Bab 10

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Desa Siama

​Cahaya fajar menyingsing, membawa janji baru bagi Aliansi Siama. Memenuhi janjinya pada Ketua Darma, hari ini Ken bersiap memindahkan ribuan jiwa yang mencari suaka ke sebuah dimensi perlindungan yang jauh lebih luas, subur, dan tak tersentuh oleh kejamnya dunia luar.

​Ketua Darma telah mengerahkan seluruh komandan untuk mengatur barisan para pengungsi. “Tuan, seluruh penduduk telah berkumpul dan barisan telah siap,” lapor Ketua Darma sembari menunduk hormat saat Ken melangkah keluar dari pilar aula utama.

​Ken mengangguk pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, dan sebuah pusaran energi keemasan yang berputar statis—sebuah gerbang dimensi—terbuka lebar membelah pelataran desa.

​”Baiklah…” Ken menatap lautan manusia di hadapannya. “Pusaran portal di sebelah sana adalah gerbang menuju wilayah baru kita. Melangkahlah masuk tanpa ragu,” terang Ken dengan suara yang mengalun tenang namun menggema ke seluruh penjuru.

​Ia memutar pandangannya, menatap tegas para tetua. “Namun ingat, begitu kalian melangkah masuk ke dalam dimensi itu, tak ada satu pun yang bisa keluar tanpa izin dan segel akses mutlak dari penjaga. Paman Darma, aturlah penempatan mereka sesuai dengan cetak biru yang telah kuberikan tadi malam.”

​”Sesuai perintah Anda, Tuan,” jawab Ketua Darma menangkupkan tangan di depan dada.

​Sebelum pusaran itu menelan barisan pertama, Ken menoleh dan menatap tajam ke arah kedua muridnya yang berdiri tak jauh dari sana. “Asikin, setelah tugas harianmu merawat warga selesai, temui aku di gua rahasia itu. Bawa serta Fubao bersamamu,” titah Ken.

​”Baik, Guru,” jawab Asikin dan Fubao serempak, menunduk hormat mengiyakan perintah Sang Pemimpin.

​Portal dimensi ciptaan Ken itu bukanlah gerbang pembuangan, melainkan lorong penghubung menuju surga tersembunyi. Ke depannya, desa lama yang mereka tempati ini akan dialihfungsikan menjadi benteng militer garda depan; markas utama Aliansi Siama di mana hanya para pendekar inti yang berjaga. Sementara itu, dimensi baru di balik portal akan murni menjadi pemukiman sipil—sebuah utopia di mana orang-orang biasa dapat hidup, bercocok tanam, dan membesarkan anak-anak mereka tanpa dibayangi teror peperangan.

​Ketua Darma, Ketua Batara, dan Ketua Tu saling bahu-membahu mengarahkan ribuan penduduk desa untuk melintasi portal. Begitu barisan penduduk melangkah menembus tirai cahaya tersebut, napas mereka serempak tertahan.

​Mereka terpukau oleh lanskap hamparan lembah yang luar biasa asri. Udara di sana dipenuhi esensi spiritual yang murni. Kicauan burung surgawi, pepohonan purba yang rindang, dan aliran sungai sebening kristal menyambut kedatangan mereka, melengkapi keindahan alami yang belum pernah terjamah oleh kehancuran. Di sana, barisan rumah kayu yang kokoh telah berdiri rapi, menanti untuk dihuni.

Aku tidak pernah menyangka di dunia sekejam ini masih ada surga sedamai ini… batin Fubao, matanya berbinar mengamati sekeliling. Dengan tembok perlindungan yang mustahil ditembus ini, aku tidak perlu lagi hidup dalam teror mengkhawatirkan nyawa Ibu dan Adik. Sekarang, aku bisa memusatkan seluruh sisa nyawaku untuk berlatih dan menjadi pedang bagi Guru. Fubao mengepalkan tangannya, memantapkan tekad di dasar hatinya.

​Desa dimensi ini memiliki aturan mutlak: hanya mereka yang diukir dengan Segel Aliansi Siama yang bisa keluar masuk menembus gerbang. Untuk memastikan hukum berjalan lancar, Ken telah menunjuk Ketua Darma, Ketua Batara, dan Ketua Tu sebagai pilar penanggung jawab utama yang mengelola kesejahteraan desa baru tersebut.

​Matahari mulai merangkak naik saat Asikin selesai memeriksa pasien terakhirnya.

Baiklah, tugasku di klinik sudah tuntas. Ini waktunya memenuhi panggilan Guru, batin Asikin. Ia merapikan meja kerjanya dan bersiap menuju gua air terjun.

​Namun, saat ia melangkah melintasi deretan rumah baru, matanya menangkap sosok Fubao. Hah, kukira anak kaku itu sudah pergi mendahuluiku menemui Guru. Baiklah, kalau begitu aku akan mengajaknya pergi bersama, pikir Asikin seraya mengubah arah langkahnya.

​Begitu mendekat, Asikin baru menyadari pendaran segel kemerahan yang melingkar di punggung tangan kanan Fubao—segel formasi yang serupa dengan miliknya. Itu adalah bukti mutlak bahwa Fubao kini telah resmi menyandang gelar sebagai adik seperguruannya.

​”Hei, Kawan! Apa kau sedang sibuk?” sapa Asikin ceria, menepuk pelan bahu Fubao.

​”O-oh… Akhirnya kau lewat juga. Aku tidak sibuk, aku hanya sedang menata beberapa perabotan ini sembari menunggumu,” sahut Fubao, meletakkan kursi kayu di teras rumah barunya.

​”Me-menungguku?” Asikin mengerjap heran.

​”Ya, tentu saja… Bukankah Guru menitahkan kita untuk menemuinya secara bersamaan? Aku sama sekali tidak tahu letak gua yang Guru maksud, jadi aku sengaja bersiap di luar sini untuk mencegatmu,” terangnya dengan wajah polos.

​”Astaga, kau benar juga! Hehehe, maaf, aku lupa kalau kau belum tahu jalan rahasianya,” kekeh Asikin, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Baiklah kalau begitu, mari kita berangkat sekarang. Guru tidak suka dibuat menunggu terlalu lama.”

​”Ya, ayo,” angguk Fubao. Keduanya segera melesat membelah rimbunnya hutan.

​Sepanjang perjalanan menembus lebatnya pepohonan, Asikin mengambil peran sebagai kakak seperguruan yang baik. Ia menjelaskan letak geografis gua air terjun, serta mengajarkan Fubao cara memanipulasi energi pada segel di tangannya untuk menembus tabir pelindung.

​”Oh, ya ampun… Aku hampir melupakan bagian terpentingnya,” ucap Asikin tiba-tiba, menepuk dahinya sendiri. Ia menoleh ke arah Fubao dengan senyum lebar yang tulus. “Selamat karena telah lulus dan resmi menjadi murid Guru Ken! Aku sangat bangga padamu. Mulai sekarang, kuharap kita bisa saling menjaga punggung satu sama lain sebagai saudara seperguruan, Hehehe.”

​Fubao sedikit tersentak mendapat kehangatan yang tak terduga itu. “A-ah… Terima kasih banyak. Jujur saja, tanpa informasi yang kau berikan kemarin, aku mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan emas ini. Aku berutang budi padamu,” sahut Fubao, membalas senyum itu dengan kikuk.

​Gemuruh air yang menulikan telinga mulai terdengar. “Nah, kita sudah sampai. Ini adalah gua air terjunnya. Gunakan segelmu dan ayo kita masuk,” ajak Asikin setelah tiba di hadapan tirai air terjun raksasa.

​Sama persis seperti reaksi Asikin di hari pertamanya, Fubao seketika mematung takjub. Matanya membelalak mengagumi pilar-pilar batu berukir dan sisa-sisa peradaban kuno yang memenuhi interior gua rahasia tersebut. Sembari menyusuri lorong menuju ruang utama, Asikin menceritakan pengalamannya saat Ken membentuk Segel Ogomesh di dalam formasi kapsul kristal itu.

​Tak lama berselang, riak ruang bergetar di tengah ruangan. Sosok Ken melangkah keluar dari ketiadaan.

​”Asikin, Fubao,” sapa Ken memecah keheningan gua.

​”Salam hormat, Guru!” sahut mereka berdua serempak, berlutut satu kaki menyambut kedatangan sang master.

​”Berdirilah,” titah Ken dengan nada datar dan absolut. “Mulai hari ini, aku menetapkan gua kuno ini sebagai kawah candradimuka kalian. Di tempat inilah tulang kalian akan ditempa dan batas fana kalian dihancurkan.”

​”Sesuai perintah Anda, Guru!” jawab Asikin dan Fubao tanpa sedikit pun keraguan.

​Ken menatap murid pertamanya. “Asikin, kau tetaplah di ruangan utama ini. Atur dan tata ulang ruang alkemi serta perpustakaan kuno itu sesuai dengan kebutuhan belajarmu. Aku akan kembali menemuimu nanti.”

​”Siap, serahkan urusan ruangan ini padaku, Guru,” jawab Asikin sigap.

​Ken lalu beralih pada murid keduanya. “Fubao, ikutlah ke ruang isolasi bersamaku. Sudah saatnya menanamkan fondasi pertamamu. Aku akan mengisi kekosongan Segel Bintangmu dengan roh Monster Bintang hari ini.”

Hah! Akhirnya… detik yang kutunggu-tunggu tiba. Mulai hari ini aku akan melangkah ke dunia kultivator dan memiliki kekuatan tempur, batin Fubao. Jantungnya berdegup kencang, perpaduan antara eforia dan ketegangan yang menyesakkan dada.

​Ken berjalan mendahului, membawa Fubao menyusuri lorong gelap hingga tiba di sebuah ruang bawah tanah yang diselimuti hawa magmatis. Begitu pintu batu terbuka, suhu ekstrem langsung membakar kulit.

​Mata Fubao terbelalak memancarkan teror absolut. Kakinya mendadak lumpuh seketika. “I-ini… Ya Tuhan, monster neraka apa ini, Guru?!” seru Fubao histeris. Insting bertahannya mengambil alih; ia langsung melangkah mundur dan bersembunyi di balik punggung Ken dengan seluruh tubuh bergetar hebat.

​Di tengah ruangan magma tersebut, terbelenggu oleh rantai-rantai raksasa yang bercahaya keperakan, terbaring seekor naga bersayap empat dengan sisik sehitam arang yang memancarkan bara api. Menyadari kehadiran penyusup, Monster Bintang itu membuka mata merah menyalanya dan meronta merobek keheningan. Gua itu bergetar hebat didera aumannya, namun pergerakannya terkunci mati oleh segel milik Ken.

​”Tenangkan dirimu. Makhluk di hadapanmu ini adalah Naga Api, penguasa langit yang usianya telah menyentuh angka empat ratus ribu tahun,” terang Ken dengan santai, seolah ia hanya memperkenalkan seekor anak kucing.

​”E-empat ratus ribu tahun?! Hah! I-ini terlalu gila dan berbahaya, Guru!” rengek Fubao. Wajahnya sepucat kapas, kakinya melangkah mundur semakin jauh mencari perlindungan bayangan.

​”Fubao…” panggil Ken. Suaranya tidak keras, namun ketajamannya berhasil memotong kepanikan muridnya. “Bukankah kau menatap mataku dan bersumpah ingin menjadi kuat demi membalaskan penderitaan keluargamu? Kemarilah. Melangkahlah maju. Aku yakin kau bisa menundukkan rasa takut murahan itu.”

​”Ta-tapi, Guru!… Makhluk itu bisa menjadikanku abu hanya dengan hembusan napasnya! Ini benar-benar menakutkan,” ucap Fubao, giginya gemeretak beradu.

​”Majulah,” perintah Ken tanpa kompromi. “Roh Naga Api inilah yang akan menjadi penghuni Segel Bintang pertamamu. Oleh karena itu, syarat mutlaknya adalah: kau harus menaklukkannya terlebih dahulu.”

Hah?! Apa Guru sudah kehilangan akal sehatnya?! Bagaimana mungkin aku yang tak punya tenaga dalam ini disuruh membunuh monster legendaris?! batin Fubao menjerit putus asa. Ia menelan ludah yang terasa seperti pasir. “Guru… Berdasarkan literatur sihir, bukankah Monster Bintang yang usianya menembus ratusan ribu tahun akan menghasilkan Segel Bintang berwarna Merah Darah?” tanyanya dengan suara tercekat.

​”Tentu saja,” jawab Ken santai. Ia justru melangkah menyamping, membiarkan tubuh mungil Fubao kini berdiri tanpa tameng pelindung, bertatapan langsung dengan sepasang mata naga yang memancarkan aura pembunuh murni.

​”Dan… bukankah jika seorang kultivator yang fisiknya lemah gagal menyerap Segel Bintang Merah, tubuhnya akan meledak dari dalam, hancur menjadi serpihan daging?” lanjut Fubao bertanya, mengulang pemahaman horor yang ia dengar dari cerita-cerita legenda.

​”Tepat sekali. Pemahamanmu sangat bagus,” jawab Ken, tanpa sedikit pun berusaha menenangkan muridnya.

​”Aku tidak akan sanggup menahannya! Apakah… apakah Guru membawaku kemari untuk membunuhku secara perlahan?!” teriak Fubao ketakutan, lututnya nyaris menyentuh lantai menahan tekanan aura naga tersebut.

​Mata Ken menajam, menusuk langsung ke relung jiwa Fubao. “Orang-orang lemah bermental kerupuk yang tidak mampu menyerap tekanannya memang pantas mati dan hancur. Namun… jika kau berhasil menyerap energi merah ini sebagai fondasi pertamamu, tubuhmu akan mengalami evolusi luar biasa. Ke depannya, akan sangat mudah bagimu untuk terus menyerap Segel Bintang berwarna merah hingga kau mencapai puncak Segel Bintang ke-sepuluh,” terang Ken, membongkar rahasia di balik kekejaman metode pelatihannya.

​”Katakan padaku, Fubao… apa kau tidak ingin berdiri di puncak dunia dengan kekuatan absolut seperti itu?” tantang Ken, nada suaranya mengintimidasi sekaligus menyalakan api keserakahan di hati seorang pendekar. “Sebagai gurumu, aku memeras otak untuk memberimu jalur kultivasi paling sempurna. Selebihnya… jika nyalimu memang sekecil itu dan kau tidak yakin dengan takdirmu, aku tidak akan memaksamu. Silakan berbalik dan keluar dari gua ini sekarang juga.”

​Fubao terdiam kaku. Otaknya berputar liar di tengah badai keputusasaan. A-aku… Aku sudah menatap matanya dan mengucap sumpah berdarah untuk melakukan apa pun demi sebuah kekuatan! Jika aku lari dari ruangan ini, aku tidak pantas menatap wajah Ibu dan Adikku! Guru telah menyelamatkan nyawa keluargaku, aku tidak boleh mengecewakannya dengan menjadi pecundang! Fubao mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga terdengar bunyi gemeretak. Ia memaksakan lututnya berdiri tegak, melawan insting purba yang menyuruhnya melarikan diri. “Jadi… langkah kematian apa yang harus aku lakukan sekarang, Guru?” tanya Fubao, membuang jauh-jauh rasa takutnya.

​”Serang raksasa itu dengan seluruh sisa tenagamu,” instruksi Ken tanpa keraguan. “Dan ketika mentalnya melemah… alirkan esensimu pada Cincin Artefak yang telah menyatu dengan darahmu. Aktifkan bilahnya, lalu tembus jantungnya. Setelah wujudnya runtuh dan Mustika Bintangnya keluar, serap rohnya ke dalam tubuhmu.”

​”Sesuai perintah Anda, Guru!” jawab Fubao dengan raungan tekad yang membara.

​Tanpa senjata, tanpa energi spiritual, Fubao menerjang maju dengan nekad. Ia memusatkan seluruh sisa tenaganya, memukul dan menendang sisik naga yang keras bagai baja. Namun, serangan fisik fana itu tak lebih dari gigitan nyamuk bagi sang naga. Sang naga sekadar mendengus kasar, dan hempasan udara panas dari lubang hidungnya cukup untuk menerbangkan tubuh kecil Fubao menghantam dinding gua.

Buakh!

​Fubao memuntahkan darah segar, namun matanya tetap menyala beringas. Ia kembali bangkit dengan langkah terhuyung dan menerjang sang naga. Berkali-kali ia meledakkan energi pada cincin artefaknya, berusaha memanggil bilah cahaya dari cincin tersebut, namun tamparan ujung ekor naga kembali menyapu tubuhnya hingga tulang rusuknya retak berderak.

​Pertarungan—yang lebih pantas disebut pembantaian sepihak—itu berlangsung cukup lama. Pakaian Fubao koyak-moyak bersimbah darah. Napasnya putus-putus. Setelah puluhan kali dihantam dan bangkit, tubuh fananya akhirnya mencapai batas absolut. Otot-otot kakinya putus asa menolak perintah otaknya.

Apakah seperti ini penderitaan menuju kekuatan mutlak? Aku… benar-benar bukan apa-apa di hadapan dunia kultivasi… ratap Fubao dalam batinnya. Pandangannya mulai buram dan menggelap. Tubuh kecilnya terhuyung ke depan, jatuh kehilangan tenaga.

​Namun, sebelum tubuh itu menghantam lantai keras, sebuah tangan yang hangat dan kokoh menyangga punggungnya.

​”Cukup. Beristirahatlah…” bisik suara Ken, menopang tubuh muridnya yang hancur.

​”Gu-guru… maafkan muridmu yang tak berguna ini. Aku… gagal membunuhnya,” lirih Fubao memaksakan kata-katanya dari bibir yang sobek. Kesadarannya berada di ujung tanduk.

​Ken menunduk, menatap wajah muridnya dengan senyum tipis penuh kebanggaan. “Ketakutan adalah dinding ilusi yang menghalangi seorang fana menjadi dewa. Dan hari ini, kau telah membuktikan bahwa nyalimu mampu menghancurkan dinding ketakutan itu,” terang Ken seraya membaringkan tubuh Fubao ke tanah dengan lembut. “Sebagai hadiah atas keberanian murnimu hari ini… aku yang akan mengeksekusi monster ini untukmu, dan kau hanya perlu bersiap menyerap intisarinya.”

B-benarkah?! Terima kasih… Guru. Batin Fubao menjerit dipenuhi rasa syukur yang meluap-luap. Bibirnya tak sanggup lagi mengucapkan sepatah kata pun. Hanya sebulir air mata kebanggaan yang mengalir hangat dari sudut matanya, sebelum kegelapan pekat menyelimuti dan merenggut kesadarannya.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!