Bab 14

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

Segel Kontrak Monster Bintang

​Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti pepohonan saat sinar matahari perlahan menyibak kegelapan hutan. Kicauan burung surgawi saling bersahutan, menyambut hari yang baru. Ken berdiri bersandar di sebatang pohon besar, sepasang matanya yang tenang mengawasi Putri Diyah yang tengah sibuk meracik sarapan seadanya dari sisa perbekalan. Di sudut lain, Paman Tom dan kedua pengawalnya tengah memeriksa perlengkapan, bersiap untuk melanjutkan pelarian mereka menuju Kerajaan Es.

​Begitu Putri Elisha terbangun dan menyantap sarapan paginya dengan lahap, rombongan kecil itu tak membuang waktu dan segera melanjutkan perjalanan menembus belantara.

​Setelah matahari merangkak naik hingga menyengat ubun-ubun, perjalanan darat yang memakan waktu berjam-jam itu mulai terasa berat. Ken, yang berjalan memimpin di depan, menoleh ke belakang. Matanya menangkap raut kelelahan yang tak bisa disembunyikan dari wajah Diyah. Wanita itu terus memaksakan diri berjalan menanjak sembari menggendong Elisha di punggungnya.

​Melihat hal itu, Ken mengangkat sebelah tangannya. “Sebaiknya kita berhenti dan beristirahat di sini dulu.”

​”Ada apa, Tuan?” tanya Paman Tom, segera menghentikan langkahnya dan bersiaga.

​”Tidak ada musuh, Paman. Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Putri Kecil ini,” ucap Ken seraya melangkah mendekati Elisha. “Hei, bukankah kau pernah bilang padaku kalau kau sangat suka berjalan-jalan melihat dunia luar?” tanyanya, merendahkan tubuh menatap Elisha.

​”Benar, Kak!” jawab Elisha dengan senyum lebar, meski napasnya sedikit terengah.

​Ken tersenyum tipis. “Baiklah, kalau begitu…”

​Ken memutar pergelangan tangannya. Udara di hadapan mereka seketika terdistorsi. Sebuah pilar cahaya perak menyemburat dari Cincin Ruangnya, dan sesosok makhluk spiritual melompat keluar, mendarat dengan anggun di atas rerumputan.

​Seluruh anggota rombongan terkesiap mundur melihat makhluk eksotis tersebut.

​”M-Monster Bintang Serigala Langit!” seru Paman Tom, matanya membelalak mengenali ras monster langka di hadapannya.

​”Wah! Apa ini, Kak?!” tanya Elisha. Gadis kecil itu melangkah mundur bersembunyi di balik kaki kakaknya, merasa takut namun takjub melihat serigala berbulu perak mengilap yang ukurannya setara dengan kuda dewasa itu. “Apakah… apakah dia menggigit dan berbahaya?” Elisha mendongak menatap Ken.

​Sambil tersenyum menenangkan, Ken berkata, “Dia sama sekali tidak berbahaya. Bagaimana, apa kau menyukainya? Mulai hari ini, dia adalah milikmu.”

​Mendengar hal itu, Elisha menatap Ken lekat-lekat dengan mata bulatnya. “Serius?! Kakak benar-benar memberikannya untukku?” tanyanya memastikan.

​”Ya. Ini adalah Monster Bintang Serigala Langit. Dia akan menjadi tunggangan setiamu dan menemanimu ke mana pun kau pergi,” terang Ken. “Namun, agar dia mematuhimu sepenuhnya, kau harus membuat Segel Kontrak dengannya terlebih dahulu.” Ken menjentikkan jarinya. “Kirin! Kemarilah.”

​Mendengar panggilan tuannya, monster yang diberi nama Kirin itu melangkah patuh mendekati Ken. Ken mengeluarkan sebuah buah spiritual beraroma manis dan menyuapkannya ke mulut sang serigala.

​”Membuat kontrak?! Bagaimana caranya, Kak?” tanya Elisha melompat-lompat kecil, rasa takutnya telah sepenuhnya tergantikan oleh antusiasme.

​”Aku yang akan menuntunmu membuatnya,” ucap Ken. Ia menatap lekat mata Kirin. “Kirin, mulai detik ini, aku memerintahkanmu untuk menemani dan melindungi gadis kecil ini dengan nyawamu.”

​Ajaibnya, seolah memahami perintah mutlak Sang Pemimpin, monster Serigala Langit itu merendahkan posturnya dan menundukkan kepala di hadapan Ken.

​”Putri Kecil, kemarilah,” panggil Ken, mengarahkan Elisha agar berdiri berhadapan langsung dengan Kirin. Ken segera memusatkan energinya untuk mengaktifkan formasi Segel Kontrak spiritual. “Julurkan telapak tangan kananmu.”

​Ken memegang tangan mungil Elisha. Dengan gerakan secepat kilat yang tak menyakitkan, ia menggores sedikit ujung telunjuk gadis itu menggunakan energi Qi. Setetes darah murni merembes keluar. Ken membimbing tangan Elisha, menempelkan darah itu ke dahi Kirin tepat di atas formasi segel cahaya yang telah ia buat.

Pola ukiran Segel Kontrak ini… ini sama sekali tidak terlihat seperti teknik Segel Kontrak standar yang digunakan oleh para penjinak monster di benua ini! Tingkat kerumitannya benar-benar di luar nalar, batin Paman Tom yang terus mengawasi dari dekat, kembali dibuat takjub oleh misteri pemuda di hadapannya.

​Cahaya keemasan berpendar sesaat, lalu meresap ke dalam dahi Kirin dan tangan Elisha, menyatukan ikatan jiwa mereka.

​”Selesai. Sekarang kau dan Kirin telah terikat secara spiritual. Kau bisa menungganginya melewati medan seberat apa pun tanpa takut terjatuh,” ucap Ken pada Elisha. “Selain itu, sebagai ras Serigala Langit, dia memiliki kemampuan manipulasi ukuran tubuh. Wujudnya saat ini adalah ukuran dasar, atau Ekor Satu. Saat kau berada dalam bahaya, dia bisa berevolusi menggunakan Mode Tempur,” lanjut Ken menerangkan fungsinya.

​Ken menoleh pada sang serigala. “Kirin, tunjukkan wujud Ekor Sepuluh.”

​Merespons perintah itu, tubuh Kirin seketika memancarkan kabut perak. Tulang dan ototnya berderak merenggang, membesar secara masif hingga sepuluh kali lipat dari ukuran aslinya. Sosoknya kini menjulang menutupi sinar matahari bagai raksasa hutan.

​Semua orang menahan napas takjub melihat transformasi epik tersebut.

​”Wah! Keren sekali! Tapi… dia jadi sangat besar,” Elisha ternganga, mendongak dengan sedikit ngeri.

​”Sekarang, tunjukkan Mode Tempurmu, Kirin!” titah Ken.

​Raungan serigala menggetarkan hutan. Ukuran tubuh Kirin tidak hanya tetap raksasa, tetapi kini seluruh tubuhnya dibalut oleh zirah pelindung alami berupa sisik keras berwarna merah keemasan yang memancarkan hawa panas mengerikan.

Tekanan energi dari Monster Bintang Langit dalam wujud ini… benar-benar setara dengan kultivator Level Raja! batin Paman Tom, menelan ludah melihat kekuatan tempur absolut yang baru saja dihadiahkan Ken secara cuma-cuma.

​”Kekuatan dan penampilannya terlalu menakutkan!” ucap Diyah takjub sekaligus cemas. “Apakah wujud ini benar-benar tidak akan membahayakan Elisha, Kak Ken?” tanyanya, merapat melindungi adiknya.

​”Tentu saja tidak. Setelah ikatan darah itu terjalin, rohnya akan terikat untuk melindungi Elisha secara absolut, bahkan jika ia harus mengorbankan inti kehidupannya sendiri,” jelas Ken, memberikan jaminan mutlak pada Diyah. Ken menjentikkan jarinya lagi. “Kembalilah ke wujud asalmu, Kirin.”

​Kabut perak kembali menyelimuti, dan Kirin menyusut wujudnya menjadi Ekor Satu—ukuran yang sedikit lebih besar dan gagah dari seekor kuda perang dewasa.

​”Wah! Hei, anak baik! Namamu Kirin, kan?” Elisha tak lagi ragu. Ia melangkah maju dan mengelus surai perak serigala itu dengan penuh kasih. “Namaku Elisha. Mulai sekarang, kau harus memanggilku Elisha, ya! Hehehe,” celotehnya riang.

​Melihat masalah logistiknya teratasi, Ken mengangguk puas. “Dengan bantuan Kirin, kita bisa mempercepat laju perjalanan melintasi hutan. Dan yang terpenting… lengan Tuan Putri kini bisa beristirahat dan tidak harus keram karena memaksakan diri terus menggendongnya,” ucap Ken santai, menoleh dan memberikan senyum tipis yang penuh makna ke arah Putri Diyah.

​Mendengar kalimat itu, napas Diyah sedikit tertahan. Hah! Jadi… apakah dia sengaja mengeluarkan monster langka berharga selangit ini semata-mata karena melihatku kelelahan menggendong Elisha sedari tadi? batin Diyah, hatinya menghangat dan senyum manis tanpa sadar merekah di bibirnya.

​”Sekarang, cobalah naik ke punggungnya. Secara perlahan, jiwa kalian akan beradaptasi dan kau akan memahami pergerakannya,” instruksi Ken pada Elisha. “Ayo, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus melanjutkan perjalanan.”

​”Sesuai perintah, Tuan!” jawab Paman Tom lega.

​”Kak Diyah! Ayo kemari, naiklah bersamaku!” teriak Elisha riang setelah berhasil memanjat dan duduk nyaman di atas pelana bulu lembut Kirin.

​Mendengar ajakan sang adik, Putri Diyah menatap Ken sejenak untuk meminta izin. Ken hanya membalasnya dengan anggukan pelan. Diyah segera membalas senyuman itu, lalu melangkah anggun menaiki Kirin, duduk tepat di belakang adiknya.

​Perjalanan pun kembali dilanjutkan dengan kecepatan yang jauh lebih efisien. Sambil melangkah beriringan membelah barisan pohon pinus, Ken menyejajarkan posisinya dengan Paman Tom untuk memulai investigasi rahasia.

​”Paman Tom, boleh aku bertanya sesuatu?” panggil Ken seraya menatap lurus ke depan. “Apakah benar Putri Diyah yang anggun itu sebenarnya adalah putri kandung dari mendiang Jenderal Wakan dan Nyonya Hima?”

​Paman Tom sedikit terkejut mendengar Ken menyebutkan silsilah tersebut, namun ia segera mengangguk. “Ingatan Anda sangat tajam, Tuan. Benar adanya. Tuan Putri Diyah adalah darah daging dari Tuan Wakan dan Nyonya Hima yang gugur di masa lalu,” jawab Paman Tom seraya menghindar dari dahan pohon yang melintang.

​”Lalu, bagaimana sebenarnya sikap para petinggi kerajaan terhadap eksistensi Putri Diyah di istana?” tanya Ken serius, mencoba memetakan musuh dalam selimut.

​Paman Tom menghela napas panjang, beban politik kerajaannya tergambar jelas di wajah keriputnya. “Di permukaan, semuanya terlihat baik. Yang Mulia Raja dan Ratu membesarkan serta memperlakukan Tuan Putri Diyah sama persis seperti anak kandung mereka sendiri. Kasih sayang keluarga kerajaan padanya tak perlu diragukan. Namun… nasib Tuan Putri sangatlah malang. Di luar tembok perlindungan Raja, ada banyak ular berbisa yang ingin memanfaatkannya sebagai boneka politik, bahkan tak sedikit faksi yang diam-diam ingin menyingkirkannya dari garis suksesi.”

​Otak Ken bekerja cepat merangkai kepingan konflik tersebut. “Mengapa intrik itu bisa terjadi, Paman?”

​”Sesuai dengan hukum kuno kerajaan kami, saat Tuan Putri Diyah mencapai usia dua puluh dua tahun, beliaulah pemegang mandat mutlak yang akan naik takhta menjadi Ratu Kerajaan Es menggantikan Paduka Raja saat ini. Dan sayangnya, hukum suci itu sangat ditentang oleh beberapa faksi kuat di dalam pemerintahan,” jelas Paman Tom. “Mereka menempuh cara-cara kotor untuk menghambat kultivasi Tuan Putri. Itulah sebabnya, seperti yang Tuan lihat, hingga saat ini Segel Bintang milik Tuan Putri masih tertahan di Tingkat 4. Sementara itu, para bangsawan muda seusianya di istana sudah melesat jauh mencapai Tingkat 6, bahkan Tingkat 7.”

​Paman Tom menggelengkan kepala penuh penyesalan. “Sejak kondisi kesehatan Paduka Raja mulai merosot dan beliau jatuh sakit, suplai sumber daya untuk kultivasi Tuan Putri diputus secara sistematis, sehingga kemampuannya tak lagi meningkat. Tujuan akhir para pengkhianat itu sangat jelas: mereka ingin memastikan Tuan Putri Diyah kalah telak dan dipermalukan dalam Turnamen Pendekar Segel Bintang.”

​”Turnamen Pendekar Segel Bintang? Apa maksudnya itu, Paman? Aku baru mendengar ada acara seperti itu,” potong Ken penasaran.

​”Itu adalah ajang kompetisi bela diri terbesar berskala benua di mana seluruh pemuda berbakat berusia dua puluh hingga dua puluh lima tahun dari kelima kerajaan akan berkumpul dan bertarung, tanpa memandang batasan tingkat kekuatan mereka. Turnamen ini digelar setiap lima tahun sekali,” terang Paman Tom, menyingkirkan dedaunan yang menutupi jalurnya.

​”Dan karena tahun ini Kerajaan Es mendapat kehormatan sebagai tuan rumah, seluruh dewan kerajaan—termasuk dewan internal kami yang busuk—telah menyepakati sebuah dekret mutlak: Pemuda dari tim kerajaan manapun yang berhasil menjuarai turnamen ini, akan dinikahkan secara resmi dengan Tuan Putri Diyah.”

​Paman Tom menatap Ken dengan raut wajah putus asa. “Di satu sisi, karena kondisi Paduka Raja yang semakin tak berdaya, beliau sangat berharap ada keajaiban di mana perwakilan dari kerajaan lain—selain Kerajaan Api—bisa keluar sebagai pemenang, agar Putri Diyah dan Kerajaan Es memiliki sekutu tangguh untuk terselamatkan. Namun di sisi lain, ini adalah jalur paling legal dan sempurna bagi Kerajaan Api beserta para pengkhianat internal kami untuk merebut Kerajaan Es tanpa harus mengerahkan armada militer secara terbuka.”

…Sungguh manuver politik yang pengecut namun efektif. Jika dihitung dari skala kekuatan armada Kerajaan Api yang saat ini dipimpin oleh para bajingan itu, seharusnya mereka mampu meratakan pertahanan Kerajaan Es dengan mudah kapan saja. Namun, kenapa mereka menunda invasi dan malah repot-repot menggunakan jalur turnamen politik seperti ini? Ken merenung dalam hati. Apakah mereka sengaja mengulur waktu menunggu pemulihan kekuatan 10 Naga Iblis itu? Atau… jangan-jangan ini ada hubungannya dengan penyatuan ‘Benda Pusaka’ itu?! batin Ken menajam, menyadari konspirasi yang berskala jauh lebih masif dari sekadar perebutan takhta.

​”Baiklah, Paman, benang merahnya sudah mulai terlihat jelas. Dari kacamata pengamatanmu sendiri, apakah seluruh pejabat hebat di Kerajaan Es saat ini diam-diam sudah menjadi anjing peliharaan Kerajaan Api?” selidik Ken lebih jauh.

​”Tidak semuanya, Tuan. Masih ada dua Jenderal Setia yang menutup pintu dari dunia luar dan terus mengawal Paduka Raja siang-malam karena kondisi beliau yang sangat kritis. Sisanya? Sebagian besar telah berkhianat dan menjilat sepatu Kerajaan Api secara langsung. Sementara faksi lainnya hanya sekumpulan oportunis yang bersekongkol menjatuhkan Tuan Putri murni karena keserakahan ingin menguasai Kerajaan Es untuk perut mereka sendiri,” jawab Paman Tom dengan nada jijik.

​”Terima kasih atas penjelasan komprehensifmu, Paman. Jika kulihat polanya, penyakit kronis yang menggerogoti setiap kerajaan di benua ini saat ini berasal dari akar yang sama: para pengkhianat di dalam selimut,” terang Ken, nadanya berubah menjadi sedingin es. “Padahal, para cecunguk oportunis itu tidak sadar bahwa Iblis-Iblis Kerajaan Api itu pada akhirnya tidak akan pernah membiarkan mereka hidup untuk menikmati kekuasaan yang mereka janjikan!”

​Menangkap aura membunuh di balik perkataan Ken, Paman Tom seketika menyadari benang merah penyergapan mereka. “Tuan… apakah seluruh intrik politik busuk ini ada hubungannya dengan gerombolan bandit bayaran yang menyerang dan hendak membunuh kami tadi malam?” tanyanya dengan suara bergetar karena khawatir.

​”Ya! Tentu saja, Paman. Semua ini terhubung. Kita lihat saja nanti pertunjukan apa yang sedang mereka persiapkan,” jawab Ken misterius. Ia kemudian mengerahkan tenaga dalamnya, mempercepat langkah kakinya menyusul posisi Putri Diyah dan Elisha di depan.

Jadi… Tuan Ken yang berada jauh dari pusat peradaban pun sudah menyadari identitas sebenarnya dari orang-orang yang menyerang kami semalam. Pria ini sungguh menakutkan, batin Paman Tom, bergidik ngeri menyadari betapa transparan intrik benua ini di mata seorang Ken.

​Di barisan depan, menyadari langkah Ken dan Paman Tom sempat tertinggal cukup jauh, Elisha menepuk pelan leher Kirin agar memperlambat larinya.

​”Kakak Hebat! Kenapa kalian lambat sekali jalannya seperti kura-kura?! Hahaha!” Elisha tertawa renyah mengejek Ken, mengira tunggangannyalah yang terlampau cepat dan menakjubkan. “Kata Kak Diyah, sebentar lagi kita akan melewati batas wilayah dan resmi memasuki daratan Kerajaan Es! Jika Kakak bisa berlari lebih cepat lagi, kita pasti akan tiba di ibu kota sebelum petang!” celoteh Elisha menyemangati Ken.

​Ken hanya tersenyum tipis merespons ejekan anak kecil itu. “Benarkah? Wah, menantang sekali. Baiklah kalau begitu, berpeganganlah yang erat!”

WUSH!

​Seketika itu juga, Ken meledakkan energi Qi di kedua kakinya. Tubuhnya berubah menjadi bayangan buram yang melesat membelah angin, melompati akar dan bebatuan, seketika menyusul dan memimpin rombongan dengan kecepatan yang membuat mata Elisha membulat takjub.

​Di alam dunia kultivasi, kecepatan pergerakan adalah cerminan mutlak dari seberapa dalam seseorang memahami hukum alam. Bagi seorang Pendekar Segel Bintang tingkat menengah, mereka mampu meringankan tubuh dan melesat melompati dahan-dahan pohon purba dengan kecepatan stabil berkisar empat puluh hingga enam puluh kilometer per jam. Namun, batas fana itu hancur berantakan ketika seorang kultivator sukses mendaki puncak dan mencapai tingkat dewa, God King.

​Para penguasa alam God King memiliki kemampuan untuk memanipulasi gravitasi dan melayang membelah angkasa, melesat bagai komet dengan kecepatan menembus lebih dari seratus kilometer per jam, murni mengandalkan cadangan energi spiritual mereka.

​Tentu saja, ada jalan pintas magis bagi mereka yang belum menyentuh batas dewa: menggunakan artefak legendaris bernama Pusaka Sayap Terbang. Namun, benda pusaka ruang-angkasa semacam itu sama langkanya dengan jatuhnya bintang jatuh di siang bolong. Nilainya sangat fantastis, harganya di balai lelang benua bisa menembus angka puluhan miliar keping emas, menjadikannya harta eksklusif yang hanya bisa disentuh oleh kalangan raja dan kaisar.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!