Bab 6

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

Kembalinya Sang Penguasa yang Jatuh

Setelah menempuh perjalanan membelah angin selama empat jam tanpa henti, Ken beserta rombongannya akhirnya tiba di depan gerbang raksasa Kerajaan Langit. Tembok-tembok putih menjulang tinggi menggapai awan, memancarkan kemegahan sekaligus intimidasi yang pekat.

​”Tuan, mereka pasti telah mendeteksi kedatangan kita dan mempersiapkan pasukan penuh di balik gerbang itu,” lapor Ketua Darma, matanya menyapu pilar-pilar penjagaan dengan waspada.

​”Paman, tujuan utama kita kemari hanya untuk menjemput Ketua Batara dan saudara-saudara kita yang ditawan. Namun, jika mereka memilih jalan pedang untuk menyambut kita, tentu saja aku yang akan berdiri di garis depan menghadapinya,” jawab Ken dengan nada setenang permukaan danau. “Kalian yang lain tidak perlu memaksakan diri untuk ikut campur. Asikin, tugas utamamu adalah menyembuhkan siapa pun yang terluka di barisan kita.”

​”Sesuai perintah Anda, Tuan!” jawab seluruh anggota pasukan serempak, formasi mereka merapat.

​”Baik, Guru! Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku,” seru Asikin, matanya menyala memancarkan tekad.

​Setibanya mereka tepat di depan pelataran gerbang Kerajaan Langit, Ketua Darma melangkah maju mencoba membuka komunikasi dengan komandan penjaga. Namun, bukannya sapaan balasan, rentetan suara busur ditarik terdengar serempak. Ratusan prajurit di atas tembok mengarahkan anak panah berlapis energi tepat ke arah rombongan Siama. Perlahan, gerbang utama berderak terbuka, dan beberapa jenderal berzirah perak keluar menyambut dengan angkuh.

​”Darma… Nyalimu besar juga berani menginjakkan kaki kotor kalian di Kerajaan Langit,” ucap salah seorang jenderal dengan nada dingin yang menusuk tulang.

​”Jenderal Hegeng, kami datang bukan bermaksud untuk bersikap lancang. Kami hanya ingin membuka ruang negosiasi demi membebaskan Ketua Batara dan anggota faksi kami,” jawab Ketua Darma, menatap lurus jenderal yang sudah lama ia kenal reputasinya itu.

​”Bernegosiasi?” Hegeng mencibir meremehkan, meludah ke samping. “Kalian benar-benar menganggap remeh kedaulatan Kerajaan Langit jika berpikir sekumpulan pemberontak sekelas kalian pantas duduk di meja perundingan.”

​”Bukan begitu maksud kami, Jenderal,” balas Ketua Darma cepat, mencoba meredam percikan konflik.

​Melihat mediasi yang berjalan buntu dan situasi yang semakin menegang, Ken yang sedari tadi berdiri diam menahan diri, akhirnya melangkah membelah barisannya.

​”Paman, simpan tenagamu. Tidak perlu membuang waktu berbasa-basi dengan anjing peliharaan sepertinya,” ujar Ken datar, suaranya tidak keras namun memotong udara dan membuat semua orang dari kedua kubu terkejut.

​Ketua Darma menelan ludah, buru-buru berbisik ke arah Ken. “Tuan, berhati-hatilah. Pria itu adalah Jenderal Hegeng, dan yang berdiri di sebelahnya adalah Jenderal Banu. Mereka berdua adalah pilar militer Kerajaan Langit.”

​”Paman, aku tidak peduli siapa nama mereka atau gelar apa yang mereka sandang,” jawab Ken dingin, matanya mengunci sosok Hegeng. “Hei, Monyet Tua! Cepat keluarkan Ketua Batara dan anggotaku yang lain sekarang juga!”

​”Kurang ajar! Siapa kau berani melontarkan hinaan dan memerintahku di depan gerbangku sendiri?!” teriak Jenderal Hegeng murka. Dalam sekejap, auranya meledak. Sepuluh ukiran bintang berpendar menyilaukan di lengannya, menampakkan puncak kekuatan Segel Bintang 10 yang ia miliki. Tekanan energinya membuat kerikil di tanah bergetar.

​Merasakan aura membunuh yang sangat pekat, Ketua Darma dan sisa anggota rombongan mulai menahan napas gentar. Namun, Ken tetap berdiri tegap, ujung jubahnya bahkan tak berkibar oleh badai aura musuh.

​”Aku adalah Ken, Pemimpin Tertinggi Aliansi Siama. Aku sarankan kau memahat nama itu baik-baik di batu nisanmu,” kata Ken dengan wibawa mutlak.

​”Ken? Oh, jadi kau bocah tengik yang membunuh Zeno, salah satu komandan bawahan terbaikku?!” geram Hegeng.

​”Benar. Aku sudah berbaik hati memperingatkannya untuk pergi, tapi anjing itu terlalu keras kepala. Jadi, aku mencabut nyawanya,” ujar Ken santai, sudut bibirnya menyunggingkan senyum mengejek.

​”Cih!” Hegeng meludah dengan kasar, urat-urat di dahi dan lehernya menonjol memerah karena amarah yang memuncak.

​”Sama halnya dengan nasib bawahanmu itu,” lanjut Ken, mengangkat wajahnya sedikit, “aku juga akan menguliti nyawamu jika kau tidak menuruti perintahku detik ini juga.”

​”Benarkah?! Dasar bocah sombong tak tahu mati!” raung Hegeng. Tanah pijakannya retak saat ia melesat dengan kecepatan kilat, menerjang Ken dengan tebasan pedang berenergi penuh.

​Pertempuran pun pecah seketika. Namun, alih-alih panik, Ken dengan tenang menangkis rentetan serangan maut Hegeng hanya dengan satu tangan.

Bam! Bam! Bam!

​Gelombang kejut dari setiap benturan mereka meretakkan udara. Menyadari kekuatan dasar tak lagi cukup, Ken meledakkan energinya. Giant Gold Level 4! Lapisan aura hijau keemasan seketika menyelimuti seluruh tubuhnya, memancarkan tekanan absolut. Dengan kecepatan yang mustahil diikuti mata fana, Ken membalikkan keadaan. Serangan fisiknya menghujam bertubi-tubi, memukul mundur Jenderal Hegeng hingga pertahanannya hancur berantakan.

​”Pantas saja Kerajaan Langit dengan mudahnya bertekuk lutut menjadi anjing Kerajaan Api,” cibir Ken sedingin es di sela-sela serangannya yang mematikan. “Rupanya karena mereka memelihara jenderal lemah tak berguna sepertimu di garis depan.”

​”Bocah sialan! Jangan senang dulu!” teriak Hegeng, mencoba memusatkan seluruh sisa energinya untuk serangan balik.

​”Benarkah? Lalu bagaimana kau menahan yang satu ini!” Tatapan Ken menajam, auranya meluap drastis. “Tinju Meteor!”

​Pusaran kekuatan Ken seketika melonjak menembus batas ke Giant Gold Level 6. Tinjunya yang dilapisi energi destruktif menghantam dada Hegeng dengan telak. BLAAAR! Daya hancur dari pukulan itu begitu masif hingga resonansinya terasa sampai ke pusat istana, membangunkan eksistensi-eksistensi kuno yang sedang terlelap di dalam sana. Tubuh Jenderal Hegeng terlempar terbang bagai boneka rusak, menghantam bumi berulang kali hingga merobek parit panjang. Tanah Kerajaan Langit berguncang hebat.

​Kepanikan meledak. Suara sirine perang berdengung. Para jenderal inti berhamburan keluar dari dalam istana, dipimpin langsung oleh sosok penguasa tertinggi, Raja Kerajaan Langit.

​Di tengah pelataran yang hancur, Ken berjalan santai mendekati tubuh Hegeng yang kini sekarat bersimbah darah. Ia mencengkeram kerah zirah sang jenderal dan mengangkatnya dengan satu tangan.

​”Bagaimana rasanya? Bukankah dari awal sudah kuperingatkan,” bisik Ken dingin di telinga pria yang terbatuk darah itu.

​”Si… siapakah kau sebenarnya, Monster…?” rintih Hegeng dengan napas tersengal-sengal. “Jika kau berani membunuhku… Kerajaan Api dan Kerajaan Langit tak akan pernah melepaskanmu…!”

​”Apa di matamu aku terlihat peduli dengan ancaman basi itu? Kenapa setiap serangga yang kuinjak selalu mengucapkan kalimat yang sama sebelum mati!” dengus Ken muak.

​”Argh!”

​Mata Hegeng mendadak melotot lebar hingga nyaris keluar dari rongganya. Rantai besi berujung tajam milik Ken telah menembus dadanya dari jarak dekat. Senjata pusaka itu hidup, menyedot habis seluruh esensi Bintang 10 milik Hegeng hingga tubuh jenderal angkuh itu memudar dan lenyap perlahan menjadi debu kosmik.

​Jenderal Banu yang menyaksikan eksekusi mutlak itu berdiri mematung, lututnya bergetar tak terkendali.

​Ken menoleh perlahan, mengunci pandangannya pada Banu. “Apa kau juga sudah bosan bernapas dan ingin menjadi yang berikutnya?”

​”Anak Muda, hentikan arogansimu. Siapa kau sebenarnya?” Sebuah bariton berat yang memancarkan tekanan absolut tiba-tiba bergema dari arah gerbang istana.

​”O-oh… Itu Yang Mulia Raja Lukah,” bisik Ketua Darma panik. Ia segera membungkuk dalam-dalam. “Ampuni kelancangan kami, Yang Mulia. Kami berasal dari Aliansi Siama. Dan pemuda di depan Anda ini adalah pemimpin kami, Tuan Ken.”

Jadi pria ini yang bernama Raja Lukah, putra mendiang Raja Ziyad, sekaligus pewaris takhta dari Sang Kaisar Zi… batin Ken, otaknya memutar kembali pesan intelijen dari sosok berjubah rahasianya.

​”Aliansi Siama? Jadi kau yang bernama Ken. Reputasimu yang menentang tirani telah sampai ke telingaku,” ucap Raja Lukah, matanya menatap Ken dengan penuh penilaian. “Tapi… sehebat apa pun reputasimu, apa yang memberimu keberanian untuk mengeksekusi jenderalku di pekaranganku sendiri?”

​”Aku datang hanya untuk menjemput darah daging faksiku yang kalian sekap tanpa alasan. Aku sudah memberinya pilihan untuk menyingkir, tapi dia terlalu dungu untuk mendengarkan. Jadi, aku membantunya menyingkir selamanya,” jawab Ken, membersihkan debu di jubahnya dengan santai.

​Raja Lukah menoleh tajam ke arah jenderalnya yang masih hidup. “Banu! Benarkah ucapan pemuda ini?”

​”A-ampun, Yang Mulia! Benar adanya. Kami menahan anak buahnya hanya sebagai umpan memancingnya keluar, demi membalas dendam atas kematian Komandan Zeno beberapa hari lalu!” lapor Jenderal Banu dengan suara gemetar ketakutan.

​”Lancang!” bentak Raja Lukah, suaranya menggelegar menyapu udara. “Siapa yang memberi kalian izin bertindak konyol dan memancing peperangan tanpa titah langsung dariku?!”

​”Pihak Kerajaan Api terus menekan kami, Yang Mulia! Mereka tidak mau tinggal diam dan menuntut agar bocah ini segera ditangkap dan diserahkan!” Banu menunjuk Ken dengan telunjuk yang bergetar.

​Mendengar nama Kerajaan Api disebut, Raja Lukah terdiam sejenak dengan rahang mengeras. Kesunyian itu membuat udara semakin berat. Anggota Siama mulai berkeringat dingin menahan tekanan tak kasat mata—kekuatan Raja Lukah disinyalir telah menembus tingkatan God King (Dewa Bintang).

​Ken memecah ketegangan itu dengan tawa meremehkan. “Hahaha… Sebagai seorang Raja, kau benar-benar menyedihkan karena memiliki pion-pion bodoh dan tak berguna yang mudah disetir musuh.”

​”Jaga lisanmu, Anak Muda. Urusan internal kerajaanku bukanlah wilayah untuk kau campuri,” jawab Raja Lukah datar, namun aura di tubuhnya mulai bergejolak.

​”Ya, dan aku baru saja membantumu membersihkan satu jenderal tak berguna dari wilayahmu. Bukankah seharusnya kau berlutut dan berterima kasih padaku, Raja?” Ken menyunggingkan senyum sinis yang amat provokatif.

​”Sebagai sesama pendekar yang berjalan di jalur kultivasi, aku menghargai nyali besarmu. Namun, nyawa harus dibayar dengan nyawa. Jika kau menolak menyerahkan diri secara baik-baik, maka tangan ini sendiri yang akan menyeretmu dengan paksa,” ancam Raja Lukah seraya melangkah maju membelah barisan jenderalnya.

Tekanan ini… Level Dewa Bintang 2, batin Ken menganalisis.

​Di punggung Raja Lukah, sebuah lingkaran halo berwarna merah menyala muncul, mengelilingi dua pendaran Segel Bintang biru safir yang menjadi bukti nyata batas kekuatannya: Dewa Bintang Tingkat 2 (God King Bintang 2).

​”Hahaha… Boleh juga! Majulah, aku tidak keberatan menghancurkan satu raja hari ini,” tantang Ken, merentangkan tangannya menyambut pertarungan dewa.

​”HENTIKAN!”

​Sebuah suara serak nan berat menggema membelah langit, membekukan pergerakan energi semua orang di medan pertempuran.

​Raja Lukah dan seluruh jenderal sontak menoleh, wajah mereka memucat. “Ayahanda… Paman…” Raja Lukah segera menunduk memberi hormat serendah mungkin.

​”Yang Mulia Raja Tua…!” seru seluruh prajurit dan jenderal secara serempak, berlutut menyambut kedatangan eksistensi legendaris tersebut. Hanya Ken yang tetap berdiri angkuh.

​Dari balik bayang-bayang pilar istana, Raja Zi melangkah keluar perlahan dengan ditopang tongkat kebesarannya. Di sisinya, berdiri kokoh Sang Jenderal Pelindung, Akara. Ketua Darma menahan napasnya hingga paru-parunya sakit—ia sangat mengenal reputasi Akara yang berdarah dingin dan kesetiaan butanya pada keluarga kerajaan.

​”Banu. Turun ke ruang tahanan dan bebaskan semua orang yang kalian tangkap secara ilegal itu sekarang juga,” perintah Raja Zi dengan nada yang sangat tenang, namun tak terbantahkan.

​”S-sesuai perintah, Yang Mulia Raja Tua!” jawab Banu pucat pasi, segera berlari mengeksekusi titah.

​Pandangan Raja Zi kemudian beralih pada Ketua Darma yang masih membungkuk gemetar. “Darma, kudengar kalian membangun sebuah faksi perlawanan yang sangat mulia. Dan rupanya… kalian berhasil memilih seorang pemimpin yang sangat luar biasa,” puji Raja Zi penuh makna tersirat.

​”Terima kasih atas pujian Anda, Yang Mulia,” jawab Ketua Darma penuh rasa hormat.

​Tak lama kemudian, Ketua Batara dan sisa anggota rombongan Siama akhirnya dikeluarkan dari gerbang. Meski tubuh mereka dipenuhi luka memar dan darah yang mengering, mereka bisa kembali bernapas lega saat bersatu dengan barisan Ken.

​Setelah urusan sandera selesai, Raja Zi berjalan mendekat dan menatap Ken dalam-dalam. “Anak Muda… kilatan di matamu dan keteguhan aura kekuatanmu benar-benar mengingatkanku pada seseorang dari masa lalu,” ucap Raja Zi lirih, menguji air. “Bagaimana? Apakah kau berniat meminjamkan pedangmu dan bergabung di bawah panji Kerajaan Langit?”

​Ken membalas tatapan itu dengan wajah datar tanpa riak. “Aku tak sudi mengotorkan tanganku dengan bergabung bersama sekumpulan pengecut yang menjadi anjing peliharaan Kerajaan Api.”

Tuan… demi langit, tolong jagalah kesopanan Anda sedikit saja… batin Ketua Darma menjerit histeris dalam hati, membayangkan kehancuran mereka jika memancing murka Raja Tua.

​”Bocah kurang ajar!!” raung Jenderal Akara yang tak lagi sudi menahan diri. Dalam ledakan emosi, Segel Bintang kemerahan menyala di lengannya, memancarkan fluktuasi aura God King (Dewa Bintang 2).

​”Akara, kendalikan dirimu,” tegur Raja Zi, mengangkat tangan menahan panglima setianya.

​Bukannya mundur, Ken justru mendengus meremehkan. “Level God King? Sayang sekali, tenaga besarmu itu tak berguna jika dipakai oleh orang tua lamban sepertimu,” ejek Ken menyulut kembali api.

​”Anak Muda, ucapanmu sudah jauh melampaui batas toleransi!” tegur Raja Lukah keras.

​Namun anehnya, Raja Zi justru terkekeh pelan. “Hahaha… Anak yang sangat pemberani.”

​Ken menatap ketiga penguasa itu tanpa sepercik pun rasa gentar. “Kakek Tua, kau baru saja datang dan mengganggu pertarungan seruku. Daripada kau hanya berdiri di sana… bagaimana kalau kau sekalian ikut maju melawanku?”

​”Lancang!! Mulut kotormu harus dirobek!” Akara murka seutuhnya. Medan gravitasi absolut meledak dari tubuhnya, menekan bumi dan menghantam tubuh Ken dari segala arah. “Apakah di masa lalumu tak ada satu pun manusia yang mengajarimu tata krama dan sopan santun?!”

​Di bawah himpitan gravitasi setingkat dewa, Ken tak bergeser seinci pun. Senyum sinisnya memudar, tergantikan oleh kilatan mata sedingin es.

​”Kau benar sekali. Kedua orang tuaku telah lama mati dibantai. Jadi, memang tak ada lagi yang bisa mengajariku,” desis Ken mematikan. Detik berikutnya, Ken memutar inti energinya secara brutal, melonjak melewati batas hingga menembus Giant Gold Level 8.

BWOOOSH!

​Pilar energi emas murni meledak menembus langit, merobek medan gravitasi Akara hingga hancur berantakan. Jubah Ken berkibar liar di tengah badai cahaya keemasan.

​”Baiklah, kalau begitu… aku sendiri yang akan menggantikan peran orang tuamu untuk memberimu pelajaran!” aum Akara seraya melesat membelah udara bagai proyektil meriam.

​Pertempuran tingkat dewa pun tak terelakkan. Langit Kerajaan Langit bergetar, awan-awan tersibak oleh gelombang kejut setiap kali tinju mereka beradu. Semua orang yang hadir terpaku mematung, tak mampu mencerna kecepatan benturan yang terjadi di atas mereka.

​Dari kejauhan, Raja Zi menatap pertarungan itu dengan hati yang teriris sedih. Jawaban Ken tentang orang tuanya yang mati membangkitkan kepedihan masa lalunya. Namun, di balik rasa bersalahnya, rasa kagum yang luar biasa membuncah melihat seberapa jauh cucunya bertumbuh.

​Ken bertarung layaknya dewa perang. Ia tak hanya mampu menahan, tapi mengimbangi kecepatan dan daya hancur Akara. Pukulan demi pukulan yang memecah udara saling bersambut tanpa jeda.

Ini mustahil… Pemuda sepantaran itu bisa menandingi kekuatan Paman Akara secara berimbang?! batin Raja Lukah terguncang kagum, menyadari jika tadi ia memaksakan diri melawan Ken, ia mungkin tidak akan berakhir dengan kemenangan mudah.

​”Bagus, Anak Muda! Kau bukan sekadar pembual besar. Sikap aroganmu ternyata setara dengan kemampuan bertarungmu!” puji Akara di tengah pertukaran pukulan beruntunnya.

​”Benarkah? Simpan pujianmu, karena aku belum memulai!” balas Ken. Ia menarik napas dalam, merapal dua teknik tertinggi secara bersamaan. “Tinju Meteor! Tapak Dewa!”

​Hujan tinju berlapis energi emas dan telapak tangan raksasa dari langit menghujam Akara secara bertubi-tubi bagai badai hari kiamat.

Guru benar-benar dewa yang hidup… Hebat sekali! batin Asikin di bawah sana, matanya tak berkedip menatap langit.

​”Perisai Langit!” raung Akara. Sebuah kubah energi biru transparan terbentuk seketika, bergetar menahan gempuran Ken. “Daya hancurmu luar biasa, tapi masih ada yang kurang, Anak Muda! Tombak Langit!”

​Ribuan pilar cahaya berbentuk tombak membalas dari balik perisai, meluncur turun mengunci posisi Ken.

​”Tubuh Emas!” Ken mengeraskan esensi tubuhnya, mengubah kulitnya setangguh logam kosmik. Rentetan tombak cahaya itu menghantam tubuhnya, menciptakan ledakan demi ledakan.

​Meski tak terluka parah, tekanan kekuatan tingkat God King mulai membuat Ken terdesak mundur ke tanah. Sialan… Orang tua ini tidak main-main. Ia nyaris memaksaku memanggil kekuatan asliku jika ini terus berlanjut… keluh Ken merotasi sirkulasi energinya.

Anak ini adalah keajaiban mutlak… Di usianya yang masih semuda itu, ia mampu mendaki tingkat Giant Gold Level 8 dengan sempurna… batin Raja Zi memendam kebanggaan yang menggunung.

​”Anak Muda, permainan pemanasan ini harus kuakhiri sekarang,” ucap Akara dari atas langit, memusatkan pusaran badai spiritual ke kedua telapak tangannya. Ia bersiap mengeksekusi jurus pamungkasnya. “Terimalah ini! Panah Langit!”

​”Semuanya, mundur dan cari perlindungan!!” jerit Ketua Darma panik menyadari daya ledak dari serangan itu bisa meratakan area gerbang. Tuan… apakah Anda sanggup menahannya…

​Akara melepaskan proyektil energi raksasa yang melesat bagai komet biru membelah awan menuju Ken. Merasa batas aktingnya sudah maksimal, Ken memilih untuk memejamkan mata, membiarkan aliran ruang beresonansi.

​Tepat seperseribu detik sebelum komet itu menghancurkan Ken, ruang di atasnya terkoyak. Seseorang bermanifestasi dari kekosongan—sesosok figur raksasa berjubah hitam pekat. Tanpa melakukan kuda-kuda, sosok misterius itu mengulurkan satu telapak tangannya dengan santai.

ZWUSH! Tanpa ledakan, tanpa gemuruh. Serangan pamungkas Panah Langit milik Akara seketika padam ditelan telapak tangan bayangan itu bagai api lilin yang ditiup angin.

​Ken membuka mata dan menyunggingkan senyum lega yang disengaja. “Guru… Kau memakan waktu terlalu lama. Akhirnya kau datang juga.”

​Sosok bayangan hitam itu mengangkat wajahnya dari balik tudung, menatap lurus ke arah Akara yang melayang di angkasa. “Kaulah yang berani melukai muridku…?” Suaranya berat bagai raungan guntur purba.

​Dalam sekejap, aura absolut meledak. Tekanan gravitasinya bukan lagi setingkat gunung, melainkan setingkat tata surya. Akara tak sanggup mempertahankan posisi terbangnya. Tubuhnya terhempas jatuh membentur tanah dalam posisi bersimpuh tak berdaya.

​Sosok ‘Guru’ Ken mengangkat sebelah lengannya. Kelima segel bintang di punggung tangannya menyala terang benderang dengan warna merah darah yang pekat. Ia memancarkan kekuatan absolut dari seorang God King Bintang 5!

​Merasakan aura kematian yang menembus ke sumsum tulang, seluruh prajurit dan jenderal Kerajaan Langit bergetar ketakutan.

‘Hahaha… Anak muda ini benar-benar cerdas dalam mementaskan dramanya. Dia menciptakan sosok guru palsu untuk memuluskan penyamarannya,’ batin Raja Zi, tersenyum lebar dalam hatinya mengagumi intrik Ken.

​”Pedang Bintang!” seru sang Guru Bayangan. Awan di langit tersibak, menampakkan ujung sebilah pedang energi raksasa berwarna merah darah yang bersiap menghujam dan menghapus eksistensi Akara.

​”T-Tuan… Ampuni kami!” Raja Zi segera melangkah maju dan membungkuk dengan tulus. “Tuan Guru yang agung, mohon maafkan ketidaksopanan Jenderal Akara. Tindakannya murni hanya berniat melindungi keselamatanku yang tua ini.”

​Ken yang masih berdiri di belakang bayangan itu menatap mata kakeknya sejenak, bertukar pemahaman rahasia. Ia berpura-pura menghela napas. “Sudahlah, Guru… Tarik kembali senjatamu dan lepaskan paman tua itu. Tujuan kita kemari sudah selesai, sebaiknya kita segera pergi dari sini.”

​Bayangan hitam itu mendengus pelan. “Baiklah, jika itu kemauanmu.” Ia menjentikkan jari, dan pedang raksasa di langit menguap menjadi pendaran cahaya, bersamaan dengan tekanan gravitasinya yang sirna.

​”Terima kasih atas kemurahan hati Anda berdua, Anak Muda,” ucap Raja Zi penuh kelegaan, mengusap keringat di pelipisnya.

​Sebelum berbalik, Ken menyentilkan sebuah botol kecil dari dimensi cincinnya. “Tangkap ini, Paman. Telan obat itu untuk memperbaiki meridianmu yang terguncang.”

​Akara yang baru saja bangkit menangkap botol itu dengan tangan gemetar. “Ini…”

​Begitu tutup botolnya dibuka, aroma surgawi menyerbak memenuhi pelataran.

​”Demi dewa… Itu adalah Pil Pancasona… dan kemurniannya jauh melampaui tingkat tiga!” ucap Raja Zi, matanya terbelalak takjub.

​”Melampaui tingkat tiga?! Bukankah obat semacam itu hanyalah mitos peninggalan legendaris, Ayahanda?” tanya Raja Lukah, sama terkejutnya melihat harta yang nilainya bisa memicu perang antar kerajaan diberikan begitu saja secara cuma-cuma.

​”Benar, Lukah,” jawab Raja Zi dengan nada penuh kekaguman tulus. “Anak ini sungguh anomali yang luar biasa—dilindungi oleh guru sekelas dewa perang, namun memiliki hati sedalam samudra. Keluarkan dekrit mutlak hari ini: Mulai detik ini, Kerajaan Langit tidak boleh bergesekan sedikit pun dengannya maupun Aliansi Siama!”

​”Titah Anda akan segera dilaksanakan, Ayahanda,” jawab Raja Lukah mantap.

​Jenderal Akara menggenggam botol pil itu dengan rasa hormat yang mendalam, membungkuk ke arah perginya Ken sebelum kembali ke sisi raja.

​Raja Lukah kemudian menoleh pada Banu yang masih menggigil. “Banu. Kirimkan pesan resmi ke perbatasan Kerajaan Api. Katakan pada mereka: Kerajaan Langit mencuci tangan dan tidak akan ikut campur lagi dalam urusan Aliansi Siama. Jika Kerajaan Api bersikeras menuntut darah pemuda itu, suruh mereka hadapi sendiri monsternya!”

​”Ba-baik, Paduka Raja!” jawab Banu gugup, berlari untuk mengirim kurir. Syukurlah dewa kematian itu mengabaikanku… Kalau dia mengingat ucapanku tadi, nasibku pasti sudah hancur menjadi debu seperti Hegeng, batinnya penuh kengerian.

​Raja Lukah menatap jauh ke langit senja, mengamati siluet rombongan Ken yang perlahan menghilang di ufuk barat. Dengan kekuatan tak terukur dan nurani sebesar itu, aku hanya bisa berdoa semoga kau terus menjadi pedang yang menolong umat manusia, Anak Muda… batin Raja Lukah, menutup hari bersejarah itu dengan sebuah penghormatan diam.

​Dalam diam, bayangan Ken dan rombongannya perlahan ditelan cakrawala, meninggalkan nama dan legenda baru yang akan mengguncang pondasi seluruh benua.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!