Bab 29

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

Jejak Kekuatan Terlarang

​Ken berdiri dengan tenang di dekat pinggiran formasi Voidgate Rune yang mulai retak. Tatapannya sedatar permukaan cermin, menembus kabut beku yang berputar liar di sekelilingnya. Di hadapannya, Naga Es Purba Drakthar mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Sorot mata monster level kaisar itu biru menyala, menyerupai bara dingin yang siap membinasakan apa saja. Napas sang naga menghembuskan badai es yang menggulung, seolah bersiap menelan seluruh alun-alun ke dalam perut musim dingin abadi.

​Ken sama sekali tidak berkedip. Matanya memantulkan wujud monster purba yang selama dua abad terkurung oleh rantai dan sihir segel tersebut. Raungannya memecah langit, hentakan kakinya mengguncang fondasi bumi, namun sosok Ken berdiri tegak sekokoh tebing karang, seakan amukan kiamat itu hanyalah embusan angin lalu.

​”Tenanglah, Kawan Tua,” gumam Ken pelan. Namun, resonansi suaranya membelah kekacauan dan terdengar cukup jelas, membuat Diyah yang berdiri mematung di belakangnya tertegun.

​”Kak Ken…” suara Diyah bergetar. Napasnya tertahan di kerongkongan, bukan murni karena hawa beku yang menusuk tulang, tetapi karena tatapan mutlak yang terpancar dari pemuda itu—sebuah dominasi absolut yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

​Drakthar meraung lagi. Rantai bercahaya yang mengekangnya bergetar hebat, merintih di ambang kehancuran. Satu per satu retakan baru menjalar di permukaan Rune raksasa tersebut. Jenderal Tegra, Hameng, dan Lamarr nyaris terseret; otot-otot mereka dipaksa berlutut menahan tarikan dahsyat dari makhluk purba itu.

​”Tuan Ken! Cepat lakukan sesuatu!” seru Jenderal Tegra, suaranya tertekan oleh beban rantai yang nyaris memutuskan lengannya.

​Ken menoleh perlahan dengan raut tanpa dosa, tatapannya teramat dingin. “Kalian sudah bisa melepaskan rantai itu, Jenderal,” ucapnya pelan namun membawa otoritas mutlak.

​”Apa?!” seru ketiga jenderal itu hampir bersamaan, mata mereka membelalak tak percaya.

​”Ya… tebakan kalian benar. Lepaskan saja penahannya, lalu segeralah menjauh dari jangkauannya,” lanjut Ken dengan nada santai, seakan melepaskan monster kaisar adalah hal paling wajar di dunia.

​Jenderal Lamarr mendengus kasar, urat lehernya menonjol menahan amarah dan ketakutan. “Dasar orang gila! Baiklah, jika monster ini meratakan istana, kau yang harus menanggung sendiri risikonya!” ucap Lamarr ketus. Ia melepaskan rantainya, lalu berbalik dan berlari mundur tanpa menunggu jawaban.

Kurang ajar kau, Lamarr! Pengecut! batin Jenderal Hameng, rahangnya mengeras menahan geram melihat rekan sejawatnya kabur di saat genting.

​”Baiklah… kami serahkan sisa nyawa kami padamu, Tuan Ken,” ucap Jenderal Tegra akhirnya. Nada suaranya sangat berat, penuh kepasrahan.

​Tegra dan Hameng melepaskan sisa rantai dan memecah pusaran Rune segel. Begitu kekangannya terbebas, Drakthar mengibaskan sayap raksasanya dengan buas. Monster itu menengadah dan menembakkan semburan laser energi es murni ke langit, membelah awan kelabu diiringi raungan yang menggelegar ke seluruh penjuru ibu kota. Tekanan dari suara itu membuat tenggorokan semua orang yang menyaksikannya tercekat ngeri.

​Namun, di tengah euforia kebebasan sang naga, Ken hanya mengangkat satu tangan, memberikan isyarat telepati yang menenangkan. Ajaibnya, monster raksasa itu menghentikan amukannya. Ia menundukkan kepalanya yang sebesar rumah, menatap Ken. Insting buasnya mendadak jinak saat telapak tangan Ken menyentuh sisik di dahinya dengan sangat lembut. Suasana alun-alun seketika berubah drastis—teror mematikan itu menguap, digantikan oleh keheningan yang dipenuhi ketidakpercayaan.

​”Apa kau lapar setelah tidur panjangmu?” tanya Ken tenang. Ia memutar Cincin Ruangnya, mengeluarkan sebuah Buah Pohon Bintang raksasa yang memancarkan pendaran energi surgawi, lalu mengulurkannya ke arah mulut naga es tersebut.

​Semua prajurit dan keluarga kerajaan terpaku mematung. Tanpa menggunakan paksaan kekerasan atau sihir penakluk, pemuda itu berhasil menundukkan makhluk penghancur benua hanya dengan tatapan dan sikap damai!

​”Apa… sihir macam apa yang baru saja dia lakukan?” gumam Jenderal Tegra pelan, masih tak memercayai pandangan matanya sendiri.

​”Wah… Tuan Ken benar-benar dewa! Dengan mudah dia menjinakkan monster sebesar itu!” seru Andin dari kejauhan, matanya berbinar penuh rasa kagum.

​Ken menaruh beberapa butir Buah Bintang lagi di atas lantai es. “Ini… makanlah,” ucapnya pada naga itu. Ia kemudian melangkah mundur, mengeluarkan sebuah Tabung Kapsul Kristal medis dari sabuk ruang perlengkapannya, dan mulai merangkai formasi penyembuhan di sekitarnya.

​Para jenderal hanya bisa saling melempar pandang, otak mereka dipenuhi tanda tanya besar.

​Ken menoleh ke arah Diyah. “Tuan Putri… bawalah Pangeran Kecil kemari.”

​Diyah menelan ludah, menahan gemuruh di dadanya. “Mm-hmm… baik, Kak Ken,” ucapnya. Ia berbalik menatap ibunya. “Ibu Ratu, izinkan aku yang membawa adik ke sana.”

​”Iya, Nak… melangkahlah dengan hati-hati,” Sang Ratu menyerahkan tubuh rapuh balita itu ke pelukan Diyah dengan tangan bergetar.

​Langkah Diyah terasa sangat berat saat mendekati pusat alun-alun. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang. Tatapannya sama sekali tak bisa lepas dari siluet naga raksasa yang kini berdiam tenang mengunyah buah di samping Ken.

​”Kak Ken… apakah… apakah makhluk ini benar-benar tidak akan menyerang?” tanyanya ragu, suaranya merosot menjadi bisikan.

​”Ya… tentu saja aman. Kemarilah,” jawab Ken lembut, menoleh seraya menyunggingkan senyum tipis yang mendamaikan ketakutan gadis itu.

​Diyah menarik napas dalam. Ia mengulurkan tubuh Pangeran Nakula ke pelukan Ken. Dengan gerakan ekstra hati-hati, Ken melepaskan pakaian bayi itu dan membaringkannya ke dalam cairan esensi yang mengisi separuh Tabung Kapsul Kristal tersebut.

​Sembari merangkai segel pada tabung, Ken melirik Diyah yang masih mematung membeku di tempatnya. “Tuan Putri… kau masih ketakutan?” tanyanya, nada suaranya terdengar setengah menggoda.

​Diyah tak mampu mengelak, ia hanya mengangguk kecil.

​”Ayo…” Ken mengulurkan tangannya yang besar, menggenggam lembut jemari Diyah yang dingin, dan menuntun langkah gadis itu hingga berdiri tepat di depan kepala naga tersebut. “Sentuhlah dia. Aku jamin, dia tak akan berani menyakitimu sedikit pun.”

​Drakthar perlahan menundukkan kepalanya, mendengus pelan dengan embusan napas sejuk, sengaja merendahkan diri agar Diyah dapat meraih sisiknya. Diyah menarik napas panjang, menguatkan nyalinya, lalu perlahan merabakan telapak tangannya ke atas kepala sang monster. Sisik itu terasa sekeras berlian namun memancarkan kehangatan kehidupan yang aneh.

Hah… ini… aku benar-benar sedang mengelus seekor naga purba?! batin Diyah bergetar oleh takjub.

​”A-aaa… Hai, Kawan Besar…” gumamnya kaku, mencoba menyapa naga itu dengan senyum canggung. Ajaibnya, seiring sentuhan itu, rasa ngeri di dasar hatinya benar-benar sirna tak berbekas.

​Melihat muridnya sudah tenang, Ken kembali memusatkan fokus pada Tabung Kapsul Kristalnya. “Sekarang… waktunya aku mulai menarik Pangeran Kecil dari gerbang kematian.”

​”Mm-hmm… lakukanlah, Kak Ken,” ucap Diyah. Ia melangkah mundur secara perlahan, lalu bergegas kembali berkumpul ke barisan keamanan bersama keluarganya.

​Ken menatap lurus ke arah Sang Raja. “Paduka Raja… sekarang aku akan memulai ritualnya. Aku menuntut syarat mutlak: tidak boleh ada satu pun yang mengganggu proses ini! Jika konsentrasiku terputus dan ritual ini gagal… nyawa Pangeran dipastikan tidak akan selamat. Ini adalah satu-satunya jalan keluar, dan kemungkinan keberhasilannya… hanya sepuluh persen.”

​Raja Bawigan menarik napas sangat panjang, menelan beban keputusasaan. “Baiklah. Kami menyerahkan semuanya padamu. Tolong… selamatkan putraku,” titah Raja dengan suara parau. Ia kemudian berbalik menatap pasukannya. “Prajurit! Bentuk barikade perisai penuh! Jangan biarkan sehelai daun pun berani mendekati area Tuan Ken!” teriak Raja.

​”Siap, Paduka Raja!” jawab ratusan pasukan garda serempak, mengentakkan perisai mereka ke bumi.

​”Kak Ken! Tenang saja, aku dan Kirin akan berjaga di garis depan untuk melindungimu!” teriak Elisha dari kejauhan. Wajah gadis kecil itu terlihat sangat teguh, memancarkan keberanian yang luar biasa.

​”Ya… aku percayakan punggungku padamu, Putri Kecil,” balas Ken dengan senyum bangga yang singkat.

​Ken memutar katup pada Tabung Kapsul, membiarkan Cairan Esensi Spiritual khusus mengisi penuh ruang tabung hingga tubuh mungil Pangeran menenggelam seolah kembali tertidur damai di dalam rahim. Setelah parameter pelindung stabil, Ken menoleh pada sang naga.

​”Kawan Tua… apakah kau sudah siap menebus kebebasanmu?”

​Monster naga itu menatap Ken, lalu mengibaskan sayapnya pelan. Raungannya kembali mengguncang bumi, namun kali ini bukan raungan kemarahan, melainkan deklarasi kepasrahan. Sinar energi biru kembali menyembur ke langit dari mulutnya, meledakkan sisa kekuatan terakhir yang jauh lebih dahsyat. Setelah membuang sisa perlawanannya, Drakthar merunduk tenang, meletakkan kepalanya di atas es, siap menyerahkan segalanya.

​Ken duduk bersila di atas atap Tabung Kapsul. Ia merapal mantera tingkat dewa. Sebuah pola Rune sakral bercahaya emas seketika muncul membelah ruang di antara dirinya dan sang naga, mulai mengisap inti energi purba dari makhluk legendaris tersebut. Secara perlahan, energi kehidupan naga itu mengalir memasuki meridian tubuh Ken, diproses, lalu diteruskan dan dipompa masuk ke dalam Tabung Kapsul Pangeran Nakula.

​Menyaksikan fenomena transfer energi ekstrem tersebut, Jenderal Tegra terperanjat hebat. Matanya membelalak ngeri. “Hah! T-tunggu dulu…! Aliran sihir ini… bukankah ini adalah Teknik Pengorbanan?! Paduka Raja…?!”

​Putri Julia menoleh cepat dengan wajah pucat pasi. “Teknik Pengorbanan?! Ayah, sihir gila apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?!”

​Raja terdiam sesaat, memejamkan matanya rapat-rapat sebelum menjawab dengan suara yang sangat berat. “Sejak awal… Ken sudah membeberkan semuanya padaku. Nakula hanya bisa diselamatkan dengan satu cara mutlak. Sebuah teknik alkemi kuno… yang bahkan Ken sendiri belum pernah mempraktikkannya seumur hidupnya. Teknik Pengorbanan—Raga Langit.”

​”Hah?! Apa dampaknya dari teknik itu, Ayah?!” tanya Julia, kepanikannya memuncak.

​”Teknik ini… menuntut pertukaran kesetaraan yang kejam. Menukar kehidupan dan esensi kultivasi seseorang… demi memanipulasi takdir dan menyelamatkan nyawa orang lain,” jelas Raja dengan suara bergetar.

​”A-apa?! Jadi maksud Ayah… Kak Ken sedang mencoba mengorbankan nyawanya sendiri untuk mati menggantikan adikku?!” seru Diyah histeris, wajahnya seketika sepucat kertas putih.

​Raja menghela napas, mencoba menahan air matanya. “Dia meyakinkanku… jika ritual ini berhasil sempurna, tak akan ada nyawa yang melayang. Hanya saja… batas kekuatan dan kultivasi Ken dipastikan akan anjlok drastis dan membakar habis vitalitasnya, yang mungkin butuh waktu puluhan tahun untuk pulih. Tapi… taruhannya tetaplah nyawanya sendiri jika ia gagal menahan arus energi naga itu. Karena peluang keberhasilannya… benar-benar hanya sepuluh persen.”

​Hening yang menyayat hati seketika menelan barisan keluarga kerajaan. Semua orang menatap punggung Ken yang bergetar menahan tekanan, terus memusatkan tenaga di atas tabung.

​”Hah… Kak Ken! Apakah benar-benar tak ada jalan keluar lain yang lebih aman, Ayah?” lirih Elisha, matanya berkaca-kaca menatap pahlawannya.

​”Tak ada, Nak…” jawab Raja, suaranya pecah di ujung kalimat. “Aku sempat melarang keras tindakan bunuh dirinya ini. Tapi, tahukah kau apa jawabannya? Dia hanya menatapku dan berkata… ‘Tenang saja, Paduka Raja. Aku mengambil risiko mematikan ini bukan karena memedulikan takhtamu… melainkan murni demi menebus dua permohonan tulus dari janji yang kuikat pada Elisha.’

​Mendengar itu, pertahanan Elisha runtuh. Gadis kecil itu menahan tangis, namun isakannya tetap lolos. “Hhh… Kak Ken! Maafkan aku! Seandainya aku tahu ini bayarannya… aku tak akan memintanya!” Elisha mengepalkan tangan mungilnya erat-erat, menghapus air matanya dengan paksa. Ia membalikkan badan menghadap luar arena. “Baiklah! Jika ada satu lalat pun yang mencoba mendekat dan mengganggu konsentrasi Kak Ken… aku dan Kirin bersumpah akan mencabik-cabik mereka menjadi serpihan! Kirin, Mode Tempur!!”

​Merespons tekad tuannya, Kirin meraung ganas. Tubuhnya meledak membesar, bertransformasi ke wujud pertempuran berlapis zirah magma, berdiri kokoh layaknya benteng pelindung mutlak di depan barisan.

​Di pusat ritual, energi biru keputihan dari naga es itu mulai mengalir deras menembus pola Rune, menyebar layaknya jaring arus listrik yang menyengat saraf Ken. Secara perlahan, aura buas sang naga mulai mereda. Tubuh raksasanya berangsur-angsur menyusut; sirip es dan sisik bajanya yang dulu bergerak liar kini mengambang tenang memudar, seakan entitas purba itu telah menemukan kedamaian abadinya dalam pengorbanan ini.

​Ken menarik napas yang sangat berat, fokusnya dipacu seratus persen ke dalam kapsul. Cairan Esensi di dalamnya mulai berpendar lembut. Cahaya biru kosmik melingkupi seluruh tubuh mungil Pangeran Nakula. Melalui perantara tubuh Ken, saringan energi murni dari naga purba itu disuntikkan menembus pori-pori sang pangeran, membakar racun dan secara paksa meregenerasi setiap sel yang telah rusak.

Pangeran Kecil… Aku sama sekali tidak memiliki metode untuk mengeluarkan akar racun laknat dari dalam tulangmu. Jadi… satu-satunya cara, aku akan menimpa dan mengubah miasma racun itu agar bermutasi menjadi fondasi kekuatan barumu, batin Ken, mengertakkan giginya menahan rasa sakit yang luar biasa saat mengalirkan energi.

​Ken menutup mata sejenak, mengatur sirkulasi pernapasannya yang mulai berantakan. Keringat dingin bercampur darah menetes deras di dahinya, namun raut wajahnya ia paksakan untuk tetap terlihat setenang danau. Ia memusatkan seluruh sisa kapasitas meridiannya, menyedot habis esensi jiwa sang naga sepenuhnya, dan memompakannya ke jantung Pangeran Kecil tanpa menyisakan setetes pun untuk dirinya sendiri.

Kak Ken, aku mohon bertahanlah… Aku percaya kau pasti bisa melewati batas ini. Berjuanglah, Kak Ken! batin Diyah menjerit pilu, menautkan kedua tangannya memanjatkan doa pada sang pencipta.

​Monster Naga Es itu akhirnya mencapai batas akhirnya. Wujud fisiknya memudar drastis menjadi transparan, dan mengecil hingga energi raksasanya tersedot habis ke dalam formasi Rune. Seluruh arus purba itu tuntas dialihkan ke dalam Tabung Kapsul.

​Ken menundukkan kepalanya, napasnya tersengal parah, tubuhnya terlihat luar biasa ringkih. Otot-ototnya seakan mencair, bahunya merosot turun. Namun, di tengah penderitaan yang menggerogoti nyawanya itu, sebuah senyum tipis kepuasan tetap terukir di bibirnya.

​Di saat yang bersamaan, sebuah pemandangan tragis tersaji di depan mata semua orang. Warna rambut kemerahan Ken secara perlahan memudar dari akar hingga ke ujungnya, berubah menjadi putih pucat pasi secara instan—bukti nyata dari vitalitas kehidupan dan usianya yang telah terbakar habis oleh Teknik Pengorbanan Raga Langit.

​Air spiritual di dalam kapsul kini berhenti bergejolak. Cahaya biru perlahan meredup, menandakan bahwa ritual transplantasi energi kosmik itu telah terselesaikan sepenuhnya.

​Jenderal Tegra dan Hameng hanya bisa ternganga mematung, tenggelam dalam kekaguman sekaligus simpati yang mendalam. “Hah… ini… sihir pertukaran nyawa yang sesungguhnya… Sebuah pengorbanan yang teramat menakjubkan,” gumam Tegra lirih, matanya tak sanggup lepas dari figur rapuh Ken.

​Ken perlahan membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah. Tubuhnya luar biasa lemah, setiap pergerakan sekecil apa pun terasa bagai sayatan ribuan belati yang menggerogoti ototnya. Sekali lagi ia menghela napas, dadanya terguncang sedikit—membayar hantaman balik dari volume energi naga yang baru saja ia salurkan. Meski berada di ambang kolaps, tatapan mata Ken tetap menyala tegas, seolah sengaja ingin membohongi dan meyakinkan semua orang bahwa kondisinya sangat baik-baik saja.

​Cairan penyembuh di dalam kapsul mulai mendesis surut ke saluran pembuangan. Uap putih mengepul tebal, menyelimuti tabung kaca kristal itu hingga pandangan terhalang kabut.

​Perlahan, pintu kapsul otomatis terbuka dengan desis hidrolik yang lembut. Dari balik tirai uap, melangkahlah seorang anak laki-laki yang kini terlihat seperti balita sehat berusia lima tahun. Anak itu bertelanjang kaki, kulitnya merona bersih dan memancarkan pendaran cahaya kehidupan baru yang teramat murni. Tak ada lagi sisa-sisa racun mematikan di sana.

​Semua pasang mata membelalak tak percaya. Suara helaan napas tercekat menyapu setiap sudut alun-alun.

​”Pangeran… Putraku…,” bisik Sang Ratu dengan suara yang nyaris tak terdengar, air mata menderas tanpa bisa dibendung di sudut matanya.

​Anak kecil itu—Pangeran Nakula—berdiri tegak dengan kaki mungilnya. Sepasang matanya yang polos menatap lurus ke arah Ken yang masih terduduk lemah di atas atap kapsul. Meski nyaris tak bernapas, postur Ken tetap memancarkan wibawa absolut seorang pelindung.

​Dengan suara kekanak-kanakan yang teramat jernih dan menggemaskan, Nakula memiringkan kepalanya dan bertanya, “Kakak… apakah kamu baik-baik saja?” Ia terdiam sejenak mencerna pengorbanan itu, lalu menyunggingkan senyum yang teramat tulus. “Terima kasih banyak… karena telah membawaku kembali dan menyelamatkanku, Kakak Hebat.”

​Ken menatap bocah itu dengan kelopak mata yang memberat, bibir pucatnya melengkung tipis merespons senyum tersebut. “Ya… aku baik-baik saja, Pangeran. Tapi kurasa… sebaiknya kau segera meminta ibumu mencari pakaian,” jawab Ken datar, suaranya serak namun tetap mengalun tenang.

​Nakula mengerutkan kening, lalu menunduk memperhatikan tubuhnya sendiri yang polos tanpa sehelai benang. Seketika, wajah balita itu merona merah padam layaknya tomat rebus.

​”Ahh… Ibundaaaa! Tolong, mana bajuku?!” teriaknya malu-malu seraya menyilangkan tangan mungil menutupi tubuhnya. Ia lalu menoleh cepat ke arah barisan pengawal dan jenderal yang menatapnya. “Ehh! Paman-Paman semua jangan berani-berani mendekat melihatku dulu!” serunya dengan gaya polos khas anak-anak, membuat semua orang yang sedari tadi diliputi isak tangis mendadak terdiam, terombang-ambing antara perasaan bingung dan tawa kecil yang memecah ketegangan.

​Julia menggelengkan kepalanya pelan, masih merasa seolah sedang bermimpi melihat transformasi ajaib adiknya. “Astaga… lihatlah dia… apakah balita energik ini benar-benar Nakula kita?” gumam Julia, matanya tak bisa lepas mengagumi pangeran kecil yang kini memancarkan kehidupan penuh.

​Ken menggeser tubuhnya, berusaha turun secara perlahan dari atas tabung kapsul. Setiap inci pergerakannya terasa begitu menyiksa. Ia melangkah turun dengan gontai. Rambutnya yang kini telah berubah menjadi putih abadi menjadi saksi bisu atas harga mahal yang baru saja ia tebus.

​Melihat pria itu nyaris terjatuh, Diyah segera melesat menyongsongnya. Ia menahan lengan Ken dan merangkulkan tangan pemuda itu ke bahunya, memapah beban tubuh Ken dengan segenap tenaganya.

​”Kak Ken… katakan padaku dengan jujur, apa kau benar-benar baik-baik saja?” tanyanya lembut, matanya menyiratkan kekhawatiran yang menembus dasar hati.

​Ken menyunggingkan senyum samar untuk menenangkannya. “Iya, Diyah… aku hanya terkuras habis. Aku cuma perlu tidur panjang untuk memulihkan sisa kekuatanku,” jawabnya singkat, suaranya melemah nyaris menyerupai bisikan angin.

​Di sisi lain, Ratu segera berlari mendekat, melebarkan jubah hangatnya dan menyelimuti tubuh mungil Nakula. Ia mendekap putra semata wayangnya itu erat-erat ke dadanya, air mata tumpah membasahi rambut sang pangeran tanpa bisa ditahannya lagi. “Nakula… oh, Nakula-ku sayang… kau akhirnya kembali pada Ibu…,” isaknya penuh haru.

​Ken menatap pemandangan keluarga bahagia itu sejenak, lalu berusaha menstabilkan napasnya. “Paduka Ratu, Anda tidak perlu cemas lagi,” ucap Ken dengan suara tenang, meski tubuhnya masih sedikit gemetar menahan sakit. “Pangeran Kecil telah sembuh total. Kondisi meridian, fisik, dan kecerdasannya kini berfungsi sangat normal sesuai dengan anak seusianya… atau mungkin bahkan fondasinya jauh melampaui rata-rata. Aku sudah menggunakan seluruh sisa kekuatan naga itu untuk memaksimalkan potensi tubuhnya.”

​Mendengar itu, Ratu segera melepaskan pelukannya pada Nakula, menghampiri Ken, dan memeluk pria itu tanpa ragu sedikit pun—layaknya seorang ibu yang memeluk pahlawan suci yang telah mengembalikan dunianya. “Nak… Ibu tidak tahu bagaimana cara membalas utang nyawa ini… Terima kasih yang tak terhingga… Tapi, bagaimana dengan kondisimu sendiri? Apa tubuhmu benar-benar sanggup menanggungnya?” tanya Ibu Ratu, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis haru.

​”Singkirkan rasa khawatir Anda, Ibu Ratu… aku benar-benar hanya perlu mengistirahatkan meridianku,” balas Ken menepuk pelan punggung Ratu dengan sopan dan tenang.

​Ratu mengangguk mengerti, perlahan melepaskan pelukannya. “Baiklah… kembalilah ke paviliunmu dan segeralah beristirahat memulihkan tenagamu.”

​Diyah mengeratkan pegangannya pada lengan dan pinggang Ken. “Kak Ken, aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Biarkan aku yang memapah dan menemanimu beristirahat,” ucapnya dengan nada final, matanya bersinar menyiratkan tekad bulat yang tak menerima penolakan.

​Ken tersenyum pasrah, menyandarkan sebagian bobot tubuhnya pada gadis itu. “Ya… baiklah, jika kau memaksa.”

​Dengan langkah yang sangat pelan dan tertatih, Ken dan Diyah berjalan beriringan meninggalkan keriuhan alun-alun, melangkah kembali menuju paviliun penginapan Ken.

​Di belakang mereka, Raja Bawigan berdiri mematung, menatap punggung Ken dengan pandangan penuh haru. Suara sang penguasa tertinggi itu pecah oleh gelombang emosi yang tak lagi bisa ia bendung. “Nakula… kau kembali dengan selamat… semua mukjizat ini murni berkat pengorbananmu, Ken,” gumamnya lirih, namun resonansinya cukup dalam untuk menyentuh telinga semua orang, memaksa seluruh jenderal dan prajurit di alun-alun itu menundukkan kepala dalam keheningan penuh hormat.

​Ken terus berjalan menjauh, bayangannya membentang panjang di atas lantai marmer istana yang beku. Helaian rambutnya yang kini memutih keperakan memantulkan cahaya senja—sebuah mahkota tak kasat mata yang menjadi saksi abadi atas pengorbanan besar yang baru saja ia selesaikan.

​Dan di balik pintu kamar penginapan yang tertutup pelan sore itu, sebuah babak kehidupan yang baru telah dimulai—bukan lagi soal menaklukkan naga purba, melainkan tentang menghitung harga mahal yang harus ia bayar demi mengubah takdir dan menyelamatkan satu nyawa murni.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!