Current Language : Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Awal Perjalanan
Angin berembus pelan, menyibak helaian rambut Ken. Pemuda pengembara itu berdiri tegak di dahan pohon raksasa, menatap nanar sisa-sisa desa tua yang telah hancur. Akar-akar berkayu dan pepohonan liar telah menelan puing-puing bangunan, menutupi jejak kehidupan yang pernah ada. Berada di tempat ini menarik kembali serpihan kenangan masa lalunya yang terkubur.
Sesaat setelah ia memutar tubuh hendak pergi, ruang di sampingnya terdistorsi. Sebuah sosok berjubah hitam pekat muncul tanpa suara. “Aku ingin kau mencari beberapa informasi,” ucap Ken dengan nada datar kepada sosok tersebut.
”Baik, Tuan,” jawab sosok itu seraya menunduk hormat, lalu memudar seketika bagai ditelan bayangan.
Ken melanjutkan perjalanannya. Setelah menyusuri jalan setapak selama beberapa waktu, ia tiba di sebuah desa yang masih berpenghuni. Sepanjang langkahnya, ia mengamati sekeliling; raut kepanikan menghiasi wajah para penduduk yang tengah sibuk mengemasi barang-barang mereka untuk melarikan diri. Ken tidak peduli. Langkahnya terhenti di depan sebuah kedai makan kayu.
”Paman, buatkan aku makanan,” ucapnya kepada pemilik kedai, seraya menarik kursi kayu dan mendaratkan tubuhnya di sana.
”Akhirnya… ada juga pelanggan yang ingin makan!” sambut Paman Kedai. Wajah senjanya memancarkan keceriaan yang kontras dengan suasana desa.
”Baiklah… Karena kau adalah pelanggan pertama dan mungkin juga satu-satunya hari ini, aku akan membuatkan hidangan istimewa untukmu,” lanjut Paman Kedai, tangannya dengan lincah meraih peralatan masak.
Ken menyapukan pandangannya ke luar kedai, menangkap keganjilan yang kian jelas. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan orang-orang ini, Paman?” tanyanya penasaran.
Paman Kedai menghentikan irisan pisaunya sejenak. Ia menatap lekat-lekat wajah pemuda di hadapannya. “Haaa… Apa kau baru pertama kali datang ke tempat ini?”
”Benar, Paman. Aku baru saja melewati desa ini,” tegas Ken.
”Hahaha… Pantas saja! Setelah kuperhatikan, wajahmu memang terasa asing,” ucap Paman Kedai sambil tertawa renyah. “Yah… seperti yang kau lihat. Mereka sedang bersiap-siap meninggalkan desa ini. Tak ada satu pun dari mereka yang ingin mati sia-sia.”
”Mati sia-sia?” Alis Ken bertaut, pura-pura terheran.
”Betul… Ada desas-desus kuat bahwa kelompok Kapak Merah akan segera datang menyerbu.”
”Kapak Merah? Siapa mereka, Paman?” cecar Ken lagi.
Paman Kedai mengerutkan kening, menatap Ken dengan tatapan tak percaya. “Hah? Apa? Kau juga tidak tahu siapa mereka?” Sang paman menggelengkan kepala pelan. “Kapak Merah adalah kelompok perompak kejam dari Kerajaan Api. Mereka bernaung langsung di bawah komando Kerajaan Api, dan mereka tidak segan menghabisi siapa saja yang menolak tunduk pada kekuasaan mereka.”
”Lalu, apa hubungannya dengan desa ini?” tanya Ken, mencoba menggali peta kekuatan di wilayah tersebut.
”Desa kami dilindungi oleh Ketua Darma. Beliau adalah pria yang menentang keras penindasan. Sayangnya, tidak banyak orang hebat yang berani berdiri mendukungnya,” jelas Paman Kedai, nadanya memberat.
”Bukankah desa ini masih berada di dalam wilayah Kerajaan Langit?”
”Benar, dan itulah alasannya desa ini masih bertahan selama ini. Namun, sudah tiga tahun terakhir, keadaan mulai berubah. Para pengkhianat Kerajaan Langit yang diam-diam bersekutu dengan Kerajaan Api kini sudah berani menampakkan taring mereka secara terang-terangan. Siapa pun yang menentang aturan yang mereka buat, akan langsung dihabisi,” terang Paman Kedai, rahangnya mengeras menahan amarah.
”Lantas, ke mana para penduduk ini akan pergi?” tanya Ken, suaranya tetap tenang.
”Yah… ada yang mengadu nasib ke desa lain yang dirasa lebih aman, ada pula yang memilih bersembunyi di kedalaman hutan belantara,” jawab sang paman seraya kembali fokus pada wajannya.
Melihat pria paruh baya itu tetap santai di tengah kekacauan, Ken kembali melontarkan tanya, “Lalu, kenapa Paman sendiri masih bertahan di sini?”
”Hahaha… Aku sudah lelah berpindah-pindah. Bagi orang lemah seperti kami, sampai ke ujung dunia pun kita berlari, keadaan tak akan berubah.” Ia menuangkan hidangan hangat ke atas piring keramik. “Jadi, untuk sekarang, aku lebih memilih bertahan. Kalaupun hari ini aku harus mati, biarlah tempat kelahiranku ini menjadi kuburanku.” Paman Kedai tampak sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya. “Nah… makanlah, Anak Muda,” lanjutnya dengan senyum tulus, menyodorkan hidangan istimewa yang aromanya menggugah selera.
”Terima kasih, Paman,” jawab Ken, menarik piring itu mendekat.
Sambil mengunyah perlahan, matanya terus mengawasi hiruk-pikuk di luar. Ia memahaminya, namun tampak acuh tak acuh, seolah kepanikan itu hanyalah pemandangan biasa di matanya. Kenapa Kerajaan Langit bisa jatuh hingga sedalam ini? batin Ken bertanya-tanya, sementara tangannya tak henti menyuapkan makanan.
Tiba-tiba, kedamaian semu itu terkoyak.
”Darma… Keluarlah!”
Sebuah raungan menantang menggema dari arah luar desa. Beberapa pendekar penjaga desa segera menghunus senjata, bergegas berlari menuju sumber suara untuk menyusul Ketua Darma.
Paman Kedai mendesah pelan. Ia melepaskan celemek kotornya dan meletakkannya di atas meja kayu. “Anak Muda, jika kau sudah selesai makan, segeralah tinggalkan tempat ini. Pergilah sejauh yang kau bisa,” peringatnya dengan nada serius. Tanpa menunggu jawaban, pria paruh baya itu membalikkan badan, melangkah ke luar kedai untuk bergabung dengan barisan pertahanan desa dan meninggalkan Ken sendirian.
Ken menyadari sang paman hendak pergi. “Tunggu… Berapa yang harus kubayar, Paman?” panggilnya sebelum pria itu menjauh.
”Hahaha… Tenang saja! Anggap hari ini adalah hari keberuntunganmu. Makanan itu kugratiskan untukmu!” seru Paman Kedai, sebelum sosoknya perlahan ditelan jarak.
Hah! Baiklah. Terima kasih, Paman, batin Ken, terus melahap makanannya hingga bersih.
Setelah selesai, Ken bersandar sejenak, membiarkan kehangatan makanan mengalir di perutnya. Sekelebat ingatan tentang sang ibu kembali melintas di benaknya.
Setiap hari adalah hari keberuntunganku, Bu, kenangnya pada suatu masa.
‘Benarkah? Kenapa bisa begitu?’ Suara lembut ibunya menggema di relung ingatan.
Karena setiap hari, aku bisa memakan makanan lezat buatan Ibu. Ken tersenyum tipis mengingat tawa kecil dan senyum manis ibunya saat menanggapi jawaban lugu tersebut.
Di luar desa, angin berembus membawa ketegangan. Ketua Darma bersama kelompok pertahanannya telah berbaris rapi. Di seberang mereka, kelompok Kapak Merah berdiri angkuh, memancarkan aura haus darah yang menyesakkan dada.
”Darma, bukankah aku sudah memperingatkanmu tempo hari?” dengus Dema, salah satu petinggi Kapak Merah, suaranya berat dan mengancam.
”Dema! Sampai napasku berhenti pun, aku tidak akan pernah bertekuk lutut pada orang-orang sepertimu!” balas Ketua Darma tegas, menggenggam erat senjatanya.
”Hah! Bernyali juga kau, Darma. Sepertinya, hari ini akan menjadi hari kematian kalian semua. Dan hari ini, akan menjadi hari pertarungan terakhir kita! Hahaha!” Dema tertawa pongah, meremehkan barisan pertahanan desa yang tak seberapa.
”Yah… Aku hanya berharap kau tidak melarikan diri dengan ekor di antara kedua kakimu seperti waktu itu,” ejek Ketua Darma.
”Hahaha! Tentu saja tidak. Misi utamaku hari ini adalah menghabisi dirimu dan seluruh pengikut setiamu hingga ke akar! Karena itu, aku membawa beberapa teman bermain! Hahaha!” seringai Dema melebar.
Ia memanggil dua orang temannya maju. Seketika, dua sosok dengan tekanan aura yang mengerikan melangkah ke depan. Gelombang energi terpancar dari tubuh mereka, menandakan kultivasi tingkat tinggi: dua orang Pendekar Segel Bintang 8! Kelompok Kapak Merah rupanya telah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang untuk meratakan kelompok Ketua Darma.
Pendekar Segel Bintang 8! Mata Ketua Darma membelalak. Jantungnya berdegup kencang, disergap rasa gentar yang tak bisa disembunyikan.
”Ketua Kre… Ketua Hea…” Dema menyambut kedua sosok itu dengan hormat, lalu kembali menatap Darma dengan senyum licik. “Bagaimana, Darma? Apa kau ingin menyerah sekarang? Hahaha!” ejeknya, sengaja menekan mental lawannya.
Ketua Darma terpojok. Ia sama sekali tidak menyangka Kerajaan Api akan mengirimkan armada pembunuh berupa dua Pendekar Segel Bintang 8 sekaligus. “Dema… Kau boleh membunuhku, tapi lepaskan mereka!” pinta Ketua Darma, mencoba menukar nyawanya demi keselamatan pengikutnya.
”Ketua Darma! Kami tidak takut mati! Kami akan bertarung bersama Anda!” teriak Paman Kedai yang tiba-tiba menyeruak maju. Tekadnya membara, didukung sepenuhnya oleh para anggota yang lain.
”Benar, Tuan! Kami tidak sudi menyerah!” seru seluruh anggota kelompok Darma serempak, menggemakan ikrar juang mereka.
Mendengar teriakan dari Paman Kedai, Ketua Kre mendecakkan lidah, merasa kesal sekaligus tergelitik. “Hahaha… Hanya serangga Bintang 4 berani menantang kami? Baiklah, akan kutunjukkan seberapa jauh jurang perbedaan kekuatan di antara kita!” ancam Ketua Kre. “Tugas membosankan ini akan kuselesaikan dengan cepat!” lanjutnya, melesat menyerang Paman Kedai.
Pertempuran tak seimbang pun meledak. Perbedaan kekuatan antara kedua kubu terlampau masif. Kelompok Kapak Merah mendominasi pertempuran secara mutlak. Satu per satu anggota kelompok Ketua Darma tumbang bersimbah darah. Ketua Darma sendiri terjebak dalam pertarungan sengit yang berimbang melawan Dema—karena keduanya sama-sama berada di tingkat Bintang 8. Namun, pasukannya yang lain terluka parah. Di sudut lain, Paman Kedai dihajar habis-habisan oleh Ketua Kre karena kesenjangan level di antara mereka.
Tubuh Paman Kedai terpental. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. “Hahaha… Apa hanya segini kekuatan level raja?” ejek Paman Kedai dengan napas tersengal.
”Hah… Mulutmu masih saja besar. Aku akan mengakhirinya sekarang!” Ketua Kre memusatkan energi panas ke ujung senjatanya. “Tombak Api!” Teriakannya menggelegar saat ia melesatkan serangan pamungkas yang menyilaukan mata.
Menyadari tak ada lagi tenaga untuk menghindar, Paman Kedai terdiam. …inilah akhir perjalananku! batinnya pasrah. Ia memejamkan mata, menyambut ajal yang tak terelakkan.
Namun, ledakan itu tak pernah menyentuhnya.
Seseorang melesat dengan kecepatan tak kasat mata, menangkis telak serangan mematikan Ketua Kre hingga padam, dan menyelamatkan nyawa Paman Kedai. Paman Kedai membuka mata perlahan. Matanya terbelalak melihat punggung pemuda yang tadi makan di kedainya.
Hah… Apa yang terjadi? batinnya heran. “Apa… apa yang kau lakukan, Anak Muda?” tanyanya dengan suara serak.
Ken tidak menoleh. Tangan kirinya menyodorkan sebuah pil. “Minumlah ini, Paman.”
Paman Kedai menerima pil itu dengan tangan gemetar. “Ini… O-obat ini…” gumamnya, matanya membesar menyadari kualitas pil tersebut bukanlah obat sembarangan.
”Istirahatlah, Paman. Aku akan membantumu mengalahkan mereka,” ucap Ken dingin. Tanpa membuang waktu sedetik pun, pemuda itu menerjang Ketua Kre.
Pukulan demi pukulan dihujamkan secara membabi buta. Ketua Kre yang sebelumnya angkuh kini terdesak mundur, matanya membelalak panik tak menyangka dirinya bisa dipojokkan sedemikian rupa oleh seorang pemuda antah-berantah.
Sebuah pukulan telak menghantam tubuh Ketua Kre, menerbangkannya hingga menghantam bumi dengan dentuman keras.
”Kurang ajar! Siapa kau sebenarnya?!” geram Ketua Kre sambil terbatuk. Ia berusaha bangkit dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Tanpa menggunakan kekuatan Segel Bintang sedikit pun, bagaimana kau bisa mengimbangiku?!” teriaknya kesal. Urat-urat di wajahnya menonjol saat ia bersiap memaksimalkan kultivasinya.
”Menghadapimu… tidak perlu menggunakan kekuatan Segel Bintang,” jawab Ken sedingin es abadi. Tak ada setitik pun riak ketakutan di wajahnya.
”Keparat! Baiklah, aku tidak akan segan-segan lagi!” raung Ketua Kre murka, membiarkan auranya meledak hingga ke titik puncak.
”Hah, baik…” Ken membalasnya dengan meningkatkan kekuatan fisiknya secara ekstrem.
Saat gelombang kekuatannya memancar, udara di medan tempur seolah membeku. Seluruh pasang mata yang menyadari anomali itu terkesiap hebat. Fenomena langka sedang terjadi di depan mereka: seorang pemuda tanpa kekuatan Segel Bintang mampu memancarkan tekanan absolut yang menyaingi ahli kultivasi kelas atas!
Tekanan Giant Gold… Siapa pemuda ini sebenarnya? Kenapa dia bisa memiliki kekuatan legendaris itu? batin Ketua Darma, terkejut luar biasa melihat pemandangan tersebut.
Hah! K-kekuatan ini… Paman Kedai menelan ludah, baru menyadari monster seperti apa yang ia traktir makan tadi.
”Apa?!” Ketua Kre tak sempat menyelesaikan keterkejutannya. Ken telah melesat, membelah udara dan menghajarnya tanpa ampun.
Meski telah mengerahkan seluruh kultivasinya hingga maksimal, Ketua Kre tidak mampu menahan badai serangan dan pukulan bertubi-tubi dari Ken. Sang jagoan Bintang 8 kalah telak tak berdaya di hadapannya.
Setelah memastikan lawannya lumpuh, Ken menarik sesuatu dari udara kosong. Rantai besi berderak, menyatu membentuk sebilah pedang raksasa.
”Ku… ku… kurang ajar… Si-siapa kau…” erang Ketua Kre dengan tubuh babak belur bersimbah darah.
”Orang sepertimu tidak perlu tahu siapa aku,” bisik Ken dingin.
Jleb!
Ken menancapkan pedang besar itu tepat ke jantung Ketua Kre. Dalam hitungan detik, bilah pedang itu berpendar, menyerap habis energi Segel Bintang dan esensi kehidupan dari tubuh Ketua Kre. Aliran energi itu merambat menembus rantai, lalu memadat hingga mengkristal menjadi sebuah Bola Kristal berkilau. Ketua Kre mati seketika.
Semua orang di medan perang terdiam membeku. Otak mereka tak mampu mencerna bagaimana pemuda itu bisa membunuh Ketua Kre semudah membalik telapak tangan.
”Ketua Kre!” jerit Ketua Hea, wajahnya memucat melihat rekannya tewas mengenaskan. “Bocah! Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa! Pemimpin tertinggi kami pasti akan membuat perhitungan denganmu!” ancam Ketua Hea memperingatkan Ken.
Bukannya gentar, Ken malah mengibaskan pedangnya dengan gerakan santai. “Benarkah? Kau berteriak mengancamku, tapi… kenapa tubuhmu gemetar ketakutan?” cemoohnya telak.
”Hah! Kau terlalu meremehkanku!” teriak Ketua Hea. Matanya membelalak panik karena tiba-tiba bayangan Ken sudah berada di hadapannya. “Hiiiyaaah!” Ketua Hea memaksakan diri melancarkan tebasan mematikan ke arah Ken.
Pertarungan kedua pun pecah. Namun, nasib Ketua Hea tak jauh berbeda. Sehebat apa pun ia memanipulasi energi Bintang 8 miliknya, tak ada satu pun serangannya yang mampu mengimbangi kecepatan Ken. Menyadari perbedaan kekuatan yang bagai bumi dan langit, insting bertahan hidup Ketua Hea mengambil alih. Ia berusaha menghindari pertarungan langsung dan mencari celah untuk melarikan diri.
Baguslah! Dengan bantuan pemuda ini, kita bisa melakukan serangan balik! batin Ketua Darma, semangatnya kembali tersulut melihat Ketua Hea yang terdesak hebat.
”Mau ke mana kau?” desis Ken. Ia menghentakkan kaki, memotong jalur kabur sang target. Pukulan beruntun mendarat secara presisi, melumpuhkan pergerakan Ketua Hea sepenuhnya.
Melihat lawannya terhuyung, Ken menarik tangan kanannya ke belakang. Energi keemasan berpusar di kepalan tangannya. “Tinju Bintang!”
Sebuah hantaman meteorit menghantam dada Ketua Hea dengan telak.
”Ba… ba… bagaimana… mungkin…” rintih Ketua Hea. Tubuhnya sekarat, tak percaya kultivasinya hancur berkeping-keping oleh seorang pemuda.
Tanpa belas kasihan, rantai besi berujung tajam melesat menembus dada Ketua Hea.
”Moksa…” gumam Ken pelan, tangan kanannya mengepal kuat.
”Ti—Tidaaaak!” jerit Ketua Hea sebelum suaranya tersendat dan perlahan lenyap.
Sama seperti yang terjadi pada rekannya, esensi kekuatan Segel Bintang ditarik keluar secara paksa dari tubuh Hea. Cahaya energi itu memadat menjadi Bola Kristal. Tubuh Ketua Hea hancur dan lenyap perlahan ditiup angin.
Menyaksikan dua pilar terkuatnya musnah berturut-turut, nyali Ketua Dema menguap tak bersisa. Ia sangat terkejut dan ketakutan. Saat ia berbalik untuk melarikan diri, Ken telah menghadangnya. Dengan gerakan cepat, pemuda itu menghantamkan gagang Pedang Rantainya ke dada Dema, disusul sebuah pukulan telak ke wajah yang membuat sang ketua terjerembap.
Menyadari jalur pelariannya telah tertutup rapat, Dema mencoba menggunakan gertakan terakhir. “Tuan! Dengarkan aku, jika kau membunuhku, kau akan menjadi musuh abadi Kerajaan Api!” ancamnya dengan suara bergetar.
Mendengar nama kerajaan besar itu disebut, sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di sudut bibir Ken.
”Kerajaan Api…?” gumam pemuda tersebut. Raut wajahnya kembali datar membeku. Ia melangkah maju melewati tubuh Dema yang gemetar.
Usaha Dema untuk melarikan diri sia-sia belaka. Ken tidak peduli dengan ancaman tersebut. Dengan tatapan hampa, ia menancapkan Pedang Rantai berujung tajam miliknya ke dada Ketua Dema.
”A-a-aargggh! Senjata ini…!” raung Ketua Dema kesakitan yang amat sangat. Energi kultivasinya tersedot keluar, mengalir ke dalam pedang hingga memadat menjadi Bola Kristal ketiga.
Senjata Ken bukanlah pusaka sembarangan. Itu adalah Senjata Bintang Pedang Rantai; sebuah artifak mematikan yang bilahnya terangkai dari kumpulan rantai fleksibel. Tak hanya bisa memadat menjadi pedang raksasa atau menjulur menjadi cambuk, pedang itu memiliki kemampuan absolut untuk menyerap kekuatan Segel Bintang milik musuhnya.
Sisa pasukan Kapak Merah yang menyaksikan ketiga komandan mereka tewas kini kebingungan dan dipenuhi teror.
”Para ketua telah mati! Kita mundur! Lari!” jerit salah seorang anggota Kapak Merah histeris. Ia melangkah mundur dengan gemetar, mengajak anggota yang lain untuk segera melarikan diri dari medan pembantaian itu.
”Jangan biarkan anjing-anjing itu lari!” teriak seorang penjaga desa kelompok Darma, bersiap memburu.
”Tidak… biarkan saja mereka. Semuanya, mundurlah,” perintah Ketua Darma dengan suara berat, merentangkan tangan menghalangi pasukannya yang ingin mengejar.
”Sesuai perintah Anda, Ketua,” jawab pasukannya serempak, mematuhi arahan sang pemimpin.
Mengabaikan kekacauan yang mereda, Ken melangkah tenang mendekati Paman Kedai untuk memastikan kondisinya. “Bagaimana keadaanmu, Paman?” tanyanya.
”Aku baik-baik saja. Terima kasih, Anak Muda. Berkatmu, nyawa tua ini terselamatkan,” ucap Paman Kedai, perlahan bangkit berdiri. “Hahaha! Ternyata, di balik wajah tenangmu itu, kau menyembunyikan kekuatan yang luar biasa.” Paman Kedai menepuk bahu pemuda tersebut dengan penuh rasa syukur.
Ketua Darma ikut melangkah menghampiri mereka berdua. “Anak Muda… Terima kasih banyak atas bantuanmu hari ini.”
”Sama-sama, Tuan. Kebaikan Tuan yang pantang menyerah demi melindungi rakyat-lah yang sebenarnya menolong tempat ini,” balas Ken merendah, memuji balik integritas Ketua Darma.
Ketua Darma tersenyum lega. “Baiklah, sebaiknya kita semua segera kembali ke dalam desa.”
Mengikuti arahan Ketua Darma, mereka serta seluruh anggota yang tersisa berjalan kembali masuk melintasi gerbang desa. Malam ini, mereka harus segera merawat saudara-saudara mereka yang terluka.



