Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Efek Buah Pohon Bintang
Angin malam yang membawa hawa purba berembus pelan menyapu dahan-dahan raksasa Pohon Bintang. Hanya berselang beberapa menit setelah Ken meninggalkan tempat perkemahan Diyah dan yang lainnya, sosoknya telah berada puluhan mil jauhnya, menembus kegelapan inti hutan.
Ken berdiri dengan jubah berkibar, memijak kokoh di atas pundak lebar Gorilla Ashura bertangan empat yang mereka temui sebelumnya.
”Jadi, apa yang berhasil kau temukan dari hasil pelacakanmu, Yemu?” tanya Ken pada monster penjaga hutan tersebut.
Gorilla raksasa itu menggeram rendah, mengangkat salah satu lengan besarnya, dan menunjuk jauh ke arah ufuk timur. “Buto Ijo yang menelan energi iblis itu bersembunyi di sana,” jawab sang Gorilla dengan bahasa telepati kuno, mengarahkan pandangannya pada sebuah gua raksasa yang menjorok ke arah lautan gelap.
”Bagus. Kerja yang bagus, Yemu,” puji Ken, matanya memicing tajam mengunci lokasi gua tersebut. “Baiklah, aku akan mengunjunginya sekarang dan mencabut nyawanya.” Ken melesat membelah udara seperti anak panah, sementara Gorilla Ashura itu menghempaskan sayapnya dan menghilang kembali ke dalam bayang-bayang hutan.
Di tempat perkemahan, udara malam semakin menggigit. Andin yang merapatkan mantelnya untuk mencari kehangatan tiba-tiba tersentak saat pandangannya tertuju pada api unggun.
”Hah! Apa-apaan ini? Diyah, coba kau lihat ke sana!” seru Andin takjub, menarik lengan sahabatnya.
Diyah menoleh, begitu pula dengan Julia. Di atas nyala api unggun yang berkobar, melayang sebuah formasi segel transparan berbentuk kubah kecil. Segel itu berpendar keemasan, menelan setiap kepulan asap yang dihasilkan oleh perapian sehingga tak ada setitik pun asap yang membumbung ke udara.
”Wah, sihir apa itu?” gumam Julia, matanya membulat penasaran.
Ketiga gadis itu merapat, mengamati segel tersebut dengan penuh kekaguman. Pemahaman spiritual Diyah yang baru saja menyerap mustika tingkat tinggi seketika bekerja. “Ohh! Aku mengerti sekarang,” ucap Diyah seraya menjentikkan jarinya dengan senyum cerah. “Ini pasti formasi penyerap asap. Kak Ken sengaja memasangnya agar asap dari perapian kita tidak menyebar terbawa angin dan memancing penciuman Monster Bintang buas di sekitar sini.”
”Oh, iya! Benar juga logikamu,” Andin menyikut pelan lengan Diyah dengan senyum menggoda. “Wah, Kak Ken-mu itu benar-benar sosok pelindung yang sangat detail. Ia sampai memikirkan keselamatan kita hingga ke hal-hal sekecil ini.”
”Hahaha, dasar kau ini, Andin! Jangan mulai lagi,” balas Diyah dengan pipi merona, mengundang tawa renyah dari ketiga gadis itu yang memecah ketegangan hutan malam.
Di tengah kehangatan obrolan mereka, Suta mendadak melangkah mendekati perapian dengan senyum bangga. Tangannya memeluk beberapa buah berukuran besar yang kulitnya bersisik dan berpendar samar, bentuknya menyerupai buah nanas emas raksasa. Tepat setelah Suta menurunkan buah-buah itu, kepakan sayap terdengar dari atas kanopi—Garu kembali bertengger di dahan setelah mengantarkan logistik tersebut.
”Apa yang kau bawa itu? Apakah Garu yang menjatuhkannya untuk kita?” tanya Diyah, memungut salah satu buah yang terasa hangat di telapak tangannya.
Suta membusungkan dadanya. “Wah, kalian harus tahu! Ini adalah Buah Pohon Bintang murni! Dari literatur yang kubaca, buah ini mengumpulkan sari pati alam selama ribuan tahun dan sangat kaya akan mineral kosmik untuk memulihkan vitalitas tubuh.”
Andin mengangkat sebelah alisnya, menatap Suta dengan pandangan baru. “Benarkah? Kukira kau ini hanyalah pria penakut yang kerjaannya hanya berteriak. Ternyata di balik sifat pengecutmu, wawasanmu lumayan juga, Suta! Hahaha,” cibir Andin diakhiri tawa mengejek.
Karena perut yang mulai keroncongan dan aroma buah itu yang sangat manis nan menggoda, mereka berempat membelah buah tersebut dan menyantapnya dengan lahap. Rasa sari buahnya meledak di mulut, menyegarkan tenggorokan mereka. Setelah energi mereka terisi, mereka segera bangkit dan memfokuskan diri untuk mengumpulkan mahkota bunga Rumput Colo yang tumbuh di sela-sela akar pohon raksasa.
”Jika resep penyembuhannya menetapkan bahwa satu botol cairan membutuhkan lima puluh helai bunga Rumput Colo, maka secara matematis kita harus memanen setidaknya seribu helai bunga untuk menghasilkan dua puluh botol, agar nyawa Pangeran Kecil aman selama sepuluh hari ke depan,” gumam Julia, menghitung target panen mereka dengan kening berkerut. Ia menatap padang rumput di sekitarnya dengan cemas. “Tapi Diyah… walaupun ladang Rumput Colo di sini sangat luas, tidak semua batangnya sedang mekar dan berbunga!”
”Tenanglah, Julia. Jangan biarkan kecemasan menguasaimu,” Diyah menepuk pundak Julia, memberikan senyum menenangkan. “Aku sangat yakin Kak Ken sudah mengkalkulasi solusinya. Bagian kita sekarang hanyalah fokus membantunya mengumpulkan sebanyak mungkin bunga yang mekar malam ini.”
”Ya… kau benar, Diyah. Terima kasih sudah menyadarkanku. Aku hanya terlalu panik jika memikirkan nasib adikku,” ucap Julia, balas tersenyum dengan raut wajah yang lebih rileks.
Setelah berjam-jam memetik bunga di bawah temaram cahaya rembulan, telinga mereka menangkap suara gemerisik langkah. Ken akhirnya muncul dari balik semak belukar, menenteng lima ekor kelinci hutan gemuk yang sudah dikuliti bersih.
”Kak Ken! Akhirnya kau kembali!” seru Diyah gembira, langsung berlari menghampirinya, meninggalkan keranjang panennya.
”Ya, tentu saja aku kembali,” jawab Ken, membalas sapaan Diyah dengan senyum tipis.
Suta yang melihat bahan makanan itu langsung bergegas maju. “Tuan Ken, serahkan daging itu padaku. Biar aku yang mengurus panggangan malam ini,” tawar Suta, mencoba berguna bagi kelompok.
”Baiklah, aku serahkan padamu,” Ken memberikan tusukan kelinci itu pada Suta. “Kalau begitu, aku akan bersandar sebentar untuk mengatur napas.” Ken melangkah gontai menuju salah satu akar raksasa Pohon Bintang dan duduk bersandar di sana.
Mata Diyah yang awas segera menyadari ada kejanggalan dari postur Ken. Saat pemuda itu duduk, jubah hitamnya tersingkap, memperlihatkan noda darah segar yang merembes pekat di pinggang sebelah kirinya.
”Kak Ken! Astaga, kau terluka?!” Diyah memekik tertahan. Wajahnya seketika pucat karena khawatir. Ia langsung berlutut di samping Ken, hendak menopang tubuh pria itu.
”A-aa… tidak apa-apa, Tuan Putri. Jangan panik. Hanya goresan kecil. Setelah kutelan pil, lukanya akan menutup sendiri,” ucap Ken menenangkan Diyah, menyembunyikan rasa perih yang menjalar di sarafnya.
Ken menolak bersandar terlalu lama. Ia segera mengeluarkan sebuah pil dari Cincin Bintangnya, menelannya, lalu memejamkan mata untuk merotasi energi kultivasinya demi mempercepat regenerasi sel-selnya yang sobek.
Mata Diyah masih terkunci pada robekan di jubah Ken. Makhluk mengerikan macam apa yang sanggup melukai tubuh Kak Ken hingga merobek jubah pelindungnya seperti ini? Pinggangnya… lukanya terlihat seperti tiga garis tebasan cakar raksasa yang sangat mematikan! batin Diyah, jantungnya berdegup ngilu membayangkan pertarungan neraka yang baru saja dilalui Ken demi mencari Air Mata Api.
Di sisi perapian, Andin menatap Suta dengan tatapan penuh ancaman. “Hei! Kau benar-benar yakin bisa memanggangnya dengan benar?! Tuan Ken sudah mempertaruhkan nyawanya dan pulang dengan luka parah hanya untuk mencari daging itu. Awas saja kalau sampai gosong, aku akan mengulitimu!” ancam Andin seraya mengepalkan tinjunya.
”Tenanglah, Nona Galak. Jangan remehkan skill bertahanku. Aku sering memanggang daging saat berkemah di akademi,” balas Suta dengan percaya diri tinggi, memutar-mutar batang kayu di atas bara api.
Julia melangkah mendekati Diyah yang masih duduk berlutut dengan cemas di dekat Ken. “Diyah, seberapa parah lukanya? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?” bisik Julia prihatin.
”Luka robeknya cukup dalam, Julia. Sepertinya Kak Ken terkena tebasan telak dari cakar Monster Bintang buas. Hutan ini memang benar-benar mimpi buruk,” jawab Diyah lirih.
”Mendengar penjelasanmu membuatku merinding. Dan kita masih harus menembus hutan gila ini lagi besok pagi untuk pulang,” tambah Andin yang ikut menyimak dari dekat perapian, mengelus lengannya yang meremang.
Setengah jam berlalu. Aromanya memang menggugah selera, namun pandangan Suta sesekali teralihkan. Pemuda itu diam-diam mencuri pandang ke arah Ken yang sedang bermeditasi.
Pil yang baru saja ditelan Tuan Ken tadi… bentuk dan pancaran auranya sungguh sangat berbeda dengan yang ia berikan pada kami sore tadi! Pil Pancasona Tingkat 2 yang kami minum memancarkan warna biru kristal. Sementara pil miliknya tadi… aku bersumpah melihatnya memancarkan pendaran dua warna sekaligus: merah darah dan emas murni! Jangan-jangan… itu adalah Pil Pancasona Bintang Tingkat Immortal yang selama ini hanya kuanggap sebagai mitos?! batin Suta, otaknya meledak oleh asumsi gilanya sendiri.
Karena terlalu asyik melamunkan harta karun itu, hidung Suta mendadak mencium bau hangus. Hah! Astaga, mati aku! Kelincinya terlalu lama dipanggang! Suta gelagapan dan buru-buru menarik kayu panggangan dari jilatan api.
Sementara itu, energi di tubuh Ken perlahan stabil. Ia membuka matanya dan menghembuskan napas panjang, hawa keruh sisa racun luka keluar dari mulutnya.
”Kak Ken! Bagaimana kondisimu sekarang?” Diyah langsung mendekat dengan raut penuh perhatian.
”Aku sudah pulih sepenuhnya, Tuan Putri,” jawab Ken dengan senyum yang telah kembali normal.
”Syukurlah! Ayo, kita makan malam dulu. Sepertinya kelincinya sudah matang,” ajak Diyah seraya berdiri. “Suta! Apakah dagingnya sudah bisa dimakan?” panggil Diyah.
”Ya, tentu saja! Kemarilah semuanya!” sahut Suta dengan tawa garing.
Setelah mereka semua berkumpul melingkar, Suta mulai membagikan hasil panggangan tangannya. “Nah, potongan paha terbesar ini spesial untuk Tuan Ken, ini untuk Diyah, bagian dada untuk Julia, bagian ini untuk Andin, dan sisanya untukku,” terang Suta membagi adil. “Selamat makan semuanya!”
Mereka yang sudah kelaparan karena menguras tenaga seharian langsung menggigit daging kelinci tersebut.
Andin menggigit rakus sisi daging miliknya yang terasa nikmat. Namun, begitu ia membalik daging itu dan menggigit sisi bawahnya, rasa pahit abu seketika menyengat lidahnya. Matanya melotot. “Puh! Apa-apaan ini?! Suta! Sudah kuperingatkan dari awal agar kau tidak memanggangnya sampai gosong, dasar pria tak berguna!!” teriak Andin murka, menatap tajam pada potongan dagingnya yang menghitam di satu sisi.
”E-ee… m-maafkan aku, Andin! Aku tadi sedikit melamun dan telat mengangkatnya dari perapian,” Suta menggaruk kepalanya mengaku salah. “Lagipula, Andin, bisakah kau rendahkan suaramu? Bagaimana jika jeritan melengkingmu itu malah membangunkan monster-monster buas di sekitar kita?!” tambah Suta berbisik panik, melihat ke arah bayangan gelap pepohonan.
”Sudah, sudah, jangan bertengkar. Ini masih sangat layak dimakan kok, walaupun rasanya sedikit ada sensasi arang pahitnya. Hahaha,” Julia ikut menengahi sambil tertawa, sengaja menggoda Andin yang mukanya sudah tertekuk kesal.
”Suta, awas saja kau! Tunggu pembalasanku setelah kita keluar dari hutan ini,” ancam Andin dengan tatapan mematikan, terpaksa melanjutkan mengunyah makanannya.
”Ya… ampun… baiklah,” Suta pasrah menelan ludah.
Sambil menghabiskan sisa makanan, Diyah mencondongkan tubuhnya ke arah Ken. “Kak Ken, kuharap kau bisa memaklumi tingkah laku mereka yang kekanak-kanakan ini. Mereka berdua memang selalu terlihat seperti anjing dan kucing yang tak pernah akur. Padahal di asrama, mereka sebenarnya adalah sepasang kekasih yang saling mengandalkan,” bisik Diyah membongkar rahasia temannya.
”Hah! Benarkah? Astaga, dari gerak-geriknya kukira mereka hanyalah teman satu tim yang kebetulan selalu berselisih paham,” jawab Ken, sedikit terkejut namun terhibur.
”Ya, begitulah mereka. Terlihat kasar di luar, tapi aslinya mereka saling menyayangi hingga ke tulang,” tambah Julia dengan senyum jahil.
”Hahaha, kalian ini benar-benar ada-ada saja,” kekeh Diyah.
Tiba-tiba, mata Ken tertuju pada sisa bongkahan kulit berduri yang tergeletak di dekat kaki Suta. Matanya menyipit, mengenali sisa makanan tersebut. “Tunggu dulu… Apakah kalian baru saja memakan buah itu?” tanya Ken, nada suaranya mendadak berubah sedikit tegang.
”Oh, buah nanas emas ini? Iya! Garu yang menjatuhkannya untuk kami tadi sore. Rasanya sangat manis dan menyegarkan! Kami berempat menghabiskannya satu buah per orang,” terang Diyah dengan wajah polos. “Oh iya, ini masih tersisa satu buah utuh! A-apa… Kak Ken mau memakannya juga?” tawar Diyah, menyodorkan sisa buah Pohon Bintang itu.
Garu!… Burung bodoh! Apa yang telah kau lakukan?! Kenapa kau memberikan buah bermuatan Yang murni ini kepada mereka?! rutuk Ken dalam batinnya seraya memijat pelipisnya.
”Ah, tidak perlu. Sepertinya lambungku sudah tidak muat untuk menelan apa pun malam ini,” jawab Ken, menolak dengan alasan logis agar mereka tak curiga.
”Hmmm, baiklah kalau begitu,” ucap Diyah tersenyum manis. “Oh ya, Kak Ken. Hari ini kami baru berhasil mengumpulkan sedikit Bunga Rumput Colo. Apakah waktu kita cukup untuk mengumpulkan sisanya sebelum kita bertolak besok pagi?”
”Jangan khawatir. Jika persediaannya belum mencukupi besok, aku sendiri yang akan kembali lagi kemari secara terpisah setelah mengantarkan kalian pulang dengan selamat ke istana,” jelas Ken dengan santai.
”Karena kita akan segera kembali ke ibu kota, apakah kau tidak ingin menetap sehari lagi untuk menonton upacara pembukaan Ujian Pandhega yang digelar lusa nanti?” tanya Julia.
”Ya, benar, Kak Ken! Pasti akan ada banyak pertarungan seru dari para kultivator muda di acara pembukaan itu. Kau harus duduk di podium utama dan menontonnya bersamaku!” tambah Diyah antusias, matanya berbinar memohon.
Melihat harapan murni dari gadis itu, pertahanan Ken luluh. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan hadir dan menemanimu,” Ken menyetujui dengan senyum hangat.
Mereka pun kembali beranjak menuju sela-sela akar untuk melanjutkan aktivitas memetik bunga Rumput Colo demi mengejar target sebelum tidur.
Namun, satu jam kemudian, sesuatu yang tidak beres mulai terjadi.
Diyah perlahan berdiri dari posisi berjongkoknya. Napasnya mulai memburu, dan keringat hangat membasahi lehernya. Ia berjalan gontai mendekati Ken. Pandangan mata gadis itu tak lagi jernih; sorotnya sayu, sayu namun dipenuhi kabut gairah yang aneh. Menyadari perubahan drastis pada suhu tubuh dan tatapan Diyah, Ken langsung menahan napas.
Gawat. Ekstrak energi Yang dari buah itu akhirnya bereaksi pada tubuh fana mereka! batin Ken menegang.
Tak lama berselang, Julia ikut terhuyung mendekati Ken dari sisi lain. Kondisinya sama persis dengan Diyah. Pipi Julia merona merah padam, bibirnya setengah terbuka menghirup udara dengan berat, menatap Ken dengan hasrat tak terkendali yang dibangkitkan oleh energi buah tersebut.
”Huft… Kalian ini benar-benar tidak pernah berhenti menyusahkanku,” keluh Ken, mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Ngomong-ngomong, ke mana perginya dua bocah yang lain?!”
Ken memicingkan matanya mencari sosok Suta dan Andin. Pandangannya menangkap pergerakan di balik semak-semak Rumput Colo. Di sana, dalam keremangan malam, tampak siluet Suta dan Andin yang sudah kehilangan akal sehat. Mereka saling merengkuh erat, berciuman dengan liar, sebelum akhirnya berguling jatuh tenggelam ke dalam lebatnya padang rumput tersebut.
Astaga, naga! Mereka sudah lepas kendali duluan! Sudahlah, biarkan saja mereka menuntaskan urusannya sendiri di sana! Yang mendesak sekarang adalah mengurusi dua tuan putri ini, batin Ken, kepalanya pening melihat kekacauan hormonal di hadapannya.
”Kak Ken… Tubuhku sangat panas… Tolong jangan tinggalkan aku sendirian,” racau Diyah dengan suara serak yang mendamba, tangannya terulur lemah meraih lengan Ken.
”Tenanglah, aku ada di sini. Aku tidak akan ke mana-mana. Sekarang, berbaringlah,” ucap Ken tegas namun menenangkan. Ia menangkap lengan Diyah sebelum gadis itu jatuh, lalu membaringkannya dengan lembut di atas alas rumput yang bersih. Ia segera menotok beberapa titik meridian di leher Diyah untuk memutus aliran kesadarannya. Diyah pun langsung tertidur lelap.
Setelah mengamankan Diyah, Ken berbalik ke arah Julia.
”Ken!… Tolong aku… Rasanya darahku mendidih…” bisik Julia setengah merintih. Ia mencoba menempelkan tubuhnya yang membara ke dada bidang Ken untuk mencari kesejukan.
Namun, sebagai seorang kultivator yang menjunjung tinggi jalan Dao dan martabat, Ken tak sedikit pun tergoda untuk memanfaatkan kondisi tersebut. Dengan wajah datar tanpa hasrat, Ken menahan bahu Julia dan langsung menotok titik tidurnya. Ia membopong tubuh Julia dan membaringkannya tepat di sebelah Diyah di bawah bayang-bayang akar raksasa Pohon Bintang.
Karena hawa panas dari energi buah itu sangat ekstrem, baik Diyah maupun Julia, dalam sisa kesadaran mereka yang meracau tadi, telah melonggarkan dan melepas pengait jubah luar mereka untuk mencari udara.
Biarlah posisinya seperti ini. Hawa panas dari Buah Pohon Bintang itu butuh ventilasi agar tidak membakar organ dalam kalian. Dengan suhu dingin malam ini, kalian akan mendapat mimpi indah dan racun gairah itu akan menguap dengan sendirinya besok pagi, batin Ken menganalisis secara medis. Ia sama sekali tidak memandang rendah mereka.
Ken lalu merentangkan tangannya, merapal mantra dan menciptakan sebuah kubah isolasi pertahanan mutlak di sekeliling area tidur Diyah, Julia, serta lokasi semak-semak tempat Suta dan Andin berada.
Baiklah, area perkemahan sudah terkunci aman. Sekarang adalah waktu yang tepat bagiku untuk merayap masuk ke dalam gua Buto Ijo itu dan memanen ‘Air Mata Api’, batin Ken.
Ia menengadah ke arah dahan Pohon Bintang. “Garu! Buka matamu lebar-lebar. Awasi mereka semua dari atas sana sampai aku kembali. Jika ada monster yang mendekat, bunuh!” titah Ken mutlak pada tunggangannya.
Garu mengepakkan sayapnya tanda mengerti, melayang turun dari langit, dan mendarat bersiaga di dahan terendah di atas perkemahan. Setelah memastikan semuanya terkendali, Ken melesat menembus kegelapan malam.
Keesokan paginya. Sinar mentari pagi menembus celah-celah daun, menyilaukan mata Andin.
Andin mengerjap perlahan, mengerang saat kesadarannya pulih. Ia merasa ada sesuatu yang berat menindih perutnya. Saat ia menundukkan pandangannya, matanya membelalak horor. Ia mendapati dirinya tengah berbaring di atas rerumputan, dalam pelukan erat Suta.
Hah! A-apa yang baru saja terjadi?! Demi Dewa… Di mana jubah dan pakaian luarku?! Kurang ajar kau, Suta! Apa yang telah kau lakukan padaku semalam?! batin Andin menjerit histeris. Kepanikan meledak di otaknya. Ia buru-buru meraih pakaiannya yang berserakan dan mengenakannya dengan tangan gemetar secepat kilat.
”Hei! Suta! Cepat bangun, dasar pria mesum!” bisik Andin penuh kemarahan, menampar pelan pipi Suta agar pemuda itu terbangun tanpa membuat keributan besar.
”Ugh… ada apa, Andin? Hah, apakah hari sudah pagi?” gumam Suta serak, mengucek matanya yang masih lengket.
”Tutup mulutmu rapat-rapat! Aku akan membuat perhitungan mutlak dan menyiksamu nanti jika kita sudah pulang! Ingat, jangan berani-berani menceritakan kejadian semalam pada siapa pun kalau kau masih ingin hidup!” ancam Andin dengan tatapan membunuh. Wajahnya semerah kepiting rebus. Ia segera berdiri dan berlari menjauh ke arah aliran sungai, meninggalkan Suta yang masih diselimuti kebingungan massal.
Haa… Ada apa dengannya pagi-pagi begini? batin Suta mengerjap bodoh. Sedetik kemudian, pandangannya tertuju pada tubuhnya sendiri. Hah! Tunggu dulu! Kenapa dadaku terbuka?! Kenapa jubahku tergeletak di tanah?! Memori liar sisa semalam tiba-tiba menghantam otaknya layaknya godam raksasa. Ya Ampun… Apa yang telah kulakukan padanya semalam di semak-semak ini?! Matilah aku! Habislah riwayatku dikuliti oleh Andin! batin Suta, wajahnya seketika sepucat kertas.
Di sudut perkemahan lain, Julia mulai membuka matanya. Ia menguap pelan, merenggangkan tubuhnya yang terasa luar biasa ringan dan segar. Namun, pergerakannya terhenti saat menyadari udara dingin menerpa dadanya.
Hah? Kenapa pengait jubah sutraku bisa terlepas semua seperti ini? batin Julia keheranan, segera merapikan kembali pakaiannya. Saat ia berdiri, pandangannya menangkap sosok Andin yang sedang berjalan tergesa-gesa dengan wajah merah padam.
”Andin! Apa kau baru saja bangun juga?” sapa Julia menghampiri sahabatnya itu.
”Ahh! Y-yaa… Julia! Pagi yang indah, bukan? Ayo cepat kita cari Diyah. Tadi aku melihatnya duduk di atas bebatuan di pinggir aliran sungai sana,” ucap Andin gelagapan. Ia terlihat sangat panik dan berusaha keras mengalihkan topik pembicaraan dengan menarik lengan Julia.
”Ummm, baiklah, ayo,” Julia setuju, memilih mengabaikan tingkah aneh Andin.
Keduanya berjalan menuju tepian sungai jernih yang membelah Inti Hutan. Di sana, mereka mendapati Diyah tengah duduk bersantai di atas batu besar, merendam kakinya di air yang mengalir.
”Hei! Kalian berdua sudah bangun rupanya? Kemarilah, airnya sangat sejuk!” sapa Diyah riang menyadari kedatangan Julia dan Andin. “Cepatlah mandi. Airnya benar-benar menyegarkan saraf. Aku sudah selesai mandi bersama Kak Ken tadi pagi,” terang Diyah dengan wajah polos tanpa dosa.
”HAAAH?! KAU MANDI BERDUA BERSAMANYA?!” teriak Andin, matanya nyaris copot, membayangkan skenario yang paling tidak pantas.
”Y-ya, benar! Tadi pagi saat aku sadar dari tidurku, badanku terasa sangat panas membara. Kak Ken langsung membopongku ala tuan putri dan membawaku ke aliran sungai es ini. Kemudian kami membersihkan diri di sini,” terang Diyah mendeskripsikan kejadian tersebut dengan jujur, tidak menyadari ambiguitas kalimatnya.
”Astaga naga… Benarkah itu? Terus… di mana Ken sekarang?” tanya Julia menelan ludah, otaknya ikut traveling tak karuan.
”Kak Ken ada di ujung sana, sedang sibuk menombak ikan untuk sarapan kita,” jawab Diyah santai, menunjuk ke arah hilir air terjun di mana Ken sedang berdiri di atas batu dengan celana yang digulung, fokus menombak ikan.
Mendengar kronologi sebenarnya, Andin mengembuskan napas lega. Huft… Sepertinya efek magis dari buah sialan itu membuat kami semua tertidur pulas dan berhalusinasi karena sirkulasi suhu tubuh yang kacau. Setidaknya, hanya Suta bedebah itu yang secara nyata mencari kesempatan dalam kesempitan di atas penderitaanku semalam! batin Andin, meremas tangannya kesal namun merasa sedikit lega karena rahasianya tertutupi.
”Kalau begitu, aku ingin berendam dulu untuk mendinginkan kepalaku,” ucap Julia, segera melepas jubah luarnya dan masuk ke dalam air sungai yang sejuk.
”Ahh, yaa! Aku juga butuh air dingin ini,” Andin segera menyusul Julia menenggelamkan tubuhnya ke dalam air.
Aneh sekali… Mengapa semalam aku seperti bermimpi basah melakukan hal-hal gila bersama Ken? Dan paginya, entah iblis mana yang melepaskan semua pengait jubahku! Hah, sudahlah. Anggap saja itu efek samping letihnya menyerap mustika monster, batin Julia menggeleng-gelengkan kepalanya di bawah guyuran air terjun kecil.
Setelah membersihkan diri dan sarapan ikan bakar, mereka semua kembali ke rutinitas semula. Memanfaatkan sisa waktu dengan maksimal, mereka memetik mahkota Bunga Rumput Colo sebanyak yang bisa ditampung oleh cincin dimensi mereka.
Menjelang siang hari, semua hasil panen telah dimasukkan. Mereka merapikan perbekalan dan bersiap untuk perjalanan pulang kembali ke Kerajaan Es.
”Jika semuanya sudah terkemas dan tidak ada yang tertinggal, kita akan segera bertolak dari tempat ini,” jelas Ken yang berdiri mengawasi mereka dengan tangan bersedekap.
”Ya, tunggu sebentar, Kak Ken! Beri kami waktu sedikit lagi,” pinta Diyah yang tengah berlarian bersama Julia dan Andin, sibuk mengumpulkan beberapa kelopak bunga langka berwarna berbeda di sudut lembah.
”Kalian diizinkan memanen botani apa saja yang ada di lembah ini! Namun, dengarkan peringatan mutlak dariku: Jangan pernah ada satu pun dari kalian yang berani membawa pulang Buah Pohon Bintang itu! Jika kalian nekat menyimpannya di dalam cincin ruang, kalian akan menanggung sendiri akibat maut dari radiasi energinya!” titah Ken memberikan peringatan keras tanpa basa-basi.
”I-iya, kami mengerti, Tuan Ken!” sahut Andin merinding mendengar nada ancaman tersebut.
Suta yang kebetulan sedang berjongkok memungut dua buah raksasa berkulit emas itu sontak membeku. Hah! Tidak boleh dibawa?! Ya sudahlah, padahal rasanya sangat manis… Baiklah, aku bawa buah beri biru yang aman-aman saja, batin Suta kecewa. Begitu mendengar peringatan horor Ken dan mengingat nasibnya semalam bersama Andin, ia buru-buru menjatuhkan kembali buah terlarang itu ke tanah seakan benda itu memancarkan racun.
Setelah seluruh persiapan rampung dan area perkemahan dibersihkan, rombongan Ken kembali menaiki punggung Garu. Mereka mengepakkan sayap dan terbang meninggalkan kedamaian abadi Inti Hutan Bintang, menempuh perjalanan pulang menuju intrik ibu kota Kerajaan Es.
”Jika boleh tahu… Kira-kira butuh berapa jam lagi kita akan menembus batas langit Kerajaan Es, Tuan Ken?” tanya Andin berteriak membelah angin, memecah keheningan di atas pelana.
”Jika tidak ada cuaca buruk atau monster iblis yang mencari mati mencegat kita di jalan, kecepatan Garu akan membawa kita mendarat dengan mulus tepat saat fajar senja mulai turun menutupi cakrawala sore nanti,” jelas Ken, matanya menatap tenang awan-awan yang berarak menjauh dari teritori Inti Hutan Monster.



