Bab 22

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Rahasia Asmara Bhumi

​Setelah dua tahap awal Ujian Pandhega berakhir dengan penuh ketegangan, Diyah dan timnya segera kembali memusatkan fokus. Mereka berkumpul di arena latihan khusus istana, mematangkan persiapan demi menyongsong putaran Turnamen Pendekar Segel Bintang yang sesungguhnya. Helaan napas yang memburu berpadu dengan denting tajam benturan senjata, menciptakan ritme konstan yang menguji batas kekuatan dan ketahanan fisik para petarung muda tersebut.

​Di tengah pelataran, Diyah berlatih dalam kebisuan yang sangat serius. Pikirannya terpusat pada tantangan mematikan di depan mata; rintangan yang menuntut jauh lebih dari sekadar keberanian fana. Di arena gladiator nanti, mereka harus bergerak lebih cepat, menyerang lebih kuat, dan berpikir jauh lebih taktis. Latihan neraka tanpa henti ini adalah satu-satunya jalan mutlak untuk memastikan bahwa mereka tak hanya sekadar berpartisipasi, namun sanggup mendominasi dan bertahan hidup.

​Namun, di tengah kerasnya sesi latihan tersebut, absennya dua anggota tim formasi mereka memancing tanda tanya.

​”Ke mana perginya Onoke dan Arsa? Apakah ada yang melihat batang hidung mereka?” tanya Julia seraya menghentikan ayunan pedangnya sejenak, menyeka peluh dan menatap ke arah teman-temannya.

​”Entahlah, aku sama sekali tidak melihat mereka sejak rangkaian ujian kemarin ditutup,” terang Andin dengan dahi berkerut heran.

​”Ya, aku juga tidak berpapasan dengan mereka di barak,” sambung Suta menggelengkan kepalanya.

​Meski diliputi kejanggalan, waktu terus berpacu. Mereka menepis rasa penasaran itu dan kembali menenggelamkan diri dalam rutinitas latihan yang keras hingga matahari merangkak naik menyengat ubun-ubun, memaksa mereka berhenti untuk mengistirahatkan meridian yang kelelahan.

​Usai sesi latihan siang, Suta dan Andin berjalan bersisian menyusuri lorong-lorong istana yang mulai sepi. Namun, setibanya di persimpangan lorong kecil yang remang, langkah Andin mendadak terhenti. Gadis itu memutar tubuhnya, menatap Suta dengan sorot mata yang tajam dan teramat serius.

​”Ada apa, Andin?” tanya Suta keheranan melihat perubahan mendadak pada raut wajah gadis itu.

​”Kau… kau harus memikirkan bagaimana nasib dan hidup kita ke depannya, Suta!” ucap Andin dengan nada tertahan, menatap lurus menembus mata pemuda tersebut.

​Suta menelan ludah dengan susah payah. “Apakah… apakah peringatan ini ada kaitannya dengan tragedi malam itu di Hutan Monster?” Suta memastikan, ekspresinya memucat diliputi perpaduan antara keterkejutan dan rasa bersalah.

​”Ya… tentu saja! Kau harus mempertanggungjawabkan semuanya secara penuh!” tegas Andin, suaranya meninggi menahan emosi yang bergejolak di dadanya.

​”Ba-baiklah. Tentu saja aku siap bertanggung jawab dan menjagamu, Andin,” jawab Suta dengan keyakinan, meskipun napasnya terasa berat membayangkan beban masa depan.

​Andin menundukkan wajahnya, meremas ujung sabuk pedangnya. “Aku hanya sangat khawatir… dengan kondisiku yang telah ‘ternoda’ ini, keadaanku di tim turnamen nanti mungkin hanya akan menjadi beban kelemahan bagi yang lain,” ucap Andin pelan, nada suaranya merapuh dipenuhi kegelisahan yang mendalam.

​”Tenanglah. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu, aku berjanji,” kata Suta mantap, mencoba memberikan rasa aman. Suta lalu mengernyit, otaknya kembali memutar kepingan memori malam itu dengan kritis. “Namun… sejujurnya ada satu hal yang terus mengganjal di logikaku. Aku sangat penasaran, apakah malam itu hanya kita berdua saja yang mengalami hilang kendali?” sambungnya dengan nada penuh selidik.

​”Apa maksudmu?” tanya Andin, rasa penasarannya seketika mengalahkan amarahnya.

​”Yah… sepulangnya kita dari Hutan Monster, aku diam-diam menyelidiki semua anomali yang kita lalui malam itu. Aku menelusuri ribuan literatur dan akhirnya menemukan sebuah petunjuk krusial, meski catatannya di perpustakaan kerajaan sangat tidak lengkap,” terang Suta, membeberkan kecurigaannya. “Penelusuran itu tentang Buah Pohon Bintang. Dalam catatan kuno tersebut, aku menemukan satu baris informasi penting: Pendekar kultivasi yang batas kekuatannya masih di bawah level Raja, dilarang keras untuk mengonsumsi daging buah sakral itu secara langsung!”

​”Jadi… kau menyimpulkan bahwa insiden hilangnya akal sehat kita malam itu murni karena efek samping buah tersebut?” tanya Andin, alisnya bertaut tajam mencoba mencerna informasi gila itu.

​”Yah… kemungkinan besarnya memang begitu,” jelas Suta dengan nada ragu, mengangkat bahunya seolah ia sendiri belum berani memastikan kesimpulan absolut.

​Andin menatap Suta lekat-lekat, matanya seketika membelalak memikirkan skenario terburuk. “Kalau hal itu benar… Hah! Bagaimana nasib Diyah, Julia, dan Tuan Ken?! Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka bertiga?!” serunya panik, membayangkan kekacauan serupa telah menimpa sang putri mahkota dan sang dewa perang.

​Suta buru-buru menggaruk kepalanya dengan canggung, merasa ngeri membayangkan Ken kehilangan kendali. “Ssst! Kecilkan suaramu, Andin. Aku kan hanya sekadar menebak-nebak berdasarkan teori buku,” ujarnya cepat, berusaha meredam kegelisahan Andin.

​Hening seketika menyelimuti mereka berdua. Hanya desiran angin dingin khas Kerajaan Es yang terdengar berhembus, menyapu daun-daun pinus di luar jendela lorong.

​”Aku rasa… kita tidak bisa membiarkan misteri ini menggantung. Kita harus bertanya dan mengonfirmasinya secara langsung pada Tuan Ken,” ucap Andin akhirnya. Suaranya terdengar lebih tenang, namun kilatan matanya menyiratkan ketegasan yang tak bisa digoyahkan.

​”Aku setuju denganmu,” jawab Suta seraya mengangguk mantap. Keduanya pun bergegas memutar arah untuk mencari sang pemimpin Aliansi Siama tersebut.

​Di sisi lain istana, suasana di area paviliun pribadi Diyah yang terletak di jantung Kerajaan Es terasa sangat hening sore itu. Hanya desir angin beku yang menyelip masuk di antara pilar-pilar pualam putih, membawa serta aroma lembut dari bunga salju yang bermekaran abadi di taman. Ken melangkah pelan di jalur batu tapak, menata setiap pijakan kakinya dengan ilmu meringankan tubuh agar tak memecah ketenangan sakral paviliun tersebut.

​Halaman kecil yang didesain khusus sebagai arena latihan tertutup bagi Diyah itu terlihat lengang, kecuali satu sosok anggun yang mendominasi bagian tengahnya. Diyah berdiri tegap menggenggam tombak peraknya. Kilatan baja dingin memantulkan cahaya matahari sore yang pucat. Gerakannya begitu luwes dan presisi; setiap ayunan, tebasan, dan putaran tombaknya menyerupai tarian bidadari yang dipadukan dengan aura mematikan yang disembunyikan dengan apik.

​Ken menghentikan langkahnya sejenak di balik bayangan gapura, memperhatikan dengan saksama ritme napas dan rotasi Qi Diyah yang semakin sempurna, sebelum akhirnya melanjutkan langkah dengan sedikit ragu untuk menyapanya.

​Desiran angin halus terdengar saat Diyah memutar gagang tombaknya ke bawah dan menghentikan seluruh rangkaian gerakannya. Ia menoleh perlahan, mata beningnya yang menyerupai kristal es menatap sosok Ken tanpa ekspresi selama sedetik. Namun di detik berikutnya, senyum paling cerah dan hangat langsung merekah sempurna di wajah cantiknya.

​”Kak Ken!” serunya riang.

​Diyah berjalan cepat menghampiri pria itu, rona kebahagiaan terpancar jelas dari raut wajahnya yang berkeringat tipis. “Ke mana saja kau menghilang selama beberapa hari ini?” tanyanya dengan nada yang sedikit manja, namun matanya bersinar menyiratkan kelegaan luar biasa karena pria itu kembali menampakkan diri.

​Ken menarik napas dalam, mencoba menenangkan desir aneh di dadanya sebelum memberikan jawaban. “Aku…” Ia menundukkan pandangannya sebentar, lalu menatap mata jernih Diyah dengan sangat lembut. “…harus menyelesaikan beberapa urusan yang mendesak di luar sana,” ujarnya pelan tanpa memberikan rincian rahasia politiknya.

​Diyah menautkan kedua tangannya di depan dada, bibirnya melengkung membentuk senyum pengertian. “Hmm… baiklah,” katanya sambil menghela napas ringan seolah membuang segala kekhawatirannya. “Bagi diriku, yang terpenting saat ini adalah Kak Ken sudah kembali dan ada di sini.” Ia tertawa kecil, memancarkan pesona yang mampu mencairkan gletser abadi.

​Ken membalasnya dengan senyum tipis, lalu menundukkan pandangannya menatap tombak yang masih digenggam erat oleh gadis itu. “Dari pengamatanku barusan, sepertinya Tuan Putri sudah mulai berhasil menjinakkan dan menguasai aliran energi tombak pusaka itu,” ucapnya, nadanya sarat akan pujian tulus.

​”Benarkah menurutmu begitu?” Diyah membalas dengan senyum penuh kebanggaan yang menggemaskan. “Aku berlatih menempa fisikku setiap hari tanpa henti. Aku mengulangi setiap kuda-kuda dan formasi yang Kak Ken ajarkan secara presisi. Tidak ada satu pun detail yang kulewatkan.”

​Ken mengangguk pelan mengapresiasi dedikasi itu. “Bagus sekali. Pertahankan ritme itu.” Ia kemudian mengubah fokus pembicaraan ke arah pusaka legendaris lainnya. “Lalu… bagaimana nasib Busur Phoenix itu? Apakah Tuan Putri sudah mencoba membuat Segel Pengikat untuk menyatukan jiwa dengan senjata suci tersebut?”

​Mendengar pertanyaan itu, Diyah mengerjap cepat, lalu tertawa renyah sambil menggelengkan kepalanya. “Tentu saja belum kucoba, Kak Ken,” jawabnya jujur dengan raut wajah tanpa dosa. Ia lalu memiringkan kepalanya, menatap Ken dengan binar harap-harap cemas. “Sebab, aku menunggumu. Apakah… Kak Ken bersedia repot-repot membuatkan formasi segelnya lagi untukku?”

​Ken menarik napas pelan, bibirnya kembali melengkung mengukir senyum tipis kepasrahan. “Ya… tentu saja aku akan membuatnya,” balasnya tanpa ragu sedikit pun.

​Wajah Diyah seketika berbinar terang benderang. Dengan jentikan jari dan manipulasi energi spasial, ia mengeluarkan pusaka Busur Phoenix dari Cincin Ruangnya. Mahakarya senjata itu memancarkan aura yang menggetarkan; materialnya tampak indah tiada tara, berbalut warna perpaduan biru es dan keemasan yang seakan menyimpan nyala api abadi di dalam inti kristalnya.

​”Aku sudah siap menerimanya, Kak Ken,” ucap Diyah mantap, menyodorkan busur legendaris itu dengan kedua tangan.

​Ken pun mulai mengambil posisi. Ia memusatkan energi spiritualnya untuk merangkai formasi Segel Rajah Wesi, sebuah teknik segel pengikat jiwa kuno yang merupakan metode absolut untuk menaklukkan Senjata Bintang tingkat tinggi seperti Busur Phoenix. Gerakan jari-jemari Ken begitu teratur dan penuh khidmat, persis sama magisnya seperti saat ia pertama kali menjinakkan tombak perak Diyah waktu itu.

​Sebuah lingkaran energi raksasa dengan ukiran rune magis yang rumit terbentuk dan melayang memutar tepat di bawah Busur Phoenix. Pendaran cahaya dari formasi itu kemudian tersedot ke atas, meresap sepenuhnya ke dalam inti busur. Ledakan gelombang aura kekuatan langsung menyebar menyapu taman paviliun, memicu angin spiritual yang membuat rambut panjang Diyah berkibar dan sedikit berdiri menahan tegangan energi statis.

​”Proses penyatuannya sudah selesai,” ujar Ken akhirnya, menarik napas dan meredam kembali auranya ke dalam titik nol.

​Diyah menyambut dan memeluk busur itu erat ke dadanya, wajahnya bersinar memancarkan rasa syukur dan kekuatan yang baru. “Terima kasih banyak, Kak Ken! Aliran energinya terasa sangat hangat… Sekarang rasanya busur ini benar-benar hidup dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari napasku.”

​Namun, sebelum Ken sempat membalas ungkapan terima kasih itu, suara langkah kaki tergesa yang menderap cepat terdengar mendekat dari arah pintu luar paviliun.

​Andin muncul lebih dulu menyibak tirai dengan napas yang sedikit terengah-engah. “Syukurlah, ternyata dugaan kami benar! Tuan Ken memang sedang berada di sini!” serunya dengan nada lega yang kentara. Di belakangnya, Suta mengekor masuk dengan bahasa tubuh yang tampak sangat kaku dan canggung.

​”Suta, Andin!” Diyah mengangkat wajahnya, melambaikan tangan menyambut mereka sambil tersenyum ramah. “Ada angin apa? Apa kalian sedang mencariku ke sini?” tanyanya sambil memutar posisi menatap kedua rekannya itu.

​Tak lama kemudian, sebelum Andin sempat menjawab, sosok Julia ikut muncul dari ambang pintu paviliun. Wajah putri berambut perak itu sedikit dibasahi peluh, seolah ia baru saja setengah berlari melewati lorong-lorong istana.

​”Kalian semua… kebetulan sekali kita semua bisa berkumpul di tempat ini,” sapa Julia seraya mengatur napasnya dan melangkah mendekat ke arah pusat taman.

​”Oh, Julia. Ada urusan mendesak apa?” tanya Diyah dengan senyum keibuan yang hangat.

​Julia menatap Diyah sejenak, lalu menggeser pandangannya lurus ke arah Ken yang berdiri membeku. “Kebetulan Ken ada di sini. Aku diutus untuk menyampaikan sebuah pesan mandat langsung dari Ibunda Ratu,” katanya dengan nada yang berusaha dijaga agar tetap tenang, namun intonasi ketergesaannya jelas tak bisa disembunyikan.

​”Awalnya, Ibu memintaku untuk memberitahukan hal ini padamu terlebih dahulu, Diyah,” lanjut Julia dengan suara memelan. “Ibu masih dihantui trauma dan sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada fase penyembuhan Pangeran Kecil. Karena itu, beliau secara personal memohon agar Ken tetap sudi berada di dalam kompleks keamanan istana untuk sementara waktu. Dan… ini.”

​Julia merogoh saku jubah sutranya dan mengeluarkan sebuah pelat logam berbentuk medali yang berkilauan memancarkan aura otoritas mutlak. “Ibunda Ratu memintaku untuk menyerahkan pusaka ini sebagai bentuk jaminan tanpa batas.”

​Mata Diyah terbelalak kecil menatap kilauan benda tersebut. “Wah… ini adalah Lencana Agung Kerajaan.” Diyah menoleh ke arah Ken dengan tatapan penuh permohonan, lalu kembali menatap lencana simbol kekuasaan tertinggi itu. “Ambillah tawaran ini, Kak Ken. Nanti aku sendiri yang akan mengawal dan membawamu untuk menempati paviliun tamu kehormatan tertinggi di istana ini,” ajaknya dengan bujukan yang sangat lembut.

​Namun, dihadapkan pada Lencana Agung yang mampu memberikan kekayaan dan kekuasaan absolut itu, Ken hanya menatap datar. Wajahnya membeku tanpa ekspresi, tak menunjukkan secuil pun kilatan antusiasme.

​Membaca gestur tubuh pria tersebut, Diyah paham sepenuhnya. “Baiklah,” kata Diyah pelan sambil menerima lencana itu dari tangan Julia sebagai perantara. “Aku yang akan bertugas menyimpannya sementara untuk Kak Ken. Julia, tolong sampaikan kembali pada Ibunda Ratu bahwa Kak Ken sudah menerima kebaikan niat beliau.”

​Diyah menatap Ken sekilas dengan senyum maklum. Ia tahu betul di dalam hatinya bahwa pria seperti Ken sangat membenci rantai simbol-simbol kehormatan politik. Sebagai dewa perang bayangan, Ken selalu merasa lebih leluasa dan nyaman saat menyendiri di kamar penginapan sepi di pinggiran kota Kerajaan Es daripada harus tidur di atas tumpukan emas istana.

​”Oh iya…” Diyah kembali menoleh pada dua sosok yang masih mematung di belakang. “Andin, Suta! Tadi kalian bilang kalian juga sedang mencariku?” tanyanya kembali dengan nada ramah.

​”I-iya…” jawab Andin ragu, matanya melirik liar ke arah Ken. “Tapi sebenarnya… target utama yang kami cari adalah Tuan Ken. Ada satu hal yang sangat penting dan genting yang ingin kami konfirmasikan secara langsung. Kebetulan sekali beliau ada di sini bersama kita.” Andin lalu menyikut tajam pinggang Suta yang terlihat semakin gelisah dan memucat. “Suta, ayo cepat katakan pada beliau!”

​Suta menelan ludah dengan susah payah, wajahnya memerah padam seperti kepiting rebus menahan rasa malu yang siap meledak. “A… aa… begini, Tuan Ken,” ucapnya terbata-bata, nyalinya menciut di bawah aura intimidasi tak kasat mata dari Ken. “Hamba… hamba ingin memohon petunjuk tentang efek gaib dari… Buah Pohon Bintang.”

​Udara di taman paviliun itu mendadak membeku. Ken terdiam sejenak, sorot matanya seketika mengeras menjadi setajam belati. “Buah Pohon Bintang?” gumamnya dengan nada sangat rendah yang menggetarkan gendang telinga. “Ada misteri apa dengan buah kutukan itu?” tanyanya serius, memasang benteng wibawanya.

​”Se-sebenarnya… kami ingin tahu apa efek samping sesungguhnya jika buah itu tertelan?” Suta akhirnya berhasil mengucapkan kalimat itu, meski nadanya bergetar hebat menahan ketakutan.

​Ken menatap mereka berdua dengan tatapan sedingin es, nada suaranya berubah berat dan mengintimidasi. “Apakah telah terjadi sesuatu di luar kendali pada tubuh kalian malam itu?” desaknya menuntut kejujuran.

​Ken lalu menghela napas panjang layaknya seorang guru yang memarahi murid bodohnya, dan mulai membongkar petaka tersebut. “Efek radiasi energi dari Buah Bintang sangatlah ekstrem dan beragam. Bagi Pendekar Segel Bintang yang batas kultivasinya belum memecah level Tingkat Raja… salah satu efek samping paling fatalnya adalah memicu ledakan rangsangan gairah yang teramat dahsyat. Otak dan logika korban akan lumpuh total, kehilangan kendali atas dirinya sendiri, seakan ada dorongan api birahi tak tertahankan yang membakar dari dalam sel-sel tubuh. Di literatur alkemi kuno, efek kutukan biologis itu dikenal dengan sebutan Asmara Bhumi—yang secara harfiah berarti, cinta nafsu yang membakar bumi.”

​Keheningan absolut menampar seluruh orang di taman itu. Semua tertegun kaku layaknya patung es. Andin dan Suta saling melempar pandangan horor; wajah mereka merupakan perpaduan campur aduk antara rasa lega karena teori mereka terbukti, dan panik histeris karena aib malam itu terbongkar ke permukaan.

​”B-benarkah seburuk itu dampaknya?!” tanya Andin, suaranya mencicit bergetar menahan ledakan malu yang merambat ke ubun-ubunnya.

​Diyah, yang sejak tadi menyimak dengan dahi berkerut, menatap mereka berdua dengan sorot mata penuh curiga yang mematikan. “Andin… Suta… jelaskan padaku, apa yang sebenarnya telah terjadi pada kalian berdua malam itu?!” tanyanya tajam, layaknya seorang interogator.

​”Y-yaaa… kurang lebih persis seperti kutukan yang baru saja dijelaskan Tuan Ken itu.” Andin menggaruk kepalanya dengan gerakan canggung dan patah-patah, tak berani menatap mata Diyah. “Tolong… tolong rahasiakan hal memalukan ini sampai mati,” pintanya memelas, nyaris menangis darah.

​Andin lalu menguatkan sisa harga dirinya dan menoleh kembali pada Ken. “Tuan Ken… malam bencana itu, saat kami kehilangan kewarasan… apakah Anda mengetahui dan melihat secara persis apa yang terjadi pada kami?” tanyanya menahan napas, bersiap menerima vonis terburuk.

​”Tentu saja aku tahu dengan sangat jelas,” jawab Ken tanpa beban, menatap lurus menembus kepanikan Andin. “Malam itu, dengan mata kepalaku sendiri aku melihatmu tiba-tiba menerjang dan mendekati Suta. Kalian berdua bergumul buas dan terjatuh menembus lebatnya taman bunga di sana… karena aku menghargai hak privasi manusia, jadi aku memutuskan untuk mengabaikan kalian dan membiarkan adegan itu berlanjut.”

​”HAH?! TUAN KEN! Kenapa Anda malah membiarkan kami terjebak dalam lubang dosa itu dan tidak memisahkan kami?!” protes Andin histeris, wajahnya kembali merah padam terbakar emosi dan rasa malu yang luar biasa.

​Ken hanya mengangkat satu alis tipisnya. “Lalu menurut logika sempitmu… apakah aku seharusnya melangkah mendekat, menyibak rimbunnya bunga, dan berdiri diam menonton sebuah pertunjukan langsung yang sama sekali tidak pantas untuk kulihat dari kehormatan dirimu?” tanyanya datar, tapi kalimat itu mengandung pisau sindiran halus yang menusuk ulu hati Andin.

​”A-aaa… ya… te-tentu saja Anda benar juga,” gumam Andin tergagap, akhirnya menunduk pasrah menyadari posisinya yang memang tak tertolong.

Tuan Ken… kaulah dewa pahlawan penolong sejatiku yang paling mengerti penderitaan pria! batin Suta bersorak sorai merayakan kemenangan batinnya. Sebuah senyum tipis penuh rasa syukur dan sedikit kepuasan diam-diam muncul dan mekar di wajahnya.

​Namun radar Andin sangat tajam. “Apa yang sedang kau pikirkan dengan senyum mesummu itu, Suta?!” Andin melirik curiga dengan tatapan membunuh, bersiap menghakiminya.

​Di sisi lain paviliun, penjelasan gamblang dari Ken tentang efek Asmara Bhumi itu bagaikan guntur yang menyambar kewarasan Julia.

Hah! Jadi ternyata energi kutukan Buah Bintang itu yang meracuni sistem sarafku… Pantas saja tubuhku rasanya terbakar gairah malam itu! Lalu… apa yang telah terjadi padaku saat aku tertidur? batin Julia menjerit horor. Wanita berambut perak itu menundukkan wajahnya sedikit, suhu pipinya mendadak memanas hebat saat memori memalukan pagi itu terngiang; pagi ketika ia terbangun dan mendapati kenyataan bahwa semua pengait jubah sutranya telah terlepas dan longgar tanpa ia sadari siapa pelakunya.

​Dengan jantung yang berdebar tak karuan mengiringi kepanikannya, tatapan mata Julia perlahan naik dan mengunci siluet Ken, dipenuhi kecurigaan dan pertanyaan gelap yang mungkin tak akan pernah berani ia suarakan dengan lantang.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!