Bab 15

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Tiba di Kerajaan Es

​Menjelang sore, saat langit mulai disaput warna jingga kebiruan yang membekukan, rombongan Ken akhirnya tiba di depan gerbang raksasa ibu kota Kerajaan Es. Begitu melintasi gerbang utama, mereka langsung dikelilingi oleh barisan pengawal elite untuk digiring menuju istana utama demi menghadap Sang Raja.

​Tak lama, seorang prajurit berpangkat tinggi dengan tubuh kekar menjulang melangkah menghampiri mereka. Pijakan kakinya berat, dan suara baritonnya menggelegar membelah udara dingin bagai sambaran petir. “Akhirnya kalian kembali. Paduka Raja sudah menunggu kalian di ruang takhta,” ucapnya dengan raut wajah kaku, mengambil alih posisi untuk menuntun rombongan.

​”Baik, Jenderal,” jawab Paman Tom seraya memberi isyarat agar yang lain mengikuti langkah jenderal berzirah tebal tersebut.

Hmmm… Seorang Jenderal dengan kekuatan Segel Bintang 10 merendahkan diri menjadi pemandu jalan? Sandiwara penyambutan yang cukup rapi, batin Ken, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna sarkas.

​Setibanya di dalam ruang takhta istana yang megah dan dipenuhi pilar-pilar kristal es, hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyergap. Seluruh anggota rombongan serempak menundukkan badan, memberikan salam penghormatan kepada pria paruh baya yang duduk di atas singgasana.

​Raja Kerajaan Es tampak lelah, didampingi oleh dua orang pengawal pribadi yang berdiri tegak bagai patung batu di sisi kiri dan kanannya. Salah satu pengawal bertubuh raksasa penuh otot, sementara yang lainnya memiliki postur seimbang yang menyerupai postur sang Raja sendiri.

​Tanpa memedulikan protokoler kerajaan, Putri Elisha segera berlari membelah karpet sutra. “Ayahanda! Aku sangat merindukanmu!” seru Elisha, langsung menghambur dan memeluk erat lutut ayahnya.

​Ketegangan di wajah Raja seketika luntur, digantikan oleh senyum hangat penuh kelegaan. Ia membelai rambut putrinya dengan tangan gemetar. “Syukurlah… Apa kau baik-baik saja di luar sana, Anakku?” tanyanya dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan.

​Dari posisinya berdiri, mata Ken memindai energi setiap individu di ruangan itu. Fondasi kekuatan Raja ini sebenarnya berada di tingkat Dewa Bintang 5. Namun, ada anomali yang menyumbat meridiannya… sepertinya aura kekuatannya sengaja ditekan secara paksa, atau mungkin diracuni perlahan! Ken menganalisis dalam diam. Pandangannya kemudian beralih pada dua pengawal di sisi singgasana. Sementara itu, kedua pengawal pribadinya ini memiliki kekuatan God King Bintang 1. Menariknya, pendaran Segel Bintang mereka sangat identik: 6 segel berwarna biru, dan 4 segel sisanya memancarkan warna emas murni.

​”Elisha, bagaimana keadaanmu? Apa ada yang terluka?”

​Sebuah suara merdu namun bernada dingin memecah keheningan. Seorang gadis berparas cantik nan angkuh, dibalut jubah kebesaran berlambang salju, baru saja melangkah masuk ke ruang takhta didampingi oleh seorang pemuda bangsawan.

​”Tenang saja, Kakak! Ayah! Aku baik-baik saja, tidak ada sehelai rambutku pun yang rontok. Lihatlah!” terang Elisha sambil berputar memamerkan dirinya pada kedua anggota keluarganya itu.

​Gadis yang dipanggil kakak itu menghela napas lega, lalu menoleh pada seorang pengawal wanita. “Bibi, bawa Elisha ke keputren untuk menemui Ibunda Ratu sekarang juga,” perintahnya tanpa celah bantahan.

​”Sesuai perintah, Tuan Putri,” jawab pengawal wanita itu. Ia segera menggandeng tangan Elisha dan membawanya keluar dari ketegangan ruang takhta.

​Ken menyipitkan matanya menatap gadis itu. …Jadi dia adalah kakak kandung Elisha. Energi di tubuhnya menunjukkan ia berada di Tingkat Segel Bintang 6. Sementara pemuda bangsawan yang bersamanya berada di Tingkat Segel Bintang 8. Ya! Lumayan untuk ukuran pemuda di benua ini, batin Ken menilai.

​Namun, kedamaian reuni itu dihancurkan seketika.

​”Prajurit! Tangkap rombongan ini dan segera seret mereka ke dalam penjara bawah tanah!” titah jenderal yang tadi mengawal mereka masuk, suaranya menggema memantul di dinding es.

​Mendengar perintah penangkapan yang tiba-tiba itu, Paman Tom terperanjat. Ia buru-buru melangkah maju dan berlutut. “Paduka Raja! Jika hamba harus menanggung hukuman mati, hamba siap ditangkap! Namun, Putri Diyah sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Hamba memohon keadilan Anda, tolong lepaskan beliau!” mohon Paman Tom dengan suara serak.

​Diyah menatap punggung Paman Tom dengan sorot mata yang menyiratkan kepedihan, seakan berkata, ‘Apa yang Paman lakukan? Jangan korbankan nyawamu sendiri!’ Diyah kemudian mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah sang ayahanda. “Paduka Raja, kumohon… tolong dengarkan penjelasan kami terlebih dahulu sebelum menjatuhkan vonis,” ucap Diyah, ikut memohon keadilan.

​Raja hanya terdiam membeku, matanya memancarkan dilema yang berat.

​Sebelum Raja sempat membuka mulut, sosok jenderal lain dengan zirah yang lebih mewah muncul melangkah dari balik pilar. “Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Paduka Raja! Tindakan kelalaian yang membahayakan nyawa penerus takhta, Putri Elisha, adalah pelanggaran dan kejahatan tingkat tinggi bagi kerajaan. Siapa pun yang terlibat, pantas untuk dihukum mati!” desaknya, mencoba menekan otoritas Raja.

​”Jenderal Lamarr, dari mana saja kau? Ini adalah area tanggung jawabmu, uruslah para pesakitan ini,” sahut jenderal pertama yang bernama Bonar, menyerahkan otoritas eksekusi.

​”Tentu, Jenderal Bonar. Tadi aku harus menyelesaikan beberapa urusan penting di sektor barat,” terang Jenderal Lamarr dengan senyum angkuh. Ia memutar tubuhnya menghadap barisan prajurit bersenjata. “Prajurit! Tunggu apa lagi? Seret mereka ke penjara sekarang juga!”

​Ken melipat kedua tangannya di dada, menganalisis situasi dengan tenang. …Kedua jenderal ini memiliki warna Segel Bintang biru yang sama dengan milik Raja, dan level kekuatan mereka telah menembus batas Dewa Bintang 4. Sejauh ini, aku belum pernah melihat ada petinggi di sini yang berhasil memadatkan Segel Bintang berwarna merah darah. Hahaha, sepertinya jika mereka melihat lengan Fubao, mereka akan menganggap muridku itu sebagai monster kegelapan, batin Ken, diam-diam menertawakan standar kekuatan di benua es ini.

​Melihat prajurit mulai mengepung, Paman Tom hanya bisa menunduk pasrah. Di sisi lain, Putri Diyah terdiam kaku. Wajah cantiknya memucat di balik cadarnya. Bagaimana ini… Kenapa situasinya malah menjadi kacau seperti ini? batin Diyah dihantui ketakutan.

​Di tengah situasi yang mencekam itu, Ken mengembuskan napas pelan. Senyum kecil dan dingin terlukis di bibirnya. Ia melangkah satu tindak ke depan, memosisikan dirinya di depan Diyah.

​”Jika ada satu saja ujung jari kalian yang berani menyentuh kain jubah Putri Diyah… aku akan memastikan kalian semua mati tanpa sempat berkedip,” ancam Ken. Suaranya datar, namun membekukan udara di ruangan itu melebihi sihir es mana pun.

​Merasakan aura kematian murni yang menekan pita suara mereka, para prajurit yang hendak maju mendadak membeku di tempat. Bulu kuduk para tetua istana berdiri merinding mendengar ancaman arogansi tersebut.

​Tersulut emosi melihat seorang rakyat jelata berani mengancam di ruang takhta, kakak Elisha—Putri Julia—melesat ke depan. Dengan gerakan kilat, ia menghunus pedang peraknya dan menodongkan ujung bilah tajam itu tepat beberapa inci dari leher Ken.

​”Seorang pengawal kotor sepertimu tidak memiliki hak sedikit pun untuk ikut campur dalam urusan hukum kerajaan kami!” desis Julia, tatapannya setajam es, siap untuk menggorok leher pemuda tak tahu diuntung itu.

​Ken sama sekali tidak berkedip melihat bilah pedang di lehernya. Ia justru terdiam kaku. Fokus matanya tak tertuju pada ujung pedang, melainkan pada sebuah kalung kristal unik yang menggantung di leher putri tersebut.

Kalung itu… Jadi itu kau! Ternyata benar dugaanku… Kau adalah seorang Putri. Putri Es dari masa lalu itu! batin Ken bergemuruh, kepingan memori masa lalunya akhirnya menemukan tempat berlabuh.

​Ia kemudian menatap mata Julia dengan ketenangan yang absolut. “Aku rasa kau harus lebih berhati-hati dalam memegang pedangmu itu, Tuan Putri. Benda itu bisa melukaimu sendiri,” ucap Ken memperingatkan, sama sekali tak terintimidasi oleh ujung pedang di jakunnya.

​Melihat situasi yang nyaris berdarah, pemuda bangsawan yang sedari tadi menemani Julia segera melangkah maju dan menarik perlahan bahu gadis itu. “Apa yang sedang kau lakukan, Julia? Tenanglah, jangan nodai tanganmu di sini,” ucap pemuda itu menenangkannya. “Sayang, ayo kita kembali mundur. Biarkan para jenderal yang mengurus tikus-tikus ini.”

Julia!… Dan pemuda itu memanggilnya ‘Sayang’?! batin Ken. Sesuatu di dalam dadanya berdesir aneh, menyadari bahwa gadis yang selama bertahun-tahun ia cari kini telah memiliki tempat berlabuh yang lain.

​”Tangkap mereka semua! Jangan buang waktu lagi!” aum Jenderal Lamarr, mengulangi perintahnya dengan murka.

​Saat para prajurit lapis baja kembali memaksakan diri melangkah mendekati Putri Diyah, mata Ken berubah sepenuhnya menjadi dingin.

ZWUSH!

​Ruang di tangannya beriak, dan dari Cincin Bintangnya muncul sebilah Pedang Rantai raksasa berlumur aura membunuh. BLAAAM! Ken menancapkan pedang berat itu ke lantai marmer kristal tepat di samping Diyah, menciptakan retakan jaring laba-laba yang menjalar ke segala arah.

​”Aku sudah memperingatkan kalian. Jika kalian sudah bosan hidup… majulah selangkah lagi,” geram Ken, mencengkeram gagang pedang raksasanya dengan tangan kanan, siap melakukan pembantaian di ruang takhta.

​Diyah hanya bisa terdiam membisu, menatap punggung tegap Ken yang melindunginya. Kak Ken… apa yang sebenarnya ingin kau lakukan dengan melawan seluruh istana? batin Diyah, jantungnya berdegup kencang diliputi rasa aman sekaligus khawatir yang luar biasa.

​Melihat senjata raksasa dihunus di ruang takhta, urat di dahi Jenderal Lamarr menonjol mau pecah. “Lancang! Beraninya kau mengeluarkan senjata dan mengancam di hadapan wajah Sang Raja! Ini adalah makar!” bentaknya, bersiap memanggil kekuatan penuhnya.

​Namun, di atas singgasana, mata Sang Raja justru menyipit mengenali bentuk senjata yang sangat tidak lazim itu. “Siapa namamu, Anak Muda?” tegur Raja dari kursinya. Meski suaranya terdengar parau, wibawa seorang penguasa benua tetap tak bisa disembunyikan.

​Ken melirik ke arah takhta tanpa melepaskan cengkeramannya dari pedang. “Apa kau tidak dengar apa yang diucapkan putrimu tadi, Raja? Putrimu memanggilku pengawal kotor. Jadi, anggap saja aku adalah seorang pengawal,” ucap Ken, membalas dengan nada yang kental akan sindiran tajam.

​Khawatir arogansi Ken akan memancing hukuman mati, Putri Diyah secara spontan meraih dan menggenggam erat lengan kiri Ken. “Kak Ken… kumohon,” bisik Diyah mengingatkan dengan tatapan memelas agar pria itu meredam emosinya dan sedikit lebih bersikap sopan.

​Melihat sentuhan dan tatapan Diyah, kekerasan hati Ken sedikit melunak. Ia mengangguk samar, memahami maksud sang putri.

​”Paduka Raja, mohon ampuni kami,” Diyah akhirnya angkat bicara, mengambil alih situasi. “Pria ini adalah Tuan Ken, Pemimpin Tertinggi dari Aliansi Siama. Saat kami dalam perjalanan pulang, rombongan kami disergap secara mematikan oleh kawanan Bandit Gajah Api. Jika bukan karena Tuan Ken yang kebetulan melintas dan membantai musuh untuk menyelamatkan kami, kami tidak akan pernah bisa kembali kemari dengan bernapas, Paduka.”

​”Aliansi Siama?!” Raja tersentak ringan, matanya membelalak kaget sebelum akhirnya mengukir senyum penuh arti. “Aku benar-benar tidak menyangka takdir akan membawa dewa perang dari faksi legendaris itu berkunjung ke istanaku,” jawab Raja, auranya seketika melunak.

​Raja kemudian menatap putrinya dengan serius. “Diyah, meski begitu, apakah kau tidak menyadari bahwa kesalahanmu membawa adikmu yang masih belia menyelinap keluar dari perbatasan kerajaan itu sangatlah fatal?” tegur Raja, menuntut pertanggungjawaban.

​Mendengar teguran itu, Diyah mengerutkan kening. Ia merasa ada mata rantai yang terputus. “Mohon ampun, Ayahanda. Tapi aku sama sekali tidak membawa Elisha keluar dari istana secara sadar. Bukankah dalam surat yang kukirim melalui merpati roh semalam aku sudah menjelaskan semuanya secara detail bahwa Elisha menyelinap—”

​”Omong kosong, Paduka Raja!” Sebuah suara lantang memotong penjelasan Diyah. Seorang komandan prajurit penjaga istana melangkah maju dengan arogan. “Tidak ada satu pun surat yang masuk maupun diterima oleh pos penjagaan semalam! Putri Diyah jelas berbohong untuk menutupi kesalahannya, Ra—”

​Ucapan komandan prajurit itu tak pernah terselesaikan.

SWUSH!

​Dalam seperseribu detik, Ken memusatkan energinya. Tubuhnya berkelebat bagai hantu, melampaui batas kecepatan mata telanjang. Sebelum ada satupun jenderal yang bisa bereaksi, Ken telah berdiri tepat di hadapan komandan prajurit itu. Dengan satu hantaman telak, ia meremukkan dada sang prajurit, menjatuhkannya ke lantai. Di saat yang bersamaan, ujung bilah pedang rantai Ken telah menancap sedalam inci menembus dada prajurit itu, mengunci tubuhnya ke marmer es.

​”Pengkhianat kotor sepertimu tidak memiliki hak sedikit pun untuk memotong perkataan seorang Tuan Putri,” desis Ken dingin. Ia menekan gagang pedangnya lebih dalam, membuat prajurit itu menjerit tertahan tak berdaya. Ken menoleh perlahan ke arah para pejabat kerajaan, memancarkan niat membunuh yang pekat. “Silakan lanjutkan penjelasanmu, Tuan Putri. Jika ada lalat lain yang berani memotong ucapanmu lagi, biar pedangku yang mengurus lidah mereka.”

​Aksi brutal dan secepat kilat itu membuat seluruh penghuni ruang takhta membeku dalam kengerian. Tak ada satu pun dari mereka yang menyangka ada orang yang berani menumpahkan darah di depan Sang Raja. Menyadari reputasi dan nama besar Aliansi Siama yang beredar, tak satu pun jenderal yang berani mengambil langkah gegabah.

Hah! Prajurit komandan itu memiliki fondasi kekuatan Bintang 6… Tapi pemuda ini bisa membanting dan melumpuhkannya dengan semudah membalik telapak tangan?! batin Putri Julia terguncang ngeri. Ia tanpa sadar menelan ludah, baru menyadari betapa bodoh dan gegabahnya tindakan dia mengarahkan pedang ke leher monster ini beberapa menit yang lalu.

​Keheningan yang mencekam memberi ruang bagi Diyah untuk menyelesaikan pembelaannya. “Seperti yang hendak kujelaskan… Elisha diam-diam menyelinap dan bersembunyi di dalam peti perbekalan di kereta. Kami baru menyadari keberadaannya saat kami sudah keluar jauh dari wilayah Kerajaan Air…”

​Setelah mendengarkan penjelasan utuh dan jujur dari putrinya, Raja mengangguk paham. Wajahnya berubah menjadi sangat kelam. “Jenderal Lamarr,” panggil Raja, suaranya kini seberat baja. “Aku menuntutmu untuk segera membongkar tuntas kesalahpahaman ini. Terlihat sangat jelas bahwa ada pihak kotor di dalam istana ini yang sengaja menyabotase jaringan komunikasi agar surat dari putriku tidak sampai padaku, sehingga sengaja memicu kepanikan massal di ibu kota!”

​Raja menarik napas panjang, menekan rasa sakit di dadanya. Syukurlah rentetan kesalahpahaman maut ini dapat dihentikan tepat waktu. Pemuda bernama Ken ini… instingnya sangat menakutkan, batin Raja, menatap Ken dengan penuh penilaian mendalam.

​Jenderal Lamarr terlihat gelagapan, wajahnya memucat seketika. “S-sesuai perintah, Paduka Raja! Namun… meskipun begitu, pemuda asing ini telah menyerang dan menyiksa perwira kami hingga sekarat di ruang takhta! Ia telah melecehkan hukum es. Dia tetap harus ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya, Paduka!” Jenderal Lamarr mencoba mengalihkan fokus, tak rela melepaskan Ken begitu saja.

​”Lamarr benar, Paduka. Harga diri kerajaan kita akan terinjak-injak jika membiarkan hal ini berlalu!” tambah Jenderal Bonar, mendukung rekannya.

​Mendengar argumen konyol kedua jenderal itu, Ken menarik pedangnya dari dada sang prajurit, membiarkan darah menetes dari bilahnya, lalu tertawa terbahak-bahak.

​”Hahaha! Kalian berdua ini benar-benar jenderal idiot yang bermata buta,” ejek Ken tanpa ampun, menunjuk wajah kedua jenderal itu dengan ujung pedangnya. “Seharusnya kalian bersujud dan berterima kasih padaku! Aku baru saja melakukan pekerjaan kotor kalian dengan menguliti parasit pengkhianat dari Kerajaan Api yang bersarang di istana kalian!”

​”Kurang ajar! Tuduhan tak berdasar apa yang sedang kau racaukan?!” bentak Jenderal Bonar, kesabarannya benar-benar telah mencapai batas maksimal.

​Tanpa banyak bicara, Ken menendang tubuh prajurit yang menggelepar di bawah kakinya. Dengan satu sapuan energi, Ken secara paksa menghancurkan segel sihir ilusi yang menyembunyikan identitas asli di balik zirah prajurit tersebut. Seketika, tato kutukan berbentuk kobaran api hitam terekspos jelas di lengan kanan sang prajurit.

​”Buka mata kalian lebar-lebar. Bukankah itu adalah simbol anjing peliharaan Kerajaan Api?” Ken berbalik dengan jijik, berjalan menjauhi prajurit pengkhianat itu dan kembali melangkah ke sisi Putri Diyah.

Kurang ajar! Bagaimana bisa pemuda bau kencur ini membaca dan mematahkan segel ilusi tingkat tinggi itu dengan sekali lirik?! batin Jenderal Lamarr menjerit, keringat dingin membasahi punggungnya.

​”Kejutannya tidak berhenti sampai di situ…” Ken memutar Cincin Ruangnya. WUSH! Beberapa tumpukan debu kristal dan mayat kaku para bandit yang menyerang rombongan Diyah semalam ia lemparkan ke tengah ruangan marmer tersebut.

​”Orang-orang ini adalah komplotan bajingan yang menyergap rombongan putri kalian tadi malam,” terang Ken dengan suara lantang. “Mereka semua mengenakan seragam dan zirah Prajurit Kerajaan Es untuk mengkambinghitamkan pihak lain. Tapi ironisnya… di balik kulit mereka, tertanam kuat simbol loyalitas Kerajaan Api!” Ken membeberkan bukti konspirasi mematikan itu di hadapan seluruh petinggi istana.

​Melihat bukti nyata pengkhianatan yang busuk itu, mata Sang Raja membelalak lebar. Jantungnya terpukul keras menyadari betapa keroposnya fondasi kerajaannya. “Lamarr!! Bagaimana bisa markas pertahanan utamamu disusupi oleh pengkhianat sebanyak ini tanpa kau sadari?!” raung Raja menatap tajam Jenderal Lamarr dengan murka absolut.

​Raja kemudian menoleh ke arah pengawal pribadinya. “Hameng! Aku memerintahkanmu untuk turun tangan. Bantu Lamarr mengupas tuntas jaringan pengkhianat di istana ini hingga ke akar-akarnya!” titah Raja, dengan cerdas memecah otoritas Lamarr agar tidak bisa menutupi jejaknya.

​”Sesuai perintah Anda, Paduka,” jawab Jenderal Hameng dengan suara rendah yang mematikan.

​Jenderal Lamarr menelan ludah, seluruh tubuhnya menegang. “B-baik, Paduka Raja. Hamba berjanji akan menyelesaikannya secepat mungkin,” jawabnya gugup. Ia segera memutar tubuhnya ke arah pasukan. “Prajurit! Cepat singkirkan sampah-sampah pengkhianat ini ke ruang interogasi!” perintahnya panik, berusaha terlihat tegas sebelum bergegas pergi meninggalkan ruang takhta demi menyelamatkan wajahnya.

Astaga, syukurlah ada Tuan Ken di pihak kami. Jika tidak, nyawa kami pasti sudah berakhir di tiang gantungan hari ini, batin Paman Tom, tersenyum lega sambil mengusap dadanya.

​Melihat bahwa krisis diplomasi dan ancaman nyawa telah berhasil diredam, Ken menyarungkan kembali Pedang Rantainya. “Baiklah, karena panggung sandiwara ini sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu dibahas denganku, aku memohon pamit,” ucap Ken seraya berbalik.

​”Paduka Raja, Tuan Putri Diyah, Paman Tom. Aku butuh ruang untuk beristirahat,” pamit Ken singkat. Ia melirik sekilas ke arah Diyah. “Jika kau membutuhkan bantuanku untuk sesuatu yang mendesak, panggil saja Kirin. Monster itu terhubung denganku.”

​”Hmmm, baiklah. Aku mengerti. Terima kasih banyak atas segalanya hari ini, Kak Ken,” ucap Diyah, membalas tatapan itu dengan senyum manis penuh rasa syukur.

​Tak lama setelah sosok Ken menghilang di balik lorong istana, Elisha berlari kecil kembali ke ruang takhta, memutar kepalanya kebingungan mencari-cari sosok pahlawannya. “Kak Diyah! Ke mana perginya Kak Ken? Kenapa dia menghilang?” tanyanya sambil menarik-narik ujung gaun kakaknya.

​”Kak Ken sudah pergi, Sayang. Dia sangat kelelahan dan butuh waktu beristirahat di kamarnya,” jawab Diyah dengan lembut.

​Mendengar itu, Elisha mengangguk paham. “Emmm, baiklah.” Namun tiba-tiba, fokus gadis kecil itu beralih dengan tajam ke arah ayahnya. Ia berkacak pinggang dan berjalan mendekati singgasana dengan wajah pura-pura galak. “Ayahanda! Apakah Ayah sudah memberikan kado hadiah yang luar biasa mewah sebagai tanda terima kasih padanya?!” tanyanya menginterogasi Sang Raja.

​Menyadari kelalaiannya dalam mengapresiasi sang pahlawan karena sibuk mengurus pengkhianatan, Raja terbatuk canggung. “Ahh… Ayah belum sempat memberinya hadiah apa pun, Elisha. Pemuda itu pergi begitu saja sebelum Ayah sempat membuka lemari pusaka. Jadi, Ayah memang belum memberinya imbalan,” ucap Raja berkelit membela diri.

​Elisha menggembungkan pipinya jengkel. “Ayah ini payah dan pelit sekali! Padahal Kakak Hebat itu sudah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku dan Kak Diyah dari penjahat! Terlebih lagi, Kak Ken sudah memberiku sangat banyak hadiah berharga! Coba Ayah lihat salah satunya ini!” cerocos Elisha mengomel.

​Dengan wajah penuh kebanggaan, Elisha menjentikkan jarinya dan memanggil monster spiritual kesayangannya keluar dari ruang dimensi.

​Seketika, seekor serigala berbulu perak mengilap yang anggun muncul dan mengendus tangan Elisha.

​”Hah! I-itu… Seekor Monster Bintang Langit?!” Sang Raja tersentak hingga nyaris berdiri dari singgasananya, matanya tak berkedip melihat ras monster purba yang sangat langka tersebut.

​”Benar sekali! Namanya Kirin, dan dia telah melakukan Segel Kontrak seumur hidup denganku!” Elisha dengan bangga menunggangi punggung Kirin. “Kirin, tunjukkan pada Ayah! Membesarlah!”

​Seketika tubuh Kirin membesar sepuluh kali lipat menjadi wujud Ekor Sepuluh, menutupi langit-langit ruang takhta.

​”Lihatlah, Ayah! Kirin sangat pintar menyesuaikan ukuran tubuhnya. Dan sekarang… tunjukkan Mode Tempurmu, Kirin!”

​Auman menggetarkan jiwa terdengar. Tubuh raksasa Kirin seketika dibalut oleh zirah sisik berwarna merah keemasan, memancarkan aura membunuh dan hawa panas yang sangat mengerikan, menandingi aura para jenderal di ruangan itu.

​”Bagaimana, Ayah?! Sangat hebat, kan?!” Elisha terus bertingkah memamerkan hewan peliharaan barunya, sangat menikmati wajah tercengang ayahnya. “Ingat ya, Ayah! Ayah harus mencarikan hadiah yang paling spektakuler untuk Kak Ken! Jika tidak, aku dan Kirin yang akan mendobrak pintu kamar Ayah malam ini! Hahaha! Aku pergi dulu menyusul Ibu, Ayah!” ancam Elisha nakal seraya terkikik geli, lalu menunggangi Kirin keluar dari istana.

​”Hah! Dasar anak nakal… Berani-beraninya mengancam ayahmu sendiri dengan monster,” gumam Raja menggelengkan kepala meladeni candaan putri bungsunya yang telah berlalu. Namun, wajah Raja seketika berubah serius saat ia menatap Diyah. “Diyah, katakan dengan jujur pada Ayah… apakah benar monster suci itu murni diberikan secara cuma-cuma oleh pemuda bernama Ken itu?” tanyanya memastikan.

​”Benar adanya, Ayahanda,” Diyah mengangguk pasti. “Kak Ken menghadiahkannya tanpa ragu agar Kirin bisa menemaniku dan Elisha saat bepergian. Kak Ken bahkan menjamin, dengan adanya Kirin di sisi Elisha, meskipun kami dikepung oleh musuh berlevel God King sekalipun, Kirin memiliki insting dan kecepatan absolut untuk melarikan diri dengan aman,” jelas Diyah, menekankan nilai dari hadiah tersebut.

​Raja mengembuskan napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut. “Astaga… Baiklah, Ayah harus memutar otak mencari hadiah pusaka apa yang pantas untuk membalas budinya,” gumam Raja dengan raut wajah rumit.

​”Kau harus tahu, Diyah… memiliki Monster Bintang Langit yang jinak dan patuh secara spiritual seperti itu bukanlah hal yang bisa dinilai dengan emas atau berlian. Di dunia kultivasi, seorang penjinak monster tingkat dewa sekalipun umumnya harus menghabiskan waktu dua puluh tahun lebih hanya untuk membujuk Monster Bintang biasa agar mau menjalin kontrak. Untuk ras setinggi Serigala Bintang Langit? Waktu penundukannya bahkan mungkin membutuhkan ratusan tahun penyiksaan jiwa!” terang Raja membongkar nilai sesungguhnya dari monster itu.

​”Aku khawatir, kerajaanku mungkin tidak akan sanggup memberikan balasan harta benda yang sebanding dengan nilai monster itu. Sepertinya… mulai hari ini, istana ini memiliki utang nyawa dan utang budi yang tak terbayarkan pada pemuda itu,” ungkap Sang Raja, menyandarkan tubuhnya ke takhta dengan senyum pasrah yang dipenuhi rasa hormat.

​Mendengar penjelasan sang ayah, dada Diyah berdesir hebat. Ternyata harga dari seekor Monster Bintang Langit begitu mistis dan tak ternilai… Dan Kak Ken, tanpa keraguan sedetik pun, menyerahkannya secara cuma-cuma hanya demi menghapus rasa takut Elisha dan meringankan bebanku menggendongnya? Pria macam apa sebenarnya kau, Kak Ken? batin Diyah, memendam kekaguman dan perasaan hangat yang semakin mengakar kuat di hatinya.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!