Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Kekacauan di Kerajaan Api
Usai meresmikan Fubao sebagai muridnya, Ken tak membuang waktu sedetik pun. Ia segera mengajak Fubao untuk bergerak menyelamatkan ibu dan adiknya, menolak memberi celah pada takdir buruk yang mungkin menimpa mereka. Tepat saat matahari mulai condong ke barat dan langit memancarkan warna tembaga, mereka bertolak menuju Kerajaan Api.
Setibanya di batas luar desa, sesosok bayangan berjubah hitam pekat telah berdiri diam menanti mereka, memegang tali kekang dua ekor kuda jantan berotot kuat. Fubao tersentak. Ingatannya langsung mengenali postur sosok tersebut.
Orang ini… bukankah dia bayangan yang menolongku dari kejaran prajurit Kerajaan Api waktu itu? batin Fubao, jantungnya berdebar teringat pelariannya yang mempertaruhkan nyawa.
Keduanya segera menunggangi kuda masing-masing, membelah angin senja. Mereka menempuh perjalanan panjang melintasi lembah-lembah curam dan hutan pinus yang mulai digelayuti kegelapan. Fubao, yang sedari tadi diliputi pusaran rasa ingin tahu, akhirnya memberanikan diri memecah keheningan derap kuku kuda.
”Gu-guru… siapa paman berjubah tadi sebenarnya?” tanyanya dengan nada gugup.
”Dia adalah bawahanku. Ada apa?” jawab Ken datar, hanya menoleh sekilas untuk menilai raut wajah murid barunya.
”Aa-aaa… tidak ada apa-apa, Guru,” elak Fubao cepat-cepat, buru-buru menundukkan pandangannya ke surai kuda.
Ken kembali menatap lurus ke cakrawala, namun suaranya mengalun dalam dan membawa tekanan yang tegas, “Fubao.”
”I-iya, Guru?”
”Aku menuntut agar apa pun yang kau saksikan mulai malam ini, tidak kau ceritakan pada siapa pun. Sama seperti dirimu yang memiliki masa lalu, aku juga menyimpan rahasia besar yang belum saatnya kuungkapkan pada dunia.”
Mendengar titah absolut itu, Fubao mengangguk mantap. “Ba-baik, Guru. Tenang saja… mulutku akan terkunci rapat. Aku mengerti.”
”Bagus,” balas Ken singkat. Hening kembali mengambil alih.
Perjalanan berlanjut hingga berjam-jam lamanya. Hembusan angin malam mulai terasa kering, membawa serta aroma belerang dan debu panas—tanda mutlak bahwa perbatasan wilayah Kerajaan Api sudah berada di depan mata. Menyadari perubahan hawa tersebut, Fubao menarik tali kekangnya dan memperingatkan sang guru.
”Guru, di seberang bukit kecil di depan sana adalah garis perbatasan antara Kerajaan Langit dan Kerajaan Api,” lapor Fubao dengan suara tertahan. “Jika kita nekat menerobos melalui jalur utama, pos penjaga pasti akan langsung menyadari keberadaan kita.”
”Begitukah?” respons Ken, perlahan menahan laju kudanya.
”Iya, Guru. Aku tahu sebuah jalur tikus yang jauh lebih aman, tapi medannya memaksa kita untuk meninggalkan kuda-kuda ini dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menembus hutan lebat,” jelas Fubao sangat berhati-hati.
”Baiklah kalau begitu, kau yang akan membuka jalan,” ucap Ken santai seraya melompat turun dari pelana.
”Baik, Guru,” jawab Fubao ikut melompat turun. Ia menatap kedua kuda yang mendengus lelah itu dengan raut ragu. “Tapi… apakah aman meninggalkan hewan-hewan ini begitu saja di sini, Guru? Mereka bisa dimangsa.”
”Tentu saja tidak aman jika dibiarkan,” jawab Ken datar. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan.
Sebuah cincin logam di jarinya memancarkan pendaran cahaya biru kosmik yang menyilaukan. Gelombang cahaya itu menyapu tubuh kedua kuda tersebut, dan dalam kedipan mata, kedua hewan besar itu lenyap ditelan udara kosong.
”Hah! I-itu… Cincin Ruang, Guru?! Bukankah relik magis seperti Cincin Ruang hanya mampu menampung benda mati?” seru Fubao terkejut, matanya nyaris melompat keluar dari rongganya.
”Pemahamanmu secara umum memang benar,” jawab Ken. “Namun, cincin yang melingkar di jariku ini istimewa—ruang dimensinya memiliki ekosistem yang mampu menopang kehidupan makhluk bernyawa.”
”Wahhh! Aku baru tahu di dunia ini ada Cincin Ruang dengan tingkat sihir setinggi itu!” seru Fubao takjub, menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ken menatap cincin di jarinya, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Sebenarnya, artifak Cincin Ruang seperti ini tidak pernah tercatat dalam sejarah benua. Aku menempanya sendiri menggunakan teknik rahasia.”
”Wahh… Jadi Guru adalah seorang Grandmaster Penempa juga?” gumam Fubao, kekagumannya pada sosok Ken semakin menembus langit.
”Sebelum kita melanjutkan penyusupan, aku akan memberikan sebuah anugerah padamu. Ulurkan tangan kananmu sekarang,” titah Ken, mengalihkan pembicaraan.
”Baik, Guru.” Fubao segera menjulurkan lengannya tanpa ragu.
Ken meletakkan telapak tangannya melayang tepat di atas punggung tangan Fubao. “Aku akan menanamkan Formasi Segel agar esensimu terhubung langsung denganku. Segel suci ini juga menjadi penanda mutlak bahwa kau adalah murid resmiku.”
”Y-ya, aku siap, Guru,” jawab Fubao, menelan ludah.
Semburat cahaya merah keemasan meledak lembut dari telapak tangan Ken. Aliran energi panas merayap dan mengukir Segel Bintang berpola geometris rumit di atas punggung tangan Fubao. Segel itu berdenyut seirama dengan detak jantungnya sebelum akhirnya memudar dan meresap ke balik kulitnya.
”Sekarang benang nasibmu sudah terhubung denganku. Selama kau masih berada dalam radius jangkauan persepsiku, aku bisa mendistorsi ruang dan berpindah seketika ke titik di mana kau berdiri,” jelas Ken mengenai kehebatan tekniknya.
”Be-berpindah langsung… seketika?” Fubao terdiam, otaknya memproses informasi itu, sementara otot-otot di wajahnya perlahan menegang.
”Ya,” lanjut Ken dengan tenang. “Tentu saja ada kegunaan praktis lainnya yang kelak bisa kau tanyakan langsung pada kakak seperguruanmu, Asikin.”
”Ba-baik, Guru…” jawab Fubao. Entah kenapa, rona merah menjalar di kedua pipinya.
Ken mengerutkan alis, menangkap perubahan aura muridnya. “Ada apa dengan wajahmu?”
”Ta-tapi, Guru… bagaimana kalau suatu saat aku sedang ingin… mandi?” tanya Fubao dengan raut wajah tegang yang teramat serius.
Udara di sekitar mereka seolah membeku sesaat. Ken terdiam kaku, mendadak harus menahan otot bibirnya agar tidak menyunggingkan senyum canggung. “Ah, urusan privasi itu… tentu saja kau bisa memblokir koneksinya. Cukup fokuskan aliran pikiranmu pada pusat segel, lalu tutup gerbang sambungannya secara manual. Cobalah sekarang.”
Benar juga… Astaga, aku hampir melupakan detail memalukan itu. Huft, keluh Ken dalam hati, menghela napas lega karena tak harus membayangkan situasi konyol di masa depan.
”Baik, Guru. Aku sudah mengerti pola buka-tutupnya,” ucap Fubao, mengelus dadanya lega setelah berhasil mencoba instruksi gurunya.
”Nah, terimalah ini juga.” Ken memutar telapak tangannya, dan sebuah cincin perak berukiran naga melayang ke arah Fubao. “Cincin Ruang ini akan sangat berguna untuk masa depanmu. Pelajari cara membuka dimensinya secara perlahan nanti.”
”Wahhh… Guru, terima kasih banyak!” ujar Fubao, memeluk cincin itu dengan sukacita yang meluap-luap.
”Simpan kegembiraanmu. Kita harus segera bergerak,” ucap Ken memotong perayaan kecil itu.
”Baik, Guru.” Fubao menunduk hormat dalam-dalam. “A-aaa… Guru, sekali lagi terima kasih atas semua anugerah ini… dan terima kasih karena telah menyelamatkanku dengan menerimaku sebagai murid.” Setitik air mata haru lolos dari sudut matanya, membasahi tanah kering Kerajaan Api.
”Simpan air matamu,” ujar Ken dengan nada yang tiba-tiba melembut. “Ubah rasa terima kasihmu itu menjadi tekad. Berlatihlah dengan keras dan jadilah pendekar yang tak tergoyahkan.”
”Tentu saja, Guru! Aku bersumpah akan mendaki puncak kekuatan dan tidak akan pernah mengecewakanmu!” jawab Fubao dengan sepasang mata yang kini menyala terang. “Tapi… Guru, apakah kita tidak mendirikan kemah untuk beristirahat sejenak? Mengingat jarak yang tersisa, jika kita berjalan kaki menembus hutan, kita baru akan menyentuh benteng musuh besok pagi.”
”Rencanaku berbeda,” ujar Ken, matanya memancarkan perhitungan tajam. “Kita akan membobol penjara dan membebaskan keluargamu tepat di jantung malam ini—di saat kelengahan musuh berada pada titik maksimal.” Ken kemudian menekuk satu lututnya, merendahkan postur tubuhnya. “Kemarilah, naik ke punggungku. Aku yang akan membawamu.”
”Hm-hmm… ba-baiklah, Guru.” Fubao menatap gurunya dengan ragu campur takjub, lalu perlahan memanjat dan bersandar di punggung kokoh itu.
Dalam sepersekian detik, ledakan energi memecah tanah pijakan mereka. Ken melesat, membelah jarak ruang dan waktu bagai badai angin malam yang mengamuk lurus menuju jantung Kerajaan Api.
Di kedalaman bui Kerajaan Api, hawa dingin dan aroma karat darah menguar pekat. Para penjaga berwajah kejam tengah mendorong kereta dorong, mendistribusikan jatah makanan bagai melempar tulang kepada anjing. Di sudut blok tahanan terdalam—tempat cahaya obor pun enggan menyentuh—terdapat sebuah sel khusus yang dikurung dengan pintu berlapis logam hitam setebal lengan orang dewasa.
Di lantai batu yang membekukan darah itu, seorang wanita paruh baya terbaring lemah dengan napas putus-putus. Di sisinya, seorang gadis kecil nan kurus duduk meringkuk menahan lapar.
Langkah sepatu bot baja bergema. Dua penjaga berhenti di depan sel berjeruji rapat itu. Salah satu dari mereka membuka kasar sebuah celah kecil di bagian bawah pintu, lalu menendang semangkuk kayu berisi bubur basi dan hambar ke lantai.
”Makanlah sampah ini,” dengusnya dingin. “Jika kau mati kelaparan giliran kami yang akan diseret Jenderal untuk dihukum.”
Tanpa rasa iba sedikit pun, kedua penjaga itu melenggang pergi, membiarkan derap langkah besi mereka perlahan ditelan kegelapan lorong yang memuakkan.
Maafkan aku yang tak berguna ini, Guru… Seandainya saja aku sudah memiliki fondasi kekuatan, aku pasti tidak perlu membebani dan merepotkan langkahmu seperti ini, batin Fubao merutuki dirinya sendiri. Mereka kini telah bertengger di atas bukit batu tersembunyi, menatap langsung ke pusat Kerajaan Api.
”Jadi, seperti ini wujud dari ibukota Kerajaan Api yang terkenal kejam itu,” gumam Ken perlahan. Matanya menyapu deretan benteng hitam raksasa yang menjulang bagai taring iblis membelah langit malam.
”Iya, benar, Guru… Ini adalah tanah kelahiranku,” jawab Fubao pelan, suaranya bergetar hebat menahan badai emosi. “Dahulu kala, kota ini sangat indah, damai, dan penuh kehangatan… tapi kini, semuanya telah dirusak menjadi lautan darah yang menyeramkan.” Ia menunduk, matanya menatap hampa pada hamparan abu vulkanik di bawah telapak kakinya.
”Pusatkan pikiranmu,” tegur Ken tenang, mengembalikan fokus muridnya. “Dengarkan instruksiku. Menyusuplah ke blok tahanan dan temukan ibu serta adikmu. Begitu kau telah memastikan posisi mereka, aku akan langsung mendistorsi ruang dan menyusulmu.”
”Sesuai perintah, Guru. Tenang saja, aku hafal setiap lorong dan bisa menyusup ke dalam penjara tanpa memicu alarm,” balas Fubao penuh keyakinan. Ia hendak melangkah, namun kembali menatap Ken. “Tapi… bagaimana dengan pergerakan Guru sendiri?”
”Aku?” Ken menarik napas dalam, membiarkan matanya terpaku jauh pada menara istana utama yang berpendar oleh cahaya magma kemerahan. “Ada satu urusan kecil yang harus kuselesaikan di pusat kekuasaan mereka.”
”Aku mengerti, Guru. Kalau begitu, aku berangkat.” Fubao menangkupkan kedua tangan memberi hormat, sebelum tubuhnya melesat ringan layaknya bayangan yang menyatu dengan malam.
”Ya… perhatikan setiap langkahmu,” tutup Ken lembut, matanya terus mengawal kepergian murid mudanya hingga benar-benar tertelan kegelapan.
Setelah lonceng pergantian jaga berdentang dan mayoritas pasukan Kerajaan Api memasuki waktu istirahat, operasi penyusupan dimulai. Fubao dan Ken menyelinap menembus pertahanan dinding istana layaknya hantu. Setibanya di persimpangan labirin jalan bawah tanah, mereka memisahkan diri.
Fubao bergerak lincah menelusuri ventilasi menuju blok tahanan terendah, sementara langkah tanpa suara Ken membawanya menyusup semakin dalam ke area inti rahasia istana kerajaan.
Lorong batu itu berakhir di sebuah ruangan gua raksasa bawah tanah. Udara di sana mendidih. Di hadapan Ken, berjejer puluhan kurungan baja magis berkekuatan tinggi. Di dalam jeruji-jeruji tebal itulah, Kerajaan Api menyekap belasan Monster Bintang Tingkat Tiga—makhluk-makhluk purba nan buas yang usianya menyentuh angka empat puluh ribu tahun.
Ken menyusuri setiap kurungan, matanya memancarkan simpati yang ganjil. Jadi, di ruang penyiksaan inilah esensi jiwa kalian dikuras untuk memperkuat armada mereka… batin Ken. Ia merogoh ruang dimensinya, menarik keluar beberapa buah spiritual yang memancarkan pendar energi murni.
”Makanlah ini untuk memulihkan energi murni kalian,” bisiknya tenang. Dengan lambaian tangan, ia melemparkan buah-buah surgawi itu dengan presisi menembus jeruji ke arah tiap monster yang mengaum lemah.
Ia terus menyusuri dinding batu obsidian yang bersimbah peluh magma, hingga ketajaman instingnya menangkap sebuah anomali—sebuah celah mikroskopis yang menyembunyikan ukiran formasi kuno.
Hm? Segel mekanik rahasia… Tanpa ragu, Ken menyalurkan setitik energi keemasannya ke pola tersebut. Klak! Dinding batu solid di hadapannya bergeser pelan tanpa suara, menyingkap jalan masuk menuju ruang penjara absolut yang lebih tersembunyi.
Hawa panas yang luar biasa ekstrem menyergap wajahnya begitu ia melangkah masuk.
”Astaga… Ini seekor Naga Api purba berusia empat ratus ribu tahun,” gumam Ken takjub.
Di pusat ruangan magma itu, terbelenggu oleh rantai raksasa yang berpendar merah menyala, terbaring makhluk raksasa bersayap empat. Sisiknya sehitam arang, namun memancarkan bara api dari sela-selanya. “Apakah ini sumber kekuatan absolut yang dirahasiakan kerajaan ini?” Ken tersenyum kecil, lalu melempar sebongkah buah spiritual dengan energi setara intan. “Hei, Naga tua… makanlah ini.”
Namun, alih-alih menerima niat baiknya, sang naga mengangkat kepalanya yang angkuh. Mata merah menyalanya menatap Ken dengan kebencian murni, sebelum rahang raksasanya terbuka dan menyemburkan badai api neraka untuk membakar penyusup itu menjadi debu.
”Hah… baiklah jika itu maumu,” dengus Ken. Lapisan energi pelindung berlapis emas seketika membentengi tubuhnya, membelah semburan api itu dengan mudah. “Sepertinya jiwa buas penguasa langit tak bisa ditundukkan dengan sepotong buah spiritual.” Tatapan Ken mendadak menajam, mengunci wibawa sang naga. “Kalau begitu, dewa ini yang akan memaksamu tunduk.”
Ken mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Ruang bergejolak, dan dari telapak tangannya melesat puluhan rantai energi berwarna hitam keperakan yang berderak menembus udara. Rantai-rantai itu meliuk layaknya ular surgawi, dengan paksa mengikat leher, sayap, dan keempat tungkai naga yang meronta hebat.
Gua magma itu bergetar seakan mau runtuh, bongkahan batu berjatuhan, namun ajaibnya, tak ada secuil pun gelombang kejut atau suara raungan yang berhasil menembus kubah pelindung isolasi yang telah Ken pasang sejak awal.
Dengan formasi senyap ini, bahkan Kaisar mereka pun tidak akan tahu kiamat apa yang sedang terjadi di bawah takhtanya, seringai Ken dalam hati.
Sementara itu, di sektor penjara neraka, Fubao akhirnya tiba merayap di depan jeruji sel yang gelap gulita dan berbau busuk. Ia menelan ludah, menekan wajahnya mendekati celah kecil di pintu baja berlapis besi tersebut.
”Ibu… Ibu… ini aku, Bu,” bisiknya dengan suara serak yang bergetar.
Keheningan sempat merajai, sebelum terdengar gesekan tubuh di lantai batu. “Nak…? A-apakah… apakah suara itu benar-benar dirimu?” Rintihan lemah seorang wanita memecah kesunyian malam.
”Iya, Bu. Ini Fubao… Aku berhasil kembali. Aku datang untuk mematahkan rantai ini dan menjemput Ibu serta Adik,” jawab Fubao. Dinding pertahanannya hancur berkeping-keping. Air matanya tumpah deras melihat sang ibu yang kini kurus kering bak tengkorak hidup, serta tubuh rapuh adiknya yang tak sadarkan diri di atas lantai es.
”Ya Tuhan Yang Maha Pengasih…” Ibunya menyeret tubuhnya ke arah celah pintu, jemarinya yang gemetar berusaha menyentuh wajah putranya dari balik jeruji tebal. “Anakku… bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana keadaanmu di luar sana? Apakah kau terluka?”
”Iya, Bu. Aku sangat sehat. Semuanya baik-baik saja,” jawab Fubao sembari menangis, memaksakan senyum paling tegar yang ia miliki. “Tolong bertahanlah sedikit lagi. Ketika Guru besarku tiba, beliau akan menghancurkan tempat ini dan membawa kita melihat matahari.”
Nun jauh di kedalaman inti istana, sepasang mata Ken terbuka. Pola segelnya beresonansi. Sepertinya anak itu telah menemukan tujuannya, batin Ken.
Ia segera meninggalkan ruang isolasi sang Naga Api dan melesat kembali ke lorong penahanan monster utama. Dengan ayunan tangannya, pusaran dimensi Cincin Ruangnya terbuka lebar, menyedot masuk seluruh Monster Bintang Tingkat Tiga yang telah dipulihkannya. Setelah memastikan ruangan itu kosong, Ken menghantamkan ujung Rantai Segelnya ke pusat pilar penahan.
BAM! Daya ledak mengerikan menghancurkan seluruh kurungan baja yang mengunci lorong tersebut menjadi serpihan debu. “Sekarang, tibalah saatnya kalian menikmati kebebasan yang sesungguhnya,” gumam Ken, membebaskan belenggu monster-monster itu dari dimensi cincinnya.
”Baiklah… target terkunci,” ucapnya pelan, lalu merobek ruang untuk berteleportasi langsung ke titik koordinat Fubao.
Wusss!
Ruang terlipat, dan Ken muncul dari ketiadaan di samping Fubao. “Bagaimana situasinya, Fubao?” sapanya dengan tenang.
”Oh, Guru!” seru Fubao, separuh terkejut sekaligus sangat bersyukur. “Syukurlah Guru tepat waktu. Aku sudah menemukan sel tempat Ibu dan Adik disekap.”
Ken menatap nanar pemandangan tragis di dalam sel tersebut. Tanpa repot-repot mencari kunci, ia merogoh saku jubahnya. “Bibi, mundurlah sedikit dan sentuh pelat ini,” perintah Ken seraya melempar sebuah pelat segitiga kristal yang berpendar perak menembus celah jeruji.
Begitu tangan sang ibu menyentuhnya, pelat itu meledakkan cahaya putih yang membutakan. Ken, Fubao, dan pintu baja tebal itu seketika berteleportasi, membuat Ken dan Fubao kini berdiri kokoh di dalam ruang penjara bersama mereka.
”Ibu!!” Fubao tak sanggup lagi menahan diri. Ia menerjang dan memeluk erat tubuh ibunya yang ringkih. “Bu, perkenalkan, pria hebat ini adalah Guruku. Beliau adalah Tuan Ken.”
Wanita itu bersimpuh, mencoba mencium ujung kaki Ken. “Terima kasih, Tuan… Terima kasih atas keagungan hati Anda karena telah mengayomi nyawa anakku.” Suaranya bergetar diiringi isak tangis.
”Berdirilah, jangan rendahkan dirimu seperti itu, Bibi,” cegah Ken lembut, menahan bahu wanita tersebut. Wajahnya kemudian kembali serius menatap muridnya. “Fubao, ambil ini. Pakaikan baju hangat ini pada Ibu dan adikmu.” Ia mengeluarkan setelan pakaian bersih dari Cincin Ruangnya. “Dan serahkan baju tahanan bekas yang menempel di tubuh mereka padaku. Aku membutuhkan DNA pakaian itu untuk menciptakan replika dan menghapus jejak pelarian kalian.”
”Siap, Guru.” Fubao mengangguk patuh, segera melaksanakan tugasnya. Ia mengangkat tubuh adiknya yang ringan bagai kapas dengan hati-hati. “Adik kecilku yang tangguh… maafkan Kakak. Kita akhirnya bisa pulang,” bisiknya lirih sembari membalut tubuh dingin itu dengan pakaian hangat.
Ken melangkah menembus pintu baja yang sudah hancur engselnya. Dengan kecepatan dewa, jari-jarinya menenun segel spasial ke udara. Satu per satu, ratusan tahanan menderita di sel-sel sekitarnya diteleportasi secara acak menuju kebebasan di hutan luar. Setelah blok penjara itu kosong, aura Ken meledak. Menggunakan cambukan energi Rantai Bintangnya, ia meruntuhkan fondasi pilar utama penjara. Bersamaan dengan runtuhnya atap, para Monster Bintang yang dilepaskan Ken mulai merangsek masuk, mengamuk dengan buas untuk menutupi seluruh jejak manipulasi dimensi yang ditinggalkannya.
”Guru! Persiapan kami sudah selesai,” seru Fubao menembus kepulan debu reruntuhan.
Hah! Apa-apaan ini? Kenapa jumlah Monster Bintang yang merangsek masuk ke sini jadi berlipat ganda? Sepertinya ada monster dari blok lain yang ikut lepas, batin Ken, sedikit mengangkat alis terkejut melihat kebrutalan invasi yang melampaui perhitungannya.
”Baiklah, abaikan kekacauan ini. Aku akan membuka gerbang ruang menuju hutan sekarang. Bersiaplah menahan mual,” titah Ken. Ia menjentikkan jarinya ke arah pusat segel di udara.
Dalam satu kedipan mata kosmik, mereka semua ditarik oleh distorsi spasial dan lenyap dari neraka tersebut.
Ken yang masih melayang di udara, menatap ke bawah. Ia menyalurkan instruksi telepati, mengarahkan gelombang Monster Bintang yang buas itu untuk menghancurkan barisan penjaga istana. Dalam hitungan detik, tembok-tembok pertahanan Kerajaan Api dikoyak runtuh. Tiang-tiang api membumbung tinggi menjilat angkasa, sementara jeritan ngeri dan lolongan panik para prajurit bergema bak simfoni kematian di seluruh penjuru istana.
”Rasakanlah keputusasaan ini…” gumam Ken sedingin gletser. “Aku hanya membiarkan kalian memanen penderitaan yang selama ini kalian tabur pada rakyat tak berdosa.”
Wusss!
Fubao, ibunya, dan adiknya kini mendarat dengan keras namun selamat di tengah rimbunnya hutan yang jauh dari perbatasan.
”Nak… kenapa Tuan Penyelamatmu itu tidak ikut muncul bersama kita?” tanya sang ibu cemas, melihat ke sekeliling yang hanya dipenuhi pohon-pohon rindang.
”Mungkin Guru masih harus mengurus tikus-tikus di sana untuk menutupi jejak pelarian kita, Bu. Tenang saja, Guru sangatlah kuat,” sahut Fubao, berusaha menyembunyikan tangannya yang gemetar.
Di sektor hutan yang berbeda, puluhan tahanan budak yang dipindahkan Ken mulai mengerang siuman.
”Hah! Dimana ini?! Apa yang terjadi?!” jerit salah seorang kakek tua yang terbangun. “Hutan!? Bagaimana bisa dinding penjara bawah tanah berubah menjadi hutan pinus?!”
”Hei! Semuanya, bangunlah! Demi Dewa, lihatlah ke langit… Kita bebas! Kita benar-benar bebas dari neraka itu!” teriak seorang pemuda, suaranya pecah oleh histeria kebahagiaan.
”Wah! Keajaiban telah turun tangan! Ayo, cepat lari ke utara sebelum iblis-iblis Kerajaan Api itu menyusul kita!” seruan penuh kelegaan memenuhi penjuru hutan malam. Mereka pun berpencar melarikan diri bagai kawanan burung yang lepas dari sangkar, membelakangi kepulan asap hitam pekat yang mulai membakar cakrawala dari arah Kerajaan Api.
Tak lama setelah ketegangan mereda, distorsi ruang kembali beriak di depan Fubao. Sosok Ken melangkah keluar dengan tenang.
”Apa aku membuat kalian menunggu terlalu lama?” sapanya tanpa nada bersalah.
”Ya ampun, Guru! Kemunculanmu nyaris membuat jantungku copot,” protes Fubao seraya mengelus dadanya yang berdebar kencang. “Guru, mari kita lekas pergi dari titik ini. Kehancuran tadi pasti akan memancing unit pengejar elit mereka!”
”Tenanglah.” Ken menoleh, memanggil sosok berjubah hitam yang sedari tadi bersembunyi di bayang-bayang pohon. “Bibi, pelayan setiaku ini yang akan menggendong dan menjagamu di perjalanan.”
Fubao memicingkan matanya. Hah? Figur orang ini jelas berbeda dari penjaga bayangan yang kutemui di desa. Posturnya lebih ramping, auranya jauh lebih lembut bagai sutra, dan dari cara berjalannya… apakah pelayan kuat ini seorang wanita? batin Fubao menganalisis dalam diam.
”Nah, untuk pahlawan kecil ini… biarkan aku yang membawanya,” ucap Ken seraya mengangkat tubuh adik Fubao. Ia menggunakan kain selimut tebal untuk mengikat anak perempuan yang tertidur pulas itu ke dada bidangnya, lalu menekuk lutut. “Fubao, naiklah ke punggungku seperti tadi.”
”Sesuai perintah, Guru.” Fubao melangkah penuh hormat, mengalungkan lengannya ke leher sang guru.
Dalam satu entakan kekuatan, barisan kecil itu melesat membelah angin malam, meninggalkan Kerajaan Api yang kini dilanda kiamat kecil.
Di belakang sana, lautan api terus berkobar. Pasukan elit Kerajaan Api masih kalang kabut mencoba menjinakkan amukan Monster Bintang yang beringas. Ketika gelombang monster raksasa itu akhirnya bosan dan mendobrak gerbang utama untuk lari ke belantara, mental para prajurit sudah terlampau hancur untuk sekadar berpikir melakukan pengejaran. Prioritas mereka kini hanyalah menyelamatkan istana dari lautan api.
”Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini, keparat?!” raung seorang Jenderal berpangkat tinggi yang baru saja tiba di pelataran dengan kuda lapis bajanya. Matanya terbelalak menyaksikan kehancuran absolut.
”Ma-maafkan kami, Jenderal! Entah dari mana, monster-monster buas di sektor penyiksaan tiba-tiba mengamuk lepas!” lapor seorang komandan pasukan dengan wajah bersimbah darah dan debu.
”Apa kau bilang?! Lalu bagaimana dengan nyawa para tahanan politik di blok bawah?!” bentak sang Jenderal, urat lehernya menonjol.
”Me-mereka… seluruh blok tahanan kosong melompong, Tuan Jenderal!” jawab prajurit itu menggigil ketakutan.
”Kosong?! Mustahil!” Jenderal itu nyaris terjatuh dari kudanya.
”Benar, Tuan. Menurut pantauan sisa regu, sebagian besar tahanan hancur dan dimangsa hidup-hidup saat monster-monster itu meluapkan amarahnya ke blok tahanan,” tambahnya dengan kesimpulan yang salah fatal.
”Omong kosong! Area itu adalah benteng penjara kelas satu dengan segel anti-sihir! Tidak mungkin sebuah pelarian massal terjadi secara gaib! Aku sendiri yang akan memverifikasi kerusakan ke bawah tanah!” aum sang Jenderal murka. “Seluruh unit kavaleri yang tersisa! Perluas perimeter pencarian dan sisir hutan sekitarnya hingga ratusan li! Bergerak sekarang!”
”Sesuai perintah, Jenderal!” sahut ribuan prajurit serentak.
Sementara fajar mulai menyingsing dan mewarnai ufuk timur, Ken beserta rombongannya telah melintasi perbatasan dan memasuki wilayah damai Kerajaan Langit.
Kecepatan ini… ini benar-benar tidak masuk akal, batin Fubao, matanya tak berkedip menatap pepohonan yang berkelebat menjadi garis buram di sekitarnya. Pemandangan tebing-tebing akrab Kerajaan Langit mulai menyapa matanya. Jika dewa perang ini terus berlari dengan ritme gila ini, kami pasti akan tiba di kasur empuk desa sebelum ayam jantan selesai berkokok. Ia menatap lekat leher kokoh Ken di depannya. Akhirnya… Ibu dan adik perempuanku lolos dari maut. Terima kasih, Guru. Anda adalah pahlawan dan dewa penyelamat dalam hidupku. Tetesan air mata kelegaan yang hangat menetes perlahan, seiring dengan matanya yang terpejam penuh rasa damai dan syukur yang tak berujung.
Di balik dinding hitam Kerajaan Api, tepatnya di kedalaman Penjara Timur, aroma kepanikan semakin pekat. Seorang perwira berlari tunggang-langgang menaiki tangga spiral menuju singgasana benteng utama.
”Jenderal Gayus! Gawat, Tuan! Ada anomali mengerikan terjadi di ruang penyegelan rahasia bawah tanah!” lapornya terbata-bata.
Jenderal Gayus seketika memucat, wajahnya berubah tegang bak mayat. “Bencana demi bencana… Kepala kita akan dipenggal habis jika Yang Mulia Kaisar sampai mencium kekacauan ini,” gumamnya resah sambil mengusap wajahnya yang berkeringat dingin.
Tiba-tiba, derap langkah kaki yang teramat lambat dan berat terdengar menggema dari ujung lorong. Setiap pijakan kaki itu memancarkan gravitasi absolut yang menekan udara di sekitarnya hingga membuat napas siapa pun sesak.
”Apa yang sedang kau bicarakan, Gayus?” Suara bariton yang amat dalam dan menggetarkan nyawa menggema ke sudut ruangan.
”Ra… Raja Adjong!!” Gayus langsung berlutut hingga dahinya menghantam lantai keras. “Ampuni kelalaian kami, Yang Mulia! Telah terjadi pemberontakan Monster Bintang secara masif di sektor penjara! Nyaris seluruh tahanan lenyap tanpa jejak—diasumsikan sebagian besar telah dirobek dan dimangsa oleh monster-monster yang melarikan diri!”
”Katakan padaku… Bagaimana dengan kondisi ‘Aset Utama’ kita?” tanya Raja Adjong pelan, matanya menyipit memancarkan aura membunuh yang dingin.
”A-aset utama masih berada kokoh di posisinya, Yang Mulia. Namun… namun fisiknya mengalami metamorfosis yang aneh,” jawab Gayus dengan suara gemeretak menahan ketakutan.
”Hah? Berhentilah meracau. Aku akan memastikannya dengan mata kepalaku sendiri.”
Raja Adjong—penguasa absolut yang baru menduduki takhta Kerajaan Api. Pria menakutkan itu telah menembus alam kultivasi puncak, mencapai tingkat Dewa Bintang Tingkat Tiga. Eksistensinya diperkuat dengan pendaran Segel Bintang berwarna biru safir yang berurat akar di punggung tangannya.
Didampingi Gayus yang masih gemetar, Raja Adjong berjalan menuruni ribuan anak tangga menuju ruang rahasia paling bawah. Begitu pintu baja raksasa dihadapannya terbuka, langkah sang Raja seketika terhenti.
Di pusat arena lava di depan mereka, sang Naga Api purba yang menjadi senjata pamungkas kerajaan telah menghilang. Sebagai gantinya, makhluk legendaris itu telah menyusut dan bermetamorfosis menjadi sebuah telur kristal raksasa yang transparan. Telur magis itu berdenyut pelan, memancarkan pendaran cahaya kehidupan yang hangat dalam keheningan ruang bawah tanah.
”Sejak unit penyidik kami turun untuk memadamkan api, wujudnya sudah menyusut menjadi seperti ini, Yang Mulia,” lapor Gayus dengan sangat berhati-hati agar tak memancing murka sang penguasa.
”Keajaiban ini…” Raja Adjong melangkah maju, matanya terpaku pada embrio naga di dalam telur. “Sepertinya ini adalah mukjizat proses evolusi mutlak dari ras Monster Bintang.” Ia memutar tubuhnya perlahan menatap barisan bawahannya. “Lalu, bagaimana dengan status tahanan incaran yang kutitipkan di blok khusus itu?”
Seorang komandan elit melangkah maju, menunduk hormat. “Mereka… mereka telah tewas tercabik dan dimangsa oleh amukan Monster Bintang Harimau Putih, Yang Mulia,” lapornya.
”Apa yang kau katakan?! Kau benar-benar yakin dengan kesimpulan bodohmu itu?!” bentak Raja Adjong, aura biru dari Segel Bintangnya meledak menerpa wajah para prajurit.
”A-aku mempertaruhkan nyawaku untuk kebenaran informasi itu, Yang Mulia. Regu kami menemukan bukti sisa pembantaiannya,” jawab prajurit itu ketakutan sembari menyerahkan nampan perak berisi potongan kain lusuh yang bersimbah darah—pakaian asli milik ibu Fubao yang sengaja ditinggalkan Ken.
Raja Adjong meraih potongan kain berdarah itu. Matanya memancarkan kegelapan yang tak teraba, menatap kain itu selama berjam-jam seolah menembus jiwa masa lalu. Cengkeramannya menguat hingga buku-buku jarinya memutih, seirama dengan napasnya yang semakin berat dan liar.
Inilah karma kalian… karena kalian terus-menerus menolak tunduk pada kekuasaanku, batin sang tiran dengan senyum sosiopat yang samar.
”Kerahkan seluruh anjing pelacak yang kita miliki,” perintah Raja Adjong, suaranya kembali sedingin gletser. “Sisir setiap jengkal benua ini. Cari dan seret kembali sisa tahanan yang melarikan diri… dan buru monster-monster pengkhianat itu hidup atau mati.”



