Current Language: Bahasa Indonesia
Read this chapter in:
Harapan Dyah
Keesokan paginya, udara Kerajaan Es terasa lebih membekukan dari biasanya. Embun beku menempel di kaca jendela kamar penginapan. Ken berdiri tegap di sudut ruangan, sepasang matanya yang tenang menatap lurus menembus kabut putih yang menyelimuti kota.
Ruang udara di belakangnya beriak pelan. Sesosok bayangan berjubah hitam pekat bermanifestasi dari kegelapan, melangkah mendekat dengan pergerakan yang nyaris tanpa suara.
”Tuan,” lapor bayangan itu pelan, suaranya terdengar serak menyerupai gesekan ranting kering. “Kerajaan Api kini menerapkan darurat militer. Mereka memperketat seluruh akses keluar dan masuk benteng. Aku juga telah menyusup dan memastikan informasi tersebut—kesembilan naga komandan mereka memang tidak berada di sana. Sayangnya… ke mana rute pergerakan mereka sekarang, hanya Raja Adjong seorang yang memegang kuncinya.”
Sosok bayangan itu berhenti sejenak, menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Dan ada satu hal krusial lagi, Tuan… Berdasarkan hasil pelacakanku, anak bernama Fubao itu memang benar-benar memiliki benang merah keterkaitan yang kuat dengan pihak Kerajaan Api.”
Ken memejamkan mata sesaat, menghela napas panjang yang mengembuskan uap putih ke udara. “Baiklah. Biarkan saja anak itu dengan rahasianya untuk saat ini. Tugasmu, tetap bantu evakuasi sebisa mungkin bagi para budak atau rakyat yang ingin melarikan diri dari wilayah Kerajaan Api.”
Ken membalikkan badan, menatap lurus ke arah sosok berjubah itu. Nada suaranya terdengar datar namun membawa otoritas yang mutlak. “Dan mengenai kesembilan naga iblis itu… jika mereka tidak ada di ibu kota, kemungkinan besar mereka sedang tidak berada di daratan benua ini. Terus perluas radius pencarianmu.”
”Sesuai perintah, Tuan,” jawab sosok itu seraya menangkupkan tangan, lalu melebur menghilang secepat ia muncul.
Sementara itu, di arena latihan istana, suasana mulai memanas oleh aktivitas. Tim inti yang akan mewakili Kerajaan Es telah berkumpul, mengingat Turnamen Pendekar Segel Bintang tinggal menyisakan waktu tiga hari lagi. Hampir seluruh anggota telah hadir di pelataran es tersebut… kecuali Diyah.
Julia berdiri dengan lengan terlipat di dada. Matanya menyipit tajam, menatap dua anggota pria di depannya, Onoke dan Arsa.
”Onoke, Arsa… ke mana saja kalian menghilang selama beberapa hari terakhir ini?” interogasi Julia, nada suaranya menyiratkan kekesalan seorang komandan tim.
Onoke membalas tatapan itu tanpa gentar. Ia menyilangkan lengannya, menjawab dengan nada dingin yang terkesan meremehkan. “Ada urusan pribadi yang sangat penting dan tak bisa kami tinggalkan begitu saja, Julia.”
Julia mendengus kasar, tatapannya semakin menusuk. “Aku harap kalian bisa bertindak jauh lebih bijak dari ini. Tiga hari lagi turnamen hidup dan mati akan dimulai. Kita tidak punya ruang untuk sikap indisipliner.”
Onoke hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Yaa… baiklah, kami mengerti,” jawabnya dengan intonasi setengah malas.
Sebelum Julia sempat menjatuhkan teguran yang lebih keras, suara derap langkah kaki terdengar mendekat.
”Maaf! Maafkan aku, aku datang terlambat!” seru Diyah, berlari kecil menghampiri barisan mereka dengan senyum canggung yang menghiasi wajah cantiknya.
”Iya, tidak apa-apa, Diyah,” sahut Andin dengan nada ramah, memaklumi sahabatnya. Namun, tepat saat Diyah mengangkat tangannya untuk mengikat rambut, mata Andin membelalak sempurna. “Wah! D-Diyah! Coba kulihat tanganmu… Kau sudah menembus dan memadatkan Segel Bintang keenam?!” seru Andin terkejut luar biasa.
Mendengar seruan itu, anggota tim yang lain ikut terperanjat dan saling berpandangan. Pendaran cahaya dari lengan Diyah memang tak bisa disembunyikan.
”Kerja yang sangat bagus, Diyah!” puji Julia, kali ini amarahnya menguap digantikan oleh senyum tulus penuh kebanggaan.
”Ehh… tunggu dulu, kapan tepatnya kau pergi berburu ke Hutan Monster Bintang lagi, Diyah?” tanya Andin dengan raut wajah sangat penasaran.
”Benar juga,” Suta ikut menimpali sembari menggaruk kepalanya. “Bukannya kemarin seharian kita masih berlatih bersama di arena ini?”
Diyah tersenyum polos, bingung bagaimana harus menjelaskan keajaiban alkemi gurunya. “Emmm… Kak Ken yang secara khusus memberikannya padaku. Aku sendiri tidak terlalu paham bagaimana ia meracik metodenya. Intinya, Kak Ken entah bagaimana berhasil mengekstrak dan menyimpan energi Mustika Monster Bintang menjadi bentuk bola kristal murni… dan aku hanya tinggal duduk menyerapnya.”
Mendengar nama Ken disebut dengan penuh kekaguman, sebuah kedengkian melintas di benak Onoke.
Dasar sekumpulan bangsawan manja yang naif… Sekuat apa pun kalian melatih diri dan menyerap kekuatan dewa, kalian tidak akan pernah memenangkan turnamen nanti. Takdir kalian sudah dikunci, batin Onoke. Sebuah seringai tipis, nyaris tak terlihat, terbentuk di sudut bibirnya.
”Ohh… Tuan Ken memang tak berhenti membuat mukjizat. Apakah menurutmu, aku juga memiliki kesempatan untuk berguru padanya?” tanya Andin, matanya berbinar-binar memohon.
”Aku juga mau ikut!” sambung Suta dengan suara bersemangat, tak ingin ketinggalan kereta kekuatan.
Diyah menghela napas panjang, memutar bola matanya jenaka. “Ahh… kalian ini ada-ada saja. Aku benar-benar tidak tahu apa standar penerimaannya.”
”Hah! Bohong! Buktinya kau sendiri sudah resmi berguru dan dianakemaskan olehnya! Kenapa kami tidak boleh ikut? Ohh… atau kau sebenarnya tidak rela kalau kami mengganggu momen kencan berkedok latihanmu dengannya, ya?!” goda Andin seraya menyenggol pinggang Diyah dengan senyum jahil.
”B-bukan begitu maksudku!” Diyah mengibaskan kedua tangannya cepat-cepat, wajahnya langsung merona merah. “Aku tidak sedang berguru dalam artian formal seperti itu dengannya! Kak Ken malah terang-terangan bilang tidak mau menjadikanku murid resminya. Jadi, kalau kalian memang berniat mencobanya… pergilah tanya sendiri pada orangnya!”
Andin tertawa lepas melihat kepanikan sahabatnya. “Yaa jelas saja dia menolak menjadikanmu muridnya! Hahaha! Pasti karena dia mengincar posisi lain di hatimu!”
”Cukup, Andin! Udah, udah! Ayo kita mulai saja latihannya, jangan bahas masalah ini terus!” seru Diyah mengalihkan topik pembicaraan dengan pipi yang memanas.
Tawa mereka pun mereda. Tim Kerajaan Es segera memulai sesi latihan fisik, mematangkan sinkronisasi dan kerja sama formasi tempur mereka. Di sela-sela latihan, Diyah berulang kali mempraktikkan teknik barunya. Lonjakan tenaga dari Segel Bintang Emasnya terlihat sangat nyata, menciptakan daya hancur yang membuat udara di sekitar mereka bergetar.
Di sisi lain istana, di luar arena, para pelayan dan pejabat militer tampak sibuk berlalu-lalang, mempersiapkan segala kebutuhan logistik untuk turnamen berskala benua yang akan meledak dalam tiga hari.
Di dalam arena, deru napas berpadu dengan denting logam. Diyah menggenggam tombak peraknya, gerakannya mantap dan mematikan. Sesekali, ia melesatkan tombaknya, lalu dengan sigap mengganti senjatanya dengan Busur Phoenix. Ia menarik tali busur kosong, memadatkan energi spiritualnya menjadi anak panah cahaya yang menyilaukan—sebuah teknik tingkat tinggi yang ia latih secara privat bersama Ken—dengan ketenangan mutlak yang membuat teman-teman satu timnya terdiam terpukau sesaat.
”Kombinasi busur jarak jauh dan tombak penembus armor… Pilihan senjatamu memang tidak pernah berubah, Diyah,” ujar Julia seraya menyarungkan pedangnya sejenak untuk mengamati. “Tapi ketajaman kekuatanmu saat ini… aku bisa merasakannya secara nyata. Kau sudah jauh berbeda.”
Diyah hanya tersenyum tipis, matanya tetap awas menatap sasaran. “Aku tidak ingin lengah sedetik pun, Julia. Kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai.”
”Kalau begitu, mari kita uji seberapa kokoh kerja sama formasi ini!” seru Andin sembari menghunus pedang kristalnya. “Diyah, tembakkan satu panah cahayamu padaku!”
Diyah terperangah tak percaya. “Apa kau sudah gila?!”
”Tenanglah… aku hanya ingin menguji kecepatan refleks pertahananku. Bukan bermaksud bunuh diri di tangan sahabatku sendiri!” Andin tertawa kecil, memasang kuda-kuda bertahannya.
Suta menepuk dahinya keras-keras melihat tingkah Andin. “Kau benar-benar kehilangan kewarasanmu, Din.”
Julia akhirnya mengangkat tangan, mengambil alih otoritas sebagai pemimpin taktis. “Cukup bercandanya! Semuanya kembali fokus. Kita akan mengulangi simulasi formasi bertahan seperti kemarin. Onoke, kau jaga titik buta di sayap kanan. Arsa, kau jadi jangkar di kiri. Diyah, tetap berada di barisan belakang untuk memberikan dukungan tembakan meriam jarak jauh.”
Diyah mengangguk patuh. Ia memutar busurnya dengan lincah di tangannya, lalu menarik napas panjang. Ia membiarkan energi murni dari Bintang Emasnya mengalir memenuhi sirkulasi darahnya. Anak panahnya kini berkilau menyilaukan, menyimpan daya destruktif yang belum pernah ia lepaskan sepenuhnya di medan pertempuran sungguhan.
Latihan simulasi pun berlangsung sangat sengit. Suara benturan energi memenuhi arena tertutup itu, menerbangkan debu-debu es ke udara. Setiap gerakan mereka terkoordinasi jauh lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Diyah membaca ritme pertarungan dengan cerdas; sesekali ia melompat maju untuk menusukkan tombaknya ketika formasi lawan fiktif mulai menekan barisan depan, lalu melakukan lompatan akrobatik mundur sembari melepaskan tembakan panah energi ke udara. Panah-panah cahaya itu melesat berputar, lalu menukik tajam dan menghantam titik sasaran dengan ledakan-ledakan kecil yang presisi.
Andin bersiul panjang karena kagum. “Wah… kalau kau bisa mempertahankan akurasi sekejam itu di arena turnamen nanti, aku berani bertaruh kita tidak akan mungkin kalah.”
Namun, Julia menoleh cepat dengan raut wajah keras. “Jangan pernah terlalu percaya diri! Lawan kita di turnamen nanti bukan sembarang pemuda. Mereka adalah monster-monster didikan para raja.”
Tanpa mereka sadari, di sudut sayap kanan formasi, sepasang mata menatap Diyah dengan kedinginan yang tak teraba.
Lonjakan kekuatan gadis ini sungguh di luar prediksi… Kalau terus dibiarkan berkembang, dia pasti akan menjadi pusat perhatian dan merusak skenario utama. Dan itu jelas bukan hal yang menguntungkan untuk rencana besar kita, batin Onoke menganalisis ancaman. Ia kemudian merapatkan salah satu tangannya ke dada, seolah ia hanya sedang menghela napas kelelahan usai menangkis serangan. Padahal, di balik gestur polos itu, otaknya tengah menyusun strategi pengkhianatan yang mematikan. Sebuah senyum tipis yang amat sinis terbentuk di wajahnya, tersamar dengan sempurna hingga nyaris tak terlihat oleh siapa pun di sana.
Latihan keras itu terus berlanjut tanpa ampun sampai matahari condong memerah di ufuk barat. Jubah seragam mereka basah oleh keringat, dan otot-otot mereka menjerit kelelahan, tapi api semangat di dada tim Kerajaan Es itu sama sekali tak surut.
”Kukira porsi latihan hari ini sudah cukup,” ujar Julia, menurunkan pedangnya. “Besok pagi kita akan mengulang kembali simulasi dengan formasi rotasi baru. Diyah… performamu hari ini sangat sempurna. Tapi ingat, jaga batas fisikmu. Jangan sampai kau malah tumbang kelelahan sebelum hari pembantaian di turnamen itu tiba.”
Diyah mengangguk seraya menyeka keringat yang membasahi pelipis dan lehernya dengan punggung tangan. “Aku mengerti, Julia. Aku akan menjaga staminaku.”
Di balik percakapan evaluasi yang tampak sangat lumrah itu, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa Onoke diam-diam telah merampungkan langkah pertama dari skenario mematikannya.
Latihan dibubarkan. Semua anggota tim melangkah pergi menuju barak asrama masing-masing dengan wajah letih. Diyah yang terakhir meninggalkan arena, menyarungkan tombak dan busurnya kembali ke dalam Cincin Ruang. Ia menghela napas panjang, menengadah menatap kanopi langit senja yang mulai diwarnai rona merah tembaga.
”Bagaimana ritme latihanmu hari ini, Tuan Putri?”
Sebuah suara bariton yang sangat tenang dan familier mengalun dari arah belakang. Diyah menoleh dengan cepat. Di sana, bersandar santai pada salah satu pilar marmer arena dengan kedua tangan terlipat di dada, berdirilah Ken. Jubah hitam kebesarannya berkibar ringan dan elegan diterpa angin sore.
”Kak Ken…” Diyah tersenyum lebar melupakan kelelahannya. “Sejak kapan kau berdiri mengawasiku di situ?”
Ken melangkah perlahan mendekati gadis itu. “Cukup lama untuk mengambil kesimpulan bahwa kau memang sudah sangat siap untuk menghancurkan musuh mana pun di turnamen nanti.”
Tatapannya tajam dan sulit dibaca, tapi sebuah senyum kebanggaan tergambar samar di bibirnya.
Diyah menundukkan pandangannya sedikit, menyembunyikan semburat rona di wajahnya yang entah mengapa selalu muncul setiap kali dipuji oleh pria ini. “Aku… aku cuma berusaha mengerahkan semua yang bisa aku lakukan.”
Ken mendongak menatap langit kemerahan sejenak, lalu berkata dengan nada yang sangat datar, “Ayo, ikutlah denganku.”
”Hah? Kita mau ke mana?” Diyah mengerutkan dahinya, bingung dengan ajakan yang tiba-tiba itu.
”Tenang saja, bukan ke tempat kawah latihan lagi kalau itu yang sedang kau takutkan.” Senyum tipis yang sarat misteri kembali tersungging di bibir Ken.
Diyah menatap mata pemuda itu dengan ragu selama beberapa detik, tapi akhirnya ia menganggukkan kepala menurut. “Baiklah…”
Mereka berdua berjalan bersisian melangkah keluar dari arena. Tepat saat mereka mencapai area sepi istana, Ken merentangkan tangannya. Ruang udara di sekeliling mereka beriak dan terdistorsi hebat. Dalam sekedipan mata kosmik, lanskap dinding istana lenyap, digantikan oleh barisan pegunungan es abadi yang menjulang menyentuh awan.
Udara di tempat baru ini terasa jauh lebih tipis dan menyegarkan. Angin sejuk yang menderu membelah celah-celah tebing es menciptakan suara siulan lirih, merdu bagaikan nyanyian roh dari dunia beku yang terlupakan.
Setelah berjalan mendaki selama beberapa menit menembus salju, mereka tiba di ujung sebuah tebing rendah. Di bawah tebing itu, terhampar sebuah danau gletser raksasa yang luar biasa tenang. Permukaan airnya sebening kristal murni, memantulkan secara sempurna cahaya senja keemasan dari ufuk barat. Kawanan burung salju terbang melintas membentuk formasi, bayangan sayap mereka menari-nari di atas permukaan cermin air tersebut.
Dyah terpaku di bibir tebing, napasnya tertahan. “Ya Ampun… ini indah sekali…” ucapnya sangat pelan, matanya berkilat merekam ketakjuban lanskap surgawi tersebut.
Ken melangkah maju berdiri tepat di sampingnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah dengan sikap santai. “Tempat ini sangat terisolasi, jarang sekali ada manusia fana yang sanggup mendaki kemari. Di saat dunia menuntut kita untuk terus bertarung, terkadang yang paling kita butuhkan bukanlah tambahan kekuatan, melainkan ruang untuk sebuah ketenangan mutlak.”
Diyah menatap siluet wajah Ken dari samping. Keheningan yang damai ini perlahan mengupas lapisan keraguan yang selama ini ia pendam. “Kak Ken, menurutmu… apakah aku benar-benar memiliki peluang untuk bertahan hidup dan memenangkan turnamen gila itu nanti?” tanyanya pelan, menyuarakan rasa insecure-nya.
Ken meliriknya lewat ekor mata, lalu mengangguk ringan dengan kepastian yang tak terbantahkan. “Tentu saja. Apa yang membuatmu berpikir sebaliknya?”
”Tapi…” Diyah menundukkan kepalanya, meremas jemarinya dengan cemas. “Sewaktu upacara Ujian Pandhega minggu lalu… dengan mata kepalaku sendiri aku melihat seluruh delegasi utama dari setiap kerajaan pesaing. Pangeran-pangeran itu… mereka semua telah menembus fondasi Segel Bintang Tujuh.”
Ken tersenyum tipis, membalikkan badannya menghadap Diyah. “Pengamatanmu memang tidak salah. Berdasarkan akumulasi kuantitas energi, mereka menang angka. Tapi jika kita berbicara murni soal daya hancur dan kualitas, kau jauh memegang kendali atas mereka berkat Segel Bintang Emas di nadimu ini.” Ken menurunkan pandangannya menatap tangan Diyah sejenak.
Diyah menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan diiringi senyum kecil yang merekah di bibirnya. “Hmm… kau benar. Seluruh keajaiban yang kumiliki saat ini adalah anugerah berkat bantuan Kak Ken. Sejujurnya, aku bahkan tak sanggup membayangkan akan seburuk apa nasibku jika takdir tidak mempertemukan kita di hutan malam itu.”
Ken hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Takdir baik akan selalu menemukan jalannya untuk berpihak pada orang yang berhati baik,” ucapnya dengan filsafat datar.
Diyah memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Ken dengan ekspresi teramat serius. “Kalau begitu… jika Kak Ken bersedia, kau bisa masuk mendaftar dan bergabung menjadi pilar utama dalam Tim Kerajaan Es. Kumohon, bantu aku memenangkan turnamen ini sekali lagi,” pintanya dengan nada suara yang bergetar penuh harap dan keraguan.
Diyah menelan ludah, membongkar ketakutan terbesarnya. “Aku sangat takut kalah… Jika skenario terburuk itu terjadi dan kerajaan ini jatuh, aku akan dipaksa tunduk untuk menjalani kesepakatan pernikahan politik yang menjijikkan itu. Dan kalau sampai mimpi buruk itu terjadi, aku… aku tidak akan pernah bisa berjalan bebas di sisi Kak Ken lagi.”
Mendengar pengakuan tulus yang sarat akan keputusasaan itu, Ken terdiam selama beberapa tarikan napas. Matanya menatap lembut, namun keputusannya setegar karang. “Tentu saja dengan mudah aku bisa membantai mereka semua dan memenangkan turnamen itu untukmu. Tapi ketahuilah, Diyah… aku menolak untuk melakukannya.”
Diyah tersentak mundur selangkah, menatap pria itu dengan raut keheranan dan kecewa. “Hah? Ke… kenapa? Kenapa kau menolak membantuku di saat terpenting ini?”
Ken menoleh kembali menatap luasnya danau es, lalu kembali mengunci pandangan matanya ke kedalaman jiwa Diyah.
”Karena, jika aku yang turun tangan untuk menyapu bersih jalanmu, Tuan Putri selamanya tidak akan pernah memiliki harga diri dan wibawa untuk membungkam mulut-mulut busuk para bangsawan itu,” jelas Ken dengan otoritas seorang raja sejati. “Aku ingin Tuan Putri berdiri dengan bangga dan meraih kemenangan mutlak itu menggunakan darah, keringat, dan kemampuanmu sendiri. Dengan begitu, seluruh benua ini akan bersujud dan menyadari satu hal… bahwa Sang Calon Ratu Kerajaan Es ini bukanlah boneka cantik yang bisa diremehkan oleh siapa pun.”
Kalimat yang menusuk dan membangkitkan harga diri itu membuat Diyah mematung. Otaknya mencerna kebenaran di balik penolakan Ken. Keputusasaan di dadanya seketika menguap, digantikan oleh kobaran tekad yang baru menyala.
Diyah menghela napas panjang, melepaskan seluruh beban mentalnya. “Hmm… kau benar, Kak Ken. Perkataanmu menyadarkanku. Aku sangat mengerti maksudmu sekarang,” balas Diyah. Sebuah senyum tipis yang memancarkan keberanian luar biasa kini mekar dengan cantik di wajahnya.
Ken mengangguk pelan mengapresiasi kebangkitan mental murid sekaligus gadis yang dilindunginya itu. “Cukup pertahankan fokus dan teruslah mengasah batas fisikmu. Saat panggung turnamen itu tiba nanti, kau yang akan menciptakan kiamat kecil bagi kesombongan mereka. Percayalah pada instingmu.”
Diyah tersenyum semakin lebar, matanya tak lagi menyimpan keraguan. “Iya… aku berjanji, Kak Ken. Aku akan membuktikan diriku.”
Ayah, Ibu… apakah kalian yang turun tangan mengintervensi takdir dan mengirimkan Kak Ken untuk menjadi pelindungku? batin Diyah penuh rasa syukur, sembari memandang hamparan danau keemasan di kejauhan.
Mereka pun duduk berdampingan di atas rerumputan beku bibir tebing, menikmati mahakarya lukisan alam yang membentang di depan mata dalam sebuah kebisuan yang tak memerlukan kata-kata.
Matahari pun perlahan tenggelam di balik punggung gunung, mewariskan kanvas langit yang berlapis gradasi warna ungu pekat dan oranye menyala. Di antara ketenangan alam yang abadi itu, dua siluet duduk berdampingan—satu menyimpan masa lalu yang kelam dan berdarah, sementara yang satunya lagi mulai merajut takdir untuk sebuah harapan yang baru.



