Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Ibu Terselamatkan
Beberapa hari berlalu sejak malam penobatan itu. Di bawah panji kelompok Siama, wajah desa mulai berubah drastis. Mengikuti instruksi Ken, para penduduk bahu-membahu memperluas area permukiman hingga menyentuh tepian sungai beraliran deras yang kini difungsikan sebagai parit pertahanan alami. Dengan keringat dan tekad baru, mereka mendirikan benteng pertahanan sederhana dari batang-batang pohon raksasa yang mengelilingi perbatasan.
Dengan area perluasan tersebut, para pengungsi kini leluasa membangun tempat tinggal baru. Mereka juga mulai membuka lahan pertanian di bantaran sungai sebagai penunjang roda kehidupan desa. Tanpa disadari, bisik-bisik mengenai kebangkitan kelompok Siama yang dipimpin oleh seorang pemuda misterius mulai menyebar luas bak angin liar, hingga desas-desus itu akhirnya sampai ke telinga para petinggi Kerajaan Langit.
Di salah satu sudut sunyi desa, Ken berdiri membelakangi angin.
”Baiklah, terus awasi pergerakan mereka dan kumpulkan lebih banyak informasi,” perintah Ken. Suaranya mutlak dan dingin.
”Sesuai perintah Anda, Tuan!” Sesosok bayangan berjubah pekat yang sedari tadi berlutut di belakangnya menjawab hormat, lalu melebur bersama udara kosong dalam sekejap mata.
Tak lama setelah sosok itu menghilang, derap langkah kaki terdengar mendekati ruangan tempat Ken berada.
”Tuan Ken, ada hal penting yang ingin kami laporkan,” ucap Ketua Darma dari balik pintu kayu.
”Ya, Paman. Masuklah,” jawab Ken, mempersilakan dengan nada sopan.
Pintu terbuka. Ketua Darma melangkah masuk diikuti oleh dua orang tetua desa. “Tuan, hari ini perbatasan kita kedatangan dua gelombang pengungsi dari desa tetangga,” lapor Ketua Darma, wajahnya menampakkan keseriusan. “Selain itu, kelompok milisi bernama Batara dari wilayah Kerajaan Langit juga meminta izin untuk bergabung dan mencari suaka di sini. Selama ini, mereka telah menjadi target buruan para pengkhianat yang tunduk pada Kerajaan Api, Tuan.”
”Kelompok Batara? Siapa mereka sebenarnya, Paman?” tanya Ken, sedikit tertarik.
”Mereka bernasib sama seperti kelompok kecil kita dulu, Tuan. Mereka adalah pejuang akar rumput yang berani melakukan perlawanan terhadap penindasan di wilayah Kerajaan Langit. Pemimpin mereka dikenal dengan sebutan Ketua Batara,” terang Ketua Darma secara rinci.
”Ya… tidak masalah, Paman. Buka gerbangnya dan biarkan mereka bergabung,” putus Ken tanpa keraguan.
Ketua Darma mengangguk, namun raut wajahnya kembali menegang. “Dan satu hal lagi, Tuan. Mata-mata kita membawa kabar bahwa Kerajaan Api telah mengendus kekalahan armada mereka. Dalam waktu dekat, mereka akan mengutus pasukan khusus kemari untuk menuntut balas atas pembantaian petinggi Kapak Merah minggu lalu.”
Mendengar ancaman dari salah satu kekuatan terbesar di benua, ekspresi Ken tidak berubah sedikit pun. Ia menatap Ketua Darma dengan ketenangan yang mengerikan.
”Begitukah? Tidak usah khawatir, Paman. Jika anjing-anjing itu berani datang, aku sendiri yang akan mengurus mereka,” tegas Ken, memancarkan aura dominasi yang membuat udara di ruangan itu terasa berat. “Sampaikan juga pada seluruh warga: jangan ada yang panik terhadap ancaman murahan yang beredar. Fokus saja pada pembangunan dan pertanian desa. Jika mereka ingin mengantar nyawa ke tempat ini, biarkan mereka datang.”
Merasakan keyakinan mutlak dari pemimpinnya, beban di pundak Ketua Darma seakan terangkat. “Baik, Tuan. Kami akan segera melaksanakan perintah Anda,” tunduk Ketua Darma hormat, lalu bergegas undur diri untuk menenangkan warga.
Menjelang siang, Ken meluangkan waktu berjalan-jalan mengitari desa, mengamati hasil kerja keras para penduduk yang kini terlihat lebih hidup. Langkah santainya kemudian terhenti di depan sebuah kedai makan yang tak asing.
”Paman, aku ingin makan,” ucap Ken sembari duduk di salah satu kursi kayu.
”Ya, silakan… silakan duduk, Tuan!” jawab Paman Tu yang sedang sibuk membelakangi meja. Menyadari suara familier pelanggannya, pria paruh baya itu berbalik dan terperanjat. “Oh, Astaga! Tuan Ken! Maafkan kelancanganku, aku tidak memperhatikan siapa yang datang!” Paman Tu tergagap, buru-buru mengelap mejanya hingga mengilap.
”Ah, tidak perlu sungkan begitu, Paman. Bersikaplah seperti biasa,” senyum Ken santai, menepis kekakuan di antara mereka.
Tak lama, semangkuk hidangan hangat tersaji. Ken menikmati makanannya dalam keheningan yang nyaman. Setelah menandaskan suapan terakhirnya, ia bangkit berdiri.
”Ini, Paman. Terima kasih atas hidangan lezatnya,” ucap Ken seraya meletakkan sekeping emas murni di atas meja.
Mata Paman Tu membelalak melihat kilau emas yang nilainya setara dengan penghasilannya selama setengah tahun. “Ahhh! Tidak… tidak… Tuan! Anda tidak perlu membayar! Kepingan emas yang Tuan berikan kemarin bahkan masih bersisa banyak untuk menutupi makan Anda berbulan-bulan!” Paman Tu panik, berusaha mengembalikan kepingan emas itu ke tangan Ken.
”Tidak apa-apa, Paman. Simpan saja kepingan itu dan pakailah lebihannya untuk memperbesar kedaimu,” tolak Ken halus.
Paman Tu meremas celemeknya, merasa terbebani dengan kemurahan hati pemuda itu. “Aduh, Tuan! Jika Anda terus-terusan membayar sebanyak ini, perasaanku jadi tidak enak,” gerutunya setengah mengeluh.
”Tidak perlu dipikirkan terlalu rumit, Paman,” kekeh Ken seraya melambaikan tangan, melangkah santai menjauhi kedai.
Ia terus menyusuri jalan setapak desa. Namun, saat melewati area terluar yang sepi, pendengarannya yang tajam menangkap suara isak tangis dari balik sebuah gubuk reyot. Di sana, seorang bocah laki-laki berpakaian lusuh tengah bersimpuh di samping ranjang jerami, menjaga ibunya yang terbaring lemah dengan napas tersengal. Wajah wanita itu sepucat kapas, dipenuhi peluh dingin.
”Bertahanlah sebentar, Ibu. Aku akan berlari ke hutan dan mencarikanmu obat,” ucap bocah itu dengan suara bergetar. Ia memutar tubuhnya dan berlari tergesa-gesa keluar gubuk.
Bruk!
Saking paniknya, tubuh kecil itu menabrak kaki Ken dengan keras. “A-aduh… Maaf! Maafkan aku, Tuan! Aku benar-benar tidak sengaja!” ucap bocah itu ketakutan, menunduk dalam-dalam tanpa menyadari siapa pria yang menjulang di hadapannya.
Tatapan Ken tak tertuju pada anak itu, melainkan menembus celah pintu gubuk ke arah sang ibu yang tengah meregang nyawa. “Ada apa? Apa yang membuatmu berlari tergesa-gesa seolah dikejar maut?” tanya Ken seraya melangkah perlahan memasuki gubuk sempit itu.
”I-ibuku sakit parah, Tuan. Aku sangat takut… Aku ingin mencari tumbuhan obat di hutan batas desa,” jawab anak itu, tubuh kurusnya gemetar menahan tangis.
Ken berjongkok di samping pembaringan jerami itu. Dua jarinya dengan sigap menyentuh pergelangan tangan sang ibu, memeriksa denyut nadi dan aliran energi di dalam tubuhnya. “Mencari obat di hutan liar? Apakah kau ini seorang ahli alkemi atau mantri?” selidik Ken, melontarkan pertanyaan sambil terus menganalisis kondisi wanita itu.
”B-bukan, Tuan! Aku hanya tahu beberapa tumbuhan herbal biasa yang sering diminum Ibu! Mendiang ayahku yang mengajariku, karena Ibu memang memiliki penyakit bawaan sejak lama,” jelas anak itu dengan bibir gemetar. Ia melirik cemas ke arah luar. “Tuan yang baik, apakah aku boleh menitipkan Ibuku sebentar pada Anda? Aku harus segera pergi!” pintanya, hendak berlari kembali.
”Hei… Berhentilah berlari. Kemarilah, aku akan membantumu menanganinya,” tahan Ken, suaranya dipenuhi otoritas yang membuat langkah anak itu terhenti seketika.
”Ba-baik, Tuan,” sahut bocah itu gugup. Apa yang sebenarnya akan dilakukan pria ini? Aku harus cepat, waktu Ibuku tak banyak! batin sang anak dipenuhi gejolak kepanikan.
”Bantu aku menyangga bahu ibumu agar dia duduk,” arahkan Ken.
Setelah posisinya pas, Ken memejamkan mata. Ia memfokuskan esensi energi kehidupan murni dari inti kultivasinya, menyalurkannya ke telapak tangan hingga memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat. Dengan gerakan presisi, jari-jarinya menekan dan menotok beberapa titik meridian penting di punggung wanita itu. Energi hangat mengalir merangsek masuk, menyapu penyumbatan pembuluh darah dan menstabilkan organ dalamnya yang rusak.
”Nah… Sudah. Aku telah melancarkan sirkulasi darah dan menekan penyakit bawaan ibumu,” jelas Ken perlahan, menarik kembali energinya. Embusan napas sang ibu yang tadinya sesak dan memburu kini berangsur tenang dan teratur. Rona wajahnya perlahan kembali.
Menyaksikan keajaiban di depan matanya, mata anak itu membulat sempurna. Apa-apaan paman ini? Cahaya apa itu tadi?! batinnya menjerit tak percaya. “A-apa… Apa Ibuku sudah tidak apa-apa, Tuan?” tanyanya terbata-bata, memastikan keajaiban itu nyata.
”Ya… untuk saat ini, kondisinya sudah melewati masa kritis,” jawab Ken. “Selebihnya, ibumu mengalami demam tinggi karena tubuhnya kelaparan. Dia tidak menerima asupan makanan dalam waktu yang lama.” Ken merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil. “Buka mulutnya. Minumkan pil ini perlahan.” Ia menyerahkan sebutir pil yang memancarkan aroma herbal menyegarkan.
Mencium aroma murni dari pil itu, sang anak langsung menyadari nilainya. “Tuan… Ini… Bukankah ini pil pemulihan tingkat tinggi yang sangat langka? Ini pasti sangat mahal! B-bagaimana aku bisa membayarnya kelak?” tanyanya, tangannya ragu untuk menerima.
”Sudahlah, hilangkan pikiran sempitmu itu. Aku menyuruhmu meminumkannya pada ibumu demi menyelamatkan nyawanya, bukan memintamu untuk membayarnya,” dengus Ken pura-pura geram.
”B-baiklah, Tuan. Terima kasih tak terhingga!” ucap anak itu dengan air mata menggenang. “Ibu, bukalah mulutmu sedikit. Minumlah obat ini,” bisiknya lembut seraya meletakkan pil itu ke bibir ibunya. Pil itu langsung mencair menjadi energi hangat begitu menyentuh lidah sang ibu.
Ken kembali merogoh ruang di balik jubahnya—sebuah trik dari kantong dimensi penyimpan benda miliknya. “Ambil ini. Ini untukmu. Kau juga harus mengisi perutmu agar tidak tumbang,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah buah spiritual berukuran besar yang ranum dan beberapa keping koin emas.
”Ta-tapi, Tuan—”
”Itu buah apel, bukan ‘ta-pi’,” potong Ken cepat, memelesetkan kata-kata anak itu dengan nada datar. “Setelah kau memakan buah itu, pergilah ke kedai milik Paman Tu di sudut desa sana untuk membeli makanan yang layak,” arahkan Ken, ujung jarinya menunjuk ke arah jalan utama. “Kau butuh tenaga ekstra untuk merawat ibumu, bukan?”
”B-baik, Tuan,” jawab anak itu linglung, menerima buah raksasa itu dengan kedua tangan. Apakah paman ini seorang penyihir? Kantong bajunya terlihat sangat kecil, tapi bagaimana bisa dia mengeluarkan buah sebesar kepala dari sana? batin anak itu kebingungan, menatap saku Ken dan buah di tangannya secara bergantian.
”Pil tadi hanya meredam gejalanya. Jika kau ingin mencabut akar penyakit bawaan ibumu secara total, kau akan memerlukan beberapa bahan obat khusus. Kelak, saat waktunya tiba, aku akan mengajarimu cara meramunya!” janji Ken mutlak.
”Benarkah, Tuan?! Apakah Anda seorang Tetua Alkemi yang hebat?” tanyanya, sepasang matanya kini berbinar dipenuhi bintang harapan.
”Yah… tidak juga. Aku hanya kebetulan mengerti satu dua hal tentang pengobatan,” elak Ken merendah. “Sudah, cepat makan buah itu. Lihat dirimu, tubuh kurusmu itu sudah gemetar menahan lapar sedari tadi,” perintah Ken, tatapan dinginnya menyembunyikan rasa iba yang dalam.
”B-baik, Tuan. Terima kasih atas semua pertolongan Anda hari ini,” ucap anak itu tulus, lalu mulai menggigit buah spiritual itu dengan rakus. Air matanya menetes di sela kunyahan.
”Apakah kau pengungsi yang baru tiba di sini?” tanya Ken.
”Benar, Tuan. Aku baru tiba kemarin malam bersama rombongan pengungsi dari wilayah seberang,” jawabnya dengan mulut penuh, berusaha mengunyah secepat mungkin.
”Lalu, kenapa kau malah mengasingkan diri di gubuk reyot ini? Kenapa tidak bergabung dengan pengungsi lain di tenda pusat? Di sana sudah disediakan tempat berlindung dan jatah makanan untuk warga baru,” selidik Ken, keningnya berkerut bingung.
Anak itu menelan makanannya dengan susah payah. “Aku… aku takut penyakit Ibu akan menular dan mengganggu kenyamanan orang lain. Aku sudah sangat bersyukur diizinkan masuk dan diberi tempat berteduh di gubuk ini,” terangnya dengan senyum miris. “Di wilayah Kerajaan Api tempat kami berasal, aku dipaksa bekerja sebagai budak tambang, dan para penjaga berniat membunuh Ibu karena dianggap tak berguna dan membebani. Saat aku mendengar kabar bahwa di wilayah ini ada faksi yang berani menentang Kerajaan Api, aku membawa Ibu melarikan diri menembus hutan malam hingga bertemu dengan kelompok pengungsi lainnya.”
Mendengar kisah kelam itu, rahang Ken mengeras. Emosinya mendidih mendapati kenyataan betapa busuknya Kerajaan Api memperlakukan rakyat kecil.
”Tenanglah, penderitaan kalian berakhir sampai di sini. Kau sudah berada di tempat yang sangat tepat,” ucap Ken meyakinkan, suaranya berat dan mengayomi.
”Iya, Tuan. Aku mempercayainya,” jawab anak itu, wajahnya terlihat jauh lebih segar setelah menghabiskan buah pemberian Ken.
”Baiklah, rawat ibumu dan istirahatlah. Jika kau membutuhkan sesuatu, tanyakan saja pada warga di mana kau bisa mencariku,” pamit Ken, berbalik untuk melanjutkan patrolinya.
”Baik, Tuan! Terima kasih sekali lagi! Aku berjanji, setelah Ibu sembuh dan aku bisa bekerja di ladang, aku pasti akan membalas budi kebaikan Tuan!” teriak anak itu sembari menundukkan punggungnya dalam-dalam. “Oh, iya! Namaku Asikin, Tuan!” lanjutnya cepat, baru teringat untuk memperkenalkan diri. “Bagaimana aku harus menyebut nama Tuan jika aku ingin mencari Anda kelak?”
”Kau bisa memanggilku Ken,” jawab suara itu mengalun tenang, seiring dengan sosoknya yang berkelebat dan menghilang tak berbekas dibawa angin.
”Baik, Tuan Ken. Terima k—” Suara Asikin tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, otaknya memutar kembali potongan informasi yang ia dengar dari obrolan para pengungsi di tenda semalam.
“Aku dengar Kelompok pemberontak ini sekarang dipimpin oleh seorang dewa perang bernama Tuan Ken… Pemuda itu dengan mudahnya membantai tiga komandan inti Kapak Merah sendirian!”
Ken?! Pemimpin tertinggi Siama?!
”Apakah… Apakah Anda benar-benar…” Asikin bergumam hampa pada udara kosong tempat Ken berdiri beberapa detik yang lalu. Pria perkasa yang dengan lembut menyembuhkan ibunya tadi adalah dewa pelindung desa ini?
Asikin menoleh ke arah sang ibu yang kini tertidur pulas dengan damai. Setitik air mata hangat jatuh membasahi pipinya yang kotor. Ibu… Sepertinya kali ini, Tuhan benar-benar menuntun kita ke tempat yang tepat, batinnya, memeluk erat koin emas di dadanya dengan secercah harapan yang tak lagi bisa dipadamkan.



