Bab 28

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

Naga Es Purba Drakthar

​Pagi berikutnya, Raja Bawigan berdiri mematung di ambang pintu peraduan, ditemani oleh Sang Ratu. Matanya menatap nanar ke arah putra bungsunya. Namun, karena kubah pembatas energi mutlak yang dipasang oleh Ken, hanya Sang Ratu yang diizinkan melangkah masuk. Sementara itu, Sang Raja hanya bisa mengawasi darah dagingnya dari balik tabir transparan tersebut dengan perasaan tak berdaya.

​Tak lama berselang, Sang Ratu yang duduk berjaga di tepi ranjang menyadari sebuah anomali. Tubuh mungil Pangeran Kecil itu mendadak bergetar hebat. Embusan napasnya berubah memburu, kasar, dan sama sekali tidak teratur. Kepanikan seketika menyapu wajah Raja dan Ratu.

​”Apa yang terjadi pada putraku?!” seru Raja Bawigan, suaranya pecah oleh kepanikan. “Pelayan! Cepat cari dan panggil Tuan Ken kemari sekarang juga!”

​”Sesuai perintah, Paduka Raja!” jawab seorang pelayan seraya bergegas berlari meninggalkan ruangan.

​Nun jauh di sudut istana yang lain, mata Ken mendadak terbuka. Fluktuasi segel energinya beresonansi. Ini… aku tidak menyangka reaksi penolakannya akan datang secepat ini, batin Ken, langsung menyadari kondisi kritis yang menimpa Pangeran Kecil Kerajaan Es.

​Di saat yang bersamaan, Putri Julia dan Putri Diyah baru saja tiba di lorong paviliun, berniat menjenguk adik bungsu mereka. Langkah keduanya terhenti saat melihat kepanikan yang melanda kedua orang tua mereka di ambang pintu.

​”Apa yang terjadi, Ayahanda?” tanya Julia dengan raut wajah tegang.

​”Adikmu tiba-tiba menunjukkan reaksi fisik yang sangat mengkhawatirkan… keadaannya memburuk, tidak seperti biasanya,” jawab Raja dengan rahang mengeras.

​Diyah menatap Julia, bertukar pandang penuh kecemasan. “Yah… aku sendiri yang akan berlari memanggil Kak Ken,” katanya bersiap memutar tubuh.

​”Tidak perlu, Diyah. Pelayan tadi sudah pergi menjemputnya,” potong Raja, menahan langkah putrinya.

​”Oh… baiklah, Ayahanda,” jawab Diyah, meremas jemarinya dengan gelisah.

​Seluruh anggota inti keluarga kerajaan kini berkumpul di depan kamar, menunggu dengan cemas setiap perkembangan yang terjadi pada sang pangeran kecil di dalam kubah.

​Terdengar derap langkah tergesa. Sang pelayan kembali dengan wajah basah oleh peluh. “Paduka Raja! Tuan Ken rupanya sudah mengetahui situasi ini sebelum hamba tiba. Beliau menitahkan agar Pangeran Kecil segera dibawa ke alun-alun utama di depan Balairung istana!” lapornya dengan napas tersengal.

​Raja Bawigan mengerutkan keningnya. “Apakah… apakah sudah waktunya?” gumam Sang Raja, matanya menatap jauh menembus dinding istana seakan menimbang sebuah keputusan raksasa.

​”Dan beliau juga meminta Paduka Raja untuk segera mengeluarkan benda itu sekarang juga! Beliau bilang Paduka pasti sudah memahaminya. Sementara itu, Tuan Ken sedang mempersiapkan fondasi alkemi lainnya,” jelas sang pelayan meneruskan pesan mutlak tersebut.

​Raja memejamkan mata sesaat, lalu mengangguk mantap. “Baiklah… Tegra, Hameng! Bersiaplah. Bawa Drakthar ke alun-alun sekarang juga,” perintah Raja kepada kedua jenderal pengawal setianya.

​”Hah?! Apa yang sedang Anda perintahkan, Paduka Raja?!” tanya Jenderal Tegra, matanya membelalak tak percaya mendengar nama tabu itu diucapkan.

Drakthar… Nama itu… aku seperti pernah mendengar mitos nama itu dari literatur kuno, batin Diyah, keningnya berkerut mengingat-ingat.

​”Tidak ada waktu untuk penjelasan panjang lebar sekarang, Tegra. Nanti kalian akan memahami maksudnya. Membawa entitas itu keluar dari kurungannya akan memakan waktu, jadi bergeraklah secepat angin!” titah Raja dengan nada yang tak menerima penolakan.

​”Sesuai perintah, Paduka Raja!” jawab Jenderal Tegra serempak dengan Hameng. Keduanya segera melesat melaksanakan misi gila tersebut.

​Keluarga kerajaan dan para pengawal bergegas berpindah menuju alun-alun terbuka di depan Balairung. Setibanya di sana, Jenderal Tegra dan Jenderal Hameng tampak tengah mengukir sebuah pola Voidgate Rune berskala raksasa di atas hamparan es. Mereka dibantu oleh tiga perwira tinggi lainnya, termasuk Jenderal Bonar. Semua prajurit yang berada di sekitar area itu menahan napas, penasaran sekaligus ngeri dengan ritual pemanggilan yang sedang dipersiapkan.

​Jenderal Lamarr, yang baru saja datang dari sektor barat, mematung di pinggir alun-alun dengan tatapan takjub. Hah… ritual apa yang sedang mereka persiapkan dengan Voidgate Rune raksasa itu? Monster macam apa yang ingin mereka panggil ke pusat istana? batinnya dipenuhi kecurigaan.

​Setelah pola rune kuno itu selesai terukir dengan sempurna, para jenderal segera bersiap di posisi masing-masing pada setiap simpul penjuru formasi.

​”Semuanya bersiap! Pegang rantai segelnya dengan seluruh tenaga kalian!” komando Jenderal Tegra, menggenggam erat rantai energi yang terhubung ke pusat formasi.

​”Kami siap!” jawab para jenderal serempak, mengalirkan Qi ke dalam urat-urat mereka.

​”Pusatkan energi… aku akan memulainya sekarang,” lanjut Tegra.

​Cahaya putih kebiruan meledak menyembur dari pusat Rune tersebut, menciptakan pilar energi yang menembus awan kelabu. Hawa dingin yang sangat ekstrem membekukan udara di sekeliling alun-alun. Dari dalam pusaran distorsi dimensi itu, perlahan bermanifestasi wujud seekor Monster Bintang legendaris—Naga Es Purba Drakthar.

​Makhluk mitologi itu menggeram sangat dalam. Suara raungannya menggetarkan tulang rusuk setiap manusia yang mendengarnya. Tubuh raksasanya memancarkan kilau setajam kristal beku, membiaskan cahaya matahari yang pucat. Begitu ia mengibaskan ekor berdurinya yang masif, udara di sekeliling arena bergetar hebat seolah ruang itu sendiri nyaris terkoyak.

​”Tahan rantainya! Kunci posisinya! Jangan biarkan dia lepas selangkah pun!” teriak Jenderal Tegra sambil menyeimbangkan tarikan, berusaha mengontrol para pengawal yang memegang ujung rantai Rune.

Benar saja… Itu adalah Naga Es Kuno, pusaka penjaga rahasia Kerajaan Es. Ayahanda pernah menceritakan dongengnya padaku saat aku masih kecil, tapi aku tak pernah mengira ukurannya semengerikan ini, batin Julia. Matanya terbelalak menatap makhluk raksasa yang meronta di bawah ikatan rantai cahaya.

​”Itu… itu adalah Monster Bintang Level Kaisar! Tingkat sepuluh!” seru Diyah, suaranya meninggi karena syok melihat tanda sepuluh bintik bintang yang berpendar menyilaukan di dahi monster tersebut.

​Julia menoleh cepat ke arah ayahnya, wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu yang mencekam. “Ya… kau benar, Diyah. Tapi… untuk apa monster pembawa kiamat ini ditarik keluar, Ayahanda?” tanyanya cemas sembari melirik naga yang terus mengamuk.

​Raja Bawigan menarik napas panjang, sorot matanya menyiratkan kelelahan yang dalam. Ia menatap putrinya dan menggeleng perlahan. “Hanya Tuan Ken yang bisa menjelaskan skenario ini. Kita tunggu saja kedatangannya,” ucap Sang Raja dengan nada berat, seolah ia sendiri sedang mempertaruhkan seluruh nasib kerajaannya pada pemuda itu.

​Drakthar meraung murka. Ia meluncurkan kepala naga raksasanya ke depan, mencoba mencabik udara, tetapi rantai Rune itu menegang dan menahannya dengan bunyi dentingan magis yang keras. Setiap kaki raksasanya menghantam tanah, bumi bergetar, dan serpihan es bertebaran ke udara bagai pecahan kaca.

​Diyah menatap takjub dari jarak aman, tangannya tanpa sadar mengepal erat saat melihat tekanan kekuatan Naga itu. “Wah… ukurannya sebesar ini… dan daya hancurnya… ini benar-benar di luar nalar,” gumamnya, bulu kuduknya meremang.

​Monster itu kembali mengaum memekakkan telinga, mengibaskan sepasang sayap es raksasanya. Badai angin menderu menyapu alun-alun, memaksa beberapa prajurit untuk menahan napas dan berlindung dari empasan kekuatan purba tersebut.

​Meski Rantai dan Rune menahan tubuh Sang Naga, makhluk buas itu masih sanggup bergerak liar. Ia meronta ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari titik lemah dari formasi pengekangnya. Rantai-rantai energi berderit dan merintih di bawah tarikan otot naga tersebut, memaksa Jenderal Tegra dan Hameng memutar otak dan terus menyesuaikan kuda-kuda mereka agar tak terseret.

​”Tenaga fisiknya jauh lebih gila dari yang kubayangkan,” komentar Jenderal Bonar seraya memusatkan Qi-nya, menatap ngeri rantai di tangannya yang bergetar hebat.

​Diyah menarik napas panjang, matanya tak berkedip mengikuti pergerakan liar naga tersebut. “Ini… ini sama saja seperti mencoba menahan badai topan dengan tangan kosong,” bisiknya lirih.

​Drakthar menggeram sekali lagi. Tubuh panjangnya meliuk, mencoba menggulung dan mematahkan rantai yang membelitnya. Cahaya biru mematikan memantul dari sisiknya ke segala arah, membuat seluruh alun-alun seketika terlihat seperti diselimuti oleh lautan es yang berkilau tajam.

​Naga Es Purba itu tak kenal lelah. Ia menyentakkan tubuhnya ke kanan dengan brutal. Debu dan bongkahan lantai marmer beterbangan setiap kali cakarnya menggaruk bumi. Seluruh penghuni alun-alun menjadi saksi bisu bagaimana kekuatan alam purba ini berusaha ditahan oleh tubuh fana manusia yang hanya bersenjatakan strategi dan Rune kuno.

​Diyah terkesiap saat kepala naga itu berputar cepat ke arahnya. Ia bisa merasakan hawa beku yang menusuk langsung ke sumsum tulang dari setiap embusan napas sang monster. “Aku belum pernah berada sedekat ini dengan entitas sekuat ini,” katanya sembari menahan napas, mundur selangkah.

​”Semuanya, mundurlah! Tetap jaga jarak aman dari jangkauan monster itu!” perintah Raja Bawigan dengan suara berat, menyapu pandangannya memperingatkan para penonton dan prajurit di sekitarnya. “Walaupun Jenderal Tegra dan Hameng yang menahannya di depan, kekuatan otot mereka saja tidak akan sanggup bertahan tanpa dukungan rantai Rune itu. Jadi tetaplah waspada!”

​Semua orang saling melempar pandang panik, beberapa menelan ludah dengan susah payah. Di pusat arena, Jenderal Tegra dan Hameng terlihat menggertakkan gigi mereka. Urat-urat di leher mereka menonjol saat kedua tangan mereka mengencangkan cengkeraman pada rantai cahaya yang perlahan mulai menyeret tubuh mereka.

Sialan! Sampai kapan kita harus menjadi tumbal menahan monster gila ini?! geram Jenderal Tegra dalam hati. Rahangnya mengeras sekeras baja, sementara keringat dingin mulai merembes dan menetes dari pelipisnya.

​”Paduka Raja! Selanjutnya, apa yang harus kami lakukan pada naga ini?!” seru Jenderal Hameng dengan napas terengah-engah. Matanya sesekali melirik horor pada rahang naga yang meronta liar di atas kepalanya.

​”Tahan posisinya! Kita tunggu Tuan Ken datang,” jawab Raja Bawigan berusaha tenang, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang mendalam.

Pemuda itu… gila! Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan terhadap naga pembawa kiamat ini? batin Hameng, menelan ludah yang terasa pahit.

​Sorot mata Tegra tiba-tiba menajam. Ia menoleh ke arah Jenderal Lamarr yang sedari tadi hanya berdiri mematung di pinggir luar lingkaran Rune. “Lamarr! Cepat kemari dan bantu kami menyalurkan energi! Apa yang sedang kau tunggu di sana?!” bentaknya keras.

​”A-aaa… Y-ya, baiklah!” ucap Lamarr dengan nada gagap. Ia melangkah mendekat dengan wajah pucat pasi. Jantungnya berdegup keras menggedor rusuknya ketika merasakan hawa kematian yang pekat memancar dari sisik naga tersebut.

​”Paduka Raja! Sampai kapan kita harus menunggunya?! Naga ini sudah terkurung dalam dimensi isolasi selama dua ratus tahun! Dia tidak akan berhenti mengamuk setelah menghirup kembali udara bebas!” keluh Tegra, suaranya tertekan oleh beban rantai yang nyaris mematahkan lengannya. Rantai bercahaya di genggamannya bergetar semakin beringas, nyaris terlepas.

​”Sabarlah, semuanya! Bertahanlah sedikit lagi,” ujar Raja memompa semangat pasukannya, meski genggaman tangannya pada tongkat kebesaran kerajaan semakin erat hingga buku jarinya memutih.

Kak Ken… kau sedang ada di mana? Cepatlah kemari, batin Diyah, menatap cemas ke arah gerbang masuk alun-alun.

BUM! Guncangan dahsyat menggema mengocok isi perut semua orang saat naga itu kembali meronta dan menghempaskan tubuhnya ke tanah. Ubin es di sekitar alun-alun retak seketika, membentuk garis patahan panjang yang menjalar hingga membelah fondasi tembok Balairung. Napas naga itu memuntahkan kabut beku yang tebal, membekukan udara di sekitarnya dan membuat suhu anjlok ke titik mematikan.

​”Pegang kuat-kuat! Jangan lepaskan!” teriak Jenderal Tegra. Kedua lengannya menegang keras, urat-uratnya bermunculan seolah hendak meledak menahan beban tersebut. Rantai sihir yang melilit tubuh naga itu bergesekan, setiap sentakan dari monster itu nyaris mencabut lengan para jenderal dari engselnya.

​”Aku tidak yakin formasi ini akan bertahan lebih lama lagi!” sahut Lamarr panik, tangannya bergetar hebat. Keringat membasahi pelipisnya meski hawa beku menjerat tubuhnya tanpa ampun. Ia tak pernah merasa sedekat ini dengan kematian.

​Drakthar meraung lagi. Suara purbanya menggelegar memecahkan udara, membuat telinga para prajurit berdering menyakitkan. Sepasang sayap raksasanya mengepak liar, menciptakan badai salju mematikan yang memporak-porandakan tatanan alun-alun. Pilar-pilar es berornamen tumbang dan hancur berkeping-keping.

​”Formasi Rune-nya mulai retak! Lihat ke dasar pijakan kalian!” seru Hameng ngeri, menunjuk ke pola Rune raksasa di bawah kaki mereka yang kini bersinar tak beraturan. Garis-garis cahaya putihnya mulai berkedip-kedip liar, seakan energi pembatasnya sudah mencapai batas toleransi maksimal.

Jika formasi Rune ini sampai pecah, bukan hanya alun-alun ini yang akan rata dengan tanah, tapi seluruh struktur istana ini bisa hancur menjadi debu es! batin Tegra panik, mengerahkan seluruh sisa Qi-nya ke dalam rantai.

​”Paduka Raja! Kami sudah mencapai batas! Kami tidak bisa menahannya lebih lama lagi!” Hameng berseru putus asa. Matanya membelalak ngeri saat salah satu rantai utama terputus dengan dentuman keras bak ledakan meriam.

​Merasa kekangannya melonggar, Naga Es Purba itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Sepasang matanya memancarkan cahaya biru yang menyala buas, memantul di permukaan es layaknya kilatan petir yang membekukan jiwa.

​”Pasukan Garda! Segera bentuk formasi pembatas di barisan depan!” teriak Raja dengan nada panik, menyadari kiamat di depan mata.

​Julia memaksakan kakinya melangkah mundur, jantungnya berdegup liar. Astaga… Inikah level kekuatan absolut dari Monster Bintang Level Kaisar? Bahkan kombinasi kekuatan para jenderal dan formasi Rune legendaris pun tak cukup untuk menundukkannya! Diyah menahan napas, tatapannya tak mau lepas dari pintu gerbang. Kak Ken… kumohon, cepatlah datang!

​”Semuanya, perkuat kuda-kuda kalian! Kalau ada satu rantai lagi yang putus, monster ini akan lepas sepenuhnya dan membantai kita semua!” pekik Jenderal Tegra, suaranya parau diterpa badai es.

​Drakthar membuka rahang raksasanya, menghirup udara dengan kasar. Detik berikutnya, ia melepaskan semburan badai es murni dari dasar tenggorokannya. Ledakan napas beku itu menghantam barisan prajurit yang berjaga di luar lingkaran formasi. Tanpa sempat menjerit, puluhan prajurit itu membeku seketika, berubah menjadi patung es sebelum hancur berkeping-keping, meruntuhkan sisa pembatas sihir yang dibuat pasukan.

​”Lindungi Paduka Raja!” teriak Jenderal Bonar. Ia melompat melepaskan rantainya ke depan Raja Bawigan, merentangkan perisai energinya untuk menghalau serpihan es mematikan yang melesat bagai hujan belati.

​Di tengah puncak kekacauan dan keputusasaan itu, suara langkah kaki yang sangat tenang namun berat menggema dari arah gerbang. Sesosok pria berbalut jubah hitam pekat berjalan perlahan, membelah badai salju tanpa ragu sedikit pun.

​”Kak Ken!” seru Diyah dengan senyum kelegaan yang luar biasa, meski suaranya nyaris tenggelam di antara raungan naga.

​Ken berhenti melangkah. Ia mendongak perlahan, menatap lurus ke arah sepasang mata naga purba yang sedang murka itu dengan sorot sedingin es abadi.

​”Apa yang sedang kau lakukan di sini, Kawan Tua?” ucap Ken datar.

​Namun, kalimat sederhana itu diiringi oleh ledakan aura Giant Gold yang menekan seluruh alun-alun. Tekanan absolutnya membekukan ruang dan waktu, membuat semua manusia dan monster purba yang sedang mengamuk di tempat itu terdiam kaku seketika.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!