Bab 16

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Pertemuan Kembali Di Tengah Salju

​Sore itu, hawa dingin Kerajaan Es merayap masuk melalui celah-celah jendela penginapan. Ken berdiri mematung di sudut ruangan, sepasang matanya menatap tajam ke arah hiruk-pikuk kota yang mulai diselimuti kabut salju. Di sampingnya, sesosok bayangan berjubah hitam berdiri dengan kesetiaan yang sunyi.

​”Awasi setiap jengkal pergerakan Jenderal Lamarr dan Jenderal Bonar. Jangan biarkan satu embusan napas mereka pun luput dari pengamatanmu,” titah Ken tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari jendela.

​”Sesuai perintah Anda, Tuan,” jawab sosok tersebut dengan suara rendah yang kemudian memudar, melebur bersama bayangan di sudut ruangan.

​Ken melangkah perlahan menuju ranjang. Ia merebahkan tubuhnya yang letih, menatap langit-langit kayu yang kasar. Julia… seuntai nama yang selama ini hanya bergema dalam sunyi ingatannya. Ia tak pernah menyangka penantian panjang dan pencariannya akan berlabuh begitu cepat. Sosok Putri Es yang ia cari kini telah berada di depan mata, meski pertemuan mereka tadi terasa begitu singkat dan dingin.

Baguslah… setidaknya dengan begini, aku bisa segera menuntaskan urusanku dan kembali menemui Guru, batin Ken sembari memejamkan mata, memantapkan resolusi di hatinya.

​Keesokan paginya, saat fajar baru saja menyentuh puncak-puncak menara es.

Tok… tok… tok…

​”Kak Ken, apakah kau ada di dalam?” Sebuah suara lembut memanggil dari balik pintu kayu kamarnya.

​Ken tersentak dari meditasi ringannya. Suara ini… Dyah? batinnya mengenali nada bicara yang familiar tersebut.

​”Tuan, aku melihatnya kebingungan mencari keberadaanmu di beberapa penginapan dekat gerbang istana. Karena itu, aku memutuskan untuk memandunya kemari,” bisik sosok berjubah hitam yang mendadak muncul di sudut ruangan, memberi laporan singkat.

​”Begitukah? Kupikir dia sedang asyik berkeliling bersama Kirin,” gumam Ken pada bawahannya. “Tunggu sebentar!” seru Ken ke arah pintu sembari bergegas membukanya.

​Begitu daun pintu terbuka, sosok Dyah berdiri di sana dengan senyum ramah yang hangat, sangat kontras dengan suhu udara di luar. “Ah, halo! Rupanya kau benar-benar di sini. Maaf, apakah aku mengganggu?” Dyah melirik ke sekeliling lorong sejenak sebelum Ken mempersilakannya masuk.

​Dyah melangkah masuk dan segera menata beberapa bungkusan yang ia bawa ke atas meja. “Emmm… awalnya aku hanya mencoba mengikuti instingku, tapi ternyata Kak Ken benar-benar pandai bersembunyi. Kau sangat sulit dicari, Hehehe,” ucap Dyah sembari tertawa kecil, membayangkan usahanya menyisir kota. “Aku menemukan kartu nama penginapan ini tertinggal di meja resepsionis penginapan terakhir yang kudatangi. Pikirku, Kak Ken pasti lebih suka tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian, jadi aku mencoba peruntunganku di sini.”

​Ia meletakkan piring terakhir yang mengepulkan aroma gurih. “Makanlah, Kak Ken. Aku tahu kau pasti belum sempat mengisi perutmu,” ucapnya dengan binar mata yang tulus.

​”Kau tidak perlu repot-repot sejauh ini, Tuan Putri. Hidangan ini terasa terlalu mewah untuk pendekar pengembara sepertiku,” balas Ken, merasa sedikit sungkan atas perhatian tersebut.

​Tepat saat ia hendak menolak, sebuah suara pengkhianat terdengar dari perutnya. Kruuk… Kruk… Bunyi keroncongan itu menggema begitu jelas di ruangan yang sunyi.

​Ken seketika mematung, rona merah tipis muncul di wajahnya. “A-aa, maaf… apa kau mendengarnya?” gumamnya dengan rasa malu yang jarang ia tunjukkan.

​Diyah tak kuasa menahan tawa. “Tentu saja aku dengar. Suaranya terdengar seperti naga purba yang baru saja terbangun dari tidur seribu tahunnya,” goda Dyah dengan mata yang menyipit jenaka. “Sudahlah, jangan banyak alasan. Ayo kita makan, Kak Ken,” ucapnya sembari menyodorkan sepasang sumpit.

​Ken akhirnya menyerah dan mulai menikmati hidangan itu dengan lahap. Rasa masakan istana yang otentik sejenak menghangatkan tubuhnya.

​Usai bersantap, Dyah mengajak Ken berjalan-jalan memasuki area dalam wilayah kerajaan. Suasana di sana sangat sibuk; para pengrajin dan prajurit tampak bahu-membahu mempersiapkan dekorasi dan panggung untuk Ujian Pandhega yang sudah di depan mata. Ujian Pandhega sendiri merupakan ajang sakral bagi para Pendekar Segel Bintang Tingkat 8 untuk membuktikan kelayakan mereka. Mereka yang berhasil lolos akan dianugerahi gelar Pandhega—sebuah status militer elit yang hanya setingkat di bawah Jenderal.

​Setelah cukup lama berkeliling, mereka berhenti di sebuah teras luas di lantai dua. Dari sana, lapangan latihan utama terlihat dengan sangat jelas. Di bawah sana, tim inti Kerajaan Es tengah melakukan simulasi tempur dengan intens.

​Tiba-tiba, mata Ken menyipit tajam. Fokusnya terkunci pada salah satu pemuda di lapangan. Hah! Orang itu… apa yang dilakukannya di tempat ini? batin Ken.

​”Tuan Putri, siapa pria dengan bekas luka melintang di matanya itu?” tanya Ken, menunjuk ke arah petarung yang gerakannya terlihat sangat agresif.

​”Oh, itu Onoke. Dia adalah rekan satu timku,” jawab Dyah sembari merapikan kursi kayu di balkon. “Duduklah dulu, Kak Ken.”

​Ken duduk, namun pikirannya masih tertuju pada pria di bawah sana. Teman satu tim? Orang seperti dia? Ken mengerutkan kening. Onoke… konspirasi busuk apa yang sedang kau rencanakan di sini?

​”Benar, dia anggota kami. Turnamen Segel Bintang adalah kompetisi berbasis tim. Setiap kelompok terdiri dari lima anggota utama dan dua cadangan. Tim Kerajaan Es sendiri diperkuat olehku, Julia, Onoke, dan empat orang terpilih lainnya,” terang Dyah secara rinci. “Kenapa, Kak Ken? Apa kau mengenali wajahnya? Sebelumnya Onoke adalah prajurit reguler, tapi karena bakatnya dianggap menonjol, dia direkrut untuk melengkapi tim. Dia baru bergabung dua bulan, tapi jika ia terus giat, sebentar lagi dia bisa membangkitkan Segel Bintang ketujuhnya.”

​”A-aa, tidak… lupakan saja. Mungkin aku hanya salah lihat,” kilah Ken, meski instingnya meneriakkan bahaya. Apa yang sebenarnya kau incar dari Tuan Putri, Onoke? Ken merasakan aura kegelapan yang tersamar dari niat pria tersebut.

​”Oh, lihat di sana! Yang berambut perak itu adalah Julia, sepupuku, putri pertama dari garis keturunan Raja. Aku rasa kalian sudah berkenalan dengan cara yang… sedikit dramatis kemarin, bukan?” Dyah menjelaskan sembari melemparkan senyum aneh yang sarat makna. “Dan pemuda di sampingnya adalah Raden, Pangeran dari Kerajaan Air. Dia dan Julia sudah bertunangan. Kabarnya mereka akan melangsungkan pernikahan agung tepat setelah turnamen ini berakhir,” lanjut Dyah, membeberkan peta politik dan asmara di depannya.

​Ken mengangguk paham, matanya mengikuti pergerakan Julia. “Ya, dia yang kemarin hampir menggorok leherku dengan pedangnya. Kurasa mereka pasangan yang serasi, seorang putri dan pangeran yang sempurna,” ucap Ken dengan nada suara yang sedikit meninggi, berusaha menutupi gejolak di dadanya.

​Diyah menatap wajah Ken lekat-lekat, mencari celah emosi di sana. Kenapa dia terlihat begitu tenang? Apa dia benar-benar tidak merasa cemburu sedikit pun? batin Dyah sembari menyunggingkan senyum misterius. “Julia sebenarnya orang yang sangat baik. Kemarin dia hanya tidak ingin kau memperkeruh suasana, jadi tubuhnya bergerak secara refleks. Terkadang, jika kemarahannya sudah mencapai puncak, dia memang bisa sedikit kehilangan kendali diri,” bela Dyah.

​”Begitukah? Baguslah jika dia memperlakukanmu dengan baik,” jawab Ken datar.

​”Kami sangat dekat, bahkan dia sering berdiri paling depan untuk membelaku. Jadi, kuharap Kak Ken tidak menaruh dendam padanya, ya?” Dyah menatap Ken dengan sorot mata polos, menyerupai seorang anak kecil yang sangat berharap permohonannya dikabulkan.

Gadis ini… apakah dia sengaja memancingku? batin Ken melihat tingkah laku Dyah. “Ah… ya, tenang saja. Aku bukan tipe orang yang menyimpan dendam pada seorang wanita,” tegas Ken diikuti senyum tipis.

​Mendengar jawaban itu, Dyah tampak sangat puas. Namun, sesaat kemudian, keceriaan di wajahnya memudar, digantikan oleh gurat keseriusan yang muram. “Oh, iya… Kak Ken, apakah… apakah kau akan segera pergi dalam waktu dekat?” tanya Dyah, suaranya sedikit mengecil.

​Ken tertegun sesaat. “Apa maksudmu?”

​”Hmmm, bukankah kau sudah menemukan orang yang selama ini kau cari?” Dyah menatap lurus ke mata Ken. “Jangan khawatir, aku adalah orang yang sangat pandai menjaga rahasia.”

​Ken terdiam. Ternyata kepekaan gadis ini jauh melampaui dugaannya. “Ya, kau benar. Aku sudah menemukannya,” aku Ken terus terang. “Dan sepertinya, tidak ada lagi alasan baginya untuk bersamaku. Jadi… mungkin perjalananku akan segera berlanjut ke tempat lain.”

​Diyah menunduk, matanya menatap lantai teras dengan perasaan yang berkecamuk. “Benarkah begitu, Kak Ken?” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

​Ken tersenyum kecil melihat reaksi Dyah. Gadis ini… jika kau ingin aku menetap, kenapa tidak kau katakan saja secara langsung? batin Ken. “Tentu saja,” ucapnya tetap datar.

​”Lalu… kapan tepatnya kau akan pergi?” tanya Dyah kembali, kali ini dengan senyum yang terlihat dipaksakan.

​”Mungkin malam ini, atau mungkin besok pagi,” jawab Ken santai sembari memperbaiki posisi duduknya. “Memangnya ada apa, Tuan Putri?”

​Diyah terdiam, jemarinya saling bertautan dengan gelisah. Mengenalmu dalam waktu sesingkat ini ternyata cukup untuk membuatku tidak ingin berpisah denganmu, batin Dyah, menyadari sebuah perasaan baru yang mulai berakar di hatinya. “Mungkinkah… kau bisa tinggal sedikit lebih lama lagi di sini, Kak Ken?” tanya Dyah, tatapannya kini dipenuhi harapan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

​Hati Ken seolah teriris melihat binar kepedihan di mata Dyah. Wajah cantik yang biasanya ceria itu kini terlihat begitu rapuh, membuat benteng di hati Ken perlahan melunak. “Apa yang bisa menjadikanku alasan untuk tetap tinggal di tempat sedingin ini, Tuan Putri?” ucap Ken dengan nada yang sangat lembut.

​Diyah kembali terdiam, otaknya bekerja keras mencari alasan. “Hmmm… aku tidak punya harta karun yang berharga untuk kuberikan sebagai jaminan. Tapi… apakah Kak Ken bersedia menerima ini?” Dyah mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya, menampakkan sebuah Kalung Pasangan berwarna Emas murni yang memancarkan energi magis yang hangat.

Kalung Pasangan? Jadi dia juga memilikinya, hanya dengan spektrum warna yang berbeda… batin Ken terkejut. Ia menatap kalung itu, lalu beralih ke wajah Dyah. “Apakah kau benar-benar yakin dengan keputusanmu ini, Tuan Putri?”

​”Mm-hmm. Aku sangat ingin Kak Ken memilikinya,” jawab Dyah mantap, meski pipinya kini merona merah padam.

​”Baiklah. Jika itu maumu.” Ken menggigit sedikit ujung telunjuk kanan, membiarkan setetes darah murni merembes keluar.

​Dyah membuka segel spiritual pada kalung tersebut dan melakukan hal yang sama—meneteskan darahnya tepat di atas pusat segel. Seketika, kalung itu memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, menandakan bahwa ikatan darah dan jiwa pada artefak tersebut telah menyatu dengan sempurna.

​Dyah menyerahkan bagian kalung untuk laki-laki kepada Ken. “Ini untukmu, Kak Ken.”

​”Aku ingin kau yang mengalungkannya sendiri padaku,” ucap Ken sembari bangkit berdiri, menatap Diyah dengan senyum lembut yang langka.

​Dyah tersentak, namun hatinya dipenuhi debaran bahagia. “Hmmm, baiklah.” Dyah berdiri di depan Ken. Postur tubuh Ken yang tinggi besar dan berisi memaksanya untuk sedikit berjinjit agar bisa mencapai leher pemuda itu. Jarak di antara mereka terkikis hingga hanya menyisakan beberapa inci. Napas hangat Ken terasa di keningnya, membuat pipi Dyah semakin memerah.

​Setelah selesai, kini giliran Ken yang meraih kalung bagian untuk wanita.

​”Sekarang, biarkan aku melakukan hal yang sama untukmu, Tuan Putri,” ucap Ken. Dyah hanya bisa mengangguk pelan dalam kebisuannya yang malu.

​Setelah kalung itu melingkar sempurna di leher Dyah, Ken tiba-tiba menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Dyah terperanjat, matanya membelalak kaget saat merasakan dadanya bersentuhan dengan dada bidang Ken. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya sempat kaku sesaat sebelum akhirnya ia mulai bisa merasakan kehangatan dari pelukan tersebut.

​”Mulai detik ini, aku bersumpah akan menjadi perisaimu dan melindungimu dengan segenap kekuatanku,” bisik Ken lembut tepat di telinganya. “Jika ada orang yang berani menyakitimu, aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. Kau tidak perlu menangis untuk hal-hal sampah seperti itu selama aku ada di sisimu.”

​Mendengar bisikan itu, seluruh pertahanan Dyah runtuh. Ia membalas pelukan Ken erat-erat, merasa pria ini adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahami beban yang ia pikul selama ini. “Terima kasih… Kak Ken,” batinnya sembari memejamkan mata. Setitik air mata haru lolos dan jatuh membasahi jubah hitam Ken.

​Malam harinya, di sebuah area terlarang di kedalaman istana.

Jadi, inilah harta terpendam Kerajaan Es… batin Ken, menatap nanar ke arah seekor Monster Bintang Naga Es berumur 500 tahun yang meringkuk di dalam gua kristal. Tubuh makhul mitos itu terikat oleh rantai-rantai Segel Bintang yang berpendar biru, dikelilingi oleh formasi penyegelan tingkat tinggi.

​”Hei, Naga Kecil. Apakah kau sudah bosan terkurung di tempat lembap ini?” Ken melemparkan sebuah buah spiritual ke arah monster tersebut. “Makanlah. Dan bersabarlah sedikit lagi…” gumam Ken sebelum berbalik, meninggalkan naga tersebut dalam kesunyian yang mencekam.

​Keesokan harinya, di ruangan pribadi Jenderal Lamarr.

​”Sampaikan pada Ketua bahwa pergerakanku saat ini sangat terbatas. Jenderal Hameng terus mengawasi setiap langkahku layaknya bayangan,” ucap Jenderal Lamarr dengan nada geram kepada seorang mata-mata berjubah di sampingnya.

​”Baik, Tuan. Pesan Anda akan segera sampai,” jawab mata-mata itu sebelum menghilang.

Kurang ajar… Raja tua itu sengaja memanfaatkan momen ini untuk menekanku habis-habisan. Pemuda dari Aliansi Siama itu bisa menjadi batu sandungan yang merepotkan, namun sosok ‘Guru’ di belakangnya itulah yang tidak bisa kuremehkan. Orang-orang tua itu harus segera bergerak sebelum terlambat! batin Jenderal Lamarr, tangannya mengepal keras hingga bergetar.

​Di lapangan utama kerajaan, tim yang akan berlaga di Turnamen Pendekar Segel Bintang berkumpul untuk mendengarkan arahan pelatih.

​”Turnamen akan dimulai tepat dua minggu lagi. Namun, kondisi kita memprihatinkan. Masih ada tiga anggota tim yang belum menyentuh level Bintang 6, termasuk kau, Tuan Putri Dyah,” papar Paman Uria, sang pelatih, dengan wajah masygul.

​”Aku akan mengerahkan seluruh sisa tenagaku untuk meningkatkan kultivasi, Paman Uria,” jawab Dyah tegas. “Namun, kulihat Andin dan Suta sepertinya sudah berada di titik jenuh; mereka sangat membutuhkan Mustika Monster Bintang yang tepat untuk memadatkan Segel Bintang keenam mereka.”

​”Bagus sekali jika kalian sadar diri…” Sebuah suara sarkas memotong pembicaraan. Jenderal Bonar melangkah masuk ke lapangan dengan gaya angkuh. “Sepertinya tim ini masih punya secercah harapan. Tapi bagaimana denganmu, Tuan Putri? Kapan kau akan berhenti bersembunyi dan mulai berburu Monster Bintangmu sendiri?”

​Dyah hanya tersenyum tipis, menanggapi sindiran itu dengan ketenangan yang luar biasa. “Aku akan berusaha sebisaku, Paman. Tenang saja.”

​”Jenderal, syukurlah Anda di sini. Apakah Anda bersedia meluangkan waktu untuk mendampingi Andin dan Suta mencari Monster Bintang di hutan perbatasan?” tanya Paman Uria, mencoba mengalihkan tensi pembicaraan.

​”Masih terlalu banyak urusan keamanan nasional yang lebih krusial untuk kuselesaikan dalam waktu dekat ini, Uria. Cari saja pengawal lain,” tolak Jenderal Bonar mentah-mentah. “Aku kemari hanya untuk menyampaikan titah Raja; beliau ingin menemuimu di aula sekarang juga.”

​Bonar melirik Dyah sekali lagi dengan pandangan meremehkan. “Tuan Putri, kuharap kau segera tumbuh menjadi kuat dan tidak mempermalukan nama besar Kerajaan Es di turnamen nanti. Ingat, hanya mereka yang memiliki kekuatan absolut yang layak mengenakan mahkota Ratu.” Tanpa menunggu balasan, Jenderal Bonar berbalik dan melenggang pergi.

​Mendengar ucapan itu, teman-teman Dyah merasa sangat geram. “Dasar jenderal bermulut besar! Dia selalu saja menindas Tuan Putri. Seandainya Tuan Putri lahir lebih dulu dan memiliki waktu kultivasi yang sama dengannya, dia pasti sudah merangkak di bawah kakimu! Dasar bajingan…” umpat Andin, sangat kesal dengan kesombongan Bonar. “Jangan dengarkan dia, Tuan Putri,” ucapnya kemudian untuk menghibur Dyah.

​”Ya, Andin benar. Dia hanya cemas posisinya terancam. Jangan dipikirkan, Dyah,” tambah Julia, merangkul sepupunya itu dengan penuh kasih sayang.

​”Iya… aku mengerti. Aku baik-baik saja,” jawab Dyah sembari tersenyum tegar.

​Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, Ken menyaksikan seluruh adegan tersebut dengan tatapan yang sangat dingin sebelum akhirnya ia berbalik pergi dalam kesunyian.

​”Baiklah, aku harus segera menghadap Raja. Untuk Andin dan Suta, tetaplah berlatih fisik. Aku akan segera mengatur jadwal perburuan untuk kalian berdua,” pungkas Paman Uria sebelum bergegas meninggalkan lapangan.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!