Bab 24

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Pendekar Muda Kerajaan Es

​Di tengah daratan beku yang senantiasa diselimuti salju abadi, berdirilah Arena Cakrawala Salju di sisi terluar ibu kota Kerajaan Es. Mahakarya arsitektur itu berbentuk amfiteater melingkar raksasa yang dipahat dari kristal biru es murni, berkilau menyilaukan saat diterpa cahaya mentari pagi. Pilar-pilar setinggi menara menjulang mengelilingi arena, menancap kokoh pada bongkahan permafrost layaknya deretan tombak para dewa yang turun dari langit, sementara dinding-dindingnya dilapisi permata es yang memancarkan hawa dingin absolut.

​Hari ini bukanlah hari yang biasa. Panji-panji kebesaran berwarna putih dengan sulaman benang perak bersimbol kristal salju berkibar garang diterpa angin utara di setiap sudut menara. Hari ini adalah hari Penutupan Pelatihan Agung Pendekar Segel Bintang Muda Kerajaan Es—momen pembuktian setelah mereka melewati ujian berdarah selama beberapa hari terakhir. Setiap remaja berbakat di Kerajaan Es diwajibkan melewati neraka ujian ini demi mendapatkan gelar kehormatan Pendekar Muda; sebuah gelar yang hanya bisa disandang oleh mereka yang bersumpah meneteskan darah dan menyerahkan nyawa demi menjadi perisai Kerajaan Es.

​Di tengah lapangan luas yang melingkar itu, puluhan remaja berdiri tegak dalam formasi barisan yang rapi. Jubah seragam berwarna biru pucat melekat pas di tubuh mereka yang penuh luka gores dan lebam. Wajah-wajah belia itu menegang kaku, sepasang mata mereka menatap lurus ke depan dengan perpaduan antara rasa kagum yang meluap dan ketakutan yang membeku.

​Di barisan terdepan, berdirilah Svara. Gadis berambut putih keperakan itu memancarkan aura sedingin badai utara. Wajahnya memahat kecantikan yang sempurna namun teramat kaku, seolah tak ada ruang bagi emosi fana di sana. Ia adalah putri kedua dari Raja Bawigan, sekaligus adik kandung dari Putri Julia. Meski usianya baru menginjak tujuh belas tahun, tatapannya menyiratkan ketangguhan seorang veteran perang.

KRAK!

​Bunyi pijakan sepatu bot baja memecah kesunyian arena. Seorang pria bertubuh menjulang dengan balutan zirah perak tebal dan jubah dari bulu serigala salju melangkah maju, berdiri kokoh bak gunung es di hadapan para prajurit muda itu. Dialah Jenderal Tegra, sang legenda hidup medan salju, sekaligus panglima pengawal paling setia milik Raja Bawigan.

​Jenderal Tegra menyapu pandangannya, memberikan arahan dengan wibawa yang menekan udara.

​”Mulai detik ini,” suara bariton Jenderal Tegra bergema, memantul di dinding kristal arena, “kalian telah sah menyandang gelar sebagai Pendekar Muda Kerajaan Es. Namun, peringatanku mutlak: jangan pernah kalian tertipu oleh eforia kemenangan kecil ini! Dunia di luar tembok es sana jutaan kali lebih kejam dan brutal daripada hawa dingin yang berhasil kalian lawan di arena ini.”

​Hening yang mencekam menyelimuti arena. Serpihan salju turun perlahan dari langit, menutupi bercak-bercak darah segar yang masih membekas di permukaan es pijakan mereka. Di dada para remaja itu, ambisi, dendam, dan ketakutan kini melebur menjadi satu—menjadi bahan bakar utama untuk perang besar yang menanti mereka di masa depan.

​”Aku akan menanamkan sebuah pemahaman mutlak ke dalam otak kalian,” kata Jenderal Tegra, suaranya tenang namun setajam pedang. “Pemahaman tentang apa arti sesungguhnya dari Segel Bintang yang kini menyala di tubuh kalian. Pasang telinga kalian dan dengarkan baik-baik, karena pengetahuan ini akan menentukan siapa diri kalian kelak, dan entitas maut seperti apa yang akan kalian hadapi di medan tempur.”

​Sang Jenderal menatap lurus ke arah barisan muridnya satu per satu.

​”Segel Bintang bukanlah sekadar pajangan! Ia adalah cerminan mutlak dari kekuatan, manifestasi pengalaman, dan tingkat penguasaan energi dari Mustika Monster Bintang yang menyatu dengan tubuh dan jiwa, membentuk fondasi dewa pada fisik fana manusia,” terangnya lugas. “Setiap level menandakan seberapa besar kapasitas mematikan sekaligus beban tanggung jawab kalian. Ada hierarki absolut di benua ini yang wajib kalian patuhi dan pahami!”

​Jenderal Tegra mulai merincikan hukum dunia kultivasi. “1 sampai 4 Segel Bintang menandakan kalian adalah Pendekar Muda. Umumnya, mereka berada di rentang usia lima belas hingga tujuh belas tahun. Ini adalah fase sejak pertama kali kalian membangkitkan Segel Bintang dan mengisinya dengan Mustika Monster Bintang pertama kalian. Ingat, Monster Bintang pertama yang kalian serap akan memvonis fondasi kekuatan kalian seumur hidup—mulai dari afinitas elemen dasar hingga karakteristik jurus tempur yang akan kalian kembangkan. Setiap Segel Bintang berikutnya yang berhasil kalian padatkan akan mendongkrak daya hancur, ketahanan fisik, dan nyali kalian di hadapan kematian.”

​Ia mulai melangkah mondar-mandir dengan tegap. “5 sampai 6 Segel Bintang… kalian berhak menyandang gelar Pendekar Utama. Petarung di fase ini umumnya telah matang di usia delapan belas hingga dua puluh tahun. Daya tempur mereka telah mematikan.”

​”7 sampai 8 Segel Bintang… kalian melangkah ke tingkat Pandhega.” Suara Jenderal Tegra menurun, membawa bobot respek yang berat. “Umumnya, ini dicapai di usia dua puluh tahun ke atas. Dalam hierarki Kerajaan, seorang Pandhega adalah jenderal lapangan; mereka mampu memimpin formasi kelompok, membedah strategi lawan dalam sekedipan mata, dan menyerang dengan presisi fatal. Seorang Pandhega memikul tugas suci sebagai guru dan komandan bagi para Pendekar Muda dan Utama. Beban nyawa yang mereka pikul jauh lebih berat daripada kekuatan yang mereka miliki, namun pengorbanan itulah yang mendefinisikan seorang pendekar sejati!”

​Jenderal Tegra menghentikan langkahnya dan menepuk pelat pelindung dadanya hingga berdentang keras. “9 sampai 10 Segel Bintang! Ini adalah tingkat Raja dan Jenderal. Hanya mereka yang bermental baja dan dianugerahi bakat luar biasa yang pantas memikul beban sepuluh segel. Di atas itu, ada level mutlak yang melampaui batas komandan biasa: Pendekar dengan enam Segel Bintang Merah, yang ditandai dengan tiga garis segel merah melingkar di lengannya. Mereka diakui sebagai Pendekar Segel Bintang tingkat Kaisar (Emperor). Mereka bukan sekadar pendekar; mereka adalah pilar pelindung Kerajaan. Aura mereka mampu membekukan keberanian musuh, dan nama mereka akan diukir dengan tinta emas sepanjang zaman.”

​Jenderal Tegra mengangkat tangan kanannya ke udara. Hawa dingin berkumpul, menyorotkan sebuah ilusi cahaya keemasan yang megah di atas kepala mereka.

​”Namun, di atas panggung para kaisar fana, ada dimensi yang tak tersentuh: Tingkat Dewa,” ucapnya penuh penghormatan. “Pencapaian ini ditandai dengan bermanifestasinya Lingkaran Halo di punggung kultivator yang menjadi wadah bagi Bola Segel Bintang. Lingkaran luar yang memancarkan cahaya Emas murni dengan 1 hingga 5 Bintang di dalamnya, menandakan sang pendekar telah resmi menyentuh ranah Dewa (God). Sedangkan, jika ia berhasil memadatkan Lingkaran Kedua di bagian dalam dengan 1 hingga 7 Bintang… ia akan dinobatkan sebagai Raja Dewa (God King)! Hanya segelintir manusia fana yang berhasil menembus batas kematian yang sanggup memijak takhta ini.”

​Seluruh murid di arena menahan napas. Bayangan aura emas yang megah mulai membakar imajinasi dan ambisi mereka.

​”Lebih tinggi dari itu adalah entitas Dewa Agung atau Superior God,” lanjut Jenderal Tegra, suaranya memberat menggetarkan pilar es. “Lingkaran di punggung mereka bermutasi menjadi warna Merah Darah. Jika mereka memiliki 1 hingga 7 Bintang di Lingkaran Luar, mereka adalah God Superior. Dan 1 hingga 7 Bintang di Lingkaran Dalam mengukuhkan mereka sebagai Supreme God. Pada titik ini, mereka tidak lagi bisa diklasifikasikan sebagai manusia. Setiap ayunan tangan mereka mampu merubah struktur geografis medan pertempuran, dan setiap kata yang keluar dari mulut mereka mampu mengguncang mental serta menghentikan jantung jutaan musuh.”

​Mata elang Jenderal Tegra menatap murid-muridnya dengan tajam, menembus dasar jiwa mereka. “Dan di puncaknya… terdapat Tingkat Immortal, ditandai dengan Lingkaran di punggung yang memancarkan warna Hijau Zamrud keabadian. Sepanjang sejarah benua ini diciptakan, hanya sedikit dari yang sedikit yang pernah menapaki level mustahil ini. Immortal bukan lagi persoalan siapa yang lebih kuat; eksistensi mereka benar-benar melampaui hukum dunia fana, memegang keabadian mutlak yang nyaris tak terkalahkan, dan hidup abadi sebagai legenda semesta. Kalian diizinkan memimpikan takhta itu… tapi tanamkan peringatan ini di otak kalian: jalan untuk mendaki ke sana dilapisi oleh bukit pengorbanan, lautan keberanian, dan genangan darah.”

​”Satu hal fundamental yang wajib kalian catat: ketika seorang kultivator telah menembus Level Dewa, perbedaan kekuatan antara satu Bintang dengan Bintang berikutnya adalah rasio satu banding seratus! Mengikis celah itu membutuhkan penderitaan, meditasi berdarah, dan penempaan waktu yang sangat panjang,” tegas Jenderal Tegra memungkasi pemaparan hierarki kekuatan manusia.

​Hening kembali menyelimuti Arena Cakrawala Salju. Angin melolong lirih. Para remaja itu menundukkan kepala, merasakan bobot kata-kata Jenderal Tegra yang meresap menembus daging dan tulang mereka.

​”Setiap detik latihan kalian, setiap tetes keringat yang membeku, dan setiap ceceran darah yang tumpah, akan menentukan sejauh mana Segel Bintang itu akan melekat pada takdir kalian,” kata Jenderal Tegra sebagai penutup orasi pembukanya. “Kekuatan sejati bukanlah sebuah hadiah dari langit, melainkan hasil mutlak dari ketekunan gila, keberanian bunuh diri, dan tekad baja dalam menghancurkan ketakutan. Siapa di antara kalian yang siap memikul beban nyawa itu, akan menemukan jalan kedewaannya sendiri.”

​Di barisan terdepan, rahang Svara mengeras. Ia menatap Jenderal Tegra tanpa berkedip. Aku pasti akan mendaki sampai ke puncak keabadian itu, batin Svara mengikat sumpah. Aku akan menghancurkan setiap batas dan menembus langit demi menjadi pedang yang melindungi kerajaanku… dan melindungi mereka yang kucintai.

​Jenderal Tegra mengamati wajah-wajah muda di depannya, tatapannya sedikit melembut namun tetap memancarkan kewaspadaan seorang panglima. Dengan orasi itu, para Pendekar Muda serempak menundukkan badan memberi hormat. Hati mereka terasa sangat berat akan realitas dunia, namun tekad mereka membara layaknya magma. Perjalanan tanpa akhir menuju pencapaian tertinggi hingga ke ranah Beyond Immortal baru saja dimulai hari ini.

​”Fase berikutnya, aku akan menelanjangi hierarki tentang Monster Bintang, musuh alami kalian. Jika kalian memiliki keraguan selama aku bicara, kalian diizinkan bertanya secara langsung,” ujar Jenderal Tegra seraya mulai melangkah pelan mondar-mandir di depan barisan para pendekar muda.

​”Buka telinga kalian lebar-lebar,” suara Jenderal Tegra kembali memberat, menggema jernih. Cahaya dingin dari permata es memantul menerangi wajah kerasnya saat ia menatap tajam para muridnya.

​”Level paling dasar… Spirit Monster. Ini adalah monster Tingkat 1. Rentang usia kultivasi mereka berkisar antara seribu hingga sepuluh ribu tahun. Menyerap Mustika Monster Bintang dari golongan ini akan menghasilkan fondasi Segel Bintang berwarna Perak,” jelasnya sambil mengangkat sebuah artifak kristal segel yang berkilau perak sebagai contoh visual.

​Ia menghentikan langkahnya sejenak, pandangannya menyapu seluruh penjuru barisan. “Perlu kalian catat, di alam liar ada banyak Monster Bintang yang berusia di bawah seribu tahun. Namun, hanya monster yang telah berhasil bertahan hidup menyentuh umur seribu tahunlah yang otaknya mampu memadatkan Mustika Monster. Tapi, jangan pernah kalian merasa jemawa—meski mereka berlabel tingkat satu dan tampak lemah di atas kertas, mereka memiliki insting buas yang sanggup mencabik-cabik dan mengunyah kalian hidup-hidup jika kalian sedikit saja lengah,” tegasnya dengan suara yang mengancam.

​Salah satu pemuda di barisan tengah mengangkat tangan dengan ragu-ragu, matanya sedikit bergetar. “Ma-maaf, Jenderal… Jika mereka hanyalah monster tingkat terendah, berarti sangat mudah bagi kami untuk mengalahkan mereka secara berkelompok, bukan?” tanyanya berhati-hati.

​Jenderal Tegra langsung menoleh dan mengunci pandangannya pada pemuda itu. Tatapannya menembus tajam layaknya pedang es yang dihunus langsung ke ulu hati. Pemuda itu sontak ciut dan menundukkan pandangannya.

​”Kaukira ini arena bermain?!” dengus Jenderal Tegra. “Bahkan satu ekor Spirit Monster rendahan saja bisa membantai dan melahap seluruh anggota keluargamu dalam satu malam jika kau meremehkan taring mereka! Pahat peringatan ini di kepalamu: kecerobohan sekecil apa pun di hutan sana adalah kunci pembuka pintu kematian,” tegas sang jenderal, suaranya menghentak dada barisan.

​Setelah memastikan peringatannya meresap, ia melanjutkan dengan nada yang tetap keras dan berwibawa. “Level berikutnya… Monster Level Bumi. Mereka menempati posisi Tingkat 2 dan 3. Menyerap intisari mereka akan menghasilkan Segel Bintang berwarna Biru. Usia kultivasi mereka membentang dari sepuluh ribu hingga lima puluh ribu tahun. Karakteristik utama ras ini adalah: anatomi tubuh mereka jauh lebih keras daripada baja murni. Tebasan atau serangan pedang fana biasa? Sama sekali tidak ada artinya bagi mereka,” ujarnya sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat, memperagakan benturan.

​Di barisan depan, seorang gadis berambut pendek mengangkat tangannya dengan raut wajah sangat serius, alisnya berkerut memancarkan tekad. “Kalau pertahanan mereka sekeras itu… lalu bagaimana cara efektif bagi kami untuk menembus dan mengalahkan mereka, Jenderal?” tanyanya, suaranya terdengar mantap meski bahunya sedikit tegang.

​Sebuah senyum tipis yang amat mengerikan muncul di sudut bibir Jenderal Tegra—senyuman predator yang tidak pernah menandakan hal baik bagi murid-muridnya. “Kau benar-benar penasaran ingin tahu caranya? Pastikan saja kau masih bisa memungut napasmu setelah secara kebetulan berpapasan dengan mereka di hutan. Itu jawabanku,” katanya dengan nada dingin yang menyayat hati, membuat keheningan mencekam seketika menyelimuti lapangan es tersebut.

​Tawa kecil bernada gugup sempat terdengar dari beberapa siswa di belakang, tapi suara itu langsung putus saat Jenderal Tegra berdeham keras, memaksa seluruh pandangan kembali fokus dan tegang menatapnya.

​”Kita naik ke tingkatan neraka selanjutnya. Monster Level Langit. Mereka menduduki Tingkat 4, 5, dan 6. Mustika dari jantung mereka akan memberikan kalian Segel Bintang berwarna Emas. Rentang hidup ras ini adalah lima puluh ribu hingga seratus ribu tahun,” jelas Tegra perlahan.

​”Dengarkan aku baik-baik. Monster Level Langit bukan sekadar mengandalkan otot beringas. Mereka sangat cerdas… dan teramat licik. Saat kalian dihadapkan pada pertarungan melawan mereka, anggap saja kalian sedang beradu taktik di papan catur melawan seorang raja tiran yang memiliki seribu strategi menjebak untuk mengirim kalian ke alam baka,” urainya. Nada suaranya dipenuhi tekanan berat, memvisualisasikan betapa mematikannya kecerdasan entitas tersebut.

​Rahang para murid mengeras serempak mendengar penjabaran itu. Imajinasi mereka mulai dihantui kengerian.

​Jenderal Tegra kemudian merendahkan intonasi suaranya menjadi lebih dalam, seakan sengaja ingin mengukir rasa teror sekaligus penghormatan mutlak di relung hati mereka. “Sekarang perhatikan ini dengan nyawa kalian. Di atas langit, ada bencana alam yang hidup… Monster Level Raja. Mereka mendominasi Tingkat 7, 8, dan 9. Menyerap jiwa mereka adalah syarat mutlak untuk mendapatkan Segel Bintang berwarna Merah Darah. Usia mereka telah menelan masa sejarah, berkisar antara seratus ribu hingga lima ratus ribu tahun. Kekuatan destruktif mereka tidak masuk akal; seekor Monster Raja yang sedang menguap pun sanggup meratakan satu kota manusia yang padat hanya dengan sekali ayunan ekornya,” ucap Tegra lantang, sukses membuat sebagian besar murid meneguk ludah pahit.

​”L-lalu… apakah masih ada eksistensi yang lebih kuat dari sang penghancur kota itu, Jenderal?” Suara salah satu pendekar muda di barisan paling ujung mencicit bergetar. Pertanyaannya meluncur di luar kendali karena sarafnya terlalu gugup.

​Jenderal Tegra menatap murid itu lekat-lekat, tatapannya menyiratkan kedinginan jurang es abadi. “Ya… iblis yang lebih besar selalu ada,” jawabnya pelan. Jenderal itu kemudian menoleh perlahan ke seluruh barisan murid dengan sorot mata menyala yang membuat bulu kuduk mereka meremang serentak.

​”Puncak hierarki mutlak… Monster Level Kaisar. Mustika mereka menghasilkan pendaran Segel Bintang berwarna Merah yang dua lapis lebih tebal dan pekat dari segel merah biasanya. Usia kehidupan mereka membentang dari setengah juta hingga satu juta tahun, mendominasi Tingkat 10 dan 11. Dan… tepat di atas singgasana mereka…” Jenderal Tegra sengaja menahan napasnya sejenak, membiarkan teror mengambil alih, “…bersemayamlah Monster Level Dewa. Entitas berusia satu juta hingga satu setengah juta tahun. Mereka menduduki Tingkat absolut 12 dan 13.”

​Keheningan seketika memakan seluruh sudut lapangan arena. Bahkan gemuruh angin utara seolah tertahan, hanya menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang-belulang.

​”Jika kalian dikutuk oleh takdir dan terpaksa berhadapan dengan Monster Level Dewa ini, hanya ada dua opsi yang tersisa untuk kalian: Jatuhkan lutut kalian dan menyembah… atau musnah lenyap dari peta eksistensi. Jangan pernah sekali pun otak fana kalian bermimpi bisa menggores, apalagi mengalahkan dewa-dewa monster itu sendirian,” ujar Jenderal Tegra dengan nada yang tak terbantahkan, memvonisnya sebagai hukum alam yang absolut.

​Di barisan paling depan, Svara menelan ludah dengan susah payah. Wajah sedingin esnya kini memucat pasi memikirkan monster berusia jutaan tahun tersebut. “Jenderal… bila kekuatan entitas itu sudah setara dengan dewa, lalu adakah eksistensi di dunia ini yang sanggup berdiri mengalahkan mereka?” tanyanya dengan suara parau yang menahan keputusasaan.

​Jenderal Tegra menengadah, menatap jauh ke arah kanopi langit es yang kelabu. Napasnya terhembus panjang membentuk kepulan asap tipis. Ia kemudian kembali menunduk menatap Svara dengan sorot mata yang menyala bagai bara api di tengah gletser.

​”Hanya seseorang yang memiliki kegilaan untuk berani melawan takdir… atau orang yang sudi mati memeluk kematian saat mencobanya,” jawab Jenderal Tegra dalam nada yang amat berat dan sarat makna, menggemakan realitas jalan kultivasi di telinga seluruh muridnya.

​”Sebagai informasi biologis tambahan, setiap tingkat dan umur evolusi Monster Bintang dapat dibedakan dan dilacak melalui jumlah bintik tanda bintang yang terukir di dahi mereka. Selain itu, pendaran warna Mustika Monster Bintang yang diekstrak akan selalu selaras dengan warna aura Segel Bintang yang akan kalian serap dan manifestasikan kelak,” jelas Jenderal Tegra, menutup sesi pemaparan teoritisnya.

​Jenderal veteran itu menghunus pedangnya dan menancapkannya ke lapisan es dengan bunyi berderak. “Sekarang… aku menuntut kalian untuk memeras darah kalian seratus kali lebih keras dalam meningkatkan kekuatan kultivasi kalian! Karena mulai fajar hari ini, kalian bukan lagi bocah ingusan yang berlatih memegang pedang hanya untuk bertahan hidup di akademi… kalian dilatih di sini agar peradaban dunia manusia ini tidak kiamat dan berakhir di dalam rahang para monster!” tutup Jenderal Tegra dengan suara guntur, menghantam nurani dan membakar semangat di dada setiap prajurit muda yang mendengarnya.

​Para pendekar muda Kerajaan Es itu mengangguk dengan dada membusung. Wajah mereka masih pucat karena teror, tetapi di kedalaman pupil mata mereka, tekad baru mulai menyala dan membara. Mereka sadar sepenuhnya… kuliah militer dari Sang Jenderal hari ini bukanlah sekadar dongeng sebelum tidur.

​Itu adalah sebuah peringatan hari kiamat.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!