Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Dunia Rahasia Ken
Dyah memapah tubuh Ken melewati lorong-lorong istana yang sunyi. Langkah mereka akhirnya terhenti di depan paviliun tamu kehormatan tertinggi—sebuah bangunan megah yang ditopang oleh tiang-tiang kristal es murni dan berlantaikan marmer yang memancarkan pendaran biru laut. Cahaya mentari senja menembus atap kubah transparan, membias dan menciptakan efek visual layaknya ribuan berlian yang menari-nari di udara.
Dyah membuka pintu berukir itu lebar-lebar, lalu dengan hati-hati membantu Ken duduk di atas kursi kebesaran berlengan tinggi yang terletak tepat di tengah paviliun.
Dyah kemudian menarik sebuah kursi kecil dan duduk di dekat Ken. Ia meletakkan kedua tangannya di pangkuan, menatap wajah pemuda di sampingnya dengan sorot penuh kepedulian. “Kau pasti sudah kelelahan hingga ke batas meridianmu, Kak Ken. Apa ada hal lain yang bisa kubantu untuk meringankan lukamu?” tanyanya dengan nada lembut.
Ken mengembuskan napas panjang, menatap sekeliling paviliun mewah itu dengan pandangan datar. “Sebenarnya… aku tidak berniat memulihkan kekuatanku di tempat terbuka seperti ini,” ucap Ken.
Kening Dyah berkerut halus, sorot matanya menyiratkan kebingungan. “Jadi… kita akan pindah ke mana lagi?”
”Aku akan membawamu ke suatu tempat rahasia. Apa Tuan Putri bersedia ikut denganku?” tawar Ken, menoleh dan menatap mata gadis itu lekat-lekat.
”Hmmm, ya… Tentu saja aku mau,” jawab Dyah tanpa keraguan sedikit pun.
Ken bangkit berdiri perlahan. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan menggenggam jemari Dyah dengan hangat. “Berdirilah,” titah Ken lembut. Dyah pun bangkit dari kursinya, mengikuti arahan pemuda itu.
”Sekarang, tutup matamu,” instruksi Ken lagi.
Aaa… Kak Ken, sihir ruang macam apa lagi yang ingin kau tunjukkan padaku kali ini? batin Dyah sedikit curiga namun dipenuhi rasa penasaran. “Mm-hmm,” gumamnya patuh, perlahan memejamkan kedua kelopak matanya.
Begitu mata Dyah terpejam, Ken memusatkan sisa energi Qi-nya. Ruang di sekeliling mereka berdistorsi hebat, melipat dimensi dan merobek hukum ruang fana. Sensasi tarikan hampa udara terasa sejenak, sebelum akhirnya kaki mereka kembali memijak permukaan yang padat.
”Sekarang, kau boleh membuka matamu,” ucap suara Ken yang mengalun tenang di dekat telinganya.
Dyah perlahan membuka matanya. Detik berikutnya, napas gadis itu tertahan di tenggorokan.
”Wahh…” gumam Dyah, suaranya nyaris menghilang ditelan ketakjuban yang luar biasa. Matanya membelalak tak percaya.
Saat ini, ia tengah berdiri di atas sebuah daratan pulau raksasa yang melayang anggun di tengah lautan awan. Pulau terbang itu dikelilingi oleh air terjun spiritual yang mengalir jatuh tanpa henti menembus kabut tebal di dasar jurang awan di bawah mereka. Tepat di pusat pulau, berdiri sebuah istana megah beraura keabadian yang menaranya menjulang angkuh menembus cakrawala.
Dyah menelan ludah dengan susah payah, tak mampu mengalihkan pandangannya dari panorama surgawi tersebut. “Kak Ken… tempat apa ini? Aku… aku bahkan kesulitan mempercayai kewarasanku sendiri. Apakah mata ini benar-benar sedang melihat kenyataan?”
Ken melangkah maju perlahan, membiarkan angin sejuk yang membawa aroma murni menyapu jubahnya. “Inilah… dunia rahasiaku,” ujar Ken lirih namun memancarkan wibawa seorang penguasa mutlak. “Sebuah dimensi tersembunyi yang tidak diketahui oleh makhluk fana mana pun di luar sana.”
Dyah menoleh cepat, menatap wajah Ken dari samping. “Dunia rahasia? Kau… kau memiliki dan menyembunyikan dunia seindah ini sendirian?!”
Ken mengangguk pelan, senyum tipis yang sarat akan beban masa lalu menghiasi wajahnya. “Bukan murni untuk kusembunyikan, melainkan untuk kulindungi. Dunia ini… adalah tempat suaka abadi di mana berbagai macam ras Monster Bintang—mulai dari yang baru menetas hingga yang berusia ratusan ribu tahun—bisa hidup dengan damai.”
Dyah melangkah maju seperti terhipnotis, matanya terpaku pada siluet istana megah yang terbentang di hadapannya. Bangunan-bangunan istana itu memancarkan kilau keemasan; pilar-pilar dan menara tertingginya tampak seindah lukisan para dewa yang dihidupkan. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup esensi spiritual yang luar biasa padat.
”Aku… aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa, Kak Ken,” ucap Dyah, menatap pemuda di sampingnya dengan mata yang berbinar penuh kekaguman. “Ini… ini terasa seperti mimpi. Seperti berada di dalam dunia yang hanya pernah kubaca di dalam mitos legenda kuno.”
Ken menatap gadis itu sesaat. Ia menghela napas perlahan, seakan menimbang bobot kata-katanya sendiri sebelum melanjutkan. “Mulai detik ini, Tuan Putri… kau telah resmi menjadi bagian dari rahasia besar ini.”
Mendengar afirmasi itu, Dyah secara naluriah menggenggam tangan Ken erat-erat, seolah takut jika cengkeramannya mengendur, semua keajaiban di depan matanya ini hanyalah ilusi yang akan menguap. “Kalau begitu… aku bersumpah akan menjaganya dengan nyawaku, Kak Ken.”
Pandangan Dyah kemudian mendongak, tertuju pada sebuah prasasti raksasa dengan ukiran aksara bercahaya yang terpahat tepat di atas gerbang istana. “Tulisan apa itu, Kak Ken? Aku tidak bisa membaca aksaranya,” tanyanya sembari mengerutkan kening.
Ken melirik sekilas ke arah gerbang tersebut, lalu menjawab dengan tenang. “Itu adalah aksara rune kuno. Cara membacanya adalah ‘Kor-Zi-an’. Dari prasasti itulah aku mengambil dan memberikan nama untuk dunia dimensi ini.”
”Hmm… jadi nama tempat suci ini adalah Dunia Korzian, ya?” Dyah memastikan dengan suara lirih, mengeja nama itu dalam hatinya.
Ken mengangguk. Ia menoleh ke arah hamparan pulau dan istana di kejauhan. Cahaya matahari dimensi yang hangat menyinari air terjun, membuat aliran airnya berkilau bagai ribuan benang perak yang terurai jatuh dari langit. Senyum kebanggaan kembali menghiasi wajah Ken.
”Bagi para penguasa di dunia luar sana, tempat ini pasti akan dianggap sebagai harta karun surgawi yang pantas diperebutkan dengan pertumpahan darah,” ujar Ken sambil menunjuk ke sekeliling. “Luas dunia rahasia ini membentang hingga setara dengan setengah dari luas daratan benua fana tempat kita tinggal. Dan di tempat ini, para Monster Bintang bisa berevolusi secara alami tanpa harus saling memangsa atau membahayakan peradaban manusia.”
Tiba-tiba, sebuah pekikan nyaring yang sangat panjang membelah awan di langit, membuat bulu kuduk Dyah seketika berdiri.
”Hah! Suara itu… Bukankah itu Garu?!” tanyanya, matanya membelalak mencari sumber suara di angkasa.
Ken mengangguk membenarkan. “Ya… tebakanmu sangat tepat. Itu memang Garu.”
Dyah menengadah menatap langit cerah dengan kagum, melihat siluet elang raksasa itu berputar bebas di udara. “Wah… jadi selama ini dia juga tinggal dan hidup di tempat seindah ini.”
Ken menarik pelan tangan Dyah, menuntun gadis itu melangkah menaiki undakan tangga batu putih yang mengarah ke pelataran istana. “Kemarilah, Dyah. Di sebelah sini adalah kawah pelatihan utama. Dengan menempatkan diri berlatih di sini, fondasi kekuatanmu bisa melonjak berlipat ganda dalam waktu yang sangat singkat.”
Ken menunjuk ke arah tiga buah mulut gua raksasa yang pintunya terbuat dari lempengan batu hitam pekat sekeras obsidian. “Berlatih di dalam ruangan itu selama satu jam, efeknya setara dengan memeras keringat seharian penuh di dunia normal. Fasilitas ini sangat sempurna untuk menghancurkan dan membangun kembali ketahanan fisikmu.”
”Hah?! Ada ruang manipulasi waktu dan tekanan seperti itu?!” Dyah menatap Ken dengan mata membulat sempurna. “Satu jam di dalam sana setara dengan berlatih seharian penuh?”
Ken menggelengkan kepalanya mengoreksi. “Bukan manipulasi waktu. Tapi manipulasi medan beban. Di dalam sana, tekanan gravitasi akan dilipatgandakan secara ekstrem. Ruang latihan itu memiliki seratus tingkatan level gravitasi yang bisa diatur sesuai batas toleransi fisik kita. Rasio peningkatan dari satu level ke level berikutnya adalah kelipatan ganda dari berat aslimu. Jadi, setiap langkah kaki, setiap napas, dan setiap ayunan senjatamu di dalam sana, akan benar-benar menyiksa sekaligus mengasah sel-sel fisikmu.”
Dyah mengangguk perlahan, otaknya mencoba mencerna siksaan fisik yang tak terbayangkan itu. “Berarti kita benar-benar dipaksa melatih otot dan teknik bertarung dengan menanggung beban bumi, dan tekanannya terus bertambah seiring level ruangan.”
”Tepat sekali,” jawab Ken. “Ingatlah teori ini: Tubuh fana manusia adalah wadah bagi Energi Segel Bintang. Semakin kuat material wadah fisikmu, semakin besar volume dan daya ledak energi kosmik yang bisa kau tampung serta kendalikan tanpa takut meledak dari dalam.”
Dyah memutar pandangannya, lalu matanya tertuju pada sebuah gua keempat yang mulutnya jauh lebih masif dan tertutup gerbang logam yang diukir dengan rune mematikan. “Gua raksasa yang di ujung sana itu… apakah fungsinya sama, Kak Ken? Auranya terasa jauh lebih mengerikan.”
”Pengamatanmu tajam,” Ken menjelaskan dengan nada sangat serius. “Itu juga merupakan kawah pelatihan. Namun… ruangan itu hanya bisa diakses setelah seseorang sukses menuntaskan dan bertahan hidup dari level seratus di Ruang Latihan Dewa (tiga gua pertama). Level gravitasi di gua besar itu berada di luar nalar manusia. Nekat melangkah masuk ke sana sebelum wadah fisikmu siap… tulang dan meridianmu akan hancur menjadi bubur, berakibat fatal pada kematian.”
Dyah menelan ludah dengan susah payah, wajah cantiknya memucat pasi mendengar deskripsi horor tersebut. “Benar-benar… sebuah ruangan kematian?”
Ken mengangguk, menatap Dyah dengan sorot mata peringatan. “Itulah yang kusebut sebagai Ruang Latihan Bintang. Hanya entitas yang telah sukses menaklukkan seratus tingkat penempaan di Ruang Latihan Dewa yang berhak masuk ke dalamnya dan keluar dengan selamat.”
Dyah terdiam, merasakan bobot dan kengerian dari kata-kata Ken. Namun sedetik kemudian, ia mengepalkan tangannya dan mengangguk mantap. “Aku mengerti, Kak Ken. Aku berjanji akan berlatih sekuat tenaga hingga batas kemampuanku.”
Ken tersenyum tipis. Ia menoleh dan menatap tangan kanan Dyah. “Sekarang, lepaskan dan berikan Cincin Ruangmu padaku sebentar, Tuan Putri.”
Tanpa banyak bertanya, Dyah melepaskan cincin pusakanya dan menyerahkannya dengan lembut namun mantap. “Ini, Kak Ken.”
Ken memusatkan secercah energi emas di ujung jarinya, lalu menanamkan sebuah formasi segel ke dalam mata cincin Dyah. “Mulai detik ini, selama Tuan Putri berada dalam radius jangkauan dimensiku, Tuan Putri memiliki otoritas mutlak untuk membuka portal, keluar-masuk dunia Korzian ini sesuka hati, dan menggunakan fasilitas ruang latihan itu kapan pun kau mau.”
Dyah menerima kembali cincinnya dan menggenggamnya erat ke dadanya. “Mm-hmm… aku sangat menghargainya, Kak Ken.”
”Sekarang, mari kita masuk ke dalam,” ajak Ken seraya melangkah menaiki tangga utama istana.
Interior istana yang mereka masuki sungguh sebuah mahakarya yang menentang akal sehat. Dinding-dindingnya dibangun dari leburan emas cair kosmik yang ditempa hingga sempurna, disatukan dengan bongkahan batu-batu purba yang kekerasannya mampu menandingi gerusan zaman. Istana itu memantulkan cahaya matahari dari dalam, menghasilkan pendaran cahaya abadi yang menyilaukan.
Setiap pilar penyangga dan lekuk ukiran di dindingnya seakan menyimpan ribuan rahasia kuno alam semesta. Lorong-lorong pualam yang panjang membimbing langkah mereka menyusuri berbagai ruang sakral: mulai dari aula utama berlambang naga dengan langit-langit setinggi langit yang dipenuhi ornamen galaksi bercahaya, kamar-kamar istirahat berlapis permata langka, hingga ruang pertemuan melingkar yang ukurannya terasa sanggup menampung luasnya seluruh semesta. Suara langkah kaki mereka menggema jernih, menambah kesan magis bahwa istana purba itu hidup dan bernapas.
Dyah memutar kepalanya ke segala penjuru, matanya bersinar dipenuhi kekaguman yang meluap-luap. “Wah… kemegahan tempat ini… ini sudah jauh melampaui konsep istana para kaisar, Kak Ken. Ini murni istana kerajaan surgawimu sendiri.”
Ken terkekeh kecil, menatap Dyah dengan kehangatan. “Baiklah. Sisa energiku sudah benar-benar menipis. Aku harus segera melakukan meditasi penyembuhan. Tuan Putri bebas menjelajahi setiap sudut tempat ini sepuas hati. Aku mungkin akan mengunci diri dan membutuhkan waktu beberapa jam untuk pulih sepenuhnya.”
Mereka menghentikan langkah di sebuah ruangan khusus di mana inti energinya paling padat. Di tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah bongkahan Batu Giok Hijau raksasa yang dibentuk menyerupai ranjang kokoh. Permukaan batu itu secara alami mengeluarkan kabut asap tipis yang mengandung esensi penyembuhan murni.
Ken menatap ranjang spiritual itu sejenak, lalu naik dan duduk bersila di atasnya. Ia menutup mata, memusatkan fokusnya untuk mulai menyerap Qi alam dan memulihkan kekuatannya.
Dyah melangkah ke sudut ruangan dan duduk di sebuah kursi kayu gaharu dekat jendela melengkung. Ia menopang dagunya, menatap wajah Ken yang damai dengan penuh perhatian. Kak Ken… kau benar-benar pria yang memikul ribuan rahasia dunia. Aku sangat senang dan merasa terhormat kau bersedia mempercayakan kepingan rahasia terbesarmu ini padaku, pikir Dyah sembari tersenyum kecil.
Sinar matahari senja dimensi Korzian menembus masuk melalui kaca jendela, memantul pada dinding emas istana dan menciptakan pola-pola cahaya hangat yang menari-nari di sekitar mereka. Suasana absolut yang sunyi itu membuat batin Dyah merasa sangat damai. Namun di saat yang sama, darah mudanya bergejolak, mendidih oleh semangat untuk segera mencicipi fasilitas latihan gila yang ditawarkan Ken.
Setelah satu putaran dupa berlalu, Ken perlahan membuka kelopak matanya. Pendaran energi di sekitar tubuhnya kembali stabil, menandakan esensinya telah pulih sedikit demi sedikit.
Dyah segera bangkit berdiri dan menghampiri ranjang giok itu dengan senyum lebar. “Aku akan terus menemanimu di sini, Kak Ken. Sampai tenagamu benar-benar pulih seratus persen.”
Ken mengangguk, membalas dengan senyum tipis. “Terima kasih atas kesetiaanmu, Tuan Putri.”
Dyah duduk di tepi ranjang giok hijau itu. Ia mengusap permukaan batunya yang sejuk, lalu kembali menatap mata Ken. “Aku berjanji ingin mempelajari dan menjaga setiap rahasia tempat ini dengan nyawaku, Kak Ken. Dunia Korzian ini terlalu luar biasa untuk dirusak…”
Ken menatap mata gadis itu dalam-dalam. Tatapannya menembus jiwa, seakan mentransfer pesan tak terucap bahwa beban rahasia ini memang sangat berat, tapi juga merupakan tanggung jawab yang teramat suci. “Aku menaruh kepercayaanku yang paling tinggi di pundakmu, Tuan Putri.”
Mereka duduk berdua dalam keheningan yang nyaman. Hanya sayup-sayup gemericik air terjun spiritual dari luar dan desah lembut angin awan yang terdengar masuk. Suasana itu seolah menegaskan bahwa Dunia Korzian ini bukanlah sekadar tempat singgah benda mati, melainkan sebuah entitas kehidupan raksasa yang menunggu untuk dijelajahi dan dilindungi oleh mereka berdua.
Dyah terus menatap profil wajah Ken yang kini tengah beristirahat menutup matanya kembali di atas ranjang giok. Garis wajah pemuda itu tampak begitu tenang, seakan seluruh beban kebencian dan intrik dunia luar ikut mencair bersama aliran energi giok yang memulihkannya.
Dyah terdiam sejenak menikmati kedamaian itu. Namun, insting petarungnya memberontak. Kakinya terasa gatal; ia sangat ingin mengetahui sejauh mana batas kemampuannya di dunia ini, bukan hanya duduk diam layaknya pajangan istana.
Pikirannya kembali tertuju pada tiga pintu batu obsidian di luar sana—Ruang Latihan Dewa. Dyah menelan ludah dengan susah payah, jantungnya kembali berdebar kencang memompa adrenalin. Kalau aku menyelinap keluar dan mencobanya sebentar… rasanya tidak akan menjadi masalah besar, kan? bisiknya membujuk dirinya sendiri.
Namun, baru saja kakinya beringsut mundur hendak melangkah pergi, suara teguran Ken yang sangat tenang namun tajam menghentikannya.
”Tuan Putri… sepertinya darah petarungmu sudah tidak sabar lagi ingin disiksa, ya?”
Dyah terperanjat, bahunya melompat saking kagetnya tebakannya terbaca. Ia buru-buru menoleh ke belakang dan mendapati Ken sudah membuka matanya, menatap gadis itu dengan senyum miring yang menyebalkan.
”A-aku hanya… aku hanya ingin mengujinya sedikit saja! Rasanya seluruh ototku berontak jika aku hanya disuruh duduk diam saja di sini,” jawab Dyah jujur, meremas jemarinya dengan wajah yang mulai memerah karena malu tertangkap basah.
Ken bangkit perlahan dari atas Ranjang Giok. Sisa-sisa aura penyembuhan berwarna hijau zamrud masih mengepul tipis dari pori-pori tubuhnya. “Baiklah. Kalau itu maumu, mari aku temani. Tapi dengarkan peringatanku, Dyah… meskipun kau hanya berniat menginjakkan kaki di ubin level pertama, hukum gravitasi di dalam ruangan itu sama sekali tidak akan berbelas kasihan pada tulang belulangmu.”
Dyah mengangguk mantap, menelan rasa ngeri yang sempat menyelusup ke dasar perutnya. “Aku siap.”
Mereka berjalan beriringan keluar dari kemegahan istana, menuruni tangga menuju deretan pintu batu hitam pekat. Setibanya di depan gua pertama, Ken menempelkan telapak tangannya pada permukaan batu. Ukiran-ukiran rune rahasia yang tadinya tak kasat mata kini menyala terang dengan pendaran cahaya kebiruan. Diiringi bunyi gemuruh batu purba yang bergesekan, pintu berat setebal benteng itu bergeser terbuka, menyingkap ruangan hampa yang luar biasa luas di dalamnya.
Begitu Dyah melangkah melewati ambang pintu, hamparan lantai batu giok putih membentang seluas mata memandang, sekilas mirip dengan arena pertarungan gladiator tanpa pilar.
Ken berdiri di panel kendali di sisi pintu. “Aku akan mengaktifkan tuas tekanan gravitasi level pertama.”
WUNGGG! Tepat ketika kaki Dyah melangkah melewati garis batas formasi berwarna merah di lantai, tubuhnya seakan ditimpa oleh batu raksasa tak kasat mata. Tarikan daya gravitasi bumi mendadak berlipat ganda, menarik seluruh bobot tulang dan organ dalamnya ke arah lantai. Lutut Dyah langsung goyah, berderak menahan beban, sementara paru-parunya seketika terengah-engah berebut oksigen.
”Ughh… b-berat sekali…” rintih Dyah, memaksakan punggungnya agar tidak melengkung jatuh.
”Ya,” kata Ken tenang, bersedekap di luar garis merah. “Itu adalah salam perkenalan dari tekanan gravitasi murni. Ini baru Level Satu. Mulai dari titik kau berdiri, seluruh sel di tubuhmu dipaksa menahan dan melawan beban gravitasi dua kali lipat lebih brutal daripada hukum alam di dunia fana.”
Dyah menggertakkan giginya, berusaha mengunci kuda-kuda agar bisa berdiri tegap. Otot pahanya bergetar hebat, namun tekadnya menolak untuk menyerah. “Kalau bebannya… hanya segini… ugh… aku pasti bisa menahannya!”
Ken menatap gadis itu dengan sorot mata penuh keseriusan dan evaluasi. “Jangan terlalu terburu-buru menyombongkan dirimu. Menahan beban sambil diam itu mudah. Sekarang, gerakkan tubuhmu, Tuan Putri. Cobalah berlari memutari arena ini.”
Dyah mengangguk patah-patah. Ia memusatkan Qi ke kedua kakinya, lalu mencoba melangkah cepat ke depan.
BRUK!
Baru tiga langkah ia paksakan, keseimbangannya hancur berantakan. Tubuhnya terhuyung berat ke depan, nyaris menghantam kerasnya lantai giok putih jika ia tidak segera menahan jatuhnya dengan kedua telapak tangan. Wajahnya seketika memerah padam karena tekanan darah yang melonjak tajam menahan bobot tubuhnya sendiri.
”Tuan Putri,” tegur Ken, suaranya menggema tajam dan tegas memecah ruang latihan. “Ingat kembali teoriku: Tubuh fisikmu adalah wadah bagi energi alam semesta. Jika dinding wadahmu rapuh, maka energi spiritual yang kau serap hanya akan bocor dan berbalik menghancurkan organ dalammu sendiri. Penempaan di ruangan ini bukan sekadar menyiksa fisik… tapi untuk meremukkan dan membangun ulang mental serta jiwamu agar menjadi sekuat baja!”
Dyah terdiam dalam posisi merangkak. Ia menatap pantulan wajahnya yang berpeluh di atas lantai giok putih. Ia bisa merasakan setiap serat otot dan persendiannya menjerit kesakitan meminta ampun. Namun, jauh di kedalaman rasa sakit yang menyiksa itu, sebuah kobaran api semangat menolak untuk padam—dorongan mutlak untuk membuktikan bahwa ia layak berdiri di sisi pria ini.
”Aku… aku tidak mau menyerah dan berhenti sampai di sini, Kak Ken,” ucap Dyah dengan napas memburu, mengertakkan rahangnya. “Kalau tubuhku lemah, maka satu-satunya jalan adalah aku harus menyiksanya sampai ia menjadi kuat! Kalau tidak, aku hanya akan berakhir menjadi beban yang merepotkan langkahmu.”
Ken mengangkat alisnya sedikit, tertegun oleh letupan tekad gadis bangsawan itu. Ia menatap Dyah lebih dalam, dan sebuah senyum kebanggaan akhirnya terbit di bibirnya. “Kau ini benar-benar wanita yang sangat keras kepala, Tuan Putri. Baiklah… buktikan padaku. Teruskan langkahmu.”
Diyah menekan kedua tangannya ke lantai, memaksa lututnya untuk kembali berdiri lurus di bawah siksaan gravitasi. Ia mulai mengambil langkah, lalu memaksakan dirinya untuk berlari kecil memutari arena. Setiap hentakan kakinya terasa seperti menapak di dalam lumpur hisap yang menolak untuk dilepaskan; tubuhnya seakan ditarik ke pusat bumi oleh ribuan rantai baja. Napasnya berubah kasar dan cepat, keringat mengucur deras membasahi punggung jubahnya, namun tak sekalipun ia membiarkan kakinya berhenti.
Ken tetap berdiri di sisi arena, mengawasi setiap pergerakan gadis itu tanpa berkedip. Jauh di dalam lubuk hatinya, Ken sangat sadar bahwa tidak banyak prajurit elit fana yang sanggup mempertahankan kesadaran, apalagi berlari, walau hanya lima menit di level pertama ini. Tapi Diyah… gadis ini mempertontonkan ketangguhan mental seorang dewa perang.
Setelah lima belas menit siksaan itu berlangsung, batas fisik fana Diyah akhirnya hancur. Ia terjatuh dengan bunyi debuk keras, berlutut menyentuh lantai. Dadanya mengembang-kempis memompa udara dengan brutal, kedua tangannya menopang sisa berat tubuhnya agar wajahnya tidak tersungkur.
”Haa… haa… Kak Ken… beri aku waktu sebentar… Aku… aku masih bisa melanjutkannya,” rintih Diyah lirih. Wajah cantiknya telah memerah seperti kepiting rebus, napasnya nyaris putus karena kelelahan ekstrem.
Ken melangkah perlahan membelah medan gravitasi tanpa terpengaruh sedikit pun, lalu berjongkok tepat di samping gadis itu. “Sesi latihanmu cukup untuk hari ini. Jangan rusak ototmu di hari pertama,” titahnya lembut namun mutlak.
Dyah mendongak menatap Ken dengan sepasang mata yang berkaca-kaca—sebuah perpaduan antara rasa lelah, rasa sakit, dan luapan tekad yang pantang menyerah. Setelah beberapa detik mencoba membantah, ia akhirnya menghela napas pasrah dan mengangguk. “Baiklah… aku mengerti batasanku.”
Ken meraih lengan Diyah, memapah gadis itu untuk berdiri tegak, dan menuntunnya berjalan keluar dari gua penyiksaan tersebut.
Begitu mereka melangkah melintasi ambang pintu dan keluar dari medan formasi, siksaan beban gravitasi dua kali lipat itu lenyap seketika. Tubuh Diyah mendadak terasa luar biasa ringan, sirkulasi darahnya kembali lancar. Efek pantulan itu begitu mengejutkan hingga ia sempat terhuyung ke depan sebelum berhasil menyeimbangkan diri.
”Hah! Rasanya… rasanya tubuhku seringan kapas, seolah aku bisa terbang menembus awan!” seru Diyah dengan tawa kecil yang diiringi embusan napas panjang menenangkan diri.
Ken tersenyum mendengarnya. “Itulah esensi sejati dari penempaan ini. Semua pergerakanmu di dunia luar sana akan terasa jauh lebih ringan dan secepat kilat setelah kerangka tulangmu terbiasa menahan beban gravitasi di dalam sana. Dan ingat… ruangan tadi barulah level perkenalan pertama, Tuan Putri. Masih ada sembilan puluh sembilan tingkat neraka lainnya yang menantimu di dalam.”
Dyah memutar tubuhnya, menatap mulut gua batu obsidian itu dengan tatapan yang menyala penuh tekad. “Aku tidak takut. Aku berjanji akan menaklukkan ruangan itu, Kak Ken. Suatu hari nanti, aku pasti akan mendaki dan menuntaskan level seratus… dan melangkah masuk membuka gerbang Ruang Latihan Bintang itu dengan kakiku sendiri.”
Ken menoleh pada gadis itu. Wajahnya terlihat serius, namun kilat kebanggaan jelas tergambar di matanya. “Jika kau benar-benar memiliki ambisi gila untuk mendaki sampai ke puncak penderitaan itu, maka persiapkan mentalmu mulai sekarang. Kau akan berhadapan dengan penyiksaan fisik yang bisa membuat kewarasanmu memohon untuk menyerah seribu kali lipat.”
Dyah mengangguk mantap tanpa keraguan, sorot matanya berkilat setajam intan. “Aku akan menelan penderitaan itu dan bertahan, Kak Ken. Aku bersumpah akan menjadi kuat… demi masa depanku sendiri… dan demi menjadi perisai yang melindungi dunia ini.”
Ken menepuk bahu Diyah dengan sangat lembut, memberikan pengakuan tanpa kata. Ia lalu menoleh sebentar ke arah hamparan alam dimensi Korzian sebelum melangkah kembali menuju pelataran istana utama. Senyum tipis yang tulus tak pernah lepas dari wajahnya.
”Kalau begitu, targetmu hari ini telah tercapai. Istirahatkan tubuhmu secara penuh. Besok, setelah hiruk-pikuk turnamen itu selesai, Tuan Putri bisa kembali menyiksa diri berlatih di ruangan ini kapan pun kau mau,” ucap Ken merencanakan masa depan.
Dyah kembali mengangguk kecil, sebuah senyum lelah namun sangat bahagia terukir cantik di bibirnya. “Tentu saja, aku pasti akan kembali. Terima kasih, Kak Ken,” balasnya. Ia kemudian menoleh ke arah bangunan megah istana emas yang mulai diselimuti siluet senja dimensi.
Sembari berjalan berdampingan kembali ke istana, Diyah memiringkan kepalanya dan melirik wajah Ken dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang mendalam. “Jadi… apakah selama ini, setiap hari Kak Ken selalu menghabiskan waktu sendirian di tempat sedamai ini?” tanyanya pelan. Suaranya mengalun seperti bisikan yang menyembunyikan kekaguman dan sedikit rasa iba.
Ken menghela napas singkat, sorot matanya tetap lurus menatap gerbang istana emas di depan mereka. “Ya, dugaanmu benar. Dunia Korzian ini… bisa dibilang adalah rumah pertamaku; satu-satunya tempat di mana aku bisa memejamkan mata dengan tenang,” jawabnya dengan kedamaian yang melankolis.
Dyah mengangguk memahaminya, hatinya ikut merasakan kesepian pria di sampingnya itu. Ia tersenyum samar. “Kalau begitu… aku sangat bersyukur bisa mengetahui rumah ini. Tapi untuk sekarang, aku harus kembali beristirahat di duniaku dulu di Istana Es. Kak Ken, jangan paksakan dirimu. Beristirahatlah yang cukup di sini, ya?” pesan Diyah, nada suaranya terdengar begitu manja dan lembut, seakan ada keengganan di hatinya untuk benar-benar pergi berpisah.
Ken hanya menatap gadis itu sesaat, memberikan sebuah anggukan persetujuan yang tenang, lalu melanjutkan langkah kakinya menaiki tangga pualam.
Dyah mengekor dari belakang dengan ritme langkah yang pelan. Di balik lapisan kulitnya, otot-ototnya seolah merintih menjerit meminta hak untuk beristirahat. Namun anehnya, di balik rasa sakit fisik yang mendera itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat tengah bersemi di dalam dadanya—hatinya bergejolak hebat, dan semangat hidupnya menyala lebih terang dari sebelumnya.
Ia menyadari dengan sepenuh hati, perjalanan kultivasinya baru saja melewati garis start, dan setiap tetes keringat di dunia rahasia ini akan mengantarkannya selangkah lebih dekat pada sebuah takdir epik yang misterinya belum sepenuhnya ia pahami.



