Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Melampaui Batas Tubuh
Setelah menyelesaikan pertandingan penyisihan pertamanya di arena fana, Diyah segera membuka portal dan mencari Ken di dimensi Dunia Korzian.
Sinar mentari sore menembus sela-sela kanopi pepohonan kristal di Dunia Korzian, memantulkan pendaran cahaya biru keperakan yang mendamaikan jiwa. Diyah berjalan pelan menyusuri jalan setapak. Napasnya masih terasa sedikit berat, efek sisa sirkulasi Qi-nya yang bergejolak setelah pertarungan mematikan tadi. Meski setiap otot di tubuhnya menjerit kelelahan, hatinya berdebar penuh semangat—ada satu orang yang sangat ingin ia temui untuk membagikan kemenangannya.
”Kak Ken… kau ada di mana?” panggil Diyah sambil menoleh ke kiri dan kanan. Suaranya bergema lembut memantul di antara formasi kristal yang luas itu.
”Tuan Putri, aku ada di sini.”
Sebuah suara yang teramat tenang dan berat mendadak mengalun tepat dari arah punggungnya.
Dyah terlonjak kaget. Ia menoleh dengan cepat, tangannya refleks memegangi dadanya yang berdegup kencang. “Astaga, Kak Ken! Jantungku hampir copot, kau benar-benar mengagetkanku,” ujarnya dengan mata membulat, lalu mengembuskan napas panjang sembari menepuk dadanya lega. Ia sama sekali tidak merasakan fluktuasi hawa keberadaan pemuda itu mendekat.
Ken berdiri mematung dengan tenang, kedua tangannya tersimpan rapi di balik jubah hitamnya. Tatapannya dalam, namun permukaannya sedatar danau beku. “Ayolah, kupikir Tuan Putri datang kemari untuk menyiksa diri dan berlatih, bukan untuk melamun?” katanya sembari melangkah pelan mendekat.
”Hmmm…” Diyah menundukkan wajahnya sebentar, jemarinya tanpa sadar memainkan ujung rambut peraknya karena salah tingkah. “Sebenarnya iya, sih. Tapi alasan utamaku… aku juga ingin segera bertemu denganmu, Kak Ken.” Senyum malu-malu yang teramat manis terukir di wajah cantiknya.
Alis Ken sedikit terangkat. “Oh, benarkah?” suaranya tetap terdengar dingin, sengaja membangun benteng agar tak mudah terbawa oleh arus kehangatan dan kepolosan gadis itu.
”Iya, tentu saja, Kak Ken! Oh, iya!” Diyah tiba-tiba teringat tujuan utamanya, matanya seketika berbinar terang. “Bagaimana dengan pertandinganku di arena tadi? Kak Ken menontonnya dari awal sampai akhir, kan?” tanyanya penuh harap, menunggu penilaian dari sang grandmaster.
Ken menatap lurus, raut wajahnya tak berubah menjadi euforia, melainkan tetap memancarkan keseriusan evaluasi militer. “Tuan Putri sudah bertarung dengan sangat hebat. Daya ledak dari teknikmu bahkan mampu mementalkan Pangeran Kerajaan Angin beserta seluruh timnya keluar arena dalam satu tarikan napas.”
Mendengar pujian itu, senyum Diyah merekah semakin lebar, namun ia lekas menunduk untuk merendah. “Itu semua murni karena eksekusi kerja sama tim yang solid… bukan hanya karena kekuatanku sendiri,” ucapnya dengan nada lembut. Namun sedetik kemudian, raut keceriaannya sedikit meredup. “Sayangnya… dalam formasi tadi, Onoke dan Arsa tidak datang memenuhi panggilan,” lanjutnya lirih, menyiratkan kekecewaan seorang rekan.
Mendengar nama kedua pengkhianat itu, mata Ken menyipit tajam. Hawa di sekitarnya mendadak turun beberapa derajat. “Satu nasihat dariku: Sebaiknya Tuan Putri tidak perlu lagi menaruh simpati atau berharap pada kesetiaan mereka berdua.”
”Hah? Kenapa kau berkata begitu, Kak Ken?” Diyah menatapnya dengan dahi berkerut, tak sepenuhnya memahami intrik gelap yang tersembunyi.
Ken memalingkan wajahnya menatap kejauhan, sorot matanya meredup memendam rahasia berdarah yang belum saatnya ia bongkar. “Cepat atau lambat, Tuan Putri akan melihat sendiri kebenaran di balik topeng mereka.”
Dyah terdiam, menelan kembali rentetan pertanyaan yang menggantung di ujung bibirnya. Menyadari Ken enggan membahasnya lebih jauh, ia akhirnya hanya menghela napas pelan. “Hmmm… ya sudahlah, baiklah,” katanya seraya menguatkan tekad, lalu memutar tubuhnya melangkah maju menuju mulut gua obsidian—Ruang Latihan Dewa.
Ken berjalan mengiringi di sampingnya. Langkahnya kokoh dan mantap, menyiratkan bahwa ia sangat tahu perjalanan Diyah mulai dari titik ini akan merobek batas fisik dan kewarasan gadis itu.
Begitu melintasi ambang batas formasi, mereka berdua berdiri di tengah hamparan ruangan raksasa berdinding giok putih. Rambut perak panjang Diyah tergerai sebagian, wajah cantiknya masih menyimpan jejak keletihan dari rentetan simulasi kemarin dan pertarungan hari ini. Namun, di balik semua kelelahan fana itu, sorot matanya menyala terang bak nyala api biru. Ia sangat sadar, hari ini bukan sekadar rutinitas latihan biasa. Hari ini, ia harus membuktikan pada Ken dan dirinya sendiri bahwa tubuh fisiknya sanggup mengimbangi kekuatan jiwanya yang telah mencapai Bintang Emas.
Ken berdiri di luar cincin arena, melipat kedua tangannya di dada. “Kuperingatkan dari awal. Hari ini aku tidak akan memberikan sedikit pun kelonggaran untukmu, Tuan Putri. Sebagai perkenalan pertama latihan melawan manipulasi medan gravitasi,” katanya, suaranya yang berat bergema memantul di dinding ruangan yang luas itu.
Diyah menarik napas dalam-dalam, menyuplai oksigen ke paru-parunya, lalu mengangguk dengan tekad bulat. “Aku siap, Kak Ken. Hancurkan aku.”
Ken menekan panel rune kendali yang terukir di dinding batu dekat pintu masuk.
WUNGGG! Medan energi seketika aktif. Tubuh Diyah seakan dihantam oleh palu godam tak kasat mata dari atas langit. Kakinya langsung terpaku keras ke lantai giok. Paru-parunya seketika tercekik, dipaksa bekerja gila-gilaan hanya untuk menarik sehelai napas.
”Level ini telah diatur menjadi lima kali lipat gravitasi normal dunia fana,” ucap Ken dengan nada yang kejam dalam ketenangannya. “Mulailah melangkah. Berjalan dan bergeraklah.”
Diyah mengerahkan seluruh pasokan Qi di meridiannya. Saat ia mencoba mengangkat satu kakinya, lututnya bergetar hebat. Langkah pertamanya terasa seperti ia sedang menyeret batu seberat gunung berapi. Tulang-tulangnya berderak memprotes tekanan, dan jantungnya berdegup kencang bagai genderang perang.
”Ayo, Tuan Putri! Jangan biarkan beban itu menelanmu!” seru Ken tak kenal ampun.
Diyah menggertakkan giginya hingga rahangnya menonjol. Bulir keringat dingin mulai menetes deras dari pelipisnya, mengabaikan fakta bahwa suhu di dalam ruangan itu terasa sangat sedingin es. Selangkah… dua langkah… tubuh mungilnya bergetar parah di setiap incinya, tapi ia menolak untuk berhenti maju. Perlahan, muscle memory dan sel-sel tubuhnya mulai dipaksa bermutasi untuk beradaptasi dengan tekanan abnormal tersebut.
”Sekarang… melompatlah,” titah Ken mematahkan ritme adaptasinya.
Dyah menunduk, mengertakkan gigi, dan mengompresi seluruh tenaga ke otot betisnya. Ia memaksakan sebuah tolakan. Namun, gravitasi menolak melepaskannya. Lututnya nyaris patah; tubuhnya hanya berhasil terangkat mengambang beberapa sentimeter dari lantai sebelum akhirnya terbanting jatuh kembali dengan bunyi debuk yang keras. Napasnya langsung tersengal, dadanya menghantam ubin giok.
”Bangkit!” suara Ken membahana tak terbantahkan.
Dengan sisa tenaga dan harga diri yang tersisa, Diyah menggigit bibirnya dan mencoba menolak tubuhnya lagi. Kali ini, ia memaksa loncatannya sedikit lebih tinggi. Namun gravitasi lima kali lipat itu kembali membantingnya jatuh. Kedua telapak tangannya berbenturan keras menahan ubin lantai hingga lecet, tapi lengan rapuhnya berhasil menahan tubuhnya agar wajahnya tidak remuk. Dadanya naik-turun dengan cepat mencari udara, dan wajah putihnya kini memerah padam akibat tekanan darah yang terpusat.
”Bagus. Jangan menyerah,” Ken mengangguk pelan memberikan apresiasi dingin. “Sekarang, pertahankan kuda-kuda dan lakukan pukulan tinju ke udara.”
Dyah mengepalkan kedua tangannya dengan susah payah, lalu memaksakan ayunan tinju lurus ke depan. Gerakannya melambat drastis seakan ia sedang meninju di dalam lumpur hisap, sementara serat-serat otot lengannya terasa seperti dibakar hidup-hidup oleh lahar panas. Ia mengulangi siksaan itu. Satu… dua… tiga… hingga sepuluh kali ayunan. Kerangka tubuhnya merintih seakan ingin runtuh menjadi debu, tapi mental bajanya sukses menahan segalanya.
Setelah beberapa menit berlalu yang terasa seperti penyiksaan berjam-jam di neraka, Ken akhirnya menyentuh panel rune dan menonaktifkan medan gravitasi tersebut.
Hukum alam kembali normal. Hilangnya tekanan ekstrem itu membuat Diyah langsung ambruk terduduk di lantai. Napasnya memburu rakus. Namun, begitu paru-parunya tenang, ia menyadari sebuah keajaiban; tubuhnya mendadak terasa jauh lebih ringan dan bebas dari sebelumnya, seakan gravitasi asli dunia ini sudah tidak lagi mampu mengekang pergerakannya. Kecepatannya dipastikan akan meningkat tajam.
Ken tak memberikan jeda istirahat yang panjang. Ia menepuk telapak tangannya satu kali.
ZWASH! Lingkaran Rune pemanggilan menyala terang di tengah lantai. Dari dalam pendaran cahaya itu, bermanifestasi sebuah Golem Automaton. Bentuk dan posturnya nyaris menyerupai anatomi tubuh Diyah sendiri, tapi seluruh figur itu terbuat dari perpaduan logam padat dan kristal es abadi yang berkilauan. Mata golem itu menyala dengan api spiritual biru murni, sementara lekuk wajah logamnya sangat dingin dan tanpa emosi.
”Ini adalah lawan tanding pertamamu, Tuan Putri. Sebuah Automaton tempur dengan parameter kekuatan fisik murni dua kali lipat darimu,” kata Ken memberikan deskripsi musuh. “Kalahkan dia. Benda mati ini deprogram untuk tidak memiliki belas kasihan. Dan sebagai handicap tambahan… aku akan mengunci tekanan gravitasi di arena ini menjadi satu kali lipat di atas normal.”
Dyah memaksakan kedua kakinya untuk berdiri tegak. Dadanya masih terengah-engah, namun sorot mata petarungnya sama sekali tak goyah.
Begitu aba-aba dicanangkan, Golem itu langsung merangsek maju. Ia melesat dengan kecepatan yang mengejutkan, membelah udara. Sebuah pukulan mekanis yang sangat keras menghantam telak bahu kiri Diyah, membuat tubuh gadis itu terhempas melayang ke samping arena.
”Ughh!” Diyah meringis menahan nyeri yang menjalar di tulang selangkanya, tapi insting bertahannya membuat ia segera memutar tubuh dan bangkit berdiri.
Automaton itu tak kenal ampun. Ia menyerang lagi secara beruntun, kali ini melontarkan tendangan lurus yang membelah angin. Diyah merunduk ke bawah lintasan kaki logam itu, lalu membalas dengan pukulan telak ke arah perut sang golem. Namun, BAM! Tubuh logam kristal itu nyaris tak bergeming sedikit pun, seolah Diyah baru saja meninju balok baja padat.
Ken berdiri di luar arena dengan tenang, suaranya meluncur memberikan arahan taktis. “Gunakan kecerdasan elemenmu. Jangan bodoh dengan hanya mengandalkan tenaga fisik mentah melawan baja. Panggil Qi esmu, Tuan Putri! Lapisilah kedua tanganmu dengan kristal es murni untuk membentuk sarung tinju pembeku!”
Dyah menarik napas cepat, menyerap instruksi tersebut. Ia mengingat fondasi pelajaran Ken: keseimbangan tubuh, rotasi aliran tenaga, fokus pikiran, dan manipulasi elemen. Dalam sekedipan mata, bongkahan es keras terbentuk membungkus kedua kepalan tangannya.
Kali ini, ia tidak maju menyerang dengan gegabah, melainkan menunggu momentum. Saat Golem itu kembali menerjang dengan ayunan pukulan brutal, Diyah memutar tubuhnya dengan lincah untuk menghindar, lalu menembakkan pukulan counter berlapis es tepat ke arah engsel persendian lengan automaton tersebut.
TRANG! Suara dentingan logam beku yang retak bergema nyaring. Untuk pertama kalinya, Golem itu terhuyung dan terpaksa melangkah mundur.
Dyah menyunggingkan senyum samar di sudut bibirnya yang berdarah. “Aku… aku bisa menghancurkannya…”
Namun sebelum rasa lega itu mengendap, mata biru sang Golem menyala semakin terang. Ia melesat lagi dengan mode tempur yang jauh lebih cepat. Pertarungan jarak dekat yang sangat brutal pun pecah. Suara dentuman tinju yang berlapis es berbenturan keras dengan logam memenuhi seluruh sudut ruangan. Diyah berkali-kali terhempas, terbanting jatuh, hingga darah segar mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya. Tapi di setiap jatuhnya, ia selalu bangkit kembali dengan mata yang semakin menyala.
”Jangan pernah pasrah dan menyerah!” suara Ken menggema keras, membakar semangat.
Memanfaatkan sisa tenaga terakhirnya, Diyah melompat tinggi ke udara, memutar tubuhnya menciptakan daya kejut, lalu menghantamkan tendangan tumit memutar yang berlapis elemen es dengan tenaga penuh. KRAAAK! Hantaman itu mendarat presisi di leher Golem. Kepala logam itu berguncang hebat, sebelum akhirnya tubuh golem itu kehilangan keseimbangan, roboh, dan hancur lebur menjadi serpihan kristal dan serbuk besi.
Diyah mendarat dengan napas terengah parah. Seluruh tubuhnya gemetar hebat menahan kelelahan ekstrem, namun sorot matanya berkilat penuh kemenangan mutlak.
”Tahap satu selesai. Sekarang, panggil tombak pusakamu, Tuan Putri,” titah Ken tanpa memberinya ruang jeda. “Lawan berikutnya telah menanti. Parameter Golem kedua ini disetel dua kali lebih kuat dari yang pertama, dan zirah pelindungnya jauh lebih tebal.”
Diyah terkesiap, tubuhnya secara refleks menegang. Namun belum sempat ia membuka mulut untuk memprotes, lingkaran Rune kembali menyala terang. Berekspansi dari cahaya itu, muncullah Golem baru yang ukurannya satu setengah kali lebih masif dari sebelumnya, dan seluruh lekuk tubuh besinya diselimuti oleh lapisan zirah es purba yang sangat tebal.
Golem raksasa itu melangkah maju. Setiap entakan kakinya yang berat mengirimkan getaran gempa kecil ke seluruh permukaan lantai.
Diyah tak punya pilihan. Ia memanggil Tombak Peraknya dari cincin dimensi, memutarnya dengan anggun membentuk kuda-kuda pertahanan, lalu menancapkan pangkal ujungnya ke lantai. Saat Golem raksasa itu melayangkan pukulan palu godam dari tangannya, Diyah memutar tubuhnya secara akrobatik dan menangkis tebasan itu menggunakan gagang tengah tombaknya.
CLANG! Benturan kekuatan itu meledak. Tekanannya begitu brutal hingga nyaris meremukkan tulang pergelangan tangan Diyah, memaksanya terseret mundur menahan daya tolak.
Mengabaikan rasa sakit, Diyah menggertakkan giginya. Ia melompat melenting dari dinding, memutar ujung tombaknya, dan menghujamkan tusukan fatal langsung ke arah dada golem. SYAAAT! Ujung tombak itu berhasil menembus zirah es, namun kekuatannya tertahan dan tak mampu menembus inti baja logam lebih dalam. Golem raksasa itu merespons dengan menepis brutal gagang tombak, lemparan energi itu membuat Diyah nyaris terlempar melintasi arena.
Ken berseru memberikan koreksi dari tepi arena. “Jangan adu ototmu dengan besi! Gunakan keunggulan kecepatan dan kelincahanmu, Diyah! Jangan membuang tenagamu untuk tebasan yang percuma!”
Dyah mengangguk cepat, mengubah strateginya. Ia kini bergerak selincah tarian angin, sepenuhnya mengandalkan teknik penghindaran. Ia berputar, mencari titik mati musuh, menusuk dangkal untuk memancing respons, lalu menghindar lagi dengan kecepatan bayangan. Gerakan demi gerakan Diyah semakin mulus seiring berjalannya waktu.
Fokus matanya akhirnya menemukan satu titik kelemahan struktur: sebuah celah tipis yang tak terlapisi es pada persambungan leher sang Automaton. Dengan sebuah teriakan perang yang melengking, Diyah memompa seluruh sisa Qi-nya ke kaki, melompat sangat tinggi, dan menghujamkan tombaknya layaknya komet jatuh tepat di titik mematikan tersebut.
KRAAAK! BLAAR! Leher Automaton itu tertembus telak. Mesin kristalnya berguncang liar karena korsleting energi, lalu hancur berderak berhamburan menutupi lantai.
Dyah terhuyung mendarat dengan tombak masih tergenggam erat sebagai penopang tubuhnya. Paru-parunya menjerit mencari udara.
Ken menurunkan tangannya yang sedari tadi bersedekap. “Tahap dua selesai. Sekarang, lenyapkan kembali senjatamu. Kau akan menghadapi ujian terakhir ini murni dengan tangan kosong.”
Diyah menatap tak percaya, lalu dengan tangan bergetar kelelahan ia menyimpan kembali tombaknya ke dalam dimensi spasial. Namun, sebelum sarafnya sempat mencerna rasa sakit, lingkaran Rune menyorotkan cahaya ketiganya. Golem terakhir ini memiliki proporsi dan ukuran yang sama persis seperti Diyah, namun parameter tenaga dan kecepatannya telah dilipatgandakan menjadi tiga kali lipat dari batas manusia.
Diyah mengepalkan tangannya kuat-kuat, merapal mantra untuk kembali melapisi tinjunya dengan bongkahan es murni. Pertarungan tanpa senjata babak final pun meledak.
Rentetan tinju supersonik, sapuan tendangan, hingga teknik bantingan saling beradu dalam kecepatan yang nyaris tak bisa diikuti mata telanjang. Diyah berkali-kali dipukul mundur, terjatuh, namun selalu memaksakan diri untuk merangkak dan bangkit kembali membalas pukulan. Seluruh tubuhnya kini dihiasi lebam memar, namun matanya tetap menyala tak kenal ampun. Ia memaku ajaran fundamental Ken di dalam otaknya: Jangan pernah hanya sekadar bertahan menunggu mati… seranglah dan bertarunglah menggunakan insting hatimu!
Memanfaatkan momentum di mana sang golem lengah setelah melepaskan uppercut, Diyah meminjam daya dorong pijakannya, melompat menyamping, memutar tubuhnya secepat putaran gasing, dan menghantamkan tinju esnya yang dikompresi dengan tenaga penghabisan tepat ke sisi pelipis mesin pembunuh tersebut.
CRAAAK! Bunyi retakan logam terdengar nyaring. Golem berkecepatan tinggi itu terhuyung-huyung hilang keseimbangan, sistem motoriknya meledak, sebelum akhirnya seluruh tubuhnya runtuh menjadi kepingan rongsokan kristal.
Dyah ambruk berlutut. Dadanya naik-turun dengan sangat cepat, sekujur jubah dan kulitnya basah kuyup oleh campuran peluh dan darah. Namun di balik penyiksaan yang nyaris merenggut nyawanya itu, sebuah senyum kemenangan yang amat memuaskan terukir di wajah cantiknya.
Ken melangkah perlahan melintasi puing-puing arena, lalu berjongkok dan menepuk bahu gadis itu dengan tatapan penuh kebanggaan murni. “Kerja yang sangat luar biasa brilian, Tuan Putri. Kau hari ini benar-benar telah sukses merobek dan melampaui batas toleransi tubuh fanamu.”
Ken merogoh balik jubahnya dan menyodorkan sebutir pil. “Minumlah pil pemulih ini… lalu segera atur kembali pernapasamu. Karena setelah ini, kita akan mengulangi siklus yang sama, namun aku akan menaikkan tekanan gravitasinya ke Level Dua,” ucap Ken datar dengan wajah tanpa dosa.
Dyah mendongak, menatap pria itu dengan sepasang mata yang berkilat lebar, seolah ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Hah?! Kak Ken… a-apa kau serius ingin membunuhku?” tanyanya terkejut, tubuhnya nyaris tak sanggup lagi berdiri.
”Tentu saja aku serius. Kita akan terus mengulangi siksaan ini berputar-putar seharian penuh,” Ken tersenyum tipis, sebuah senyuman iblis berkedok pelatih.
”Hah!… Ya ampun… Baiklah, Kak Ken,” jawab Diyah dengan helaan napas yang teramat pasrah dan lemah.
Dyah duduk bersandar penuh pada lantai, menahan napasnya yang masih memburu. Rambut peraknya lepek menempel di dahi yang berkeringat. Bibir indahnya pecah dan mengering, namun di kedalaman sorot matanya, api ambisi tak pernah padam.
Bayangan tubuh tegap Ken jatuh menutupi Diyah. Meski ekspresi pemuda itu membatu sedatar dewa maut, namun nada suaranya mengalun dengan ketegasan yang anehnya memberikan ketenangan batin tersendiri. “Mampu melampaui batas fisikmu yang sekarang hanyalah sebuah langkah awal, Tuan Putri. Jika kau memiliki ambisi untuk duduk di puncak rantai makanan sebagai yang terkuat… maka kau tidak punya pilihan selain terus mendaki dan meningkatkan level tekanan gravitasi ini hingga tulangmu hancur dan mengeras menjadi baja abadi.”
Dyah perlahan mengangkat wajahnya. Mata biru safirnya berkilat menantang meski sekujur kerangkanya gemetar memprotes. “Kak Ken… apakah siksaan gila seperti ini benar-benar diperlukan untuk menjadi pemenang? Saat ini… seluruh organ dan sendiku rasanya sudah mati rasa, aku nyaris tak bisa digerakkan lagi,” ucapnya lirih. Ia terdiam sejenak meresapi rasa sakit itu, lalu tersenyum samar yang memancarkan keberanian. “Tapi aku tahu… bahkan jika aku meratap memohon padamu pun, kau tidak akan pernah menyuruhku untuk berhenti, bukan?”
Ken menatap gadis keras kepala itu cukup lama. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pembelaan, melainkan perlahan mengulurkan sebuah pil spiritual bulat bersinar—Pil Pancasona. “Buka mulutmu dan telan ini. Begitu meridianmu pulih, kita akan langsung melanjutkan sesi kejam ini.” Senyum tipis yang diberikannya kini lebih terasa seperti sebuah tantangan hidup-mati daripada sekadar dorongan semangat.
Dyah menelan ludah dengan tenggorokan kering. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia menerima pil berharga tersebut. “Hah… baiklah, Pahlawanku,” gumamnya pasrah.
Ia langsung meneguk pil itu. Sesaat, sensasi pahit pekat menyengat lidahnya, namun detik berikutnya, kehangatan kosmik meledak dan menyusup ke seluruh aliran pembuluh darahnya, memperbaiki otot-otot yang robek dan memulihkan kembali sisa kekuatannya secara instan.
Memanfaatkan pemulihan itu, Dyah bangkit berdiri secara perlahan. Meski kedua kakinya masih sedikit goyah dan tak stabil, postur tubuhnya tetap tegak menantang. “Kak Ken… dengarkan aku baik-baik. Jika di ronde berikutnya aku kembali jatuh tersungkur tak berdaya, jangan pernah mencoba menolongku. Biarkan aku mencari cara untuk bangkit memungut harga diriku sendiri,” titah gadis itu menantang gurunya.
Mendengar ultimatum itu, salah satu alis Ken sedikit terangkat. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya memberikan anggukan tunggal yang sangat pelan. Sorot matanya yang tajam seakan memberikan pengakuan mutlak: Memang begitulah seharusnya mental seorang dewa perang ditempa.
Keheningan absolut kembali menyelimuti ruang latihan raksasa itu. Yang terdengar hanyalah irama tarikan napas Diyah yang berusaha menstabilkan detak jantungnya.
Tanpa ragu, Ken berbalik dan melangkah tenang menuju panel batu di sisi dinding ruangan, jemarinya siap menekan tombol kendali rune.
”Persiapkan tulang-tulangmu. Level gravitasi… aku naikkan ke Level Dua,” vonis Ken tanpa ampun.
Dyah memejamkan mata, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Sebuah senyum tipis keberanian menembus lapisan luka memar dan peluh yang menghiasi wajahnya. “Baiklah… ayo kita mulai lagi neraka ini.”
Dan tepat saat beban gravitasi yang dua kali lipat lebih mengerikan dari sebelumnya kembali menimpa dan berusaha meremukkan fisiknya, tekad di dalam jiwa Diyah justru meledak menyala seratus kali lipat lebih terang. Hari penyiksaan ini secara resmi menandai titik awal dari sebuah perjalanan berevolusi yang akan jauh lebih brutal, berdarah, namun akan sangat menentukan takdir di masa depannya.



