Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Semifinal dan Pasukan Kematian
Hari berikutnya, babak semifinal yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Arena Cakrawala Salju dipenuhi oleh lautan manusia. Sorak-sorai penonton bergemuruh, menciptakan gelombang antusiasme yang memanaskan udara beku di ibu kota Kerajaan Es.
Jenderal Hameng berdiri tegap di atas podium melayang, mengangkat tangannya untuk membungkam keriuhan. “Semuanya… bersiaplah!” teriaknya membelah udara. “Pertandingan Semifinal Pertama, Kerajaan Es melawan Kerajaan Air… DIMULAI!”
Sorakan meledak membahana. Begitu gema aba-aba itu berakhir, Pangeran Raden mengambil inisiatif. Ia melangkah maju dan mengangkat sebelah tangannya dengan anggun. Dari lantai arena yang dilapisi es tebal, molekul-molekul udara mengembun dengan cepat. WUSSS! Pilar-pilar air memancar ke atas dan bertransformasi menjadi kubah tembok air melengkung yang berputar deras, melindungi seluruh formasi timnya dari pandangan.
Di kubu seberang, Diyah menjejakkan kakinya dengan keras ke lantai arena. “Jangan biarkan mereka membangun momentum pertahanan terlalu lama! Hancurkan formasinya!” serunya mengomando.
Seketika, lapisan es di bawah kakinya merespons. Belasan pilar es setajam tombak melesat merobek lantai, meluncur bagai rudal menuju kubah air tersebut.
Namun, sebelum pilar es itu menghantam target, sosok Tanu—salah satu petarung garda depan Kerajaan Air—menerobos keluar menembus tembok air tersebut. Tubuh kekarnya dilapisi oleh zirah aliran air bertekanan tinggi. Memanfaatkan momentum derasnya arus, ia melontarkan pukulan yang seberat palu godam kosmik. BLAAM! Tanu menghantam pilar-pilar es milik Diyah tepat di ujungnya, menghancurkannya menjadi kepingan debu kristal yang berhamburan di udara.
”Pergerakannya cepat sekali!” gumam Julia terkejut. Tanpa membuang waktu, Julia mengangkat kedua tangannya. Pendaran cahaya biru menyala. Puluhan bongkahan es tajam melayang di udara, lalu melesat turun layaknya hujan panah es yang siap menembus kulit Tanu.
Di saat yang sama, Lira—pemanah dari Tim Kerajaan Air—melangkah mundur dengan lincah. Busur kristalnya berpendar memancarkan cahaya biru laut. Ia menarik tali busurnya dan melepaskan rentetan panah air yang berputar seperti bor. TRANG! TRANG! Panah-panah air itu bertabrakan secara presisi dengan hujan es milik Julia di udara. Ledakan demi ledakan terdengar, menciptakan uap dingin yang pekat bercampur dengan cipratan air yang membasahi arena.
Di sayap kanan arena, Suta memacu kecepatan maksimalnya. Kedua tangannya menggenggam erat bilah pedang es pendek yang ia padatkan dari Qi-nya. Ia melompat berputar di udara, menebas ganas ke arah leher Bram. Namun, Bram menatapnya dengan tenang dan dengan mudah menangkis tebasan silang itu menggunakan tombak air panjangnya.
”Jangan remehkan aku! Coba tahan rentetan ini!” teriak Suta, harga dirinya tersulut. Ia mengayunkan serangan bertubi-tubi tanpa jeda. Bilah esnya memantul deras beradu dengan gagang tombak air, menimbulkan suara dentingan logam yang membisingkan telinga.
Bram menyunggingkan senyum miring yang meremehkan. Ia memutar tombaknya dengan sangat luwes, menciptakan pusaran air kecil yang menelan setiap momentum tebasan Suta bagai rawa hisap. Tepat ketika Suta kehilangan keseimbangan, Bram menghentakkan pangkal tombaknya ke tanah. BWOOSH! Gelombang kejut air memancar meledak dari bawah lantai, menghantam telak ulu hati Suta dan menerbangkan pemuda itu hingga terpental belasan meter ke belakang.
”Ughh!” Suta terbatuk keras saat mendarat, garis darah tipis menetes dari sudut bibirnya. Seluruh organ dalamnya bergetar nyeri.
Melihat rekan setimnya terdesak, Andin melesat maju ke garis depan. Ia menampar udara dan memanggil perisai es raksasanya. “Kalian semua, berlindunglah di belakangku!” serunya dengan lantang.
Dari arah berlawanan, Pangeran Raden menggerakkan jarinya. Arus air yang sedari tadi mengelilinginya bermutasi menjadi puluhan tombak cair yang meluncur secepat peluru. Andin menguatkan kuda-kudanya dan menghunus perisainya. Lapisan es tebal itu bergetar hebat memantulkan gempuran proyektil tersebut. Cipratan air maut itu membeku sesaat ketika berbenturan dengan perisai Andin, menciptakan bunga es yang rapuh.
Memanfaatkan perlindungan Andin, Diyah dan Julia berlindung di balik bayang-bayangnya. Julia memusatkan Qi puncaknya, menciptakan dan melemparkan sebuah bola es raksasa seukuran batu karang lurus ke arah Lira. Namun, sekali lagi, insting tajam Lira bekerja. Sebuah panah air bertekanan tinggi ditembakkan dan menghantam tepat di titik pusat bola es tersebut, meledakkannya di udara menjadi butiran salju yang tak berbahaya.
Di sayap kiri, Kahar mengaum ganas. Ia melompat maju mengayunkan palu es raksasanya lurus ke arah kepala Tanu dengan tenaga penghabisan. “HAAAAH!”
Tanu menyilangkan kedua lengannya yang terbalut pusaran air kental. BOOM! Dentuman keras menggema ke seluruh stadion saat palu es beradu dengan zirah air. Tekanan dari benturan itu membuat ubin es di bawah kaki mereka retak berbentuk jaring laba-laba. Kahar mengertakkan giginya, mendorong palunya sekuat tenaga, mencoba meremukkan pertahanan Tanu.
Namun, elemen air terlalu fleksibel untuk dihancurkan dengan kekuatan mentah. Arus air terus mengalir menambal pertahanan Tanu. Memanfaatkan daya dorong Kahar, Tanu memutar pinggangnya dan melontarkan tendangan lutut yang keras tepat ke ulu hati Kahar. Tubuh besar Kahar terlempar ke udara, melayang jauh sebelum akhirnya menghantam keras dinding pembatas arena.
Kahar merangkak bangkit dengan langkah terhuyung, wajahnya memerah padam menahan rasa sakit yang meremukkan tulang rusuknya.
Hanya aku yang tersisa untuk membalikkan keadaan, batin Diyah. Matanya berkilat tajam. “Sage… Spear!” teriak Diyah. Ia akhirnya melepaskan serangan pamungkasnya. Tombak peraknya melesat menyala dengan aura es pekat yang berlapis kilatan emas, menusuk lurus membelah udara menuju jantung Raden yang berdiri tenang di tengah pusaran air.
Raden tidak bergeser satu sentimeter pun. Ia hanya mengangkat tangannya dengan rileks. Arus air di sekelilingnya seketika membentuk tombak spiral berlapis-lapis yang berputar dengan kecepatan bor, menahan laju serangan Diyah di udara.
”Tombak elemenmu memang sangat kuat dan murni, Tuan Putri,” ucap Raden datar, memuji kekuatan Segel Emas itu. “Tapi arus samudraku memiliki daya rengkuh yang tak bisa kau patahkan.”
Diyah menolak menyerah. Ia mendorong sirkulasi Qi-nya dengan sekuat tenaga, memaksa aura emasnya melesat mencoba menembus pusaran air pertahanan Raden. Namun, sebelum ujung tombaknya sempat merobek air tersebut, Raden mengentakkan kakinya.
Sebuah pilar gelombang air raksasa meledak tepat dari bawah tanah tempat Diyah berpijak. BLAAR! Hantaman air itu menerbangkan Diyah ke udara. Gadis itu berguling beberapa kali di atas ubin sebelum berhasil menancapkan tombaknya untuk menahan laju jatuhnya, napasnya terengah-engah mencari pasokan udara.
Melihat Diyah terdesak parah, Julia menggenggam pedangnya erat-erat, lalu menyalurkan semua batas energi Qi-nya. “Diyah, bertahanlah! Beri aku waktu tiga detik!” teriaknya.
Julia merapal serangan es tertingginya, menciptakan pusaran badai salju mematikan yang langsung menyelimuti arena. Suhu anjlok tak masuk akal, membuat udara terasa seperti bilah pisau yang menusuk kulit. Pandangan Tim Kerajaan Air seketika terhalang oleh putihnya badai.
Suta, yang masih memegangi dada akibat luka dalamnya, memaksakan diri kembali berlari masuk ke dalam kabut salju tersebut. Dengan kecepatan kilat hasil latihan di Ruang Dewa, ia menyelinap dan menusukkan bilah esnya ke arah rusuk Bram dari titik buta. Bram berhasil menangkis dengan refleks, namun ujung bilah es Suta sukses merobek lengan jubahnya dan menorehkan luka berdarah.
Di poros tengah, Andin menjejakkan kakinya dengan keras. Perisai esnya bermutasi menjadi dinding melingkar berlapis paku, menahan setiap serangan proyektil air yang datang menembus badai dari segala arah. “Sekaranglah saatnya, Diyah! Eksekusi dia!” teriak Andin memberikan celah.
Diyah menghunus tombak peraknya. Aura es emas menjalar membakar seluruh udara badai di sekitarnya. Ia meminjam daya tolak dari kakinya, melompat menembus kabut tebal, dan mengincar leher Raden sekali lagi dengan kecepatan fatal.
Namun… Raden, dengan keanggunan seorang penguasa lautan, hanya mengangkat satu tangannya ke atas.
”Cukup bermain-mainnya.”
Air di seluruh penjuru arena mendadak mendidih oleh tekanan gravitasi. Aliran air itu bertransformasi menjadi pusaran topan raksasa yang menyapu bersih seluruh arena dalam hitungan detik. Badai salju pamungkas ciptaan Julia menguap dan tersapu habis tanpa sisa. Penonton di tribun bersorak histeris, terpesona oleh dominasi mutlak yang dipertontonkan oleh Raden.
”Tidak mungkin… daya hancur ini…” Julia terkejut hingga matanya membelalak. Sebelum ia sempat bereaksi, sebuah panah air bertekanan tinggi dari Lira menghantam keras perutnya. Tubuh Julia terpental jauh di udara, melayang keluar dari garis batas arena, dan menghantam keras dinding pembatas stadion. Darah segar mengalir dari pelipisnya saat ia jatuh tak sadarkan diri.
”Julia!!” Andin berteriak histeris dan berusaha maju memecah formasi untuk melindungi sahabatnya. Namun langkahnya terkunci saat Bram mengayunkan tombak air spiralnya, menghantam dan meremukkan perisai es Andin hingga hancur berkeping-keping, membuat Andin ikut terpental.
Suta yang nekat mencoba menyerang kembali, langsung dihentikan oleh Tanu. Sebuah pukulan air keras bersarang telak di ulu hatinya, memaksa Suta jatuh berlutut dan memuntahkan darah, benar-benar kehilangan sisa tenaganya.
Kahar, yang baru saja berhasil bangkit, kembali dipukul mundur. Cambuk air milik Mira membelit kakinya layaknya ular piton, menjatuhkan raksasa es itu kembali mencium lantai marmer dengan keras.
Dalam sekejap mata, di tengah medan pertempuran yang hancur berantakan, hanya Diyah seorang diri yang masih berdiri. Napas gadis itu tersengal parah, dan tombak perak di tangannya bergetar menahan tekanan mental yang menghancurkan.
Diyah menyapu pandangannya, melihat rekan-rekannya yang telah terkapar bersimbah darah satu per satu. Ia menggertakkan giginya. “Aku… aku tidak akan pernah menyerah!” teriaknya memecah kesunyian arena.
Ia memaksa kakinya berlari, menghimpun sisa tenaga emas terakhirnya, dan melontarkan tusukan bunuh diri ke arah Raden. Aura esnya membekukan udara di sepanjang lintasannya. Tombak itu melesat lurus, dipenuhi oleh tekad seorang putri yang tak mau tunduk.
Namun, perbedaan hierarki kekuatan di antara mereka terlampau absolut. Raden sama sekali tak menghindari lintasan tombak itu. Ia hanya menggerakkan telunjuknya dengan ringan.
Dari bawah tanah es, sebuah pilar air bertekanan tinggi melesat naik layaknya naga lautan yang murka, menghantam tubuh mungil Diyah dari arah samping. BLAAAR! Tubuh gadis itu terbanting sangat keras ke lantai marmer arena. Tombaknya terlepas dari genggamannya, menimbulkan bunyi dentingan yang menyedihkan. Seluruh sisa tenaganya lenyap.
Di kursi singgasananya, Raja Bawigan menatap arena dengan raut wajah bangga yang bercampur sedih. Kalian sudah cukup berusaha dengan sangat heroik, anak-anakku. Jangan paksakan nyawa kalian, batin Sang Raja.
Diyah berusaha merangkak bangkit, memaksakan kedua tangannya menopang dada yang terasa remuk. Tapi sebelum lututnya sempat berdiri, Raden sudah melangkah pelan dan berdiri menjulang tepat di hadapannya. Ujung tombak air berbentuk spiral yang tajam menempel dingin di pangkal leher Diyah. Satu milimeter saja ia bergerak, lehernya akan tertembus.
”Pertarungan ini sudah selesai,” ucap Raden dengan nada yang luar biasa datar, seolah ia baru saja memadamkan sebatang lilin, bukan mengalahkan tim elit kerajaan.
Keheningan mutlak seketika menekan seluruh isi stadion. Puluhan ribu pasang mata menahan napas, menunggu wasit menyatakan Kerajaan Air sebagai pemenang dan menyingkirkan sang tuan rumah.
Namun, di tengah kesunyian mematikan itu, Raden menurunkan ujung tombak airnya. Ia menoleh ke arah wasit, dan dengan suara yang sangat lantang dan tegas ia mengumumkan, “Jenderal Hameng! Kami dari Kerajaan Air… dengan ini resmi menyatakan MENYERAH!”
Pernyataan gila itu meledak bagai petir di siang bolong.
”Hah!? Apa yang kau bicarakan, Pangeran?! Apa kau serius dengan keputusan gila ini?!” seru Jenderal Hameng, matanya terbelalak menatap Raden seakan pemuda itu kehilangan akal sehatnya.
Kejutan itu merambat secepat wabah. Riuh rendah kebingungan langsung memenuhi arena. Seluruh pasang mata tertuju pada Raden dengan ketidakpercayaan yang absolut. Bahkan Tim Kerajaan Es yang tengah terkapar pun membeku, tak sanggup mencerna kalimat tersebut.
Haaa… ada apa dengan otaknya? Apakah dia sengaja merendahkan dan menghina sisa harga diri Kerajaan Es?! batin Julia yang setengah sadar, menggertakkan giginya menahan penghinaan yang menyesakkan dada.
Setelah memastikan bahwa Raden menolak untuk menarik kembali kata-katanya, Jenderal Hameng akhirnya mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. “Baiklah! Karena Kerajaan Air telah menarik diri dari pertempuran… Pemenang yang melaju ke final adalah—KERAJAAN ES!!” suaranya bergema, memecah ketegangan sejarah.
Sorakan histeris meledak. Seluruh Arena Cakrawala berguncang oleh teriakan tak percaya dari penonton. Tuan rumah, Kerajaan Es, keluar sebagai pemenang meski di atas kertas mereka telah dibantai habis-habisan.
Diyah yang masih terduduk di lantai terengah-engah. Keringat yang bercampur dengan bercak darah menetes dari dagunya. Ia menatap nanar ke arah rekan-rekannya yang terkapar mengerang kesakitan, lalu menundukkan wajahnya. “Apa… apa yang sebenarnya kau lakukan padaku, Raden…?” bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam ditelan keriuhan.
Julia, dengan tertatih-tatih memegangi tulang rusuknya, berjalan mendekat. Luka di tubuh cantiknya tampak jelas, namun sepasang matanya menyala memancarkan amarah yang siap meledak. “Apa maksud dari sandiwara murahanmu ini, Raden?! Kau mengalahkan kami, lalu menyerah hanya karena kedekatan hubungan pertunangan kita?! Apa kau sadar bahwa caramu yang seperti ini telah menginjak-injak kehormatan dan menghina Kerajaan Es di depan seluruh benua?!” teriak Julia penuh emosi.
Raden menatap tunangannya itu sejenak. Sorot matanya yang biasanya garang kini terlihat meredup dan menyimpan beban yang sangat dalam. Ia menyarungkan kembali tombaknya hingga menjadi genangan air. “Aku sama sekali tidak bermaksud menghina kalian, Julia. Hanya saja… ada seseorang di balik bayangan yang secara mutlak memaksaku untuk melakukan skenario ini.”
”Hah!? Seseorang memaksamu? Apa maksudmu?!” Julia tertegun, keningnya berkerut keras memproses informasi mustahil tersebut. Mengingat batas kultivasi Raden yang luar biasa tinggi, siapa manusia gila di benua ini yang sanggup menekannya untuk mengalah dalam turnamen suci?
Raden menggaruk belakang kepalanya dengan gugup, memaksakan senyum tipis yang getir. “Nanti, jika waktunya tepat, aku pasti akan menjelaskannya padamu. Tapi untuk sekarang… kondisimu sangat buruk, kau harus segera diobati.” Ia meraih lengan Julia dengan lembut, menuntun dan memapah tunangannya itu meninggalkan arena.
Diyah yang masih terduduk memandang punggung Raden menjauh. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tak menentu. Otaknya memutar ulang kalimat tersebut: Seseorang memaksanya? Seseorang yang sanggup memerintah Pangeran Air yang tak terkalahkan ini? Jangan-jangan… ini adalah skenario tak masuk akal dari Kak Ken?! batin Diyah, napasnya tercekat oleh tebakannya sendiri.
Riuh sorakan arena perlahan terasa menjauh dari gendang telinga Diyah, sementara benih kekaguman dan pertanyaan baru tumbuh mengakar di sudut hatinya.
”Baiklah, untuk pertandingan Semifinal selanjutnya, kepada kedua tim diharap segera bersiap memasuki arena!” seru Jenderal Hameng memandu jalannya acara.
Di sisi lain tribun khusus kontingen Kerajaan Langit.
Pangeran Nasse tengah berhadapan dengan seorang pria paruh baya berwajah tegas dan penuh bekas luka pertempuran—Jenderal Empu, panglima tertinggi yang mendampingi keamanan Tim Kerajaan Langit.
”Pangeran Nasse,” ujar Jenderal Empu dengan suara berat yang dipelankan, “Paduka Raja baru saja mengirimkan dekret rahasia. Beliau memerintahkan agar kita tunduk dan mengikuti aturan main dari Kerajaan Api. Jika kita menolak dan memaksa menang… seluruh rakyat kita di ibu kota akan merasakan akibat pembantaiannya.”
Nasse terbelalak. Wajahnya memucat seketika, dan matanya membesar menahan syok. “A-apa?! Apa maksudmu, Paman?! Kalau kita memang punya kekuatan untuk menumpas mereka, kenapa kita harus bertekuk lutut dan menghindar dari pertandingan suci ini?! Dan sejak kapan kehormatan tim kerajaanku dipaksa tunduk pada ancaman pengecut mereka?!” serunya, nadanya bergetar sarat akan kemarahan dan harga diri yang terkoyak.
Jenderal Empu menarik napas panjang, menatap Nasse dengan sorot mata penuh iba layaknya menatap putranya sendiri. “Kekuatan militer kita sedang disandera, Pangeran. Paduka Raja juga sangat mengkhawatirkan keselamatan nyawamu. Beliau tidak ingin kau dan timmu terluka atau terbunuh oleh cara-cara licik dan kotor yang telah mereka persiapkan di arena nanti.”
Nasse mengepalkan kedua tinjunya hingga buku jarinya memutih, bibirnya bergetar menahan luapan emosi yang nyaris meledak. Setelah beberapa detik menelan kegetiran itu, ia memejamkan mata. “Tch… baiklah. Kalau itu memang titah mutlak untuk keselamatan Raja dan rakyatku, aku menelan ludahku dan menurut. Aku tak sudi menginjakkan kakiku ke arena itu.”
Jenderal Empu mengangguk dengan rasa hormat yang dalam. “Sebuah keputusan yang bijaksana, Pangeran. Paman yang akan maju dan mengurus sisa sandiwara ini.”
Beberapa saat kemudian, permukaan arena telah dibersihkan dari puing-puing es. Cahaya mentari yang mulai condong menimpa lantai kristal yang berkilau. Jenderal Hameng melangkah maju ke tengah kawah arena, suaranya bergema penuh keheranan menembus kerumunan tribun.
”Hadirin sekalian, dengarkan pengumuman ini! Karena pihak Kerajaan Langit baru saja memutuskan untuk mengundurkan diri secara sepihak dan menolak bertarung… maka Tim Kerajaan Api dinyatakan menang mutlak dan otomatis mengamankan tiket ke babak Final!”
Riuh penonton seketika pecah tak terkendali. Ada yang bersorak kecewa, ada yang mencemooh, ada pula yang berbisik-bisik merinding mempertanyakan dominasi politik gelap macam apa yang bisa membuat kandidat juara sekelas Kerajaan Langit mundur tanpa mengangkat senjata.
”Pertandingan Final Penentuan akan dilangsungkan esok pagi!” seru Jenderal Hameng lagi, suaranya menggetarkan udara stadion. “Sisa dua kekuatan terkuat benua: Sang Tuan Rumah, KERAJAAN ES… akan berhadapan dengan KERAJAAN API!”
Sorakan menggila membahana, mengguncang atap langit arena, sementara nama dua kerajaan yang bertolak belakang itu menggantung pekat di udara bagai dua kutub kosmik yang sudah ditakdirkan untuk saling menghancurkan.
Siang harinya, tepat setelah keriuhan pertandingan usai, Diyah mengabaikan kebutuhan istirahatnya dan segera merapal portal dimensi. Ia bergegas melesat menuju Dunia Korzian, mencari jawaban dari misteri yang mengganjal di dadanya sejak Raden menyerah.
”Kak Ken!” panggil Diyah, suaranya menggema cemas di antara barisan pilar raksasa dan dinding istana emas yang berkilau. Ia berlari menyusuri lorong-lorong lengang istana dimensi tersebut, menoleh ke kiri dan kanan, namun sosok misterius yang dicarinya sama sekali tak menampakkan batang hidungnya.
Diyah akhirnya berhenti di salah satu persimpangan lorong, napasnya memburu lelah. Hmm… mungkin Kak Ken sedang ada urusan mendesak di tempat lain. Kalau begitu, sebaiknya aku menggunakan waktuku untuk berlatih sendirian saja, batinnya, mencoba menghibur kekecewaan yang diam-diam menyelinap di sudut hatinya.
Dengan langkah mantap, ia memutar arah menuju area Ruang Latihan Dewa. Namun, begitu kakinya tiba di depan pintu batu obsidian tersebut, pandangannya tertuju pada sesuatu yang diletakkan di celah ukiran dekat pintu. Sebuah kotak perak kecil, dihiasi dengan selembar perkamen surat di atasnya.
”Apa ini?… Sebuah pesan dari Kak Ken?” gumam Diyah seraya meraih gulungan tersebut. Jantungnya berdebar ringan saat ia membuka dan membaca baris kalimat singkat itu:
‘Tuan Putri, ambillah Pil Pancasona ini, telanlah untuk menyembuhkan luka-lukamu, dan gunakan energi tambahannya untuk mengasah potensimu hari ini.’
Diyah menatap tulisan tangan yang kaku dan lugas itu cukup lama. “Hmm… hanya instruksi dingin seperti ini? Kukira… setidaknya dia akan menyempatkan diri menuliskan kata ucapan selamat atas kemenanganku atau setitik kalimat penyemangat.” Ia terkekeh lirih, menertawakan ekspektasinya sendiri, lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Hah… dasar Kak Ken si manusia balok es.” Meski mengeluh, sepasang mata safir gadis itu tetap berbinar memancarkan perasaan hangat.
Ia segera memasukkan pil berharga itu ke bibirnya, lalu mendorong pintu Ruang Latihan Dewa. Udara gravitasi di dalam ruangan itu langsung menyergapnya dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Diyah melangkah masuk dengan tekad yang telah membatu sempurna, siap menyiksa dirinya demi pertempuran final esok hari.
Di sisi lain dimensi benua, beribu-ribu mil jauhnya dari kemegahan istana es.
Ken Aruk tengah berdiri tegap di atas dahan pohon purba setinggi menara yang mengawasi hamparan lebat Hutan Monster Bintang. Sorot matanya yang sedingin kematian menembus kabut biru pekat yang menyelimuti teritori berdarah tersebut.
Di dahan sebelahnya, bermanifestasi dari distorsi bayangan, berdirilah sosok misterius berjubah hitam—tangan kanan intelijennya.
”Mereka sudah berkemah dan menguras isi hutan ini selama sekitar satu minggu, Tuan,” lapor sosok pembunuh bayaran itu dengan intonasi suara pelan namun menancap tegas.
Ken menyipitkan matanya. Di bawah sana, jauh di dasar lembah hutan, tampak sekelompok besar pasukan berzirah merah api tengah sibuk menjaring dan merantai Monster-Monster Bintang liar, memasukkan makhluk-makhluk buas itu ke dalam kurungan besi raksasa yang telah diukir dengan formasi Rune penjinak.
”Jadi… pria yang memimpin penangkapan itu… apakah dia salah satu dari Sepuluh Naga Kerajaan Api yang legendaris itu?” tanya Ken dengan nada yang sangat kalkulatif.
”Bukan, Tuan,” bantah pengikutnya dengan cepat. “Hamba telah memverifikasi identitasnya secara detail. Pria itu hanyalah salah satu jenderal operasi dari militer Kerajaan Api.”
Ken mengangguk tipis, raut wajahnya tak berubah. Namun sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan lanjutan, udara di belakang mereka berdesir. Sesosok mata-mata lain muncul dari balik bayangan dedaunan rimbun dan mendarat mulus di dahan yang sama.
”Hamba menghadap, Tuan,” sapa agen kedua itu. “Hari ini, hamba memantau lima orang penting baru saja mendarat dan memasuki perbatasan ibu kota Kerajaan Api. Mereka menggunakan transportasi Bahtera Udara Spiritual berskala besar.”
Ken menoleh dengan cepat, kewaspadaannya meningkat. “Bahtera Udara Spiritual? Identifikasi siapa saja kelima orang yang dikawal armada udara itu.”
”Formasi mereka terdiri dari empat orang veteran yang merupakan bagian dari ordo Sepuluh Naga, dan satu orang lagi adalah wajah baru yang baru saja diangkat menjadi anggota dewan iblis tersebut. Dari informasi bocoran intelijen yang hamba dapatkan, ordo Sepuluh Naga kini telah berekspansi membentuk lima dewan ketua tambahan. Fluktuasi kekuatan kelima wajah baru itu… dikonfirmasi berada di level Raja Dewa (God King) Bintang Satu.”
Mendengar data gila itu, Ken terdiam sejenak. Otaknya memproses neraca kekuatan musuh dengan kecepatan tinggi. Ia membasahi bibirnya, bergumam pelan. “Jadi… selain formasi asli Sepuluh Naga dan Raja Adjong sendiri, mereka secara rahasia telah menetaskan lima komandan God King tambahan? Itu artinya, saat ini Kerajaan Api memiliki total armada sebanyak lima belas orang monster yang telah mencapai dan melampaui level Dewa?”
”Perhitungan Anda tepat seratus persen, Tuan,” jawab sosok bayangan itu dengan nada pasti.
Ken kembali mengalihkan pandangannya ke dasar lembah, menatap lurus seorang pria berzirah merah darah yang sedang meneriakkan perintah mencambuk monster. “Lalu, bagaimana dengan jenderal di bawah sana itu? Apakah dia juga punya kursi di antara lima ketua baru tersebut?”
”Benar, Tuan. Namanya adalah Jenderal Badu. Ia resmi menyandang gelar sebagai salah satu dari lima ketua divisi baru tersebut. Fakta lain yang lebih mengerikan… pihak Kerajaan Api telah merilis perintah rahasia untuk mengutus dua ketua utama mereka, didampingi oleh dua ribu Legiun Pasukan Mayat Hidup (Undead), untuk menyusup ke wilayah Kerajaan Es besok, bertepatan dengan laga Final. Hamba belum berhasil membongkar identitas nama dua ketua eksekutor yang diutus tersebut.”
Ken mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya bergemeletuk. “Dua ketua dan ribuan legiun mayat hidup… Skenario yang sangat brilian. Semoga saja intelijenmu benar bahwa yang datang besok adalah para petinggi mereka.” Ken tersenyum sinis, menatap jauh ke arah cakrawala utara. “Jika pasukan maut itu sedang berbaris menuju ibu kota es… maka arena besok tidak lagi sekadar tentang siapa pemenang turnamen.”
Mereka pasti sedang menyusun makar berdarah dan rencana genosida tersembunyi untuk meruntuhkan Kerajaan Es di saat perhatian seluruh benua tertuju pada arena. Aku harus mempersiapkan pembantaian penyambutan, batin Ken, aura membunuh perlahan menguar dari tubuhnya.
Ken menghela napas panjang, menetralkan emosinya, lalu memberi titah mutlak. “Baiklah. Biarkan saja para jenderal di bawah sana bersenang-senang menguras tenaga mereka untuk saat ini. Saat titik kelelahannya tiba nanti… kita akan turun dan merampas seluruh Monster Bintang yang susah payah mereka kurung.”
Dengan satu isyarat kibasan tangan yang sederhana, tubuh Ken dan kedua eksekutor bayangannya memudar, melebur sempurna dan menghilang tertelan bayangan rimbunnya pepohonan purba.
Sementara itu, di pusat perkemahan eksploitasi militer Kerajaan Api di dasar hutan.
Seorang prajurit pengintai berlari tergesa-gesa dan menjatuhkan lututnya menyentuh tanah bersalju, tepat di hadapan Jenderal Gayus dan Jenderal Badu yang sedang berdiskusi di depan api unggun.
”Lapor, Jenderal Agung! Legiun Pasukan Mayat Hidup telah resmi diberangkatkan dari markas perbatasan. Sesuai kalkulasi kecepatan tempur, mereka diprediksi akan tiba menembus perbatasan Kerajaan Es tepat pada fajar esok hari!” lapor sang prajurit dengan suara bergetar menahan hawa dingin.
”Lalu bagaimana dengan komando pemimpinnya? Siapa ketua spesifik yang ditugaskan Raja untuk memimpin pawai kematian itu?” cecar Jenderal Badu, sepasang matanya menyipit memancarkan kedengkian dan rasa curiga politik antarfaksi.
”Informasi tersebut disegel absolut, Jenderal. Titah langsung dari istana hanya menyebutkan… dua ketua agung akan turun langsung memimpin dan mengeksekusi rencana pembersihan yang telah dititahkan oleh Paduka Raja Adjong,” jelas prajurit itu. Ia lalu menyambung pesannya. “Dan Paduka Raja juga menitahkan perintah spesifik: Jenderal Badu dan Jenderal Gayus harus segera kembali dan mendampingi kontingen Kerajaan Api di arena turnamen esok hari, sebelum kedua ketua utama tersebut tiba untuk melakukan intervensi!”
”Berapa lama estimasi waktu tempuh dari kedalaman hutan ini untuk kembali ke wilayah Kerajaan Es, Jenderal Gayus?” tanya Badu, menoleh pada rekannya yang memegang peta logistik.
”Jika kita mengemas kemah malam ini dan memaksakan barisan untuk berbaris semalaman suntuk, kita bisa memastikan tiba di gerbang Kerajaan Es saat matahari terbit, Jenderal,” jawab Jenderal Gayus dengan nada kalkulatif.
Jenderal Badu mendengus kasar, memancarkan ketidakpuasan namun tak berani membantah. “Hmph. Baiklah kalau begitu. Kita harus segera melipat tenda. Perintahkan sisa pasukan penjerat untuk mengamankan dua monster elit lagi, setelah itu kita angkat kaki dan keluar dari hutan neraka ini sebelum larut malam membekukan kita.”
Gayus hanya menanggapi dengan anggukan bisu, namun sorot matanya memantulkan kilatan kobaran ambisi yang gelap.
Kabut tebal hutan malam perlahan merangkak turun, menelan seluruh perkemahan merah tersebut. Tirai malam menutupi pergerakan mematikan yang sedang diatur di balik layar, menyimpan sebuah rahasia pembantaian berskala benua yang siap meledak dan mengguncang eksistensi Kerajaan Es tepat di jantung hari esok.



