Bab 17

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

Selamatkan Adikku

​Angin sore berembus sejuk di pelataran taman pribadi istana, menggugurkan beberapa helai daun mapel keemasan. Diyah tengah memusatkan seluruh perhatiannya, mengayunkan sebuah tombak kayu dengan gerakan yang luwes namun mematikan. Keringat tipis menghiasi pelipisnya. Ia berlatih begitu serius hingga tak menyadari kehadiran Ken yang sejak tadi berdiri bersandar di balik pilar batu, diam-diam mengagumi keindahan tarian bela dirinya.

​”Ehem… Bolehkah aku menawarkan diri untuk menjadi lawan tandingmu?” sapa Ken memecah keheningan, suaranya tenang namun menghentikan gerakan tombak Diyah seketika.

​Diyah tersentak kaget. Begitu menyadari siapa yang datang, senyum cerah langsung merekah di wajah cantiknya. “Hah! Kak Ken? Bagaimana caramu bisa menemukanku di sini?” tanyanya seraya menurunkan tombaknya dan melangkah mendekat.

​”Yah… aku hanya sedang berjalan-jalan mengitari istana, lalu kebetulan melihatmu berlatih di sini,” jawab Ken, mencoba mencari alasan yang terdengar kasual.

​Diyah menyipitkan matanya dengan senyum penuh arti. “Emmm, Kak Ken… taman ini adalah area paviliun eksklusif milikku. Area ini dijaga ketat, dan tak ada satu pun pelayan pria atau penjaga yang diizinkan masuk, kecuali pelayan wanita pribadiku,” bongkar Diyah, jelas mengetahui bahwa Ken sedang berbohong untuk menutupi cara penyusupannya.

Hah! Benarkah? Astaga, pantas saja penjagaannya tadi sangat ketat. Ternyata ini area terlarang bagi pria! batin Ken, baru menyadari kecerobohannya. “A-aa… benarkah begitu? Jadi, apakah aku melanggar hukum dan tidak boleh berada di sini?” tanya Ken sedikit canggung.

​Diyah tertawa pelan mendengarnya. “Karena Kak Ken sudah telanjur berada di sini… yah, kuanggap itu pengecualian khusus untukmu,” ucapnya dengan nada menggoda. “Eh, tapi Kak Ken belum menjawab pertanyaanku yang sebenarnya. Tolong jujur, bagaimana caramu bisa menemukan tempat persembunyianku ini?” lanjutnya tak mau kalah.

​Ken menghela napas pasrah, akhirnya menyerah. “Baiklah, kuakui. Aku memiliki kemampuan Persepsi Spiritual yang memungkinkanku memindai dan mengetahui posisi tepat seseorang dalam radius satu kilometer dari titikku berdiri,” jelas Ken membongkar salah satu kemampuan sensoriknya.

​”Wah! Benarkah? Pantas saja,” gumam Diyah takjub. Ia kemudian merentangkan tangannya, memamerkan area taman tersebut. “Selain berlatih di arena utama, ini adalah tempat favoritku untuk bermeditasi dan melatih jurus. Dan bangunan di sana itu kamarku. Dulu… tempat ini adalah kediaman pribadiku bersama mendiang Ayah dan Ibuku. Bagaimana menurutmu, Kak Ken?” terang Diyah, suaranya melembut saat menyebutkan memori masa lalunya.

​Mata Ken menyapu taman yang tertata rapi dengan bunga-bunga es abadi itu. “Ini adalah tempat yang sangat indah. Energi spiritual di sini mengalir tenang, suasananya terasa sangat mendamaikan,” komentar Ken jujur.

​”Ya, benar. Makanya aku sangat suka menghabiskan waktuku di sini. Selain tenang, aku tidak suka diperhatikan oleh terlalu banyak mata saat sedang berlatih,” jelas Diyah sambil tertawa kecil. “Oh, iya! Bagaimana dengan hidangan yang kukirimkan tadi pagi? Apakah Kak Ken menghabiskannya?”

​”Tentu saja. Piringnya bersih tanpa sisa. Terima kasih banyak, masakannya benar-benar luar biasa lezat,” jawab Ken dengan senyum tulus.

​”Tadi pagi aku sebenarnya menunggu di depan kamarmu cukup lama. Namun, Kak Ken tak kunjung keluar. Karena aku ada jadwal latihan formasi bersama tim untuk turnamen nanti, aku terpaksa pergi lebih dulu,” jelas Diyah, sedikit memajukan bibir bawahnya menyiratkan kekesalan yang menggemaskan.

​”A-aa, astaga… benarkah? Maafkan aku, aku sedang menyerap energi dan tidak menyadarinya,” jawab Ken, merasa tak enak hati.

​”Hmmm, baiklah. Kumaafkan,” jawab Diyah, senyumnya kembali mengembang.

​”Oh, ya! Aku punya sesuatu untukmu.” Ken memutar Cincin Bintang di jarinya. Sebuah kilatan cahaya perak berpendar, dan sebilah tombak dengan gagang sehitam obsidian serta ujung bilah yang memancarkan aura sedingin es muncul di genggaman Ken. “Tuan Putri, terimalah ini.”

​Mata Diyah membelalak lebar. Tangannya perlahan terulur, seakan takut benda indah itu hanyalah ilusi. “Hah! I-ini… untukku?” ucapnya dengan napas tertahan. Begitu jemarinya menyentuh gagang tombak tersebut, ia bisa merasakan aliran energi yang murni. “Ini… Bukankah ini Senjata Bintang Level 1, Kak Ken?” tanyanya, memastikan harta berharga di tangannya.

​”Tepat sekali. Itu adalah Senjata Bintang Level 1 berelemen es. Dari pengamatanku, karakteristik senjata ini sangat cocok beresonansi dengan teknik tombak yang kau pelajari,” terang Ken. “Namun sebelum kau mengayunkannya, buatlah Segel Pengikat terlebih dahulu agar roh senjata ini mengenalimu sebagai satu-satunya pemilik mutlak.”

​Diyah yang terlalu terpesona mengamati ukiran rune pada bilah tombak itu mendadak tersadar. “Emmm… Kak Ken, sejujurnya… aku belum pernah diajari bagaimana cara membuat Segel Pengikat jiwa pada senjata,” ucapnya diiringi tawa renyah, merutuki kekurangannya sendiri.

​Ken tersenyum memaklumi. “Baiklah, aku akan menuntunmu melakukannya.” Ia mengarahkan Diyah untuk duduk bersila di atas rumput dan meletakkan tombak pusaka itu tepat di pangkuannya. “Tutup matamu. Pusatkan esensi spiritualmu ke ujung jari.”

​Di bawah panduan energi Ken, Diyah merapal mantra spiritual dan meneteskan darahnya pada bilah tombak. Seketika, cahaya perak meledak lembut, menyelimuti tubuh Diyah dan tombak tersebut dalam satu ikatan jiwa. Begitu proses penyatuan itu selesai, Diyah bisa merasakan lonjakan energi murni mengalir deras di meridiannya.

​”Kak Ken… ini luar biasa. Aku merasa energi mentalku dan kekuatan fisikku tiba-tiba meningkat tajam!” jelas Diyah, matanya berbinar menatap tangannya sendiri.

​”Itu adalah reaksi yang sangat wajar,” terang Ken, layaknya seorang guru besar yang sedang memberi kuliah. “Senjata Bintang tidak seperti benda mati; ia hidup. Selain memberikan bonus kekuatan pada pemiliknya, Segel Pengikat membuat senjata ini mampu beradaptasi dengan kapasitas penggunanya. Kelak, saat kultivasi Tuan Putri menembus tingkat yang lebih tinggi, batas kekuatan senjata ini pun akan ikut berevolusi menyesuaikan diri.”

​”Hmmm… Lalu apa sebenarnya perbedaan mendasar antara Senjata Bintang dan senjata baja pada umumnya, Kak Ken?” Diyah kembali bertanya, rasa hausnya akan ilmu semakin terpancing.

​”Perbedaannya bagaikan bumi dan langit,” jawab Ken merangkai penjelasannya. “Senjata biasa ditempa di tungku pandai besi dari material duniawi seperti bijih besi, giok, atau kristal. Puncak kualitas mereka hanya terbatas hingga Level 3. Sementara itu, Senjata Bintang ditempa menggunakan alkemi tingkat tinggi—bahan bakarnya berasal dari Mutiara Mustika Monster Bintang, sumsum tulang Monster Bintang purba, dan mineral kosmik. Proses penempaannya bisa memakan waktu bertahun-tahun agar senjata itu melahirkan jiwanya sendiri. Sama seperti senjata fana, Senjata Bintang juga terbagi menjadi 3 level utama. Namun… yang jarang diketahui oleh orang awam adalah, di atas Level 3, masih ada kelas senjata tertinggi yang disebut Senjata Bintang Tingkat Immortal.”

Wah! Selain menguasai ilmu medis dan teknik segel mutlak, Kak Ken juga memiliki pengetahuan ensiklopedia tentang Senjata Bintang. Aku benar-benar harus menyerap banyak ilmu darinya, batin Diyah, kekagumannya pada sosok Ken semakin mengakar dalam.

​”Hmmm… baiklah. Kak Ken, aku sungguh tidak tahu bagaimana cara berterima kasih atas hadiah pusaka yang tak ternilai ini, dan juga atas semua pengetahuan berharga yang kau berikan,” ucap Diyah dengan tulus, kedua tangannya meraih dan menggenggam erat tangan Ken. “Sebagai balasannya, besok pagi aku bersumpah akan memasakkan hidangan yang jauh lebih mewah dan lezat khusus untukmu. Bagaimana?” tawarnya dengan senyum yang mampu meluluhkan gunung es.

​”Oke, kesepakatan diterima,” jawab Ken terkekeh. “Kalau begitu, berdirilah. Sekarang aku akan menemanimu menguji Senjata Bintang barumu itu. Angkat tombakmu, mari kita lihat sejauh mana kau bisa mendesakku.”

​Ken pun mulai menjadi lawan tanding Diyah. Ia dengan sabar mengoreksi kuda-kuda, memperkuat fondasi dasar, dan mengajarkan cara menyalurkan Qi ke ujung tombak. Di bawah bimbingan keras namun presisi dari Ken, aura bertarung Diyah mengalami metamorfosis yang signifikan.

​Namun, di tengah keseruan pertukaran jurus tersebut, konsentrasi mereka dipecahkan oleh suara langkah kaki tergesa. Seorang pelayan wanita berlari memasuki taman dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal.

​”Tuan Putri Diyah! Gawat, Tuan Putri! Seluruh keluarga kerajaan dan para tetua telah berkumpul darurat di paviliun Pangeran Kecil!” seru pelayan itu panik.

​Mendengar berita itu, Diyah seketika menurunkan tombaknya. Jantungnya berdegup kencang. “Hah?! Apa yang terjadi pada Adikku?!” tanyanya dengan suara bergetar.

​”Benar-benar buruk, Tuan Putri! Para Tabib Istana baru saja menyatakan bahwa mereka sudah tidak dapat mendeteksi tanda-tanda kehidupan pada tubuh Pangeran Kecil!” lapor pelayan itu putus asa.

​Bagaikan disambar petir, Diyah terpukul mundur. Wajahnya kehilangan rona kehidupan. Hah! Tidak… Adikku… Batinnya menjerit tanpa suara. Lututnya seketika lemas, tubuhnya limbung nyaris menghantam tanah beku. Beruntung, dengan gerakan kilat, Ken sudah berada di belakangnya dan menangkap bahu gadis itu dengan kokoh.

​”Kak Ken… kumohon… ikutlah bersamaku,” pintanya lirih pada Ken, pertahanannya runtuh seiring dengan air mata yang mulai membasahi cadarnya.

​”Tenanglah, aku akan membawamu ke sana sekarang juga,” jawab Ken tegas. Ia mengalirkan sedikit energi penenang ke punggung Diyah untuk menopang tubuhnya.

​Dalam perjalanan tergesa menuju paviliun pangeran, Diyah yang masih terisak menjelaskan situasinya pada Ken. “Dia adalah putra bungsu Sang Raja, penerus takhta terakhir… Sejak hari kelahirannya, ia sudah divonis menderita penyakit misterius yang menggerogoti nyawanya. Kami semua tak pernah berhenti berdoa untuk kesembuhannya, namun takdir seakan terus mempermainkannya. Bagiku… pangeran kecil itu sudah kuanggap layaknya adik kandungku sendiri.”

​Setibanya di kamar peraduan Pangeran Kecil, udara dipenuhi isak tangis dan hawa keputusasaan. Semua anggota inti kerajaan telah berkumpul mengelilingi ranjang sutra, termasuk Sang Raja yang tampak jauh lebih tua dari sebelumnya.

​Seakan menolak kenyataan, Raja mencengkeram kerah jubah ketua Tabib Istana. “Tabib Agung! Lakukan pemeriksaan sekali lagi! Aku perintahkan kalian untuk memeriksanya lagi!” bentak Raja, suaranya serak menahan genangan air mata yang memerah di pelupuknya.

​Sang Tabib Agung menunduk dalam, wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang tak tertolong. “Mohon ampun beribu ampun, Paduka Raja. Kami bertiga telah menyalurkan energi diagnostik berulang kali… Denyut nadinya telah putus. Nyawa Pangeran Kecil sudah tak bisa diselamatkan,” jawabnya dengan nada putus asa yang menyayat hati.

​Di ambang pintu, Ken mengaktifkan Mata Dewa-nya. Ia memindai fluktuasi energi di ruangan itu hingga ke tubuh mungil yang terbaring kaku di atas ranjang. Matanya memicing saat menemukan sebuah anomali mikroskopis. Ken melangkah maju membelah kerumunan dengan langkah mantap.

​”Minggir. Anak itu belum mati!” ucap Ken mutlak, suaranya yang berat memotong isak tangis di seluruh ruangan.

​Sontak, seluruh pasang mata menoleh dan tertuju pada Ken. Keterkejutan melukis wajah setiap bangsawan.

​”Kak Ken!” seru Diyah terkesiap, menatap Ken dengan secercah harapan yang kembali menyala. Ken membalasnya dengan anggukan kecil yang meyakinkan.

​Sang Tabib Agung yang merasa otoritasnya diinjak-injak langsung meradang. “Siapa kau, Anak Muda?! Berani-beraninya kau meragukan vonis medis dari tiga Tabib Agung Kerajaan Es?!”

​”Aku tidak datang kemari untuk berdebat soal teori medis dengan katak dalam tempurung sepertimu, Kakek Tua,” jawab Ken tanpa ampun, sorot matanya tajam bagai pedang. “Aku mengatakan kebenaran. Pangeran Kecil itu belum mati.”

​”Ka—Lancang sekali!”

​”Hentikan!” bentak Sang Raja, memotong adu mulut Tabib Agung itu. Ia menatap Ken dengan sorot mata yang menuntut kepastian mutlak. “Anak Muda… apakah kau benar-benar yakin dengan ucapanmu?”

​”Tentu saja aku yakin,” jawab Ken datar. “Detak jantung dan percikan jiwanya masih ada, meskipun frekuensinya sangat lemah hingga terhalang oleh meridian yang tertutup. Namun… jika ia tidak mendapat penanganan supranatural dalam waktu kurang dari satu jam, api kehidupannya akan benar-benar padam untuk selamanya.”

​”Jika kau mampu… kalau begitu aku memohon padamu, tolong selamatkan nyawa putraku!” pinta Raja dengan nada yang merendah, menelan seluruh harga diri kebesarannya.

​Ken menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan kekecewaan. “Hahaha… Tidakkah kau sadar, Paduka Raja? Sudah berapa banyak jeritan kata ‘tolong’ dari rakyatmu yang kau abaikan selama kau berkuasa? Mengapa sekarang aku harus mengulurkan tangan untuk menolong darah dagingmu?” desis Ken, menusuk kelemahan politik Sang Raja secara langsung di depan para petinggi.

​Raja terdiam membisu, tertampar oleh kebenaran pahit dari pemuda misterius itu. Seluruh jenderal dan bangsawan di ruangan itu membeku, tak menyangka ada makhluk fana yang memiliki nyali sebesar itu untuk menghardik Sang Raja Es di dalam istananya sendiri.

​Melihat situasi yang semakin kritis, Diyah menerobos maju. Ia menggenggam erat kedua tangan Ken dengan tangan gemetar. “Kak Ken… aku memohon padamu. Tolong lupakan sejenak dosa istana ini… Kumohon, selamatkan adik kami,” isaknya pilu, menarik Ken perlahan mendekati sisi ranjang Pangeran Kecil.

​Merasakan getaran putus asa dari tangan Diyah, benteng kedinginan Ken akhirnya luluh. “Baiklah, aku akan menolongnya. Tapi sebagai bayarannya, Tuan Putri harus berhenti menangis sekarang juga,” ucap Ken melembut seraya menghapus setitik air mata dari sudut mata Diyah.

​Ken kemudian memutar tubuhnya. Tatapan tajamnya menyapu wajah Elisha, Ibu Ratu, dan Putri Julia secara bergantian. “Kalian juga. Kuminta kalian semua menahan air mata itu. Tangisan dan isak kesedihan kalian hanya akan mengacaukan frekuensi konsentrasi energiku. Aku sangat serius dengan peringatan ini,” tegasnya, meski senyum tipis menenangkan terukir di bibirnya.

​Mendengar instruksi itu, para wanita kerajaan serempak mengusap air mata mereka kasar, menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan suara isakan demi kelancaran penyembuhan.

​”Baiklah, Pangeran Kecil. Aku akan menarikmu kembali dari gerbang neraka. Bertahanlah sedikit lagi,” gumam Ken. Ia memulai ritual penyembuhannya.

​Ken meletakkan tangan kirinya mengambang tepat sejengkal di atas dada sang pangeran. Di antara telapak tangannya dan kulit anak itu, sebuah segel mantra kuno berwarna keemasan mulai terbentuk dan berputar. Sementara itu, tangan kanannya memusatkan energi spiritual yang sangat murni.

Sebelum aku memompa masuk energi kehidupan, aku harus melacak parasit apa yang telah menghisap energinya dengan secepat ini… Tubuh balita ini terlalu rapuh, aku harus mengalirkan Qi-ku sehalus mungkin agar meridiannya tidak hancur… batin Ken menajamkan fokus. Keringat mulai menetes dari dahinya.

​Setelah memindai selama beberapa menit, Mata Dewa-nya berhasil menemukan gumpalan energi busuk yang bersembunyi di pangkal jantung sang pangeran.

Ketemu. Jadi selama ini ada yang sengaja menanamkan racun kutukan secara berkala ke tubuh anak ini! Keparat! Baiklah, aku akan mengekstraknya keluar terlebih dahulu. Tangan kanan Ken bergerak cepat, menggambar segel penarik di atas dada sang pangeran. Perlahan namun pasti, untaian asap hitam pekat berbau busuk tertarik keluar menembus kulit pucat pangeran kecil itu. Menggunakan teknik kompresi ruang, Ken langsung menyegel miasma beracun itu dan memaksanya masuk ke dalam sebuah botol kaca kosong.

Teknik pengobatan aliran Qi murni seperti ini… Bahkan di naskah kuno kerajaan pun aku belum pernah melihatnya. Apakah pemuda ini benar-benar menguasai teknik medis setingkat Dewa?! batin Raja yang sedari tadi tak berkedip mengamati setiap gerakan presisi Ken.

​Setelah memastikan tak ada setitik pun racun yang tersisa, Ken beralih ke tahap berikutnya. Bagus, racunnya sudah bersih. Tapi seluruh jaringan meridian dan sel darahmu sudah nyaris hancur total, Pangeran. Kau sungguh pejuang yang kuat bisa menahan siksaan ini sejak lahir… Sekarang, aku akan menambal kerusakan sel-selmu sebelum memberimu energi baru.

​Tangan kanan Ken kembali menenun formasi di atas segel pertamanya. Ia menarik keluar botol kristal kecil berisi cairan esensi kehidupan surgawi dari Cincin Bintang-nya, lalu meneteskan cairan perak itu tepat ke atas putaran segel. Menggunakan Mata Dewa, Ken memandu setiap molekul esensi penyembuh itu mengalir ke seluruh pembuluh darah sang pangeran, memperbaiki setiap sel yang robek dan meridian yang hancur.

Fondasi organnya sudah tertambal sempurna. Tiba saatnya menyalakan kembali mesin kehidupanmu, Pangeran Kecil. Ken mengeluarkan botol kedua—Intisari Pemulihan tingkat tinggi. Apakah satu tetes ini cukup untuk tubuh sekecil ini? Ken memiringkan botolnya dengan sangat ekstra hati-hati. Satu tetes emas jatuh menyatu dengan segel. Ia menunggu. Hening. Tak ada respons dari tubuh pangeran. Huft, baiklah. Aku akan menambahkan satu tetes lagi. Tetesan kedua jatuh. Masih tak ada reaksi signifikan. Jantung Ken berdegup lebih cepat. Apakah dia butuh tetesan ketiga? Tapi jika dosis energi spiritual ini berlebihan, jantung fana balita ini bisa meledak seketika! Ayolah… Kumohon bereaksilah…

​Tepat ketika Ken nyaris mengambil risiko menjatuhkan tetesan ketiga, jari-jari kecil sang pangeran berkedut. Dada mungil itu perlahan terangkat, menarik napas pertama yang stabil. Rona merah kehidupan mulai merayap kembali ke pipi pucatnya.

Syukurlah… Hampir saja aku melakukan kesalahan fatal, Ken membuang napas kelegaan yang amat panjang, menarik kembali kedua tangannya.

​Melihat dada pangeran kembali bergerak naik turun, seisi ruangan nyaris meledak dalam sorak-sorai.

​”Ibu! Lihat! Adik mulai bernapas lagi! Apakah sihir Kak Ken berhasil?!” bisik Elisha histeris, menarik-narik gaun sutra Ibunda Ratu dengan brutal.

​Sang Ratu segera menempelkan jari telunjuknya ke bibir dengan senyum yang dibanjiri air mata bahagia. “Sssst… Tenanglah, Sayang! Jangan bersuara dulu, biarkan Kak Ken menyempurnakan konsentrasinya,” bisik Ibu Ratu dengan suara bergetar penuh syukur. Elisha pun mengangguk patuh dengan mata berbinar-binar.

​Setelah proses mendebarkan selama tiga puluh menit, Ken akhirnya mundur selangkah, menghapus keringat di dahinya.

​”Selesai. Masa kritis terburuknya sudah lewat. Kondisi anatomi Pangeran Kecil sekarang sudah jauh lebih baik dari keadaan aslinya. Aku telah membersihkan dan meregenerasi sebagian besar sel tubuhnya yang selama ini dirusak dari dalam,” jelas Ken mengumumkan hasilnya. Ia lalu merogoh jubahnya dan menyodorkan delapan botol kecil berisi cairan esensi kepada Ibu Ratu. “Mulai hari ini, jangan pernah memberinya makanan, minuman, atau obat apa pun selain dari tabib pribadiku. Untuk sementara, berikan asupan cairan dari botol ini saja, Ibu Ratu.”

​Ibu Ratu menerima botol-botol itu seolah menerima nyawa putranya sendiri. “Terima kasih, Nak… Langit memberkatimu,” isak Ibu Ratu, air mata syukur tak lagi terbendung.

​”Atas nama seluruh rakyat, Kerajaan Es benar-benar berutang nyawa padamu, Anak Muda,” ucap Raja, suaranya dipenuhi rasa hormat yang mendalam.

​Namun, Ken tidak membalas dengan senyum kemenangan. Ekspresinya justru menegang. “Jangan terlalu cepat merayakan ini dan berterima kasih padaku, Paduka Raja,” potong Ken datar, menyiramkan air dingin pada eforia mereka. “Pengobatanku barusan belum mencapai kesempurnaan. Saat ini, perawatanku hanya mampu memperpanjang napas Pangeran Kecil selama empat belas hari. Itulah batas maksimal dari apa yang bisa kulakukan dengan bahan yang kumiliki saat ini.”

​Seluruh ruangan kembali membeku mendengarnya.

Sudah kuduga! Aku berani bertaruh dengan kepalaku bahwa mustahil ada manusia yang bisa menyembuhkan penyakit mematikan itu secara instan. Ternyata bocah ini hanya menunda kematiannya selama dua minggu. Hahaha! batin Sang Tabib Agung, diam-diam menyeringai licik penuh kepuasan.

​Raja tertunduk lesu, bahunya merosot. “Lalu… apakah benar-benar tidak ada cara lain untuk mencabut akar penyakitnya, Anak Muda?” tanyanya putus asa.

​”Peluang kesembuhan totalnya hanya berkisar sepuluh persen,” jawab Ken tanpa basa-basi. “Proses itu membutuhkan bahan baku obat tingkat mitos yang kelangkaannya bahkan mungkin sulit ditemukan di atas tanah benua ini. Dan kita berpacu dengan waktu yang sangat sempit,” terang Ken. Tanpa banyak bicara lagi, ia berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.

​Suasana yang sempat diliputi cahaya harapan kini kembali diselimuti awan kelabu.

​”Kakak!”

​Suara Elisha yang melengking memecah kesunyian. Gadis kecil itu berlari mengejar dan menahan ujung jubah Ken sebelum pria itu melangkah keluar.

​Langkah Ken terhenti. Ia berbalik dan menatap gadis kecil yang menatapnya dengan penuh harap. “Ada apa, Putri Kecil?” tanya Ken dengan nada yang melembut.

​”Kakak! Apakah janji sihir ini masih berlaku?!” Elisha membuka telapak tangannya, memperlihatkan tiga buah kristal ajaib yang pernah diberikan Ken di hutan. “Bukankah Kakak pernah bersumpah akan mengabulkan apa pun permohonanku asalkan aku menukarnya dengan kristal ini?!” tuntut Elisha memastikan.

​”Ya… Tentu saja sumpahku mutlak. Apakah kau berniat menggunakannya sekarang?” tanya Ken seraya tersenyum tipis.

​”Iya! Aku ingin menggunakannya sekarang juga!” jawab Elisha tanpa ragu.

​Ken perlahan berjongkok menyejajarkan tingginya dengan Elisha. “Baiklah. Katakan padaku, keajaiban apa yang kauinginkan dariku?”

​”Aku ingin menukarkan ketiga kristal berharga ini untuk menebus dua permintaanku saja, Kakak! Tolong… tolong sembuhkan penyakit Ayahanda dan Adikku hingga benar-benar bersih!” pinta Elisha, matanya yang bulat mulai digenangi air mata keputusasaan.

​Ken tersentak. Ia sama sekali tidak memprediksi hal ini. “Tapi… aku memberikannya agar kelak kau bisa menggunakannya sebagai tameng pelindung keselamatanmu sendiri, Putri Kecil,” ucap Ken pelan, mengusap pucuk kepala Elisha dengan perasaan campur aduk.

​”Tidak apa-apa, Kakak! Bagi Elisha, ini adalah hal yang paling penting di dunia,” ucapnya meyakinkan Ken dengan suara yang mulai tersendat. “A-aku… Aku hanya ingin bisa bermain berlari-larian bersama adikku kelak… Aku ingin mengajaknya jalan-jalan keluar istana menunggangi Kirin…” Pertahanan gadis kecil itu akhirnya runtuh. Tangis Elisha pecah, ia menangis tersedu-sedu menumpahkan seluruh kesedihannya.

​Melihat kepolosan dan cinta yang begitu murni itu, hati Ken seakan ditusuk ribuan jarum. Ia menarik Elisha ke dalam pelukannya. “Kemarilah…” bisik Ken, memeluk erat gadis kecil itu dan mengelus punggungnya untuk memberikan ketenangan.

​Pemandangan haru pengorbanan sang putri kecil itu membuat semua orang di ruangan ikut meneteskan air mata dalam kebisuan.

​Setelah isak tangis Elisha perlahan mereda dalam pelukannya, Ken berkata dengan suara serak namun tegas. “Baiklah. Asalkan kau berjanji untuk berhenti menangis detik ini juga, Kakak akan memastikan kedua keinginanmu itu terwujud secara mutlak.”

​Elisha buru-buru menarik diri dari pelukan dan mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. “B-benarkah, Kakak?!” tanyanya memastikan.

​”Ya, tentu saja. Tapi kesepakatannya… kau cukup membayarnya dengan menukarkan dua kristal saja. Simpan kristal yang ketiga untuk masa depanmu,” jelas Ken tak terbantahkan.

​”Baiklah kalau begitu! Aku sangat bersyukur semesta mempertemukanku dengan Kakak. Aku yakin Kakak adalah dewa yang pasti bisa menyembuhkan Ayah dan Adik. Jika selama proses pengobatan Kakak butuh bantuan apa pun, katakan saja pada Elisha!” terang Elisha, senyum cerah kembali menghiasi wajahnya yang sembap.

​”Tentu saja. Sekarang pergilah ke ranjang dan temani adikmu istirahat,” ucap Ken seraya perlahan bangkit berdiri. Ia kemudian menatap Sang Raja dengan sorot mata yang mengintimidasi. “Aku akan pergi mencari bahan untuk menyembuhkan Pangeran Kecil. Namun, sebelum aku berangkat, ada satu prosedur yang harus kulakukan. Sebagai pusat gravitasi dan kemungkinan besar ‘sumber inang’ dari racun misterius yang menginfeksi Pangeran Kecil… aku harus melakukan pemeriksaan total terhadap paduka Raja. Dan hal ini harus dilakukan empat mata, tanpa ada telinga lain yang mendengarnya.”

​”Baiklah. Silakan lakukan apa pun yang diperlukan,” jawab Raja pasrah, menyerahkan nasibnya.

​Tanpa membuang waktu, Ken menjentikkan jarinya. Sebuah kubah energi—Domain Isolasi tingkat tinggi—tercipta seketika, mengurung dirinya dan Raja di sudut ruangan. Pembatas itu tidak hanya meredam gelombang suara, tetapi juga membiaskan penglihatan dari luar, membuat siapapun yang berada di luar mustahil untuk menguping maupun mengintip proses interogasi dan pemeriksaan mereka.

​Waktu terasa berjalan sangat lambat. Setelah hampir satu putaran dupa, kubah energi itu akhirnya beriak dan lenyap, memperlihatkan Ken dan Sang Raja yang kembali menghela napas.

​”…Ingatlah komitmen kita, Paduka Raja. Aku bersedia menanggung risiko yang sangat mematikan ini murni demi nyawa putrimu,” pesan Ken dengan suara rendah sesaat sebelum penghalang itu benar-benar memudar.

​”Aku memahaminya, Anak Muda. Dan untuk hal itu, Kerajaanku menaruh kepercayaan mutlak di pundakmu,” jawab Raja dengan anggukan berwibawa.

​Ken berbalik menghadap semua orang. “Baiklah, pemeriksaan telah selesai! Aku telah menemukan akar masalahnya. Aku yakin bisa mencabut penyakit Sang Raja maupun Pangeran Kecil hingga ke akar. Namun untuk saat ini, prioritas utama adalah menahan napas Pangeran Kecil.”

Syukurlah… Terima kasih pada surga yang telah mengirimmu kemari, Ken… batin Putri Julia, menyunggingkan senyum kecil yang melegakan.

​”Semuanya, kuminta kalian mundur menjauhi ranjang. Aku akan merangkai formasi penghalang untuk mengamankan fisik Pangeran,” titah Ken seraya merentangkan kedua tangannya.

​Setelah semua orang memberi ruang, Ken merapal mantera tingkat dewa dan menciptakan tiga lapis kubah formasi penyegel transparan yang membungkus rapat tubuh Pangeran Kecil.

​Ken kemudian berjalan mendekati Ibu Ratu. “Ibu Ratu, mohon izinkan aku meminjam telapak tangan Anda. Aku akan menanamkan Segel Akses agar hanya Anda seorang yang bisa masuk menemani Pangeran,” ucap Ken dengan nada yang sangat lembut.

​”Ya… Tentu saja, Nak. Silakan,” jawab Ibu Ratu seraya mengulurkan tangannya yang gemetar.

​Setelah menanamkan pendaran segel berbentuk lotus di telapak tangan Ibu Ratu, Ken memberikan instruksi terakhir. “Mulai saat ini, hanya Ibu Ratu yang memiliki otoritas untuk menembus penghalang mutlak ini. Botol-botol esensi yang kuberikan tadi, berikan kepada Pangeran Kecil secara rutin dua kali sehari—satu tetes di pagi hari, dan satu di sore hari. Mengingat aku hanya memiliki sisa delapan botol, jatah itu hanya akan bertahan mengamankan nyawanya selama empat hari. Esok fajar, aku akan bertolak menuju Hutan Monster Barat yang mematikan untuk memburu bahan baku legendaris dan meracik obat penawar mutlaknya.”

​”Tuan yang terhormat, demi menghemat waktu krusial, mengapa Anda tidak menuliskan saja daftar gulungan ramuan tumbuhan itu pada kami? Biarkan Kerajaan mengerahkan ribuan prajurit elit untuk memburunya,” celetuk Sang Tabib Agung, mencoba kembali mengambil peran penting.

​Ken melirik pria tua itu dengan tatapan sedingin pedang. “Seperti yang kubilang, waktu yang tersisa sangatlah kritis. Aku sendiri yang harus memverifikasi kemurnian dan ketersediaan bahan-bahan tersebut di alam liar. Karena ini menyangkut pertaruhan nyawa Pangeran Kecil, aku tidak punya ruang untuk menaruh rasa percaya pada sembarang orang yang bahkan gagal mendiagnosis nadinya,” skakmat Ken, membuat lidah Tabib Agung itu kelu seketika.

Bocah keparat ini terlalu teliti! Ia bahkan sampai mendirikan kubah pelindung tiga lapis yang mustahil kutembus untuk mengisolasi pangeran… Rencanaku bisa berantakan! batin Tabib Agung itu, menggertakkan giginya menahan murka.

​”Nak… bolehkah seorang ibu yang putus asa ini memelukmu sebentar?” pinta Ibu Ratu tiba-tiba, menatap Ken dengan penuh haru.

​Mendengar permintaan itu, tubuh Ken seketika kaku. Ia tak terbiasa dengan afeksi. Secara refleks, matanya melirik ke arah Diyah, seolah mencari persetujuan dari sang ahli istana. Diyah yang menyadari hal itu hanya mengangguk pelan seraya tersenyum manis.

​”A-aaa… S-silakan, Ibu Ratu,” jawab Ken sangat canggung, membiarkan tubuhnya direngkuh.

​Ibu Ratu memeluk Ken erat-erat, menumpahkan beban seberat gunung di pundak pemuda itu. “Kumohon, jangan terlalu memaksakan dan membahayakan dirimu sendiri di hutan iblis itu, Nak… Seandainya takdir berkata lain dan usahamu gagal… Aku, Sang Raja, dan seluruh Kerajaan Es bersumpah tidak akan pernah menyalahkanmu. Terima kasih… terima kasih karena telah mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkan Pangeran Kecil,” isak Ibu Ratu dengan ketulusan seorang ibu sejati.

​Ken mematung selama beberapa detik. Kehangatan dekapan tulus seorang ibu… sudah belasan tahun lamanya tubuhnya yang kebas akan pertempuran tidak merasakan sensasi ini. Begitu Ibu Ratu perlahan melepaskan pelukannya, sudut bibir Ken melengkung membentuk senyum yang sangat tulus. “Tenang saja, Ibu Ratu. Aku tidak pernah kalah. Aku pasti akan pulang membawa kesembuhan total untuk Pangeran Kecil,” janjinya mutlak.

​”Kak Ken!” Diyah tiba-tiba melangkah maju memecah momen haru. “Bolehkah aku beserta dua rekanku ikut terjun dalam ekspedisi hutan bersamamu? Siapa tahu kami bisa meringankan bebanmu mencari tanaman itu. Lagipula, kebetulan sekali kedua rekanku juga sudah mencapai batas kultivasi dan sangat membutuhkan inti Monster Bintang untuk memadatkan Segel Bintang Keenam mereka,” pinta Diyah penuh harap.

​”Yah… bagiku tidak ada ruginya menambah rekan perjalanan, asalkan Paduka Raja memang memberikan izin resminya,” tegas Ken, mengembalikan otoritas pada sang ayah.

​”Pergilah bersama pemuda ini, Diyah. Uria telah menceritakan masalah hambatan kultivasimu padaku sebelumnya. Sayangnya, para tetua istana belum menemukan solusi untuk memecah kebuntuan Segel Bintangmu. Tapi ingatlah, setelah kalian menyelesaikan urusan memburu inti monster kalian, kerahkan seluruh tenaga untuk membantu Tuan Ken mengumpulkan obat,” titah Raja memberikan restu penuh.

​”Terima kasih atas izin Anda, Ayahanda Raja,” jawab Diyah membungkuk penuh semangat.

​Mendengar ekspedisi itu, Putri Julia yang sedari tadi terdiam tampak berpikir keras, menimbang-nimbang risiko. Ia lalu melangkah mendekati Diyah. “Diyah, jika tidak merepotkan… bolehkah aku juga ikut bergabung dalam ekspedisi ke hutan mematikan itu bersama tim kalian? Aku juga merasa bertanggung jawab dan ingin berkontribusi,” celetuk Putri Julia tiba-tiba.

​Mendengar tawaran itu, Diyah tak langsung menjawab. Ia justru menoleh menatap Ken. Tak disangka, Putri Julia dan Sang Raja pun ikut-ikutan menatap ke arah pemuda itu, seakan nasib ekspedisi mutlak berada di tangannya.

​Menyadari semua mata tertuju padanya, alis Ken bertaut bingung. “Hah… kenapa kalian semua menatapku seolah menunggu titah dariku?!” protes Ken, tak biasa menjadi pusat pengambilan keputusan istana.

​”Hahaha… Jadi, apakah Tuan Komandan mengizinkan Julia juga ikut bergabung dalam barisan, Kak Ken?” goda Diyah seraya tertawa renyah, sangat menikmati ekspresi kebingungan Ken yang langka.

​Ken menghela napas. “Tentu saja boleh… selama Paduka Raja yang punya anak membolehkannya ikut,” jawab Ken pasrah.

​”Ya, silakan, Julia. Berangkatlah bersama mereka. Aku mengizinkanmu,” putus Sang Raja.

​”Baiklah, kesepakatan selesai,” Ken kembali menegaskan wibawanya sebagai pemimpin ekspedisi. “Dengarkan baik-baik. Besok pagi, tepat saat fajar menyingsing di pukul enam, aku akan menunggu barisan kalian di gerbang utama ibu kota Kerajaan. Ingat… jika ada satu saja dari kalian yang datang terlambat satu ketukan napas, aku tidak akan segan meninggalkannya!” ancam Ken dengan tatapan membunuh yang serius.

​”Aku harus memulihkan tenagaku sekarang. Ibu Ratu, Paduka Raja, hamba mohon undur diri,” pamit Ken. Ia kemudian berbalik dan melangkah mantap keluar dari ruang duka tersebut, diiringi oleh langkah kaki Putri Diyah yang setia mengekor di sisinya.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!