukik tajam ke arah daratan. Salah satu Monster Elang melepaskan diri dari pertarungan Ken dan memburu Garu. Namun, sebelum paruh monster itu menyentuh ekor Garu, sebuah Rantai Bintang perak berkilat membelah udara, mengikat leher monster buas itu dengan cengkeraman maut yang menahannya di udara.
”Makhluk apa itu?! Apakah itu Monster Elang Gaffae?! Monster Bintang di Tingkat Langit?!” teriak Julia, matanya mengenali spesies mengerikan tersebut.
”Ya… Analisismu benar! Berdasarkan literatur, semakin kita nekat masuk ke Inti Hutan, kualitas dan level Monster Bintang yang menghuni wilayah ini juga akan melonjak sangat ekstrem!” jawab Andin, berteriak mengatasi angin.
Kak Ken… Kumohon bertarunglah dengan hati-hati. Bagaimana nasibmu di atas sana?! batin Diyah cemas, pandangannya terus terkunci ke langit yang dipenuhi kilatan energi pertarungan.
Setibanya di daratan berumput tebal, Garu merendahkan tubuhnya, membiarkan keempat penumpangnya melompat turun dengan selamat. Setelah itu, tanpa membuang waktu satu detik pun, sayap badai Garu mengepak keras dan melesat kembali ke angkasa untuk membantu tuannya.
”Tolong selamatkan Kak Ken, Garu!” teriak Diyah pada burung raksasa yang dengan cepat menghilang kembali di balik awan kelabu.
”Diyah, apakah Tuan Ken akan baik-baik saja menghadapi kawanan iblis itu sendirian?” tanya Julia, mengkhawatirkan keselamatan dewa pelindung mereka.
”Ya, kita hanya bisa berdoa dan berharap mereka bisa memusnahkan monster itu dan turun dengan selamat,” jawab Diyah dengan tangan tertaut, terus menatap langit penuh harap.
”Lalu bagaimana nasib kita di bawah sini? Apa yang harus kita lakukan sekarang?!” tanya Andin panik, menyadari mereka kini berada di wilayah mematikan. “Suta! Kau kan pria, cepat pikirkan jalan keluarnya!” desaknya, berharap pada kecerdasan Suta.
”Y-ya, beri aku waktu sebentar… Aku harus memulihkan pusaran auraku dulu, perutku terasa diaduk-aduk…” Suta berjalan terhuyung-huyung ke arah akar pohon besar sembari memegangi perutnya.
Huek! Suara muntahan yang sangat keras dan menjijikkan bergema di tengah hutan, meruntuhkan sisa wibawanya.
Mendengar itu, wajah para gadis berubah masam. “Sutaaa!… Kau itu benar-benar tak berguna! Kau membuat kami semua ikut merasa mual, dasar bodohhh!…” keluh Andin seraya memalingkan wajah, merasa jijik.
”Ma-maafkan aku!… Organ pencernaanku benar-benar tidak diciptakan untuk menerima guncangan terbang,” ucap Suta mengusap bibirnya dengan penuh penyesalan.
Di tengah pertikaian kecil itu, suara raungan buas yang menggema rendah dari semak belukar memukul mundur fokus mereka.
”Semuanya, rapatkan formasi!” perintah Diyah seketika, mengarahkan posisi. “Hunus senjata kalian sekarang!” lanjutnya, segera mengeluarkan pendaran energi dari cincin spasialnya.
Serempak, keempat pemuda itu memanggil senjata spiritual mereka. Andin dan Julia menghunus pedang kristal bercahaya biru, sementara Diyah memutar gagang panjang dan memanggil tombak peraknya yang memancarkan aura dominan.
Sambil melangkah perlahan membentuk posisi melingkar, mereka terus mengawasi semak-semak yang bergerak.
”Wah! Diyah, aura senjatamu luar biasa! Tombak macam apa itu? Sejak kapan kau memiliki artefak sehebat ini?!” seru Andin takjub, menyadari pendaran murni dari senjata milik Diyah.
”Ihhh! Andin, jaga volume suaramu! Kukira tadi ada monster yang menyerang dari titik buta. Kau hampir membuat jantungku copot!” Diyah terkejut dan memegang dadanya dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain mencengkeram erat tombaknya. Hehe, batinnya nyengir canggung.
Julia yang peka terhadap energi pusaka pun ikut menyadarinya. “Wah! Ini bukan senjata fana biasa… Ini adalah Senjata Bintang! Hah! Dan auranya memancarkan kemurnian Level 1!” Julia terperangah tak percaya. Dari balai lelang mana Diyah bisa mendapatkan harta karun setingkat dewa ini? batin Julia penasaran.
”Hmmm… Iya, kalian benar. Tombak ini adalah senjata baru yang diberikan oleh Kak Ken padaku semalam! Hehehe,” ucap Diyah dengan senyum bangga yang merekah.
”Ya Ampun! Benarkah?! Kak Ken-mu ini benar-benar tidak masuk akal royalnya! Asal kau tahu, Diyah, Senjata Bintang sekelas ini di pasar gelap bernilai triliunan keping emas, dan kelangkaannya tak bisa dibeli dengan status kerajaan!” terang Andin dengan mulut menganga.
”Analisis Andin sepenuhnya benar,” tambah Julia dengan wajah takjub. “Setahuku di daratan es ini, hanya kelima Raja Agung dan beberapa komandan inti Kerajaan Api yang memonopoli Senjata Bintang dari era kuno. Selebihnya, para bangsawan paling tinggi hanya sanggup memegang Senjata Bintang Level 2, itu pun sudah dianggap pusaka warisan sekte yang amat langka.”
”Ya, aku menyadari betapa mistis dan berharganya tombak ini. Jadi, saat Kak Ken menurunkannya padaku, hatiku benar-benar melonjak bahagia, hehehe,” terang Diyah, meremas gagang tombaknya dengan penuh rasa syukur.
”Baiklah, simpan euforianya. Sebaiknya kita terus bergerak menyusuri perimeter ini. Tuan Ken dengan mata elangnya pasti akan segera melacak posisi pendaratan kita,” ajak Andin, memimpin barisan untuk terus waspada berjalan.
Nun jauh di atas awan, setelah mengeksekusi sisa monster burung.
”Kumpulkan seluruh Inti Mutiara Monster ini ke dalam cincinku sebanyak yang kalian bisa,” perintah Ken dengan telepati pada dua sosok bayangan berjubah hitam yang mendadak muncul membantunya di udara. Tanpa bersuara, bayangan itu melaksanakan tugasnya.
Huft, membawa beban empat bocah akademi itu ke medan yang sesungguhnya benar-benar menguji batas kesabaranku. Tanggung jawabku jadi berlipat ganda karena harus terus menempatkan radar pada mereka, batin Ken, meluncur turun dari awan, membiarkan tubuhnya jatuh bebas menyusul lokasi rombongannya.
Setelah berjalan dengan formasi rapat selama beberapa menit, insting membunuh menyergap mereka. Dari kegelapan semak belukar raksasa, seekor Monster Bintang Bumi jenis Harimau Iblis melompat menerkam, taring dan cakarnya terarah lurus untuk mengoyak tubuh Andin.
Menyadari bahaya maut, Diyah merespons secepat kilat. Ia melesat memotong laju terkam sang monster, menangkis cakar sekuat baja itu dengan gagang tombaknya. CLANK! Percikan api memantul.
”Kau tidak terluka, Andin?!” Diyah menahan bobot ratusan kilo dari sang monster, urat di tangannya menegang. “Semuanya, rapatkan formasi serang!” teriak Diyah, berhasil mementalkan harimau buas tersebut.
Di dahan pohon tertinggi yang rimbun, tak jauh dari sana.
Kebetulan sekali monster darat rendahan ini memunculkan dirinya. Aku ingin menguji dan mengukur sejauh mana batas nyali dan kerja sama tim para bangsawan ini! batin Ken, diam-diam melipat tangannya dan mengamati pertempuran mereka dari titik buta.
Keempat pemuda itu segera memusatkan Qi mereka, bersiap mengeksekusi serangan kombinasi menggunakan pusaka masing-masing.
”Jika dilihat dari pola belang dan tekanan auranya, ini adalah Monster Bintang Bumi Tingkat 3! Diperkirakan usianya menyentuh empat puluh ribu tahun,” Julia menganalisis targetnya seraya mengayunkan pedangnya yang memancarkan pendaran es. “Kekuatannya ada di batas yang bisa kita tangani. Eksekusi bersama-sama, dan kita akan meraup mustikanya!” terang Julia, memompa semangat tempur rekan-rekannya.
Secara serempak, keempatnya meledakkan energi elemen es mereka dan menyerbu sang Harimau Iblis.
”Cakar Es!” Suta melesatkan lima sayatan bilah beku berbentuk cakar dari udara, merobek kulit monster tersebut. Disusul oleh tarian pedang Julia yang menghujani monster itu dengan tebasan mendinginkan.
”Membekulah ke tulang! Napas Es!” Diyah memutar tombaknya, melepaskan gelombang udara nol derajat absolut yang langsung mengkristalkan kaki dan separuh tubuh monster itu hingga kaku tak berdaya.
Melihat celah pertahanan monster yang terbuka, Andin segera mengeksekusi elemen pertahanannya menjadi senjata mematikan. “Benteng Es! Runtuhlah!” Andin menciptakan bongkahan balok es raksasa di udara dan menjatuhkannya dengan gaya gravitasi brutal tepat menimpa punggung monster itu. BAM! Tulang sang monster patah berderak.
Tak membuang kesempatan, Diyah mengambil posisi lempar. Ia mengalirkan seluruh cadangan Qi-nya ke bilah tombak peraknya. “Sage Spear!”
Tombak itu melesat bagai kilatan petir membelah ruang. Tembakan energi itu menghantam sang monster secara presisi, tak hanya merobek pertahanan terakhirnya, tapi melesat menembus dada dan meremukkan jantung monster iblis itu dalam satu serangan mutlak.
Dengan kerja sama tim yang nyaris tanpa cacat, mereka sukses menumbangkan monster mematikan itu. Harimau Iblis itu ambruk tak bernyawa, tubuhnya perlahan melebur menjadi abu spiritual.
”Yey! Kita berhasil mengeksekusinya!” sorak Julia sambil menyarungkan pedangnya. “Daya hancur dari tombak barumu itu sungguh tidak masuk akal, Diyah! Serangan tadi bahkan masih melesat meninggalkan lubang menganga di pohon besar itu setelah menembus baja tubuh monster,” puji Julia, matanya berbinar melihat sisa lintasan destruktif dari senjata Diyah.
”A-aa, itu… Sebenarnya, aku sendiri masih belum mahir mengendalikan keluaran aliran energinya dengan presisi, Hehehe,” terang Diyah, tersipu malu seraya menarik napas terengah usai mengerahkan serangannya.
Namun, perayaan kecil mereka tak bertahan lebih dari sepuluh detik. Suara raungan ganda yang jauh lebih memekakkan telinga menggetarkan dedaunan di sekitar mereka. Dua sosok monster dengan wujud serupa harimau muncul dari kegelapan hutan.
Pancaran aura mereka membawa keputusasaan mutlak. Satu ekor memiliki aura setara dengan monster yang baru saja mereka bantah. Namun, sosok yang satu lagi adalah entitas dari mimpi buruk—Seekor Monster Bintang Langit Tingkat 5 dengan usia kultivasi menyentuh tujuh puluh ribu tahun!
”Sial… Sepertinya mereka adalah pemimpin kawanannya. Mereka tidak akan pernah melepaskan kita hidup-hidup sebagai bayaran karena membunuh koloninya!” Julia memberikan peringatan keras, wajahnya pucat pasi. Ia kembali menghunus pedangnya dan memasang kuda-kuda bertahan. “Bagaimana kapasitas energi kalian?! Masih sanggup bertarung?” Julia memastikan kesiapan rekan-rekannya, bersiap menyongsong kematian.
”Esensi Qi kami masih cukup untuk satu pertarungan lagi, tapi… entitas Monster Bintang Langit itu benar-benar ancaman yang melampaui dimensi kita,” jelas Suta, keringat dingin membasahi wajahnya.
”Ya, peluang kita sangat tipis!” sambung Andin, mengepalkan tangannya dengan putus asa.
Kedua monster itu tak memberi waktu untuk berpikir. Mereka menerjang buas, memaksa keempat pemuda itu melayani pertarungan hidup dan mati. Suta dan Andin dikerahkan untuk memblokir laju Monster Tingkat 5, sementara Julia dan Diyah memfokuskan tarian pedang mereka untuk melumpuhkan monster Tingkat 3.
Perbedaan level kultivasi terlalu curam. Mereka babak belur, terpaksa menggunakan strategi tarik-ulur dan pertahanan absolut hanya untuk mempertahankan nyawa, sesekali melepaskan goresan pedang yang tak berarti.
Dari atas pepohonan, mata dewa Ken mengunci setiap pergerakan. Menyadari bahwa cadangan energi keempat remaja itu telah menyentuh batas merah, Ken tak lagi membuang waktu. Ia melesat turun mendekati arena pertempuran, namun alih-alih menghabisi monster itu dengan tangannya sendiri, ia memilih untuk menjadi komandan perang.
”Julia! Suta! Lanjutkan rotasi serangan beruntun kalian! Jangan biarkan ia mengambil napas! Andin! Mundur dua langkah ke sayap kiri, ubah elemenmu menjadi pendukung untuk mem-backup pertahanan mereka! Tuan Putri, ambil jarak dua meter ke belakang, pusatkan seluruh sisa energi auramu ke bilah tombak, bersiap untuk tembakan maksimal, dan jangan lepaskan sampai kau mendengar aba-aba mutlak dariku!” Suara Ken yang berat dan mengintimidasi mendadak membelah kekacauan pertempuran, memberikan arahan taktis yang absolut.
Mendengar suara Sang Pahlawan, keputusasaan mereka menguap. Mereka segera mereformasi posisi tempur sesuai instruksi jenius dari Ken. Dalam sekejap, gelombang serangan mereka menjadi lebih terstruktur, memaksa kedua monster itu berhenti menekan dan mulai terdesak mundur.
Syukurlah, Kak Ken akhirnya kembali menyelamatkan kami… Aku tak akan mengecewakannya! batin Diyah, memejamkan mata dan mengumpulkan seluruh butiran Qi terakhirnya ke dalam tombak yang mulai bergetar karena kelebihan energi.
”Desak dan giring mereka berdua hingga berada dalam satu garis lurus yang sejajar! Setelah itu, kunci pergerakan mereka dengan penjara es abadi!” Ken kembali melepaskan perintah taktisnya.
Bagaikan pasukan yang telah berlatih bertahun-tahun, keempat pemuda itu mengeksekusi instruksi tersebut. Kedua monster buas itu terjebak dalam satu posisi sejajar yang ideal.
”Sekarang! Tembak!” teriak Ken memberi komando pamungkas.
”Napas Es!” Diyah merapal badai salju nol derajatnya.
“Laser Es!” Suta menembakkan pancaran beam pembeku.
“Benteng Es!” Andin menjatuhkan kurungan es raksasa dari langit.
Tiga serangan penyegel itu menghantam telak secara bersamaan, sukses membekukan kedua monster buas itu menjadi dua patung es raksasa di tengah hutan.
”Sekarang, Sage Spear!” jerit Diyah melepaskan serangan pamungkasnya dengan sisa tenaga penghabisan.
Tombak perak itu melesat membelah angin, menghantam dan meremukkan es yang menyelimuti monster Tingkat 3 hingga hancur berkeping-keping. Monster itu mati seketika. Namun, daya hancur dari serangan tersebut telah terkuras habis dan tak sanggup lagi menembus tebalnya zirah aura dari monster Tingkat 5 yang mulai meronta menghancurkan penjara esnya.
Menyadari batas kekuatan Diyah telah tercapai, Ken tak tinggal diam. Dengan gerakan secepat teleportasi, ia melesat mendahului tombak Diyah yang memantul, menangkap gagang tombak itu di udara, dan memusatkan pusaran kekuatan Giant Gold miliknya ke dalam bilah senjata tersebut.
”Tombak Pengebor Sage (Sage Drill Spear)!”
Dalam putaran yang mengerikan, Ken menukik dari langit dan menghujamkan tombak itu layaknya meteor berbalut bor energi yang menembus dimensi. ZRAAAASH! Tombak itu melesat merobek punggung keras monster Tingkat 5, menembus tubuhnya, dan menghujam tanah dengan daya ledak yang absolut. Monster Bintang Langit yang menakutkan itu lumpuh seketika, nyawanya tercabut sebelum ia sempat mengeluarkan lolongan terakhir.
Efek gelombang kejut dari serangan Ken begitu brutal hingga meratakan tanah, menghancurkan pepohonan, dan menciptakan kawah kawah berasap di titik benturannya.
Inikah wujud kekuatan sebenarnya dari Senjata Bintang Level 1 saat berada di tangan dewa perang?! batin Julia, lututnya bergetar melihat kawah kehancuran dari sisa serangan itu.
”Baiklah!… Kerja sama tim yang sangat cemerlang,” puji Ken seraya berdiri santai di atas bangkai monster raksasa itu, tangannya memutar ringan tombak milik Diyah.
”Huft… Syukurlah mimpi buruk ini berakhir. Kita berhasil membunuh mereka!” Andin menjatuhkan diri berlutut di tanah, napasnya terengah-engah kehabisan tenaga.
”Ambillah ini!” Ken menjentikkan tiga butir Pil Pancasona yang melayang tepat ke tangan Andin, Julia, dan Suta. Ia lalu melangkah santai melintasi medan tempur mendekati Diyah. “Tuan Putri, simpan pusakamu kembali dan telanlah pil ini,” ucap Ken, mengembalikan tombak perak itu beserta sebutir pil murni ke telapak tangan Diyah.
”Terima kasih banyak! Untunglah Kak Ken tiba tepat pada waktunya. Kalau tidak, mungkin tulang-tulang kami sudah menjadi pajangan di dalam perut harimau iblis itu,” ucap Diyah dengan senyum penuh kelegaan, segera menelan Pil Pancasona itu untuk merasakan energi kehidupannya kembali pulih dengan cepat.



