Bab 23

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Tirani Kerajaan Api

​Balairung Istana Kerajaan Api berdiri megah nan mengintimidasi, seakan perut gunung berapi aktif telah dipahat paksa menjadi sebuah istana kematian. Pilar-pilar raksasa dari batu obsidian hitam legam menopang langit-langit melengkung yang dipenuhi pendaran cahaya merah menyala dari deretan obor abadi. Udara di dalam ruangan itu terasa tebal oleh hawa panas dan aroma belerang.

​Di ujung ruangan yang ditinggikan, sebuah singgasana dari leburan emas dan magma menjulang angkuh, dihiasi ukiran naga berkepala dua yang melilit sandarannya seolah siap menerkam siapa saja yang berani mendekat. Di atas singgasana itulah duduk Raja Adjong—Sang Penguasa Tirani. Postur tubuhnya tegap bagai gunung, bahunya yang lebar diselimuti jubah sutra hitam berbordir benang emas yang membentuk motif kobaran api. Sepasang matanya tak ubahnya bara batu bara yang tak pernah padam, menyala dengan amarah pekat yang hanya menunggu detik untuk meledak. Di bawah undakan singgasana, beberapa petinggi militer tampak berlutut menghadap Sang Raja.

​”Paduka Raja, selama beberapa hari terakhir ini kami sudah mengerahkan seluruh armada untuk melacak jejak kawanan Monster Bintang yang melarikan diri itu. Namun… kami sama sekali tidak menemukan satu pun dari mereka,” lapor Jenderal Gayus dengan kepala tertunduk, keringat dingin membasahi lehernya.

​”Jika kalian sekumpulan idiot itu tidak bisa menemukan mereka, maka tangkap saja Monster Bintang liar lainnya sebagai spesimen pengganti!” jawab Raja Adjong dengan nada menggelegar yang memantulkan kekesalan absolut. Ia mengalihkan tatapan membunuhnya pada jenderal lain di sebelahnya. “Banu! Turun tangan dan bantu Gayus menyelesaikan kekacauan ini. Aku tidak ingin insiden memalukan ini sampai tercium dan diketahui oleh para Ketua Naga yang lain.”

​”Sesuai perintah Anda, Paduka Raja!” sahut Jenderal Banu dengan suara mantap.

​Tanpa membuang waktu, kedua jenderal itu segera undur diri, berjalan mundur sebelum akhirnya membalikkan badan untuk melaksanakan titah gelap tersebut. Saat melangkah keluar melintasi lorong pilar Balairung, tampak barisan beberapa pejabat lain yang tengah tegang menunggu giliran untuk menghadap. Banu dan Gayus melewati mereka begitu saja, ekspresi keras mereka menyiratkan bahwa mood Sang Raja sedang berada di titik terburuk.

Jenderal Banu! Apakah mereka sudah kembali dari perbatasan? batin salah satu jenderal berwajah bengis yang berpapasan dengan mereka. Tanpa banyak berpikir, ia dan beberapa penghadap lain melangkah masuk menembus hawa panas Balairung.

​”Hamba menghadap, Paduka Raja. Kami membawa beberapa laporan intelijen yang krusial,” ucap salah seorang dari mereka seraya berlutut.

​”Ya… langsung saja pada intinya, Darnok,” titah Raja Adjong, menyandarkan dagunya pada kepalan tangan.

​”Laporan pertama, Paduka. Para Tabib Agung istana telah berhasil menyembuhkan total luka-luka Pangeran Fredy,” lapor Jenderal Darnok.

​”Bagus,” balas Sang Raja singkat, tak menunjukkan perubahan ekspresi.

​”Laporan kedua… Para pekerja paksa dan budak rakyat yang berhasil melarikan diri dari penjara kita, kini telah terpantau bergabung dan mencari suaka ke kelompok pemberontak Siama di wilayah perbatasan Kerajaan Langit, Paduka,” lanjut Darnok, nada suaranya sedikit merendah.

​”Hah! Faksi serangga itu lagi?” Raja Adjong mendecakkan lidahnya, rahangnya mengeras menahan jengkel.

​”Benar, Paduka. Dan sayangnya… regu pembunuh bayaran dan mata-mata yang kita kirimkan untuk membumihanguskan kelompok tersebut tidak pernah kembali. Mereka lenyap tanpa jejak,” terang Darnok.

​”Lalu bagaimana dengan sikap pengecut Kerajaan Langit?!” desak Raja.

​”Mereka sudah sepenuhnya lepas tangan dan tak bisa berbuat apa-apa, Paduka. Sejak insiden pertarungan terakhir pasukan mereka di gerbang melawan pemimpin kelompok itu, Kerajaan Langit mengeluarkan dekret resmi untuk tidak lagi mengganggu kedaulatan Aliansi Siama,” jawab Darnok memberikan fakta pahit.

​”Bagaimana dengan sang Pemimpin Tertinggi mereka? Apakah mata-mata kita sudah mendapatkan informasi tentang siapa dia sebenarnya?” tanya Raja lagi, matanya menyipit berbahaya.

​”Belum ada identitas rinci, Paduka. Hanya saja, informasi terbaru menyebutkan bahwa saat ini pemuda itu sedang berada di ibu kota Kerajaan Es. Faksi Siama saat ini dijaga ketat dari bayang-bayang oleh sosok Gurunya. Menurut pengukuran fluktuasi energi dari agen kita… kekuatan Sang Guru itu diperkirakan telah menembus alam God King Bintang Empat.”

Dewa Bintang Empat? Sialan, itu berada satu tingkat di atas batas kekuatanku saat ini… Sepertinya aku harus menahan diri dan menunggu paman-pamannya Fredy kembali dari ekspedisi mereka sebelum melakukan perhitungan darah dengan faksi ini, batin Raja Adjong, otaknya dengan cepat mengkalkulasi peta kekuatan benua.

​”Lalu bagaimana dengan pemuda itu? Apa tujuan utamanya berkeliaran di Kerajaan Es?” selidik Sang Raja.

​”Nama pemuda itu adalah Ken, Paduka. Ia dilaporkan memiliki perjanjian rahasia dengan Raja Bawigan untuk menyembuhkan penyakit kutukan putra bungsunya. Selain itu, berdasarkan laporan agen yang menyusup… pemuda inilah dalang yang menggagalkan rencana kudeta Jenderal Lamarr di istana es,” jelas Darnok membongkar kegagalan sekutu mereka.

​”Ken…” Raja Adjong mengeja nama itu perlahan, mengukirnya di daftar kematian.

​”Benar, Paduka. Dialah monster muda yang mempermalukan dan mengalahkan Pangeran Fredy. Tidak hanya itu, pada acara pembukaan Ujian Pandhega beberapa hari lalu, ia membantai Jenderal Lamarr dan Jenderal Bonar sekaligus di tengah arena,” tambah Darnok, suaranya sedikit bergetar membayangkan laporan mengerikan itu. “Menurut saksi mata, ia mampu meledakkan kekuatan Giant Gold yang menembus hingga Tingkat Dua Belas.”

​”Cukup. Aku mengerti situasinya.” Raja Adjong terdiam, menarik napas berat yang memanaskan udara di sekitarnya. “Baiklah. Aku akan membahas ancaman ini secara tertutup dengan para Ketua Naga yang lain saat mereka kembali.”

​Raja Adjong bangkit berdiri dari singgasananya. Auranya meledak menekan seluruh jenderal di ruangan itu hingga kesulitan bernapas. “Dengarkan titah mutlakku! Mulai hari ini…” Suara Raja Adjong menggema, berat dan menggetarkan dinding-dinding obsidian. “…Kunci rapat seluruh perbatasan. Tidak ada satu nyawa pun yang diizinkan keluar dari wilayah Kerajaan Api. Tidak peduli apa status mereka—bangsawan tinggi, prajurit elit, atau sekadar rakyat jelata. Jika ada yang berani mencoba selangkah saja melarikan diri… penggal kepala mereka di tempat.”

​Para jenderal menundukkan kepala semakin dalam. Titah itu bukan sekadar perintah militer, melainkan hukum besi kiamat.

​”Segel setiap gerbang utama maupun jalur tikus. Siagakan regu eksekutor pemanah api di setiap menara pengawas kota. Dan untuk kalian—” Mata menyala Sang Raja menukik tajam, mengunci wajah Darnok dan jenderal-jenderal di sebelahnya, “—aku menuntut kalian untuk bekerja jauh lebih serius menangani kebocoran ini. Aku tidak ingin mendengar ada kegagalan konyol seperti pelarian tahanan ini terulang lagi. Paham?!”

​”Sesuai perintah Anda, Paduka Raja!” jawab mereka serempak, menggetarkan aula.

​Langkah sepatu bot baja para jenderal itu terdengar berat saat mereka bergegas keluar dari Balairung, membawa teror yang akan segera disebarkan ke seluruh pelosok negeri.

​Tak lama setelah titah itu dijatuhkan, genderang perang dari kulit monster dipukul bertalu-talu tanpa henti dari menara pusat. DUM! DUM! DUM! Suaranya yang mengintimidasi membuat kawanan burung gagak beterbangan panik meninggalkan sarang mereka.

​Warga kota yang sedang beraktivitas seketika mematung, menengadah ke langit dengan wajah sepucat kapas. Kepanikan merayap perlahan, sebagian dari mereka buru-buru berlari dan mengunci diri di balik pintu-pintu kayu rumah mereka yang rapuh.

​”Apa… apa yang sedang terjadi di istana?” bisik seorang wanita paruh baya dengan bibir bergetar, memeluk erat anak balitanya di sudut jalan.

​”Entahlah… tapi jika irama genderang kematian itu berbunyi tiga kali berturut-turut, itu berarti Kerajaan menetapkan darurat militer dan penutupan batas total,” jawab seorang pria tua di sebelahnya, suaranya parau dibayangi keputusasaan.

​Benar saja, hanya dalam hitungan menit, ribuan prajurit dengan balutan zirah baja merah membanjiri dan memblokade setiap ruas jalanan kota. Di tangan mereka, tombak-tombak panjang dengan ujung bilah yang diselimuti kobaran api berkilat mengerikan di bawah sinar matahari. Suara bariton para komandan pasukan menggelegar ke seluruh penjuru, memberikan pengumuman yang membunuh semua ruang bagi harapan hidup.

​”Atas titah mutlak Paduka Raja! Mulai detik ini, seluruh akses masuk dan keluar gerbang Kerajaan Api DITUTUP! Siapa pun yang berani melangkah keluar dari garis batas akan dianggap sebagai pengkhianat negara dan dieksekusi mati di tempat!”

​Di sisi lain wilayah kerajaan, jauh dari kemegahan istana, terbentang Tambang Emas Nadi Kerajaan. Langit di atas lembah tambang ini selalu berwarna kelabu pekat, tertutup permanen oleh asap tebal beracun dari ratusan cerobong tungku peleburan yang tak pernah padam.

​Di kedalaman lubang bumi di bawah sana, ribuan pria, wanita, bahkan anak-anak yang tak berdosa dipaksa merangkak layaknya tikus di lorong-lorong tambang yang gelap dan pengap. Udara di sana dipenuhi debu batu yang menyesakkan paru-paru. Kehidupan mereka hanya ditemani oleh pantulan ritme palu besi yang menghantam batu keras, serta jeritan pilu yang sesekali pecah manakala ujung cambuk berduri mendarat dan merobek punggung-punggung yang letih.

​Seorang mandor pengawas bertubuh raksasa melangkah mondar-mandir di ujung lorong tambang. Kulitnya legam terbakar hawa panas tungku, ototnya menyembul mengerikan. Cambuk baja panjang di tangannya sudah menghitam oleh noda darah kering yang berlapis-lapis.

​”Cepat! Terus ayunkan palu kalian! Gali urat emas itu lebih dalam lagi, dasar budak malas!” suaranya menggelegar mengalahkan bisingnya pengerukan.

​Tepat di hadapan pengawas kejam itu, seorang pria tua rentuh bernama Samra tiba-tiba terhuyung dan jatuh tersungkur ke atas bebatuan tajam. Napasnya tersengal-sengal memburu oksigen, tangan kurusnya yang penuh kapalan gemetar hebat tak sanggup lagi menggenggam linggis kayunya. “A-ampun… aku… aku sudah tak sanggup lagi bernapas…” rintihnya, suaranya nyaris tak terdengar tenggelam oleh bisingnya tambang.

​Tanpa belas kasihan sedikit pun, sang mandor mengayunkan lengannya. Cambuk baja itu melayang membelah udara berdebu.

CTAAAAS! Ujung cambuk itu merobek punggung Samra. Darah segar muncrat menodai bebatuan. Samra menjerit tertahan, tubuh ringkihnya terguncang hebat menahan siksaan yang membakar dagingnya.

​Melihat ayahnya disiksa, seorang anak laki-laki kurus yang baru berusia dua belas tahun, Rian, membuang keranjangnya dan berlari mendekat sambil menangis histeris. Ia merentangkan tangan kecilnya untuk melindungi sang ayah. “Kumohon, Tuan! Jangan pukul ayahku lagi! Aku yang akan menggantikan jatah kerjanya! Aku akan menggali batu itu untuk Ayah!” teriaknya dengan mata basah yang penuh permohonan.

​Pengawas itu menghentikan ayunan cambuknya. Ia menunduk menatap anak itu, lalu tawa dinginnya bergema keji memantul di dinding gua. “Kau? Seekor anak tikus kurus kering sepertimu mau menggantikan jatah pria dewasa? Hahaha! Baiklah, silakan kau gali batuan keras itu. Tapi ingat hukumannya… kalau hasil panen emas kalian hari ini kurang dari target, aku sendiri yang akan melemparkan dan membakar kalian berdua hidup-hidup ke dalam tungku peleburan!”

​Dengan tangan gemetar hebat, Rian memungut linggis berat milik ayahnya. Ia melirik sekilas wajah ayahnya yang berlumur darah. Di dalam mata tua itu, tak ada lagi setitik pun cahaya—hanya ada jurang keputusasaan yang tak berdasar.

​Lorong-lorong tambang raksasa itu sering kali runtuh mendadak karena digali secara brutal tanpa mengindahkan pilar struktur. Namun, bagi para pengawas Kerajaan Api, nyawa budak lebih murah dari debu. Jika ada terowongan yang runtuh dan menimbun puluhan pekerja, mereka hanya akan membuang ludah dan menginstruksikan, “Biarkan tumpukan batu itu jadi kuburan massal mereka. Terus gali jalur yang lain! Kita tak punya waktu sedetik pun untuk mengurusi dan menggali mayat.”

​Teriakan minta tolong yang tertahan di balik reruntuhan sering kali terdengar merintih dari celah bebatuan, tapi suara pilu itu perlahan lenyap, tenggelam begitu saja oleh dentingan palu dan cambukan yang tak pernah berhenti.

​Di lorong-lorong pekat yang menyerupai usus bumi itu, hanya terlihat wajah-wajah kusam yang serupa; wajah-wajah yang jiwanya telah mati rasa, sangat haus akan tetesan kebebasan, dan kelaparan akan secercah keajaiban harapan.

​Jauh di atas tanah tambang tersebut, sebuah menara pengawas raksasa menjulang arogan. Dari puncak menara itu, panji bendera merah berlambang kobaran api berkibar menantang langit kelabu. Raja Adjong menamai kompleks tambang ini sebagai Nadi Kerajaan—sumber kekuatan, bahan baku Senjata Bintang, dan kekayaan tanpa batas yang akan ia gunakan untuk menaklukkan seluruh benua.

​Namun bagi jutaan rakyat kecil di bawah sana, tempat ini adalah representasi paling nyata dari lubang penyiksaan menuju dasar neraka.

​Beberapa hari kemudian, di salah satu pelataran Istana Kerajaan Api.

​Pangeran Fredy, yang telah pulih sepenuhnya dari luka-luka akibat hantaman Ken, melangkah masuk ke pendopo pribadi ayahnya. Matanya masih menyala oleh kilatan amarah dan dendam yang belum terbalaskan.

​”Ayahanda, aku sungguh tidak bisa menerima penghinaan ini! Dipermalukan hingga nyaris mati oleh pemuda tanpa latar belakang itu di depan ribuan mata!” geram Fredy sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Tolong, berikan aku pasukan elit! Bantu aku membalaskan dendamku dan merobek jantungnya!”

​Raja Adjong menatap putranya yang terbakar emosi itu. Tatapannya melembut sebagai seorang ayah, namun segera kembali mengeras sebagai seorang penguasa.

​”Kendalikan emosimu yang bodoh itu, Fredy. Apakah kau tidak melihat laporan dengan mata kepalamu sendiri? Pemuda itu mampu bermain-main dan membantai dua jenderal tingkat dewa yang telah mencapai batas Dewa Bintang Empat secara bersamaan!” Suara Raja Adjong memberat, memberikan peringatan keras akan jurang realitas kekuatan mereka saat ini. “Jangan bertindak konyol dan mengantar nyawamu sendiri ke hadapannya. Tahan dendammu dan tunggulah waktu yang tepat. Bersabarlah… sampai paman-pamanmu kembali membawa senjata baru dari ekspedisi mereka.”

​Fredy menundukkan kepalanya sejenak, mengatupkan rahangnya kuat-kuat menelan amarah yang terasa pahit di kerongkongan. Ia sadar, menentang titah ayahnya sama saja dengan bunuh diri. “Yaa… Baiklah, Ayahanda. Aku akan menunggu saat itu tiba,” jawabnya lirih dengan kilatan dendam yang mematikan.

​Di luar dinding istana, di setiap sudut kota yang berasap hingga ke pelosok pedesaan yang gersang, rakyat hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan penindasan absolut. Harapan mereka untuk melihat fajar kedamaian perlahan memudar, digilas oleh roda gigi kekuasaan yang tak punya hati.

​Namun, jauh di balik rasa putus asa yang menyelimuti benua itu, diam-diam tersimpan bisik-bisik kecil dari mulut ke mulut di gang-gang sempit—sebuah kerinduan akan sosok pahlawan dan fajar kebebasan yang mungkin suatu hari nanti akan membelah tirani ini, meskipun untuk saat ini, hal itu tampak sebagai sebuah kemustahilan yang sangat jauh.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!