Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Pil Pancasona
Angin malam berembus membawa aroma getah pinus. Setelah menempuh perjalanan kilat menembus hutan dan berada cukup jauh dari jangkauan patroli Kerajaan Langit, langkah Ken tiba-tiba terhenti. Ia membalikkan badan, menyapu pandangannya untuk memastikan kondisi Ketua Batara beserta para anggota rombongan yang sebelumnya sempat menjadi tahanan penyiksaan.
”Kita akan berhenti dan beristirahat sejenak di sini,” titah Ken, suaranya memecah kesunyian hutan dan seketika menghentikan pergerakan seluruh barisan.
”Sesuai perintah Anda, Tuan,” jawab Ketua Darma seraya memberi isyarat agar pasukannya mengamankan perimeter.
Ken menoleh pada pemuda di sampingnya. “Asikin, gunakan waktumu. Bantulah merawat luka mereka yang paling parah,” perintahnya pada sang murid pertama.
”Baik, Guru,” sahut Asikin patuh. Tanpa membuang waktu, ia segera berlari kecil menghampiri barisan belakang, memancarkan pendaran energi penyembuh dari Segel Ogomesh di telapak tangannya.
Setelah beristirahat selama satu putaran dupa untuk menstabilkan napas dan merawat luka-luka kritis, rombongan bersiap untuk melanjutkan pelarian.
”Semuanya, kembali berkumpul dalam barisan!” seru Ketua Darma memecah keheningan. Ia memeriksa kesiapan pasukannya sejenak, lalu berjalan menghadap Ken. “Tuan, semua orang telah siap untuk melanjutkan perjalanan,” lapornya.
”Bagus,” ucap Ken tenang, menatap langit yang mulai kehilangan rona jingganya. “Karena malam akan segera turun, bersiaplah. Aku akan memotong jalan agar kita tiba di desa dalam sekejap.”
Ia melangkah ke depan barisan. “Semuanya, merapatlah dan masuk ke dalam radius formasiku,” arahkan Ken.
”Baik, Tuan!” jawab seluruh anggota serempak, meski raut kebingungan tergambar di wajah mereka.
Ken memejamkan mata. Ia mengangkat satu tangannya, lalu menghentakkan kakinya ringan ke tanah.
Wusss!
Gelombang energi raksasa seketika meledak, menciptakan pusaran angin yang menyelimuti seluruh rombongan. Garis-garis cahaya keemasan merayap di atas tanah, membentuk lingkaran formasi rune yang rumit.
Formasi manipulasi ruang… Bukankah ini teknik distorsi spasial massal? Dengan jarak sejauh ini, bahkan eksistensi di puncak level God King pun belum tentu memiliki kapasitas energi untuk menggunakannya… batin Ketua Darma bergetar. Keringat dingin menetes di pelipisnya saat ia menyadari betapa mengerikannya jurang kekuatan pemuda di hadapannya.
Dalam sekejap tarikan napas, cahaya keemasan itu menelan mereka semua. Ruang di sekeliling mereka terlipat. Saat cahaya itu meredup sedetik kemudian, udara hutan yang dingin telah tergantikan oleh kehangatan api unggun. Seluruh rombongan telah berpindah—berdiri dengan utuh tepat di tengah halaman Aliansi Siama.
Sementara para anggota rombongan masih mematung tak percaya dengan mukjizat yang baru saja mereka alami, Asikin diam-diam mendekati Ken. Pikirannya masih terpaku pada pil bercahaya yang digunakan gurunya untuk memulihkan stamina Ketua Batara di hutan tadi.
”Guru, apakah muridmu diizinkan untuk menanyakan sesuatu?” tanya Asikin dengan nada hati-hati, memecah fokus Ken.
”Ya, tentu saja. Katakan,” jawab Ken dengan anggukan kecil.
”Guru, apakah pil yang Anda berikan pada Ketua Batara tadi adalah Pil Pancasona?” selidik Asikin penasaran. “Dari literatur ensiklopedia yang Guru berikan, karakteristik aroma dan pendarannya sangat mirip. Akan tetapi… efek pemulihannya yang kusaksikan tadi jauh melampaui teori yang kubaca.”
”Mata yang tajam,” puji Ken, tersenyum tipis. “Tebakanmu benar. Itu memang Pil Pancasona… namun, kemurnian dan tingkatannya jauh melampaui Level 3 dari Pil Pancasona yang ada di pasaran benua ini.”
”Lebih dari Level 3?” Asikin mengangkat alisnya, tercengang tak percaya.
”Literatur menyebutkan bahwa Level 1 dapat memulihkan sekitar dua puluh persen energi kehidupan… Level 2 sebesar empat puluh persen… dan batas maksimal Level 3 hanya menyentuh tujuh puluh persen,” jelas Asikin, mengulang kembali hafalan alkeminya dengan cepat. “Jadi… apakah yang Guru gunakan tadi adalah pil legendaris Level 4?”
Ken terkekeh pelan melihat kebingungan muridnya. “Pil yang kuberikan tadi lebih tepat disebut sebagai Pil Pancasona Bintang, sebuah artefak alkemi yang melampaui batas fana. Bagi sekte besar di luar sana, pil itu dianggap sebagai harta surgawi yang diperebutkan dengan darah. Sebab, seberapa parah pun meridian seseorang hancur, atau seberapa dekat ia dengan gerbang kematian, pil itu mampu merombak sel tubuh dan memulihkan kekuatannya hingga seratus persen tanpa cacat.”
”Haaa… Seratus persen pemulihan mutlak?!” Asikin tersentak kaget. “Waaah… itu benar-benar menentang hukum alam!” serunya takjub. Tangan kanannya dengan sigap mengeluarkan buku catatan kecil dan pena bulu, buru-buru mencatat pengetahuan baru tersebut.
”Benar,” lanjut Ken tenang. “Dan sama seperti Pil Pancasona pada umumnya, tubuh orang biasa yang tidak memiliki fondasi kultivasi tidak akan sanggup menahan ledakan energinya jika meminumnya secara langsung.”
”Tapi, Guru… kalau pil itu adalah harta surgawi yang tak ternilai, mengapa Anda memberikannya pada orang lain dengan begitu mudah dan cuma-cuma?” tanya Asikin, masih tak habis pikir dengan kemurahan hati sang guru.
”Hahaha… harta hanyalah benda mati. Bagiku, memberikan sepuluh butir pun tidak ada masalah,” jawab Ken santai dengan tangan di belakang punggung. “Sebab, aku bisa meraciknya sendiri kapan pun aku mau.”
”Wahh! Benarkah?!” Asikin nyaris melompat di tempat saking antusiasnya. “Guru bisa meracik pil tingkat dewa itu sendiri?”
”Tentu saja.” Ken menatap muridnya dengan tenang. “Di daratan ini, selain diriku, mungkin tidak ada satu pun ahli alkemi yang bisa meraciknya dengan kemurnian seratus persen.”
”Luar biasa… Apakah suatu hari nanti aku juga bisa mempelajarinya, Guru?” tanya Asikin, matanya berbinar memancarkan rasa lapar akan ilmu.
”Tentu. Jalani prosesmu. Jika kelak kau sudah mampu meracik Pil Pancasona Level 3 dengan sempurna, aku akan mewariskan resep rahasianya padamu,” janji Ken seraya tersenyum bangga.
”Wah! Siap, Guru! Aku bersumpah akan berusaha lebih keras lagi untuk mempelajarinya!” ujar Asikin dengan tekad yang membara di dadanya. “Kalau begitu, izinkan aku undur diri dulu untuk merapikan tenda perawatan, Guru,” pamitnya, lalu berbalik dan bergegas pergi.
Namun, baru beberapa langkah, Asikin terhenti. Matanya tanpa sengaja menangkap sebuah siluet gelap yang berdiri jauh di atas atap aula, mengawasi mereka. Postur bayangan itu… seperti paman berjubah hitam yang kulihat di dalam gua air terjun waktu itu. Tapi… sosok yang ini terlihat lebih kekar dan tinggi. Mungkinkah penjaga bayangan Guru lebih dari satu? Hhh, sudahlah. Guru berpesan dengan nyawa agar aku merahasiakan segala sesuatu tentang gua itu… batinnya waspada. Ia segera menepis rasa penasarannya dan kembali melanjutkan langkah.
Keesokan harinya, sinar mentari pagi menyinari desa yang mulai kembali sibuk.
Di salah satu sudut pelataran, Asikin sibuk menggelar tikar dan menyusun meja kayu kecil. Di sanalah ia membuka sebuah klinik darurat nan sederhana. Udara di sekitarnya dipenuhi aroma segar dari dedaunan herbal yang ia tumbuk. Semua pelayanan pengobatan ia berikan tanpa memungut satu keping tembaga pun, murni menjalankan amanat gurunya untuk mengayomi yang lemah.
Kabar tentang kehebatannya—sebagai pewaris tunggal ilmu pengobatan dari Sang Pemimpin Tertinggi—segera menyebar bagai kebakaran hutan ke seluruh penjuru tenda pengungsian.
”Nak, apakah desas-desus itu benar? Kamu adalah murid langsung dari Tuan Ken?” tanya seorang nenek bungkuk yang sedang mengantre di depan mejanya.
”Benar sekali, Nek,” jawab Asikin seraya tersenyum ramah. “Mari, duduklah di sini agar punggung Nenek tidak sakit.”
Ia menuntun nenek itu untuk duduk, lalu meletakkan jari-jarinya di pergelangan tangan sang nenek. Pendaran cahaya putih dari Segel Ogomesh mengalir masuk, memberikan kehangatan yang langsung meredakan nyeri tulang sang nenek.
Sehari penuh Asikin tak kenal lelah melayani arus pengungsi yang datang bergantian. Menjelang senja, saat langit mulai berwarna tembaga, antrean panjang itu akhirnya surut. Sambil menyeka keringat di dahinya, Asikin menyadari bahwa sejak pagi tadi, ada seorang remaja seusianya yang berdiri bersandar di balik pohon besar, memperhatikannya dalam diam.
Saat barisan pasien benar-benar habis, barulah remaja berpakaian compang-camping namun memiliki sorot mata setajam belati itu melangkah perlahan mendekati meja.
”Eh, halo! Apakah kamu juga ingin diperiksa?” sapa Asikin ramah sambil memilah sisa tanaman herbalnya. “Tunggu sebentar ya, biarkan aku merapikan meja ini dulu.”
Aneh… kenapa dia tidak membalas sapaanku? Dari warna kulit dan tarikan napasnya, meridiannya mengalir lancar. Dia sama sekali tidak terlihat sakit… batin Asikin bertanya-tanya, menganalisis pendatang itu.
”Baiklah, aku sudah selesai. Maaf membuatmu menunggu. Sepertinya kamu adalah pasien terakhirku untuk hari ini,” ucap Asikin ringan, memecah kecanggungan. “Kemarikan tanganmu, apakah aku bisa mulai memeriksamu?”
Ia mengulurkan tangannya, namun remaja misterius itu hanya berdiri mematung, menatap tangan Asikin dengan keraguan yang dalam.
”A-a-apakah…” Suara remaja itu terdengar lirih, serak, dan penuh kegugupan.
”Iya? Ada apa? Katakan saja,” pancing Asikin dengan dahi berkerut bingung.
”Aku… aku tidak sakit,” jawab remaja itu akhirnya, membuang muka sedikit.
”Hah? Tidak sakit?” Asikin semakin heran, menarik kembali tangannya.
”Apakah aku… diizinkan untuk bertanya sesuatu padamu?” pinta remaja itu, meremas ujung bajunya yang sobek.
”Ohh, jadi kamu datang kemari sejak pagi hanya untuk bertanya sesuatu!” Asikin tertawa kecil, merasa konyol dengan asumsinya sendiri. “Kupikir kamu butuh pengobatan. Baiklah, santai saja. Tanyakan apa pun. Jika aku tahu jawabannya, pasti akan kujawab.”
Remaja itu menelan ludah, menatap lurus ke mata Asikin. “A-a-apakah… Tuan Ken masih menerima murid baru?” tanyanya, suaranya bergetar membawa beban keputusasaan.
”Hah?” Asikin tersentak kaget mendapati pertanyaan yang tak terduga itu. “Soal itu… sejujurnya aku juga tidak tahu. Aku adalah murid pertamanya, dan aku belum pernah sekali pun bertanya apakah Guru berniat membuka penerimaan murid lagi,” jelasnya jujur apa adanya.
”Ohh, begitu…” Sorot mata tajam remaja itu seketika meredup, bahunya turun menyiratkan kekecewaan yang sangat.
”Iya, maafkan aku,” sahut Asikin merasa tak enak hati.
Namun, api di mata remaja itu belum sepenuhnya padam. “Kalau begitu… bagaimana caramu bisa diangkat menjadi murid Tuan Ken?” selidiknya, berusaha mencari celah.
”Dulu, takdir mempertemukanku dengan Guru tepat saat ibuku meregang nyawa karena penyakit kronis,” kenang Asikin, pandangannya melembut. “Guru secara ajaib menyembuhkan ibuku dari ambang kematian. Karena rasa syukur dan keinginan untuk membantu orang lain, aku mempertaruhkan nyawaku dan memohon agar beliau berkenan mengajariku. Sejak saat itu, aku melewati ujiannya dan mulai berlatih bersamanya.”
”Hm…” gumam remaja itu, mencerna setiap kata dengan saksama.
”Apakah kamu juga memiliki tekad untuk belajar di bawah bimbingan Guru?” tanya Asikin tertarik.
”Iya, tentu saja! Itu tujuan utamaku. Tapi kudengar dari bisik-bisik warga, tidak mudah untuk berdiri di sisi beliau. Tuan Ken adalah eksistensi absolut yang tidak akan sembarangan menerima murid,” jawab remaja itu, menyadari tingginya tembok yang harus ia panjat.
”Itu memang benar,” angguk Asikin membenarkan. “Karena itu, saat aku diberi kesempatan untuk berbicara, aku menumpahkan seluruh isi jiwaku untuk meyakinkan Guru bahwa aku sungguh-sungguh bersedia menempuh jalan penderitaan demi sebuah kekuatan. Ketika beliau akhirnya menerimaku, aku bersumpah di hadapan langit dan bumi sebagai muridnya tanpa keraguan sedikit pun.”
”Jadi… satu-satunya jalan jika aku ingin menjadi muridnya, aku harus menemuinya dan memohon secara langsung pada beliau?” tanya remaja itu menegaskan konklusinya.
”Tepat sekali. Beranikan dirimu dan coba saja bicarakan langsung,” dorong Asikin seraya memberikan senyum penyemangat.
”Baiklah. Terima kasih atas waktumu. Aku akan mencobanya sekarang,” ucap remaja itu singkat. Ia membalikkan badan, hendak bergegas menuju pusat desa.
”Ya, semoga keberuntungan menyertaimu, Kawan!” seru Asikin melambaikan tangan.
Langkah remaja itu terhenti sejenak. Ia kembali menoleh ke arah Asikin dengan raut wajah kelewat serius. “Satu hal lagi. Sumpah seperti apa yang kau ucapkan saat diterima oleh Tuan Ken?” tanyanya penuh selidik.
”Umm… apakah kamu benar-benar ingin menirunya?” tanya Asikin sedikit ragu.
”Ya, tentu saja. Setiap kata penting bagiku,” jawabnya cepat tanpa basa-basi.
”Baiklah, dengarkan ini baik-baik…” Asikin pun mendiktekan bait demi bait sumpah kultivasinya dengan nada tenang dan jelas.
”Terima kasih, aku sudah menanamkannya di otakku,” ucap remaja itu kaku, lalu berbalik dan berlari secepat kilat meninggalkan pelataran.
Huhh… dingin dan kaku sekali anak itu. Sepertinya saraf humornya sudah putus. Kalau dia benar-benar diterima jadi murid Guru dan menjadi adik seperguruanku, habislah aku mati kebosanan… batin Asikin bergidik ngeri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah mendapatkan informasi krusial dari Asikin, remaja misterius itu memacu langkahnya langsung menuju bangunan termegah di pusat desa. Langkahnya terhenti tepat di pelataran Aula Utama. Ia menengadah menatap pilar-pilar kayu raksasa bangunan itu dengan dada yang bergemuruh gugup, namun sepasang kakinya menolak untuk mundur.
Tepat pada saat itu, Ketua Batara melangkah keluar melintasi ambang pintu. Melihat seorang remaja berpakaian lusuh berdiri kebingungan di depan wilayah sakral, ia pun menghampirinya.
”Apa yang membawamu berdiri di tempat ini, Nak?” tanya Ketua Batara dengan nada berat namun ramah.
Remaja itu menunduk sedikit, menyembunyikan getaran di tangannya. “Tuan Tetua… apakah orang rendahan sepertiku diizinkan untuk bertemu langsung dengan Tuan Ken?” tanyanya sangat berhati-hati.
”Kau ingin menemui Pemimpin Tertinggi?” ulang Ketua Batara, sebelah alisnya terangkat menilai sosok di hadapannya.
”Benar, Tuan. Ini masalah hidup dan mati,” jawab remaja itu tanpa mengangkat wajahnya.
Ketua Batara tersenyum mafhum melihat sorot tekad tersebut. “Baiklah. Masuklah perlahan. Tuan Pemimpin sedang beristirahat di dalam,” ujarnya memberi jalan, lalu melangkah pergi membiarkan anak itu menghadapi takdirnya sendiri.
Remaja itu menarik napas panjang. Ia melangkah menembus remang ruangan menuju aula utama. Di sana, duduk di atas kursi kebesarannya, sosok Ken memancarkan dominasi yang membuat udara di sekitarnya terasa padat.
”Tu-Tuan… apakah aku lancang karena berani menghadap?” ucap remaja itu sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada, memberi salam dengan sangat sopan.
”Tidak ada yang lancang bagi mereka yang mencari jalan. Bicaralah,” jawab Ken tanpa mengubah posisi duduknya yang tenang.
”Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Tuan,” ucapnya dengan embusan napas lega yang tertahan. “Tujuan kedatanganku kemari… aku ingin menyerahkan hidupku untuk menjadi murid Tuan.”
Ken menatap remaja itu dengan pandangan sedatar cermin danau. “Di dunia ini, ada ribuan orang yang menginginkan kekuatan. Apa yang membuatku harus repot-repot menerimamu?”
”A-aku… aku ingin menjadi kuat, Tuan,” jawab remaja itu. Kepalan tangannya mengencang hingga kuku-kukunya memutih menembus kulit telapak tangannya. “Sangat kuat… hingga aku bisa kembali dan menyelamatkan ibu serta adik perempuanku dari neraka.”
”Menyelamatkan?” Kening Ken sedikit berkerut, matanya menajam. “Neraka apa yang menelan mereka?”
”Kami adalah budak tahanan Kerajaan Api, Tuan. Sebuah keajaiban membuatku berhasil melarikan diri dari wilayah mereka. Namun… aku terpaksa meninggalkan keluargaku di sana,” terang remaja itu, suaranya akhirnya pecah, dan matanya bergetar menahan luapan air mata dendam dan penyesalan. “Karena itu aku memohon! Aku harus menguasai kekuatan absolut agar bisa menebas leher para iblis itu dan membebaskan keluargaku!”
”Hmmm…” Ken menatap ke dasar jiwa anak itu, menimbang bobot penderitaannya. Hening menyelimuti aula selama beberapa saat. “Baiklah. Kalau begitu, siapa namamu?”
”Na-namaku…?” Remaja itu mendongak, matanya memancarkan kebingungan.
”Aku tidak mungkin menerima bayangan tak bernama sebagai muridku, bukan?” ucap Ken datar. Ia menunggu dengan sabar, namun remaja itu hanya terdiam menggigit bibir karena tak sanggup menjawab. “Aku tahu apa yang kamu alami, aku akan membantumu, Karena masa lalumu telah merenggut segalanya… maka mulai hari ini, namamu adalah Fubao,” putus Ken mutlak, memberikan sebuah takdir baru.
”Fu-Fubao…?” ucap remaja itu pelan, mencicipi nama barunya.
”Bagaimana? Kau tidak menyukainya?” tantang Ken ringan.
”B-bukan begitu, Tuan! Aku sangat menyukainya! Mulai detik ini, aku adalah Fubao!” jawabnya mantap, mengukir identitas itu di dalam relung hatinya.
Ken bangkit dari singgasananya. Jubahnya berkibar pelan saat ia melangkah turun dan berjalan melewati Fubao menuju pintu aula. “Sekarang, hapus air matamu dan bersiaplah. Kita akan segera berangkat ke Kerajaan Api.”
”Haa… Berangkat? U-untuk apa, Tuan?!” tanya Fubao, memutar tubuhnya dengan kebingungan yang memuncak.
Ken menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh melewati bahunya dengan senyum tipis yang mematikan. “Tentu saja untuk membantai mereka yang menahan keluargamu, dan membawa ibu serta adikmu kemari dengan selamat.”
”B-b-benarkah yang Anda ucapkan itu?!” Jantung Fubao seakan berhenti berdetak. Matanya membesar, tubuhnya gemetar hebat. Ia datang meminta waktu bertahun-tahun untuk berlatih, namun pemuda dewa di hadapannya justru menawarkan pembalasan hari ini juga.
”Karena kau kini telah resmi berdiri di bawah perlindunganku sebagai muridku, anggap saja pembantaian ini sebagai hadiah pertemuan pertama dari Gurumu,” ujar Ken dengan ketenangan yang mengerikan.
”Ta-tapi… fondasi kekuatanku masih kosong, Tuan. Segel Bintangku bahkan belum terbentuk,” ucap Fubao ragu, menyadari bahwa dirinya hanya akan menjadi beban di medan perang sebesar Kerajaan Api.
”Selama kau berdiri di belakangku, aku yang akan menjadi perisaimu,” potong Ken tegas, menguapkan segala keraguan. “Aku akan memastikan tidak ada sehelai rambut pun dari kalian yang gugur sampai kita kembali ke aula ini. Lagipula, apakah kau tega membiarkan ibu dan adikmu membusuk di penjara itu terlalu lama selagi kau bersantai melatih energi di sini?”
Pertanyaan tajam itu menusuk ulu hati Fubao. “Tentu saja tidak, Tuan! Penderitaan mereka setiap detiknya adalah siksaan bagiku,” jawab Fubao sembari menyeka kasar air mata yang akhirnya lolos membasahi pipinya.
”Terima kasih, Tuan—ah, maafkan kelancanganku… maksudku… terima kasih atas kebesaran hati Anda, Guru!” ucapnya, segera memperbaiki panggilan sucinya.
Sadar akan posisinya, Fubao segera menegakkan tubuh, lalu mundur satu langkah dengan sigap. Layaknya seorang pendekar sejati, ia mengangkat tangan kanannya sejajar dengan kening, sementara telapak tangannya menghadap lurus ke depan.
”Sebagai murid, aku bersumpah di hadapan langit dan bumi: Aku akan selalu hormat dan patuh pada setiap titah Guru! Aku akan berlatih hingga menembus batas kematian, menjadi pedang yang tak terkalahkan, dan menggunakan kekuatanku untuk melindungi umat manusia!” ikrarnya dengan suara lantang yang menggetarkan pilar aula.
Ken mendengarkan sumpah heroik itu, lalu sebelah alisnya terangkat menyadari kesamaan baitnya. “Hmmm… dari struktur kalimat sumpahmu, sepertinya sebelum kemari kau telah menginterogasi murid pertamaku,” sindir Ken menyadari kecerdikan anak ini.
”Maafkan saya, Guru,” jawab Fubao dengan senyum tipis yang kaku, tak membantah sedikit pun.
”Cerdas dan efisien. Aku menyukainya,” puji Ken singkat, menyukai bibit unggul di hadapannya. “Baiklah, simpan tenagamu. Ayo kita berangkat menjemput darah dagingmu.”



