Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Murid Pertama
Cahaya fajar baru saja menyapu kabut pagi saat Ketua Darma kembali melangkah memasuki aula utama desa. Kali ini, ia tidak datang sendiri. Di sampingnya berjalan tegak seorang pria paruh baya—Ketua Batara. Sebagai seorang Pendekar Segel Bintang Enam yang usianya sebaya dengan Darma, Batara memancarkan aura ketenangan yang tebal. Guratan di wajahnya adalah saksi bisu dari ribuan pertempuran mematikan yang telah ia lewati.
”Tuan Ken, kelompok Ketua Batara telah tiba di batas desa sejak pertengahan malam tadi. Pagi ini, beliau secara khusus meminta waktu untuk menghadap Anda,” lapor Ketua Darma dengan nada hormat yang terukur.
”Baguslah. Silakan, Paman,” jawab Ken lembut. Sepasang matanya yang tenang beralih menatap tamu barunya, diiringi anggukan pelan.
Ketua Darma menoleh ke samping dan merentangkan tangannya sedikit. “Ketua Batara… silakan.”
”Terima kasih,” sahut Ketua Batara. Ia melangkah maju, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur penghormatan tertinggi dari seorang pendekar. “Tuan Ken, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Batara, pemimpin dari kelompok milisi Batara.” Suaranya mengalun dalam, bergetar membawa wibawa seorang pemimpin namun tetap merendah. “Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, Tuan, karena telah berkenan memberikan suaka kepada kami.”
”Sama-sama, Paman,” jawab Ken dengan tatapan hangat yang melunturkan ketegangan di udara. “Gerbang kami terbuka bagi siapa saja yang memiliki tekad untuk bertahan dan bergabung. Mulai detik ini, Paman telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar Siama, dan Paman akan memegang posisi sebagai salah satu tetua di sini.”
”Sebuah kehormatan besar, Tuan. Sekali lagi, terima kasih,” ujar Batara, hatinya lega mendapati penerimaan yang begitu tulus.
”Aku menaruh harapan besar agar Paman dapat membantu kami memperkokoh fondasi kelompok ini ke depannya,” tutur Ken, nadanya tegas namun merangkul.
Merasa urusan krusial telah tersampaikan, Ketua Darma menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “Tuan, jika tidak ada titah lain, kami mohon undur diri untuk sementara waktu. Aku harus segera memperkenalkan Ketua Batara pada jajaran anggota yang lain.”
”Baik, Paman. Silakan lanjutkan tugasmu,” jawab Ken pelan. Namun, sesaat sebelum kedua pria itu berbalik, Ken menambahkan titahnya. “Oh, ya. Jika hari ini ada seorang remaja laki-laki yang mencariku, arahkan dia untuk langsung menemuiku di aula ini.”
”Sesuai perintah Anda, Tuan,” sahut Ketua Darma seraya membungkuk hormat sebelum melangkah keluar menembus pintu kayu raksasa.
Udara pagi terasa sejuk menyegarkan paru-paru saat Ketua Darma berjalan menyusuri halaman menuju pos penjagaan luar. Belum jauh ia melangkah, langkahnya terhenti. Seorang remaja berpakaian lusuh menghampirinya dengan napas sedikit memburu dan jemari yang meremas ujung bajunya gugup.
”Permisi, Tuan Tetua. Namaku Asikin,” ucap anak itu, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena sungkan. “Apakah… apakah bangunan besar di ujung jalan sana adalah aula kediaman Tuan Ken?” tanyanya ragu, telunjuknya mengarah pada struktur kayu paling megah di desa itu.
”Ya… tebakanmu benar,” jawab Ketua Darma, senyum tipis mengembang di wajah tuanya yang penuh keriput. “Ada urusan apa kau mencarinya, Nak?”
”A-apakah orang biasa sepertiku diizinkan untuk bertemu langsung dengan Tuan Ken?” tanya Asikin, suaranya bergetar menahan gejolak harapan dan ketakutan.
Ketua Darma terdiam sejenak, memutar kembali pesan Ken beberapa saat yang lalu di benaknya. Ia kemudian menatap anak itu dengan sorot mata keibaan yang lembut. “Tentu saja boleh. Beliau sudah menunggumu di dalam aula. Pergilah.”
Mata Asikin melebar. “B-benarkah? Terima kasih banyak, Tuan Tetua!” Ia kembali membungkuk sopan, lalu bergegas berlari kecil menuju bangunan besar tersebut.
Sesampainya di ambang pintu, langkah Asikin melambat, berubah menjadi sangat berhati-hati. Ia menelan ludah, menatap sekeliling dengan takjub. Ruangan itu begitu luas, ditopang oleh pilar-pilar kayu kokoh yang menjulang tinggi. Udara di dalam aula terasa begitu tenang, seolah terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar. Di ujung ruangan, duduk di atas kursi kebesaran, tampak sesosok pria dengan postur santai namun memancarkan aura yang membuat siapa pun tanpa sadar ingin berlutut.
”Tuan Ken… mohon ampuni kelancanganku kemarin karena tidak mengenali siapa Anda sebenarnya,” sapa Asikin memecah kesunyian. Ia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mata pria di singgasana itu.
”Tidak perlu sungkan begitu. Tegakkan kepalamu,” jawab Ken, senyum ringan menghiasi bibirnya. “Bagaimana keadaan ibumu pagi ini?”
”Berkat kemurahan hati Anda… kondisi Ibu sudah jauh membaik, Tuan. Ia bahkan sudah bisa duduk dan makan. Sekali lagi, aku berutang nyawa pada Anda,” ucap Asikin, nada suaranya basah oleh rasa syukur yang mendalam.
”Baguslah…” gumam Ken perlahan, jemarinya mengetuk ringan sandaran kursi kayu.
Asikin memberanikan diri melangkah maju satu tindak. “Tuan, seperti yang Anda janjikan kemarin… ada sebuah cara untuk mencabut akar penyakit Ibuku! Kumohon, beri tahu aku. Apa yang harus aku lakukan, Tuan?” Asikin menatap penuh harap, matanya menyala layaknya bara api.
”Ya… Tentu saja aku memegang janjiku. Aku akan mengajarimu tekniknya,” jawab Ken dengan ketenangan yang absolut.
”Hah… B-benarkah, Tuan?!” Jantung Asikin seakan berhenti berdetak. Matanya membulat sempurna, nyaris tak percaya seorang ahli kultivasi sekelas dewa perang bersedia menurunkan ilmunya secara langsung pada bocah pengungsi.
”Benar.” Ken menghentikan ketukan jarinya. Ia menatap lurus menembus manik mata anak itu, nada suaranya mendadak berubah datar dan berat. “Namun… aku tidak menurunkan ilmuku pada sembarang orang.”
Asikin menelan ludah yang terasa seret di tenggorokan. Otaknya bekerja keras menerjemahkan makna tersirat dari kalimat itu. “Lalu… syarat apa yang harus aku penuhi agar Tuan bersedia mengajariku? Aku bersumpah, aku siap menempuh neraka sekalipun asalkan Ibuku bisa sembuh total!” tegasnya mantap, mengalahkan rasa gugup yang sejak tadi menggerogoti nyalinya.
”Hukum alam sangatlah mutlak,” jawab Ken dengan nada misterius yang menggema di pilar aula. “Seorang guru, tentu saja, hanya akan mewariskan ajaran rahasianya kepada muridnya.”
Dahi Asikin mengernyit sejenak. Namun, detik berikutnya, kesadaran menghantamnya bagai petir. Matanya melebar penuh pencerahan. “Maksud Anda… Baik! Aku siap! Aku memohon untuk menjadi murid Anda, Tuan!” serunya lantang, memecah keheningan ruangan.
”Itu jika kau memang memiliki tekad baja,” tanggap Ken, suaranya mengalun lembut namun membawa tekanan tak kasat mata. “Menjadi muridku tidaklah sesederhana kelihatannya.”
Asikin menunduk sesaat, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca, lalu kembali menatap lurus ke arah Ken. “Aku mengerti, Tuan. Aku siap menerima segala konsekuensinya. Aku bersumpah akan berbakti seumur hidupku dan mematuhi setiap ajaran Anda.” Suara anak itu bergetar, menahan haru yang meluap di dada. Namun, keraguan kembali menyelimutinya. “Tapi… aku hanyalah manusia fana biasa, Tuan. Aku lahir tanpa setitik pun kekuatan Segel Bintang di nadi-nadiku. Apakah Anda… tidak merasa malu memiliki murid tak berguna sepertiku?”
Ken tersenyum tipis, sebuah senyuman yang meruntuhkan segala keraguan anak itu. “Mendalami jalur pengobatan sejati, tidak selalu membutuhkan kekuatan tempur Segel Bintang sebagai fondasinya,” terang Ken lembut.
Apakah aku benar-benar pantas menyandang gelar sebagai murid dari sosok legendaris ini? batin Asikin. Namun, kehangatan dari kata-kata Ken segera menyalakan api keyakinan yang tak bisa dipadamkan di dalam dadanya.
”Baik, Tuan… Aku siap!” jawab Asikin, kali ini dengan nada yang tak lagi menyimpan keraguan sekecil apa pun.
Ken bangkit dari kursinya. Ia melangkah menuruni undakan, perlahan namun memancarkan intimidasi yang membuat napas Asikin tertahan. “Namun, dengarkan ini baik-baik. Untuk bisa memanipulasi teknik pengobatan yang kumaksud, aku harus menanamkan sebuah formasi bernama ‘Segel Kehidupan’ langsung ke dalam inti tubuhmu,” jelas Ken dingin. “Dan proses penanamannya, akan memaksamu menelan rasa sakit yang luar biasa, seolah tulang-tulangmu dihancurkan dan dirangkai kembali.” Ia berhenti tepat di hadapan Asikin, menatap tajam ke dasar jiwanya. “Katakan padaku, apakah kau sanggup menanggung penderitaan itu?”
Asikin mengatupkan rahangnya kuat-kuat, lalu menegakkan punggungnya tanpa mundur selangkah pun. “Ya… Aku siap, Tuan,” jawabnya mutlak.
Ken menatap anak itu dalam diam selama beberapa ketukan napas, sebelum akhirnya mendaratkan telapak tangannya yang besar ke bahu kiri Asikin. “Asikin… saat kau telah menguasai teknik Segel Kehidupan ini kelak, aku menuntut satu hal darimu: gunakan tanganmu untuk membantuku melindungi dan menyelamatkan umat manusia yang menangis dalam ketidakberdayaan.”
”Sesuai perintah Anda, Tuan. Aku mengukir janji itu di hatiku,” jawab Asikin, mengangguk dengan kepastian baja.
”Jika aku boleh bertanya… Apakah Tuan memiliki murid lain selain diriku di luar sana?” tanya Asikin dengan suara hati-hati.
Ken menggeleng perlahan, pandangannya menerawang jauh menembus dinding aula. “Sepanjang hidupku… semenjak kakiku menginjakkan daratan di benua ini… hari ini adalah kali pertamanya aku membuka pintu untuk menerima seorang murid.”
Asikin tertegun kaku. Matanya membulat sempurna. “Ja-jadi… aku adalah murid pertama Anda?” Suaranya mencicit bergetar, terombang-ambing antara rasa bangga yang luar biasa dan keterkejutan yang melumpuhkan akal sehatnya.
Mendadak, sesuatu di dalam relung jiwa anak itu bergejolak hebat. Ia mundur satu langkah ke belakang, lalu menjatuhkan satu lututnya ke lantai kayu dengan bunyi debuk pelan. Ia mengangkat tangan kanannya sejajar dengan dada, telapak terbuka menghadap ke depan—sebuah gestur sumpah suci khas para kultivator di dunia persilatan. Wajah kekanakannya tergantikan oleh keseriusan absolut.
”Sebagai murid pertamamu, aku bersumpah di hadapan langit dan bumi! Aku akan selalu menghormati dan mengeksekusi setiap perintah Guru tanpa bantahan. Aku akan berlatih hingga menembus batas kematian, menjadi lebih kuat, dan menjadi perisai yang melindungi umat manusia dari keputusasaan!” ikrarnya dengan suara lantang dan penuh bara. “Terima kasih… karena telah memungutku dari debu dan menjadikanku murid Anda, Guru.”
Ken menatap sosok kecil yang bersimpuh di hadapannya cukup lama, membiarkan gaung sumpah itu meresap ke dalam aula. Perlahan, senyum tulus merekah di wajahnya. “Ya… aku menerima sumpahmu.” Ia menurunkan tangannya yang tadi berada di bahu Asikin. “Proses penanaman Segel Kehidupan membutuhkan persiapan selama tiga hari. Kembalilah kemari besok pagi saat fajar menyingsing. Mulai besok, aku akan menunggumu di sini.”
Asikin mendongak, matanya berbinar. “Sesuai perintah Anda, Tuan… e-eh, Guru…” Asikin tersentak menyadari status barunya, wajahnya seketika merona merah karena salah ucap. “Maafkan kelancanganku. Apakah mulai sekarang aku diizinkan untuk memanggil Anda dengan sebutan Guru?”
”Tentu saja boleh,” jawab Ken tenang.
”Baik, Guru! Sekali lagi, terima kasih atas anugerah ini, Guru!” ucap Asikin, senyum cerah terkembang lebar di wajahnya. “Kalau begitu, izinkan aku undur diri sebentar untuk membawa kabar gembira ini pada Ibu. Beliau pasti akan menangis bahagia mendengarnya!”
”Tunggu sebentar.” Ken membalikkan telapak tangannya di atas udara kosong, dan sebotol kecil kristal berisi cairan esensi bening muncul dari ketiadaan. Ia menyerahkan botol itu. “Ambillah. Berikan esensi pemulihan ini pada ibumu agar staminanya lebih cepat pulih.”
Asikin menerima botol dingin itu dengan tangan gemetar penuh rasa hormat. “Kebaikan Anda tak akan pernah kulupakan, Guru.”
Matahari mulai meninggi saat Asikin berlari membelah keramaian menuju pondok pengungsian di sektor selatan. Dari kejauhan, ia melihat ibunya tengah duduk bersandar di luar gubuk, berbincang hangat dan tertawa kecil dengan beberapa wanita warga desa. Wajah ibunya tak lagi pucat pasi seperti kemarin.
”Ibu…! Ibu, kemarilah sebentar, Bu!” panggil Asikin sambil melambaikan tangan, lalu menarik lengan ibunya dengan lembut menjauh dari kerumunan.
”Hei, pelan-pelan. Ada apa, Nak? Wajahmu cerah sekali hari ini,” tanya sang ibu dengan senyum lembut, mengusap debu di dahi putranya.
”Ibu… aku membawa kabar yang sangat hebat!” kata Asikin dengan mata berbinar-binar seperti bintang pagi. “Ibu tidak akan percaya ini… Aku baru saja diterima secara resmi menjadi murid Guru Ken, Bu!”
Ibunya mengerutkan kening, mencoba mencerna nama asing tersebut. “Guru Ken?” tanyanya pelan, belum sepenuhnya menyadari siapa nama di balik gelar itu.
”Iya, Bu! Tuan Ken—pemuda luar biasa yang menyembuhkan Ibu kemarin! Beliau adalah Sang Pemimpin Tertinggi dari Aliansi Siama ini!” jelas Asikin meledak-ledak saking antusiasnya.
”Hah… Astaga, benarkah yang kau ucapkan?!” Mata ibunya terbelalak, menutup mulutnya karena terkejut luar biasa.
”Sumpah demi langit, Bu! Guru Ken akan membimbingku dan mengajariku teknik pengobatan rahasia miliknya. Setelah aku menguasainya, aku pasti bisa memusnahkan penyakit Ibu secara total, dan… aku juga bisa menyelamatkan orang-orang di luar sana yang bernasib sama seperti kita!” Suaranya bergetar, sarat akan harapan yang membumbung tinggi menembus angkasa.
Sang ibu terdiam. Air mata haru merebak di pelupuk matanya sebelum jatuh membasahi pipi. “Syukurlah… Oh, Tuhan, Ibu sangat bahagia mendengarnya, Nak.” Tangan gemetar wanita itu terangkat, mengusap lembut rahang putranya yang masih belia. “Ingatlah ini baik-baik. Ini adalah utang nyawa dan utang budi yang teramat besar. Kau harus mengeraskan tekadmu, belajar dengan giat, dan patuhi setiap ucapan gurumu tanpa pernah mengeluh, ya?”
”Pasti, Bu! Aku bersumpah tidak akan pernah mengecewakan Ibu… dan aku tidak akan pernah mempermalukan Guru Ken!” jawab Asikin, mengepalkan tinjunya erat-erat di depan dada.
Saksikanlah, langit… Aku akan mendaki jalan ini dan menjadi kuat… Demi Ibu, demi mereka yang menangis dalam penderitaan… dan demi membalas kebaikan Sang Guru, tekad Asikin dalam hati, menyalakan pelita kultivasinya untuk pertama kali.



