Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Turnamen Pendekar Segel Bintang
Matahari pagi bersinar garang, cahayanya memantul di atas hamparan es abadi yang berkilau layaknya lautan kristal. Arena Cakrawala Salju—amfiteater megah dan terluas yang berdiri di jantung Kerajaan Es—kini menampakkan keagungan aslinya. Pilar-pilar raksasa dari pahatan permata biru menjulang tinggi menembus awan, seakan menantang supremasi para dewa di langit. Sementara itu, tribun melingkar yang mengelilingi arena telah disesaki oleh lautan manusia dari berbagai penjuru benua. Hari ini adalah titik awal yang menentukan nasib dunia: Turnamen Pendekar Segel Bintang Enam Kerajaan.
TEEEET!
Suara lengkingan terompet purba yang terbuat dari tanduk naga bergema membelah udara pagi. Ribuan penonton serentak bangkit berdiri. Riuh rendah sorak-sorai dan tepuk tangan meledak, menggetarkan fondasi es di bawah kaki mereka.
Satu per satu, kontingen dari kerajaan-kerajaan besar mulai memasuki arena melalui gerbang raksasa, diiringi gegap gempita yang memekakkan telinga.
Dari Gerbang Utara, tuan rumah Kerajaan Es melangkah masuk. Pasukan mereka dibalut zirah kristal biru yang memantulkan cahaya. Langkah kaki mereka terdengar berat dan ritmis, memancarkan keanggunan seorang penguasa es. Tim inti Kerajaan Es berdiri di barisan terdepan, embusan napas mereka mengembuskan kabut dingin yang membekukan udara di sekitar mereka.
Menyusul dari sisi Barat, kontingen Kerajaan Angin muncul. Para pendekar mereka mengenakan jubah tipis berlapis sutra putih kehijauan. Mereka melangkah tanpa suara, tubuh mereka nyaris melayang ringan seolah angin itu sendiri yang menuntun tapak kaki mereka. Tim Kerajaan Angin menyapu pandangan ke arah penonton dengan senyum penuh percaya diri.
Dari arah Timur, gelombang energi uap air yang kental seakan mengiringi kedatangan pasukan Kerajaan Air. Mereka berjalan dengan ritme yang tenang namun tak terhentikan layaknya ombak samudra, membawa ketenangan yang menyimpan daya hancur tersembunyi.
Seketika, bayangan raksasa menutupi arena. Dari atas langit terbuka, sekelompok elang raksasa menukik tajam. Di atas punggung burung-burung buas itu, berdirilah para petarung elit Tim Kerajaan Langit. Jubah perak mereka berkibar menantang angin. Sorak penonton semakin bergemuruh gila menyaksikan kemegahan pendaratan udara tersebut.
Tiba-tiba, suhu di dalam arena melonjak drastis. Gerbang Selatan berderak terbuka, memancarkan cahaya merah menyala yang membutakan. Pasukan Kerajaan Api melangkah masuk. Tubuh mereka dilingkupi oleh pendaran hawa panas yang membuat distorsi pada udara di sekitar mereka. Setiap langkah arogan mereka seolah menantang dominasi semua orang yang hadir di tempat itu.
Terakhir, bumi bergetar dengan ritme yang lambat dan berat. Pasukan berzirah hitam pekat dari Kerajaan Bumi melangkah masuk bagaikan barisan gunung hidup yang bergerak. Tim inti mereka memimpin di depan, memancarkan aura pertahanan yang tak tertembus.
Di atas podium tertinggi kehormatan, Raja Bawigan bangkit dari singgasananya. Ia menggenggam erat tongkat kristal kebesarannya. Saat ia meresonansikan suaranya dengan Qi, suaranya menggelegar menyapu setiap sudut arena.
”Wahai rakyat dari enam kerajaan penjuru benua! Hari ini, mata kita akan menjadi saksi dari awal sebuah legenda yang akan menentukan kejayaan generasi baru! Enam kerajaan agung telah hadir, enam pilar kekuatan besar akan berbenturan di arena ini. Sambutlah para petarung kita dengan penghormatan tertinggi, dan biarkan mereka menumpahkan keringat serta darah demi membuktikan harga diri kerajaan masing-masing!”
Sorakan menggema tak terkendali. Bendera raksasa dari tiap kerajaan dikibarkan serentak, dan langit pagi dipenuhi oleh kilatan sihir elemen yang meledak meriah menyerupai kembang api kosmik.
Di barisan Tim Kerajaan Es, Diyah dan Julia berdiri berdampingan. Keduanya saling bertukar pandang dengan dahi berkerut.
Diyah menoleh ke arah Julia. “Julia, ke mana perginya Onoke dan Arsa?” tanyanya menyadari barisan mereka tak lengkap.
”Entahlah, aku sama sekali tidak tahu menahu soal keberadaan mereka,” jawab Julia dengan raut keheranan. Ia lalu memutar kepalanya menatap anggota tim yang lain. “Apa kalian ada yang melihat mereka berdua pagi ini?”
”Kami juga tidak melihat bayangan mereka sama sekali,” geleng Andin dengan wajah cemas.
Setelah parade pembukaan selesai, seluruh tim diarahkan untuk menempati area basis pertahanan masing-masing di pinggir arena.
DUNG! DUNG! DUNG!
Arena Cakrawala Salju kembali bergetar oleh dentuman gong perunggu raksasa.
Pada turnamen kali ini, Jenderal Hameng ditunjuk sebagai Hakim Utama. Puluhan ribu penonton seketika menahan napas, menunggu titah dari Sang Jenderal yang telah berdiri tegap di pusat arena.
”Wahai rakyat dari Enam Kerajaan Agung!” seru Jenderal Hameng, suaranya membelah keheningan dengan wibawa militer absolut. “Hari ini, tepat di bawah tatapan para Raja Agung, kita buka Turnamen Pendekar Segel Bintang untuk menentukan siapa yang paling layak melangkah menuju takhta kejayaan!”
Sorak-sorai kembali meledak.
Jenderal Hameng mengangkat sebuah gulungan perkamen yang memancarkan cahaya kristal.
”Dengarkan dengan saksama! Berikut adalah hasil undian untuk babak penyisihan pertama!” ucapnya. “Pertandingan Pertama: Kerajaan Es melawan Kerajaan Angin! Pertandingan Kedua: Kerajaan Air berhadapan dengan Kerajaan Langit! Dan Pertandingan Ketiga: Kerajaan Api menantang Kerajaan Bumi!” Hakim itu berhenti sejenak, membiarkan intonasi suaranya meninggi.
”Tim yang memenangkan ketiga pertandingan ini… akan otomatis melaju ke babak semifinal! Dan untuk melengkapi empat slot semifinal, satu tim terbaik dari pihak yang kalah akan dipilih langsung oleh dewan juri berdasarkan poin daya juang dan performa untuk mendapatkan tiket Wildcard!” jelas Jenderal Hameng memaparkan aturan.
Arena kembali meledak dengan tepuk tangan, siulan, dan sorakan kebanggaan dari para pendukung.
”Seluruh tim yang terlibat pada Pertandingan Pertama, persiapkan nyawa kalian. Lima menit dari sekarang, pertumpahan darah akan dimulai!” seru Jenderal Hameng sebelum mundur ke batas wasit.
Di basis Kerajaan Es, kepanikan mulai merayapi mental tim Diyah.
”Sialan! Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Onoke dan Arsa?! Ke mana mereka pergi di saat genting seperti ini?!” ujar Julia gelisah, pandangannya terus menyapu area gerbang masuk yang kosong. Ia menoleh pada Diyah, wajahnya dipenuhi kecemasan taktis. “Diyah… bagaimana menurutmu? Kita kekurangan dua personel utama.”
Diyah menarik napas dalam, membiarkan udara dingin menenangkan sirkulasi Qi-nya. Ekspresinya tetap tenang bak permukaan danau beku, meski tekanan turnamen jelas membebani pundaknya.
”Jika mereka memang memutuskan untuk menjadi pengecut dan tidak datang, kita akan menelan ludah dan menghadapi pertandingan ini berlima,” jawab Diyah dengan tekad mantap. Ia lalu menoleh pada Kahar, salah satu anggota cadangan. “Kahar, persiapkan senjatamu. Mulai detik ini, kau resmi masuk sebagai tim inti.”
Kahar mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya menyala oleh kebanggaan dan semangat yang meluap. “Sesuai perintah, Tuan Putri!” serunya lantang.
Dari singgasana kehormatan di podium atas, Raja Bawigan menyipitkan matanya, menaruh curiga pada formasi tim putrinya yang tak utuh.
”Tegra, ada anomali di tim Diyah. Di mana dua anggota utama lainnya? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya pelan namun menuntut jawaban pasti.
”Sepertinya terjadi pembelotan atau masalah internal, Paduka Raja. Dua orang petarung mereka belum menampakkan diri,” jawab Jenderal Tegra dengan rahang mengeras.
Raja Bawigan hanya mengangguk tipis, menyembunyikan amarahnya. “Baiklah. Mari kita lihat sejauh mana putri-putriku mampu bertahan hidup tanpa formasi yang lengkap.”
”Pertandingan Pertama! Silakan kedua tim segera memasuki arena!” seru Jenderal Hameng.
Sorak-sorai penonton memuncak hingga nyaris meruntuhkan langit-langit ketika Tim Kerajaan Es dan Tim Kerajaan Angin melangkah maju dan saling berhadapan di tengah arena. Gong raksasa dipukul tiga kali berturut-turut, dan bendera putih dikibarkan dengan keras.
Pertarungan Dimulai!
Tim Kerajaan Angin mengambil inisiatif serangan pertama. Tubuh mereka melesat sangat ringan, ujung kaki mereka nyaris tak menyentuh permukaan es.
”Serangan Puting Beliung!” teriak Meyer, sang kapten. Ia memutar pedangnya dengan kecepatan gila, menciptakan badai pusaran angin raksasa yang mengamuk dan menyapu ubin es menuju formasi Tim Kerajaan Es.
”Benteng Es!” seru Andin tanpa ragu. Ia menampar tanah dengan kedua telapak tangannya. Seketika, dinding es setebal baja menjulang tinggi ke langit, memblokir pusaran maut tersebut. Angin liar menghantam dinding, menciptakan suara gesekan yang memekakkan telinga dan retakan-retakan kecil di permukaan es, namun gagal menembusnya.
”Sekarang! Lakukan serangan balik!” teriak Julia mengambil komando. Ia, Suta, dan Kahar serentak melompat ke depan membelah sisa badai.
”Taring Es!” pekik Kahar sembari menghantamkan pedangnya ke tanah. Dari bawah lapisan arena, belasan taring es raksasa setajam tombak mencuat dan merambat cepat bagai ular tanah, mengejar kaki prajurit Kerajaan Angin.
Namun, mobilitas Tim Angin bukanlah isapan jempol. Tubuh mereka berputar lincah, seolah menari meniti angin di udara.
”Langkah Angin!” Kapten Meyer melayang di udara, menjejaki molekul udara seolah itu adalah tanah padat, dengan mudah bermanuver menghindari tusukan es mematikan milik Kahar.
Seorang ksatria Angin lainnya maju mengambil momentum, mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. “Tombak Badai!”
Ratusan bilah angin yang setajam silet melesat turun, berkilau seperti hujan cahaya mematikan yang siap mencincang arena di bawahnya.
”Perisai Kristal!” teriak Julia dan Andin secara bersamaan. Resonansi teknik gabungan mereka seketika menciptakan kubah es bening berlapis yang menutupi seluruh tim. Hujan tombak angin itu menghantam perisai tanpa ampun, menciptakan ribuan percikan cahaya bunga api yang sangat memukau mata penonton.
Sorakan di tribun semakin menggila melihat adu elemen tersebut.
Menyadari kebuntuan, Kahar kembali melesat maju, kedua matanya memancarkan cahaya kebiruan. “Napas Beku!” Ia membuka mulutnya dan menghembuskan kabut dingin yang teramat pekat, menyelimuti separuh arena. Suhu anjlok drastis ke titik nol. Napas para prajurit Angin mulai tersendat dan terlihat memutih di udara.
”Jangan biarkan kabut ini menutup jarak pandang kita! Hilangkan!” teriak Kapten Meyer dengan nada panik, menyadari kabut itu meresap ke dalam paru-paru mereka.
”Penghancur Badai!” Sisa Tim Angin memutar formasi mereka, menciptakan pusaran tornado besar untuk menyedot dan menghalau kabut beku tersebut.
Namun, itu adalah sebuah jebakan. Sisa uap kabut yang menempel di lantai arena mendadak membeku, berubah wujud menjadi jaring-jaring es tipis yang setajam kawat. Begitu para prajurit Angin mendarat dari lompatan mereka, kaki-kaki mereka seketika terjerat dan membeku pada lantai.
”Benteng Es!” seru Andin, dengan cepat menambah lapisan es untuk mengunci kaki musuh secara permanen.
”Laser Es!” pekik Suta, memusatkan Qi-nya ke ujung jari dan meluncurkan tembakan sinar biru tajam yang menghancurkan pertahanan udara mereka.
”Napas Es!” Julia melompat tinggi dan ikut menyerang, mengirimkan gelombang kejut pembeku yang melumpuhkan sisa pergerakan mereka.
Serangan kombinasi beruntun itu benar-benar menekan Tim Angin, membekukan setengah tubuh mereka hingga tak mampu lagi bermanuver mengelak.
”Sekarang, Diyah! Habisi mereka!” teriak Julia memberi aba-aba mutlak.
Diyah melangkah maju dengan keanggunan sang dewi es. Tatapannya setajam elang pemangsa. Aura biru keemasan meledak menyelimuti seluruh tubuhnya saat ia mengangkat Tombak Peraknya sejajar dengan bahu. Ia menarik energi dari Segel Bintang Emasnya.
”Sage… Spear!“
Tombak perak itu melesat terlepas dari tangannya, membelah hambatan angin dengan kecepatan supersonik yang meninggalkan jejak kilatan cahaya. Serangan destruktif itu menghantam telak pusat formasi lawan yang telah membeku. BLAARR! Daya hancurnya bukan hanya meremukkan es yang mengunci mereka, melainkan menciptakan ledakan gelombang kejut yang menyapu dan melemparkan seluruh anggota Tim Kerajaan Angin melayang keluar dari batas cincin arena.
Ledakan es dan debu bergema memantul di dinding stadion, lalu keheningan menyelimuti sesaat… sebelum akhirnya sorakan puluhan ribu penonton kembali membuncah membelah langit.
”Seluruh anggota lawan keluar ring! Pemenang mutlak pertandingan pertama adalah… Tim Kerajaan Es!” Jenderal Hameng mengumumkan hasilnya dengan suara lantang seraya menunjuk ke arah Diyah.
Seluruh penonton Kerajaan Es berdiri dari duduknya, sorak-sorai kebanggaan menggema di seluruh penjuru ibu kota.
Julia berlari kecil menghampiri sisi Diyah, senyum kelegaan merekah lebar di wajah cantiknya. “Kerja bagus, Diyah! Daya hancur serangan pamungkasmu itu bahkan seratus kali lipat lebih kuat dan presisi dari saat kita berlatih kemarin,” pujinya sembari menepuk bangga bahu sahabatnya itu.
Diyah hanya tersenyum tipis, masih membuang sisa napas dan memulihkan sirkulasi meridiannya yang bergejolak.
Di luar arena, Meyer merangkak bangkit dengan sisa tenaga, menggertakkan giginya hingga nyaris retak. Kurang ajar… daya ledak serangan akhirnya benar-benar di luar nalar. Mustahil tim sekelas kami bisa dipermalukan dengan semudah ini oleh barisan wanita Kerajaan Es itu… batinnya dipenuhi amarah dan harga diri yang terkoyak.
”Pertandingan selanjutnya akan segera dimulai! Kedua tim berikutnya harap segera memasuki arena!” instruksi Jenderal Hameng tanpa membuang waktu.
Dari gerbang Barat, Tim Kerajaan Air melangkah masuk dengan formasi rapat. Postur tubuh mereka tegap dan kokoh. Sebagian besar dari mereka mengenakan jubah biru laut yang berkilau memantulkan cahaya layaknya riak ombak. Di barisan terdepan, memimpin dengan wibawa mutlak, adalah Kapten mereka—Pangeran Raden. Seorang pemuda bertubuh besar dengan otot-otot yang mengalir kuat bak arus sungai deras.
Di seberang mereka, dari gerbang Timur, Tim Kerajaan Langit berjalan memasuki arena. Mereka mengenakan zirah tempur berwarna putih keperakan dengan ukiran motif awan badai. Sang Kapten, Pangeran Nasse, memiliki postur ramping yang sangat atletis. Rambutnya putih perak berkibar, sementara sorot matanya terlihat sedingin dan setajam udara di puncak gunung tertinggi.
Kedua kapten ini merupakan aset jenius dari benua; keduanya sama-sama telah mencapai fondasi Delapan Segel Bintang yang didominasi oleh pendaran biru murni.
Jenderal Hameng mengangkat tangannya. “Hari ini, di arena ini, bukan hanya kapasitas sihir elemen kalian yang diuji, tetapi juga ketahanan tulang dan determinasi hati kalian! Ingatlah, hanya satu tim pemenang yang berhak melaju!”
Kedua tim membungkuk memberikan penghormatan seremonial, lalu segera menyebar mengambil posisi kuda-kuda bertarung.
Bendera dikibarkan. Pertandingan Kedua dimulai!
Raden, sang pangeran air, langsung melangkah maju selangkah melampaui barisannya. “Biar aku yang membuka jalan pembantaian ini. Kalian bertahanlah di belakangku,” perintahnya pada timnya. Ia menatap lurus ke arah Nasse dari seberang arena.
Nasse merespons dengan melangkah ringan ke depan. Wajah tampannya nyaris tak menunjukkan riak emosi apa pun. “Mari kita selesaikan duel satu lawan satu dulu antar kapten. Setelah salah satu dari kita tumbang, barulah tim boleh ikut campur.”
Raden mengangguk setuju. “Ide yang bagus. Mari kita uji nyali dan otot kita.”
Sorak penonton mendadak hening berganti ketegangan saat dua kapten jenius itu berdiri berhadapan satu lawan satu di pusaran tengah arena.
DUAAGH! Pertarungan langsung meledak. Raden membuka serangan dengan teriakan buas, tinju besarnya menyambar menembus udara. “Arus Deras!” Tinju kanan Raden meluncur dengan tenaga brutal layaknya ombak tsunami yang menghantam karang. Udara di sekeliling kepalan tangannya bergetar terkompresi, menciptakan suara bergemuruh yang mengerikan.
Nasse tidak mundur selangkah pun. Ia memutar separuh tubuhnya, dengan sangat presisi menangkis pukulan mematikan itu menggunakan sikunya, lalu membalas dengan sapuan tendangan rendah yang sangat cepat ke arah tulang kering Raden.
”Langkah Angin Rendah!”
Benturan keras fisik murni terjadi. BAM! Permukaan tanah es bergetar hebat, retakan kecil muncul di bawah kaki mereka. Penonton bersorak histeris melihat adu fisik tingkat tinggi tersebut.
Raden mendesak maju tanpa henti, kedua tangannya menghantam silih berganti. Pukulan beruntunnya melaju secepat ombak badai yang tak memberikan jeda napas. “Pukulan Ombak!”
Namun Nasse bergerak sangat ringan. Tubuhnya meliuk-liuk menghindari setiap pukulan seolah ia melayang di udara, meski ujung kakinya tetap menjejak kuat di tanah. Di tengah badai pukulan itu, Nasse menunduk tajam, memutar tubuhnya seperti pegas, lalu menyodorkan tinju mematikan lurus ke arah ulu hati Raden. “Tinju Petir Angin!”
Benturan fatal tak bisa dihindari. Tubuh besar Raden terdorong mundur dua langkah ke belakang akibat impak tersebut. Namun, alih-alih tumbang, pangeran air itu segera menghela napas panjang. Ajaibnya, dari seluruh pori-pori kulitnya mengepul uap air bertekanan tinggi yang sangat panas.
”Pukulan yang hebat… tapi mesin pemanasku baru saja dihidupkan,” kekeh Raden menyeringai.
Nasse melesat kembali dengan kecepatan tak masuk akal. Tinjunya menghilang, berubah menjadi bayangan kabur. “Seribu Pukulan Langit!”
Puluhan pukulan supersonik menghujani pertahanan Raden dalam hitungan detik, kecepatannya sama sekali tak bisa diikuti oleh mata penonton fana di tribun.
Raden mengangkat kedua lengannya yang tebal, menyilangkan perisai daging untuk menahan gempuran tersebut. Tubuhnya tetap berdiri sekokoh karang di tengah badai. “Badai Samudra!”
Dengan satu hentakan kaki yang membelah bumi, Raden menyalurkan energinya ke lantai arena. Gelombang energi air memancar menciptakan percikan di sekelilingnya, yang kemudian dengan instan ia isap kembali ke dalam tubuhnya, memompa otot-ototnya hingga mengeras melebihi baja.
Kini, setiap pukulan kilat dari Nasse selalu dihantam balik dengan kepalan tangan Raden. Dentuman demi dentuman tulang beradu terdengar mengerikan bergema di arena, persis seperti dua naga raksasa yang saling bertabrakan di udara.
Para penonton di tribun berteriak gila.
”Hebat sekali!!”
“Tinju mereka berdua seperti baja murni yang saling dihantamkan!”
“Siapa monster yang akan jatuh duluan?!”
Julia, yang kini duduk di bangku penonton bersama tim Kerajaan Es, tak bisa melepaskan pandangannya dari pertarungan tunangannya. “Kekuatan fisik mentah Raden benar-benar gila… tapi kecepatan dan kelincahan Nasse juga sangat mustahil untuk dikunci,” komentarnya dengan mata menyipit tegang.
”Yaa… pertarungan yang sangat seimbang,” tambah Diyah setuju.
Setelah beberapa menit baku hantam tanpa jeda, Nasse melompat mundur sejauh belasan meter. Wajahnya masih berusaha terlihat tenang, meski dadanya naik turun dengan napas yang mulai tersengal parah. “Tulangmu keras juga rupanya, Raden.”
”Yaa… Semenjak aku dihajar habis-habisan oleh Tuan Ken tempo hari, hal itu menyadarkanku betapa lemahnya diriku, memaksaku untuk melatih daya tahan fisikku hingga menembus neraka,” jujur Raden, memberikan penghormatan tak langsung pada monster yang telah menempanya.
”Baiklah kalau begitu, mari kita lihat apakah tulangmu bisa menahan yang satu ini.” Nasse menundukkan tubuhnya rendah, menyatukan kedua tangannya, lalu meluncur maju memecah ruang hampa. Tinjunya kini terarah lurus ke rahang lawan dengan daya hancur mutlak. “Tinju Langit Membelah Badai!”
Melihat maut datang mendekat, Raden tidak berniat menghindar sedikit pun. Ia menarik tangan kanannya jauh ke belakang, mengumpulkan seluruh esensi samudra ke dalam kepalan tangannya, lalu menghantamkannya lurus ke depan menyambut serangan tersebut. “Tinju Samudra Menelan Awan!”
Kedua tinju dewa itu akhirnya saling berbenturan tepat di pusat arena. BLAAAAR! Ledakan energi fisik murni terjadi. Gelombang kejutnya merobek dan menghancurkan lantai es di sekitar pijakan mereka, menciptakan kawah besar dengan retakan yang menjalar puluhan meter keluar. Ribuan penonton serempak menahan napas.
Daya ledak itu membuat tubuh keduanya terpental jauh ke belakang. Raden terseret mundur hingga lima langkah sebelum berhasil mengunci tumitnya ke tanah. Sementara Nasse terlempar jatuh terguling ke tanah, sebelum akhirnya ia memaksakan diri merangkak bangun dengan wajah yang pucat pasi menahan sakit di organ dalamnya.
Sadar kapten mereka terluka, sisa dari masing-masing tim saling melempar pandangan insting. Seakan terhubung lewat telepati tanpa kata, mereka mengangguk dan memberikan sinyal serbuan.
Kini, sisa kelima Pendekar dari masing-masing kerajaan melesat maju ke depan, mengubah duel kapten menjadi perang total.
Tim Kerajaan Air membentuk formasi melengkung setengah lingkaran. Gerakan tangan dan kaki mereka sangat sinkron layaknya arus ombak pasang yang tak terbendung. Mereka merangsek maju dengan pukulan-pukulan berirama, tinju mereka terbalut oleh aura padat berelemen air yang mengiris udara.
Tim Kerajaan Langit merespons agresi itu dengan kecepatan bermanuver luar biasa. Mereka bergerak berpencar tak beraturan, membingungkan titik buta lawan, lalu secara serentak melesat masuk ke jantung formasi musuh dengan tinju berputar, menyerupai lusinan pusaran angin puyuh yang menghantam dari segala arah tanpa ampun.
Arena kini berubah menjadi medan perang total yang dipenuhi oleh kilatan energi, suara dentuman pukulan, dan erangan rasa sakit.
Sementara anggota tim sibuk saling mengunci nyawa, Raden dan Nasse kembali melanjutkan sisa pertarungan maut mereka di sisi lain kawah.
Nasse melompat dan melontarkan tendangan udara mematikan tepat ke arah dada lawannya. Namun, Raden menahannya dengan menyilangkan kedua lengannya yang sekeras baja. Memanfaatkan momentum itu, Raden memutar pinggangnya dan menghantamkan pukulan bawah (uppercut) berlapis aura ombak tepat ke arah dagu Nasse.
DUAKH! Nasse terpental terbang ke udara. Dengan reflek akrobatiknya, Nasse memutar tubuhnya di udara dan mendarat berjongkok. Meski kakinya goyah nyaris terjatuh, ia menatap lurus pada Raden, menyeka darah dari sudut bibirnya, lalu tersenyum tipis. “Luar biasa… tapi aku masih bernapas, aku belum menyerah.”
Raden mengangkat sebelah tinjunya, wajahnya memerah karena kelelahan namun dipenuhi tekad absolut. “Kalau begitu, sebagai bentuk penghormatan… mari kita akhiri semua sandiwara ini dengan satu pukulan pamungkas penghabisan.”
Nasse mengangguk. Keduanya lalu melangkah maju secara bersamaan. Tinju mereka tidak lagi bersinar karena sihir aura yang mempesona, melainkan berpendar pekat akibat seluruh cadangan energi Qi murni dan sisa kehidupan yang dikompres ke dalam satu kepalan.
”Tinju Penutup Samudra!” teriak Raden.
“Tinju Penutup Langit!” balas Nasse menggelegar.
Tubuh mereka melesat dan bertabrakan layaknya dua komet. Suara dentuman tulang dan daging beradu menggelegar dahsyat, menciptakan gelombang udara yang membungkam suara napas penonton di arena.
Debu putih dari puing-puing es berhamburan menutupi medan pertarungan. Waktu seakan berhenti. Saat asap tipis itu perlahan disapu angin, sosok Raden terlihat masih berdiri tegak layaknya patung kemenangan, meski kedua lututnya bergetar hebat menahan beban tubuhnya sendiri.
Sementara di hadapannya, Nasse telah terjatuh berlutut di atas es. Kulit kepalan tangannya robek berlumuran darah. Seluruh sistem saraf tubuhnya gemetar parah, benar-benar tak mampu lagi memaksa kakinya untuk berdiri. Nasse telah mencapai batas mutlaknya.
Jenderal Hameng melompat turun ke arena, mengamati sekilas sisa prajurit yang bertarung, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. “Tim Langit telah kehilangan kemampuan komando! Pemenang pertandingan kedua adalah… Kerajaan Air!!”
Arena yang sempat hening kini kembali bergemuruh meledak. Sorak-sorai histeris penonton mengguncang langit, merayakan duel terhebat pagi itu.
Raden menoleh menatap Nasse yang terengah-engah di bawahnya. Pemuda besar itu menurunkan kuda-kudanya, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam memberi hormat. “Kau lawan yang sangat hebat, Kapten Langit. Sebuah pertarungan fisik yang luar biasa.”
Nasse mendongak. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia membalasnya dengan senyum samar penuh rasa hormat. “Tulangmu ternyata jauh lebih keras dari karang laut, Raden. Pertahankan tinjumu itu… Jangan sampai kau kalah dengan memalukan di babak semifinal berikutnya.”
Kedua kapten itu saling mengulurkan tangan yang memar, saling menarik tubuh, lalu berjalan beriringan kembali menuju sisi tim masing-masing.
Di tribun kehormatan, Diyah menatap duel berdarah itu dengan sepasang mata yang berbinar penuh evaluasi. Mereka berdua ternyata sudah sekuat ini… jalan yang harus kutempuh untuk mengamankan puncak turnamen ini akan jauh lebih brutal dari dugaanku sebelumnya, batinnya waspada.
Suara bariton Jenderal Hameng kembali mengambil alih arena. “Pertandingan ketiga akan segera dimulai! Untuk perwakilan kedua tim, segera bersiap dan masuki arena!”
Beberapa saat kemudian, gong perunggu raksasa kembali dipukul tiga kali berturut-turut. Dung… Dung… Dung…
Sorak-sorai penonton yang masih mendidih dari pertarungan epik sebelumnya mendadak mereda secara misterius, berubah menjadi bisik-bisik penasaran yang menjalar bagai ombak di tribun. Seluruh pasang mata kini tertuju lurus ke arah podium tengah, menunggu dengan napas tertahan akan pertandingan penutup penyisihan.
Jenderal Hameng berdiri tegap, dadanya membusung saat suaranya menggelegar. “Pertandingan Ketiga! Penguasa elemen magma, Kerajaan Api… melawan benteng mutlak, Kerajaan Bumi! Kepada kedua tim, segera melangkah maju ke pusat arena!”
Seketika, hawa panas merambat memenuhi stadion saat Tim Kerajaan Api melangkah masuk. Begitu kedua tim berdiri saling berhadapan di jarak dekat, tekanan atmosfer langsung berubah mencekam. Gelombang hawa panas yang sengaja diembuskan oleh tim Kerajaan Api mendidih sangat kuat, hingga membuat pandangan visual udara di sekitar mereka bergetar terdistorsi.
Sebaliknya, barisan Pendekar Kerajaan Bumi tampak sangat gelisah. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes deras membasahi dahi mereka, padahal suhu inti di arena es tersebut sangatlah membekukan. Hawa intimidasi membunuh dari Kerajaan Api telah meruntuhkan mental mereka sebelum pedang dihunus.
Jenderal Hameng mengangkat tangan kanannya ke udara, mengambil napas untuk memulai pertarungan.
Namun, kejadian di luar nalar terjadi. Tiba-tiba, Pangeran Hedie, kapten Tim Kerajaan Bumi, melangkah maju dua tindak dengan raut wajah pucat dan sangat serius. Ia mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi ke arah wasit, memberikan sebuah isyarat keputusasaan.
”Tuan Wasit! Tim Kerajaan Bumi… dengan ini secara resmi menyatakan menyerah mutlak! Kami mundur dan tidak akan mengangkat senjata bertanding melawan Kerajaan Api!” teriak Hedie dengan suara gemetar.
Arena raksasa itu langsung bergemuruh gila. Puluhan ribu penonton berdiri terkejut, menghujani Hedie dengan teriakan protes, cibiran, dan rasa tak percaya akan tindakan pengecut tersebut.
Jenderal Hameng menurunkan tangannya, menatap tajam menembus mata pemuda itu. “Sebagai pewaris takhta Bumi, apakah kau benar-benar sadar dan serius dengan keputusan memalukan ini?!” tanyanya memastikan.
Hedie menelan ludah, mengangguk patah-patah dengan wajah tertekan. “Ya… Kami sangat sadar dan tahu di mana batas jurang kematian kami. Lebih baik kami mengangkat kepala keluar dari arena dengan sisa harga diri dan nyawa di kandung badan, daripada harus membusuk mati sia-sia di bawah pijakan kaki mereka.”
Mendengar pengakuan menyedihkan itu, Fredy—kapten Tim Kerajaan Api—tertawa sangat pelan. Suara tawanya terdengar berat dan kasar, menyerupai bunyi arang membara yang meledak di perapian.
”Hmph… keputusan yang sangat cerdas. Baguslah jika otak sempitmu akhirnya mampu menyadari di mana posisi rantai makananmu, Hedie,” ucap Fredy. Ia menatap lawannya itu dengan sorot mata yang murni merendahkan, seolah menatap serangga. “Dengan sikap penurutmu ini, pasukanku jadi tidak perlu repot-repot mengotori arena ini dengan abu tulang kalian.”
Para prajurit elit Api di belakang Fredy ikut meledakkan tawa keji, sorak-sorai arogan mereka semakin menambah beban mental yang menekan sisa harga diri Tim Bumi.
Jenderal Hameng mengangkat tangannya kembali, menggunakan Qi-nya agar suaranya menembus kegaduhan cemoohan penonton. “Dengan keputusan pengunduran diri secara sepihak dari Tim Kerajaan Bumi, maka Pertandingan Ketiga dinyatakan berakhir tanpa perlawanan! Pemenang mutlaknya adalah… Tim Kerajaan Api!”
Gong dipukul satu kali. Dentumannya kali ini terasa sumbang dan sangat berat, dipenuhi oleh kekecewaan penonton yang tak puas, bercampur dengan aura ketakutan akan dominasi tanpa tanding dari Kerajaan Api.
Setelah keputusan sah dijatuhkan, para anggota Tim Kerajaan Bumi menundukkan kepala mereka dalam-dalam, menyeret langkah kaki mereka mundur perlahan keluar dari arena menanggung malu seumur hidup.
Di sisi pusat arena, Tim Kerajaan Api justru berdiri membusungkan dada mereka. Fredy memutar tubuhnya perlahan, menatap arogan ke arah tribun penonton VIP. Suaranya menggelegar penuh ancaman. “Buka mata kalian dan lihatlah baik-baik! Tak ada satu makhluk pun di benua ini yang sanggup berdiri menghalangi jalan kami! Kemenangan tanpa keringat ini baru sebuah salam pembuka. Siapa pun yang berani mencoba menghalangi langkah kami di semifinal nanti, bersiaplah untuk hangus terbakar hingga ke inti jiwa kalian!”
Ancaman terbuka itu diarahkan secara spesifik ke tribun istana es. Diyah mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, sorot matanya tajam mengunci wajah Fredy di arena bawah. “Kekuasaan Kerajaan Api… mereka benar-benar musuh paling barbar dan berbahaya yang harus kita bunuh di turnamen ini,” desis Diyah di sela giginya.
Mendengar orasi arogan Fredy, Andin mendengus kasar, bibirnya menyeringai sinis penuh cemoohan. “Bah! Coba kau lihat kesombongan monyet merah itu, berlagak seakan dia adalah dewa yang tak terkalahkan. Apa otaknya sudah amnesia kalau beberapa hari yang lalu dia nyaris mati mengencingi celananya saat dihajar habis-habisan oleh Tuan Ken? Hahaha, dia benar-benar badut yang tolol.”
Julia melangkah maju, meletakkan sebelah tangannya dengan lembut di bahu Diyah. Suaranya terdengar tenang namun menyimpan keyakinan yang membara. “Tenangkan sirkulasi emosimu, Diyah. Ingat, kita sudah berlatih berdarah-darah hingga sampai sejauh ini bukan untuk gemetar menghadapi anjing menggonggong. Percayalah, saat kita turun ke arena nanti, kita akan membekukan kesombongan mereka bersama-sama.”
Di tribun tertinggi yang tersembunyi dalam bayangan, Ken yang sedari tadi duduk menyilangkan kaki dalam kebisuan mutlak, menatap lurus dengan sorot mata yang jauh lebih mematikan ke arah Fredy. Dalam kesunyian batinnya, sebuah sumpah kematian terukir.
Kobaran api arogansi itu… nikmatilah sisa kesombonganmu. Cepat atau lambat, aku sendiri yang akan mencabut jantungmu dan memadamkannya untuk selamanya, janji Ken dalam hening.
Kegaduhan arena yang semula riuh dipenuhi cemoohan dan sorakan kini perlahan mulai mereda, namun sisa-sisa api semangat tarung penonton masih menyala terang menunggu kelanjutan acara. Jenderal Hameng kembali melangkah maju menempati posisi sentral di atas podium batu es. Suara baritonnya kembali membius telinga seluruh sudut Arena Cakrawala.
”Hadirin sekalian! Dengan berakhirnya babak penyisihan berdarah hari ini, mata kita telah menjadi saksi dari seberapa mengerikan batas kekuatan generasi muda dari enam kerajaan agung!” seru Hameng. “Kini, tibalah saatnya bagi saya untuk mengumumkan formasi siapa saja yang berhak saling membunuh di babak perempat final besok! Dan, berdasarkan penilaian performa pertarungan yang luar biasa memukau, slot keempat—jalur Wildcard—diberikan secara sah kepada… Tim Kerajaan Langit! Mereka resmi masuk menyempurnakan posisi empat besar!”
Sorakan ribuan penonton dari faksi Kerajaan Langit kembali meledak, seakan suntikan adrenalin kosmik baru saja mengisi rongga udara yang beku.
Jenderal Hameng membiarkan euforia itu sesaat sebelum melanjutkan pengumuman bagan pertandingan dengan lantang. “Pertandingan Semifinal yang mempertaruhkan nyawa akan dilanjutkan tepat esok pagi! Dan berikut adalah hasil undian urutan pertandingannya! Pertandingan Pertama: Sang Tuan Rumah, Kerajaan Es… akan diadu kekuatan melawan Kerajaan Air! Dan untuk Pertandingan Kedua: Tim Kerajaan Langit… akan menuntut balas dengan menghadapi Kerajaan Api!”
Teriakan dukungan dan lengkingan siulan seketika memekakkan telinga memenuhi udara. Sebagian besar penonton di tribun mulai ribut membedah analisa, membicarakan persentase peluang hidup dan adu strategi dari masing-masing tim unggulan mereka.
Di bangku petarung, Julia secara naluriah menggenggam erat tangan Diyah. Matanya berbinar antusiasme tempur, namun sisa ketegangan tak bisa disembunyikan dari sudut bibirnya. “Diyah… takdir benar-benar kejam. Kita akan turun melawan Kerajaan Air. Seumur hidupku, aku sama sekali tak pernah menyangka suatu hari nanti harus mengangkat pedang berhadapan dengan tunanganku sendiri, Raden.”
Andin justru menepuk dadanya dengan kepalan tinju, memancarkan aura arogansi penuh percaya diri. “Baguslah kalau begitu! Semakin deras arus ombak yang menghantam kita, semakin keras dan kokoh pula dinding es kita akan membeku untuk menghancurkan mereka!”
Diyah tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, sepasang matanya yang sebiru safir menatap tajam ke arah tribun kontingen Kerajaan Air di seberang sana.
Elemen Air akan diadu melawan Elemen Es. Besok… pertarungan ini murni tentang siapa yang lebih pantang menyerah. Tak boleh ada setitik pun celah kelengahan di pihak kita, batin Diyah mengunci fokusnya pada turnamen maut esok hari.
Sebuah pukulan telak pada gong raksasa kembali berdentang satu kali, gaungnya panjang dan syahdu, menandai penutupan resmi hari pertama turnamen. Puluhan ribu penonton berangsur-angsur bangkit dan bubar meninggalkan tribun, namun sisa-sisa semangat tempur dan ketegangan pembunuhan tetap tertinggal bergelora, meresap ke dalam pilar-pilar es arena.
Hari esok… Arena Cakrawala Salju ini dipastikan akan kembali menjelma menjadi neraka medan tempur yang sesungguhnya.



