Bab 21

Current Language: Bahasa Indonesia

Read this chapter in:

Senjata Bintang Busur Phoenix

​”Sebagai pemandu acara yang mewakili Kerajaan Es, aku mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi agung dari masing-masing wilayah: Kerajaan Air, Kerajaan Bumi, Kerajaan Angin, Kerajaan Langit, dan Kerajaan Api! Hari ini adalah hari pembuktian yang ditunggu-tunggu oleh para jenius muda dari seluruh penjuru benua demi memperebutkan medali dan gelar Ksatria Pandhega—gelar mutlak yang nantinya berhak memimpin ribuan prajurit di kerajaan masing-masing! Untuk seluruh hadirin, silakan menempati kursi di tribun agung yang telah disiapkan. Acara utama akan kita mulai sesaat lagi!”

​Suara bariton Paman Uria yang bertindak sebagai pemandu acara menggema ke seluruh penjuru arena gladiator yang megah, disalurkan melalui formasi pengeras suara. Sorak-sorai ribuan penonton meledak menyambut pembukaan turnamen tersebut.

Huft, ternyata berdiri menjadi pemandu acara sebesar ini cukup menguras tenaga. Tenggorokanku rasanya butuh arak segar, batin Paman Uria seraya menyeka keringat di dahinya, lalu melangkah turun sejenak dari mimbar.

​Di area tribun khusus peserta, para kandidat dan petinggi mulai berkumpul untuk menyaksikan rentetan pertandingan pembuka.

​”Hei! Ternyata kalian semua sudah berkumpul di sini,” sapa Julia yang baru saja tiba, menghampiri teman-temannya.

​”Ohh! Julia, dari mana saja kau?” sapa Andin melambaikan tangan.

​”Ya, aku harus menjemput mereka terlebih dahulu di gerbang tamu,” jelas Julia, menunjuk ke arah Raden, pangeran dari Kerajaan Air, yang berdiri mendampinginya dengan senyum sopan.

​”Ohh, iya, iya, aku paham,” goda Andin dengan senyum penuh arti.

​Pandangan Julia kemudian beralih pada Diyah yang terus meremas ujung gaunnya. “Diyah, apa yang sedang kau pikirkan? Kau terlihat sangat gelisah,” tegur Julia lembut.

​”A-aa… tidak. Tidak ada apa-apa,” kilah Diyah, matanya terus menyapu gerbang masuk arena.

​”Halah, berhentilah berbohong! Dia ini tentu saja sedang cemas menunggu kedatangan sang pangeran berkuda hitamnya. Benar, kan?!” Andin menggoda Diyah sembari merangkul bahu sahabatnya itu erat-erat.

​”Hah! Apakah Tuan Ken belum datang?” tanya Julia, ikut memutar pandangannya mencari sosok Ken.

​”Sejak tadi kami belum melihat batang hidungnya,” jelas Andin. Ia menepuk bahu Diyah untuk menenangkannya. “Tenanglah, Diyah. Mungkin saja dia ketiduran. Bukankah dia semalaman suntuk menguras tenaga untuk meracik Cairan Energi demi adik Julia?”

Andin benar juga… mungkin Kak Ken kelelahan setelah proses alkemi itu. Apa sebaiknya aku pergi menyusul dan menemuinya di kamarnya saja? batin Diyah bimbang.

​Namun, sebelum Diyah sempat melangkah, sekelompok pemuda dengan aura arogan melangkah angkuh menghampiri barisan mereka.

​”Wah, wah! Ternyata Putri Diyah sedari tadi berdiri di sini menungguku! Tenang saja, Sayang, aku sudah datang dan akan terus menemanimu di sini, Hahaha!” seru salah seorang pemuda dari kelompok itu dengan tawa menyebalkan.

​”Hedie, tutup mulutmu. Hentikan omong kosong dan kehaluanmu itu,” tegur Julia tajam, menatap sinis Pangeran Hedie dari Kerajaan Bumi.

​”Hahaha, kenapa kau yang marah, Julia? Apa yang salah dengan ucapanku?” elak Hedie tanpa rasa bersalah.

​”Hedie! Hedie! Kau ini selalu saja mencari masalah dan mengganggu wanita yang lemah,” celetuk seseorang yang baru saja tiba dengan rombongan pengawalnya.

​Hedie mendengus kasar. “Hah! Apa maksudmu berkata begitu, Pangeran Meyer?” tantang Hedie pada pangeran dari Kerajaan Angin tersebut. “Apakah maksudmu Putri Diyah ini lemah? Tenang saja, dia pasti akan menjadi wanita yang sangat kuat dan patuh setelah resmi menjadi istriku di ranjang nanti! Hahaha!” tambahnya, sengaja melecehkan martabat Diyah.

​”Kau terlalu banyak bermimpi, Hedie! Putri Diyah tentu saja akan menjadi istriku. Aku akan memboyongnya ke Kerajaan Angin, menginjak-injak Kerajaan Bumimu di perjalanan! Hahaha!” balas Meyer dengan tawa yang tak kalah pongah.

​Mendengar lecehan itu, Raden mengepalkan tangannya. “Kalian berdua! Sebagai sesama bangsawan, kalian tidak seharusnya memperebutkan seorang putri seolah ia barang dagangan!” tegur Raden tegas, muak dengan sikap mereka.

​”Hah! Raden, tutup mulutmu dan jangan ikut campur! Kau kan sudah mendapatkan Putri Julia, apa kau serakah ingin mengangkangi kedua putri ini sekaligus?! Hahaha!” ejek Hedie memprovokasi.

​”Kurang ajar kau!” geram Raden, nyaris mencabut pedangnya.

​Namun, keributan itu terinterupsi oleh hawa panas yang menyengat. Sekelompok pemuda dengan jubah merah api menyibak kerumunan. “Sudahlah, kalian semua hanya membuang liur. Tidak akan ada satu anjing pun yang bisa merebut putri itu dariku,” aum seorang pemuda berambut merah menyala.

​”Hah! Selamat datang, Pangeran Fredy,” sapa Meyer dengan nada meremehkan.

​”Pangeran Fredy, bukankah kau sudah memiliki istri utama di istanamu? Lebih baik kau serahkan saja Putri Diyah yang manis ini padaku! Hahaha,” ucap Hedie, kembali menertawakan Diyah seolah ia tak punya harga diri.

​Fredy menyeringai liar. “Turnamen Pandhega masih tersisa dua minggu lagi. Apakah kalian para pecundang ingin menggunakan pertandingan pembuka hari ini sebagai ajang taruhan?” tantang Fredy dengan mata berkilat. “Jika salah satu dari kalian bisa mengalahkanku di arena hari ini, maka aku akan menyerahkan hak atas Putri Diyah pada pemenangnya. Bagaimana? Berani?!”

​Mendengar tantangan brutal dari pangeran terkuat itu, nyali Hedie seketika menciut. “A-aa… untuk tawaran gila itu, aku mundur, Pangeran,” jawab Hedie, buru-buru menundukkan kepalanya.

​”Ahh, ya… aku juga tidak segegabah itu, Pangeran Fredy. Kami berdua akan dengan sabar menunggu jika Pangeran suatu hari nanti sudah bosan dan tidak menginginkannya lagi,” sahut Meyer tak kalah pengecut.

​”Hahaha! Memang kumpulan sampah! Bagaimana denganmu, Raden?!” Fredy tertawa puas, lalu mengarahkan tatapan tajamnya pada Raden.

​”Aku tidak sudi ikut dalam taruhan rendahanmu, Pangeran,” jawab Raden dingin.

​”Hahaha, baguslah kalau kalian semua sadar diri!” pungkas Fredy dengan tawa kemenangan.

​Diyah menunduk, matanya mulai berkaca-kaca menahan kemarahan dan rasa malu yang luar biasa. Kenapa orang-orang ini selalu bertindak seenaknya?! Mereka memperebutkan dan menjadikan tubuhku sebagai taruhan seolah-olah mereka adalah dewa yang berhak menentukan takdirku! Apa aku memang selemah dan serendah itu di mata mereka? Batin Diyah menjerit pilu.

​Suara terompet raksasa bergema, menandakan Paman Uria telah kembali ke atas mimbar.

​”Baiklah, hadirin sekalian, kembali padaku! Pagi ini adalah laga ekuilibrium dari Pembukaan Ujian Pandhega! Pada sesi ini, Kerajaan Es telah menyiapkan dua laga bergengsi dengan hadiah yang menakjubkan!” suara Uria kembali menggelegar ke sudut arena.

​”Babak pertama adalah Pertarungan Battle Royale! Seluruh perwakilan utama dari lima kerajaan akan diterjunkan ke dalam satu arena secara bersamaan, dan hanya akan ada satu pemenang tunggal yang bertahan berdiri! Hadiah untuk babak ini adalah artefak Sayap Terbang, lengkap dengan Senjata Kelas 1!”

​Sorak-sorai penonton mengguncang tanah mendengar hadiah semewah itu.

​”Dan selanjutnya… Babak Kedua! Pemenang dari laga Battle Royale akan mendapatkan hak istimewa untuk menantang salah satu dari dua Jenderal Pertahanan Kerajaan Es: Jenderal Lamarr, atau Jenderal Bonar! Sang penantang tidak diwajibkan untuk menang. Selama ia sanggup bertahan hidup dan tidak keluar arena selama tiga puluh menit… ia berhak membawa pulang pusaka agung: Senjata Bintang Busur Phoenix, sebuah Senjata Bintang murni Kelas 2!”

​Atmosfer arena mendidih.

​”Baiklah, silakan para delegasi untuk mempersiapkan diri! Peserta diwajibkan menyerahkan token yang telah dibagikan. Batas usia pendaftaran adalah maksimal 25 tahun! Bagi kalian yang memiliki nyali, silakan turun ke arena sekarang juga!” tutup Paman Uria seraya mengangkat tangannya.

​Begitu pengumuman selesai, Pangeran Fredy memutar tubuhnya. Ia menatap ke sekeliling tribun dengan aura membunuh yang dilepaskan sepenuhnya. “Kalian dengar ini baik-baik! Jika ada satu ekor babi pun yang berani turun mewakili Diyah di arena ini… aku dan seluruh militer Kerajaan Api akan memastikan orang itu mati membusuk tanpa tulang!” ancam Fredy mutlak. “Dan kau, Diyah… jika kau sendiri yang berani turun, aku akan sangat menikmati sensasi menyentuh dan menghancurkan tubuhmu di bawah sana! Hahaha!”

​Dengan tawa iblisnya, Fredy melompat elegan dan mendarat keras di tengah arena, diiringi oleh sorakan pendukungnya.

​Melihat kekejaman Fredy, Raden segera menasihati. “Diyah, sebaiknya kau tidak perlu nekat turun. Utamakan saja keselamatan nyawamu,” ucap Raden, sebelum ia sendiri bergegas turun ke arena mewakili Kerajaan Air.

​”Ya, Raden benar, Diyah! Sebaiknya kau tetap diam di sini bersama kami,” tambah Julia, menggenggam tangan Diyah dengan penuh kekhawatiran.

​Namun tatapan Diyah terkunci pada pusaka yang dipajang di atas altar kehormatan. “Diyah… bukankah Senjata Bintang Busur Phoenix itu adalah… milik mendiang ibumu?” bisik Andin, tiba-tiba mengingat pusaka peninggalan Ratu Es terdahulu.

​”Benar… Itu adalah Busur pusaka ibuku…” jawab Diyah lirih. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia merasa tak berguna tak bisa merebut kembali warisan ibunya.

​”Baiklah! Kelima kerajaan telah turun! Bagaimana dengan Kerajaan Es? Apakah kalian akan menyerah dan tidak mengirimkan utusan di laga pembuka ini?!” seru Paman Uria dari atas mimbar, memancing reaksi penonton.

​Melihat bahu Diyah yang bergetar karena tangis, Julia langsung memeluknya erat. “Diyah, jangan dengarkan ucapan kotor mereka. Tenangkan dirimu,” hibur Julia sembari mengelus punggungnya.

​”Aku benci diriku sendiri… Aku sangat benci saat mereka bertindak semena-mena seolah merekalah dewa yang berhak mengatur hidupku,” isak Diyah, bibirnya bergetar hebat menelan penyesalan atas kelemahannya.

​”Maafkan aku, Diyah… Aku tidak memiliki kekuatan tempur untuk membelamu di bawah sana,” sesal Julia.

​”Tuan Putri! Apakah aku datang terlambat untuk pertunjukan ini?”

​Sebuah suara tenang namun berat memecah isak tangis Diyah.

Hah! Suara ini… Kak Ken?! batin Diyah tersentak. Ia segera mengangkat wajahnya yang sembap.

​”Kak Ken?! A-aku kira… aku kira kau tidak akan datang untuk menonton acara ini,” ucap Diyah seraya buru-buru menyeka air matanya dengan ujung lengan bajunya.

​”Ya, tentu saja. Aku datang kemari memang bukan untuk menonton, Tuan Putri,” jelas Ken seraya menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan. Ia menengadahkan tangannya. “Bisakah aku meminta token peserta milikmu itu? Aku yang akan turun mewakilimu untuk membantai mereka.”

​”Hah! A-apa kau serius, Kak Ken?!” tanya Diyah, matanya membelalak khawatir melihat monster-monster yang sudah berkumpul di bawah sana.

​”Ya, percayalah padaku. Bukankah Tuan Putri menginginkan Busur peninggalan ibumu itu?” jawab Ken, tatapannya memancarkan keyakinan absolut yang tak bisa dibantah.

​Diyah menatap mata Ken selama beberapa detik. Rasa aman seketika membanjiri dadanya. “Baiklah! Ini tokennya… Tolong, berhati-hatilah, Kak Ken.” Diyah menyerahkan plakat kristal itu ke telapak tangan Ken.

​Di tengah arena yang luas.

​”Luar biasa! Sepertinya Kerajaan Es tak ingin kehilangan muka dan ikut mengirimkan perwakilannya!” seru Paman Uria menerima token Ken dari kejauhan. “Karena semuanya telah berkumpul, aku akan mengabsen para gladiator kita hari ini!”

​”Dari Kerajaan Air: Pangeran Raden, dengan kekuatan 8 Segel Bintang! Kerajaan Bumi: Pangeran Hedie, 8 Segel Bintang! Kerajaan Angin: Pangeran Meyer, 8 Segel Bintang! Kerajaan Api: Pangeran Fredy, 8 Segel Bintang! Kerajaan Langit: Pangeran Nasse, 8 Segel Bintang! Dan yang terakhir, kuda hitam dari Kerajaan Es: Tuan Ken… dengan status Tanpa Segel Bintang?!”

​Suara Paman Uria sedikit tersendat membacakan data yang mustahil itu. “Baiklah, itulah keenam petarung kita! Untuk teknis pertarungannya, aku serahkan sepenuhnya pada wasit utama!”

​Mendengar pengumuman tersebut, tawa meremehkan meledak dari barisan para pangeran.

​”Hahaha! Apa aku tidak salah dengar? Tanpa Segel Bintang?! Hei, sampah! Apa kau sengaja turun ke arena ini untuk bunuh diri?!” ejek Fredy sambil tertawa terbahak-bahak. Meyer dan Hedie pun ikut memegangi perut mereka, menertawakan kemiskinan energi Ken.

​Ken hanya menepuk debu di jubahnya dengan tenang. “Ya, memang tanpa Segel Bintang. Tapi tangan kosongku ini sudah lebih dari cukup untuk menidurkan kalian semua,” balas Ken sedingin es. “Begini saja, biar kupermudah durasi pertarungan ini. Kalian berlima… majulah dan serang aku secara bersamaan.”

​Tantangan arogan itu membungkam tawa mereka seketika.

​”Hah! Dasar rakyat jelata tak tahu diri! Berani-beraninya kau meremehkan kami! Baiklah, jika kau memang sudah tak sabar mencicipi maut, kami akan mengabulkannya!” geram Fredy dengan mata menyala.

​”Apakah kalian semua sudah bersiap di posisi?” teriak Jenderal Hameng yang bertindak sebagai wasit utama, berjalan ke sisi arena.

​Namun, sebelum aba-aba dibunyikan, Pangeran Nasse dari Kerajaan Langit tiba-tiba mengangkat tangannya. “Tuan Wasit, aku menyerah! Aku mundur dari pertandingan ini!” ucap Nasse lantang, lalu tanpa rasa malu berbalik badan dan melompat keluar dari arena.

​Keputusan itu memicu riuh rendah cemoohan dari ribuan penonton. Mereka meneriaki Nasse sebagai pengecut.

Dasar orang-orang bodoh yang tak tahu apa-apa! Aku tidak sudi dihajar hingga tulangku remuk oleh monster yang sanggup mengimbangi Jenderal Akara itu! batin Nasse mengabaikan cemoohan, insting bertahannya berhasil menyelamatkan nyawanya dari pembantaian hari itu.

​”Baiklah! Satu peserta gugur! Pertarungan… DIMULAI!” seru Jenderal Hameng memecah ketegangan.

​”Haaaa…!”

BWOOOSH! Ken tidak membuang waktu. Ia memutar inti energinya dan meledakkan kekuatan Giant Gold Level 5. Aura energi hijau keemasan seketika meledak menyelimuti seluruh tubuhnya, menciptakan kawah kecil di bawah kakinya. Dengan kecepatan yang jauh melampaui kedipan mata, Ken melesat membelah ruang tepat ke hadapan Fredy.

​”Terima ini!”

​Sebelum Fredy sempat bereaksi memanggil pelindung api, tinju Ken telah bersarang telak di ulu hatinya. BAM! Fredy terlempar ke udara dengan mata mendelik.

​”Dan terimalah ini sebagai bonus!” Ken tak melepaskan mangsanya. Ia melompat menyusul Fredy dan melancarkan pukulan uppercut yang menghantam rahang sang pangeran dengan bunyi retakan tulang yang ngilu. Tubuh Fredy terhempas keras layaknya meteor jatuh, menghancurkan ubin marmer arena hingga retak jaring laba-laba.

Ke-kecepatannya di luar nalar! Mataku bahkan tak bisa menangkap pergerakannya! Dan pukulannya… seluruh tulangku terasa hancur lebur! Level kekuatan mengerikan macam apa ini?! batin Fredy yang terkapar tak berdaya, memuntahkan darah segar di atas marmer.

​Belum selesai keterkejutan penonton, Ken telah berkelebat hilang dan muncul tepat di hadapan Meyer. DUAGH! Satu pukulan kilat menembus pertahanan angin Meyer, menghantam dagunya hingga tubuh pangeran itu terlempar tinggi ke atas.

​”Rasakan ini!” Ken menyambut tubuh Meyer di udara dengan tendangan berputar, memaku tubuh Meyer kembali menghantam lantai arena dengan bunyi debuk yang keras.

​Melihat rekan-rekannya dibantai layaknya serangga, Hedie panik dan mencoba menyerang Ken dari titik buta menggunakan jurus tanahnya. Namun, Ken hanya memiringkan lehernya menghindari serangan itu dengan santai.

​”Gerakanmu terlalu lambat untuk sebuah penyergapan,” bisik Ken tepat di telinga Hedie.

​Sebuah pukulan siku yang mengandung daya hancur luar biasa bersarang tepat di tulang punggung Hedie, membuat pangeran bumi itu terjerembap mencium lantai. Menyadari Meyer mencoba merangkak bangun di sisi kirinya, Ken melesat dan menghujamkan lututnya tepat ke dada Meyer, memastikan pangeran itu kembali terkapar. Ken lalu melancarkan rentetan pukulan beruntun yang brutal pada Hedie dan Meyer, mengunci pergerakan mereka secara mutlak.

Bocah ini! Dia menyerang dengan ritme yang begitu presisi dan liar, sama sekali tak memberikan celah sepersekian detik pun bagi mereka untuk membalas! batin Raden yang masih berdiri tak jauh dari sana. Matanya terbelalak, keringat dingin membasahi punggungnya mengamati pembantaian tersebut.

​”Bangunlah! Bukankah tadi kalian merasa seperti dewa yang paling berkuasa di benua ini?!” tantang Ken, menatap dingin pada Meyer dan Hedie yang kini mengerang kesakitan di bawah kakinya.

​”Wahhh! Pertunjukan yang sangat luar biasa gila! Kecepatan dan daya hancur yang tak masuk akal dipamerkan oleh delegasi dari Kerajaan Es!” suara pemandu acara membelah keriuhan penonton yang bersorak histeris.

​Ken belum selesai. Ia berjalan santai menghampiri Fredy yang masih berusaha bernapas. “Ada apa dengan mulut besarmu tadi? Bukankah kau yang paling kuat?” ejek Ken.

​Tanpa belas kasihan, Ken menghujani Fredy dengan pukulan bertubi-tubi. Pukulan terakhir mendarat telak di wajah Fredy, memantulkan kepalanya ke lantai es. Ken kemudian membungkuk, mencengkeram kerah baju mewah Fredy, lalu mengangkat dan melemparkan tubuh pangeran api itu dengan satu tangan, menumpuknya di atas tubuh Meyer dan Hedie layaknya tumpukan sampah.

​”Wahhh! Tuan Ken benar-benar seperti dewa perang! Dia membantai ketiga pangeran arogan itu semudah membalik telapak tangan!” puji Andin dari bangku penonton, melompat-lompat kegirangan.

​Dengan sisa energi hijau yang masih menyala terang berkobar layaknya api roh di seluruh tubuhnya, Ken memutar lehernya, menatap Raden yang masih tersisa. “Tinggal kau sendiri. Apa kau juga ingin memaksa ototku melawanmu?” tantang Ken datar.

​Raden menelan ludah. “Ya… sebagai pendekar, aku tidak akan lari. Aku ingin merasakan sendiri seberapa berat pukulanmu,” terang Raden. Ia memaksimalkan pusaran 8 Segel Bintang airnya untuk memperkuat pertahanan.

​”Bagus. Bersiaplah!”

​Ken melesat menerjang Raden. Sebuah pukulan lurus berlapis energi hijau menghantam pelindung air Raden. Meski Raden mengerahkan seluruh tenaga bertahannya, daya hancur pukulan Ken terlalu masif. BLAAM! Pelindungnya hancur seperti kaca tipis, dan Raden terpental belasan meter ke belakang. Ken terus memburu dan menghujaninya dengan pukulan presisi hingga tubuh Raden mencapai batas toleransi rasa sakitnya. Ken lalu menangkap kerah baju Raden dengan tangan kirinya, mengangkat pangeran air itu ke udara.

​”Menyerahlah. Sebelum kuremukkan tulang rusukmu,” ucap Ken dengan nada yang sangat serius.

​”Y-ya… Ak-aku… aku m-menyerah…” rintih Raden dengan suara parau. Matanya mulai berkunang-kunang karena hantaman di kepalanya. Begitu Ken melepaskan cengkeramannya, Raden ambruk tak sadarkan diri.

​Jenderal Hameng segera turun ke tengah arena, memeriksa kondisi para pangeran dan memastikan tak satu pun dari mereka yang mampu bangkit lagi.

​”Baiklah! Kelima peserta telah kehilangan kemampuan bertarung! Pemenang mutlak dari laga Battle Royale ini adalah KEN, perwakilan dari Kerajaan Es!” Jenderal Hameng mengumumkan keputusannya.

​Sorak-sorai penonton pecah menggemuruh memuji nama Ken yang kini berdiri tak terkalahkan di tengah arena.

​”Wow! Sebuah dominasi absolut! Tuan Ken berhasil menyapu bersih arena dan menjadi pemenang tunggal! Selanjutnya, tantangan manakah yang akan Tuan Ken ambil? Siapakah yang akan Tuan Ken tantang dari dua Jenderal Pertahanan Kerajaan Es?!” Paman Uria kembali memandu dari atas mimbar, mengarahkan perhatian pada babak utama.

​”Aku menolak memilih salah satu…” suara Ken menggema melalui resonansi Qi-nya. “…karena aku ingin menantang mereka berdua maju sekaligus!”

​Pernyataan angkuh itu seketika membuat ribuan penonton terdiam, disusul bisik-bisik tak percaya yang mengguncang seluruh arena.

​”Haaa?! Apa dia sudah gila dan serius dengan tantangan itu?!” seru Andin, mencengkeram lengan Diyah dengan panik.

​Jenderal Hameng mengerutkan keningnya. “Anak Muda, apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Apakah kau benar-benar serius?” tanyanya memperingatkan batas kewarasan.

​”Tentu saja. Terkecuali… jika dua jenderal berkaliber tinggi itu diam-diam takut mati menghadapiku,” ejek Ken dengan senyum sinis, matanya melirik tajam ke arah Jenderal Bonar dan Jenderal Lamarr di tribun kehormatan.

​”Hah! Bocah tak tahu diuntung! Baiklah, jika kau ingin mempercepat kematianmu, aku sendiri yang akan membungkam kesombonganmu itu dan merobek mulutmu!” aum Jenderal Bonar. Ia melompat turun dan mendarat keras hingga ubin arena retak. “Turunlah, Lamarr! Biar kita ajari bocah ini apa arti rasa hormat!” panggil Bonar.

​”Hahaha, dengan senang hati!” Jenderal Lamarr menyusul turun, senyum pembunuh terukir di bibirnya.

​”Sangat luar biasa! Tuan Ken mengukir sejarah dengan menantang dua jenderal sekaligus! Perlu diketahui, Jenderal Bonar dan Jenderal Lamarr telah mencapai puncak 10 Segel Bintang dan kekuatan mereka telah menyentuh batas level Dewa Bintang Tingkat 4 (God King 4)! Apakah sang kuda hitam mampu bertahan hidup menghadapi badai ini?! Mari kita saksikan bersama-sama! Berikan gemuruh tepuk tangan kalian!” teriak pemandu acara, menyulut kembali sorak-sorai penonton yang semakin histeris.

​”Kalian bertiga, siapkan posisi!” seru Jenderal Hameng seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Bersiap… MULAI!”

​”Bukankah kalian berdua sangat suka menggunakan kekuasaan untuk menindas dan mengganggu Tuan Putri Diyah? Hari ini, di depan seluruh rakyat… aku akan menghancurkan tulang-tulang kalian,” desis Ken. Ia menghunuskan Pedang Rantainya kuat-kuat menancap ke lantai arena.

​Ken merotasi inti energinya menembus batas. WUSSS! Energi hijau di tubuhnya meledak dan langsung bermutasi menjadi aura Emas yang menyilaukan mata.

​”Jangan besar mulut, Bocah! Tunjukkan apakah pukulanmu setajam lidahmu!” Jenderal Bonar melepaskan seluruh kultivasi Dewa Bintang 4-nya, memancarkan pendaran sepuluh bintang biru. Diikuti oleh Jenderal Lamarr yang juga meledakkan badai aura esnya.

​”Haaaa…!”

​Alih-alih berhenti, Ken terus memaksa titik meridiannya berputar. Udara di arena melengkung akibat tekanan gravitasi. Aura energi Emas yang membalut tubuh Ken tiba-tiba bergejolak dan bertransformasi menjadi pendaran Merah Darah yang menyala-nyala. Lapisan Giant Gold Level 12 itu memancarkan tekanan absolut yang membuat napas para petarung di arena tersendat.

Apa?! Mustahil! Pemuda ini tak memiliki Segel Bintang, tapi dia bisa membangkitkan teknik rahasia itu hingga menembus garis batas Level 12?! batin Raja Bawigan yang duduk tegak dari sandaran singgasananya. Tangannya gemetar mencengkeram lengan kursi. Kekuatan dan wujud aura ini… benar-benar sangat identik dengan pria dari masa lalu itu… Raja Bawigan menelan ludah, ingatan akan sosok legendaris melintas di kepalanya.

​”Kalian semua! Cepat aktifkan lapisan pembatas sihir di sekeliling arena sekarang juga!” teriak Jenderal Hameng panik pada regu prajurit penjaga. Daya ledak dari resonansi energi merah ini… Jika dia membangkitkannya hingga ke titik ini, arena ini bisa hancur berkeping-keping! batin Hameng, keringat dingin membasahi dahinya.

​”Tubuh Emas Absolut!”

​Mantra Ken bergema. Kulitnya mengeras melampaui baja kosmik. Ia mencabut pedangnya, lalu melesat dengan kecepatan setara teleportasi menerjang Jenderal Bonar.

​Bonar menahan tebasan raksasa itu dengan pedang pusakanya. CLANG! PRANG! Hanya butuh satu benturan. Pedang Jenderal Bonar hancur berkeping-keping seperti kaca. Kehilangan senjatanya, Bonar terpaksa menahan sisa gelombang sabetan pedang Ken menggunakan lengan berselimut Qi-nya. Benturan itu begitu brutal hingga tubuh Sang Jenderal terpental layaknya bola meriam, menghantam keras lapisan sihir pembatas arena hingga riak pelindung itu bergetar hebat.

​Melihat rekannya terdesak instan, Jenderal Lamarr mengambil celah dari atas. “Tombak Es Pembeku Jiwa!” teriaknya seraya menukik, melesatkan tombak kristalnya lurus ke jantung Ken.

​”Tapak… Dewa!”

​Ken tidak menghindar. Ia menyodorkan telapak tangan kirinya yang berlapis energi Merah. BOOM! Telapak tangan Ken menangkap mata tombak itu dan langsung meremukkannya menjadi debu es. Gelombang kejut dari Tapak Dewa itu tak berhenti, melainkan menerjang tubuh Lamarr seperti badai tak kasat mata, mendorong jenderal itu hingga membentur keras pembatas arena di sisi langit.

​Tak memberi napas, tubuh Ken kembali berkelebat dan muncul tepat di bawah Lamarr yang sedang jatuh. BUAKH! Ken menghantamkan pukulan lurus ke dada Lamarr, melempar jenderal itu kembali menghantam ubin arena hingga hancur.

​”Tinju… Meteor!”

​Ken menyusulnya dengan rentetan pukulan destruktif bagai hujan meteor dari angkasa. Setiap pukulan yang mendarat di tubuh Lamarr menciptakan kawah ledakan baru yang meremukkan seluruh fondasi struktural di sisi utara arena.

​Ken tiba-tiba berhenti. Ia menoleh perlahan karena merasakan fluktuasi aura dari arah belakang. Jenderal Bonar telah memulihkan posisinya, napasnya terengah-engah dan sudut bibirnya berdarah. Ken melangkah mendekat dengan langkah pelan bagai dewa maut. “Tubuh fisik dan pertahananmu ternyata sangat rapuh, Jenderal. Terlalu rapuh,” ejek Ken dengan tatapan meremehkan.

​”Hah… Hah… Aku mengakui bahwa aku terlalu meremehkan teknik anehmu itu, Anak Muda. Tapi ini belum berakhir! Rasakan pembalasan dari murka dewa es!” Jenderal Bonar memusatkan seluruh energi hidupnya. Ia merentangkan tangannya, dan udara di sekitarnya membeku. “Pedang… Penghancur Dimensi!”

​Sebuah bilah pedang es raksasa sepanjang puluhan meter terbentuk di langit-langit arena, meluncur jatuh siap membelah Ken menjadi dua.

​Ken tak berkedip. Ia mengangkat satu lengannya ke atas. “Tapak… Dewa!”

​Telapak tangan raksasa dari energi merah termanifestasi, menggenggam pedang es yang jatuh itu, meremasnya, lalu mematahkannya hingga hancur berkeping-keping tanpa ampun. Setelah menghancurkan serangan pamungkas musuh, Ken kembali melesat menerjang Bonar dengan rentetan tinju dan tendangan kilat. Jenderal Bonar yang telah mengerahkan seratus persen tenaga kultivasinya mencoba mati-matian menahan gempuran tersebut. Keduanya bertukar pukulan dalam kecepatan gila, berpindah dari satu sudut arena ke sudut lainnya, menciptakan badai ledakan di setiap titik benturan.

Bonar… Walaupun kau terlihat bisa mengimbangi kecepatan fisiknya saat ini, namun laju pernapasan dan pertahananmu tidak akan mampu bertahan lama melawan tekanan monsternya! batin Raja Bawigan yang berdiri tegang mengamati pembantaian jenderalnya sendiri.

​”Bagaimana?! Apakah batas kultivasimu hanya bisa bertahan untuk menangkis, Jenderal?!” aum Ken di tengah serangannya yang tak ada habisnya.

Bocah keparat! Tenaga batinku sudah hampir mencapai dasar! Tapi bagaimana mungkin stamina fisiknya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda terkuras?! Monster apa dia sebenarnya?! batin Jenderal Bonar yang mulai panik dan terdesak mundur.

​Celah itu akhirnya terbuka.

​”Rasakan ini!”

​Sebuah pukulan hook Ken bersarang memutar di wajah Bonar, membuat pandangan jenderal itu berputar seketika. Belum sempat tubuh Bonar terhempas, Ken menyusulkan pukulan kedua berlapis energi merah telak ke ulu hatinya. BLAAR! Tubuh Sang Jenderal terpental berputar di udara dan menghantam lantai arena dengan suara patahan tulang yang mengerikan.

​Dua jenderal kebanggaan Kerajaan Es kini terkapar tak berdaya, mengerang memuntahkan darah di dasar kawah arena.

​Ken melayang perlahan di udara, matanya memancarkan kegelapan mutlak. “Tinju… Meteor!”

​Ken kembali melepaskan hujan pukulan jarak jauh dari udara. Ledakan energi tanpa henti menghujani posisi Jenderal Bonar dan Lamarr yang sudah lumpuh tak bisa menghindar. Hantaman destruktif itu nyaris merenggut sisa nyawa mereka, mengubah area tengah arena menjadi lautan puing dan lubang hitam berasap.

​Ken mendarat ringan. Mata merahnya mengunci kedua tubuh sekarat itu.

​”Ini… adalah bayaran lunas untuk kalian bedebah yang tak pernah berhenti mengganggu dan menghalangi langkah Tuan Putri Diyah!” Ken menarik lengan kanannya ke belakang, memusatkan pusaran energi absolut ke dalam kepalan tangannya. “Tinju… Bintang!”

​Sebuah kepalan tinju transparan seukuran bukit terbentuk dari udara, berputar ganas menyedot energi atmosfer. Tekanan aura dari jurus ini begitu mengerikan hingga lapisan pembatas sihir yang dipasang oleh puluhan prajurit di tepi arena seketika hancur berderak seperti kaca tipis.

Gila! Anak ini! Setelah mengeluarkan serangan beruntun sebanyak itu, dia ternyata masih punya sisa tenaga cadangan untuk mengeksekusi jurus pemusnah massal ini?! batin Jenderal Hameng dengan bibir gemetar.

​Menyadari kiamat akan segera terjadi, Hameng melesat ke sisi panggung. “Tahan, Anak Muda! Hentikan serangnmu! Jika kau melepaskan tinju dewa itu, kau tak hanya akan mencabut nyawa mereka berdua, tapi daya ledaknya akan meratakan seluruh tribun dan membunuh ribuan penonton di sini!” teriak Jenderal Hameng memperingatkannya dengan panik.

​Ken hanya meliriknya tajam. “Lalu kau pikir, apakah aku sedikit pun peduli dengan nyawa para penonton ini, Jenderal? Jika kau ingin selamat, aku sarankan kau tak perlu repot-repot mencoba menahan jurusku,” balas Ken, sorot matanya tak menyiratkan sedikit pun keraguan untuk membunuh.

Sialan! Orang ini benar-benar monster sosiopat yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun! rutuk Jenderal Hameng, tubuhnya membeku diliputi keputusasaan.

​Tepat saat otot lengan Ken hendak mengayunkan tinju kehancuran tersebut, sebuah memori berkelebat di benaknya.

‘…Aku memohon padamu, berjanjilah untuk tidak membuat kekacauan besar. Aku tidak ingin melihatmu menjadi pembunuh di depan rakyatku,’ ucapan lirih Diyah di masa lalu terngiang di kepalanya.

​Dan saat itu juga, sebuah suara lembut yang sangat nyaring membelah ketegangan arena.

​”Kak Ken! Kumohon… cukup. Berhentilah!”

​Diyah berdiri di tepi tribun penonton. Matanya berkaca-kaca, namun sebuah senyum tulus nan lega menghiasi wajah cantiknya.

​Mendengar suara panggilan itu, hawa membunuh yang pekat di mata Ken seketika memudar. Ia mendengus pelan, menarik perlahan kepalan tangannya, dan membubarkan pusaran Tinju Bintang itu kembali menjadi partikel udara murni. Ia mendarat sepenuhnya di atas marmer yang hancur, perlahan meredam seluruh aura merah yang menyala-nyala di tubuhnya hingga padam tak berbekas.

​Keheningan melingkupi arena bagai pemakaman.

​Ken melangkah tenang, menghadap ke arah juri. “Jenderal Hameng… serahkan semua kunci hadiah pusaka itu langsung ke tangan Putri Diyah,” ucap Ken memecah kesunyian dengan titah absolut.

​Tatapannya kemudian menyapu ribuan penonton di tribun, lalu mengunci deretan para pangeran dan petinggi militer dengan tajam. “Dengarkan baik-baik. Mulai detik ini… siapa pun yang berani mengusik, meremehkan, atau menggunakan Putri Diyah sebagai alat politik… nyawanya dan seluruh klannya akan kujadikan taruhan. Aku sendiri yang akan memburunya.”

​Ancaman dingin nan absolut itu membekukan darah setiap pendengarnya. Arena seketika kembali senyap. Seluruh pasang mata terpaku menatap sosok pemuda yang baru saja menundukkan Kerajaan Es itu, diselimuti perpaduan antara rasa takjub dan kengerian yang mencekam.

Terima kasih… Kak Ken, batin Diyah. Mendengar pria itu mempertaruhkan segalanya demi membela dan melindungi kehormatannya di hadapan seluruh rakyat benua, pertahanan air matanya pun jebol. Ia tersenyum sangat manis sembari menyeka bulir air mata haru yang menetes di pipinya.

​Malam harinya, di pesisir pantai terpencil yang dijaga tebing curam.

​Ken berdiri tegap di mulut sebuah gua yang menganga gelap, membiarkan angin laut malam menyapu jubahnya.

​”Jadi, benda apa yang berhasil kau temukan di dalam, Yemu?” tanya Ken pada sang Gorilla Ashura, monster penjaga hutan yang setia mendampinginya.

​Yemu menggeram rendah, memanifestasikan suaranya lewat telepati. “Tuan, aku telah menyusuri dan membongkar setiap lorong rahasia yang melintang di dalam gua iblis ini. Terdapat sebuah pintu batu bermantra kuno di kedalaman ruang terdalam… kekuatanku sama sekali tidak sanggup untuk merusak atau membukanya,” jelas Yemu. Gorilla itu merendahkan tubuhnya. “Lorong-lorong menuju ruang tersebut terlampau sempit untuk ukuran tubuhku, namun… sebelum aku mundur, penciumanku melacak dan menemukan artefak ini tersembunyi di sela bebatuan.”

​Yemu menyerahkan sebuah pelat persegi panjang berukuran sedang, terbuat dari logam kelabu yang memancarkan pendaran energi kosmik purba.

​Ken mengambil artefak itu. “Mata Dewa…”

​Seketika, mata Ken memancarkan sinar analisis tingkat dewa, membedah lapisan demi lapisan sejarah dan energi yang terkandung di dalam pelat logam tersebut. Matanya membulat terkejut.

Pola ukiran energi ini!… Ternyata memang benar dugaanku! Rumor kuno itu tidak sepenuhnya salah… batin Ken setelah puas memeriksa segel di pelat tersebut.

​Ia menggenggam pelat itu erat-erat. “Kerja bagus, Yemu! Baiklah, aku sendiri yang akan turun langsung menjelajahi inti gua ini. Kunci pelat ini… benda ini memang benar-benar memiliki resonansi spiritual dengan pusaka miliknya! Sang Dewa Alam masa lalu, Sailendra.”

​Tanpa rasa takut, Ken melangkah pasti, menembus kegelapan gua misterius yang menyembunyikan legenda terbesar dunia kultivasi tersebut.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!