Bab 2

Current Language : Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Aliansi Siama

​Setelah kembali ke dalam batas perlindungan desa, kesibukan segera mengambil alih. Para penduduk bergegas merawat luka-luka anggota pertahanan yang selamat. Malam perlahan turun bagai selubung hitam, membawa serta hawa dingin yang menelusup di antara celah-celah pepohonan. Suasana yang tadinya dipenuhi jeritan pertarungan kini berangsur tenang, menyisakan desah napas letih dan rintihan pelan.

​Sebuah api unggun menyala di tengah halaman utama desa. Lidah apinya menari-nari, memantulkan cahaya jingga yang bergetar lembut di wajah para pejuang yang kelelahan. Ken duduk menyendiri tidak jauh dari sana. Pemuda itu terdiam bagai patung, sepasang matanya menatap lekat pada bara yang menyala pelan, seakan menyimpan rahasia yang tak terbaca oleh siapa pun.

​Dari kejauhan, Ketua Darma terus memperhatikannya. Tatapan pria tua itu tajam, dipenuhi rasa ingin tahu yang mendalam. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya, berbisik pada Paman Kedai yang berdiri di sampingnya.

​”Ketua Tu… dari mana sebenarnya asal pemuda itu?” tanya Ketua Darma dengan suara rendah.

​Paman Kedai menoleh dengan raut terkejut. “O-ohh, dia… aku juga tidak tahu menahu, Tuan,” jawabnya seraya melangkah selangkah lebih dekat. “Tadi dia hanya mampir ke kedaiku untuk mengisi perut. Saat gerombolan Kapak Merah menyerbu, aku buru-buru pergi dan meninggalkannya begitu saja,” lanjutnya menjelaskan, wajahnya memancarkan kegugupan.

​”Jadi, kau juga baru mengenalnya hari ini?” selidik Ketua Darma, nadanya datar namun penuh perhitungan.

​”Benar, Tuan!” jawab Paman Kedai dengan senyum canggung, mengusap bulir keringat dingin yang menetes di pelipisnya. “Memangnya ada apa, Tuan?” tanyanya ragu.

​Ketua Darma kembali menatap siluet Ken di depan api unggun. “Ketua Tu, tidakkah kau menyadari… jika pemuda dengan kekuatan sebesar itu bersedia memihak kita, kelompok kecil ini mungkin memiliki peluang untuk bertahan hidup,” ucapnya serius. Suaranya berat, membawa secercah harapan yang sudah lama padam.

​Paman Kedai terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu. “A-ah… benar juga yang Anda katakan. Ta-tapi…” ujarnya ragu-ragu.

​”Tapi apa, Ketua Tu?” Ketua Darma menoleh, menuntut kejelasan.

​”Menurutku, dia bukanlah pemuda yang sederhana, Tuan,” ujar Paman Kedai sambil mengelus janggutnya yang beruban, sorot matanya menyiratkan kehati-hatian. “Melihat ketenangannya saat membantai para komandan Kapak Merah, mungkin saja dia memiliki tujuannya sendiri.”

​Ketua Darma mengangguk pelan, menyetujui analisis tersebut. “Begitukah…? Namun, tak ada salahnya kita mencoba mendekatinya, Ketua Tu.”

​”Baik, Tuan. Kalau begitu, akan kucoba berbicara dengannya,” pungkas Paman Kedai, memahami beban di pundak pemimpinnya.

​Keduanya pun berjalan beriringan mendekati Ken. Nyala api memantulkan bayangan wajah mereka—wajah-wajah yang dipenuhi beban penderitaan bertahun-tahun.

​”Anak Muda, seperti yang kau lihat, beginilah kondisi menyedihkan desa kami,” sapa Paman Kedai, mendudukkan dirinya di atas sebatang kayu di samping Ken.

​”Ya, Paman,” jawab Ken singkat, bibirnya menyunggingkan senyum tipis, meski matanya tak sedetik pun berpaling dari nyala api.

​”Ah, omong-omong, kita bahkan belum berkenalan secara resmi,” ucap Paman Kedai, baru tersadar. “Namaku Tubagus. Orang-orang di sini biasa memanggilku Paman Tu… atau Pemilik Kedai Tu. Kadang, mereka juga memanggilku Ketua Tu,” jelasnya sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Dan beliau ini adalah Ketua Darma, pelindung sekaligus pemimpin kelompok kami.” Ia menunjuk pria berwibawa di sebelahnya. “Bagaimana denganmu, Anak Muda? Siapa namamu?”

​Ken mengangkat wajah, menatap kedua pria itu bergantian. “Salam kenal. Namaku Ken,” ucapnya pelan namun jelas.

​”Ohh, Ken… nama yang bagus,” sahut Paman Tu.

​”Terima kasih, Paman,” balas Ken sopan.

​Paman Tu mengamati wajah Ken dengan saksama. Paras pemuda itu begitu dingin, tenang, dan irit bicara. Ia menarik napas panjang, lalu memutuskan untuk langsung menuturkan niat utamanya.

​”Begini, Ken… Jika kau belum memiliki tujuan yang pasti dalam pengembaraanmu, aku dan Ketua Darma ingin mengajakmu tinggal dan menetap di desa ini,” katanya berterus terang.

​”Benar, Anak Muda,” sambung Ketua Darma, suaranya dipenuhi ketulusan. “Desa kami sangat membutuhkan orang dengan kekuatan sepertimu.”

​Ken kembali menunduk, menatap bara api yang mulai meredup. “Paman, Ketua Darma… aku berterima kasih atas tawaran kalian,” katanya pelan. “Tapi untuk menetap, aku tidak bisa. Masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan.”

​Ketua Darma memejamkan mata sesaat, lalu mengangguk mengerti. “Baiklah, aku sangat memahaminya,” ucapnya dengan raut kecewa yang tersamar. “Namun seperti yang kau lihat sendiri hari ini, beginilah realitas hidup kami di bawah bayang-bayang penindasan Kerajaan Api. Hampir di seluruh penjuru benua, rakyat jelata menjadi korban kekejaman para antek mereka. Dan titik terburuk dari semua kekacauan ini bermula dari runtuhnya wibawa Kerajaan Langit.”

​Mendengar itu, tatapan Ken menajam. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Ketua Darma. “Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Kerajaan Langit? Mengapa mereka tidak mengirim pasukan untuk melindungi rakyat wilayah mereka sendiri?”

​Ketua Darma menarik napas panjang, menghembuskan udara malam yang terasa sesak. “Masalah Kerajaan Langit tidak sesederhana yang terlihat di permukaan,” kisahnya lirih, seolah membuka luka lama. “Sejak Raja Zi memutuskan untuk mengasingkan diri, kerajaan itu sepenuhnya dikendalikan oleh para pengkhianat dari dalam.”

Mengasingkan diri? Kenapa seorang raja memilih jalan itu? batin Ken bertanya-tanya. “Kenapa Raja Zi tiba-tiba menutup diri dari dunia luar, Paman?”

​”Tak ada rakyat biasa yang tahu pasti penyebab sesungguhnya,” jawab Ketua Darma perlahan, matanya menerawang. “Tapi semuanya berawal dari sebuah insiden tragis sepuluh tahun lalu yang menimpa keluarga intinya. Setelah peristiwa itu, Sang Kaisar mulai menarik diri dari urusan pemerintahan. Desas-desus mengatakan bahwa fondasi kekuatannya menurun drastis. Tepat pada saat pergolakan itulah, Kerajaan Api menancapkan cakar mereka, memanfaatkan celah untuk menguasai Kerajaan Langit dari balik layar.”

​Ken menunduk sedikit, merenungkan informasi tersebut. “Aku tidak menyangka Kerajaan Langit bisa jatuh hingga selemah itu.”

​”Ya… terlebih lagi, mereka kini terpecah belah,” lanjut Ketua Darma. “Sekarang, pusat militer kerajaan itu didominasi secara mutlak oleh Jenderal Noma—anjing peliharaan yang ditunjuk langsung oleh Kerajaan Api. Sementara itu, Raja Lukah yang naik tahta menggantikan Raja Zi tak lebih dari sekadar boneka yang tak berdaya.”

Jenderal Noma? Sejak kapan Kerajaan Langit memiliki jenderal pengkhianat seperti itu? pikir Ken, dahinya berkerut dalam. “Apakah kekuatan Kerajaan Api saat ini sudah semengerikan itu hingga tak ada yang berani melawan?” tanyanya tak percaya.

​”Sangat mengerikan…” jawab Ketua Darma dengan suara bergetar tertahan. “Sejak armada mereka dikuasai oleh eksistensi yang disebut Sepuluh Raja Naga, hierarki kekuatan dunia berubah. Kekuatan mereka masing-masing disinyalir telah mencapai level mistis, God King. Lima kerajaan besar lainnya pun gentar dan tak berani mencari gara-gara. Jadi, bisa dibilang, kelompok pemberontak kami ini hanyalah sekumpulan orang yang menggali kuburannya sendiri. Jika salah satu dari Raja Api itu turun tangan… dalam satu malam, kami semua pasti lenyap menjadi debu.”

​Ken menatap pria tua itu lekat-lekat. “Kalau ancamannya sebesar itu, kenapa Paman dan yang lainnya tetap memilih jalan kematian ini? Kenapa tetap melawan?”

​Ketua Darma membalas tatapan itu, lalu tersenyum pahit. “Untuk hal itu… aku hanya menjalankan jalan pedang yang diwariskan oleh Tuanku dulu,” katanya perlahan, suaranya dipenuhi kerinduan dan penghormatan absolut. “Beliau adalah seorang pendekar luar biasa. Puncak kultivasinya setara dengan Segel Bintang Level Dewa—bahkan, banyak yang meyakini beliau telah menyentuh batas God King.”

​Darma menengadah, menatap langit malam yang kelam tanpa bintang. “Tuanku dulu adalah pilar pelindung terkuat Kerajaan Langit. Beliau selalu berdiri di garis depan menantang tirani… sampai akhirnya, kelicikan para iblis dari Kerajaan Api berhasil menjebak dan membunuhnya, beserta seluruh keluarganya.”

​”Jadi, tekad peninggalan gurumu itulah yang menjadi alasan Paman membentuk kelompok perlawanan ini?” tanya Ken pelan, mulai memahami kedalaman luka pria di hadapannya.

​”Ya…” jawab Ketua Darma getir. Tinjunya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Lagipula, sekarang hidup sebagai rakyat biasa pun tak memiliki masa depan. Mereka mempekerjakan pria secara paksa hingga mati, menjadikan anak-anak sebagai budak, dan merenggut kehormatan para perempuan muda tanpa ampun.”

​Ia menoleh, menatap mata Ken dengan penuh permohonan. “Anak Muda, karena semua alasan itulah aku bersikeras memintamu untuk menetap… Bergabunglah bersama kami.”

​”Bergabung?” Ken membeo dengan nada datar.

​”Benar,” sahut Ketua Darma mantap. “Dengan kekuatan tempurmu yang mengerikan, setidaknya kelompok ini memiliki sayap untuk bertahan. Kau bisa menjadi pedang yang melindungi mereka yang tak berdaya.”

Apakah takdir memaksaku untuk memulai langkah dari tempat terkecil ini? pikir Ken dalam hati. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin menenangkan pikirannya. “Paman, aku sudah katakan sebelumnya, aku masih memiliki dendam dan urusan yang harus kuselesaikan,” ucapnya tegas.

​Cahaya di mata Ketua Darma meredup. Ia memaksakan senyum lembut. “Ya… tentu saja. Aku tidak berhak memaksamu.”

​Ken menatap nyala api yang bergoyang ditiup angin, lalu perlahan suaranya memecah keheningan. “Tapi, bukan berarti aku tidak akan membantu.”

​Mata Ketua Darma dan Paman Tu sontak membelalak. Keduanya menahan napas. “Hah!? A-apa? Benarkah itu?!” seru Ketua Darma, jantungnya berdegup kencang.

​”Ya,” jawab Ken tanpa ragu. “Aku bersedia bergabung. Tapi, ada satu hal fundamental yang harus kita ubah.”

​”Tentu saja! Katakan padaku, apa pun itu!” sahut Ketua Darma, matanya berbinar penuh harap.

​Ken bangkit berdiri secara perlahan. Cahaya api unggun yang berkobar menyinari punggungnya, menciptakan siluet menjulang yang memancarkan aura tekanan tak kasat mata. “Aku akan bergabung,” katanya, suaranya tenang namun setajam ujung pedang. “Tapi aku ingin mengambil alih posisi sebagai pemimpin di kelompok ini. Sebagai gantinya, aku akan menanggung nyawa kalian. Aku yang akan melindungi dan menjamin kelompok ini aman di bawah panjiku.”

​Keheningan seketika menyelimuti mereka. Bahkan desir angin malam seolah berhenti berhembus, memberikan ruang pada bobot kata-kata pemuda itu.

​”Haa… me-menjadi pemimpin tertinggi?” Ketua Darma tertegun, nyaris tak mempercayai pendengarannya.

​Ken mengangguk mantap. “Benar. Sejujurnya, aku juga memiliki rencana untuk membangun sebuah faksi demi melindungi mereka yang membutuhkan perlindungan,” jelasnya dengan nada berwibawa yang membuat siapapun tak berani membantah.

​Ketua Darma menatap pemuda itu lama, menimbang bobot aura sang pemuda yang seolah setara dengan seorang jenderal perang. Perlahan, senyum lega merekah di wajah keriputnya. “A-aaa… tentu saja! Tidak ada masalah sama sekali,” katanya akhirnya, suaranya dipenuhi keyakinan. “Justru aku sangat bersyukur jika ada naga muda sepertimu yang berani mengambil tanggung jawab sebesar ini. Bagaimana menurutmu, Tu?”

​Paman Tu, yang sejak tadi menahan napas, mengangguk antusias. “Ya! Aku seratus persen setuju! Aku selalu suka dengan pemuda yang punya keberanian murni!” ujarnya sambil mengacungkan jempol ke arah Ken.

​Ketua Darma menepuk pundak Ken dengan bangga. “Baguslah! Kalau begitu kesepakatannya sudah bulat, malam ini juga aku akan mengumpulkan seluruh penduduk dan anggota pertahanan kita!”

​Tanpa membuang waktu, malam itu juga, Ketua Darma dan Paman Tu segera mengerahkan warga. Suara derap langkah kaki yang tergesa, gumaman penuh tanya, dan kobaran obor yang dinyalakan serentak segera memecah kesunyian halaman desa. Ratusan pasang mata kini berkumpul, menatap penasaran ke arah panggung kayu di tengah halaman.

​”Semuanya, harap berkumpul dan tenang! Aku memiliki pengumuman penting!” seru Ketua Darma lantang, suaranya menggema ke seluruh penjuru dengan bantuan tenaga dalam.

​”Ada apa ini malam-malam begini?”

“Apakah Kapak Merah datang lagi?” bisik para warga yang berkerumun dengan perasaan waswas.

​”Mohon perhatian semuanya!” tegas Ketua Darma, menekan kepanikan mereka. “Ada keputusan krusial yang harus kusampaikan!”

​Ia menyapu pandangannya ke arah kerumunan yang kini terdiam menunggu. “Mulai detik ini, akan ada perubahan besar bagi arah desa dan kelompok pemberontak kita. Seperti yang kalian saksikan sore tadi, di sampingku berdiri seorang pendekar yang telah menyelamatkan kita dari cengkeraman maut Kapak Merah.”

​Ia menoleh ke kanan, memberi isyarat. “Namanya adalah Tuan Ken. Seorang pengembara dengan anugerah kekuatan mistis setara Giant Gold!”

​Mendengar nama kekuatan legendaris itu disebut, sorak-sorai kekaguman dan bisikan takjub seketika meledak dari barisan warga.

​”Dan malam ini, di hadapan kalian semua, aku mengumumkan bahwa Tuan Ken telah sepakat untuk bergabung dengan barisan kita!” lanjut Darma.

​”Hooo! Bagus! Dewa memberkati kita!”

“Hidup Tuan Ken!” teriak para warga meledak dalam kegembiraan.

​”Tenang dulu!” seru Ketua Darma seraya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Masih ada satu hal lagi.”

​Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melontarkan keputusannya. “Tuan Ken tidak hanya sekadar bergabung… mulai hari ini, beliau yang akan memegang kendali penuh sebagai pemimpin kelompok ini.”

​”Hah!? Menjadi pemimpin tertinggi?!” seru sebagian besar tetua desa.

“Benarkah itu!? Menggantikan Ketua Darma?!” sahut para prajurit, terkejut sekaligus bingung dengan transisi kekuasaan yang begitu mendadak.

​”Ya, itu benar!” ujar Ketua Darma tak goyah. “Aku dan Ketua Tu sudah sepakat untuk menyerahkan tongkat komando kepadanya. Bagaimana dengan kalian semua?”

​Para warga dan prajurit saling berpandangan, berdiskusi dalam bisikan cepat. Mengingat kengerian musuh yang dihancurkan Ken dengan mudah sore tadi, keraguan di hati mereka pun sirna. Salah satu komandan pasukan maju satu langkah, menempelkan kepalan tangan di dada, lalu berteriak lantang, “Jika Ketua Darma dan Ketua Tu menaruh kepercayaan penuh, maka kami pun siap mengangkat pedang dan mengikuti perintah Tuan Ken!”

​Gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan menggema merobek keheningan malam. Api unggun berkobar semakin terang, seolah menyambut lahirnya era baru bagi desa tersebut.

​”Baiklah,” ujar Ketua Darma, melangkah mundur dan memberi ruang. “Kalau begitu, mulai detik ini, Tuan Ken resmi menjadi Pemimpin Tertinggi kita. Silakan, Tuan, sampaikan titah pertamamu.”

​Ken melangkah maju. Ia berdiri tegap di atas tumpukan batu besar, memastikan setiap pasang mata di halaman itu bisa menatapnya. Auranya menguar, menekan segala kebisingan hingga suasana kembali hening total.

​”Terima kasih atas kepercayaan nyawa yang kalian letakkan di pundakku,” katanya. Suaranya tidak keras, namun menggema di setiap sudut dengan wibawa absolut. “Aku menetapkan bahwa Ketua Darma dan Paman Tu akan tetap memegang posisi sebagai tetua pengarah di kelompok ini.”

​Ia menatap lekat lautan manusia di hadapannya. “Sebagai pemimpin baru kalian, ada dekret yang harus dipatuhi. Pertama, tujuan utama faksi kita adalah menjadi pedang yang melindungi orang-orang tertindas, serta menjadi perisai mutlak bagi mereka yang lemah. Kedua, gerbang desa ini terbuka bagi siapa saja—dari ujung dunia mana pun—yang mencari perlindungan dan ingin bertarung di bawah panji kita.”

​Ken berhenti sejenak, membiarkan setiap aturannya meresap ke dalam benak mereka. “Ketiga, setiap anggota milisi akan melalui seleksi dan pelatihan tempur yang keras. Kita harus memiliki barisan pelindung terdepan yang kuat agar pengorbanan jiwa tak berguna bisa diminimalkan di medan pertempuran.”

​Angin malam kembali berhembus, menyibak rambut pemuda itu. “Dan yang terakhir…” Ken menengadah, menatap hamparan bintang di langit yang seolah menjadi saksi lahirnya sebuah legenda. “…kelompok ini bukan lagi sekumpulan pemberontak tanpa nama. Kita butuh sebuah identitas.”

​”Kami mendengarkan, Tuan!” seru para prajurit serempak, dada mereka membusung penuh kebanggaan.

​Ketua Darma tersenyum lebar, darahnya kembali mendidih oleh semangat masa muda. “Jadi, identitas apa yang akan kita sandang mulai malam ini, Tuan?”

​Ken menundukkan kepalanya perlahan, menatap lurus ke depan dengan sepasang mata tajamnya. Suaranya bergema dalam dan menggetarkan relung dada siapa pun yang mendengarnya.

​”Nama faksi kita adalah… SIAMA.”

​Hening yang memekakkan telinga terjadi selama satu tarikan napas. Lalu, bagai gunung berapi yang meletus, seluruh warga dan prajurit serempak menghunus senjata ke udara, meneriakkan nama itu dengan segenap tenaga.

​”SIAMA!! HIDUP SIAMA!!”

​Sorak kemenangan dan sumpah setia menggema jauh menembus awan malam. Nyala api unggun berkobar liar, dan untuk pertama kalinya dalam dekade terakhir—denyut kehidupan dan secercah harapan mutlak kembali berdetak di desa itu.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!