Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Segel Ogomesh
Keesokan paginya, embun masih membasahi dedaunan saat Ken dan Asikin bertemu di aula utama. Tanpa membuang waktu, Ken meletakkan tangan kirinya di bahu kanan Asikin. Sedetik kemudian, ruang di sekeliling mereka terdistorsi hebat. Dalam sekejap mata, pemandangan aula kayu raib, tergantikan oleh rimbunnya pohon-pohon purba dan suara gemuruh air terjun raksasa yang memekakkan telinga.
Asikin menatap sekeliling dengan mata terbelalak, napasnya tertahan. “A-apa yang baru saja terjadi, Guru? Di mana kita berada?” tanyanya kebingungan, jantungnya masih berdegup kencang karena perpindahan ruang yang mendadak itu.
”Di pedalaman hutan inilah kamu akan menempa dirimu,” jawab Ken dengan nada setenang air.
”Wahhh… hutan ini benar-benar indah dan penuh energi,” ucap Asikin takjub, merasakan udara murni yang menyegarkan paru-parunya.
Ken melangkah santai menuju tirai air terjun yang menderu deras. “Ayo, ikuti aku.”
Asikin berlari kecil di belakangnya, menembus rintik air. Setibanya di balik tirai air terjun, matanya kembali melebar. “Wahhh! Ternyata ada gua rahasia di balik air terjun ini!” serunya kagum. “Apa kita akan masuk ke dalam sana, Guru?”
”Benar. Sekarang, ulurkan tanganmu. Aku akan menanamkan sebuah segel akses agar kamu dapat keluar masuk menembus tabir gua ini sesukamu,” jelas Ken.
”Ini, Guru,” ucap Asikin seraya mengulurkan tangan kanannya dengan patuh.
Ken menyentuhkan ujung jarinya ke telapak tangan Asikin. Sebuah ukiran cahaya berpendar samar, lalu meresap sepenuhnya ke bawah pori-pori kulitnya. Dengan segel itu, tabir pelindung gua akan mengenali Asikin sebagai sekutu.
Begitu melangkah masuk, Asikin terpesona memperhatikan sekelilingnya. Interior gua itu dipenuhi ornamen kuno dan pahatan aksara misterius yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Di sepanjang dinding batu, beberapa pintu raksasa berdiri kokoh, seolah mengunci rahasia-rahasia besar dari peradaban masa lalu.
”Guru, apakah itu pintu menuju ruangan lain?” tanyanya penasaran.
”Benar,” jawab Ken singkat. “Itu adalah pintu-pintu menuju ruang pelatihan tingkat lanjut. Tapi untuk saat ini, fokuslah ke mari. Masuklah ke dalam sini.” Ken menunjuk pada sebuah tabung kristal raksasa yang berdiri tegak di tengah ruangan utama.
”Baik, Guru… Tapi, alat ini untuk apa?” tanya Asikin sambil melangkah mendekat, mengamati permukaan tabung yang tembus pandang.
”Ini adalah formasi kapsul yang akan merangsang tubuhmu agar mampu menyerap Esensi Ogomesh,” jelas Ken dengan nada serius. “Esensi ini akan menyatu dengan darahmu dan membentuk Segel Ogomesh di telapak tanganmu. Dengan segel itulah, kamu akan memiliki kapasitas murni untuk menyembuhkan luka dan penyakit orang lain.”
”Oh… baik, Guru. Aku mengerti,” jawab Asikin pelan, membulatkan tekadnya.
”Sekarang, ulurkan kedua tanganmu ke depan,” titah Ken.
Asikin menuruti perintah gurunya. Ken menggerakkan jari-jarinya di udara, menggambar sebuah lambang rumit, lalu menempelkan pendaran segel berwarna putih tepat di telapak tangan anak itu.
”Tanda formasi ini akan memusatkan seluruh penyerapan esensi ke telapak tanganmu,” ujar Ken. “Proses penyatuan ini akan berlangsung selama tiga hari tiga malam penuh. Selama periode itu, tubuhmu akan mengalami perombakan, dan kau akan kehilangan kesadaran. Katakan padaku, apa kamu siap?”
”Ya… Aku siap, Guru!” jawab Asikin mantap, menepis segala keraguannya.
”Baiklah… kita mulai.”
Proses penanaman Segel Ogomesh pun beroperasi. Kapsul kristal itu menutup rapat, menyegel Asikin di dalamnya. Air spiritual perlahan mengisi tabung hingga sebatas leher, disusul oleh cairan esensi kental berwarna hitam-putih yang membaur dan meresap masuk melalui pori-pori kulit Asikin. Begitu tubuh anak itu mulai beradaptasi dan matanya terpejam, Ken berbalik dan melangkah pergi dengan tenang.
”Awasi prosesnya hingga selesai. Jangan biarkan apa pun mengganggunya,” ucap Ken ke arah bayangan kosong di sudut gua.
Ruang udara beriak pelan, dan sesosok berjubah hitam pekat tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Postur sosok yang satu ini jauh lebih tinggi dan memancarkan wibawa pembunuh yang lebih pekat daripada bayangan yang pernah Ken panggil sebelumnya.
”Sesuai perintah Anda, Tuan,” jawab sosok misterius itu, suaranya terdengar berat dan serak bagai gesekan logam.
Keesokan harinya, kedamaian di desa terpecah. Sekelompok pasukan berbaju zirah mendatangi perbatasan wilayah Aliansi Siama. Debu mengepul saat mereka berhenti tepat di depan gerbang pertahanan, memicu ketegangan dan perdebatan sengit dengan para tetua desa.
”Darma! Kami sudah berulang kali memperingatkan kalian untuk tidak membuat kekacauan di wilayah Kerajaan Langit!” ancam salah seorang komandan dari kelompok itu, suaranya menggelegar penuh arogansi.
Ketua Darma melangkah maju, menatap pasukan itu dengan ketenangan yang tak tergoyahkan. “Tuan, masalah apa yang sebenarnya kami perbuat? Kami mendirikan tempat ini murni untuk melindungi rakyat jelata yang membutuhkan tempat bernaung,” jawabnya bijaksana.
”Omong kosong! Kalian tidak seharusnya mengangkat senjata dan menentang orang-orang dari Kerajaan Api!” bentak utusan itu, menunjuk wajah Darma dengan pedangnya.
”Tuan Utusan, kami semua adalah rakyat Kerajaan Langit. Sudah sepatutnya kami memprioritaskan perlindungan dari kerajaan kami sendiri, bukan malah tunduk pada penjajah,” balas Darma, suaranya mulai menebal.
”Jangan naif, Darma! Tidak semua dari kelompok pemberontak kalian ini adalah rakyat murni Kerajaan Langit!” potong sang panglima pasukan dengan tatapan setajam elang. “Raja telah menurunkan titah mutlak agar kalian segera membubarkan faksi liar ini. Jika kalian menolak, maka pasukanku akan meratakan desa ini dengan tanah sekarang juga!”
”Tuan Panglima… apa kau yakin itu adalah perintah murni dari Raja Kerajaan Langit, dan bukan dari majikan kalian di Kerajaan Api?” tanya Darma, nada bicaranya menahan emosi yang mendidih.
”Jaga mulutmu, Darma! Beraninya kau meragukan integritas seorang panglima sepertiku?! Bersiaplah, karena kami berempat dan seluruh armada di belakangku akan membumihanguskan desa ini!” geram sang Panglima, murka karena harga dirinya tersinggung.
Tiba-tiba, tawa pelan namun menggema bergema dari segala penjuru, seolah turun dari langit.
”Hahaha… Panglima? Pulanglah dan cuci mukamu, jika kau memang masih ingin menyandang gelar panglima di Kerajaan Langit.”
Suara Ken mengalun melalui teknik transmisi suara. Gelombang suaranya begitu berat hingga membuat udara di sekitar gerbang bergetar dan dedaunan berguguran.
”Siapa yang bicara?! Tunjukkan wujudmu! Apa kau tidak punya rasa hormat pada Panglima Kerajaan Langit?!” teriak Panglima Zeno, matanya menyapu sekeliling dengan penuh kemarahan.
”Panglima rendahan yang menjadi anjing penjaga Kerajaan Api sepertimu, tak pantas mendapatkan setitik pun penghormatan,” sahut suara gaib Ken, sedingin es abadi.
Ucapan pedas itu membuat seluruh anggota Siama terkesiap kagum, sementara barisan pasukan Kerajaan Langit mendidih karena amarah yang memuncak.
”Kurang ajar! Darma, siapa pengecut yang bersembunyi itu?!”
”Beliau bukanlah pengecut. Beliau adalah Tuan Ken, Pemimpin Tertinggi kami. Tuan dari Aliansi Siama,” jawab Darma dengan dada membusung bangga.
”Bagus! Seret dia keluar menemuiku sekarang juga, atau aku akan memenggal kepalamu dan membantai seluruh makhluk bernyawa di desa ini!” bentak Panglima Zeno seraya menghunus pedang besarnya.
”Tu-tuan Ken…” seru Darma sedikit gugup, mengarahkan suaranya ke udara. “Jika Anda mendengar ini, Panglima Zeno, utusan Kerajaan Langit, bersikeras ingin berhadapan dengan Anda.”
”Sampaikan padanya…” suara Ken membelah angin, “Jika aku melangkah keluar menemuinya, maka hari ini adalah hari kematiannya.”
Suhu di sekitar perbatasan mendadak anjlok. Seluruh prajurit musuh menegang, merasakan aura intimidasi yang menyesakkan dada.
”Besar juga nyalimu! Baiklah! Ucapan aroganmu itu sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk meratakan tempat kotor ini!” teriak Panglima Zeno, urat-urat kemarahan menonjol di lehernya.
Ken tertawa kecil meremehkan. “Hahaha… jika kau berani menyentuh sehelai rambut pun dari orang-orang di desa ini, aku pastikan kau takkan pernah memiliki kaki untuk kembali ke Kerajaan Langit.”
Hilang kesabaran, Zeno mengayunkan pedangnya yang dilapisi aura mematikan ke arah Darma. “Akan kumulai dari memenggal lehermu, Darma! Hahaha!”
Pertempuran pun pecah seketika. Jurang perbedaan kekuatan di antara mereka begitu masif. Ketua Darma, yang hanya seorang kultivator Bintang 8, jelas kewalahan menahan tekanan brutal dari seorang Pendekar Segel Bintang 9 sekuat Zeno.
”Bagaimana, Darma?! Masih berani menantang Pendekar Bintang 9 sepertiku?! Hahaha!” ejek Zeno pongah. Ia memusatkan seluruh energi Bintang 9 ke bilah pedangnya, bersiap melancarkan serangan pemungkas untuk mengakhiri nyawa Darma.
Namun, di detik terakhir sebelum pedang itu merobek kulit Darma, ruang di depan mereka terbelah.
Clank!
Ken muncul secepat kilat. Dengan gerakan santai, ia menangkis tebasan maut itu hanya dengan satu tangan. Sebelum Zeno sempat mencerna apa yang terjadi, Ken membalas. Tekanan absolut dari Giant Gold meledak, diiringi sabetan pedang raksasanya yang tak kasat mata. Dalam hitungan tarikan napas, Panglima Zeno terhempas hebat, tubuhnya menghantam tanah hingga menciptakan kawah kecil.
Saat Zeno terbatuk darah dan berusaha merangkak bangkit, ujung pedang rantai Ken telah menembus dadanya dengan presisi yang mematikan.
”Kurasa aku sudah memperingatkanmu. Jika aku keluar, maka kau akan mati,” ucap Ken datar. Matanya menyala dingin bagai bara di neraka es.
”A-aaa… ke-kekuatan monster apa ini…?” jerit Zeno, matanya terbelalak dipenuhi teror absolut. Energi kehidupannya tersedot ke dalam rantai, dan tubuhnya perlahan memudar, hancur menjadi serpihan cahaya yang lenyap ditelan angin.
Seluruh pasukan Kerajaan Langit membeku bagai patung batu. Otak mereka lumpuh, tak mampu memproses kenyataan bahwa Panglima Bintang 9 kebanggaan mereka dibantai bagai serangga dalam hitungan detik.
”Mundur… Pasukan, mundur!!” seru salah seorang prajurit panik, memutar balik kudanya dan lari terbirit-birit, disusul oleh sisa pasukannya yang hancur mentalnya.
Melihat ancaman itu lenyap, seluruh penduduk desa meledak dalam sorak-sorai kelegaan. Kini mereka benar-benar yakin; desa ini dilindungi oleh sang penguasa absolut yang akan menjadi tameng mereka dari tirani benua.
Tuan Ken mampu memusnahkan Panglima Bintang 9 semudah membalik telapak tangan… Berapa sebenarnya batas puncak kekuatannya? batin Ketua Darma, merinding sekaligus takjub.
”Terima kasih banyak, Tuan,” ucapnya seraya menahan nyeri pada luka-lukanya.
”Minumlah ini, Paman…” Ken menyentilkan sebuah pil pemulihan kecil ke arah Darma, lalu berbalik melangkah pergi seolah tak terjadi apa-apa.
Dari jarak yang cukup jauh, seorang remaja laki-laki diam-diam memata-matai punggung Ken dengan tatapan penuh intrik dan rasa ingin tahu. Begitu sosok Ken menghilang di balik keramaian, remaja misterius itu pun mundur ke dalam bayang-bayang, lenyap tak berbekas.
Tiga hari kemudian, di dalam pedalaman gua di balik air terjun.
Cahaya di dalam formasi kapsul perlahan meredup. Asikin mengerang pelan saat kesadarannya kembali. Air spiritual dalam tabung telah surut sepenuhnya, dan pintu segel kristal itu mendesis terbuka. Asikin melangkah keluar dengan kaki yang masih gemetar, menatap kedua telapak tangannya yang kini memiliki aura kehidupan yang pekat.
”Gunakan pakaian itu,” ucap sebuah suara berat yang menggetarkan dinding gua.
Asikin tersentak kaget. Ia menoleh dengan cepat dan mendapati sosok berjubah hitam pekat berdiri tak jauh darinya, menyodorkan satu set pakaian berlatih yang rapi. Ia buru-buru meraih pakaian itu dan mengenakannya.
Paman ini… auranya mengerikan sekali. Siapa dia sebenarnya? Dan sejak kapan dia berdiri di sana? batin Asikin cemas, bulu kuduknya meremang.
”A-aaa… Paman ini siapa? Sepertinya aku belum pernah melihat Paman di desa,” sapa Asikin memberanikan diri.
”Aku tidak diizinkan untuk menjawab pertanyaanmu,” jawab bayangan hitam itu datar, tanpa nada emosi sedikit pun.
”A-a-aa… b-baiklah, Paman,” sahut Asikin kikuk, menelan ludahnya.
Sosok itu melangkah maju dan menyodorkan tumpukan buku kuno beraroma kertas usang. “Tuan menitipkan gulungan ini untukmu. Buku-buku ini memuat ensiklopedia ribuan tanaman obat spiritual dan berbagai pedoman teknik pengobatan rahasia.”
Tuan? Oh, maksudnya pasti Guru Ken, batin Asikin. “Baik, Paman. Tolong sampaikan terima kasihku pada beliau,” ucapnya sambil memeluk buku-buku itu dengan sopan.
Selain buku, sosok itu membuka telapak tangannya, menampilkan sebuah pelindung pergelangan tangan yang terbuat dari paduan logam misterius. “Ini adalah Artefak Pelindung. Benda ini berfungsi ganda sebagai kantong dimensi penyimpan barang sekaligus alat pertahanan mutlak. Setelah kau mengikat darah dengannya, artefak ini akan mengalirkan pemahaman cara penggunaannya langsung ke otakmu.”
Asikin menerimanya dengan takjub dan memasangnya di lengan kirinya. Detik berikutnya, ia menjerit pelan. “A-ahh!” Terasa ada jarum tak kasat mata yang menusuk pembuluh darahnya.
”Jangan panik, itu reaksi awal pengikatan jiwa,” jelas sosok bayangan itu. “Artefak itu sedang menyerap setetes darahmu agar dapat menyatu dan mengenali dirimu sebagai satu-satunya tuan.”
Setelah beberapa tarikan napas, rasa sakit yang menyengat itu mereda. Alih-alih perih, Asikin kini merasakan sensasi aneh; ia seolah bisa merasakan ruang hampa di dalam pelindung logam tersebut, dan instingnya langsung tahu cara mengaktifkannya.
”Luar biasa… Paman, kalau begitu… apakah urusanku di sini sudah selesai? Boleh aku kembali ke desa sekarang?”
”Ya. Tapi ingat peringatan ini—apa pun yang terjadi dan apa pun yang kau saksikan di dalam gua ini, jangan pernah mengatakannya pada siapa pun,” tegas sosok itu.
”Aku bersumpah akan menjaga rahasia ini, Paman. Aku mengerti,” angguk Asikin.
Ia berlari keluar dari mulut gua, menembus tirai air terjun, dan menyambut hangatnya cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Ibu… bertahanlah sebentar lagi. Aku pulang! batinnya lirih. Pemuda itu memacu langkahnya secepat mungkin menembus hutan menuju desa.
Setibanya di area pengungsian, ia langsung menerobos masuk ke gubuknya. “Ibu! Ibu!” serunya memanggil.
”Astaga, Nak! Kamu sudah kembali!” Sang ibu yang sedang duduk langsung bangkit dan memeluk erat putranya. Tiga hari menghilang tanpa jejak tentu membuatnya gundah. “Ke mana saja kamu? Bagaimana keadaanmu, Nak?”
”Iya, Bu. Aku baik-baik saja. Guru melatihku di tempat tertutup,” jawab Asikin lembut.
Ia meraih pergelangan tangan ibunya. Menggunakan pemahaman dari Segel Ogomesh yang kini menyatu di nadinya, Asikin memejamkan mata. Ia bisa mendengar ritme detak jantung ibunya dan melihat aliran energi yang tersumbat. Lewat telapak tangannya, energi penyembuhan berwarna putih mengalir lembut, memperbaiki jaringan organ dalam sang ibu yang rusak.
”Bagaimana perasaan Ibu sekarang? Aku baru saja membersihkan sisa luka dalam di meridian Ibu. Dengan sedikit tambahan ramuan obat nanti, akar penyakit Ibu akan lenyap sepenuhnya,” ucap Asikin dengan senyum lega.
Mata sang ibu berbinar. Ia bisa merasakan tubuhnya menjadi jauh lebih ringan dan beban di dadanya menghilang. “Terima kasih, Tuhan… Nak, kemampuanmu ini adalah sebuah mukjizat. Ibu selalu berdoa, semoga dengan kekuatan barumu ini, kamu dapat menjadi penyelamat bagi banyak orang yang bernasib sama seperti kita,” ucap ibunya sambil mengusap air mata bahagia.
”Tentu saja, Bu. Itu adalah sumpah utamaku pada Guru,” jawab Asikin mantap.
Setelah memastikan kondisi ibunya stabil, Asikin segera bergegas menuju aula untuk menemui Ken. Sepanjang perjalanan, fokusnya tak lepas dari artefak logam di lengannya. Ia mencoba menyalurkan sedikit energinya, dan pelindung itu seketika bisa memancarkan perisai transparan, bahkan meruncing membentuk bilah pedang pendek energi.
Wahh… senjata magis ini luar biasa hebat! Pasti harganya setara dengan sebuah kota. Guru sungguh memberikan anugerah yang tak ternilai padaku, batinnya berdecak kagum.
Setibanya di depan aula utama, ia mengetuk pintu kayu tebal itu. “Guru, apakah muridmu diizinkan masuk?”
”Masuklah,” sahut Ken dari dalam.
Asikin mendorong pintu dan memberi hormat. “Guru, prosesnya telah selesai. Aku telah kembali. Apa instruksi Anda selanjutnya?”
”Sepertinya kau sudah berhasil beradaptasi. Apa kau sudah menguasai fungsi artefak pelindung di lenganmu itu?” tanya Ken seraya menatap logam di lengan muridnya.
”Aku baru memahami sebagian kecil fungsinya, Guru, tapi aku akan terus mendalaminya,” jawab Asikin jujur.
”Selain sebagai perisai, dalam radius jarak tertentu, artefak itu memiliki formasi resonansi yang bisa menghubungkan komunikasimu secara langsung denganku,” jelas Ken, membocorkan fitur rahasia benda tersebut.
”Luar biasa… Baik, Guru.”
Tak lama berselang, suara langkah kaki tergesa memecah ketenangan. Ketua Darma menerobos masuk bersama beberapa anggota pertahanan dengan wajah tegang. “Tuan Ken, mohon maaf mengganggu. Ada keadaan darurat yang harus kami laporkan!” ucapnya sambil menunduk hormat.
”Tenanglah dan bicaralah, Paman,” jawab Ken.
Darma mengangkat wajahnya, namun pandangannya tertuju pada Asikin yang berdiri di sana. “E-ee… apakah aman membicarakannya di sini, Tuan?” tanyanya ragu.
Asikin yang peka terhadap situasi segera menundukkan badan. “Gu-guru… sepertinya ini urusan penting faksi. Sebaiknya aku undur diri dulu ke luar,” ucapnya sungkan.
Namun, Ken menahan pergerakan muridnya dengan tatapan tajam. “Tetap di tempatmu. Mulai sekarang, kau adalah pewaris ajarku, bagian mutlak dari pusat kelompok ini.” Ken lalu mengalihkan tatapannya kembali pada Darma. “Lanjutkan laporanmu, Paman. Katakan semuanya.”
”Baik, Tuan,” Darma menelan ludah. “Kemarin, Ketua Batara dan beberapa anggota intinya berangkat dalam misi rahasia untuk mengevakuasi dan menjemput warga sipil dari desa mereka yang lama. Namun nahas, di tengah perjalanan, mereka disergap oleh pasukan elite Kerajaan Langit! Pasukan itu menahan Ketua Batara dan meminta tebusan secara langsung. Mereka melepaskan satu anggota untuk membawa pesan kematian ini kemari, Tuan.”
”Benar, Tuan!” timpal prajurit yang selamat dengan wajah memar dan penuh luka. “Mereka secara spesifik menantang Tuan Ken untuk datang. Mereka bersumpah ingin membalas dendam atas pembantaian Panglima Zeno beberapa hari lalu!”
Bukannya cemas, mata Ken justru menyipit memancarkan aura membunuh yang dingin. “Menantangku? Baiklah,” ujar Ken dengan nada mutlak. “Persiapkan orang-orangmu. Kita akan menjemput Ketua Batara dan menghancurkan mereka hari ini juga.”
”Ta-tapi, Tuan… Pasukan musuh kali ini sangat banyak! Bagaimana jika wilayah penjemputan itu adalah perangkap berdarah yang disiapkan untuk Anda?” tanya Darma, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ken memiringkan wajahnya, tersenyum tipis meremehkan. “Sebuah perangkap hanya berbahaya bagi mereka yang lemah, Paman. Dan soal desa ini… tenang saja. Selama aku turun tangan, tak ada satu pun makhluk bernyawa yang bisa menembus masuk kemari.”
Ken melangkah keluar menuju pelataran tertinggi di pusat desa. Dari dalam dimensi penyimpanannya, ia mengeluarkan empat pilar kecil berukir rune magis dan melemparkannya ke empat mata angin perbatasan desa. Pilar-pilar itu seketika tertancap di tanah, beresonansi satu sama lain, dan meledakkan pilar cahaya yang melesat ke langit. Cahaya itu kemudian melengkung dan menyatu, menciptakan sebuah kubah energi transparan berskala raksasa yang menyelimuti seluruh desa.
”Perhatian untuk seluruh warga Siama. Sebelum aku kembali dari medan perang, tak seorang pun dari kalian diizinkan untuk melewati batas kubah energi ini,” titah Ken. Suaranya bergema melalui transmisi suara, menembus setiap rumah dan telinga di penjuru desa.
”Sesuai perintah Anda, Tuan Ken!” sahut ratusan penduduk serentak dari berbagai sudut, menunduk patuh di bawah cahaya kubah pelindung.
Ken menoleh pada muridnya. “Asikin, kau ikut bersamaku ke medan tempur.”
”Sesuai perintah, Guru!” jawab Asikin, membusungkan dadanya siap bertugas.
Ketua Darma segera membagi tugas. “Paman Tu! Beberapa prajurit akan kutinggalkan di sini bersamamu. Aku mengandalkanmu untuk menjaga situasi internal desa selama kami pergi!”
”Jangan khawatirkan garis belakang! Pergilah dan bawa pulang saudara-saudara kita, Tuan!” jawab Ketua Tu dengan tekad membara.
Tak lama setelah rombongan Ken dan Darma bertolak menembus hutan, para penjaga perbatasan berlarian mendekati Ketua Tu. “Ketua! Ada sekelompok besar pasukan tak dikenal mengendap-endap mendekati desa dari arah barat! Sepertinya rencana mereka adalah menyerang desa kita saat Tuan Ken pergi!” lapor penjaga itu panik.
Ketua Tu memandang ke luar kubah energi dan tersenyum tenang, sama sekali tidak gentar. “Hahaha! Biarkan saja nyamuk-nyamuk itu. Tidak perlu cemas, mereka tak akan pernah bisa menembus masuk. Tuan Ken dengan kecerdasannya pasti sudah memprediksi serangan pengecut ini. Tugas kita hanya satu: pastikan tidak ada warga sipil yang nekat keluar dari kubah pelindung!”
”Siap, laksanakan, Ketua!”
Ketenangan Paman Tu menular pada prajurit lainnya. Mereka kembali beraktivitas dengan keyakinan absolut.
Sementara itu, di luar perbatasan, kelompok penyerang melancarkan sihir, anak panah, dan hantaman pedang secara membabi buta ke arah desa. Namun, setiap serangan mematikan itu membentur kubah transparan dan memantul tak berguna tanpa meninggalkan goresan sedikit pun.
”Kurang ajar! Formasi sihir pelindung macam apa ini?! Serangan beruntun kita sama sekali tak bisa menembusnya!” geram salah satu komandan penyerang, napasnya memburu menahan frustrasi.
Di balik keputusasaan itu, mereka baru menyadari satu fakta yang mengerikan: Faksi kecil yang berani melawan arus tirani ini dilindungi oleh sosok monster yang batas kekuatannya berada jauh melampaui imajinasi mereka.



