Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Tiga Kristal Permohonan
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, mengubah kanvas langit menjadi jingga keunguan sebelum kegelapan malam mengambil alih. Di tengah rimbunnya hutan, sisa pengawal Kerajaan Es tengah sibuk mempersiapkan tempat peristirahatan yang nyaman untuk Putri Diyah dan Putri Elisha. Sementara itu, Paman Tom menyusun kayu bakar dan menyalakan api unggun untuk mengusir hawa dingin yang mulai menusuk tulang.
Setelah seluruh persiapan selesai, mereka duduk melingkar merapatkan diri di dekat perapian. Tak lama kemudian, suara dedaunan bergesek menandakan kedatangan Ken yang baru saja kembali dari perburuannya.
”Maaf membuat kalian menunggu lama,” ucap Ken saat melangkah keluar dari bayang-bayang pepohonan, membawa beberapa ekor kelinci liar yang sudah dikuliti bersih.
”Ahh, sama sekali tidak, Tuan! Sini, biarkan hamba yang memanggangnya untuk Anda,” jawab Paman Tom dengan sigap, bergegas mengambil alih hasil buruan tersebut dari tangan Ken.
”Kakak Hebat, akhirnya kamu kembali!” sahut Elisha dengan mata berbinar riang. “Wah! Apa kita akan makan daging kelinci bakar malam ini?” sambungnya antusias, menatap daging segar yang siap dibumbui di atas perapian.
”Ya, benar. Apakah Tuan Putri Kecil ini suka makan kelinci bakar?” tanya Ken dengan senyum hangat.
”Emmm… Sebenarnya aku belum pernah memakan daging kelinci sebelumnya. Tapi melihatnya saja, sepertinya rasanya sangat enak!” terang Elisha sambil menelan ludah, membayangkan kelezatannya.
”Benarkah? Tentu saja. Daging kelinci liar yang dipanggang dengan benar akan terasa sangat lezat dan lembut. Kau akan merasakannya sebentar lagi,” kata Ken seraya mengusap lembut pucuk kepala Elisha. “Oh, iya. Tadi sebelum kemari, aku mengamankan beberapa barang bawaan kalian dari tempat kejadian.”
Dengan satu ayunan tangannya, Cincin Ruang di jari Ken memancarkan kilatan cahaya biru. Dalam sekejap, peti perbekalan kayu yang besar beserta sisa gerbong kereta kuda mereka muncul dengan bunyi debuk pelan di atas rerumputan.
Mata Paman Tom membelalak nyaris melompat keluar. Astaga! Bagaimana bisa artefak dimensi miliknya memiliki kapasitas untuk menampung benda sebesar gerbong kereta?! batin sang kepala pengawal, terkejut menyadari betapa tingginya level Cincin Ruang yang dimiliki Ken.
”Yeyyy! Ini kereta kita, Kak Diyah!” Elisha bersorak kegirangan. Ia segera berlari kecil menghampiri gerbong kayu yang familiar itu.
Syukurlah, sisa keretaku berhasil diselamatkan! Dengan begitu, setidaknya malam ini aku dan Elisha tidak perlu kedinginan tidur beralaskan tanah terbuka, batin Diyah, tanpa sadar menyunggingkan senyum lega yang sangat manis.
”Dan… aku rasa kain ini adalah milikmu,” ucap Ken, mengulurkan selembar kain sutra tipis bercorak kebiruan ke arah Diyah.
”Hmmm… Ah, cadarku! Terima kasih banyak, Tuan,” ucap Diyah, menerima kain tipis pelindung wajahnya itu. Sentuhan kecil itu membuat rona merah muda menjalar cepat di kedua pipinya. Ia buru-buru menundukkan wajahnya karena salah tingkah, lalu berbalik menyusul Elisha ke arah kereta.
Haa! Ada apa dengan reaksinya? Ekspresinya mendadak berubah aneh… Apakah aku telah melakukan kesalahan? batin Ken bingung, tak sepenuhnya memahami etika kebangsawanan seorang putri.
Mengabaikan kebingungannya, Ken melangkah dan duduk bersila di dekat api unggun bersama Paman Tom yang sedang sibuk memutar panggangan kelinci. Ken memanfaatkan waktu itu untuk mendiskusikan beberapa hal krusial dan menginterogasi alasan di balik pelarian rombongan kerajaan tersebut.
”Paman, apakah kau sudah melepaskan burung pembawa pesan ke Kerajaan Es?” tanya Ken dengan nada serius.
”Sudah, Tuan. Pesannya sedang dalam perjalanan,” jawab Paman Tom seraya mengangguk.
”Lalu… apa sebenarnya urusan genting yang membuat kalian berani melintasi hutan berbahaya ini, terlebih dengan membawa serta Putri Kecil itu?” selidik Ken lebih jauh.
”A-aa… soal itu. Sebenarnya, pada awalnya kami berangkat tanpa membawa Tuan Putri Elisha, Tuan. Misi diplomasi kami adalah untuk menyebarkan undangan resmi Ujian Pandhega kepada kelima kerajaan besar, karena tahun ini Kerajaan Es ditunjuk sebagai tuan rumah agung. Namun, tak lama setelah kami melintasi batas Kerajaan Air, kami baru menyadari bahwa Tuan Putri Kecil rupanya mengendap-endap dan bersembunyi di dalam peti logistik kami!”
Paman Tom menghela napas panjang. “Setelah ketahuan, Putri Diyah segera mengirimkan surat darurat pada Yang Mulia Raja agar beliau tidak cemas. Kami sama sekali tidak menyangka bahwa bahaya akan menyergap secepat ini. Kami disergap gerombolan bandit tak lama setelah berada cukup jauh dari jangkauan Kerajaan Langit,” terang Paman Tom merincikan kronologinya sembari terus memutar panggangan agar daging matang merata.
”Begitu rupanya. Awalnya aku cukup heran, kukira dengan kondisi Kerajaan Es yang sedang tidak stabil sekarang, Sang Raja cukup gila untuk membiarkan putri bungsunya berkeliaran ke luar batas kerajaan,” ucap Ken memahami intriknya.
”Tentu saja tidak, Tuan! Yang Mulia Raja sangat overprotektif dan melarang keras putri-putrinya keluar dari istana, terkecuali Putri Diyah yang memang telah dewasa dan mengemban tugas negara,” tegas Paman Tom. “Namun, rasa ingin tahu Putri Elisha untuk melihat dunia luar sangatlah besar, hingga ia berani bertindak nekat menyelinap ke dalam gerbong kami.”
Ken menyipitkan matanya menatap kobaran api. “Sepertinya ada pihak-pihak kotor yang sengaja memanfaatkan celah kondisi ini, Paman. Dan tanpa sadar, kalian mungkin telah masuk ke dalam pusaran konspirasi yang menjadikan kalian sebagai target pengorbanan,” tambah Ken, memberikan peringatan analitis yang tajam.
Pemuda ini… Kemampuannya dalam membaca situasi politik dan menganalisis bahaya benar-benar berada di level seorang raja. Tidak hanya memiliki kekuatan tempur yang bagai dewa, namun otak strateginya sangat brilian. Jika saja orang sehebat dia bersedia berdampingan dan melindungi Tuan Putri, aku tidak perlu lagi meregang nyawa menghadapi konspirasi para iblis istana… batin Paman Tom merenung, diam-diam menaruh harapan besar pada Ken.
”Sejujurnya, saat kami pertama kali mendeteksi aura penyergapan itu, firasatku sudah sangat buruk, Tuan,” jawab Paman Tom pelan. “Bagiku, yang terpenting hanyalah keselamatan kedua putri ini. Asalkan mereka berdua bisa kembali bernapas di dalam istana, aku siap menumbalkan nyawaku sendiri. Karena menghadapi para kultivator utusan dari dalam kerajaan itu… prajurit tua sepertiku jelas tidak akan mampu menahannya.”
”Kita lihat saja nanti, Paman, badai seperti apa yang akan terjadi setelah surat kabar keselamatan kalian itu sampai di meja Kerajaan Es.” Ken mematahkan sepotong ranting kering dan melemparkannya ke dalam api unggun, membiarkan percikan api menari di udara.
Setelah beberapa saat, daging kelinci tersebut akhirnya matang sempurna. Lemak yang menetes ke atas bara api menghasilkan suara mendesis dan aroma gurih yang luar biasa menggugah selera. Daging panggang yang empuk dan kaya akan bumbu alami hutan itu menjadi hidangan mewah yang menyatukan mereka malam itu.
Malam itu rupanya bertepatan dengan hari ulang tahun Elisha. Di tengah keterbatasan hutan, Diyah berusaha merayakannya dengan hidangan seadanya, dan hal kecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Elisha tersenyum sangat bahagia.
”Hei! Bukankah hari ini tepat hari perayaan ulang tahunmu? Bagaimana kalau satu paha kelinci utuh ini khusus kuberikan untukmu? Kau boleh menghabiskan semuanya sendiri,” ucap Diyah seraya menyodorkan potongan daging paling besar kepada Elisha.
”Benarkah, Kakak?!” sahut Elisha dengan mata membulat senang.
”Hmmm, tentu saja,” Diyah menganggukkan kepalanya dengan senyum manis.
”Ya, makanlah yang banyak, Tuan Putri Kecil! Tuan Putri Diyah bisa berbagi jatah daging dengan Paman nanti,” sahut Paman Tom terkekeh geli melihat antusiasme Elisha.
”Yeyyy! Baiklah! Terima kasih, Kakak!” ucap Elisha girang. Ia meniup daging itu sejenak lalu menggigitnya. “Mmmm, rasanya benar-benar enak luar biasa!” sambungnya, mengunyah dengan lahap hingga pipinya menggembung.
Usai merayakan makan malam sederhana namun hangat itu, Elisha tiba-tiba beringsut menghampiri tempat Ken duduk.
”Kakak Hebat, karena Kakak sudah berkali-kali menyelamatkanku hari ini, aku ingin memberikan sebuah hadiah kejutan untukmu! Ini, terimalah!” Elisha menyodorkan kedua tangan mungilnya, menyerahkan sebuah kalung kristal dengan bandul merah darah yang sangat indah kepada Ken.
Melihat benda pusaka itu dikeluarkan, Diyah seketika tersentak panik dan buru-buru mencegah Elisha. “Elisha! Astaga!” Diyah menegurnya keras, langsung beringsut mendekati adiknya. “Elisha… Sayang, dengarkan Kakak. Kau tidak boleh sembarangan memberikan kalung itu pada orang lain,” jelas Diyah, mencoba menarik kembali kalung tersebut dengan wajah pucat pasi.
”Emmm, memangnya kenapa, Kak? Kata Ibu Ratu dulu, aku boleh memberikan kalung ini kepada laki-laki yang paling kusuka! Jadi, karena aku sangat menyukai Kakak Ken yang baik hati, aku ingin memberikannya padanya!” jawab Elisha polos tanpa dosa, membuat suasana mendadak canggung.
”Hmmm, perkataan Ibu memang benar. Tapi… untuk sekarang, usiamu masih terlalu kecil dan belum waktunya kau memberikan benda ini, oke?” terang Diyah, mati-matian memberi pengertian pada adiknya dengan pipi yang memerah padam menahan malu.
”Emmm… baiklah kalau begitu,” ucap Elisha, menundukkan kepalanya murung karena hadiahnya ditolak.
Paman Tom berdehem pelan, menengahi kecanggungan itu. “Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Ken. Kalung permata merah itu adalah artefak pusaka murni dari silsilah Keluarga Raja yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan menurut tradisi suci kami, kalung itu hanya boleh diserahkan kepada pria yang kelak sah menjadi pasangan hidup kerajaan. Tuan Putri Elisha masih terlalu belia untuk memahami bobot tradisi tersebut. Hamba memohon agar Anda memaklumi kepolosannya.”
”Hahaha, tidak apa-apa, Paman Tom! Santai saja, aku sangat memahaminya,” jawab Ken tertawa renyah, tak sedikit pun merasa tersinggung. Ia menunduk menatap Elisha. “Adik Kecil! Perkataan Kakakmu dan Paman Tom itu benar. Kalung itu sangat berharga. Simpanlah baik-baik di lehermu sampai kau tumbuh menjadi putri yang dewasa nanti, ya?” bujuk Ken sambil tersenyum hangat.
”Tapi… kalau begitu aku tidak punya barang berharga apa pun yang bisa kuberikan untuk membalas kebaikan Kakak,” sahut Elisha, memajukan bibir bawahnya karena sedih.
”A-aa, bagaimana kalau begini saja! Karena hari ini adalah hari perayaan ulang tahunmu, sudah sepantasnya akulah yang memberikan sebuah kado hadiah untukmu,” ucap Ken lembut, memutar telapak tangannya di udara.
”Emmm? Kakak mau memberiku kado hadiah?” Elisha memiringkan kepalanya, matanya kembali berbinar.
”Ya. Buka telapak tanganmu dan terimalah ini.” Ken meletakkan tiga buah kristal seukuran ibu jari yang memancarkan pendaran cahaya magis berwarna-warni ke telapak tangan mungil Elisha. “Tiga buah kristal ajaib ini mewakili tiga permohonan mutlak. Kapan pun kau berada dalam kesulitan atau memiliki keinginan yang kuat, kau cukup genggam salah satu kristal ini dan panggil namaku di dalam hatimu, dan aku pasti akan datang untuk mengabulkan apa saja permintaanmu. Bagaimana? Hebat, kan?” terang Ken memberikan hadiah perlindungan absolut tersebut.
”Wahhh! Benarkah?! Aku boleh meminta apa saja dari Kakak?!” Elisha bersorak, menatap takjub ketiga kristal yang berpendar di tangannya.
”Ya, apa saja. Tapi ingat, benda ini sangat berharga, jadi kau harus menggunakannya dengan bijak untuk sesuatu yang benar-benar penting bagimu,” lanjut Ken menasihati.
”Baiklah, Kakak! Aku berjanji akan menyimpannya dengan sangat hati-hati! Dan mulai hari ini, aku akan secara resmi menganggapmu sebagai Kakak tertuaku! Oke?” Elisha tersenyum cerah. Ia mengangkat tangan kanannya, menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk lingkaran, sementara tiga jari lainnya diluruskan ke atas sebagai lambang janji khas anak-anak.
Melihat gestur tangan yang teramat familiar itu, napas Ken tertahan. “A-aaa… baiklah,” jawab Ken pelan. Tenggorokannya mendadak tercekat. Gestur sederhana itu tanpa ampun memukul mundur pertahanannya, menarik paksa memori manis nan tragis bersama mendiang adik kandungnya di masa lalu.
”Hoaaam… Kalau begitu, aku mau masuk dan tidur duluan. Mataku sudah sangat lengket. Ternyata perut kenyang karena daging kelinci itu bisa memanggil dewa kantuk dengan cepat, ugh!” keluh Elisha sambil menguap lebar dan meregangkan tubuhnya, suaranya mulai terdengar parau.
”Ayo, Kak Diyah temani,” ajaknya seraya menggandeng tangan kakaknya dengan manja.
”Ya ampun… kau itu cuma rakus karena terlalu banyak makan sampai kekenyangan, makanya kau jadi mengantuk secepat ini,” ledek Diyah lembut seraya berdiri dan menuntun Elisha menuju kereta.
”Hehehe, benarkah begitu, Kakak?” Elisha tertawa kecil, melangkah gontai menyusul rasa kantuknya.
Sembari merebahkan adiknya di atas tumpukan selimut, pikiran Diyah tak bisa lepas dari sosok pria di luar sana. Apakah pria itu benar-benar Sang Pemimpin Tertinggi Aliansi Siama yang menjadi legenda mengerikan itu? Dari rumor berdarah yang kudengar, sosoknya digambarkan sangat tidak berperasaan, kejam, sadis, dan tak pernah segan memutilasi musuhnya. Namun… melihat caranya memperlakukan Elisha, matanya memancarkan kehangatan dan rasa kehilangan yang dalam. Batin Diyah bergejolak, berusaha memecahkan anomali sifat Ken.
Di luar kereta, Paman Tom menghampiri Ken yang masih duduk bersila menatap bara api. “Tuan Ken, sebaiknya Anda masuk ke tenda dan beristirahatlah. Biar hamba dan prajurit lain yang bergantian berjaga di luar malam ini,” tawar Paman Tom dengan penuh rasa hormat.
”Tidak perlu, Paman. Justru sebaliknya, Paman dan pasukan pengawal yang harus segera tidur beristirahat. Kalian telah melewati pertempuran dan pelarian yang sangat menguras tenaga,” tolak Ken halus namun tegas. “Biar aku yang mengambil alih penjagaan penuh malam ini. Dan ingat pesanku… apa pun guncangan atau suara yang terjadi di luar sana malam ini, Paman tidak perlu bangun. Biarkan aku yang mengurusnya.”
Paman Tom terdiam, menangkap ketegasan misterius dari peringatan Ken. “Hamba mengerti, Tuan. Mohon maaf karena selalu merepotkan pundak Anda,” jawabnya, membungkuk hormat sebelum undur diri menuju tendanya.
Setelah seluruh anggota rombongan masuk ke peraduan, kesunyian hutan kembali merajai. Hanya menyisakan Ken yang duduk bagai patung batu di bawah langit berbintang, ditemani gemeretak api unggun yang lidah apinya menari liar.
Beberapa jam berlalu. Udara malam semakin menusuk. Diyah, yang tak mampu menutup matanya, menggeser pintu kereta dengan perlahan dan melangkah keluar. Ia menatap siluet Ken yang masih terjaga sendirian. Kenapa dia bersikeras memikul beban berjaga sendirian? Ke mana perginya Paman Tom dan para pengawal lain? pikirnya heran.
Sambil merapatkan mantel bulunya, Diyah berjalan perlahan mendekati perapian. “Ma-maaf mengganggu kesunyianmu… Apakah aku diizinkan untuk duduk di sini?” sapa Diyah dengan nada gugup, memecah hening.
”Oh, Tuan Putri rupanya. Ya, silakan duduk,” jawab Ken tanpa menoleh, pendengarannya sudah menyadari kehadiran Diyah sejak wanita itu membuka pintu kereta.
”Malam sudah selarut ini, kenapa Tuan masih berjaga? Apa Tuan sama sekali tidak mengantuk?” tanya Diyah setelah duduk tak jauh dari Ken.
”Aku belum ingin tidur. Instingku lebih suka tetap terjaga. Bagaimana denganmu sendiri?” jawab Ken, membalikkan pertanyaan.
”Aku… aku terus memejamkan mata tapi tak bisa terlelap. Mungkin karena udara dingin, atau memang aku belum mengantuk saja,” terang Diyah sambil merapatkan jubahnya. “Emmm… sebenarnya, alasan utamaku keluar adalah untuk meminta maaf atas kelancangan adikku yang telah merepotkanmu, Tuan.”
Ken mengerutkan dahi, menatap Diyah dengan bingung. “Ah, merepotkan di bagian mananya?”
”Ya, tentu saja karena ulahnya! Tuan telah berkorban menyelamatkan nyawa kami, tapi adikku malah tanpa malu memerasmu dan membuat Tuan harus mengeluarkan hadiah pusaka kristal yang mahal itu untuknya,” terang Diyah menundukkan wajahnya merasa bersalah.
”Oh, astaga! Tenang saja, singkirkan beban pikiran itu. Aku memang sudah berniat tulus untuk memberikannya hadiah perlindungan,” sahut Ken cepat agar Diyah tak perlu merasa bersalah. “Hanya saja tadi situasinya sedikit mendesak. Tapi untunglah, instingku berhasil menemukan hadiah yang paling pas dan fungsional untuk mengamankan nyawa anak itu di masa depan.”
”Benarkah begitu…? Entah kenapa, Tuan terlihat memancarkan aura yang sangat hangat dan kebapakan setiap kali menatap Elisha,” ujar Diyah, matanya memancarkan rasa penasaran yang lembut.
”Hahaha, benarkah kau melihatnya begitu? Entahlah, mungkin karena setiap kali aku menatap binar kepolosannya, aku seperti ditarik kembali ke masa lalu… melihat sosok adik perempuanku sendiri,” jelas Ken, senyum getir menghiasi tawanya yang lirih.
”Adik? Jadi Tuan… juga memiliki seorang adik perempuan?” tanyanya semakin tertarik.
”Ya, benar. Dulu aku memiliki seorang adik perempuan yang sangat manis. Namun… dia telah lama tiada, direnggut bersimbah darah bersama dengan ayah dan ibuku,” ucap Ken merenung. Matanya menatap kosong ke dalam nyala api unggun, seolah melihat bayangan pembantaian masa lalunya menari di antara bara.
Seketika Diyah menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Astaga… Maafkan aku, Tuan! Mulutku terlalu lancang. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengorek dan menyinggung luka lamamu,” ucap Diyah panik, sangat menyesali pertanyaannya.
Melihat kepanikan Diyah, Ken justru tertawa lepas. “Hahaha… Sejak tadi kau hanya terus-menerus meminta maaf dan kaku memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’,” ucap Ken, matanya memancarkan sedikit rasa gemas atas sikap kaku Diyah. “Dilihat dari auranya, aku rasa usia kita seumuran, dan lagipula kau adalah seorang putri berdarah biru. Jadi, singkirkan gelar formal itu. Kau tidak perlu memanggilku ‘Tuan’ di tengah hutan seperti ini!”
”Jadi… aku harus memanggilmu apa? Apakah aku diizinkan memanggilmu Kak Ken saja?” jawab Diyah, memiringkan kepalanya sedikit dengan senyum kecil yang teramat menawan.
”Ya, tentu saja. Itu jauh lebih enak didengar,” ucap Ken menyetujui. “Asalkan kau tidak memanggilku dengan sebutan KA-KEK, aku akan meresponsnya,” lanjut Ken melontarkan candaan dengan wajah datar.
Mendengar lelucon garing yang disampaikan dengan ekspresi serius itu, Diyah tak kuasa menahan tawanya. “Pfft… Hahaha! Baiklah, Kak Ken,” ucap Diyah di sela tawanya yang merdu.
Ternyata di balik dinding esnya, sikap hangat itu muncul karena memori kerinduannya pada sang adik. Jauh di lubuk hatinya, dia adalah pria yang sangat baik. Mungkin… badai kehidupan yang keras dan berdarah-darah yang memaksanya tumbuh dan menempa dirinya menjadi sosok pelindung yang kejam terhadap musuhnya. Batin Diyah mulai merajut pemahaman yang utuh tentang sosok Ken.
”Omong-omong, apakah tujuan perjalanan Kak Ken memang benar-benar mengarah ke wilayah dingin Kerajaan Es?” tanya Diyah, memelankan suaranya hingga terdengar seperti bisikan rahasia.
”Ya, tepat sekali. Arah kompas perjalananku memang menunjuk lurus ke sana,” terang Ken, menoleh menatap mata jernih Diyah.
”Jika aku tidak lancang… bolehkah aku tahu apa urusan besar yang membawa Kak Ken pergi ke ibu kota bersalju itu?” lanjutnya bertanya.
”Emmm… sebelum aku menjawabnya, apakah kau tipe wanita yang bisa mengunci rapat sebuah rahasia?” tanya Ken balik dengan nada yang berubah serius.
”Mm-hmm, tentu saja. Mulutku setertutup peti mati,” jawab Diyah yakin, menganggukkan kepalanya pelan dengan senyum meyakinkan.
”Baiklah. Tujuanku mendatangi kerajaanmu adalah… aku sedang melacak jejak seseorang. Seseorang yang memiliki benang merah masa lalu yang sangat kuat denganku,” jelas Ken perlahan.
”Seseorang? Apakah… orang itu adalah seorang wanita?” tanyanya lagi, entah mengapa ada sejumput rasa penasaran yang menggelitik hatinya.
”Iya, dia adalah seorang gadis. Pertemuan pertama kami terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu di tengah keputusasaan,” jawab Ken, pandangannya menerawang ke masa lalu. “Namun, aku tidak tahu pasti bagaimana rupa dan nasibnya sekarang. Dengan jeda waktu selama itu, mungkin saja dia telah dipersunting menjadi istri seseorang… atau, dalam skenario terburuk, dia mungkin telah tiada tertelan kerasnya dunia ini.”
”Ohh… Begitu rupanya,” gumam Diyah. “Lalu, bagaimana jika takdir berkata bahwa dia memang telah menikah dan bahagia dengan pria lain?” tanya Diyah, mencoba menggali seberapa dalam perasaan Ken.
”Ya… tidak apa-apa! Bagiku, melihatnya bahagia sudah lebih dari cukup. Setidaknya, aku telah melunasi janji suciku untuk menemuinya kembali,” jelas Ken dengan senyum tulus yang memancarkan kedewasaan.
”Emmm….” Diyah terdiam. Jawaban tulus itu entah mengapa membuatnya kehilangan kata-kata untuk melanjutkan interogasi.
”Sekarang giliranku bertanya. Bagaimana denganmu sendiri? Sebagai seorang putri mahkota yang memikul beban kerajaan, apa puncak ambisi atau tujuan hidupmu?” tanya Ken, menatap Diyah dengan saksama.
”Tujuanku…? Untuk saat ini, aku memusatkan seluruh ambisiku untuk mendaki takhta dan menjadi seorang Ratu Sejati,” jelas Diyah, awalnya sedikit ragu namun perlahan suaranya menebal oleh tekad. “Itu adalah wasiat terakhir dan harapan terbesar orang tuaku. Aku ingin melihat senyum bangga mereka di alam baka sana saat melihatku berhasil mengenakan mahkota Kerajaan Es.”
…Bahagia di alam baka sana? Tunggu dulu, jangan-jangan…! batin Ken tersentak, otaknya dengan cepat menyatukan kepingan informasi. “Apakah… apakah kedua orang tuamu juga telah tiada?” tanya Ken dengan suara pelan, takut mengoyak luka.
”Hmmm, he’em.” Diyah mengangguk pelan. “Sudah sekitar sebelas tahun lamanya semenjak tragedi itu merenggut mereka pergi untuk selama-lamanya.” Meski sepasang matanya mulai berkaca-kaca menahan genangan air mata, bibir Diyah tetap memaksakan sebuah senyuman tegar yang menyayat hati.
Merasakan aura kepedihan yang sama, Ken tersenyum hangat. “Melihat keteguhan matamu, aku berani bertaruh… kau pasti akan tumbuh menjadi seorang Ratu yang sangat agung dan bijaksana.”
”Terima kasih atas doamu,” ucap Diyah, menghapus setitik air matanya. “Lalu, bagaimana dengan ambisimu sendiri, Kak Ken? Di mana garis akhir dari perjalanan berdarahmu?”
”Ambisi tertinggiku sangat sederhana. Aku hanya ingin terus memecahkan batas kultivasiku, menjadi eksistensi terkuat, dan memburu mati setiap iblis yang merusak dunia… terutama menenggelamkan para petinggi busuk di Kerajaan Api itu ke dasar neraka,” jawab Ken. Senyum percaya dirinya memancarkan aura dominasi yang menakutkan namun memesona.
”Wah, sumpah yang sangat berdarah dan mengerikan. Tapi setelah kau berhasil meruntuhkan Kerajaan Api… hmmm… apakah Kak Ken tidak memiliki hasrat untuk naik takhta dan menobatkan diri sebagai Raja?” tanya Diyah, melontarkan pertanyaan yang mengandung makna tersirat yang hanya dipahami oleh batinnya sendiri.
”Menjadi Raja? Hahaha! Jujur saja, aku sama sekali tidak punya nafsu untuk duduk membusuk di atas kursi emas,” terang Ken diselingi tawa renyah. “Ehh, tunggu dulu, bukan bermaksud menghina gelar agung seorang Raja atau Ratu sepertimu, ya! Maksudku, jiwaku terlalu liar untuk dikurung dalam birokrasi istana. Aku lebih memilih kebebasan sejati, menjelajahi tak terbatasnya benua ini sembari terus menjadi tameng pelindung bayangan yang membantai monster dan tiran jahat.”
Ken memandang Diyah yang tertegun mendengarkan misinya. “Jadi, ketika Tuan Putri kelak resmi dinobatkan menjadi Ratu Kerajaan Es, kau tidak perlu lagi hidup dalam teror kegelapan. Aku akan pastikan ancaman itu musnah di tanganku. Yah… terkecuali jika Tuan Putri tiba-tiba menjelma menjadi Ratu Lalim yang jahat, maka kau juga akan masuk ke dalam daftar buruanku!” lanjut Ken menyeringai, memberikan sedikit candaan tajam untuk mencairkan suasana.
”Hmm, menjelajahi tak terbatasnya dunia?” gumam Diyah, mengabaikan ancaman konyol itu dan lebih terpukau pada filosofi kebebasan Ken.
”Ya, tentu saja. Berdasarkan pengetahuanku, dunia kultivasi di luar sana luar biasa luasnya. Masih banyak benua tak terjamah, keajaiban yang belum terungkap, orang-orang luar biasa berhati mulia, dan juga monster-monster kejam berskala dewa yang belum kita temui,” terang Ken, matanya menerawang ke angkasa.
”Hah! Benarkah ada dunia sejauh itu…” bisik Diyah, memejamkan mata membayangkan betapa sempitnya tembok istana yang mengurungnya selama ini.
Tiba-tiba, telinga Ken menangkap fluktuasi energi yang ganjil. Udara malam yang tenang mendadak berubah padat. Tiga… lima… tidak, ada belasan titik aura membunuh yang bergerak mendekat. Cukup banyak! batin Ken menajam, seketika menyadari bahwa perimeter hutan mereka sedang dikepung dari kegelapan.
”Tuan Putri, kurasa waktu mengobrol kita sudah habis. Kembalilah ke dalam kereta dan tidurlah. Aku juga harus… beristirahat,” ucap Ken tegas, menghentikan obrolan secara mendadak agar Diyah segera masuk ke zona aman.
”Ahh, oh… ya, baiklah.” Diyah tersadar dari lamunan indahnya. Ia tidak menyadari ketegangan di mata Ken dan bergegas bangkit berdiri untuk meninggalkan perapian.
Putri Diyah pun melangkah kembali naik ke dalam gerbong keretanya, merebahkan diri di samping Elisha yang mendengkur pelan. Namun, matanya menolak terpejam. Obrolan panjangnya dengan Ken terus berputar menguasai benaknya.
Selama ini, pria-pria bangsawan yang berani mendekati dan mencari muka padaku memiliki satu tujuan seragam: mereka bermimpi meminangku untuk mengamankan takhta Kerajaan Es dan menjadi Raja. Tapi… pemuda misterius ini sangat jauh berbeda. Dia menolak godaan kekuasaan mutlak, tak sudi dikekang takhta, dan lebih memilih jalan berdarah demi kebebasan sejati menjaga dunia… batin Diyah menganalisis.
Atau… mungkinkah alasan penolakannya itu karena secara fisik aku sama sekali tidak masuk dalam kriteria wanita idamannya? Segumpal keraguan tiba-tiba menyusup ke hatinya. Ahh, sudahlah! Apa yang kupikirkan?! Aku baru saja mengenalnya hari ini, dan dia juga baru melihatku. Namun yang pasti… mendengarkan cara pria itu memandang dunia, sungguh telah menghancurkan tembok keangkuhanku dan menyadarkan betapa sempitnya duniaku selama ini. Batin Diyah terus bergejolak, memikirkan sosok dewa perang kesepian bernama Ken yang kini berdiri sendirian menghadapi kegelapan malam.



