Bab 26

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

​Murid Ketiga

​Di ambang pelataran paviliun yang sejuk, langkah Svara perlahan melambat hingga akhirnya terhenti. Mata gadis berambut keperakan itu menangkap sosok Diyah yang tengah duduk bersila di tengah taman. Kakaknya itu tampak sangat fokus; kedua telapak tangannya tertumpu rileks di atas lutut, matanya terpejam rapat, memusatkan sirkulasi energi untuk memulihkan kekuatannya.

Kak Diyah, latihan seberat apa yang sedang kau jalani hari ini? batin Svara penasaran, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan untuk mengamati lebih jelas.

​Namun, tepat saat ia hendak melangkah keluar dari balik lorong, ekor matanya menangkap eksistensi lain di dekat sang kakak—sesosok pemuda berjubah yang berdiri dengan ketenangan absolut. Itu adalah Ken. Svara seketika menahan napasnya. Dengan gerakan refleks, ia menarik kembali tubuhnya dan bersembunyi di balik pilar pualam putih, hanya menyisakan sebelah mata untuk mengintip situasi.

Bukankah pria itu adalah Tuan Ken yang legendaris itu? Jadi Kak Diyah selama ini berlatih di bawah bimbingan langsung darinya? batin Svara bergejolak, menahan hawa keberadaannya sekuat tenaga agar tak memecah keheningan latihan mereka.

​Tak lama setelah memulihkan meridiannya dengan bantuan esensi Pil Pancasona, Diyah perlahan membuka kelopak matanya. Sorot matanya memancarkan keyakinan yang tajam. “Kak Ken, fondasi energiku sudah stabil. Aku sudah siap,” ucap Diyah seraya mengangkat dagu, menyatukan kedua tangannya di depan dada dalam gestur hormat.

​”Baiklah, tetaplah di posisimu,” instruksi Ken. Ia menunduk sejenak, memutar Cincin Bintangnya, dan menarik keluar sebuah bola kristal seukuran kepalan tangan yang memancarkan pendaran cahaya kuning keemasan yang sangat padat. Ia membiarkan bola kristal itu mengambang ringan di atas telapak tangannya.

​Diyah memicingkan matanya, mencondongkan tubuh sedikit ke depan terpesona oleh pendaran energi murni tersebut. “Benda ajaib apa itu, Kak Ken?” tanyanya dengan nada penuh rasa ingin tahu.

​”Ini adalah inti murni dari Mustika Monster Bintang,” jelas Ken, memutar perlahan kristal energi itu di tangannya. “Aku mengekstrak dan menyerap esensi spiritualnya tepat sebelum bangkai monster itu lenyap, lalu menggunakan teknik pemadatan segelku untuk mengompres seluruh energinya menjadi bola kristal padat seperti ini.”

​”Hah! Apakah benar-benar ada metode manipulasi energi serealistis itu?!” Diyah terkesiap, matanya membulat sempurna takjub akan kemampuan gurunya. Kak Ken benar-benar luar biasa… Aku sangat beruntung dan bersyukur Kak Ken selalu bersedia menemaniku. Terima kasih, Kak Ken, batinnya hangat, menyunggingkan senyum tipis yang tulus seraya menepuk lututnya pelan.

​”Yaa… pada dasarnya, proses ini sama persis seperti menyerap Mustika Monster liar di alam bebas. Hanya saja, metode ini menghilangkan risiko ledakan energi negatif,” terang Ken, mengangkat bahunya santai seolah memadatkan inti monster adalah hal yang remeh. “Baiklah, pusatkan pikiranmu. Kita mulai penyerapannya sekarang.”

​”Mm-hmm! Aku siap, Kak Ken,” jawab Diyah seraya mengangguk cepat. Ia segera merentangkan kedua tangannya, memosisikan diri untuk menerima aliran energi kristal tersebut.

​Begitu proses transfer dimulai, untaian cahaya kuning keemasan mengalir deras dari kristal di tangan Ken menuju meridian Diyah. Tubuh gadis itu sedikit bergetar menahan tekanan padat dari energi murni yang membanjiri sel-sel darahnya.

​Di balik pilar, Svara yang mengintip tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya melebar nyaris tak berkedip, jari-jarinya mencengkeram kuat permukaan pilar batu hingga buku-buku jarinya memutih.

Hah! Bagaimana mungkin sihir seperti itu ada di dunia ini?! Apa benar ada teknik pemadatan semacam itu? Jika seorang kultivator bisa menyaring mustika menjadi seaman itu… maka orang-orang tidak perlu lagi mempertaruhkan nyawa dan menghadapi risiko serangan balik energi saat berburu di Hutan Monster Bintang! batin Svara menjerit, takjub dengan rahasia alkemi yang baru saja ia saksikan.

​Setelah memastikan aliran penyerapan Diyah berjalan stabil, Ken melangkah mundur. Ia duduk bersantai di anak tangga pendopo tak jauh dari sana, bersandar nyaman dengan kedua lengan bersilang di dada. Sedetik kemudian, tanpa menoleh, Ken melontarkan suaranya yang tenang namun menggema.

​”Sampai kapan kau berniat membeku bersembunyi di balik pilar itu?” tegur Ken, menembak tepat ke arah persembunyian Svara.

​Svara tersentak kaget seakan disambar petir. Hah! Dia bisa menyadari hawa keberadaanku tanpa menoleh sedikit pun?! batinnya panik. Menyadari tak ada gunanya bersembunyi dari insting dewa perang, Svara segera melangkah keluar dengan langkah kaku. Ia menutupi sebagian wajahnya dengan tangannya karena malu.

​”Ah… m-maafkan kelancanganku, Tuan. Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggu latihan kalian. Aku tadi hanya kebetulan lewat dan ingin melihat keadaan Kak Diyah. Tolong maafkan ketidaksopananku, Tuan,” ucap Svara seraya menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia menggeser kakinya mundur selangkah, postur tubuhnya memancarkan rasa gugup yang amat sangat di hadapan Ken.

​Ken hanya menyunggingkan senyum tipis. “Benarkah begitu? Kemarilah, mendekat,” titah Ken seraya menepuk pelan ruang kosong di pendopo sebelahnya. “Melihat kemiripan auramu… apakah kau juga salah satu putri kandung dari Raja Bawigan?”

​”Yaa… tebakan Anda benar, Tuan. Namaku Svara, putri kedua Ayahanda Raja, adik dari Kak Diyah dan Kak Julia,” jawab Svara, melangkah ragu mendekat dengan tangan bertaut sopan di depan perutnya.

​”Svara… sebuah nama yang sangat melodi dan berkarakter,” puji Ken, sedikit mengangguk menyetujui.

​”I-iya, Tuan. Terima kasih banyak atas pujiannya,” balas Svara cepat, kembali menundukkan kepalanya sejenak.

​Ken menunjuk lembut ke arah Diyah yang tengah khusyuk bermeditasi. “Seperti yang kau lihat, kakakmu sedang dalam fase krusial menyerap Mustika Monster Bintang. Karena kita sedang menunggu, jika ada sesuatu yang membebani pikiranmu atau ingin kau tanyakan, katakan saja secara langsung padaku,” tawar Ken santai.

​”Ah… t-tidak, Tuan. Tidak ada apa-apa,” dusta Svara sambil menggigit bibir bawahnya, wajah pucatnya kini dihiasi rona merah padam karena salah tingkah.

​Dalam diam, Svara mencuri pandang menilai postur Ken.

Tuan Ken ini sungguh eksistensi yang luar biasa… Sejak berada di bawah bimbingannya, Kak Diyah berkembang melesat hingga mampu memadatkan Segel Bintang Emas. Dan batas kekuatan Tuan Ken sendiri sangatlah absolut… Ia bahkan membantai Jenderal Bonar dan Jenderal Lamarr seolah mereka hanya lalat pengganggu beberapa waktu lalu. Apakah pria setingkat dewa ini masih sudi menerima murid tambahan? Tapi melihat auranya yang sangat dingin dan tertutup, dia pasti akan menolakku. Mungkin saja dia mau repot-repot mengajari Kak Diyah hanya karena mereka punya kedekatan khusus… Ah, apa aku harus nekat mencobanya? batin Svara bergejolak hebat, dahinya berkerut dalam memikirkan probabilitas penolakan.

​”Aaa… Tuan… a-apakah aku benar-benar diizinkan untuk bertanya sesuatu?” Suara Svara memecah keheningan, terdengar bergetar karena sarafnya terlalu tegang. Kedua tangannya menggenggam gaunnya erat-erat.

​”Tentu saja. Bicaralah,” jawab Ken dingin, matanya menatap lurus menembus keraguan Svara.

​”A-apakah… Kak—maksudku, Tuan Ken! Apakah saat ini Tuan Ken memiliki murid lain yang berada di bawah bimbingan Anda?” tanyanya dengan nada penuh keraguan. “M-maafkan kelancanganku, Tuan… aku murni hanya sekadar bertanya,” sambungnya buru-buru, takut pertanyaannya menyinggung privasi sang dewa bela diri.

​”Murid?” Ken mengangkat sebelah alisnya, raut wajahnya tetap datar tak terbaca.

​”I-iya, benar, Tuan!” jawab Svara cepat, menundukkan pandangannya.

​Ken sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, masih dengan posisi lengan bersilang. “Kenapa kau menanyakan hal itu? Apakah kau diam-diam memendam ambisi untuk menjadi muridku juga?” tembak Ken langsung ke inti masalah.

​”A-aaa… t-tidak, Tuan. Aku sama sekali tidak berani bermimpi sejauh itu. Aku hanya sekadar bertanya,” dusta Svara sekali lagi, langkahnya refleks mundur satu tindak karena intimidasi Ken.

​”Yaa… sayang sekali kalau begitu. Padahal aku baru saja berpikir bahwa kau memiliki ketertarikan untuk menjadi pewaris ajarku,” kata Ken, senyum tipis yang penuh teka-teki menghiasi bibirnya sembari mengangkat bahunya ringan.

​Svara seketika membeku. Matanya membulat. Otaknya memproses kalimat itu dengan kecepatan maksimal. Apa maksud ucapan Tuan Ken barusan? Apakah… apakah dia baru saja memberiku lampu hijau?! batinnya meledak penuh harapan.

​Svara menarik napas panjang, menyingkirkan segala gengsinya. “Emmm… jadi… seandainya aku memang memiliki tekad itu, apakah aku benar-benar memiliki kualifikasi untuk menjadi murid Tuan Ken?” tanyanya perlahan, menatap Ken penuh harap.

​”Yaa… tentu saja pintuku terbuka, kalau kau memang memiliki nyali untuk itu. Namun, syaratku mutlak: aku hanya sudi menerima murid yang memiliki obsesi gila untuk menjadi kuat dan pantang menyerah meski dihadapkan pada kematian,” jawab Ken tegas, sorot matanya yang dingin kini memancarkan percikan tantangan.

Hah! Ternyata aku benar-benar bisa menjadi muridnya! batin Svara bersorak. Pundaknya yang sedari tadi merunduk kini menegang dipenuhi antusiasme murni.

​”Baik, Tuan! Aku bersedia! Aku berjanji akan memberikan seluruh hidupku untuk menjadi kuat dan pantang menyerah di bawah bimbinganmu,” ujar Svara dengan suara mantap, menegakkan punggungnya dengan penuh kebanggaan.

​”Yaa… jawaban yang bagus,” kata Ken seraya mengangguk pelan dengan senyum tipis.

Hah! Apa-apaan ini… ternyata proses penerimaannya segampang ini?! Tidak ada ujian masuk atau penyerahan upeti berdarah?! batin Svara terkejut bukan kepalang, kedua tangannya terkepal di samping gaunnya menahan eforia.

​”A-aaa… baik, Tuan. Jadi… apakah Tuan Ken secara resmi telah menjadi guruku sekarang?” tanyanya memastikan, sedikit mencondongkan tubuh ke depan tak sabar.

​”Tentu saja. Berikan punggung tangan kananmu kemari. Aku akan menanamkan Formasi Segel Bintang sebagai bukti mutlak bahwa benang nasibmu kini terikat sebagai muridku,” jelas Ken, menjulurkan tangannya menanti Svara.

​”Hmm… i-ini, Tuan… ehh, maksudku, Guru,” Svara mengulurkan tangan kanannya dengan tangan sedikit gemetar, wajah putihnya merona tipis membias rasa bangga.

​Ken memegang punggung tangan gadis itu dan mengalirkan energinya. Sama seperti saat ia mengikat takdir Asikin dan Fubao, cahaya keemasan yang hangat mengalir menyusuri pori-pori Svara, membentuk pendaran rune magis. Mata Svara melebar kagum menyaksikan sihir pembentuk segel itu, sementara tubuhnya sedikit tersentak merespons energi murni yang menyusup ke meridiannya.

​Dalam proses penanaman segel tersebut, Mata Dewa Ken secara otomatis memindai fondasi kekuatan Svara.

Segel Bintang dengan pendaran dua Bintang Perak… Mengingat umurnya, fondasi elemen es anak ini terbilang cukup solid, analisis Ken dalam hati, matanya sedikit menyipit menilai potensi tempur murid ketiganya itu.

​”Selesai,” ujar Ken dengan nada tenang seraya melepaskan genggamannya. Ia lalu melangkah mundur beberapa tindak, memberikan ruang tempur. “Baiklah, pemanasan teori sudah cukup. Sekarang aku ingin melihat potensi aslimu. Serang aku menggunakan jurus terbaik yang kau dapatkan dari Monster Bintang pertamamu.”

​Svara mengangguk mantap. Wajahnya berubah menjadi sangat serius. “Sesuai perintah, Guru,” jawabnya singkat. Kedua kakinya bergeser lincah mengambil kuda-kuda serang yang kokoh.

​Svara menarik napas dalam-dalam, mengalirkan Qi dari Segel Bintang Perak ke kedua telapak tangannya. “Kabut Es!” serunya lantang.

​Dalam sekejap mata, suhu di pelataran paviliun anjlok mendekati titik beku. Embun putih yang sangat pekat meledak dari tubuh Svara, menyebar luas bak gelombang tsunami kecil, menggigit kulit dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Jarak pandang seketika menjadi nol.

​Namun di tengah badai kabut beku itu, Ken tetap berdiri santai dengan kedua tangan di belakang punggung, tak bergeser seinci pun meski embusan napasnya kini berubah menjadi kepulan uap putih.

​Tak memberikan musuhnya waktu untuk bernapas, Svara merangkai mantra lanjutan. Urat kebiruan di pelipisnya menonjol, memusatkan fokus mutlak. “Belitan Penghancur!” teriak Svara memecah kabut.

​Seketika, pusaran kabut es itu memadat dan bermanifestasi menjadi wujud seekor Ular Es Raksasa. Tubuh reptil itu sangat licin dan berkilau memantulkan cahaya layaknya kristal intan. Dengan kecepatan kilat, ular raksasa itu menerjang dan melilit tubuh Ken dengan kekuatan brutal yang mampu meremukkan baja. KRAAAK! Suara gesekan dan retakan es menggema mengerikan di udara saat lilitan ular itu mengunci setiap inci tubuh Ken.

​Merasakan tekanan fisik dari segala arah, Ken tak sedikit pun menunjukkan raut panik. Ia hanya tersenyum tipis. Bagus… Setelah membutakan pandangan musuh dengan kabut, ia langsung mengunci pergerakan mereka menggunakan jurus pengikat. Eksekusi strategi yang sangat masuk akal, puji Ken mengamati kecerdasan taktis muridnya.

​Sadar bahwa lilitan es tak akan cukup untuk membunuh monster sekelas gurunya, Svara menarik kembali energinya untuk serangan final. Napasnya mulai terengah, tapi matanya menyala beringas menyiratkan tekad seorang assassin. “Guru… dua jurus tadi hanyalah pengantar. Sekarang… terimalah tebasan pedang esku!” ucapnya seraya menarik sebilah pedang panjang perak dari sarung di punggungnya.

​Svara merapal mantra pamungkasnya. “Sisik Es!”

​Dalam sekejap, kelembapan di udara mengkristal dan menyelimuti seluruh tubuh mungil Svara. Lapisan sisik es tebal yang sangat keras dan berkilau membalut tubuhnya, menjadikannya tampak seperti prajurit naga es yang tak tertembus. Suhu di sekitar mereka turun semakin drastis hingga rumput-rumput di taman membeku dan patah.

​Memanfaatkan pijakan es, Svara melesat maju dengan kecepatan yang mengagumkan. Serangan pedangnya datang menghujam bertubi-tubi layaknya badai meteorit es. Kilatan bilah peraknya menusuk dan menebas dari segala titik buta. Gerakan Svara sangat luwes namun mematikan; tubuhnya meliuk-liuk fleksibel seakan menirukan kelincahan ular berbisa yang sedang memburu mangsanya.

​Meski dihujani serangan mematikan, Ken tidak sekalipun menghunus senjata untuk membalas. Ia hanya menggunakan gerak kaki tingkat dewa. Ia melangkah ringan layaknya bayangan yang menari di atas air, menghindari setiap tebasan maut Svara hanya dengan pergeseran beberapa milimeter. Sesekali, Ken mengangkat punggung tangannya untuk menangkis pelan sisi tumpul pedang gadis itu. Setiap kali baja beradu dengan kulit Ken, percikan bunga api bercampur es beterbangan di udara, menciptakan kristal-kristal kecil yang berguguran bagai serpihan salju yang indah.

​Waktu terus berjalan. Akibat menggunakan tiga jurus berelemen tinggi secara berturut-turut, stamina fana Svara mulai mencapai batasnya. Napasnya terdengar semakin berat dan memburu. Bahunya naik-turun memompa sisa oksigen. Ayunan pedangnya yang tadinya secepat kilatan angin utara, kini mulai melambat dan kehilangan presisi. Ken dengan mudah bisa melihat butiran peluh dingin mulai membeku menjadi kristal di pelipis gadis itu.

​Melihat muridnya telah mencapai batas daya tahannya, Ken mengangkat sebelah tangannya, memberikan isyarat absolut. “Baiklah. Pertarungannya kita sudahi sampai di sini. Cukup,” ucapnya tegas, namun menyiratkan senyum bangga dari seorang guru.

​Mendengar komando itu, Svara segera menarik mundur pedangnya dan menurunkan kuda-kudanya. Dadanya mengembang-kempis memburu napas. Uap putih mengepul tebal dari mulutnya setiap kali ia membuang napas. Wajah cantiknya memerah padam akibat kelelahan yang ekstrem, namun sorot matanya tetap menyala memancarkan kepuasan karena berhasil mendemonstrasikan seluruh potensinya tanpa keraguan.

​Ken melangkah santai memecah jarak di antara mereka, lalu menepuk pelan bahu Svara yang berlapis peluh. “Kerja yang sangat bagus,” ujarnya, suaranya mengalun tenang menyalurkan apresiasi. “Potensi teknik pengendalian elemen esmu berkembang dengan pesat. Namun…” Ken menghentikan kalimatnya, menatap lurus menembus mata Svara, “…kau bertarung dengan sangat boros. Kau terlalu mengandalkan brute force atau ledakan kekuatan mentah untuk mengeksekusi setiap jurusmu. Celah itulah yang membuat cadangan energi Qi dalam meridianmu terkuras habis dalam waktu singkat.”

​Svara menghela napas panjang, menancapkan ujung pedangnya ke atas lapisan es agar tubuhnya yang gemetar bisa bertumpu. “Aku… aku mengerti maksud Guru. Tapi dalam pertarungan hidup dan mati, bagaimana caranya agar aku bisa mengeksekusi jurus yang sama namun dengan efisiensi energi yang lebih baik?” tanyanya kritis sembari mengusap keringat beku di keningnya.

​Ken memutar pandangannya ke sekeliling taman, lalu berjalan mundur beberapa langkah. Ia mengangkat satu jari telunjuknya, bersiap memberikan kuliah militer. “Ada satu kunci fundamental yang membedakan seorang amatir dengan master: Pengendalian Mutlak. Ketiga jurus elemenmu tadi memang hebat, tapi mereka berdiri sendiri-sendiri. Jika kau mampu mensinkronkan dan menggabungkan ketiga teknik itu ke dalam satu alur rantai serangan yang tak terputus, efek kehancurannya akan berlipat ganda—sementara konsumsi energimu akan jauh lebih irit.”

​Svara mengangkat wajahnya, keningnya berkerut keras memproses teori tersebut. “Menggabungkan… tiga jurus besar sekaligus dalam satu tarikan napas? Apakah hal manipulatif seperti itu mungkin dilakukan oleh manusia biasa?”

​Senyum tipis yang memancarkan aura dewa perang kembali muncul di wajah Ken. “Tentu saja mungkin. Dengarkan logikanya baik-baik.”

​Ken berjongkok. Ia menggunakan ujung telunjuknya untuk menggambar skema taktis di atas salju. “Bayangkan ini adalah alur kombo mematikanmu: Pertama, kau meledakkan Kabut Es murni hanya untuk merusak jarak pandang dan memperlambat pergerakan musuh. Kedua, panggil Belitan Penghancur bukan bertujuan untuk meremukkan tulangnya secara langsung, melainkan cukup untuk mengikat pergerakannya dalam satu detik pembekuan. Lalu…” Ken mendongak, menatap tajam ke mata Svara, mengubah nada suaranya menjadi sangat rendah dan berbahaya, “…tepat pada titik buta saat musuhmu lumpuh dan tak bisa bergerak, aktifkan Sisik Es! Namun ingat, jangan pusatkan sisik itu pada tubuhmu sebagai perisai bertahan, melainkan pusatkan seluruh ketebalan sisik es itu untuk membalut dan memperkuat bilah pedangmu! Jika kau melakukannya dengan benar, bobot tebasan pedangmu akan melipatgandakan daya hancurnya layaknya palu godam raksasa yang dilapisi baja kosmik!”

​Svara menelan ludah dengan susah payah, wajahnya memucat pucat menyadari betapa mengerikannya taktik brutal tersebut. Keterkejutan dan kekaguman absolut melebur di matanya. “Jadi… secara hierarki taktik, sihir Belitan itu bukanlah serangan finisher, melainkan sekadar crowd control (pengunci). Dan zirah Sisik itu, fungsinya bukan sebagai tameng pelindung, melainkan sebagai buff (penguat daya hancur) senjata utamaku?!”

​Ken mengangguk membenarkan konklusi cerdas muridnya. “Tepat sekali. Tanamkan di pikiranmu: Seorang petarung sejati di dunia kultivasi tidak hanya dihormati karena seberapa besar ledakan tenaganya, melainkan seberapa brilian dan kejam ia memanipulasi hukum energi dalam setiap ayunan jurusnya. Selebihnya, untuk menutupi kelemahanmu… mulai besok kau harus seratus kali lipat melatih fisik fana dan ketahanan ototmu, agar wadah tubuhmu mampu menampung lebih banyak energi Segel Bintang tanpa takut cepat kering.”

​Svara mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ritme napasnya mulai stabil kembali, meski otot-otot pahanya masih sedikit gemetar menahan lelah. “Aku… aku sangat memahaminya, Guru. Aku akan mendedikasikan waktu latihanku untuk menyatukan jurus gabungan maut itu.”

​Ken kembali menepuk bahu gadis itu, kali ini dengan senyum kebapakan yang jauh lebih hangat. “Bagus. Tekadmu sudah di jalur yang benar. Tapi jangan paksakan dirimu untuk menguasainya hari ini juga. Cadangan tenagamu sudah menyentuh dasar. Istirahatkan meridianmu, pulihkan energimu dengan meditasi. Kau selalu punya waktu untuk menyempurnakannya nanti.”

​Svara mengangguk mantap tanpa keraguan. “Sesuai perintah, Guru.”

​Gadis itu mencabut pedang esnya dari tanah, menatap pantulan wajahnya di bilah perak itu dengan sorot mata yang menyala oleh tekad yang baru saja lahir. Aku bersumpah akan menguasai rantai kematian ini… dan berdiri sebagai yang terkuat demi membantai musuh-musuhku, batin Svara mengukir janjinya pada hamparan salju abadi.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!