Bab 9

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Ultimatum Berdarah

​Sinar mentari pagi menyusup menembus celah jendela kayu, menghangatkan wajah Fubao. Remaja itu perlahan membuka kelopak matanya. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa punggungnya tidak lagi bersentuhan dengan lantai batu penjara yang sedingin es, melainkan di atas sebuah kasur yang empuk. Ia menoleh dengan cepat dan mendapati ibu serta adik perempuannya masih tertidur pulas dengan wajah damai di ruangan yang sama.

​Ia bangkit tanpa suara, lalu bergegas melangkah keluar dari rumah kayu sederhana itu. Matanya menyapu sekeliling, memastikan pemandangan di hadapannya. Penduduk berlalu-lalang dengan tenang, udara terasa bersih, dan tidak ada jeritan penyiksaan. Ia benar-benar berada di tempat yang aman. Begitu menyadari mereka telah mendarat di Desa Siama, Fubao kembali ke dalam dan menyentuh bahu ibunya dengan lembut.

​”Ibu… bangunlah. Kita sudah berada di Desa Siama,” bisik Fubao dengan suara bergetar menahan haru.

​Sang ibu membuka mata perlahan, mengerjap menyesuaikan cahaya. “B-benarkah, Nak?” tanyanya sungkan, seakan takut ini hanyalah mimpi indah di tengah siksaan.

​”Benar, Bu! Tenang saja, di sini kita sangat aman,” ucap Fubao seraya tersenyum lebar, senyum yang sudah bertahun-tahun lenyap dari wajahnya.

​Wanita paruh baya itu bangkit dan menatap sekeliling ruangan yang rapi. “Ini… rumah milik siapa, Nak?”

​”Aku juga tidak tahu pasti, Bu. Aku akan pergi menanyakannya pada Guru,” jawab Fubao sembari merapikan pakaiannya, bersiap-siap untuk pergi. “Ibu istirahatlah dulu, aku keluar sebentar.”

​Baru saja Fubao memutar tubuh, ruang di hadapannya beriak pelan. Sosok berjubah hitam pekat yang ia temui tadi malam bermanifestasi dari ketiadaan, berdiri tanpa suara.

​”Aku datang untuk menyerahkan ini,” ucap sosok berjubah itu dengan nada datar, menyodorkan beberapa setel pakaian bersih dan hangat.

​”Tuan juga menitipkan pesan; rumah ini kini menjadi milik kalian. Dan segala sesuatu yang tersimpan di dalam Cincin Ruangmu… bebas kau gunakan untuk keperluanmu,” lanjut bayangan itu. Sebelum Fubao sempat menjawab, sosok tersebut kembali melebur ke dalam udara dan menghilang tak berbekas.

​Fubao menerimanya dengan takjub. “Baiklah… terima kasih,” gumamnya pada udara kosong.

​Ia menoleh kembali pada ibunya dengan mata berbinar. “Ibu! Ibu dengar sendiri, kan? Rumah ini telah diberikan untuk kita! Kita akhirnya memiliki tempat tinggal!” ucapnya tersenyum bahagia.

​Sang ibu mengusap air mata yang menitik. “Iya, Nak… Kebaikan Tuan Ken seluas samudra. Kau jangan pernah lupa untuk berterima kasih dan mengabdi dengan segenap nyawamu pada gurumu, ya?” pesannya dengan suara lembut namun tegas.

​”Tentu saja, Bu! Aku tak akan pernah melupakannya,” jawab Fubao seraya tersenyum.

Segala yang ada di Cincin Ruang bisa kugunakan? batin Fubao, teringat pesan dari sang guru. Penasaran, ia memusatkan energi pikirannya ke dalam dimensi cincin perak di jarinya.

​Mata Fubao sontak membulat sempurna. Hah!… Apa ini?! Ada beberapa keping emas murni di dalamnya?! Wahhh… Terima kasih banyak, Guru! batinnya menjerit kegirangan, menyadari kekayaan kecil yang diam-diam disisipkan Ken untuk menyokong kehidupan keluarganya.

​”Ibu, kalau begitu aku pergi keluar untuk membeli makanan enak dulu!” pamit Fubao penuh semangat.

​”Ya, berhati-hatilah, Nak,” pesan ibunya, menatap kepergian putranya dengan kelegaan yang tak terlukiskan.

​Sementara itu, ratusan li dari sana, di dalam ibu kota Kerajaan Langit.

​Di ruang singgasana, Raja Zi yang memancarkan aura kebijaksanaan dan beban masa lalu menatap jenderal kepercayaannya. Ia baru saja menitahkan sebuah perintah yang memicu perdebatan sengit.

​”Akara, persiapkan dirimu. Kita akan segera berangkat menuju Aliansi Siama hari ini juga,” ucap Raja Zi tak terbantahkan.

​Jenderal Akara tersentak dari posisinya. “Hah?! Maksud Anda… kelompok pemberontak yang dipimpin oleh pemuda misterius itu, Yang Mulia?” tanyanya tak percaya.

​”Ya… benar. Kita akan pergi menemuinya langsung,” jelas Raja Zi, matanya menerawang jauh.

​”Untuk apa, Tuan?! Anda adalah Raja Tertinggi dari Kerajaan Langit! Tidak sepantasnya seorang Raja merendahkan martabat dengan mendatangi markas kelompok kecil seperti itu!” protes Jenderal Akara keras, berusaha mengingatkan batasan protokol kerajaan.

​Raja Zi memicingkan matanya. Aura seorang penguasa meledak dan menekan udara di sekitar Jenderal Akara. “Akara… aku memanggilmu kemari bukan untuk berdiskusi, melainkan untuk memberikan titah. Aku memerintahkanmu untuk mengawalku ke Aliansi Siama. Sekarang.”

​Merasakan tekanan absolut itu, Jenderal Akara seketika membeku. Ia segera menyadari kelancangannya. “B-baik, Yang Mulia,” Jenderal Akara menunduk dalam-dalam.

​Tak lama setelah itu, Raja Zi dan Jenderal Akara bertolak menembus awan menuju Aliansi Siama. Di dalam hati Raja Zi, rasa penasaran yang teramat besar terhadap desas-desus mengenai Ken membakar hatinya. Di sisi lain, Jenderal Akara hanya bisa mengawal dengan wajah keras, memendam berat hati karena harus mengabaikan harga diri kerajaan.

​Di waktu yang sama, di dalam Aula Utama Aliansi Siama.

​Para ketua divisi dan tetua faksi telah berkumpul menghadap Ken. Wajah mereka menyiratkan kekhawatiran terkait masalah logistik. Rumor tentang Aliansi Siama sebagai surga perlindungan yang mampu menghancurkan Panglima Kerajaan Langit telah menyebar ke segala penjuru benua. Dampaknya, arus pengungsi yang melarikan diri dari perbudakan terus mengalir deras tak terbendung membanjiri perbatasan desa.

​”Salam, Tuan Pemimpin!” seru seluruh petinggi serempak sembari menunduk hormat.

​”Tuan, ada beberapa krisis internal yang harus segera kami diskusikan dengan Anda,” ucap Ketua Darma membuka laporan.

​”Silakan, Paman. Katakan saja,” jawab Ken yang duduk bersandar santai di singgasananya.

​”Jumlah penduduk desa kita terus bertambah secara masif setiap harinya, Tuan,” lapor Ketua Darma dengan dahi berkerut.

​”Itu perkembangan yang bagus, Paman. Bukankah mengumpulkan mereka yang butuh perlindungan adalah tujuan awal kita?” tanggap Ken datar.

​”Benar, Tuan… Tapi daya tampung lahan kita sudah mencapai batas absolut. Kita tidak lagi memiliki ruang kosong untuk mendirikan rumah, terlebih lagi lahan gembur untuk menunjang sektor pertanian,” keluh Ketua Darma membeberkan realitas.

​”Selain masalah lahan, apa lagi yang menjadi kendala?” tanya Ken, terus mengumpulkan informasi tanpa sedikit pun raut kepanikan.

​”Selama beberapa hari terakhir, para penjaga perbatasan menyadari ada banyak bayangan mata-mata tak dikenal yang mengawasi desa ini dari luar radius kubah pelindung, Tuan,” lanjut Darma. “Kurasa hanya dua hal itu yang sangat mendesak untuk dituntaskan.”

​Ken mengetuk sandaran kursinya secara ritmis. “Baik, Paman. Untuk krisis wilayah… aku dan Asikin sebenarnya sudah mempersiapkan sebuah dimensi lahan baru yang seratus kali lipat lebih besar dan jauh lebih subur dari desa ini,” ungkap Ken membongkar kartu rahasianya. “Secepatnya, aku akan memindahkan seluruh infrastruktur dan penduduk desa ke sana.”

​Mata Ketua Darma dan para tetua melebar. Sebuah wilayah seratus kali lebih besar?!

​”Dan untuk masalah para pengintai di luar sana… kalian tidak perlu membuang pikiran untuk mencemaskan mereka. Percayalah, tak satu pun dari anjing-anjing itu yang akan bernapas cukup lama untuk melapor kembali kepada majikannya,” tambah Ken dingin, menyiratkan pembantaian senyap yang telah ia perintahkan.

​”Hah!… B-baik, Tuan,” jawab Ketua Darma menelan ludah, terkejut namun sangat lega mendengar dua solusi absolut dari pemimpinnya. “Karena semua masalah krusial telah terpecahkan, kami memohon undur diri untuk kembali bertugas, Tuan.”

​”Silakan, Paman,” angguk Ken.

​Namun, baru saja Ketua Darma dan jajarannya melangkah keluar dari aula untuk melanjutkan aktivitas, sebuah kehebohan besar terjadi di gerbang utama desa. Dua sosok dengan tekanan aura yang menakutkan telah mendarat. Raja Zi dan Jenderal Akara datang berkunjung.

​Ketua Darma yang mengenali identitas tamu agung itu segera berlari menyambut dengan dada berdebar.

​”S-selamat datang, Yang Mulia Raja,” sapa Ketua Darma, membungkuk serendah mungkin untuk memberi hormat.

​Raja Zi membalas dengan anggukan berwibawa. “Apakah aku diizinkan untuk masuk dan bertemu dengan pemimpin faksi kalian, Darma?”

​”Te-tentu saja, Yang Mulia,” jawab Ketua Darma dengan suara sedikit gugup. Ia tidak menyangka desa kecilnya akan didatangi penguasa tertinggi. “Silakan ikuti hamba, Tuan,” lanjutnya, membuka jalan dan memandu Raja Zi melintasi jalanan desa menuju aula utama.

​Sepanjang perjalanan, mata tua Raja Zi mengamati setiap sudut dengan saksama. “Desa kalian ini sudah terlihat sangat padat. Kenapa kalian tidak memperluas batas perimeternya, Darma?” tanyanya.

​”Untuk masalah itu, kami baru saja mendiskusikannya dengan Sang Pemimpin, Yang Mulia,” jawab Ketua Darma sopan.

​Raja Zi terus memperhatikan interaksi warga. “Orang-orang di desa ini terlihat bergerak tanpa beban. Mereka sepertinya hidup dengan kebahagiaan yang nyata,” ucap Raja Zi, tersenyum hangat melihat anak-anak kecil berlarian tanpa rasa takut. “Terima kasih, Darma. Kalian pasti telah berusaha sangat keras untuk menciptakan tempat seaman ini.”

​”Emmm… hamba dan para penjaga hanya menyumbang sedikit tenaga, Yang Mulia,” jawab Darma merendah. “Selebihnya… fondasi nyawa semua orang di sini bergantung penuh pada Sang Pemimpin. Beliau mem-backup dan menyediakan hampir seluruh kebutuhan hidup para penduduk desa seorang diri,” terangnya penuh kebanggaan.

​Raja Zi mengangkat alisnya takjub. “Benarkah? Kalau begitu, pemimpin misterius kalian ini memang seorang dermawan yang luar biasa. Aku menjadi semakin terkesan padanya, Hahaha!” ungkap Raja Zi seraya tertawa ringan.

​”Memang begitulah kenyataannya, Yang Mulia,” jawab Ketua Darma. Langkah mereka akhirnya terhenti di depan struktur kayu terbesar. “Yang Mulia… kita telah tiba. Ini adalah Aula Utama kami. Pemimpin sedang menanti di dalam, silakan masuk.”

​Darma membukakan pintu, lalu melangkah mendahului Raja Zi untuk memberi pengumuman. “Tuan Ken, Yang Mulia Raja Zi dari Kerajaan Langit berkenan untuk bertemu dengan Anda.”

​Dari atas singgasana, Ken menatap lurus ke arah tamu agungnya. Matanya menyipit dingin. “Ya… Paman Darma, kau boleh meninggalkan kami sekarang,” titahnya dengan nada yang sulit ditebak.

​Ketua Darma paham bahwa ada rahasia di udara yang tak boleh ia dengar. “Sesuai perintah, Tuan,” ucapnya, lalu melangkah keluar dan menutup pintu ganda itu rapat-rapat.

​Begitu mereka tinggal bertiga di dalam aula, Raja Zi mengangkat tongkatnya. Sebuah riak energi menyebar dengan cepat, menciptakan Formasi Pembatas Ruang kedap suara tingkat tinggi, memastikan tak sehelai daun pun di luar sana bisa menguping pembicaraan mereka.

​Melihat tindakan protektif itu, Ken tidak berdiri untuk memberi hormat. Ia tetap duduk bersandar dan berkata dengan nada yang sangat tajam, “Ada urusan apa seorang kakek tua sepertimu repot-repot turun gunung mencariku?”

​Mendengar penghinaan kasar itu, urat di leher Jenderal Akara seketika menonjol. “Anak muda! Perbaiki ucapan lancangmu di hadapan Raja!” ancam Jenderal Akara, auranya meledak tersulut emosi.

​”Hahaha…” Ken tertawa meremehkan, matanya menatap tajam bagai belati. “Ada apa, Jenderal? Apa kau masih penasaran dan ingin melanjutkan pertarungan kita yang tertunda waktu itu?” tantang Ken, terang-terangan memprovokasi.

​”Jika tempo hari kau tidak bersembunyi di balik ketiak gurumu yang kebetulan memiliki kekuatan dewa, aku pasti sudah memenggal kepalamu untuk memberimu pelajaran tentang tata krama!” geram Jenderal Akara, tinjunya terkepal erat.

​Senyum miring penuh ejekan tersungging di sudut bibir Ken. Ia tertawa pelan, tawanya menggemakan aura intimidasi yang menekan. “Bersembunyi? Hah! Hahaha… Kalian berdua benar-benar sudah menjadi relik tua yang buta dan tak berguna,” caci Ken tanpa ampun.

​Hinaan itu adalah batas akhir kesabaran sang Jenderal. “Lancang! Kau terlalu sombong, Bocah! Hari ini, meskipun gurumu itu turun dari langit untuk membantumu, aku tidak akan melepaskan nyawamu!” bentak Jenderal Akara. Napasnya memburu, energi kultivasinya memuncak siap untuk melancarkan serangan mematikan.

​Di tengah ketegangan yang siap meledak itu, Raja Zi justru tersenyum kecil. Ia meletakkan tangannya di pundak sang jenderal.

​”Akara… apakah kau benar-benar ingin membunuh Aruk kecilmu?” celetuk Raja Zi pelan, namun efeknya bagai petir yang menyambar di siang bolong.

​Serangan Jenderal Akara terhenti di udara. “A-Aruk…?” Matanya membelalak sempurna, pupilnya bergetar hebat. Ia terhuyung mundur selangkah, seolah dadanya baru saja dihantam palu raksasa.

​”Tidakkah kau merasakannya sedari awal, Akara?” ujar Raja Zi, membenarkan tebakan gila yang merasuki pikirannya sejak awal.

​Seketika, kepingan memori masa lalu menghantam benak sang jenderal.

‘Paman Akara! Apakah suatu hari nanti aku bisa menjadi sangat kuat seperti Ayah dan Paman?’ Suara tawa seorang bocah lugu menggema di ingatannya.

‘Hahaha! Ya… tentu saja! Suatu saat nanti, kau pasti akan tumbuh jauh lebih kuat dari kami berdua, Pangeran Kecil,’ batin Jenderal Akara di masa lalu.

​Lutut Jenderal Akara lemas. Wajah kerasnya runtuh seketika. “Ma-maafkan hamba, Pangeran!…” Jenderal Akara menjatuhkan dirinya ke lantai, berlutut sambil mencengkeram dadanya yang terasa sesak oleh penyesalan yang teramat dalam.

​Dari atas singgasana, Ken perlahan bangkit berdiri. Raut wajahnya membeku. Ia memalingkan wajah, berjalan memunggungi mereka dan menatap keluar melalui celah jendela. “Pangeran? … Siapa bayangan masa lalu yang sedang kalian bicarakan?” sangkal Ken, suaranya sedingin es.

​”Aruk… Kau mungkin bisa menggunakan teknik ilusi untuk membohongi mata dunia, tapi kau tak akan pernah bisa membohongi ikatan darah kakekmu sendiri, Nak,” ucap Raja Zi dengan suara parau yang dipenuhi kerinduan.

​”Orang yang kau sebutkan itu mungkin saja sudah mati dicabik-cabik monster, Kakek Tua. Anak itu tidak ada hubungannya denganku,” desis Ken, masih menolak berbalik.

​Raja Zi menunduk sedih, memahami dinding pertahanan cucunya. “Baiklah… Jika kau memang tak ingin mengakuinya hari ini, tidak apa-apa. Tapi setidaknya, diamlah sejenak dan dengarkan kesaksianku.”

​”Omong kosong apa lagi yang perlu kudengar dari orang yang gagal melindungi keluarganya sendiri sepertimu?” cibir Ken keras, berusaha mati-matian menghindar agar emosinya tak runtuh.

​”Ini tentang cucuku yang malang… Tentang adik perempuanmu… Siana,” ucap Raja Zi, suaranya bergetar menahan tangis.

​Mendengar nama suci itu disebut, pertahanan Ken hancur berkeping-keping. Udara di sekitarnya bergejolak hebat. Ia memutar tubuhnya dengan kasar. “Hah!… Apa yang terjadi padanya?!” desak Ken, tatapannya menyala menuntut penjelasan dari Raja Zi.

​Mata tua Raja Zi berkaca-kaca. Ia menatap wajah Ken lekat-lekat dan mulai membongkar sejarah berdarah itu. “Malam itu… Aku dan Akara terlambat menembus kepungan untuk menyelamatkan kalian. Saat kami tiba di lokasi pembantaian, aku hanya menemukan lengan kirimu yang putus bersimbah darah. Semua penjaga telah mati, dan kami mengira jasadmu serta Siana telah diseret dan dimangsa sepenuhnya oleh Monster Bintang liar,” kisah Raja Zi, suaranya merendah diseret oleh duka.

​Ken mematung, mendengarkan setiap detail penderitaannya diulang kembali.

​”Namun… beberapa waktu kemudian, jaringan pengintaiku membawa kabar bahwa Siana dibawa pergi oleh Raja Lewa dan rombongan eksekutornya,” lanjut Raja Zi. “Tanpa ragu, aku segera memimpin penyerangan menuju Kerajaan Api. Dalam pertempuran itu, Raja Bawigan dari Kerajaan Es dan Raja Hang dari Kerajaan Air—yang merupakan saudara angkat mendiang ayahmu—turut datang membantu membalas dendam. Awalnya, aliansi kami berhasil mendesak mereka…”

​Raja Zi menarik napas berat. “…Namun, tepat di saat kami hampir membunuh Lewa, dua sosok misterius dengan kekuatan absolut turun dari langit untuk melindungi Kerajaan Api. Kami dibantai mundur dengan luka yang sangat parah.”

​”Lalu bagaimana dengan Siana?!” potong Ken. “Jadi Siana masih berada di tangan mereka? Apakah dia masih hidup?!”

​Raja Zi menatap mata cucunya yang penuh harap, lalu menjatuhkan vonis yang kejam. “Di tengah kekacauan itu, aku berhasil merebutnya kembali. Namun saat Raja Lewa membawanya, tubuh kecilnya… dia memang sudah mati, Nak. Kerajaan Api telah membunuhnya dan hanya ingin memanfaatkan jasadnya untuk mengekstrak dan meneliti garis darah kekuatan Giant Gold kita.”

​”Apa…?!” Tangan Ken bergetar hebat. Jantungnya seakan diremas oleh tangan tak kasat mata. Tanpa bisa ditahan, setetes air mata panas lolos dari sudut matanya, jatuh mengalir membasahi pipinya yang menegang.

​Raja Zi menelan ludah, melanjutkan pengakuannya yang paling menyakitkan. “Saat membawanya kembali… aku mengerahkan segala cara untuk menyelamatkan sisa percikan jiwanya. Karena raga manusianya tak lagi bisa diselamatkan, aku memutuskan untuk mengambil risiko menggunakan teknik terlarang tingkat dewa. Aku memindahkan dan menggabungkan jiwanya ke dalam ‘Fosil Naga Langit Kuno’ pusaka rahasia milik kerajaan kita.”

​”Hah!… Kakek menguasai teknik terlarang itu?!” Ken terperanjat dari dukanya. “Lalu apa yang terjadi setelah jiwanya dipindahkan?!”

​”Ya… dengan mengorbankan sebagian besar esensi kehidupanku, aku berhasil membangunkan naga purba itu dengan jiwa adikmu di dalamnya,” terang Raja Zi. “Namun… usahaku sia-sia. Beberapa hari setelah kebangkitannya, mata-mata Kerajaan Api mengendus keberadaan pusaka itu. Mereka merangsek masuk dan… kembali merebutnya dari tanganku.” Kepala sang raja tertunduk, dihiasi rasa malu dan penyesalan tak berujung.

Jadi… insiden pemindahan jiwa itu dan serangan susulan itulah yang menyebabkan fondasi kekuatan kakek tua ini merosot tajam menjadi selemah sekarang, batin Ken, akhirnya merangkai teka-teki kemunduran Kerajaan Langit.

​”Di saat serangan kedua itu, level kekuatanku sudah anjlok drastis ke tingkat raja biasa. Meski dibantu oleh Paman Lukahmu dan Akara, dinding pertahanan kami hancur lebur seperti kertas…” ratap Raja Zi. Suaranya dipenuhi dendam. “Semua itu karena Kerajaan Api kembali mengutus dua entitas iblis itu untuk merampasnya! Kekuatan mereka berada di dimensi yang berbeda, Nak… Mereka telah menyentuh batas alam God King Bintang 1, dengan ukiran sepuluh Segel Bintang Emas murni yang melingkar di lengan mereka!”

​Mendengar skala kekuatan musuh yang tak terbayangkan, Ken terdiam membeku, otaknya berputar cepat memproses informasi itu. Kemudian, sebuah pertanyaan gelap yang selama ini mengganjal menyelinap dari bibirnya. “Malam pembantaian itu… Apakah Kakek sebenarnya sudah tahu bahwa mereka akan mendatangi desa tempat keluargaku bersembunyi?” tanya Ken serius. Ia kembali mengepalkan tangannya kuat-kuat, air matanya tak henti mengalir.

​Raja Zi tersentak. Rasa bersalah menghantam nuraninya, dan ia tak bisa lagi bersembunyi di balik kebohongannya. “Ya… aku mengetahuinya,” akunya dengan suara hancur. “Tapi saat itu, para bajingan itu bersumpah padaku bahwa mereka hanya ingin bernegosiasi dan tak akan melukai sehelai rambut pun dari keluarga kerajaan! Namun, mereka memanipulasiku. Mereka mengkhianati kesepakatan itu!”

​Raja Zi menatap Ken dengan putus asa. “Jadi… jika kau memang sangat membenciku, lampiaskanlah, Cucuku. Berteriaklah padaku! Sebagai seorang penguasa benua, sebagai seorang ayah kandung, dan sebagai kakekmu… aku memang sampah yang tak berguna. Aku tak memiliki kekuatan untuk melindungi kalian di saat terpenting!” Bahu pria tua yang menjadi raja benua itu bergetar hebat saat tangisnya pecah merutuki kelemahannya sendiri.

​Jenderal Akara yang masih berlutut tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia menempelkan dahinya ke lantai kayu. “Hukum mati hamba, Pangeran! Ketika kita bertatap muka tempo hari, hamba tidak mengenali darah daging junjungan hamba sendiri dan malah berniat membunuh Anda… Maafkan kecacatan mata hamba!” ratap sang jenderal mengemis ampunan.

​Ken memejamkan matanya erat-erat, menekan badai kebencian yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia menarik napas panjang, mencoba berdamai dengan takdir.

​”Membencimu hingga kiamat pun tidak akan pernah bisa memutar waktu dan mengembalikan nyawa keluargaku, Kakek,” ucap Ken mutlak, nada suaranya berubah menjadi jauh lebih dewasa, memahami intrik menjijikkan politik dunia kultivasi.

​Ia kemudian menatap jenderal yang bersimpuh di kakinya. “Bangunlah dari lantai, Paman Akara. Hentikan tangisan konyolmu itu.”

​Meski di sudut hatinya Ken mulai memaafkan kekhilafan dan ketidakberdayaan kakeknya, kebenciannya terhadap Kerajaan Api kini mendidih melampaui batas kewarasan.

​”Katakan padaku… Apakah Kakek berhasil menggali identitas siapa sebenarnya dua God King Bintang 1 yang melindungi Kerajaan Api itu?” selidik Ken, matanya memancarkan niat membunuh yang pekat.

​”Setelah bajingan-bajingan itu membawa pergi jiwa Siana bersama pusaka Naga, aku harus mengurung diri untuk menjalani kultivasi tertutup demi menyambung nyawaku yang sekarat,” terang Raja Zi, mengusap jejak air matanya. “Hingga detik ini pun, auraku tak pernah kembali pulih. Karenanya, jaringan intelijenku lumpuh dan aku tak pernah menemukan secuil pun identitas mengenai dua iblis itu. Bahkan Pamanmu yang naik takhta menggantikanku juga menemui jalan buntu.”

Jadi selain 10 komandan iblis yang biasa mereka banggakan, Kerajaan Api masih menyembunyikan monster legendaris di balik layar, analisis Ken dalam hati. Ia menatap Raja Zi. “Jika kerajaan tak mampu, maka biarkan aku yang turun tangan mencari tahu identitas mereka sendiri,” ucap Ken dengan kepastian baja. “Lalu, apa yang Kerajaan Api lakukan pada Naga Kuno tempat jiwa Siana bersemayam, Kakek?”

​Raja Zi terdiam sesaat, seolah kata-kata yang akan ia ucapkan adalah duri yang menyangkut di tenggorokannya. “Raja Lewa yang keji itu… ia tidak menghancurkannya. Ia menjadikan roh naga—jiwa Siana—sebagai wadah untuk memadatkan Segel Bintang Keduanya. Penyerapan absolut itu membuat Lewa secara abnormal memiliki dua set Segel Bintang dalam satu tubuh. Kekuatan tempurnya saat ini telah menembus batas kewajaran dan menempatkannya jauh di atas kekuatan gabungan lima raja benua lainnya.”

Keparat kau, Lewa! Aku bersumpah demi langit dan bumi, aku tidak akan pernah melepaskan nyawamu dan akan merobek jantungmu dengan tanganku sendiri! raung Ken dalam batinnya, aura membunuh Giant Gold sedikit bocor dari tubuhnya.

​”Aruk… pulanglah kemari. Kembalilah bersamaku,” pinta Raja Zi dengan tatapan memohon. “Kau bisa memboyong seluruh pasukan dan penduduk Aliansi Siama-mu. Kembalilah ke ibu kota dan naiklah menjadi Raja Tertinggi Kerajaan Langit!”

​”Itu permintaan yang mustahil. Tak ada sedikit pun minat di hatiku untuk duduk di atas singgasana berdarah,” tolak Ken mentah-mentah, melangkah mendekati kakeknya.

​”Hah! Mengapa kau menolak, Nak?! Pamanmu pasti akan sangat bersuka cita menyerahkan mahkota itu demi menyambut kepulanganmu!” bujuk Zi, masih berharap bisa merangkul kembali cucunya.

​”Masih terlalu banyak lautan darah yang harus kuseberangi, dan masih banyak urusan yang harus kuselesaikan dengan caraku sendiri,” tegas Ken, menolak segala privilese kerajaan. “Aku hanya meminta Kakek mengunci rapat-rapat rahasia tentang identitas asliku hari ini. Anggap saja percakapan ini tak pernah terjadi.” Ken menatap tajam langsung ke mata kakeknya. “Satu hal lagi. Pangeran Aruk yang kau kenal telah mati dikoyak monster di malam pembantaian itu. Pria yang berdiri di hadapanmu sekarang, dan selamanya, adalah Ken.”

​Raja Zi tertegun mendengar proklamasi itu. “Hah!… Apakah… apakah jalan yang kau pilih ini demi membalas dendam secara langsung pada Kerajaan Api?” tebaknya cemas.

​”Tentu saja. Aku akan menjadi mimpi buruk yang melahap mereka hidup-hidup. Aku tidak akan melepaskan satu pun nyawa yang terlibat,” jawab Ken dengan senyum sosiopat yang membuat darah berdesir.

​”Jangan gegabah, Nak…” Raja Zi menghela napas panjang, bayangan kematian masa lalu kembali menghantuinya. “Kehilangan kalian dengan cara yang begitu tragis telah menghancurkan kewarasanku selama bertahun-tahun. Melihatmu masih bernapas dan berdiri sekuat ini sekarang… aku memohon padamu, jangan lagi mengambil risiko bunuh diri itu, Cucuku.”

​”Kakek… satu-satunya bara api yang membuat jantungku tetap berdetak adalah sumpah untuk memusnahkan eksistensi mereka dari dunia ini!” geram Ken, amarahnya meluap membungkam bujukan kakeknya. “Jadi, dewa mana pun yang mencoba menghalangiku, aku tak akan pernah mundur selangkah pun!”

​”Namun kau harus realistis! Meski kau memiliki kekuatan anomali, dan sekalipun kau dibantu oleh gurumu yang misterius itu… kalian berdua tidak akan pernah sanggup menahan murka dari sosok level God King Bintang Emas!” desak Raja Zi, kepanikan dan kasih sayang seorang kakek menguasai suaranya.

​”Kekuatan, katamu?” Ken tersenyum tipis meremehkan, lalu membungkuk dan membisikkan sebuah rahasia dimensi kultivasinya yang membuat mata kakeknya terbelalak tak percaya.

​”…Jadi, menyingkirlah dan berhenti mengkhawatirkanku. Mulai sekarang, biarkan aku yang mengambil alih kemudi dan mengurus nyawa mereka semua, Kakek!” pungkas Ken.

​Raja Zi yang tadinya sangat protektif, kini terbungkam oleh realitas mengerikan dari rahasia yang baru saja ia dengar. Meskipun akal sehatnya menolak takdir balas dendam Ken, ia menyadari tekad cucunya sama kerasnya dengan baja kosmik. Tak ada gunanya menahan naga yang telah memutuskan untuk mengamuk.

​”Baiklah… jika itu memang jalan pedang yang kau pilih,” ucap Raja Zi dengan senyum pasrah yang memancarkan kebanggaan mendalam. “…Melihat api di matamu membuatku teringat pada arogansi masa mudaku dulu, Hahaha,” tambahnya sambil tertawa lirih.

​Raja Zi memutar tubuhnya, bersiap pergi. “Kalau begitu, Kakek dan Paman Akara akan kembali ke ibu kota. Ingatlah satu hal: selalu tidurlah dengan satu mata terbuka, Nak.”

​”Hamba mohon pamit, Pangeran. Nyawa hamba akan selalu menanti titah Anda,” ucap Jenderal Akara sembari menunduk sangat dalam sebelum menyusul rajanya.

​Raja Zi dan Jenderal Akara pun melangkah pergi, membawa pulang kelegaan sekaligus beban rahasia raksasa mengenai keberadaan Aruk di Aliansi Siama.

​Begitu pintu aula tertutup rapat, Ken tak membuang waktu.

​”Kau mendengarnya? Sebarkan jaring pengintaimu dan kumpulkan setiap debu informasi mengenai identitas dua entitas God King Bintang 1 yang dimaksud kakekku,” perintah Ken ke arah udara kosong di sebelahnya.

​Sosok berjubah hitam itu bermanifestasi di sampingnya, menunduk hormat mengabdi pada titah bayangan, lalu lenyap mengeksekusi misi.

​Ken kembali menatap keluar jendela, memandang langit utara yang tertutup awan bersalju. Mungkin… sudah saatnya aku bergerak mencarinya terlebih dahulu sebelum mengeksekusi Kerajaan Api, batin Ken, pikirannya melayang menembus ruang dan waktu.

‘Putri Es… kenapa kamu memanggilku dengan nama aneh seperti itu?’ Sebuah memori suara gadis kecil yang murni dan polos menggema dari dasar ingatannya.

‘Habisnya… aku rasa kekuatan dan auramu itu menunjukkan bahwa kau pasti seorang putri pelarian dari Kerajaan Es. Jadi, selama otakmu masih belum bisa mengingat nama aslimu, aku akan terus memanggilmu Putri Es!’ jawab Ken kecil di masa lalu dengan tawa ceria.

‘Emmm… Baiklah kalau kau memaksa. Sebenarnya… aku cukup suka dengan panggilan itu,’ ungkap sang gadis cilik dalam ingatan manis yang kini terasa begitu menyakitkan.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!