Bab 33

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

Pertemuan Yang Membisu

​Malam itu, angin utara berembus pelan saat Ken membopong tubuh Dyah menyusuri lorong-lorong paviliun Kerajaan Es. Gadis itu tertidur lelap bersandar di dadanya, benar-benar kehabisan tenaga setelah menyiksa batas fisiknya di dalam Ruang Latihan Dewa. Setelah membaringkan Dyah dengan hati-hati di atas peraduannya dan menyelimutinya, Ken melangkah keluar dengan ketenangan yang nyaris tanpa suara.

​Namun, begitu ia menutup pintu kamar Dyah, siluet Svara sudah berdiri menunggunya di bawah temaram cahaya obor lorong.

​”Guru, apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Dyah?” tanya Svara dengan nada cemas, melangkah mengikuti bayangan Ken.

​”Dia hanya terlelap karena kelelahan setelah memeras seluruh tenaganya untuk berlatih,” jawab Ken singkat, matanya tetap lurus ke depan.

Astaga… di tengah tekanan turnamen yang membunuh seperti ini, Kak Dyah masih saja nekat memaksakan diri berlatih hingga pingsan, batin Svara seraya menggelengkan kepalanya pelan, kagum sekaligus khawatir.

​Ken menghentikan langkahnya sejenak. Ia melirik murid ketiganya itu lewat ekor mata. “Bagaimana denganmu sendiri? Sudah siap untuk sesi siksaanmu malam ini?”

​Tanpa membuang waktu, mereka berjalan beriringan menuju pelataran es terbuka tempat Dyah biasa menempa dirinya.

​”Ya, Guru. Aku sudah sangat siap,” jawab Svara mantap, sorot matanya menyala menantang dinginnya malam.

​”Baiklah. Kalau begitu cabut pedangmu. Kita mulai sekarang,” titah Ken.

​Sesi latihan neraka pun segera dimulai. Seperti ritual biasanya, Ken sama sekali tidak membalas serangan. Ia hanya menghindar, menepis, dan menahan gempuran Svara. Namun, di setiap pergeseran tubuhnya, Ken tak henti-hentinya mendikte dan memberikan koreksi tajam—mengkritik postur, sudut tebasan pedang, hingga presisi cara gadis itu menyalurkan aliran energi Segel Bintangnya.

​Udara malam di ibu kota Kerajaan Es terasa menusuk hingga ke sumsum tulang. Namun, pelataran latihan itu tampak magis, diterangi oleh pendaran cahaya rembulan yang memantul sempurna pada hamparan salju abadi. Embusan napas mereka mengepul membentuk kabut tipis di udara setiap kali mereka bergerak.

​Ken berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap di dada. Matanya setajam elang, menguliti setiap inci pertahanan muridnya. Di hadapannya, Svara telah mengambil kuda-kuda rendah. Napas gadis berambut perak itu teratur, sementara sorot matanya mengunci Ken dengan tekad membunuh yang murni.

​”Jangan bodoh dengan hanya mengandalkan tenaga fisik mentahmu. Rasakan aliran energi kosmik yang tertidur di dalam meridianmu. Bangungkan dan alirkan ke ujung senjatamu,” instruksi Ken dengan nada yang teramat tenang, namun memancarkan wibawa absolut seorang dewa perang.

​”Sesuai perintah, Guru!” sahut Svara lantang membelah kesunyian malam.

​Svara langsung melesat memecah jarak. Bilah pedangnya berkilau menyilaukan diterpa cahaya bulan, memutar cepat di udara sebelum menebas ganas ke arah leher Ken. Namun, seperti yang sudah-sudah, Ken hanya bergeser setengah langkah ke samping. Sebuah pergerakan yang teramat sederhana, namun dieksekusi dengan timing dewa, membuat tebasan maut Svara hanya membelah angin kosong.

Kecepatannya sungguh di luar nalar… mataku sama sekali tak bisa menangkap awal pergerakannya, gumam Svara dalam hati. Namun mentalnya menolak untuk ciut. Ia terus memburu Ken. Tebasan demi tebasan, tusukan demi tusukan, ia hujamkan secara beruntun tanpa secercah pun keraguan.

​Ken menangkis semua rentetan serangan itu dengan gerakan yang sangat minimalis. Terkadang ia hanya menggunakan ujung jari telunjuknya untuk menyentil sisi tumpul bilah pedang, atau sekadar memutar pergelangan tangannya untuk membelokkan momentum mematikan Svara. Namun, di setiap interaksi kecil itu, momentum serangan Svara selalu patah dan terhenti secara absolut.

​Keringat panas mulai menetes dari pelipis Svara dan langsung membeku di udara malam yang sedingin es. Napasnya memburu rakus mencari oksigen, tapi kobaran api di matanya justru semakin menyala beringas. Svara sangat sadar, malam ini bukan lagi sekadar latihan fisik fana—ini adalah ujian penyiksaan mental, penguasaan distribusi energi, dan penempaan tekad di hadapan monster yang tak terkalahkan.

​”Cukup bagus, Svara,” ucap Ken datar sembari bergeser ringan selembut bayangan untuk menghindari tusukan kilat. “Kau sudah mulai paham bagaimana menyalurkan esensi Segel Bintangmu ke bilah pedang. Sekarang, pusatkan seluruh Qi-mu pada satu titik hancur.”

​Svara menggertakkan giginya hingga rahangnya menonjol. “Akan kulakukan, Guru!”

​Gadis itu memejamkan mata sekejap, mengisolasi semua gangguan luar, dan menarik seluruh cadangan energi di tubuhnya. Saat ia membuka mata kembali, sepasang pupilnya berpendar kebiruan. Kilatan cahaya es samar mulai menyelimuti dan beresonansi di sepanjang bilah pedang peraknya.

​Ken menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. “Ya… seperti itu,” ucap Ken mengevaluasi. “Sekarang tunjukkan padaku, Svara. Tebas aku dengan memusatkan seluruh sisa tekad dan nyawamu pada satu serangan ini.”

​Dengan teriakan perang yang melengking memecah kesunyian istana, Svara melompat dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Pendaran cahaya Segel Bintangnya meledak menyilaukan, menyayat udara malam dengan tekanan yang membekukan darah. Dan untuk pertama kalinya sejak latihan itu dimulai, Ken melepaskan sedekap tangannya. Ia mengangkat telapak tangannya dan melapisinya dengan Qi pelindung untuk menyambut serangan maut tersebut secara langsung.

CRAAAANG!

​Benturan kedua energi itu meledak, memancarkan percikan gelombang kejut cahaya biru keperakan yang menerangi seluruh pelataran bersalju layaknya kilatan petir. Udara di sekeliling mereka bergetar hebat, menerbangkan lapisan salju menjadi badai badai kecil. Dan untuk satu detik yang terasa abadi, Svara akhirnya bisa merasakan bilah pedangnya benar-benar berbenturan dan tertahan oleh aura mutlak gurunya.

​Ken menahan tebasan berkekuatan penuh itu dengan raut wajah tanpa emosi, lalu perlahan menurunkan tangan gadis itu dan menepuk pundak muridnya dengan lembut. “Sangat bagus. Dengan ayunan barusan, kau telah berhasil melangkah satu tingkat lebih maju menembus batasmu.”

​Svara menjatuhkan lututnya ke salju. Napasnya terengah-engah parah kehabisan tenaga, tapi sebuah senyum tipis kepuasan merekah di bibir pucatnya. Meski otot-ototnya menjerit, matanya memancarkan rasa bangga yang luar biasa.

​Sesi latihan malam itu pun resmi disudahi. Setelah memulihkan sirkulasi napasnya, Svara bangkit dan membungkuk hormat sembilan puluh derajat.

​”Kalau begitu, aku memohon pamit untuk kembali ke paviliunku dan bermeditasi, Guru,” ucap Svara dengan tata krama yang teramat sopan.

​Ken mengangguk pelan. “Ya… beristirahatlah. Berhati-hatilah di jalan.”

​Svara pun memutar tubuhnya dan melangkah pergi, siluetnya perlahan ditelan oleh bayang-bayang lorong istana yang disinari cahaya bulan. Ken sendiri berbalik arah. Ia menyusuri jalanan batu bata es di kompleks Kerajaan Es dengan langkah santai, seolah tengah memancing keluar sesuatu dari dalam kegelapan.

​Dan benar saja, dari kejauhan, sepasang remaja tengah mengendap-endap memperhatikannya.

​”Hei, Wisa… kalau mataku tidak salah, bukankah pria berjubah hitam itu adalah Tuan Ken?” bisik salah seorang remaja dengan mata berbinar-binar penuh antusias.

​”Hmm… kau benar. Dari postur dan hawa keberadaannya yang mengerikan, itu sudah pasti dia,” jawab remaja di sebelahnya datar. Meski nada suaranya dijaga agar terdengar biasa saja, matanya tak sedetik pun lepas mengunci pergerakan Ken.

​”Bagus! Kalau begitu, kita akhirnya berhasil menemukannya setelah berputar-putar. Sekarang… apa rencana gilamu selanjutnya?” tanya remaja pertama, suaranya sedikit bergetar menahan gugup.

​”Tentu saja kita akan melangkah maju, mencegatnya, dan menanyainya secara langsung,” balas Wisa dengan santai seolah menantang maut adalah hal biasa.

​”Hah?! A-apa kau benar-benar punya nyali sebesar itu?” tanyanya ragu, menelan ludah dengan susah payah seraya terus merayap mengikuti Ken dari jarak jauh.

​”Hah! Ya jelaslah. Memangnya apa yang harus kutakutkan darinya?” jawab Wisa menaikkan alisnya heran.

​”Wah… luar biasa! Reputasimu memang bukan omong kosong. Putra Mahkota Kerajaan Air ternyata memang pemuda yang tak kenal takut,” puji temannya itu dengan decak kagum. Hehe… sangat kebetulan, aku benar-benar beruntung bisa memanfaatkannya sebagai tameng di depan monster itu, batin remaja itu kegirangan, merasa rencananya berjalan mulus.

​Mendengar pujian yang terdengar sedikit licik itu, Wisa melirik tajam dari sudut matanya. Kurang ajar, apa anak ini diam-diam hanya berniat memanfaatkanku untuk menjadi martir? batin Wisa mendengus kesal.

​Namun, baru saja mereka mengalihkan pandangan sedetik, sosok Ken tiba-tiba menghilang tanpa bekas dari lorong di depan mereka.

​”Hah?! Ke… ke mana perginya monster itu?!” seru remaja itu panik, memutar kepalanya liar mencari-cari. “Apa kau melihat bayangannya, Wisa?!”

​”Aku juga kehilangan jejaknya, bodoh! Ini semua salahmu karena kau terlalu banyak mengoceh dan berpikir!” omel Wisa ketus, merasa kehilangan buruannya.

​”Apa?! Jadi sekarang kau melemparkan kesalahan ini padaku?!” balas temannya tak terima, siap berdebat.

​Namun, perdebatan konyol mereka langsung dibungkam oleh sebuah suara bariton yang teramat berat dan sedingin es, menggema tepat dari arah punggung mereka.

​”Untuk apa kalian berdua repot-repot mengendap-endap dan mencariku?”

​Jantung kedua remaja itu seakan melompat keluar dari rongga dada. Mereka berbalik dengan kaku. Ken sudah berdiri santai bersandar pada salah satu pilar es, menatap mereka dengan sorot mata pemangsa yang sedang mengawasi mangsa bodohnya.

​”Haaah!!” Keduanya berteriak refleks hampir bersamaan. Remaja penakut itu buru-buru melompat dan bersembunyi di balik punggung lebar Wisa.

​”Ah… T-Tuan Ken! M-maafkan kami, kami sama sekali tidak bermaksud melakukan hal yang mencurigakan,” ucap Wisa terbata-bata, mencoba mati-matian meredam detak jantungnya yang menggila.

​”Benarkah begitu? Sayangnya, dari pupil mata kalian yang bergetar, aku bisa membaca kebohongan dengan sangat jelas,” balas Ken dengan nada datar yang menusuk mental.

​”U-uhh… Hei, cepat katakan saja apa tujuan asli kita padanya,” bisik remaja yang bersembunyi itu seraya menarik-narik jubah Wisa dengan tangan gemetar.

​”Kau pikir bernegosiasi dengan iblis itu mudah?!” desis Wisa melalui sela-sela giginya. Namun, menyadari tak ada jalan mundur, Wisa akhirnya menarik napas sangat panjang. Ia menegakkan tubuhnya, berusaha memancarkan sisa-sisa wibawa kebangsawanan. “Sebenarnya… kami sengaja mencari dan ingin bertemu dengan Anda, Tuan Ken,” ucapnya, meski ujung suaranya masih menyiratkan kegugupan.

​Ken menyipitkan matanya, mengunci sosok kedua pemuda itu. “Untuk tujuan apa? Apakah kalian bagian dari bangsawan Kerajaan Es?”

​”Bukan, Tuan.” Wisa melangkah maju satu tindak, lalu menepuk dadanya dengan bangga. “Aku adalah Wisanggeni, orang-orang biasa memanggilku Wisa. Aku adalah Pangeran dari Kerajaan Air. Dan cecunguk di belakangku ini…” Wisa menoleh dengan tatapan meremehkan ke arah rekannya, “Hei, cepat keluar dan perkenalkan dirimu sendiri.”

​Remaja penakut itu segera melangkah ke samping Wisa. “A-ah, ya… perkenalkan, namaku Arung. Aku mewakili Kerajaan Bumi, Tuan,” ucapnya seraya membungkuk dalam-dalam untuk memberi hormat.

​Ken mengamati keduanya dengan tatapan menilai. Pangeran dari Kerajaan Air dan Kerajaan Bumi… sebuah kombinasi politik yang sangat tidak terduga. “Baiklah. Jadi, urusan mendesak apa yang membuat putra mahkota dua kerajaan menyusup kemari untuk mencariku?”

​Wisa menarik pundaknya, suaranya kini terdengar penuh keyakinan dan ambisi. “Tuan, nama dan reputasi mengerikan Anda telah bergema di seluruh benua. Mulai dari keajaiban Aliansi Siama, hingga pembantaian memukau saat pembukaan Ujian Pandhega tempo hari. Aku… secara pribadi sangat mengagumi kekuatan mutlak Tuan Ken. Dan karena itu, aku datang untuk memohon agar Tuan bersedia menerimaku sebagai murid.”

​Arung seketika tersentak kaget. Haah?! Dasar pengkhianat! Kenapa dia malah hanya memohon untuk dirinya sendiri?! gerutunya panik dalam hati. Tak ingin kehilangan kesempatan emas, ia buru-buru menimpali, “Aku juga, Tuan! Aku juga sangat berhasrat untuk menjadi murid Tuan Ken!”

​Ken terdiam selama beberapa detik. Roda gigi di otaknya berputar merajut skenario. Pewaris takhta dari Kerajaan Air dan Bumi… Menarik sekali. Daripada aku harus turun tangan sendiri mengobrak-abrik struktur politik mereka… mungkin akan jauh lebih efisien jika aku memanfaatkan pangeran-pangeran bodoh ini sebagai pion pionirku di masa depan.

​”Sebuah ambisi yang lumayan. Tapi… apa yang membuatku harus sudi membuang waktu untuk menerima kalian?” tanyanya datar, menuntut alasan yang layak.

​”Karena aku ingin mendaki puncak kekuatan, Tuan! Dan aku bersumpah akan menggunakan kekuatan itu untuk membasmi semua tirani kejahatan di benua ini, persis seperti pedang keadilan yang Tuan Ken tebaskan!” jawab Wisa mantap, menyuarakan idealisme darah mudanya.

​”Aku juga memiliki sumpah yang sama, Tuan!” timpal Arung dengan nada yang dipaksakan agar terdengar sama bersemangatnya.

​Ken menatap mata mereka dalam-dalam, menguji keteguhan batin mereka. Sebuah senyum samar yang penuh perhitungan akhirnya tersungging di bibirnya.

​”Baiklah,” ucap Ken memecah ketegangan. “Namun, tak ada pintu masuk yang gratis ke dalam ajaranku. Sebelum aku meresmikan kalian, aku akan memberikan satu syarat ujian. Pergilah cari Kapten tim kalian, Raden. Sampaikan pesanku padanya agar ia menemuiku seorang diri di arena pertarungan malam ini juga. Jika kalian berhasil menyeretnya ke sana, aku akan mempertimbangkan permohonan kalian.”

​”Kami mengerti, Tuan! Kami sanggup melaksanakan ujian ini!” jawab Wisa dengan suara tegas dan lugas.

​”Kalau begitu, aku akan menunggu kehadirannya di sana. Jangan buat aku menunggu terlalu lama.” Ken berbalik memunggungi mereka, melangkah pelan, dan dalam sekejap kembali melebur dan lenyap ditelan kegelapan lorong.

​Begitu tekanan aura Ken menghilang, Arung menghela napas panjang lalu menoleh pada rekannya dengan kening berkerut. “Wisa… bukankah Raden yang dia sebutkan tadi itu adalah nama kakak kandungmu?”

​”Ya, tebakanmu benar. Dan kebetulan sekali aku sangat tahu di sudut istana mana dia sedang merenung sekarang,” jawab Wisa yakin, senyum penuh kemenangan menghiasi wajahnya.

​Arung ikut tersenyum lebar. “Baguslah kalau begitu! Artinya misi ini akan sangat mudah diselesaikan. Kalau kita berhasil, sebentar lagi kita akan resmi menyandang status sebagai murid dewa perang itu!”

​”Ya. Ayo jangan buang waktu, kita seret dia sekarang,” balas Wisa seraya mempercepat langkahnya.

​”Kuy!” sahut Arung antusias, mengekor di belakangnya.

​Keduanya melangkah cepat, sepatu bot mereka berderak memecah keheningan di atas hamparan salju, meninggalkan lorong istana menuju malam yang dipenuhi konspirasi. Sementara itu, di kejauhan, Ken sudah berdiri menunggu di tengah arena, tatapannya menembus malam, menanti sebuah negosiasi yang akan membalikkan takdir hari esok.

​Arena Cakrawala Kerajaan Es malam itu sangat mati dan sepi. Hanya sinar keperakan bulan yang menimpa lantai marmer kristal, memantulkan kilauan pucat layaknya cermin raksasa. Angin malam berdesir halus melewati pilar-pilar es, seakan menjadi saksi bisu yang menjaga kerahasiaan absolut atas pertemuan yang akan segera terjadi.

​Ken berdiri mematung tepat di pusat kawah arena. Kedua lengannya bersedekap di dada, wajahnya menengadah menatap ruang hampa di langit kelabu. Napasnya terdengar teratur, tetapi sorot matanya berkilat penuh dengan perhitungan dan intrik yang mematikan.

​Setelah menunggu dalam diam, suara ketukan pelan langkah kaki akhirnya terdengar berderak memecah kesunyian lantai es. Dari balik bayang-bayang lorong arena, muncullah sosok Pangeran Raden. Mantel sutra biru tuanya berkibar pelan tertiup angin malam. Wajah pemuda itu terlihat teduh seperti permukaan telaga, namun sorot matanya sangat tajam, memancarkan kewaspadaan penuh terhadap monster di hadapannya.

​”Kau memanggilku kemari lewat adikku, Ken?” Suara Raden mengalun tenang memecah jarak, meski jelas tersirat kehati-hatian tingkat tinggi di dalam nadanya.

​Ken menoleh perlahan. Sebuah senyum tipis yang sarat manipulasi menghiasi wajahnya. “Aku sangat menghargai kedatanganmu. Sejujurnya, aku sempat meragukan apakah Pangeran Air yang agung punya nyali untuk menuruti panggilan misterius ini.”

​Raden menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan Ken. Tatapannya menusuk tajam, seolah berusaha menembus topeng ketenangan pemuda itu. “Aku kemari karena didorong rasa penasaran. Kau ini bukan tipe orang yang mau repot-repot memanggil seseorang secara pribadi jika tak ada agenda tersembunyi. Jadi katakan… apa yang sebenarnya kau inginkan dariku tengah malam begini?”

​Hening kembali merajai arena. Angin utara berhembus sedikit lebih kencang, membuat ujung jubah hitam Ken berkibar liar. Ken memejamkan mata sejenak, membiarkan keheningan menekan mental lawannya, lalu kembali membuka mata dan menatap Raden dengan sorot setajam pedang.

​”Raden… pasang telingamu dan dengarkan baik-baik instruksiku,” suaranya berubah tegang, mengandung tekanan aura yang menyesakkan napas. “Di pertarungan semifinal besok melawan Tim Kerajaan Es… aku menuntut agar kau sama sekali tidak menahan diri. Aku tidak ingin kau memberikan belas kasihan sedikit pun pada Diyah dan rekan-rekannya.”

​Alis Raden berkerut tajam. Kebingungan tergambar jelas di wajahnya. “Apa maksudmu memintaku berbuat sekejam itu? Bukankah kau adalah pelindung mutlak gadis itu?” tanyanya, nada suaranya datar namun sarat akan rasa curiga.

​Ken melangkah satu tindak maju membelah jarak, tatapannya semakin mengintimidasi, mengunci pergerakan batin Raden. “Kau dengar ucapanku. Aku ingin kau menyiksa batas mereka dan tidak menunjukkan setitik pun belas kasihan. Tapi… pada saat yang bersamaan, aku juga mengharamkan tim mereka untuk kalah dan tersingkir dalam pertandingan besok.”

​Mendengar paradoks yang sangat mustahil itu, Raden terdiam membeku. Ia bingung mencerna tuntutan tak masuk akal tersebut. “Tapi… bagaimana mungkin aku bertarung tanpa ampun sekaligus membiarkan mereka lolos?” suaranya melemah, seakan mencari logika dari instruksi gila itu.

​Ken memotong kalimat itu dengan cepat, suaranya sangat dingin dan tak menyisakan ruang untuk berargumen. “Aku sangat yakin otak pangeranmu cukup cerdas untuk memahami dan mengeksekusi skenario ganjil ini. Dan ingat satu hal, Raden… aku memanggilmu kemari bukan untuk duduk di meja negosiasi.” Ken merendahkan suaranya menjadi bisikan ancaman yang mematikan. “Jika kau berani menyimpang dari naskah ini dan membuat mereka kalah… aku pastikan Kerajaan Air akan rata dengan samudra hanya dalam waktu satu malam.”

​Udara di arena itu seakan benar-benar membeku. Pupil mata Raden sedikit melebar. Paru-parunya terasa seolah dihantam batu karang raksasa mendengar ancaman genosida tersebut. Ia menundukkan wajahnya, tangannya terkepal kuat menahan gejolak amarah dan ketakutan yang mengaduk-aduk harga dirinya sebagai seorang bangsawan. Setelah keheningan panjang yang menyiksa batin, Raden perlahan mengangkat wajahnya kembali. Kepasrahan tergambar di matanya.

​”Baiklah… Tuan Ken. Aku sangat mengerti posisiku,” jawabnya pelan, nada suaranya terdengar sangat tertekan di bawah dominasi mutlak tersebut. “Jika tidak ada lagi ancaman yang perlu dibahas… aku memohon pamit.”

​Tanpa membuang muka untuk menunggu jawaban, Raden berbalik dan melangkah pergi meninggalkan pusaran arena. Setiap tarikan langkah kakinya terasa sangat berat. Pikirannya berdengung dipenuhi ribuan teka-teki gila tentang siapa sebenarnya pemuda bernama Ken ini.

Orang ini… setiap intonasi ancaman yang keluar dari mulutnya seolah memegang kuasa untuk mencabut jantungku dari akarnya, batin Raden ngeri, cengkeraman tangannya mengencang di sisi paha.

​Malam itu, Pangeran Kerajaan Air tersebut terus berjalan kembali ke asrama dalam kebisuan total, merenungi niat tersembunyi di balik perintah paradoksial Ken. Sosok itu perlahan menjelma menjadi anomali yang semakin sulit ditebak—apakah Ken adalah sekutu berdarah dingin… atau justru ancaman kiamat yang jauh lebih mengerikan dari sekutu iblis Kerajaan Api?

​Setelah bayangan Raden sepenuhnya menghilang ditelan kegelapan lorong, keheningan mutlak kembali menyelimuti arena kristal tersebut. Tak lama kemudian, gema langkah kaki ganda terdengar memecah sunyi dari arah lorong sisi timur. Dua sosok remaja berlari tergesa-gesa memasuki arena.

​Wisa melangkah paling depan dengan dada membusung dan sorot mata penuh keberhasilan, sementara Arung mengekor di belakangnya dengan langkah sedikit ragu, berusaha menutupi kegugupan mentalnya dengan senyum canggung yang dipaksakan.

​Mereka berdua menghentikan langkah di jarak aman, tepat di hadapan Ken. Wisa langsung menundukkan kepalanya memberi hormat, lalu melapor dengan intonasi penuh percaya diri.

​”Tuan, kami kembali. Tugas negosiasi yang Anda perintahkan… telah berhasil kami laksanakan dengan sempurna.”

​Ken menoleh ke arah mereka secara perlahan. Tatapannya masih membawa sisa ketajaman dari percakapannya dengan Raden, membuat udara di sekitar kedua remaja itu kembali menegang. Ken menganggukkan kepalanya dengan sangat tipis.

​”Yaa… aku tahu. Kakakmu baru saja menemuiku.”

​Arung melirik Wisa sebentar, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk menagih janji. Suaranya terdengar agak terbata saat ia membuka mulut. “Jadi… apakah itu berarti, Tuan Ken akan menepati janji dan mempertimbangkan kami berdua untuk diangkat sebagai murid?”

​Ken tidak langsung menjawab pertanyaan murahan itu. Ia melangkah perlahan membelah jarak, hingga bayangan jubah besarnya jatuh menutupi tubuh kedua pemuda tersebut. Sorot mata Ken menembus lapisan jiwa mereka, membuat Arung menelan ludah pucat karena tak sanggup balas menatap, sementara Wisa memaksakan dirinya untuk tetap berdiri tegak menantang intimidasi itu meski peluh dingin mulai menetes lambat di pelipisnya.

​”Hmm…” gumam Ken pelan, memecah kesunyian yang menyiksa. “Kalian memang membuktikan bahwa lidah kalian bisa dipegang. Tapi untuk diangkat dan bertahan sebagai muridku… apakah mental kalian sungguh sudah siap untuk dihancurkan? Peringatanku mutlak: metode tempaanku sangat kejam, brutal, dan tak berperikemanusiaan. Aku melakukan itu karena aku tidak pernah sudi menetaskan murid yang lemah dan menjadi pecundang di medan perang.”

​Mendengar tantangan psikologis itu, Wisa justru mengangkat kepalanya. Tatapannya kini menyala memancarkan api tekad yang membara.

​”Aku sangat siap menghadapi nerakamu, Tuan! Aku bersumpah akan membuktikan bahwa tulang dan darahku layak menjadi senjatamu!”

​Melihat rekannya mengambil panggung, Arung buru-buru menganggukkan kepalanya dengan kuat, meski wajahnya masih memancarkan aura pucat pasi.

​”A-aku juga, Tuan! Aku bersumpah tidak akan pernah lari mundur!”

​Selama beberapa detik yang terasa abadi, Ken hanya membiarkan mereka digantung dalam kebisuan, menganalisis nyali mereka. Hingga akhirnya, sebuah senyum tipis yang menandakan pengakuan muncul di sudut bibirnya.

​”Sangat bagus. Kalau begitu, buktikan omong kosong kalian. Ulurkan pergelangan tangan kanan kalian. Aku akan menanamkan rajah segel sebagai bukti mutlak bahwa mulai saat ini… nyawa kalian berdua resmi menjadi milikku.”

​”Sesuai perintah, Tuan!” jawab mereka serempak dengan suara bergetar karena antusiasme. Keduanya segera menyodorkan pergelangan tangan kanan mereka ke udara.

​Ken mengangkat telapak tangannya. Aliran Qi tipis berpendar keemasan menyembur dari ujung jarinya dan menyerap masuk ke kulit pergelangan mereka, membentuk formasi Rune Segel Bintang. Sama seperti ritual yang ia lakukan pada murid-murid sebelumnya, tanda magis itu bersinar terang menyengat kulit sejenak sebelum akhirnya meresap hilang ke dalam aliran darah.

​”Penyatuan jiwa selesai. Mulai detik ini… takdir kalian secara absolut terikat padaku.”

​”Terima kasih atas anugerah ini, Guru,” ucap keduanya serentak, secara otomatis mengganti gelar panggilan mereka.

​Wisa kemudian menurunkan tangannya dan kembali bertanya dengan nada yang jauh lebih tenang sebagai seorang murid resmi. “Arahan apa yang harus kami eksekusi selanjutnya, Guru?”

​”Untuk malam ini, kalian sudah cukup membuang waktuku. Kembali ke asrama kalian. Besok malam, setelah keributan turnamen reda, temui aku secara sembunyi-sembunyi di paviliunku. Jika tak ada lagi pertanyaan bodoh, kalian boleh menyingkir.”

​”Dimengerti, Guru,” jawab mereka bersamaan.

​Wisa membungkuk sekali lagi, lalu mengangkat wajahnya dan melempar satu pertanyaan kehati-hatian. “Guru… selain kami berdua, apakah sebelumnya Guru sudah memiliki pewaris ilmu yang lain di benua ini?”

​Ken menatap pemuda itu tanpa ragu sedetik pun. “Ya. Dengan masuknya nama kalian malam ini, pewaris ilmuku di benua ini resmi genap berjumlah lima orang.”

​”Kami mengerti, Guru. Kalau begitu, kami memohon pamit,” ucap Wisa memberi salam penutup. Kedua remaja itu pun berbalik dan berjalan cepat meninggalkan arena es tersebut.

​Begitu mereka berada cukup jauh dari jangkauan Ken, Arung seketika menarik napas kelegaan yang luar biasa panjang, lalu menyeringai dengan sangat lebar penuh arogansi. “Hahaha! Akhirnya keputusan nekatku untuk memaksa masuk bergabung dengan delegasi Tim Kerajaan Bumi ini tidak berakhir sia-sia! Sejak awal instingku sudah membisikkan bahwa Dewa Perang itu pasti akan luluh dan menerimaku sebagai muridnya!”

​Mendengar ocehan narsis itu, Wisa hanya menggelengkan kepala dan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa jijik. Hhh… lihatlah anak manja ini. Tak kusangka mulai besok aku harus berbagi siksaan dan belajar bertahan hidup berdampingan dengan cecunguk narsis ini. Semoga saja para dewa berbaik hati… agar dia tidak cepat mati dan merepotkan langkahku nanti, batin Wisa seraya mempercepat langkah kakinya menyusuri dinginnya malam.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!