Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Tangis di Bawah Langit Korzian
Sore itu, langit kanopi dimensi Korzian disepuh warna keemasan yang menakjubkan. Cahaya mentari senja menembus sela-sela dedaunan dari pepohonan kristal raksasa, memantulkan pendaran biru keperakan yang mendamaikan jiwa. Tak lama setelah babak semifinal di dunia fana usai, Ken membelah ruang dan melangkah pelan memasuki Ruang Latihan Dewa untuk menemui Dyah.
Begitu melintasi ambang pintu batu obsidian tersebut, Ken bisa merasakan udara di sekitarnya bergetar hebat. Medan gravitasi di dalam ruangan itu terasa jauh lebih padat dan menekan, seakan ada raksasa tak kasat mata yang siap meremukkan tulang siapa pun yang berani masuk. Ken menyandarkan punggungnya dengan santai pada dinding di dekat pintu, melipat kedua lengannya di dada. Dari titik buta itu, ia mengawasi Dyah yang tengah bertarung mati-matian.
Gadis itu tengah berhadapan dengan sebuah Automaton Kristal—golem latihan yang dilapisi energi kuno, bergerak dengan kelincahan iblis, dan diprogram untuk tidak mengenal rasa sakit sedikit pun.
Ken memperhatikan saksama setiap pergerakan Dyah. Jubah gadis itu basah kuyup oleh keringat, napasnya terdengar teratur meski paru-parunya bekerja sangat keras memompa udara. Gerakan tombak peraknya melesat menusuk, menebas udara, lalu memantul mundur dengan manuver kaki yang luar biasa cekatan.
Hmm… Dia sudah menaikkannya ke Level Lima, batin Ken. Ekor matanya menyapu ke arah papan panel rune di dekat pintu yang menunjukkan angka bercahaya. Luar biasa. Kelihatannya dia sudah mulai terbiasa menahan beban gravitasi berlipat ganda ini. Perkembangan sel-sel ototnya sangat cepat. Sebuah senyum tipis yang sarat akan kebanggaan perlahan terukir di sudut bibir Ken.
Di tengah arena, Dyah memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, menghindari pukulan palu godam automaton tersebut dengan selisih sehelai rambut. Tanpa membuang momentum, ia melancarkan serangan beruntun. Bunyi dentuman logam dan es terdengar keras hingga membuat lantai ruangan bergetar. Memanfaatkan celah sepersekian detik, Dyah menyalurkan Qi emasnya dan menghujamkan satu tusukan penuh tenaga tepat ke inti dada sang automaton.
BLAAAR! Golem lawannya terhempas ke udara dan menghantam lantai dengan keras, sebelum akhirnya hancur berantakan menjadi serpihan energi yang berpendar menyerupai debu bintang.
Gadis itu berdiri terengah-engah dengan dada naik-turun. Namun, sebuah senyum kepuasan merekah indah di bibir pucatnya. Tepat pada saat ia menoleh ke arah pintu untuk mengatur napas, matanya menangkap siluet yang sangat familier.
”Kak Ken?!” pekik Dyah, matanya membulat sempurna karena terkejut. Ia segera menyarungkan tombaknya dan berlari kecil mendekat. Wajahnya masih dilumuri peluh, tapi sorot matanya seketika cerah berseri-seri. “Sejak kapan Kak Ken berdiri di situ?” tanyanya sembari tersenyum malu-malu, merapikan anak rambut yang menempel di dahinya.
Ken mengangkat bahunya ringan, tersenyum lembut. “Aku baru saja tiba, Tuan Putri. Pertunjukan yang sangat mengesankan.”
Dyah terkekeh kecil mendengar pujian itu. Ia lalu merogoh Cincin Ruangnya dan mengeluarkan sebutir pil yang memancarkan pendaran energi murni. “Oh iya, ini adalah Pil Pancasona terakhir yang Kak Ken berikan padaku.” Tanpa ragu sedikit pun, ia menelan pil tersebut. Seketika, kabut energi tipis berwarna hijau zamrud menyelimuti tubuhnya, memperbaiki otot-ototnya yang robek. Napasnya kembali teratur dan sisa kelelahannya menguap.
Melihat hal itu, alis Ken bertaut. Sorot matanya berubah serius. “Tunggu dulu… Jadi, Tuan Putri sudah menelan dan menghabiskan kelima pil dosis tinggi itu?”
Dyah mengangguk mantap tanpa rasa bersalah. “Iya, Kak Ken. Pertarungan melawan dominasi Pangeran Raden dari Kerajaan Air tadi benar-benar menampar kesadaranku… Daya kejut dari seranganku masih jauh dari kata cukup. Kalau aku ingin memastikan kemenangan mutlak di final besok, aku harus terus menyiksa diriku di sini. Kesempatan emas ini tidak boleh kusia-siakan. Jadi, setiap kali tubuhku mencapai batas dan hancur, aku menelan satu pil, memulihkan diri, dan langsung kembali berlatih melawan gravitasi.” Nada suaranya terdengar sangat tegas, namun gurat kelelahan psikis masih tercetak jelas di bawah matanya.
Ken menarik napas dalam-dalam, merasa takjub sekaligus khawatir dengan kekerasan kepala gadis ini. “Aku menghargai tekad gilamu. Tapi untuk saat ini, sebaiknya kita keluar dan mengistirahatkan pikiranmu dulu,” titahnya. Ken melangkah mundur selangkah, memberi isyarat agar Dyah mengikutinya keluar dari medan gravitasi.
Namun, Dyah justru menundukkan kepalanya sebentar. Saat ia menengadah lagi, matanya memancarkan tekad yang membara. “Tapi Kak Ken… aku merasa ini belum cukup. Aku harus terus mendongkrak fondasi kekuatanku di ruangan ini. Kalau boleh…” Ia menggigit bibir bawahnya, ragu sejenak sebelum menawar. “Aku ingin meminta beberapa butir Pil Pancasona lagi padamu.”
Ken langsung menggelengkan kepalanya. Nada suaranya berubah menjadi sangat tegas dan tak terbantahkan. “Tidak bisa, Tuan Putri! Batas toleransi meridian manusia normal dalam mengonsumsi Pil Pancasona Level Tiga hanyalah maksimal lima butir dalam siklus tiga hari. Jika kau menelan satu butir lagi sekarang, pembuluh darahmu akan meledak karena kelebihan energi (overdosis).”
Dyah membelalakkan matanya, terkejut mendengar fakta medis tersebut. “Hah… b-benarkah begitu, Kak Ken?”
Ken menatapnya dengan sorot mata penuh kesabaran yang kejam. “Iya. Kecuali… jika seorang kultivator telah sukses menembus dan memadatkan Segel Bintang Merah di nadinya. Hanya dengan fondasi setingkat dewa itulah, struktur tulang dan otot seseorang mampu menahan asupan hingga sepuluh pil dalam kurun waktu satu hari.”
Dyah terdiam, menundukkan pandangannya ke lantai batu giok. “Hmm… baiklah kalau begitu, Kak Ken,” gumamnya. Nada pasrah dan kekecewaan terdengar jelas mengalun dari suaranya. Menyadari tak ada gunanya membantah sang dewa medis, ia akhirnya menyarungkan senjatanya dan menuruti langkah Ken berjalan keluar dari ruangan penyiksaan tersebut.
Mereka berdua berjalan bersisian melintasi lorong-lorong istana emas yang panjang, lalu menuruni beberapa lapis tangga pualam. Hingga akhirnya, keduanya tiba di pelataran halaman depan istana—sebuah balkon terbuka mahaluas yang langsung berbatasan dengan jurang awan dan panorama hutan raksasa. Pohon-pohon kuno di bawah sana menjulang tinggi layaknya menara penjaga, tebing-tebing es melayang menjuntai dengan gagah, dan kanopi langit sore menebarkan gradasi warna merah keemasan yang menghipnotis mata.
Dyah mendudukkan dirinya di salah satu anak tangga pualam, memeluk lututnya sembari memandangi hamparan Dunia Korzian yang tak pernah gagal membuatnya takjub. Angin sore berembus sangat lembut, mempermainkan helaian rambut peraknya yang masih sedikit lembap oleh keringat latihan.
”Kak Ken…” panggil Dyah pelan, menoleh dan menatap pemuda yang berdiri di sampingnya dengan sorot mata yang teramat lembut. “Apakah sandiwara yang terjadi di pertandingan semifinal tadi… adalah hasil campur tangan dari Kak Ken?”
Mendengar pertanyaan tajam itu, Ken terdiam sejenak. Sebuah senyum kecil yang canggung muncul di bibirnya, namun ia mengalihkan pandangannya menghindari tatapan gadis itu. “Emmm… aku hanya memberikan Raden sedikit pencerahan tentang realitas. Tidak lebih dari itu.”
Sial, apa saja yang sudah diocehkan oleh si Raden itu padanya? batin Ken mulai gelisah. Kenapa Tuan Putri bisa dengan tajam menyimpulkan bahwa akulah dalang di balik layar yang menekannya?
Senyum di wajah Dyah justru merekah semakin manis menyadari kegugupan Ken. “Hmmm… benarkah hanya sekadar ‘pencerahan’? Kalau begitu, terima kasih banyak, Kak Ken,” ucapnya seraya menundukkan wajahnya sedikit. Ia lalu mengangkat kepalanya lagi, melanjutkan kalimatnya dengan nada penuh keyakinan yang hangat. “Aku sangat tahu, Kak Ken melakukan semua skenario rumit itu karena kau tidak tega jika harus turun tangan dan menghajarku secara langsung di arena nanti, kan?”
Ken tersentak kaget. Ekspresi datarnya runtuh seketika, digantikan oleh raut canggung yang sangat jarang ia perlihatkan. “A-apa maksud kesimpulanmu itu, Tuan Putri?”
”Jangan berpura-pura lagi. Aku tahu betul seberapa absolut kekuatan Kak Ken,” Dyah menatap lurus menembus mata Ken. “Kalau Kak Ken ikut masuk mewakili tim, cepat atau lambat kita pasti harus berhadapan di sesi latihan atau perebutan kekuasaan. Makanya, Kak Ken sengaja menolak masuk ke arena dan memilih menggunakan tangan orang lain untuk memuluskan jalanku. Dugaan logikaku benar, kan?”
Ken menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Hm… yaa… tidak sepenuhnya seperti itu, Tuan Putri.” Ken berdesah dalam hati. Gadis ini… dari luar kau memang terlihat sangat polos dan lugu, tapi otak politis dan kepekaanmu dalam menilai situasi benar-benar tajam.
Dyah tertawa kecil, suara tawanya terdengar seringan gemerincing lonceng kristal. “Hahaha! Aku sangat menyukai sifat Kak Ken yang selalu bertindak di balik bayangan seperti itu. Tapi ingat janjimu… suatu hari nanti, saat aku sudah tumbuh menjadi petarung yang benar-benar kuat… Kak Ken harus mau mencabut pedang dan melawanku secara sungguhan. Sepakat?” Dyah mengangkat tangan kanannya, mengacungkan ibu jari dengan senyum penuh tantangan semangat.
Melihat binar murni di mata gadis itu, pertahanan Ken akhirnya luluh sepenuhnya. Ia mengangguk. “Baiklah. Aku berjanji. Saat waktunya tiba, aku sendiri yang akan menjadi batu ujian terakhirmu, Tuan Putri.”
”Janji yaaaa!” Dyah bersorak kecil, tawanya kembali renyah mengisi udara sore. “Kalau begitu, aku harus memeras darahku untuk menjadi kuat secepat mungkin. Hehehe.”
Ken ikut tersenyum, meski porsinya tetap dipertahankan kalem. “Iya, benar.”
Keduanya lalu larut dalam keheningan yang damai, membiarkan jiwa mereka menyerap keindahan panorama dimensi tersebut. Burung-burung purba raksasa melintas membentuk formasi jauh di angkasa, dan gema suara air terjun spiritual terdengar samar menyapu lembah. Dunia Korzian seakan memeluk mereka berdua dalam satu selimut kedamaian yang terasa abadi.
Namun, ketenangan surgawi itu seketika pecah berantakan ketika Dyah kembali membuka suaranya.
”Oh iya, Kak Ken… apakah di ujung perjalanan ini… Kak Ken masih berniat untuk meratakan Kerajaan Api?”
Ken menatap lurus ke arah cakrawala kemerahan. Rahangnya mengeras. Suaranya terdengar pelan, namun sarat akan bobot kematian yang tak bisa dinegosiasikan. “Ya. Itu adalah takdir yang tak bisa diubah. Tapi untuk saat ini… akumulasi kekuatanku secara sepihak masih belum cukup aman untuk menghadapi seluruh monster yang tertidur di sana.”
Dyah menggigit bibir bawahnya menahan gejolak di dada, lalu bersuara sangat lirih. “Kak Ken… jika seandainya besok aku takluk dan kalah dalam turnamen itu… kumohon, aku tidak ingin diseret pergi ke Kerajaan Api. Aku sama sekali tidak sudi tunduk dan menyerahkan hidupku pada aturan menjijikkan yang disepakati oleh para dewan raja itu.”
Suara gadis itu mulai bergetar, sarat akan ketakutan masa depan. “Sebaiknya… bagaimana kalau Kak Ken membawaku kabur saja dari benua itu? Aku bersedia membuang gelar putriku dan mengikuti ke mana pun langkah Kak Ken pergi. Kita bisa bersembunyi dan menghabiskan sisa umur kita di dalam dunia ini. Aku… aku merasa sangat bahagia dan aman selama aku berada di sini bersamamu.”
Ken menoleh perlahan. Matanya memancarkan rasa iba yang mendalam melihat kerentanan gadis yang biasanya begitu tegar tersebut. Ken terdiam cukup lama sebelum akhirnya memberikan jawaban realitas. “Bersembunyi dan melarikan diri tidak akan pernah menghapus akar masalahnya, Tuan Putri.”
Satu kalimat telak itu menghancurkan pertahanan Diyah. Ia tak kuasa lagi menahan bendungan air matanya. Butiran-butiran hangat jatuh berderai, membasahi pipi pucatnya.
”Aku hanya… aku hanya tidak ingin melihat Kak Ken mengorbankan nyawa dan mengambil risiko bunuh diri melawan mereka. Aku sudah yatim piatu… aku telah kehilangan Ayah dan Ibuku karena konspirasi iblis mereka. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan Kak Ken juga untuk kedua kalinya…” Tangis Dyah akhirnya pecah. Ia tak lagi memedulikan etika bangsawan, membiarkan tubuhnya condong dan menyandarkan kepalanya ke bahu tegap Ken, menangis tersedu-sedu meluapkan ketakutan terbesarnya.
Ken mematung sesaat. Namun kali ini ia tidak menghindar. Ia tak mengucapkan kata-kata penghiburan yang kosong, hanya membiarkan bahunya menjadi tempat bersandar dan menampung air mata gadis itu. Setelah beberapa menit berlalu dan isakan Diyah mulai mereda, barulah Ken membuka suaranya.
”Aku tidak bisa memutar langkahku untuk mundur, Tuan Putri,” ucap Ken dengan nada yang sangat dalam. “Satu-satunya alasan mengapa jantungku masih berdetak hingga hari ini… adalah murni untuk melenyapkan mereka semua dari muka bumi. Kalau aku memilih lari bersamamu sekarang, anjing-anjing pelacak mereka tak akan pernah berhenti memburu kita ke sudut dimensi mana pun kita bersembunyi.”
Ken menatap jauh ke depan, sorot matanya kembali membara oleh kobaran dendam suci. “Satu-satunya jalan keluar untuk kebebasan absolut adalah dengan terus memanjat dan berevolusi menjadi yang tak terkalahkan. Aku harus menjadi kuat… agar aku memiliki otoritas untuk melindungimu, melindungi orang-orang yang berdiri di pihakku, serta melindungi nyawa rakyat yang tak bersalah. Karena di atas benua fana sana… musuh kita bukan hanya tiran dari Kerajaan Api. Masih ada banyak entitas gelap dan kekuatan purba lain yang bersembunyi menanti waktu.”
Dyah masih terisak pelan, namun pandangan matanya yang basah mulai kembali berbinar menemukan cahaya. “Kak Ken benar… maafkan kepengecutanku barusan.” Ia menyeka air matanya dan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih tulus. “Sebelum takdir mempertemukanku dengan Kak Ken, aku sama sekali tak peduli dengan nilai nyawaku sendiri. Aku hanya boneka yang pasrah mengikuti arus ke mana pun takdir kerajaanku menyeretku. Tapi… semenjak Kak Ken hadir melindungiku… aku memiliki keinginan egois untuk terus hidup berdampingan denganmu. Rasa takut kehilangan itulah yang membuatku lemah sesaat.”
Ken menatap mata sembap gadis itu dengan penuh ketulusan, aura pelindungnya menguar hangat. “Aku berjanji, semuanya akan berakhir baik-baik saja. Percayakan punggungmu padaku, Tuan Putri.”
Dyah mengangguk perlahan, senyum kelegaan dan kedamaian kembali menghiasi wajahnya. “Mm-hmm. Keyakinanku padamu absolut, Kak Ken.”
Keheningan yang teramat nyaman kembali menyelimuti mereka berdua. Angin sore berembus pelan, membawa perpaduan aroma daun pinus abadi dan embun magis dari udara Korzian.
Tak lama kemudian, Ken bangkit berdiri dan menepuk lembut puncak bahu Dyah. “Baiklah. Pemanasan mentalnya sudah selesai. Sekarang sudah saatnya aku turun tangan untuk membantumu mengisi dan memadatkan Segel Bintang ketujuh di meridianmu.”
Dyah cepat-cepat menghapus sisa jejak air mata di pipinya. Matanya seketika berbinar dipenuhi harapan dan antusiasme baru. “Apakah tubuhku sudah mampu menampungnya, Kak Ken?” tanyanya, memastikan kualifikasinya.
Ken menatapnya dengan keyakinan penuh layaknya seorang dewa yang memberkati pengikutnya. “Ya. Wadah fisikmu sudah ditempa dengan sempurna di ruang gravitasi tadi. Bersiaplah menyambut rasa sakitnya, Tuan Putri.”
Dyah menegakkan postur tubuhnya, mengangguk mantap tanpa keraguan. “Hmm… baik, Kak Ken. Aku siap lahir batin!”
Malam kian larut merayapi dimensi. Cahaya bulan purnama palsu dari tata surya Korzian menyingkap lembut langit yang sunyi.
Setelah melalui proses penyiksaan meridian berjam-jam, Dyah akhirnya berhasil menyerap dan menyatukan Bola Mustika Monster Bintang ketujuhnya. Saat aura energi emas di sekujur tubuh gadis itu tampak mulai mereda dan kembali stabil ke pusat meridiannya, Ken akhirnya bisa mengembuskan napas lega.
Ken bangkit berdiri, lalu menoleh ke arah bayangan pohon di mana sosok intelijen berjubah hitamnya telah bersiaga mendampingi mereka sejak tadi.
”Dampingi dan jaga dia selagi aku pergi,” titah Ken dengan nada yang tegas namun sarat akan kekhawatiran yang disembunyikan. “Awasi setiap fluktuasi perubahan energi yang terjadi padanya. Jika ada yang tak beres, segera hubungi aku.”
Sosok bayangan itu menundukkan kepalanya memberi hormat mutlak. Suaranya serak namun menenangkan. “Sesuai perintah, Tuan. Hamba bersumpah akan menjaganya dengan nyawa hamba.”
Ken mengangguk, melangkah mundur, dan membiarkan tubuhnya perlahan lenyap tertelan kegelapan malam portal dimensi, bergegas kembali menembus perbatasan ibu kota Kerajaan Es.
Sementara itu, di sebuah lorong luar paviliun Kerajaan Es yang sepi dan diterangi obor.
Wisa dan Arung tampak berjalan mondar-mandir dengan raut kebingungan, seakan mereka baru saja kehilangan arah peta di dalam labirin istana.
Arung melirik gelisah ke sekeliling, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Wisa. “Hei, Wisa… coba kau lihat ke ujung sana. Mungkin kita bisa bertanya arah pada gadis berambut putih itu,” usul Arung seraya menunjuk seorang remaja perempuan berparas dingin yang sedang melintas sendirian.
Wisa melipat kedua tangannya di dada, melirik sekilas dengan tatapan malas. “Kalau kau yang butuh, kau saja yang pergi merayunya untuk bertanya.”
”Yaa… baiklah kalau kau tak punya nyali, biar pangeran tampan ini yang turun tangan,” sahut Arung dengan nada terlalu percaya diri. Ia membusungkan dada, membetulkan kerah jubahnya, lalu berjalan mendekati gadis itu. Dengan gaya sok santai dan senyum menawan yang dipaksakan, ia menyapa, “Ehh, permisi, Nona Cantik. Apakah kebetulan kau tahu di sebelah mana letak pasti dari paviliun peristirahatan Guru Ken?”
Gadis yang ditanya—Svara—seketika terhenyak menghentikan langkahnya. Guru Ken? Jadi… dua pemuda bodoh ini adalah murid-murid baru yang dimaksud Guru semalam? batin Svara menganalisis dengan cepat.
Tatapannya setajam elang langsung meluncur turun ke pergelangan tangan kanan kedua pemuda itu, memastikan keberadaan pendaran segel rune yang serupa dengan miliknya. Secara refleks yang tak kasat mata, Svara segera menyembunyikan tangannya sendiri ke dalam lipatan lengan jubahnya dengan sangat hati-hati.
”Hmm… iya, paviliunnya ada di ujung lorong sebelah sana. Kebetulan sekali tujuanku juga mengarah ke area yang sama. Kalau kalian mau, ikuti saja langkahku,” jawab Svara dengan nada datar dan terkesan sangat menjaga jarak.
Arung menyeringai puas, menoleh ke belakang memberikan kedipan mata pada rekannya. “Wah, sungguh kebetulan yang menguntungkan! Ayo cepat, Wisa.”
Mereka bertiga pun berjalan beriringan membelah udara malam. Arung, dengan tabiat aslinya yang tak bisa diam, mencoba memecahkan kekakuan es di antara mereka. “Hei, omong-omong, melihat dari jubahmu, kau pasti penduduk asli bangsawan Kerajaan Es, ya? Kenalkan, namaku Arung, Pangeran dari Kerajaan Bumi,” sapanya dengan nada yang sengaja diseret menggoda.
Namun, Svara sama sekali tidak menoleh. Ia hanya menundukkan pandangannya dan terus melangkah dengan ritme konstan, seolah telinganya kebal terhadap rayuan murahan tersebut.
Hah? Kenapa dia mendadak bisu? Apa suaraku kurang keras? Arung menoleh bingung ke arah Wisa, lalu berbisik pelan. “Wisa, apa raut wajahku terlihat terlalu menyeramkan saat malam hari? Kenapa dia sama sekali tidak menggubris pesonaku?”
Wisa mendengus pelan menahan tawa ejekan. “Mungkin… dia punya selera yang bagus, dan kau memang terlihat sangat menyebalkan serta menyedihkan di matanya.”
Arung berdecak kesal mengutuk sahabatnya itu, sementara Svara yang berjalan di depan mereka justru makin dibalut kebimbangan internal. Dilihat dari auranya, mereka ini Pangeran dari kerajaan besar. Seharusnya… apa panggilan formal yang tepat untuk mereka sekarang? Senior? Kakak seperguruan? Atau haruskah aku memanggil mereka ‘Bocah’? Sesampainya di pelataran paviliun Ken yang sepi, tampak sosok sang Guru telah berdiri menanti mereka di tengah halaman es dengan jubah hitam yang berkibar anggun. Svara segera mempercepat langkah mendahului kedua pemuda itu. Begitu tiba di hadapan Ken, ia menundukkan badannya sembilan puluh derajat dengan hormat mutlak.
”Melapor, Guru. Dua orang pemuda ini tampak kebingungan mencari keberadaan Anda, jadi hamba menuntun mereka kemari,” lapor Svara dengan nada sangat sopan.
Mendengar gelar panggilan itu, Wisa dan Arung spontan saling melempar pandangan horor. Rahang Arung nyaris jatuh menyentuh tanah.
”HAH?! Tu-tunggu dulu! Jadi… gadis sedingin balok es ini ternyata juga salah satu murid dari Guru?!” seru Arung menunjuk Svara dengan telunjuk gemetar.
Ken menyunggingkan senyum tipis yang sarat misteri. “Ya. Kenalkan, dia adalah Svara. Dan sekadar informasi untuk kalian, Svara telah lebih dulu mengucapkan sumpah dan resmi menjadi muridku mendahului kalian berdua.”
Ah, jadi… dua pangeran ini benar-benar berstatus sebagai adik seperguruanku yang baru direkrut Guru semalam? batin Svara, mendesah lega namun diam-diam meningkatkan kewaspadaan instingnya.
Sadar akan hierarki baru tersebut, Arung buru-buru memperbaiki postur dan sikapnya, meski senyum sok asyiknya masih menempel. “Hehehe… kalau begitu, maafkan kelancanganku tadi, Kakak Seperguruan. Salam kenal resmi, aku Arung, dari Kerajaan Bumi.”
Svara meliriknya dari sudut mata dengan tatapan yang membekukan darah, lalu menjawab dengan intonasi teramat datar. “Aku tidak tuli. Aku sudah mendengar ocehan perkenalanmu di lorong tadi.” Nada suaranya yang tiba-tiba berubah sangat dominan dan dingin itu seketika membuat suasana malam menjadi sangat kaku dan membekukan nyali.
Arung langsung menelan ludah. Sialan! Jadi sejak tadi dia mendengar semua bisikanku dengan Wisa?! Matilah aku! Berusaha menyelamatkan situasi, Wisa melangkah maju dengan keanggunan seorang pangeran yang ramah. “Perkenalkan, aku Wisa, mewakili Kerajaan Air. Sebuah kehormatan bisa bertemu dan belajar bersama dengan putri berbakat sepertimu.”
Ken mengangguk puas melihat dinamika murid-muridnya mulai terbentuk, lalu melangkah mengambil posisi di tengah lapangan. “Baiklah. Karena birokrasi perkenalan kalian sudah selesai, malam ini kita akan langsung masuk ke menu utama latihan penyiksaan.”
Svara menarik napas panjang untuk memompa ketenangannya. Jadi sekarang… total pewaris ilmu Guru yang aktif sudah berjumlah lima orang…
”Kami siap melaksanakan perintah, Guru!” jawab ketiganya serentak, suara mereka memecah kesunyian malam.
Ken menatap lurus ke arah Wisa dan Arung secara bergantian, lalu menjatuhkan perintah yang terdengar tidak masuk akal. “Kalian berdua, cabut senjata kalian dan seranglah Svara secara bersamaan. Aku ingin mengukur sejauh mana batas kerja sama, kecepatan, dan kemampuan bertahan kalian.”
Mendengar perintah yang merendahkan maskulinitasnya, Arung langsung memprotes keras. “HAAH?! Yang benar saja, Guru! Kami berdua… disuruh mengeroyok dan melawan satu gadis ini saja?” Nada arogan dan meremehkan terdengar sangat jelas dari ujung kalimatnya.
Namun, sebelum mulut Arung sempat melontarkan kata protes berikutnya, Svara telah memusatkan Qi esnya dan bergerak secepat kilatan petir. Dalam seperseribu detik, ia memelesat maju dan menghantamkan telapak tangannya yang berlapis embun beku tepat ke dada Arung.
BAM! Daya kejut serangan itu membuat tubuh Arung terpental melayang ke belakang dan terguling beberapa kali di atas salju.
Arung meringis kesakitan memegangi tulang rusuknya yang terasa membeku, sementara Svara menatapnya dari atas dengan sorot mata yang mengintimidasi layaknya dewi maut.
”Sebagai Kakak Seperguruanmu, sepertinya aku memang harus turun tangan untuk menertibkan lidahmu dan mengajarimu bagaimana tata krama dalam merespons arahan mutlak dari Guru,” ucap Svara dengan nada otoriter yang mematikan. Tanpa memberikan jeda sedetik pun, ia langsung berbalik memutar pedangnya dan melesat menyerang Wisa yang masih syok.
Pertarungan asimetris pun pecah seketika—dua pangeran level atas terpaksa bertarung mati-matian melawan satu gadis berelemen es murni.
Meski terus ditekan dan diburu oleh serangan gabungan mematikan dari elemen bumi dan air, Svara memamerkan kelasnya. Ia menari di antara hujan tebasan, menangkis, dan menggunakan manuver efisiensi energi yang baru saja diajarkan Ken kemarin untuk menahan dan mematahkan setiap tekanan agresif mereka.
Di pinggir halaman, Ken berdiri bersedekap, mengamati dengan saksama dan mengevaluasi setiap detail pergerakan, kelemahan, serta pengambilan keputusan taktis dari ketiga murid barunya tersebut.
Setelah pertukaran jurus yang sangat intens berlangsung selama hampir satu jam, Ken akhirnya melepaskan tekanan auranya dan mengangkat sebelah tangan, memberikan isyarat absolut untuk berhenti.
”Cukup.”
Suaranya mengalun sangat tenang namun penuh wibawa sihir yang membuat ketiganya secara refleks menghentikan ayunan pedang mereka di udara dan melompat mundur.
Svara langsung menyarungkan pedangnya dan berdiri tegak. Napasnya terdengar teratur bagai mesin pembunuh profesional, meski selapis keringat tipis tampak berkilau membasahi pelipisnya. Wajahnya tetap menahan ekspresi serius dengan sorot mata yang tak kehilangan ketajamannya.
Di sisi lain, Arung dan Wisa saling bertukar pandang dengan napas terengah-engah dan dada naik-turun. Keduanya menatap Svara dengan perpaduan perasaan yang rumit—rasa kagum yang luar biasa atas teknik mematikannya, sekaligus rasa kesal karena harga diri mereka sebagai pangeran elit ternyata tak sanggup untuk dengan mudah menandingi kelincahan gadis tersebut.
Ken melangkah perlahan membelah medan pertarungan mereka, berhenti tepat di tengah halaman. Sebuah senyum samar kebanggaan akhirnya terbit di wajahnya yang kaku.
”Pemanasan malam ini sudah sangat cukup. Mulai besok, kalian bertiga akan melakukan porsi latihan mandiri secara intensif sesuai dengan evaluasi kelemahan malam ini. Saat aku kembali mengumpulkan kalian nanti, aku menuntut untuk melihat evolusi kekuatan yang jauh lebih buas dari ini.”
”Sesuai perintah, Guru!” jawab ketiganya serempak membungkuk hormat. Suara mereka menggema mantap membelah udara, meski kerongkongan mereka masih meraup udara dengan rakus.
Keheningan malam perlahan kembali menyelimuti area paviliun tersebut. Bulan purnama palsu menggantung tinggi di cakrawala, memancarkan cahaya peraknya yang jatuh dengan lembut membelai wajah para murid yang kelelahan. Dengan langkah yang teratur, mereka sekali lagi menundukkan badan memberi hormat, lalu memutar arah dan berjalan pergi menuju asrama, meninggalkan Ken yang berdiri sendirian. Jauh di dalam dada masing-masing, bara tekad untuk menjadi yang terkuat di bawah panji sang dewa perang telah menyala abadi.
Ken menatap punggung ketiga muridnya yang kian mengecil ditelan bayangan malam. Senyum tipis yang tulus masih setia terukir di wajahnya.
Baiklah… urusan duniawi di sini sudah selesai. Sekarang aku harus bergegas kembali melintasi ruang. Kuperkirakan Tuan Putri sebentar lagi akan selesai menyerap seluruh batas energi mustika itu, batin Ken, pikirannya kembali tertuju pada Diyah di dimensi Korzian.
Sekejap kemudian, tanpa suara atau kilatan cahaya, sosok Ken lenyap sepenuhnya dari halaman paviliun es tersebut, hanya menyisakan pusaran desir angin malam yang berhembus pelan menyapu sisa-sisa debu salju dari arena.



